BAB III METODE PENELITIAN
III.5. PELAKSANAAN PENELITIAN
III.5.4. Variabel yang Diamati
Variabel bebas : fatigue, nyeri, depresi
Variabel terikat : kualitas hidup
III.5.5. Analisa statistik
Data hasil penelitian akan dianalisa secara statistik dengan bantuan program komputer Windows SPSS (Statistical Product and Science Service ).
Analisis dan penyajian data dilakukan sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui hubungan antara fatigue, nyeri dan depresi dengan kualitas hidup pada penderita paska stroke di RSUP H.
Adam Malik Medan dan RS jejaring digunakan uji regresi linier ganda.
2. Untuk mengetahui hubungan antara fatigue, nyeri dan depresi dengan kualitas hidup pada penderita nyeri kepala kronik di RSUP H. Adam Malik Medan dan RS jejaring digunakan uji regresi linier ganda.
3. Untuk mengetahui hubungan antara fatigue dengan kualitas hidup penderita paska stroke digunakan uji korelasi Pearson jika berdistribusi normal, jika tidak berdistribusi normal maka digunakan uji korelasi Sperman.
4. Untuk mengetahui hubungan antara nyeri dengan kualitas hidup penderita paska stroke digunakan uji korelasi Pearson jika
Universitas Sumatera Utara
berdistribusi normal, jika tidak berdistribusi normal maka digunakan uji korelasi Sperman.
5. Untuk mengetahui hubungan antara depresi dengan kualitas hidup penderita paska stroke digunakan uji korelasi Pearson jika berdistribusi normal, jika tidak berdistribusi normal maka digunakan uji korelasi Sperman.
6. Untuk mengetahui hubungan antara fatigue dengan kualitas hidup penderita nyeri kepala kronik digunakan uji korelasi Pearson jika berdistribusi normal, jika tidak berdistribusi normal maka digunakan uji korelasi Sperman.
7. Untuk mengetahui hubungan antara nyeri dengan kualitas hidup penderita nyeri kepala kronik digunakan uji korelasi Pearson jika berdistribusi normal, jika tidak berdistribusi normal maka digunakan uji korelasi Sperman.
8. Untuk mengetahui hubungan antara depresi dengan kualitas hidup penderita nyeri kepala kronik digunakan uji korelasi Pearson jika berdistribusi normal, jika tidak berdistribusi normal maka digunakan uji korelasi Sperman.
9. Untuk melihat gambaran karakteristik demografi penderita paska stroke dan nyeri kepala kronik di RSUP Haji Adam Malik Medan dan RS jejaring digunakan analisa deskriptif.
Universitas Sumatera Utara
III.5.6. Jadwal penelitian
Penelitian akan dilakukan mulai tanggal 1 juni 2015 sampai 30 Maret 2016 .
Persiapan : 20 Mei 2015 s/d 30 Mei 2015
Pengumpulan Data : 1 Juni 2015 s/d 30 maret 2016
Analisa Data : 1 April 2016 s/d 10 April 2016
Penyusunan Laporan : 11 April 2016 s/d 10 Mei 2016
Penyajian Laporan : 17 Mei 2016
III.5.7. Biaya penelitian
Biaya pencetakan lembaran pengumpulan data : Rp. 400.000
Biaya penulisan laporan penelitian : Rp. 600.000
+
Jumlah : Rp. 1.000.000
Universitas Sumatera Utara
III.5.8. Personalia Penelitian
Peneliti utama: dr. Toety Maria Simanjuntak
Pembimbing : 1 Dr. dr. Aldy S Rambe, SpS (K)
2 dr. Khairul P. Surbakti, SpS
Universitas Sumatera Utara
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
IV.1 HASIL PENELITIAN
IV.1.1 Karakteristik Demografi Subjek Penelitian
Dari keseluruhan pasien paska stroke dan nyeri kepala kronik yang berobat jalan di poliklinik Neurologi RSUP HAM Medan dan RS Jejaring periode Juni 2015 hingga Maret 2016, terdapat 80 pasien paska stroke dan 40 pasien nyeri kepala kronik yang memenuhi kriteria sehingga diikutsertakan dalam penelitian.
