• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

83,3 15,0 1,7 1,18 5 Saya dan istri membicarakan masalah

keuangan rumah tangga

Tabel 17 (lanjutan)

No Pertanyaan

1 2 3 Rata-rata

Skor

% % % %

6 Saya dan istri membicarakan mengenai keaadaan istri di tempat kerja

3,3 10,0 86,7 2,83 7 Saya dan istri membicarakan masa

depan keluarga

16,7 26,7 56,7 2,40 8 Saya minta ijin dan melaporkan pada istri

tentang penggunaan keuangan

23,3 25,0 51,7 2,28 9 Saya minta ijin pada istri saya mengenai

rencana pendidikan anak

23,3 20,0 56,7 2,33 Bonding

1 Saya mendoakan keselamatan dan kesehatan istri selama jadi TKW

1,7 0,0 98,3 2,97 2 Saya menjaga kesetiaan terhadap istri

saya

1,7 6,7 91,7 2,90 3 Saya merasa terikat perasaan dengan

istri saya

6,7 28,3 65,0 2,58

4 Saya bermimpi istri saya 16,7 60,0 23,3 2,07

5 Saya merasa kesepian saat ditinggal istri terlalu lama

3,3 18,3 78,3 2,75 6 Saya selalu merindukan istri 1,7 18,3 80,0 2,78 7 Saya selalu mengingat hari-hari special

saat bersama istri

8,3 38,3 53,3 2,45 8 Setiap malam saya selalu teringat istri 10,0 43,3 46,7 2,37 Keterangan : 1. Tidak pernah 2. Kadang-kadang 3. Sering

Sebesar 56,7 persen suami dan istri memiliki tingkat komunikasi yang sedang, 38,3 persen berada pada kategori tinggi, dan sisanya (5%) berada pada kategori rendah. Rendahnya komunikasi yang terjadi diantara suami istri disebabkan karena suami telah kehilangan kontak atau komunikasi dengan istri. Hal ini membuat suami khawatir namun segala daya upaya yang digunakan untuk mencari informasi mengenai istri hanya sia-sia dikarenakan pengaduan suami tidak ditanggapi oleh PJTKI. Adapula suami yang tidak peduli tidak mendapat kabar dan berkomunikasi dengan istri hal ini dikarenakan suami sudah mulai tidak peduli dengan keadaan istri ditempat kerjanya.

Sebanyak 86,7 persen suami dan istri memiliki kategori bonding yang tinggi, 10 persen berada pada kategori sedang, dan sisanya (3,3%) berada pada kategori rendah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara keseluruhan interaksi suami-istri (komunikasi dan bonding) memiliki kategori yang tinggi (73,3%), 23,3 persen berada pada kategori sedang, dan sisanya (3,3%) berada pada kategori rendah. Tabel 18 menggambarkan bahwa suami dan istri selalu berkomunikasi dengan baik. Seringnya berkomunikasi di antara suami-istri yang membuat ikatan bonding di antara suami-istri semakin dekat dan tetap terjaga

serta bertahan dengan baik. Dengan demikian, interaksi di antara suami-istri pun akan selalu terjaga dengan baik dan tidak pernah terputus.

Tabel 18 Sebaran suami berdasarkan kategori interaksi suami-istri Tingkat

Interaksi Suami Istri

Interaksi Suami-Istri

Komunikasi Bonding Interaksi Suami-Istri

% % % Rendah (≤33,33) 5,00 3,30 3,30 Sedang (33,34-66,67) 56,70 10,00 23,30 Tinggi (>66,68) 38,30 86,70 73,30 Min-max 1-3 1-3 1-3 Rataan ± SD 2,33±0,57 2,83±0,46 2,70±0,53 Kualitas Perkawinan

Kebahagiaan Perkawinan. Kebahagiaan perkawinan dalam penelitian ini bersifat subjektif dan individual maka dari itu kebahagiaan perkawinan yang diukur dalam penelitian ini meliputi aspek perasaan bahagia terhadap istri dan perasaan bahagia dan bersyukur dengan perkawinan di antara suami dengan istri. Tabel 19 menunjukkan bahwa lebih dari separuh suami (55%) merasa tidak bahagia dengan istri. Hasil wawancara menyatakan bahwa suami merasa bahagia apabila istri berada di samping mereka dan tidak bekerja hingga ke luar negeri. Suami lebih menyukai istri mereka tidak bekerja dan diam saja di rumah mengurusi suami, anak, dan rumahtangga. Keberangkatan istri ke luar negeri untuk bekerja membuat suami merasakan tidak adanya pengertian dari istri akan rasa kebutuhan suami baik secara fisik maupun batin. Hal ini sesuai dengan teori Elder et al. (1991) bahwa kebahagiaan diukur dari besarnya rasa cinta, pengertian, serta hubungan seksual merupakan bagian dari kualitas perkawinan.

