• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hubungan Dukungan Sosial dengan Karakteristik Keluarga

Hubungan antara dukungan sosial dengan karakteristik keluarga dapat dilihat pada Tabel 21. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang nyata dan positif antara umur ayah (r=0,332; p<0,05) dengan dukungan sosial yang diterima dari keluarga inti. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi umur suami maka akan semakin tinggi dukungan yang diberikan keluarga inti. Dukungan keluarga inti berasal dari dukungan anak kepada ayah begitupun sebaliknya dukungan diberikan dari ayah kepada anak. Semakin tinggi umur orangtua maka anak akan semakin banyak memberikan dukungan kepada orangtua. Hal ini dikarenakan umur yang meningkat menyebabkan produktifitas kerja orang tua menurun sehingga perlu diberikan dukungan dan perhatian penuh kepada orang tua agar dapat terus bertahan hidup.

Tabel 21 menunjukkan terdapat hubungan nyata dan positif (r=0,318; p<0,05) antara jumlah keluarga dengan dukungan yang diberikan keluarga inti. Hal ini berarti semakin tinggi jumlah anggota keluarga maka semakin tinggi dukungan yang diberikan keluarga inti. Dukungan yang diberikan keluarga inti kepada suami berasal dari anak atau begitupun sebaliknya dukungan yang diberikan dari suami kepada anak. Anak merupakan orang terdekat bagi suami saat istri telah menjadi TKW. Banyaknya dukungan yang diberikan keluarga inti tergantung dari jumlah anggota keluarga dalam suatu keluarga. Semakin banyak jumlah anggota keluarga maka semakin banyak pula dukungan yang diberikan keluarga inti kepada suami. Apabila suami memiliki banyak anak maka dukungan yang diberikan kepada suami akan banyak. Banyaknya dukungan sosial yang diterima anggota keluarga ketika krisis tergantung pada seberapa banyak dukungan yang telah mereka berikan dari satu orang ke orang lain terutama pada saat mengalami krisis. Pasangan yang telah memberikan sangat banyak dukungan pada anak mereka selama dalam proses pengasuhan akan mendapatkan lebih banyak bantuan saat mereka tua (Lee et al. 1994 dalam Galvin et al. 2003). Tidak terdapat hubungan nyata antara dukungan sosial yang diberikan kepada suami baik yang berasal dari keluarga besar dan tetangga dengan karakteristik keluarga. Keluarga inti tidak memiliki hubungan nyata dengan tingkat pendidikan ayah dan lama ibu menjadi TKW. Secara keseluruhan, dukungan sosial tidak memiliki hubungan nyata dengan karakteristik keluarga.

Tabel 21 Sebaran koefisien korelasi antara dukungan sosial dengan karakteristik keluarga

Karakteristik Keluarga Keluarga Besar

Keluarga Inti Tetangga Dukungan Sosial

Umur ayah -0,051 0,332** 0,203 0,233

Pendidikan ayah 0,119 0,021 0,172 0,129

Jumlah anggota keluarga -0,211 0,318* -0,183 -0,010

Lama ibu jadi TKW 0,066 -0,074 0,117 0,014

* signifikan pada p<0,05 * * signifikan pada p<0,01

Hubungan antara Interaksi Suami-Istri dengan Karakteristik Keluarga

Terdapat hubungan nyata dan positif (r=0,332; p<0,05) antara pendapat total keluarga per bulan dengan komunikasi suami-istri. Hal ini menunjukkan semakin tinggi pendapatan total keluarga per bulan maka semakin tinggi komunikasi suami-istri. Komunikasi antara suami-istri dilakukan melalui media komunikasi telepon seluler. Untuk berkomunikasi dengan istri, suami perlu mengeluarkan biaya yang cukup banyak demi kelancaran komunikasi antara suami-istri. Pendapatan total keluarga per bulan yang diperoleh sebagian disisihkan untuk membeli pulsa yang nantinya akan dipakai untuk berkomunikasi dengan istri yang berada di luar negeri. Semakin banyak total pendapatan keluarga per bulan yang diperoleh maka semakin lancar komunikasi di antara suami-istri karena suami dapat membeli pulsa untuk digunakan berkomunikasi dengan istri. Hal ini sesuai dengan pendapat Muladsih (2011) bahwa semakin tinggi pendapatan maka semakin baik frekuensi komunikasi antar anggota keluarga karena untuk melakukan komunikasi yang baik memerlukan biaya, terutama jika jarak antar anggota keluarga berjauhan. Berdasarkan hasil penelitian tidak terdapat hubungan yang nyata antara ikatan bonding suami-istri dan interaksi suami-istri dengan karakteristik keluarga. Komunikasi suami-istri tidak memiliki hubungan yang nyata dengan umur ayah dan lama ibu menjadi TKW (Tabel 22).