Dari 80 orang subjek penelitian pada pasien paska stroke, didapati rerata umur subjek penelitian adalah 57,64 ± 8,09 tahun. Jenis kelamin terbanyak adalah laki-laki 48 orang (60,0%). Suku terbanyak adalah Batak sebanyak 47 orang (58,8%). Pendidikan terbanyak adalah SLTA 29 orang (36,3%), pekerjaan terbanyak adalah Ibu Rumah Tangga 27 orang (33,8%), jenis troke terbanyak adalah stroke iskemik 59 orang (73,8 %).
Rerata nilai fatigue subjek penelitian pada pasien paska stroke ialah 3,83
± 1,00 dengan nilai minimal 1,7 dan nilai maksimal 5,4 . Rerata nilai nyeri pada subjek penelitian adalah 1,69 ± 1,81`dengan nilai minimal 0 dan nilai maksimal 6.
Rerata nilai depresi pada pada subjek penelitian ialah 14,08 ± 4,17 dengan nilai minimal 8 dan nilai maksimal 24. Paling banyak didapati pada subjek penelitian adalah yang tidak fatigue yaitu 56 orang (70,0%), tidak nyeri sebanyak 40 orang (50,0%) dan tidak depresi sebanyak 44 orang (55,0%). Dari keseluruhan subjek
Universitas Sumatera Utara
61penelitian pada pasien paska stroke didapati rerata nilai kualitas hidup adalah 58,88 ± 10,95 (Tabel 1).
Dari 40 orang subjek penelitian pada pasien nyeri kepala kronik, didapati rerata umur subjek penelitian adalah 43,10 ± 14,00 tahun. Jenis kelamin terbanyak adalah perempuan 31 orang (77,5%). Suku terbanyak adalah Batak sebanyak 23 orang (57,5%). Pendidikan terbanyak adalah SLTA 20 orang (50,0%), pekerjaan terbanyak adalah Ibu Rumah Tangga 16 orang (40,0%), jenis nyeri kepala kronik terbanyak adalah CTTH yaitu 29 orang (72,5%).
Rerata nilai fatigue subjek penelitian pada pasien nyeri kepala kronik adalah 3,32 ± 1,23 dengan nilai minimal 1 dan nilai maksimal 5. Rerata nilai nyeri pada subjek penelitian adalah 3,73 ± 1, 60`dengan nilai minimal 2 dan nilai maksimal 8. Rerata nilai depresi pada pada subjek penelitian ialah 14,28 ± 4,39 dengan nilai minimal 8 dan nilai maksimal 25. Paling banyak didapati pada subjek penelitian adalah yang tidak fatigue yaitu 31 orang (77,5%), nyeri ringan sebanyak 25 orang (62,5%) dan tidak depresi sebanyak 23 orang (57,5%). Dari keseluruhan subjek penelitian pada pasien nyeri kepala kronik didapati rerata nilai kualitas hidup adalah 63, 58 ± 10, 45 (Tabel 2).
.
Universitas Sumatera Utara
Tabel 1. Karakteristik Subjek Penelitian pada Penderita Paska Stroke
Stroke Iskemik Stroke Hemoragik
Nilai Fatigue, rerata ± SD Nilai Nyeri, rerata ± SD Nilai Depresi, rerata ± SD Nilai Kualitas Hidup, rerata ± SD Fatigue
Tabel 2. Karakteristik Subjek Penelitian pada Penderita Nyeri Kepala Kronik
Jenis Nyeri Kepala Migren Kronik CTTH
Nilai Fatigue, rerata ± SD Nilai Nyeri, rerata ± SD Nilai Depresi, rerata ± SD
Nilai Kualitas Hidup, rerata ± SD Fatigue
Gambar 2. Grafik Frekuensi Fatigue Penderita Paska Stroke
Universitas Sumatera Utara
Gambat 3. Grafik Frekuensi Nyeri Penderita Paska Stroke
Gambar 4. Grafik Frekuensi Depresi Penderita Paska Stroke
Universitas Sumatera Utara
Gambar 5. Grafik Frekuensi Fatigue Penderita Nyeri Kepala Kronik
Gambar 6. Grafik Frekuensi Nyeri Penderita Nyeri Kepala Kronik
Gambar 7. Grafik Frekuensi Depresi Penderita Nyeri Kepala Kronik.