Sebesar 40 persen suami merasa cukup bahagia dengan istri. Bagi suami, terkadang merasa bahagia apabila istri dapat bekerja dan bisa membantu meringankan beban suami dari segi keuangan namun terkadang suami merasa tidak bahagia karena istri tidak ada di samping suami dan juga suami merasa kerepotan mengurus rumahtangga dan anak sendirian meskipun ada bantuan dari keluarga besar. Sisanya 5 persen suami merasa bahagia dengan istri. Bagi suami, hanya mengandalkan penghasilan dari suami saja tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan rumahtangga. Suami menyatakan dengan istri bekerja menjadi TKW dapat menambah keuangan keluarga karena istri bisa mengirimkan uang untuk kebutuhan anak dan rumahtangga sehingga kebutuhan rumahtangga dan anak tercukupi. Hal ini sesuai dengan pendapat Puspitawati (2009) bahwa perempuan mampu menjadi penyelamat keluarga di masa krisis

ekonomi dengan keuletan perempuan dalam berkreatifitas mencari tambahan uang demi keluarganya (family generating income).

Separuh suami (50%) menyatakan merasa cukup bahagia dan bersyukur dengan perkawinannya. Suami merasa cukup bahagia dan bersyukur dengan perkawinannya dengan istri karena mempunya istri yang dapat membantu suami dari segi keuangan. Sebesar 41,7 persen suami sering merasa bahagia dan bersyukur dengan perkawinannya bersama istri karena merasa bangga terhadap kerja keras istri untuk membantu keuangan keluarga meskipun istri harus bekerja hingga ke luar negeri. Memiliki istri yang berjuang keras untuk membantu mencukupi kebutuhan keluarga membuat suami sangat bahagia dan bersyukur dengan perkawinannya dengan istri. Sisanya sebesar 8,3% persen suami merasa tidak bahagia dan bersyukur dengan perkawinannya dengan istri. Suami merasakan kepergian istri menjadi TKW membuat rumahtangga hancur. Hal ini disebabkan istri pada awal mulanya mengirim kabar dan uang secara rutin namun semakin lama istri bekerja suami tidak diberi kabar dan tidak dikirimkan uang lagi secara rutin. Suami menganggap kemungkinan istri memiliki laki-laki lain ditempat kerja yang pada akhirnya timbulah rasa kecewa serta perasaan tidak bahagia dan tidak bersyukur dengan perkawinannya dengan istri (Tabel 19).

Tabel 19 Sebaran suami berdasarkan kualitas perkawinan suami-istri

No Kualitas Perkawinan

1 2 3 Rata-rata

Skor % % % %

Kebahagiaan 1 Saya merasa bahagia dengan istri 55,0 40,0 5,0 1,50

2 Saya merasa bahagia dan bersyukur dengan perkawinan saya

8,3 50,0 41,7 2,33 Kepuasan

1 Saya merasa puas dengan istri saya 61,7 35,0 3,3 1,42 2 Saya merasa puas dan bersyukur

dengan perkawinan saya

11,7 48,3 40,0 2,28

Keterangan : 1. Tidak bahagia/tidak puas 2. Cukup bahagia/puas 3. Bahagia/puas

Kepuasaan Perkawinan. Kepuasan yang diukur dalam penelitian ini adalah perasaan puas suami terhadap istri dengan perasaan puas dan bersyukur terhadap perkawinan antara istri dan suami. Berdasarkan data yang diperoleh dari penelitian, pada Tabel 19 menunjukkan bahwa lebih dari separuh suami (61,7%) merasa tidak puas dengan istri. Rasa kesepian dan kurang terpenuhinya kebutuhan batin dan fisik suami menyebabkan suami tidak puas dengan istri. Hal ini sesuai dengan teori Stoner dan Freeman (1994) menyatakan bahwa

kepuasan berfokus pada kebutuhan bathiniah yang memotivasi perilaku. Untuk memuaskan kebutuhan, orang akan bertindak dengan cara-cara tertentu seperti seorang laki-laki membutuhkan seks maka kebutuhan ini akan mendorong laki- laki untuk menikah dengan seorang perempuan. Dari hal tersebut maka kebutuhan seks dapat terpenuhi (Tati 2004).

