• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IX. HUBUNGAN ANTARA KARAKTERISTIK PUBLIK

9.3. Hubungan antara Tingkat Pendidikan Publik Sasaran dengan Efektivitas

9.3.1 Hubungan antara Tingkat Pendidikan Publik Sasaran dengan Aspek Kognisi

Hubungan antara tingkat pendidikan responden dengan aspek kognisi dapat diketahui melalui uji Rank Spearman. Uji ini dilakukan untuk menganalisis apakah publik sasaran pada tingkat pendidikan yang berbeda memiliki aspek kognisi yang berbeda terhadap Plantera. Tabel 29 menyajikan hasil uji Rank Spearman antara tingkat pendidikan responden dengan aspek kognisi pada kelompok responden hari kerja dan hubungan antara kedua variabel tersebut. Tabel 29. Presentase Responden Hari Kerja menurut Tingkat Pendidikan dan

Aspek Kognisi, Plantera Fruit Paradise Ngebruk, 2010.

Tingkat Pendidikan

Aspek Kognisi

Total Rendah Tinggi

Rendah (Tamat atau tidak tamat SD) 100,00 0,00 100,00

Sedang (SLTP atau SLTA atau

sederajat) 100,00 0,00 100,00

Tinggi (Pernah mengenyam pendidikan

di perguruan tinggi) 8,33 91,67 100,00

Keterangan: r = 0,890 & Sig. (2-tailed) = 0,000**

Berdasarkan Tabel 29, didapatkan hasil signifikasi sebesar 0,000. Karena signifikasi (0,000) < 0,05, maka H0 ditolak. Jadi, dapat disimpulkan ada hubungan signifikan antara tingkat pendidikan responden dengan aspek kognisi. Artinya, pada tingkat pendidikan yang berbeda, responden pada hari kerja memiliki aspek kognisi yang berbeda terhadap Plantera. Koefisien yang mendekati satu (0,890) berarti hubungan antara “tingkat pendidikan” dan “aspek kognisi” sangat erat.

Kemudian pada Tabel 30 disajikan hasil uji Rank Spearman antara tingkat pendidikan responden dengan aspek kognisi pada kelompok responden hari libur untuk dijadikan perbandingan dengan hasil sebelumnya.

Tabel 30. Presentase Responden Hari Libur menurut Tingkat Pendidikan dan Aspek Kognisi, Plantera Fruit Paradise Ngebruk, 2010.

Tingkat Pendidikan

Aspek Kognisi

Total Rendah Tinggi

Rendah (Tamat atau tidak tamat SD) 100,00 0,00 100,00

Sedang (SLTP atau SLTA atau sederajat) 77,78 22,22 100,00

Tinggi (Pernah mengenyam pendidikan

di perguruan tinggi) 0,00 100,00 100,00

Keterangan: r = 0,779 & Sig. (2-tailed) = 0,000**

Hasil yang didapat pada responden hari libur pada Tabel 30 yaitu adanya hubungan antara tingkat pendidikan dengan aspek kognisi. Hal ini dibuktikan dengan signifikasi (0,000) < 0,05, sehingga H0 ditolak dan berarti ada hubungan signifikan antara tingkat pendidikan responden dengan aspek kognisi. Berdasarkan hasil signifikansi dan sajian pada tabulasi silang hubungan kedua variabel menunjukkan hasil yaitu pada responden hari libur dan pada tingkatan pendidikan berbeda memiliki aspek kognisi yang berbeda pula. Selain itu, koefisien korelasi yang mendekati satu (0,779) menandakan hubungan antara “tingkat pendidikan” dan “aspek kognisi” juga cukup erat.

Responden dengan tingkat pendidikan rendah dan sedang lebih memiliki aspek kognisi yang rendah pula. Responden berpendidikan rendah tidak terlalu bersikap kritis terhadap Plantera dan cenderung hanya menikmati fasilitas yang diberikan tanpa ingin mengetahui lebih lanjut mengenai Plantera itu sendiri. Sementara responden bertingkat pendidikan tinggi bersikap lebih kritis dan mencari informasi mengenai Plantera lebih banyak daripada responden yang bertingkat pendidikan rendah. Pengetahuan mengenai Plantera yang dimaksud antara lain seperti standar pelayanan, standar keamanan, sejarah Plantera, dan lain-lain.