Universitas Sumatera Utara
IV.1.2 Karakteristik Subjek Penelitian Berdasarkan Jenis Stroke
Dari 80 orang subjek penelitian pada penderita paska stroke, didapati penderita stroke iskemik 59 orang (73,8%) dan penderita stroke hemoragik 21 orang (26,2%). Rerata umur pada penderita stroke iskemik adalah 58,27 ± 8,32 tahun dan pada stroke hemoragik 55, 86 ± 7,28 tahun. Jenis kelamin terbanyak pada penderita stroke iskemik dan stroke hemoragik adalah laki-laki yaitu 36 orang (61,0%) dan 12 orang (57,1). Suku terbanyak pada stroke iskemik dan hemoragik adalah Batak yaitu sebanyak 35 orang (59,3%) dan 12 orang (57,1%).
Pendidikan terbanyak pada stroke iskemik dan stroke hemoragik adalah SLTA yaitu 19 orang (32,2%,) dan 10 orang (47,6%), pekerjaan terbanyak pada stroke iskemik dan stroke hemoragik adalah Ibu Rumah Tangga sebanyak 19 orang (32,2%) dan 8 orang (38,1%). Rerata nilai fatigue subjek penelitian pada penderita stroke iskemik adalah 3,84 ± 0,98 sedangkan pada stroke hemoragik adalah 3,78 ± 1,08. Rerata nilai nyeri pada stroke iskemik adalah 1,53 ± 1,77 sedangkan pada stroke hemoragik 2,14 ± 1,90.`Rerata nilai depresi pada pada stroke iskemik adalah 14, 29 ± 4,37 sedangkan stroke hemoragik 13,48 ± 3,55.
Pada penderita stroke iskemik dan stroke hemoragik didapati yang terbanyak adalah tidak fatigue yaitu 41 orang (69,5%) dan 15 orang (71,4%).
Pada penderita stroke iskemik didapati yang terbanyak adalah tidak nyeri yaitu 32 orang (54,2%) sedangkan pada stroke hemoragik adalah nyeri ringan sebanyak 9 orang (42,9%). Pada penderita stroke iskemik dan stroke hemoragik didapati yang terbanyak adalah tidak depresi yaitu 32 orang (54,2%) dan stroke hemoragik 12 orang (57,1%). Nilai rerata kualitas hidup pada penderita stroke iskemik lebih baik dibandingkan stroke hemoragik yaitu 59,10 ± 11,27 sedangkan stroke hemoragik 58,24 ± 10,23. Fatigue dijumpai pada 18 orang (30,5%) penderita paska stroke iskemik dan 6 orang pada stroke hemoragik. Nyeri
Universitas Sumatera Utara
sedang dijumpai pada 10 orang (16,9%) penderita paska stroke iskemik dan 4 orang (19,0%) pada penderita stroke hemoragik. Depresi sedang dijumpai pada 4 orang (6,8%) penderita paska stroke iskemik dan 1 orang (4,8%) penderita stroke hemoragik. Pada Tabel 3 terlihat tidak terdapat perbedaan yang signifikan dari karakteristik penderita paska stroke iskemik dan hemoragik.
IV.1.3 Karakteristik Subjek Penelitian Berdasarkan Jenis Nyeri Kepala Kronik
Dari 40 orang subjek penelitian pada penderita nyeri kepala kronik, didapati penderita migren kronik 11 orang (27,5%) dan penderita CTTH 29 orang (72,5%). Rerata umur pada penderita migren kronik adalah 37,18 ± 11,33 tahun dan pada CTTH 45,34 ± 14,43 tahun. Jenis kelamin terbanyak pada penderita migren kronik dan CTTH adalah perempuan yaitu 9 orang (81,8%) dan 22 orang (75,9%). Suku terbanyak pada migren kronik dan CTTH adalah Batak yaitu sebanyak 8 orang (72,7%) dan 15 orang (51,7%). Pendidikan terbanyak pada migren kronik dan CTTH adalah SLTA yaitu 6 orang (54,4%,) dan 14 orang (48,3%), pekerjaan terbanyak pada migren kronik dan CTTH adalah Ibu Rumah Tangga sebanyak 6 orang (54,4%) dan 10 orang (34,5%). Rerata nilai fatigue subjek penelitian pada penderita migren kronik adalah 4,47 ± 0,87 sedangkan pada CTTH adalah 2, 87 ± 1,05. Rerata nilai nyeri pada migren kronik adalah 5,82 ± 1,16 sedangkan pada CTTH 2,93 ± 0,84.`Rerata nilai depresi pada pada migren kronik adalah 17,55 ± 4,74 sedangkan pada CTTH 13,03 ± 3,62.