Sebesar 35 persen suami merasa cukup puas dengan istri. Hal ini dikarenakan suami dapat berkomunikasi dengan baik dan terbuka dengan istri. Adanya komunikasi menimbulkan kepercayaan suami terhadap istri sehingga tidak ada rasa curiga di antara suami dan istri. Menurut Duvall dan Miller (1985) mengemukakan bahwa karakteristik kepuasan perkawinan meliputi (1) Ekspresif afeksi yang terbuka satu sama lain, (2) Komunikasi yang bebas dan terbuka antara pasangan, dan (3) Terjalinnya rasa saling percaya. Sisanya (3,3%) suami merasa puas dengan istri karena suami menghargai tindakan istri yang rela berkorban berpisah dengan suami untuk membantu mencari tambahan uang dalam mencukupi kebutuhan rumahtangga dan anak.

Hampir separuh suami (48,3%) merasa cukup puas dan bersyukur dengan perkawinannya. Saat ini suami memiliki peran ganda yaitu menjadi ayah dan ibu. Bagi suami ini adalah hal yang tidak mudah namun ini adalah konsekuensi yang harus diterima karena keberangkatan istri menjadi TKW atas persetujuan suami dan diputuskan secara musyawarah. Menurut Duvall dan Miller (1985) mengemukakan bahwa karakteristik kepuasan perkawinan yaitu tidak ada dominasi antara satu terhadap yang lain, keputusan dibuat bersama atau bermusyawarah. Sebesar 40 persen suami mengatakan merasa puas dan bersyukur dengan perkawinannya. Apapun keadaaan istri sekarang suami merasa bahagia dan bersyukur perkawinnya dengan istri. Suami tidak mempermasalahkan pekerjaan istri sebagi TKW karena istri bekerja demi kebaikan yaitu untuk meningkatkan pendapatan keluarga.

Tabel 19 menunjukkan bahwa sebesar 11,7 persen suami tidak puas dan bersyukur dengan perkawinannya dengan istri. Kepergian istri menjadi TKW membuat suami menjadi resah hal ini dikarenakan tidak dapat mengontrol istri secara dekat dan komunikasi antara suami dan istri hanya melalui media komunikasi telepon seluler. Perpisahan antara suami dan istri dalam waktu yang cukup lama dapat menimbulkan kesepian dan berdampak terhadap ketidakpuasan suami terhadap istri. Apabila hal itu terjadi dalam waktu yang cukup lama, suami akan merasa pernikahannya dengan istri sia-sia karena istri

tidak dapat melayani suami dan tidak dapat menjadi ibu rumahtangga yang baik. Pada akhirnya terjadi perselingkuhan bahkan suami akan menikah lagi dengan perempuan lain. Cho et al (1996) menyatakan bahwa kepuasan perkawinan dipengaruhi oleh terpenuhinya harapan peran dari pasangan. Kepuasan perkawinan pada wanita bekerja tergantung pada sikap peran seks istri dan suami, umur anak, alasan wanita untuk bekerja, status pekerjaan suami, dan ketersediaan pembantu rumahtangga.

Tabel 20 Sebaran suami berdasarkan kategori kualitas perkawinan Tingkat Kualitas

Perkawinan

Kualitas Perkawinan

Kebahagiaan Kepuasan Kualitas perkawinan % % % Rendah (≤33,33) 25,00 33,30 23,30 Sedang (33,34-66,67) 63,30 55,00 66,70 Tinggi (>66,68) 11,70 11,70 10,00 Min-max 1-3 1-3 1-3 Rataan ± SD 1,87±0,60 1,78±0,64 1,87±0,57

Kebahagiaan dan kepuasan dalam perkawinan yang dirasakan suami merupakan aspek yang diukur dari kulitas perkawinan. Tabel 20 menunjukkan bahwa lebih dari separuh suami (63,3%) merasakan kebahagiaan perkawinan yang tergolong sedang, sebesar 25 persen berada pada kategori rendah, dan sisanya (11,7%) berada pada kategori tinggi. Kepuasan perkawinan yang dirasakan suami berada pada kategori sedang (55%). Sebanyak 33,3 persen kepuasan perkawinan yang dirasakan suami berada pada kategori rendah dan sisanya (11,7%) berada pada kategori tinggi. Berdasarkan hasil penelitian, sebesar 66,7 persen keluarga contoh memiliki kualitas perkawinan yang tergolong sedang, 23,3 persen tergolong rendah, dan 10 persen tergolong tinggi. Secara garis besar, dapat dikatakan bahwa kebahagiaan perkawinan yang dirasakan suami cukup baik namun terkadang suami tidak merasakan kebahagiaan dalam perkawinannya dengan istri. Selain itu, kepuasan perkawinan yang dirasakan oleh suami cukup baik namun terkadang suami tidak merasakan kepuasan terhadap perkawinannya dengan istri. Hal ini menggambarkan, kualitas perkawinan yang dirasakan suami yaitu kadang- kadang merasa bahwa kualitas perkawinan contoh dalam keadaan baik-baik saja namun terkadang merasa kualitas perkawinan contoh berada pada kondisi yang tidak baik.