• Tidak ada hasil yang ditemukan

Definisi Keluarga

Berdasarkan undang-undang Nomor 10 Tahun 1992, keluarga merupakan suatu kelompok yang terdiri dari orang-orang yang telah disatukan oleh ikatan perkawinan, darah dan adopsi serta berkomunikasi satu sama lain yang menimbulkan peranan-peranan sosial bagi suami istri, ayah dan ibu, anak laki-laki dan perempuan saudara laki-laki dan perempuan serta merupakan pemelihara kebudayaan bersama.

Menurut Kertamuda (2011) bahwa keluarga merupakan bagian dari masyarakat kecil yang penting dalam membentuk kepribadian serta karakter bagi para anggota keluarganya. Keluarga juga merupakan tempat seseorang untuk bergantung, baik secara ekonomi maupun dalam kehidupan sosial lainnya, serta berperan secara dominan dalam menentukan dan mengambil keputusan. Megawangi (1999) mengartikan keluarga sebagai sebuah sistem sosial yang memiliki tugas atau fungsi agar sistem tersebut dapat berjalan. Adapun tugas tersebut berkaitan dengan pencapaian tujuan, integritas dan solidaritas serta pemeliharaan keluarga. Keluarga mempunyai fungsi ekonomi, sosialisasi atau pendidikan, peran seksual dan reproduksi.

Keluarga adalah suatu hubungan antara dua orang atau lebih yang telah dipersatukan oleh kelahiran, adopsi, perkawinan, dan hidup bersama dalam sebuah rumah tangga (Saxton 1990). Menurut Knox (1985), keluarga merupakan karakteristik dari group sosial di suatu tempat tinggal umum (pasangan hidup bersama), kerja sama ekonomi (pasangan berbagi uang dan tugas-tugas), dan reproduksi seksual (pasangan memiliki atau mengadopsi anak). Burgess Locke (1960) menyatakan bahwa keluarga memiliki empat karaktyeristik keluarga yaitu (1) Keluarga disatukan oleh ikatan perkawinan, darah atau adopsi, (2) Seluruh anggota keluarga hidup bersama di bawah satu atap, (3) Keluarga saling berinteraksi dan berkomunikasi yang menghasilkan peran-peran sosial, dan (4) Keluarga merupakan pemeliharaan kebudayaan bersama yang diperoleh dari kebudayaan umum.

Pendekatan Teori Struktural-Fungsional

Pendekatan struktural fungsional merupakan salah satu pendekatan teori sosiologi yang telah diterapkan dalam institusi keluaraga. Selain pendekatan ini, adapula pendekatan teori lain seperti teori interaksi simbolik, teori pertukaran sosial, teori ekologi keluarga, teori sitem, teori konflik sosial, dan teori perkembangan keluarga (Klein and White 1996). Megawangi (1999) menyatakan bahwa pendekatan struktural fungsional merupakan pendekatan teori sosiologi yang diterapkan dalam suatu institusi keluarga, Pendekatan ini telah mengakui banyaknya keragaman di dalam suatu kehidupan sosial. Keragaman ini adalah sumber yang utama yang merupakan bagian dari struktur masyarakat yang pada akhirnya muncullah keragaman dalam fungsi sesuai dengan posisi seseorang dalam struktur sebuah sistem. Struktur dan fungsi ini dipengaruhi oleh budaya, norma, serta nilai-nilai yang melandasi sistem masyarakat itu.

Menurut Megawangi (1999), pendekatan teori ini mengakui adanya keragaman dalam suatu kehidupan sosial lalu diakomodasi kedalam fungsi yang sesuai dengan posisi seseorang dalam struktur sebuah sistem. Pada pendekatan struktural fungsional lebih menekankan pada kesimbangan sistem sosial dalam masyarakat serta keseimbangan sistem yang stabil dalam suatu keluarga. Pada konteks keluarga, penerapan teori struktural fungsional dalam konteks keluarga dapat terlihat dari struktur dan aturan yang telah diterapkan. Struktur di dalam sebuah keluarga dapat menjadikan institusi keluarga sebagai suatu sistem kesatuan. Maka dari itu, terdapat beberapa elemen penting dan utama dalam struktur internal keluarga yang saling berhubungan, diantaranya yaitu:

1. Status sosial: Keluarga inti memiliki tiga struktur utama yakni suami/bapak (pencari nafkah), istri/ibu (ibu rumahtangga), dan anak-anak (balita, anak sekolah, remaja, dll).