9.3.2 Hubungan antara Tingkat Pendidikan Publik Sasaran dengan Aspek Afeksi

Hubungan antara tingkat pendidikan responden dengan aspek afeksi dapat diketahui melalui uji Rank Spearman. Uji ini dilakukan untuk menganalisis apakah publik sasaran pada tingkat pendidikan yang berbeda memiliki aspek afeksi yang berbeda terhadap Plantera. Tabel 31 menyajikan hasil uji Rank Spearman antara tingkat pendidikan responden dengan aspek afeksi pada kelompok responden hari kerja dan hubungan antara kedua variabel tersebut.

Tabel 31. Presentase Responden Hari Kerja menurut Tingkat Pendidikan dan Aspek Afeksi, Plantera Fruit Paradise Ngebruk, 2010.

Tingkat Pendidikan

Aspek Afeksi

Total Buruk Baik

Rendah (Tamat atau tidak tamat SD) 100,00 0,00 100,00

Sedang (SLTP atau SLTA atau

sederajat) 100,00 0,00 100,00

Tinggi (Pernah mengenyam pendidikan

di perguruan tinggi) 0 0,00 100,00 100,00

Keterangan: r = 0,986 & Sig. (2-tailed) = 0,000**

Berdasarkan Tabel 31, didapatkan hasil signifikasi sebesar 0,000. Karena signifikasi (0,000) < 0,05, maka H0 ditolak. Jadi, dapat disimpulkan ada hubungan signifikan antara tingkat pendidikan responden dengan aspek afeksi. Artinya, pada tingkat pendidikan yang berbeda, responden pada hari kerja memiliki aspek afeksi yang berbeda terhadap Plantera. Koefisien yang mendekati satu (0,986) berarti hubungan antara “tingkat pendidikan” dan “aspek afeksi” sangat erat.

Kemudian pada Tabel 32 disajikan hasil uji Rank Spearman antara tingkat pendidikan responden dengan aspek afeksi pada kelompok responden hari libur untuk dijadikan perbandingan dengan hasil sebelumnya.

Tabel 32. Presentase Responden Hari Libur menurut Tingkat Pendidikan dan Aspek Afeksi, Plantera Fruit Paradise Ngebruk, 2010.

Tingkat Pendidikan

Aspek Afeksi

Total Buruk Baik

Rendah (Tamat atau tidak tamat SD) 100,00 0,00 100,00

Sedang (SLTP atau SLTA atau sederajat) 77,78 22,22 100,00

Tinggi (Pernah mengenyam pendidikan

di perguruan tinggi) 0,00 100,00 100,00

Keterangan: r = 0,698 & Sig. (2-tailed) = 0,001**

Hasil yang didapat pada responden hari libur pada Tabel 32 yaitu adanya hubungan antara tingkat pendidikan dengan aspek afeksi. Hal ini dibuktikan dengan signifikasi (0,001) < 0,05, sehingga H0 ditolak dan berarti ada hubungan signifikan antara tingkat pendidikan responden dengan aspek afeksi. Berdasarkan hasil signifikansi dan sajian pada tabulasi silang hubungan kedua variabel menunjukkan hasil yaitu pada responden hari libur dan pada tingkatan pendidikan berbeda memiliki aspek afeksi yang berbeda pula. Selain itu, koefisien korelasi yang mendekati satu (0,698) menandakan hubungan antara “tingkat pendidikan” dan “aspek afeksi” juga cukup erat.

Responden dengan tingkat pendidikan rendah dan sedang memiliki aspek afeksi yang buruk pula. Responden berpendidikan rendah dan beberapa responden berpendidikan sedang cenderung hanya menikmati fasilitas yang disediakan dan mereka sebenarnya juga tidak puas dengan fasilitas yang disediakan Plantera. Mereka menganggap Plantera terlalu berlebihan dalam berpromosi sehingga ekspetasi atau harapan mereka terhadap Plantera tidak sesuai dengan kenyataan. Sementara responden bertingkat pendidikan tinggi bersikap lebih kritis dan mencari informasi mengenai Plantera lebih banyak sehingga lebih siap menerima kenyataan daripada responden yang bertingkat pendidikan rendah. Oleh karena itu, responden bertingkat pendidikan sedang menuju tinggi cenderung memiliki afeksi yang baik.