Tabel 22 Sebaran koefisien korelasi antara interaksi suami-istri dengan karakteristik keluarga

Karakteristik Keluarga Komunikasi Bonding Interaksi Suami-Istri

Umur ayah 0,031 0,002 0,020

Lama ibu jadi TKW -0,185 -0,025 -0,128

Pendapatan keluarga 0,332** 0,014 0,213

* signifikan pada p<0,05 * * signifikan pada p<0,01

Hubungan antara Kualitas Perkawinan dengan Karakteristik Keluarga

Tidak terdapat hubungan yang nyata antara kebahagiaan dan kepuasan perkawinan dengan karakteristik keluarga (pendidikan ayah, pendidikan ibu, dan pendapatan total keluarga per bulan). Suami tidak merasakan kebahagiaan dan kepuasan dalam hidupnya yang berasal dari karakteristik keluarga namun akan merasakan kebahagiaan dan kepuasan perkawinan yang diperoleh melalui keberadaan sang istri di samping suami. Selain itu, suami merasakan kebahagian dan kepuasan perkawinan saat kebutuhan biologis mereka terpenuhi. Rusman (2010) menyatakan bahwa kebahagiaan perkawinan menyangkut aspek hubungan antara suami dan istri, khususnya seks. Hasil penelitian Dobson mengatakan bahwa seks merupakan lima masalah terbesar yang ada dalam kehidupan berumahtangga (Kuntaraf dan Kuntaraf 1999). Secara keseluruhan, kualitas perkawinan (kebahagiaan dan kepuasan) tidak memiliki hubungan yang nyata dengan karakteristik keluarga (pendidikan ayah, pendidikan ibu, dan pendapatan total keluarga per bulan).

Tabel 23 Sebaran koefisien korelasi antara kualitas perkawinan dengan karakteristik keluarga

Karakteristik Keluarga Kebahagiaan Perkawinan Kepuasan Perkawinan Kualitas Perkawinan Pendidikan ayah 0,070 0,006 0,042 Pendidikan ibu 0,127 0,073 0,113 Pendapatan keluarga 0,010 0,016 0,015 * signifikan pada p<0,05

Hubungan antara Dukungan Sosial dengan Interaksi Suami-Istri

Tabel 24 menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang nyata dan positif antara dukungan yang diberikan keluarga besar (r=0,421; p<0,05) dengan ikatan bonding suami dan istri. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi dukungan sosial yang diberikan keluarga besar dan tetangga maka semakin tinggi ikatan bonding di antara suami-istri. Friedman et al. (1999) mengatakan bahwa keluarga besar memiliki fungsi pendukung untuk seluruh anggota keluarganya. Sumber dukungan utama yang potensial diperoleh dalam keluarga karena dalam keluarga memiliki fungsi-fungsi dukungan tertentu yang tidak berubah (Puspitawati dan Herawati 2009). Dukungan yang diberikan keluarga besar berupa kepedulian dan perhatian yang tinggi, memberikan semangat hidup selama istri bekerja sebagai TKW, dan selalu mengatakan sesuatu yang dapat membuat suami tenang dan merasa dihargai akan membuat ikatan bonding antara suami dan istri terjaga dengan baik.