Pada penderita migren kronik didapati yang terbanyak yang memiliki fatigue yaitu 6 orang (54,5%) dan CTTH didapati yang terbanyak adalah tidak fatigue yaitu 26 orang (89,7%). Pada penderita migren kronik didapati yang terbanyak adalah nyeri sedang yaitu 8 orang (72,7%) sedangkan pada CTTH
Universitas Sumatera Utara
adalah nyeri ringan sebanyak 25 orang (86,2%). Pada penderita migren kronik didapati yang terbanyak adalah depresi ringan dan sedang yaitu masing-masing 4 orang (36,4%) sedangkan pada CTTH yang terbanyak adalah tidak depresi sebanyak 20 orang (69,0%). Nilai rerata kualitas hidup pada penderita CTTH lebih baik dibandingkan migren kronik yaitu 64,52 ± 10,36 sedangkan migren kronik 61,09 ± 10,76. Fatigue dijumpai pada 6 orang (54,5,5%) penderita migren kronik dan 3 orang (10,3%) pada CTTH. Nyeri berat dijumpai pada 3 orang (27,3%) penderita migren kronik sedangkan pada penderita CTTH tidak dijumpai. Penderita yang tidak depresi paling banyak dijumpai pada CTTH yaitu 20 orang (69,0%) sedangkan pada migren kronik dijumpai sebanyak 3 orang (27,3%). Pada Tabel 4 terlihat terdapat perbedaan yang signifikan dari karakteristik penderita migren kronik dan CTTH yaitu pada rerata nilai fatigue, rerata nilai nyeri dan rerata nilai depresi.
Universitas Sumatera Utara
Tabel 3. Karakteristik Subjek Penelitian Berdasarkan Jenis Stroke
Nilai Fatigue, rerata ± SD Nilai Nyeri, rerata ± SD Nilai Depresi, rerata ± SD Nilai Kualitas Hidup, rerata ±SD Fatigue
Tabel 4. Karakteristik Subjek Penelitian Berdasarkan Jenis Nyeri Kepala
Nilai Fatigue, rerata ± SD Nilai Nyeri, rerata ± SD Nilai Depresi, rerata ± SD Nilai Kualitas Hidup, rerata ±SD Fatigue
Tabel 5. Karakteristik Fatigue, Nyeri dan Depresi Berdasarkan Lokasi Pada
Tabel 6. Karakteristik Fatigue, Nyeri dan Depresi Berdasarkan Lokasi Pada Penderita Stroke Hemoragik
Pada tabel 5 dan tabel 6 ditemukan bahwa penderita yang paling banyak mengalami nyeri pada stroke iskemik adalah dengan lokasi lesi pada basal ganglia sebanyak 11 orang (18,6%), sedangkan pada stroke hemoragik penderita yang paling banyak mengalami nyeri adalah dengan lokasi lesi di periventrikuler, thalamus dan cerebellum masing-masing sebanyak 3 orang (14,2%).
IV.1.4. Hubungan antara Fatigue, Nyeri dan Depresi dengan Kualitas Hidup pada Penderita Paska Stroke
Untuk mengetahui hubungan antara fatigue, nyeri dan depresi dengan kualitas hidup pada penderita paska stroke digunakan uji regresi linier ganda.
Dengan menggunakan uji ini terlihat bahwa nyeri memiliki koefisien yang lebih besar sehingga merupakan variabel yang paling berperan terhadap kualitas hidup pada penderita paska stroke, dimana nyeri menunjukkan hubungan negatif
Universitas Sumatera Utara
yang signikan dengan kualitas hidup dengan kekuatan korelasi lemah (B= -1,821, p=0,005)
Tabel 7. Hubungan antara Fatigue, Nyeri dan Depresi dengan Kualitas Hidup pada Penderita Paska Stroke
Model Koefisien B Koefisien Korelasi p
1 ( Constant)
Uji Regresi Linier Ganda
IV.1.5. Hubungan antara Fatigue dengan Kualitas Hidup pada Penderita Paska Stroke.
