BAB 5 PEMBAHASAN
5.2. Hubungan Faktor Ibu dengan Kelahiran Mati
a. Paritas
Dari tabel 4.3 dijumpai bahwa nilai OR = 2,08 berarti risiko untuk mengalami kelahiran mati 2,08 kali lebih besar jika paritas pertama atau paritas > 3 dibanding paritas 2-3.
Hal ini dapat dijelaskan karena paritas pertama merupakan pertama sekali ibu menanggung beban mental dan psikis yang cukup berat sehingga dapat mengakibatkan gangguan perkembangan dan pertumbuhan janin dalam kandungan ibu.
Selain hal tersebut faktor kebudayaan di daerah Tapanuli memiliki anak banyak maka akan banyak rezeki sehingga masyarakat tidak berhenti untuk hamil sebelum memiliki anak banyak. Selain hal itu adanya kebudayaan bahwa derajat anak laki-laki lebih tinggi sehingga sebelum mendapatkan anak laki-laki maka suatu keluarga
akan tetap berusaha mendapatkan anak laki-laki dan akhirnya ibu harus terus hamil.
Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Sulistiyowati di Bekasi tahun 2001 menemukan bahwa risiko kelahiran mati ibu paritas 1 atau >4 dengan nilai OR = 4,5 dan secara statistik bermakna.
Kehamilan dan persalinan anak pertama, risiko meningkat terutama disebabkan karena ibu belum pernah menghadapi kehamilan dan persalinan, di samping itu jalan lahir baru pertama kali akan di coba dilalui oleh janin (Soejoenoes, 2000).
Kelahiran anak pertama dan jumlah anak lebih dari empat orang perlu di waspadai karena kemungkinan dapat menyebabkan persalinan lama, oleh karena makin banyak anak, maka rahim ibu makin lemah (Depkes RI, 1998).
Upaya yang dilakukan di Kabupaten Tapanuli Utara dengan meningkatkan penyuluhan tentang KB secara intensif bekerja sama dengan Badan Koordanasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) wilayah Tapanuli Utara. Dalam kegiatan penyuluhan ke masyarakat dijelaskan manfaat KB dan alat metode ber KB yang baik dan aman.
b. Anemia
Dari tabel 4.3 dijumpai bahwa nilai OR = 2,21 berarti risiko untuk mengalami kelahiran mati 2,21 kali lebih besar jika menderita anemia dibanding tidak menderita anemia.
Hal ini dapat dijelaskan karena ibu hamil tidak dapat memenuhi cakupan kebutuhan zat besi melalui makanan yang dikonsumsi. Berdasarkan hasil wawancara peneliti konsumsi makanan ibu hamil yang mengandung zat besi hanya berasal dari sayur-sayuran berwarna hijau tanpa ada tambahan suplemen zat besi dikarenakan ibu tidak datang ke pelayanan kesehatan untuk mendapatkan suplemen Fe.
Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Rosmeri (2000) menunjukkan bahwa ibu yang menderita anemia sebelum hamil mempunyai pengaruh yang bermakna terhadap kelahiran mati. Ibu dengan anemia sebelum hamil mempunyai resiko 4,27 kali untuk mengalami kelahiran mati dibandingkan dengan ibu yang tidak menderita anemia (normal).
Anemia atau kurang darah adalah rendahnya kadar hemoglobin (Hb) dalam sel-sel darah merah, yaitu kurang dari 11 gr%. Kegiatan pencegahan dan penanggulangan masalah anemia secara luas telah dilaksanakan bagi semua ibu hamil berupa pemberian tablet Fe sebanyak 90 tablet selama masa kehamilan dan bagi ibu hamil yang
menderita anemia (Hb < 11 gr%) diberikan pengobatan khusus di puskesmas atau rumah sakit (Depkes RI, 2002).
Anemia dapat didefinisikan sebagai kondisi dengan kadar Hb berada di bawah normal. Di Indonesia anemia umumnya disebabkan oleh kekurangan zat besi, sehingga lebih dikenal dengan istilah anemia gizi besi. Anemia defisiensi besi merupakan salah satu gangguan yang paling sering terjadi selama kehamilan. Ibu hamil umumnya mengalami deplesi besi atau lainnya sehingga hanya memberi sedikit besi kepada janin yang dibutuhkan untuk metabolisme besi yang normal. Selanjutnya mereka akan menjadi anemia pada saat kadar hemoglobin ibu turun sampai di bawah 11 gr/dl selama trimester III.
Kekurangan zat besi dapat menimbulkan gangguan atau hambatan pada pertumbuhan janin baik sel tubuh maupun sel otak. Anemia gizi dapat mengakibatkan kematian janin didalam kandungan, abortus, cacat bawaan, BBLR, anemia pada bayi yang dilahirkan, hal ini menyebabkan morbiditas dan mortalitas ibu dan kematian perinatal secara bermakna lebih tinggi. Pada ibu hamil yang menderita anemia berat dapat meningkatkan resiko morbiditas maupun mortalitas ibu dan bayi, kemungkinan melahirkan bayi BBLR dan prematur juga lebih besar.