2. Fungsi sosial: Konsep dari peran sosial yaitu mendeskripsikan peran dari masing-masing individu atau kelompok berdasarkan status social.

3. Fungsi instrumental: Secara primer terdapat hubungan yang sangat berkaitan antara keluarga dengan situasi eksternal serta penetapan hubungan keluarga.

4. Fungsi ekspresif: Berkaitan dengan solidaritas keluarga, hubungan internal antar anggota keluarga, serta pemenuhan kebutuhan emosional- afeksional anggota keluarga.

5. Norma sosial: Sebuah peraturan yang menjelaskan bagaimana seharusnya seseorang bertingkah laku dengan sebaiknya dalam kehidupan sosial.

Selain itu, terdapat pula prasyarat dalam teori struktural fungsional yang sangat diperlukan untuk mencapai keseimbangan sistem baik dalam tingkat masyarakat maupun ditingkat keluarga. Menurut Levy (Megawangi, 1999), persyaratan struktural yang harus dipatuhi dan dijalankan oleh keluarga agar dapat berfungsi sebagaimana mestinya, yakni meliputi :

1. Diferensiasi peran, yakni pembagian atau pengalokasian tugas serta aktivitas yang harus dilakukan dalam sebuah keluarga. Terminologi diferensiasi peran dapat mengacu pada umur, generasi, gender, serta posisi status politik dan ekonomi dari masing-masing aktor.

2. Alokasi solidaritas yang menyangkut distribusi relasi antar anggota keluarga berdasarkan cinta, kekuatan, dan intensitas hubungan. Cinta atau kepuasan mendeskripsikan hubungan antar anggota. Misalnya keterikatan emosional antara seorang ibu dan anaknya. Kekuatan mengacu pada keutamaan sebuah relasi relatif terhadap relasi lainnya. Misalnya hubungan antara bapak dan anak lelaki mungkin lebih utama daripada hubungan suami dan istri pada suatu budaya tertentu. Intensitas adalah kedalaman relasi antar anggota menurut kadar cinta, kepedulian, ataupun ketakutan.

3. Alokasi ekonomi yang menyangkut distribusi barang dan jasa antar anggota keluarga untuk mencapai tujuan keluarga. Diferensiasi tugas juga terdapat dalam hal ini terutama hal produksi, distribusi, serta konsumsi dari barang dan jasa dalam keluarga.

4. Alokasi politik yang menyangkut distribusi kekuasaan dalam keluarga. Agar keluarga dapat berfungsi dengan baik, maka diperlukan pendistribusian kekuasaan pada tingkat tertentu seperti distribusi kekuasaan dalam keluarga dan siapa yang bertanggung jawab atas setiap tindakan anggota keluarga.

5. Alokasi integrasi dan ekspresi, yaitu meliputi teknik atau cara sosialisasi internalisasi serta pelestarian nilai-nilai maupun perilaku pada setiap anggota keluarga dalam memenuhi tuntutan norma-norma yang berlaku.  

Peran dan Fungsi Keluarga

Menurut Kammeyer (1987), peran merupakan persepsi tingkah laku interpersonal yang dikaitkan dengan pengakuan masyarakat akan diri seseorang. Peran juga diartikan sebagai aktivitas atau kegiatan yang dilaksanakan oleh seseorang yang sesuai dengan kedudukan atau jabatannya.

Setiap keluarga memiliki tujuan yang ingin dicapai agar dapat terwujudnya keluarga yang sejahtera baik sejahtera lahir ( fisik dan ekonomi) dan batin (sosial, psikologi, spritual, dan mental). Menurut Peraturan Pemerintah (PP) nomor 21 Tahun 1994 (BKKBN 1996) mengemukakan ada delapan fungsi yang harus dijalankan oleh keluarga yang meliputi pemenuhan kebutuhan fisik dan nonfisik yang terdiri atas fungsi:

a) Fungsi Keagamaan, keluarga diharuskan memberikan dorongan kepada seluruh anggota keluarga agar dalam kehidupan keluarga bersemai nilai- nilai agama dan nilai-nilai luhur budaya bangsa satu sama lain yang dapat membentuk diri menjadi insan-insan agamais yang bertakwa dan beriman Kepada Tuhan Yang Maha Esa.