Hasil analisa statistik menggunakan uji korelasi Spearman menunjukkan korelasi negatif yang tidak signifikan antara fatigue dengan kualitas hidup pada penderita paska stroke dengan nilai kekuatan korelasi sangat lemah (r=-0,198, p=0,078) (Tabel 6).
IV.1.6. Hubungan antara Nyeri dengan Kualitas Hidup pada Penderita Paska Stroke.
Hasil analisa statistik menggunakan uji korelasi Spearman menunjukkan korelasi negatif yang signifikan antara nyeri dengan kualitas hidup pada penderita paska stroke dengan nilai kekuatan korelasi lemah (r=-0,224, p=0,046) (Tabel 7).
Tabel 9. Hubungan antara Nyeri dengan Kualitas Hidup pada Penderita Paska Stroke
Kualitas Hidup
Nyeri r
p n
-0,224 0,046
80
Uji Korelasi Spearman
IV.1.7. Hubungan antara Depresi dengan Kualitas Hidup pada Penderita Paska Stroke.
Hasil analisa statistik menggunakan uji korelasi Spearman menunjukkan korelasi negatif yang signifikan antara depresi dengan kualitas hidup pada penderita paska stroke dengan nilai kekuatan korelasi lemah (r=-0,241, p=0,031) (Tabel 8).
Universitas Sumatera Utara
Tabel 10. Hubungan antara Depresi dengan Kualitas Hidup pada Penderita
IV.1.8. Hubungan antara Fatigue, Nyeri dan Depresi dengan Kualitas Hidup pada Penderita Nyeri Kepala Kronik.
Untuk mengetahui hubungan antara fatigue, nyeri dan depresi dengan kualitas hidup pada penderita nyeri kepala kronik digunakan uji regresi linier ganda. Dengan menggunakan uji ini terlihat bahwa fatigue memiliki koefisien yang lebih besar sehingga merupakan variabel yang paling berperan terhadap kualitas hidup pada penderita nyeri kepala
kronik, namun fatigue menunjukkan hubungan negatif yang tidak signikan dengan kualitas hidup dengan kekuatan korelasi sedang (B= -3,639, p=0,100)
Tabel 11. Hubungan antara Fatigue, Nyeri dan Depresi dengan Kualitas Hidup pada Penderita Nyeri Kepala Kronik
Model Koefisien B Koefisien Korelasi p
1 (Constant) Uji Regresi Linier Ganda
Universitas Sumatera Utara
IV.1.9. Hubungan antara Fatigue dengan Kualitas Hidup pada Penderita Nyeri Kepala Kronik
Hasil analisa statistik menggunakan uji korelasi Spearman menunjukkan korelasi negatif yang tidak signifikan antara fatigue dengan kualitas hidup pada penderita nyeri kepala kronik dengan nilai kekuatan korelasi lemah (r=-0,294, p=0,065) (Tabel 10).
Tabel 12. Hubungan antara Fatigue dengan Kualitas Hidup pada Penderita Nyeri Kepala Kronik
Kualitas Hidup
Fatigue
r
p n
-0,294 0,065
40
Uji Korelasi Spearman
IV.1.10. Hubungan antara Nyeri dengan Kualitas Hidup pada Penderita Nyeri Kepala Kronik
Hasil analisa statistik menggunakan uji korelasi Spearman menunjukkan korelasi negatif yang tidak signifikan antara nyeri dengan kualitas hidup pada penderita nyeri kepala kronik dengan nilai kekuatan korelasi lemah (r=-0,222, p=0,169) (Tabel 11).
Universitas Sumatera Utara
Tabel 13. Hubungan antara Nyeri dengan Kualitas Hidup pada Penderita Nyeri Kepala Kronik
Kualitas Hidup
Nyeri r
p n
-0,222 0,169
40
Uji korelasi Spearman
IV.1.11 Hubungan antara Depresi dengan Kualitas Hidup pada Penderita Nyeri Kepala Kronik
Hasil analisa statistik menggunakan uji korelasi Spearman menunjukkan korelasi negatif yang tidak signifikan antara depresi dengan kualitas hidup pada penderita nyeri kepala kronik dengan nilai kekuatan korelasi sangat lemah (r=-0,154, p=0,344) (Tabel 12).