Terdapat hubungan nyata dan positif antara dukungan sosial yang diberikan tetangga dengan ikatan bonding antara suami-istri (r=0,447; p<0,05) dan interaksi suami-istri (r=0,264; p<0,05). Hal ini berarti bahwa semakin tinggi dukungan yang diberikan tetangga kepada suami maka semakin tinggi pula ikatan bonding dan interaksi di antara suami-istri. Integrasi sosial adalah dukungan sosial berupa perasaan memiliki suatu kelompok yang dimana memungkinkan terjadinya berbagi minat, perhatian dan melakukan kegiatan yang reaktif secara bersama-sama (Cutrona 1996). Dukungan sosial tetangga ini didapat dari teman dekat atau tetangga yang memiliki hubungan yang harmonis dan akrab dan memiliki persamaan nasib. Adapun dukungan yang diberikan tetangga kepada suami berupa kehidupan bermasyarakat yang memberikan perasaan aman terutama ketika istri menjadi TKW, bertukar pikiran dan berbagi masalah, banyak memberikan nasihat dan saran ketika suami menghadapi masalah, dan teman-teman mau mendengarkan masalah yang sedang dihadapi suami akan memberikan perasaan yang nyaman dan tentram dihati suami. Persamaan nasib yang dimiliki yaitu istri bekerja sebagai TKW antara suami dengan tetangga membuat suami berpikir untuk mempertahankan bonding dan interaksi di antara suami dan istri. Adanya dukungan dari tetangga membuat suami untuk selalu menjaga komunikasi dan kesetiaan terhadap istri serta merasa terikat perasaan dengan istri. Keluarga dan teman berperan dalam memberikan dukungan seoptimal mungkin saat individu membutuhkan dukungan yang lebih banyak. Seseorang yang merasa memiliki banyak dukungan lebih baik dalam penanggulangan terhadap stress, sakit, serta pengalaman yang menyulitkan lainnya (Antonnucci 2001).

Tabel 24 Sebaran koefisien korelasi antara dukungan sosial dengan interaksi suami-istri Variabel Keluarga Besar Keluarga Inti Tetangga Dukungan Sosial Komunikasi suami-istri 0,168 0,192 0,244 0,116 Bonding suami-istri 0,421** 0,094 0,447** 0,255** Interaksi suami-istri 0,207 -0,019 0,264* 0,210 * signifikan pada p<0,05 * * signifikan pada p<0,01

Terdapat hubungan yang nyata dan positif antara (r=0,255; p<0,05) dukungan sosial dengan ikatan bonding di antara suami-istri. Hal ini berarti bahwa semakin tinggi dukungan sosial maka semakin tinggi ikatan bonding di antara suami-istri. Menurut Firestone dan Weinstein (2008) mengatakan bahwa

dalam situasi tertentu keluarga memerlukan tambahan dukungan. Dukungan yang diberikan dapat membantu individu untuk mengelola perubahan yang terjadi pada keluarga mencakup pelayanan seperti bantuan perlindungan, perawatan, serta konseling dan pelatihan. Dukungan sosial merupakan tempat pertukaran informasi pada tingkat interpersonal mencakup (1) Emotional support yaitu mengarahkan individu agar percaya bahwa dirinya dikasihi dan diperhatikan, (2) Esteem support, mengarahkan individu agar percaya bahwa dirinya dihargai dan bernilai, (3) Network support yaitu mengarahkan individu agar percaya bahwa dirinya sebagai bagian dari jaringan komunikasi yang melibatkan kewajiban dan pemahaman bersama (Cobbs’s 1976 dalam McCubbin dan Thompson 1988). Adanya dukungan sosial yang diberikan akan membuat suami mempertahankan ikatan bonding di antara suami dan istri (Tabel 24).

Komunikasi suami-istri tidak memiliki hubungan nyata dengan dukungan sosial baik yang berasal dari dukungan keluarga besar, keluarga inti, dan tetangga. Ikatan bonding suami-istri tidak memiliki hubungan nyata dengan dukungan keluarga inti. Dukungan yang diberikan keluarga besar dan keluarga inti tidak memiliki hubungan yang nyata dengan interaksi suami-istri. Secara keseluruhan dukungan sosial tidak memiliki hubungan yang nyata dengan interaksi suami-istri.