9.3.3 Hubungan antara Tingkat Pendidikan Publik Sasaran dengan Aspek Konasi

Hubungan antara tingkat pendidikan responden dengan aspek konasi dapat diketahui melalui uji Rank Spearman. Uji ini dilakukan untuk menganalisis

apakah publik sasaran pada tingkat pendidikan yang berbeda memiliki aspek konasi yang berbeda terhadap Plantera. Tabel 33 menyajikan hasil uji Rank Spearman antara tingkat pendidikan responden dengan aspek konasi pada kelompok responden hari kerja dan hubungan antara kedua variabel tersebut. Tabel 33. Presentase Responden Hari Kerja menurut Tingkat Pendidikan dan

Aspek Konasi, Plantera Fruit Paradise Ngebruk, 2010.

Tingkat Pendidikan

Aspek Konasi

Total Rendah Tinggi

Rendah (Tamat atau tidak tamat SD) 100,00 0,00 100,00

Sedang (SLTP atau SLTA atau sederajat) 85,71 14,29 100,00

Tinggi (Pernah mengenyam pendidikan

di perguruan tinggi) 0,00 100,00 100,00

Keterangan: r = 0,896 & Sig. (2-tailed) = 0,000**

Berdasarkan Tabel 33, didapatkan hasil signifikasi sebesar 0,000. Karena signifikasi (0,000) < 0,05, maka H0 ditolak. Jadi, dapat disimpulkan ada hubungan signifikan antara tingkat pendidikan responden dengan aspek konasi. Artinya, pada tingkat pendidikan yang berbeda, responden pada hari kerja memiliki aspek konasi yang berbeda terhadap Plantera. Koefisien yang mendekati satu (0,896) berarti hubungan antara “tingkat pendidikan” dan “aspek konasi” sangat erat.

Kemudian pada Tabel 34 disajikan hasil uji Rank Spearman antara tingkat pendidikan responden dengan aspek konasi pada kelompok responden hari libur untuk dijadikan perbandingan dengan hasil sebelumnya.

Tabel 34. Presentase Responden Hari Libur menurut Tingkat Pendidikan dan Aspek Konasi, Plantera Fruit Paradise Ngebruk, 2010.

Tingkat Pendidikan

Aspek Konasi

Total Rendah Tinggi

Rendah (Tamat atau tidak tamat SD) 100,00 0,00 100,00

Sedang (SLTP atau SLTA atau sederajat) 11,11 88,89 100,00

Tinggi (Pernah mengenyam pendidikan

di perguruan tinggi) 0,00 100,00 100,00

Keterangan: r = 0,698 & Sig. (2-tailed) = 0,001**

Hasil yang didapat pada responden hari libur pada Tabel 34 yaitu adanya hubungan antara tingkat pendidikan dengan aspek konasi. Hal ini dibuktikan

dengan signifikasi (0,001) < 0,05, sehingga H0 ditolak dan berarti ada hubungan signifikan antara tingkat pendidikan responden dengan aspek konasi. Berdasarkan hasil signifikansi dan sajian pada tabulasi silang hubungan kedua variabel menunjukkan hasil yaitu pada responden hari libur dan pada tingkatan pendidikan berbeda memiliki aspek konasi yang berbeda pula. Selain itu, koefisien korelasi yang mendekati satu (0,698) menandakan hubungan antara “tingkat pendidikan” dan “aspek konasi” juga cukup erat.

Responden dengan tingkat pendidikan rendah cenderung memiliki aspek konasi yang rendah pula. Seperti diketahui pada hasil sebelumnya, responden berpendidikan rendah cenderung kecewa terhadap Plantera karena ekspetasi atau harapan mereka tidak terpenuhi sehingga aspek konasi mereka rendah. Namun, berbeda dengan hasil sebelumnya responden berpendidikan sedang memiliki kecenderungan berperilaku terhadap Plantera. Walaupun merasa dikecewakan oleh Plantera namun responden berpendidikan sedang masih tetap ingin kembali datang ke kebun. Hal ini dikarenakan beberapa fasilitas Plantera yang tersedia yang memenuhi harapan mereka lebih banyak jumlahnya dibandingkan dengan yang tidak. Sementara responden bertingkat pendidikan tinggi cenderung bersikap lebih menerima fasilitas Plantera dikarenakan mereka tidak terlalu berharap lebih terhadap Plantera sehingga aspek konasi mereka ikut tinggi. Dapat disimpulkan bahwa tingkat pendidikan publik sasaran memiliki hubungan dengan efektivitas strategi pencitraan perusahaan melalui LPF.

9.4 Hubungan antara Tingkat Pendapatan Publik Sasaran dengan