Tabel 14. Hubungan antara Depresi dengan Kualitas Hidup pada Penderita Nyeri Kepala Kronik
Kualitas Hidup
Depresi r
p n
-0,154 0,344
40
Uji korelasi Spearman
Universitas Sumatera Utara
IV.2 PEMBAHASAN
Penelitian ini merupakan penelitian potong lintang dengan tujuan untuk melihat hubungan antara fatigue, nyeri dan depresi dengan kualitas hidup pada penderita paska stroke dan nyeri kepala kronik.
Pada penelitian ini subjek penderita paska stroke di anamnese, dilakukan pemeriksaan fisik serta telah dilakukan CT Scan kepala dan subjek dengan nyeri kepala dianamnesa sesuai pertanyaan pada kriteria diagnostik berdasarkan Konsensus Nasional IV PERDOSSI 2013 untuk mendiagnosa jenis nyeri kepala kronik. Kemudian setiap subjek dinilai nilai fatigue dengan menggunakan kuesioner FSS, nilai nyeri dengan menggunakan kuesioner NRS dan nilai depressi dengan menggunakan kuesioner BDI II kemudian dinilai kualitas hidupnya dengan menggunakan kuesioner HRQOL BREF. Pengambilan sampel dilakukan oleh dokter pemeriksa.
IV.2.1 Karakteristik Subjek Penelitian pada Penderita Paska Stroke
Jumlah keseluruhan subjek penelitian pada penderita paska stroke adalah 80 orang, dengan jumlah laki-laki 48 orang (60,0%) lebih banyak dari perempuan 32 orang (40,0%). Pada penelitian Onabajo GV dkk (2014) didapati subjek penelitian terbanyak adalah juga laki-laki sebanyak 66 orang (66,0%) lebih banyak dari perempuan 34 orang (34%) dan penelitian yang dilakukan oleh Visser MM dkk (2014) didapati subjek penelitian terbanyak juga adalah laki-laki (56,0%) sedangkan perempuan adalah (44,0%).
Universitas Sumatera Utara
Tabel 15. Karakteristik Stroke berdasarkan Jenis Kelamin
Penelitian Tahun Hasil
Onabajo GV dkk 2014 Subjek penelitian terbanyak adalah laki-laki sebanyak 66 orang (66,0%) lebih banyak dari perempuan 34 orang (34%).
Visser MM dkk 2014 subje Subjek penelitian terbanyak juga adalah laki-laki (56,0%) sedangkan perempuan adalah (44,0%).
Penelitian ini 2016 Jumlah keseluruhan subjek penelitian pada penderita paska stroke adalah 80 orang, jumlah laki-laki 48 orang (60,0%) lebih banyak dari perempuan 32 orang (40,0%).
Rerata umur keseluruhan subjek pada penelitian ini adalah 57,64 ± 8,09 tahun, dimana rerata umur untuk penderita stroke iskemik adalah 58,27 ± 8,32 tahun dan rerata umur untuk penderita stroke hemoragik adalah 55, 86 ± 7, 28 tahun. Pada penelitian yang dilakukan oleh Haacke C dkk (2006) ditemukan rerata umur pada stroke iskemik adalah 70,6 ± 7,9 tahun, sedangkan pada stroke hemoragik 73,9 ± 8,6 tahun. Pada penelitian yang dilakukan Onabajo GV dkk (2014) diperoleh rerata umur untuk penderita paska stroke adalah 55,32 ± 13,9 tahun.
Tabel 16. Karakteristik Stroke berdasarkan Umur
Penelitian Tahun Hasil
Haacke C dkk 2006 Rerata umur pada stroke iskemik adalah 70,6 ± 7,9 tahun, sedangkan pada stroke hemoragik 73,9 ± 8,6 tahun.
Onabajo GV dkk 2014 rerata Rerata umur untuk penderita paska stroke adalah 55,32 ± 13,9 tahun.