Hubungan antara Kualitas Perkawinan dengan Dukungan Sosial

Tabel 25 menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang nyata antara kebahagiaan dan kepuasan perkawinan dengan dukungan sosial. Hal itu diduga bahwa suami tidak merasakan kebahagian dan kepuasan perkawinan dalam hidupnya yang berasal dari dukungan sosial namun suami akan merasakan kebahagiaan dan kepuasan perkawinan pada saat istri ada di samping suami. Menurut Paruntu (1998) bahwa kebahagiaan bersifat relatif dan subyektif yang dialami oleh pasangan suami-istri. Olson dan Hamilton (1968) menyatakan bahwa kepuasan perkawinan yaitu perasaan yang subyetif akan kebahagiaan, kepuasan, serta pengalaman menyenangkan yang dialami oleh masing-masing pasangan yang mempertimbangkan keseluruhan aspek dalam perkawinan tersebut (Paruntu 1998). Selain itu, kepuasan perkawinan bergerak pada sebuah kontinum dari sangat puas hingga pada sangat tidak puas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara subyektif suami lebih banyak menyatakan rasa kebahagiaan dan kepuasan diperoleh saat istri ada di samping suami dan kebutuhan seksual mereka terpenuhi. Cho et al. (1996) menyatakan kepuasan

perkawinan diperoleh melalui terpenuhinya harapan peran pasangan mengenai peran seksual dan emosional suami.

Tabel 25 Sebaran koefisien korelasi antara kualitas perkawinan dengan dukungan sosial

Variabel Keluarga Besar Keluarga Inti Dukungan Sosial

Kebahagiaan Perkawinan 0,083 0,075 0,007

Kepuasan Perkawinan 0,164 -0,029 0,035

Kualitas Perkawinan 0,007 -0,117 0,024

* signifikan pada p<0,05 * * signifikan pada p<0,01

Hubungan antara Interaksi Suami-Istri dengan Kualitas Perkawinan

Tabel 26 menunjukkan bahwa terdapat hubungan nyata dan positif antara komunikasi suami-istri dengan kebahagiaan perkawinan (r=0,327; p<0,05) dan kepuasan perkawinan (r=0,281; p<0,05). Hal ini berarti semakin tinggi komunikasi antara suami-istri maka semakin tinggi kebahagiaan dan kepuasan perkawinan yang dirasakan suami. Pasangan akan merasakan kebahagiaan perkawinan bersama pasangannya apabila komunikasi di antara keduanya disertai dengan adanya pengertian, rasa cinta, suasana relasi yang nyaman, simpati, loyalitas serta adanya rasa saling membutuhkan kebersamaan. Apabila tidak disertai dengan hal tersebut maka dapat menimbulkan rasa kesepian sekalipun secara fisik berdekatan. Melalui sistem komunikasi yang terbentuk dengan baik maka setiap pasangan akan selalu merasakan kebersamaan meskipun terpisah oleh jarak maupun waktu (Duvall dan Miller 1985). Bell (1986) dalam Paruntu (1998) mengatakan akan pentingnya komunikasi dalam mempengaruhi kepuasan perkawinan. Kepuasan perkawinan dipengaruhi oleh adanya kesempatan yang dimiliki oleh suami dan istri dalam mengekspresikan kepribadiannya masing-masing. Adanya kesepakatan dan persamaan di antara pasangan merupakan hal penting meskipun identitas diri secara pribadi tetap perlu diperhatikan. Suami dan istri merupakan sumber afeksi bagi diri mereka sebagai pasangan, melalui cinta dan afeksi, pasangan dapat mempertahankan perasaan saling membutuhkan di antara keduanya.

Ikatan bonding memiliki hubungan nyata dan positif dengan kebahagiaan perkawinan (r=0,371; p<0,05), kepuasan perkawinan (r=0,384; p<0,05), dan kualitas perkawinan (r=0,318; p<0,05). Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi ikatan bonding antara suami dan istri maka semakin tinggi kebahagiaan perkawinan, kepuasan perkawinan, dan kualitas perkawinan yang dirasakan suami. Hendrick (1981) dalam Kammeyer (1987) mengemukakan bahwa terdapat hubungan positif antara kedekatan suami-istri dengan kepuasan