b) Fungsi Sosial Budaya yaitu dengan memberikan kesempatan keluarga dan seluruh anggotanya agar dapat mengembangkan kebudayaan dan kekayaan bangsa yang beraneka dalam satu kesatuan.

c) Fungsi Cinta Kasih, dimana keluarga dapat memberikan landasan yang kokoh terhada hubungan suami dengan istri, orang tua dengan anaknya, anak dengan anaknya dan hubungan kekerabatan antar generasi sehingga menjadikan keluarga sebagai wadah yang paling utama bersemainya kehidupan yang dipenuhi rasa cinta kasih lahir serta batin. d) Fungsi Melindungi, bertujuan untuk menumbuhkan rasa kehangatan dan

rasa aman.

e) Fungsi Reproduksi adalah suatu mekanisme yang direncanakan untuk melanjutkan keturunan yang dapat menunjang terciptanya kesejahteraan umat manusia di dunia yang penuh iman dan takwa.

f) Fungsi Sosialisasi dan Pendidikan, memiliki peran dalam keluarga untuk mendidik keturunan agar dapat menyesuaikan dengan alam kehidupan dimasa depan.

g) Fungsi Ekonomi, merupakan unsur pendukung ketahanan dan kemandirian keluarga.

h) Fungsi Pembinaan Lingkungan, memberikan kepada setiap keluarga kemampuan menempatkan diri secara serasi, selaras, dan seimbang sesuai daya dukung alam dan lingkungan yang berubah secara dinamis. Selain itu, menurut Kertamuda (2010) terdapat lima fungsi keluarga yaitu:

1. Mengatur aktivitas seksual.

2. Tempat bersoasialisasi (bermasyarakat) bagi anak. Keluarga merupakan sarana dan tempat pertama anak belajar bersosialisasi.

3. Jaminan dan keamanan secara ekonomi. Keluarga banyak berperan dalam pemenuhan kebutuhan baik kebutuhan keamanan serta kebutuhan finansial seperti makanan, pakaian, perlindungan serta sumber-sumber materi untuk kelangsungan hidup.

4. Pemberi dukungan emosional. Keluarga merupakan kelompok utama yang memiliki peranan penting karena dapat memberikan cinta, dukungan, dan kebutuhan emosional sehingga membuat anggota keluarga merasa terpenuhi kebutuhannya dan pada akhirnya dapat membuat mereka sehat, bahagia, serta aman.

5. Tempat status sosial. Kelas sosial dapat dikategorikan dengan tingkat dalam kemasyarakatan yang memiliki keterkaitan dengan pendidikan, kekayaan, prestise dan sumber nilai-nilai.

Fungsi keluarga mempengaruhi terwujudnya keluarga yang sehat, adapun tujuh fungsi instrumen keluarga menurut pandangan Soemarno dan Soedarsono (1997), yaitu

1. Fungsi ekonomi sangat penting demi tercapainya kelangsungan dan kesinambungan hidup suatu keluarga.

2. Fungsi sosialisasi dan pendidikan memberikan peran terhadap suatu keluarga untuk mendidik keturunan agar dapat melakukan adaptasi dan penyesuaian dengan kehidupannya dimasa depan.

3. Fungsi keagamaan mendorong dan mengembangkan keluarga dan anggotanya dalam kehidupan keluarga sebagai wahana persemaian nilai-nilai agama dan nilai-nilai luhur budaya bangsa agar menjadi insan-insan yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

4. Fungsi Sosial Budaya dapat memberikan kesempatan kepada keluarga dan anggotanya untuk mengembangkan budaya bangsa yang beraneka ragam dalam satu kesatuan.

5. Fungsi cinta kasih dalam suatu keluarga akan memberikan landasan kokoh terhadap hubungan suami dengan istri, orangtua dan anaknya, anak dan anak serta hubungan kekerabatan antar generasi sehingga keluarga menjadi wadah utama bersemainya kehidupan penuh cinta kasih lahir dan batin.

6. Fungsi melindungi untuk menumbuhkan rasa aman serta kehangatan. 7. Fungsi reproduksi yaitu sebuah mekanisme untuk melanjutkan

keturunan yang telah direncanakan yang dapat menunjang terciptanya kesejahteraan manusia di dunia yang penuh iman dan takwa.

8. Fungsi pembinaan lingkungan yaitu memberikan keluarga kemampuan agar dapat menempatkan diri secara selaras, serasi, dan seimbang sesuai dengan daya dukung alam dan lingkungan yang berubah secara dinamis.