Penelitian ini 2016 Rerata umur keseluruhan subjek ini adalah 57,64 ± 8,09 tahun, rerata umur untuk penderita stroke iskemik adalah 58,27 ± 8,32 tahun dan rerata umur untuk penderita stroke hemoragik adalah 55, 86 ± 7, 28 tahun.
Universitas Sumatera Utara
Pada penelitian ini pendidikan yang terbanyak adalah SLTA yaitu 29 orang (36,3%). Pada penderita stroke iskemik terdapat 19 orang (32,2%) yang berpendidikan SLTA. Sedangkan pada penderita stroke hemoragik terdapat 10 orang (47,6%) yang memiliki pendidikan SLTA. Pada penelitian Froes KS dkk (2011) pendidikan yang terbanyak pada subjek penderita paska stroke adalah yang berpendidikan 9 tahun yaitu sebanyak 37 orang (57,8%). Sedangkan pada penelitian yang dilakukan oleh Onabajo GV dkk (2014) ditemukan subjek penderita stroke yang paling banyak adalah yang berpendidikan 13 tahun sebanyak 35 orang (35%).
Pada penelitian ini didapati bahwa subjek penelitian yang mengalami fatigue adalah 24 orang (30,0%). Pada penderita stroke iskemik terdapat 18 orang (30,5%) yang mengalami fatigue. Sedangkan pada penderita stroke hemoragik terdapat 6 orang (28,6%) yang mengalami fatigue. Menurut penelitian Christensen D dkk (2008) dikatakan bahwa fatigue adalah merupakan keluhan yang sering terjadi pada penderita stroke, dilaporkan terdapat fatigue pada 40-74% pada pasien paska stroke. Pada penelitian yang dilakukan oleh Naess H dkk (2012) dari 328 orang penderita stroke iskemik ditemukan bahwa 40%
pasien mengalami fatigue.
Tabel 17. Fatigue pada Penderita Paska Stroke
Penelitian Tahun Hasil
Christensen D 2008 Terdapat fatigue pada 40-74% pada pasien paska stroke.
Naess H dkk 2012 rerata Dari 328 orang penderita stroke iskemik ditemukan bahwa 40% pasien mengalami fatigue
Penelitian ini 2016 Subjek penelitian yang mengalami fatigue 24 orang (30,0%), stroke iskemik terdapat 18 orang (30,5%) yang mengalami fatigue. Sedangkan stroke hemoragik terdapat 6 orang (28,6%) yang
Universitas Sumatera Utara
mengalami fatigue.
Pada penelitian ini dari keseluruhan subjek penelitian didapati nyeri ringan 26 orang (32,5%), nyeri sedang 14 orang (17,5%) dan yang tidak nyeri dijumpai paling banyak yaitu 40 orang (50,0%). Pada penderita stroke iskemik ditemukan nyeri ringan 17 orang (28,8%) dan nyeri sedang 10 orang (16,9%).
Sedangkan pada penderita stroke hemoragik ditemukan nyeri ringan 9 orang (42,9%), nyeri sedang 4 orang (19,0%). Menurut penelitian yang dilakukan oleh Naess H dkk (2012) dari 328 orang penderita stroke iskemik ditemukan bahwa 20%-40% pasien mengalami nyeri. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Lundstrom dkk (2009) prevalensi nyeri yang terjadi setelah stroke bervariasi antara 19% dan &74%.
Tabel 18. Nyeri pada Penderita Paska Stroke
Penelitian Tahun Hasil
Naess H dkk 2012 Dari 328 orang penderita stroke iskemik ditemukan bahwa 20%-40% pasien mengalami nyeri.
Lundstrom dkk 2009 rerata Prevalensi nyeri yang terjadi setelah stroke bervariasi antara 19% dan &74%.
Penelitian ini 2016 Pada penderita stroke iskemik ditemukan nyeri ringan 17 orang (28,8%),nyeri sedang 10 orang (16,9%). Sedangkan pada penderita stroke hemoragik ditemukan nyeri ringan 9 orang (42,9%), nyeri sedang 4 orang (19,0%)
Pada penelitian ini dari keseluruhan subjek penelitian didapati yang paling banyak adalah yang tidak depresi yaitu sebanyak 44 orang (55,0%), depresi ringan 31 orang (38,8,%) dan depresi sedang pada 5 orang (6,0%). Pada penderita stroke iskemik didapati depresi ringan 23 orang (39,0%) dan depresi sedang berjumlah 4 orang (6,8%) sedangkan pada penderita stroke hemoragik didapati depresi ringan 8 orang (38,1%) dan depresi sedang 1 orang (4,8%).