perkawinan. Oleh karena itu, adanya ikatan bonding yang kuat antara suami-istri memberikan kepuasan terhadap suami. Ikatan bonding yang terjadi di antara suami-istri terlihat saat suami mendoakan keselamatan dan kesehatan istri selama jadi TKW, menjaga kesetiaan terhadap istri, merasa terikat perasaan dengan istri, bermimpi istri, merasa kesepian saat ditinggal istri terlalu lama, merindukan istri, selalu mengingat hari-hari spesial saat bersama istri, dan setiap malam saya selalu teringat istri. Adanya ikatan bonding yang kuat dan terjaga dengan baik antara suami dan istri akan menimbulkan kebahagiaan dalam diri suami. Ikatan bonding di antara suami dan istri akan menimbulkan kepuasan dalam perkawinan hal ini dikarenakan suami merasa meskipun dipisahkan antara jarak dan waktu ikatan bonding di antara suami dan istri tetap terjaga dengan baik. Selain itu, apabila kepuasan dan kebahagiaan suami tercapai karena adanya ikatan bonding yang baik di antara suami-istri maka kualitas perkawinan pun tercapai. Davidson et al. mengatakan bahwa kedekatan di antara suami-istri memberikan efek terhadap hubungan perkawinan (Kammeyer 1987).

Tabel 26 Sebaran koefisien korelasi antara kualitas perkawinan dengan interaksi suami-istri

Variabel Komunikasi Bonding Interaksi Suami-Istri Kebahagiaan Perkawinan 0,327** 0,371** 0,270* Kepuasan Perkawinan 0,281* 0,384** 0,258* Kualitas Perkawinan 0,207 0,318* 0,301* * * signifikan pada p<0,01 * signifikan pada p<0,05

Terdapat hubungan yang nyata dan positif antara interaksi suami-istri dengan kebahagiaan perkawinan (r=0,270; p<0,05) dan kepuasan perkawinan (r=0,258; p<0,05). Hasil uji korelasi menunjukkan bahwa semakin tinggi interaksi di antara suami-istri maka semakin tinggi kebahagiaan dan kepuasan perkawinan. Interaksi suami-istri ditinjau dari dua hal yaitu komunikasi dan ikatan bonding di antara suami-istri. Adanya interaksi yang terjadi di antara suami-istri akan memberikan kebahagiaan dan kepuasan kepada suami dan istri. Montgomery (1981) menjelaskan adanya hubungan antara kualitas interaksi komunikasi dengan kualitas perkawinan yang berarti pasangan yang memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi maka akan semakin baik hubungan atau kedekatan di antara suami-istri yang berdampak terhadap kebahagiaan yang dirasakan keduanya (Kammeyer 1987). Meskipun suami dan istri terpisah oleh jarak dan waktu, mereka tetap dapat berinteraksi melalui media komunikasi telepon seluler. Media tersebut mempermudah keduanya untuk tetap

mempertahankan kedekatan dan rasa kepercayaan di antara suami dan istri (Tabel 26). Media merupakan komponen penting dalam proses komunikasi dengan adanya media dapat memecahkan segala kendala baik kendala waktu, ruang, dan jarak (Guhardja et al. 1989).

Tabel 26 menunjukkan terdapat hubungan yang nyata dan positif (r=0,301; p<0,05) antara interaksi suami-istri dengan kualitas perkawinan yang dirasakan contoh. Hal ini berarti, semakin tinggi interaksi suami-istri maka semakin tinggi kualitas perkawinan yang dirasakan contoh. Komunikasi yang baik adalah kunci dalam interaksi keluarga dan sangat diperlukan dalam hubungan perkawinan (Powers dan Hutchinson 1979 dalam Rice 1983). Komunikasi yang baik antara suami dan istri merupakan sebuah elemen penting dalam menentukan kualitas sebuah pernikahan (Lewis and Spanier 1979 dalam Laswell dan Laswell 1987). Interaksi (komunikasi dan ikatan bonding) di antara suami dan istri yang baik dan dilakukan secara rutin akan berdampak positif terhadap kualitas perkawinan yang dirasakan contoh. Pasangan yang memiliki kecakapan berkomunikasi yang baik dapat memperbaiki hubungan mereka. Seiring hubungan yang membaik, pasangan tersebut akan lebih termotivasi untuk memperbaiki komunikasi mereka (Montgomery 1981 Kammeyer 1987).