Tanda-tanda ibu menderita anemia seperti perasaan lesu, sering mengantuk, selaput bagian dalam kelopak mata, bibir dan kuku pucat sesrta penglihatan berkunang-kunang (Depkes RI, 1996).
Kagiatan yang dilaksanakan di Kabupaten Tapanuli Utara dalam mencegah terjadinya anemia ibu hamil, setiap ibu hamil diberikan tablet Fe sebanyak 90 tablet selama masa kehamilan. Kegiatan ini dilakukan untuk mencegah terjadinya perdarahan yang dapat mengkibatkan kematian ibu dan janin.
c. Riwayat Penyakit Ibu
Dari tabel 4.3 dijumpai nilai OR = 3,22 berarti risiko untuk mengalami kelahiran mati 3,22 kali lebih besar jika ibu memiliki riwayat penyakit dibanding tidak memiliki riwayat penyakit.
Hal ini dapat dijelaskan karena pada saat penelitian dilakukan responden yang terpilih banyak menderita penyakit diabetes mellitus dan hipertensi yang dapat mengganggu kehamilan dan perkembangan janin.
Penelitian ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Sulistiyowati tahun 2001 di Bekasi menemukan bahwa ada hubungan yang signifikan riwayat penyakit ibu dengan kelahiran mati dengan nilai p = 0,003 dan nilai OR = 2,56 berarti bahwa ibu yang memiliki
riwayat penyakit 2,56 kali lebih berisiko untuk mengalami kelahiran mati dibanding ibu yang tidak memiliki riwayat penyakit.
Kesehatan dan pertumbuhan janin dipengaruhi oleh kesehatan ibu. Bila ibu mempunyai penyakit yang berlangsung lama atau merugikan kehamilannya, maka kesehatan dan kehidupan janin pun terancam (Depkes RI, 2001).
Wanita hamil dengan penyakit umum seperti diabetes mellitus, hipertensi, dan anemia merupakan faktor yang memperbesar kelahiran mati (Mochtar, 1995).
Upaya yang dilakukan di Kabupaten Tapanuli Utara mengingat bahwa riwayat penyakit ibu dapat membahayakan janin dan ibu maka dilakukan penyuluhan dalam mengatasi dan penanganan penyakit yang telah ada di derita ibu hamil sehingga tidak membahayakan bagi janin dan ibu hamil sendiri. Selain pendekatan penyuluhan petugas juga melakukan pendekatan interpersonal terhadap ibu hamil sehingga ibu mendapatkan dukungan secara psikologis akan penyakit yang diderita dan kehamilan yang sedang terjadi.
d. Riwayat Persalinan
Dari tabel 4.3 dijumpai nilai OR = 2,49 berarti risiko untuk mengalami kelahiran mati 2,49 kali lebih besar jika memiliki riwayat persalinan dibanding tidak memiliki riwayat persalinan.
Hal ini dapat dijelaskan karena responden pernah mengalami keguguran dan juga menderita penyakit yang dapat mengganggu perkembangan janin. Selain itu, ibu hamil juga melakukan pekerjaan yang berat pada masa-masa kehamilan pertama yang dapat mengakibatkan kematian janin dalam kandungan.
Penelitian ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Sulistiyowati tahun 2001 di Kota Bekasi, menemukan odds rasio ibu yang memiliki riwayat persalinan 2,4 kali lebih berisiko untuk mengalami kelahiran mati dibanding ibu yang tidak memiliki riwayat persalinan.
Persalinan yang pernah dialami oleh ibu dengan perdarahan, abortus, partus prematuritas, kematian janin dalam kandungan, preeklamsia/eklamsia, kehamilan muda, kelainan letak pada hamil tua, hamil dengan tumor (myoma atau kista ovari) serta semua persalinan tidak normal yang pernah dialami ibu merupakan risiko tinggi untuk persalinan berikutnya. Keadaan-keadaan tersebut perlu diwaspadai karena kemungkinan ibu akan mendapatkan kesulitan dalam kehamilan dan saat akan melahirkan (Pincus, 1998).
Komplikasi kehamilan sebenarnya dapat dicegah walau 15 – 20 persen kehamilan normal bisa berubah menjadi komplikasi pada saat persalinan. Salah satu cara yang efektif untuk memantau adanya komplikasi adalah deteksi dini kehamilan risiko tinggi, dengan cara
melakukan pemeriksaan yang teratur dan berkualitas. Di puskesmas deteksi dini risiko tinggi kehamilan ini sudah menjadi program, walau masih dengan cara yang sederhana. Yaitu masih dalam tahap seleksi awal, secara biomedis, namun manfaatnya bisa dirasakan. Karena pada dasarnya semua kehamilan adalah berisiko maka deteksi dini hendaknya dilakukan pada semua kehamilan.
Upaya yang dilakukan di Kabupaten Tapanuli Utara berupa peningkatan kemampuan petugas dalam penanganan ibu hamil yang pernah mengalami perdarahan, keguguran, kelainan janin dalam kandungan dengan mengirimkan petugas mengikuti pelatihan penanganan kehamilan dan persalinan secara berkala di tingkat kabupaten maupun tingkat propinsi.
5.3. Hubungan Faktor Pelayanan Kesehatan Dengan Kelahiran Mati