Universitas Sumatera Utara
Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Froes KS dkk (2011) terhadap penderita paska stroke, ditemukan bahwa yang paling banyak adalah yang tidak mengalami depresi yaitu sebanyak 60% dan yang mengalami depresi ringan pada 21,8% subjek penelitian, depresi sedang pada 12,7% subjek penelitian dan depresi berat ditemukan pada 5,5% subjek penelitian. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Altindag O dkk (2008) pada penderita paska stroke ditemukan bahwa yang paling banyak adalah yang mengalami depresi berat yaitu sebanyak 48,7%, depresi ringan pada 12,2% subjek penelitian dan depresi sedang sebanyak 36,6%.
Tabel 19. Depresi pada Penderita Paska Stroke
Penelitian Tahun Hasil
Froes KS dkk 2011 Depresi ringan pada 21,8% subjek penelitian, depresi sedang pada 12,7% dan depresi berat pada 5,5% subjek penelitian.
Altindag O dkk 2008 Paling banyak ditemukan pada pebderita paska stroke adalah yang depresi berat yaitu sebanyak 48,7%, depresi ringan 12,2% dan depresi sedang 36,6%
Penelitian ini 2016 Pada stroke iskemik didapati depresi ringan 23 orang (39,0%) , depresi sedang 4 orang (6,8%) dan pada penderita stroke hemoragik didapati depresi ringan 8 orang (38,1%), depresi sedang 1 orang (4,8%).
Pada penelitian ini nilai rerata kualitas hidup pada seluruh subjek penelitian adalah 58,88 ± 10,95, dengan nilai rerata kualitas hidup pada stroke iskemik adalah 59,10 ± 11,27 sedangkan pada stroke hemoragik nilai rerata kualitas hidup 58,24 ± 10,23. Pada penelitian Lima ML dkk (2009) ditemukan nilai rerata kualitas hidup pada penderita paska stroke adalah 63,38 ± 3,09. Pada penelitian yang dilakukan oleh Onabajo GV dkk (2014) ditemukan rerata kualitas hidup pada penderita paska stroke adalah 57,92 ±14, 58.
Universitas Sumatera Utara
Tabel 20. Rerata Kualitas Hidup pada Penderita Paska Stroke
Penelitian Tahun Hasil
Lima ML dkk 2009 Nilai rerata kualitas hidup pada penderita paska stroke adalah 63,38 ± 3,09.
Onabajo GV dkk 2014
rerata Nilai rerata kualitas hidup pada penderita paska stroke adalah 57,92 ±14, 58.
Penelitian ini 2016 Nilai rerata kualitas hidup pada seluruh subjek penelitian adalah 58,88 ± 10,95.
IV.2.2 Karakteristik Subjek Penelitian pada Penderita Nyeri Kepala Kronik
Jumlah keseluruhan subjek penelitian pada nyeri kepala kronik adalah 40 orang, dengan jumlah perempuan 31 orang (77,5%) lebih banyak dari laki-laki 9 orang (22,5%). Pada penelitian Houle dkk (2012) didapati subjek penelitian terbanyak adalah perempuan (83,6%) dan penelitian yang dilakukan oleh Morgan I dkk (2015) didapati subjek penelitian terbanyak juga adalah perempuan (60,1%) sedangkan laki-laki adalah (39,9%).
Tabel 21. Karakteristik Nyeri Kepala Kronik berdasarkan Jenis Kelamin
Penelitian Tahun Hasil
Houle dkk 2012 Subjek penelitian terbanyak adalah perempuan (83,6%).
Morgan I dkk 2015 subje Penelitian terbanyak juga perempuan (60,1%) sedangkan laki-laki adalah (39,9%).
Morgan I dkk 2015 subje Penelitian terbanyak juga perempuan (60,1%) sedangkan laki-laki adalah (39,9%).