• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 STUDI KEPUSTAKAAN

2.3. Faktor Determinan Kelahiran Mati

2.4.4. Pengawasan Ibu dan Bayi

Pengawasan dan pengenalan tanda bahaya pada kehamilan, persalinan dan nifas adalah tanda/gejala yang menunjukkan ibu atau bayi yang dikandungnya dalam keadaan bahaya. Bila ada tanda bahaya, ibu perlu mendapatkan pertolongan segera di rumah sakit (Depkes RI,2001).

Kebanyakan kehamilan berakhir dengan persalinan dan masa nifas normal. Namun, 15 sampai 20 diantara 100.000 ibu hamil mengalami gangguan pada kehamilan, persalinan atau nifas (Depkes RI, 2001).

Gangguan tersebut dapat terjadi secara mendadak, dan biasanya tidak dapat diperkirakan sebelumnya. Karena itu, tiap ibu hamil, keluarga dan masyarakat perlu mengetahui dan mengenali tanda bahaya. Tujuannya, agar dapat segera mencari pertolongan ke bidan, dokter atau langsung ke rumah sakit untuk menyelamatkan jiwa ibu dan bayi yang dikandungnya (janin) (Depkes RI, 2001).

Ada 10 tanda bahaya yang perlu dikenali dalam pengawasan ibu dan bayi pada saat kehamilan yaitu :

1. Ibu tidak mau makan dan muntah terus 2. Berat badan ibu hamil tidak naik 3. Perdarahan

4. Bengkak tangan/wajah, pusing, dan dapat diikuti kejang 5. Gerakan janin berkurang atau tidak ada

6. Kelainan letak janin dalam rahim

7. Ketuban pecah sebelum waktunya (ketuban pecah dini) 8. Persalinan lama

9. Penyakit ibu yang berpengaruh terhadap kehamilan 10.Demam tinggi pada masa nifas (Depkes RI, 2001).

Pengenalan tanda bahwa tersebut di atas maka perlu dilakukan pengawasan seperti tersebut dibawah ini:

a. Pengawasan terhadap terjadinya infeksi

b. Pengawasan terhadap terjadinya trauma kelahiran.

Upaya peningkatan mutu pelayanan dan pengawasan diperlukan suatu manajemen yang baik dalam penanganan kelahiran mati. Untuk terlaksananya kegiatan pengawasan kelahiran mati perlu di dukung oleh sumber daya manusia yang profesional dan sistem pencatatan dan pelaporan (Depkes RI, 2003).

2.5. Manajemen Puskesmas

Pelayanan yang baik maka dibutuhkan berbagai sumber daya yang mengatur proses manajemen secara baik. Gerry Terry dikutip dari Hellriegel dan Slocum, 1992;

Koontz dan Weirich, 1992; Winardi, 1990 dan juga pada dasarnya menyatakan bahwa manajemen terdiri dari planning, organizing, actuating dan controlling (POAC). Luther Gullick (1937) menyebutkan proses usaha dalam manajemen yang meliputi

planning, organizing, staffing, directing, coordinating, operating, reporting, budgeting dan supervising (POSDCORBS). Stoner di kutip dari Hellriegel dan

Slocum, 1992; Koontz dan Weirich, 1992; Winardi, 1990 memberikan definisi bahwa manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, memimpin dan mengawasi usaha-usaha dari anggota organisasi dan dari sumber organisasi lainnya untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan (Yoga, 2003).

Pelaksanaan manajemen puskesmas perlu memperhatikan upaya manajemen kebutuhan (demand) yang ditandai dengan skala prioritas dan penyediaan pelayanan waktu yang tepat. Menejemen puskesmas memiliki peran untuk melakukan perencanaan pengembangan dengan mengidentifikasi kesempatan yang ada, mengevaluasi manfaat bagi pelayanan pasien, penghitungan laba-rugi pengembangan dan penilaian terhadap faktor lingkungan yang terkait (Yoga, 2003).

Mutu pelayanan kesehatan adalah penampilan yang sesuai (berhubungan dengan standar-standar) dari suatu intervensi yang diketahui aman, dapat memberikan hasil kepada masyarakat yang bersangkutan dan mempunyai kemampuan untuk menghasilkan dampak pada kematian, kesakitan, ketidakmampuan dan kekurangan gizi (Wijono, 1999)

Avedis Donobedian (1980) dalam bukunya The Definition of Quality and

Assessment dalam Wijono (1999) mengatakan bahwa mutu adalah suatu sifat yang

dimiliki dan merupakan suatu keputusan terhadap unit-unit pelayanan tertentu dan bahwa pelayanan dibagi ke dalam dua bagian yaitu teknik dan interpersonal. Mutu pelayanan kesehatan terdiri dari aplikasi ilmu kedokteran (medical science) dan teknologi yang memaksimalkan manfaatnya terhadap kesehatan, tanpa menambah risikonya. Oleh karenanya, derajat mutu, pelayanan yang disediakan diharapkan memberikan keseimbangan yang paling baik antara risiko dan manfaat (Wijono, 1999).

Mutu pelayanan kesehatan adalah hasil akhir (outcome) dari interaksi dan ketergantungan antara berbagai aspek, komponen atau unsur organisasi pelayanan kesehatan sebagai suatu sistem. Menurut Prof. A. Donabedian, ada tiga pendekatan evaluasi (penilaian) mutu yaitu dari struktur input, proses, output dan outcome (Wijono, 1999).

a. Input

Struktur input meliputi sarana fisik perlengkapan dan peralatan, organisasi dan manajemen, keuangan, sumber daya manusia dan sumber daya lainnya di fasilitas kesehatan.

b. Proses

Proses adalah semua kegiatan yang dilaksanakan secara profesional oleh tenaga kesehatan (dokter, perawat, dan tenaga profesi lain) dan interaksinya dengan pasien. Dalam pengertian ini mencakup diagnosa, rencana pengobatan, indikasi

tindakan, prosedur dan penanganan kasus. Untuk mencapai hasil cakupan kegiatan pokok, puskesmas melakukan rangkaian kegiatan proses sebagai berikut:

1. Pengorganisasian tenaga yang ada 2. Lokakarya mini puskesmas

3. Pemantauan wilayah setempat (PWS)

4. Penyediaan peralatan dan bahan-bahan tepat waktu 5. Bimbingan teknis petugas pelaksana sesuai prosedur tetap 6. Penyuluhan kesehatan pada masyarakat

7. Pelayanan yang ramah dan bermutu

c. Output

Proses penyusunan kegiatan yang sistematis dan terencana maka dapat mengatasi masalah-masalah kesehatan yang dihadapi dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. Untuk mencapai tujuan dengan sumber daya yang ada supaya lebih efisien dengan memperhatikan keadaan lingkungan sosial, budaya, fisik dan biologik.

Output yang dihasilkan dapat dirumuskan kekurangan atau kelemahan yang

ada pada input dan proses, di samping juga melihat faktor lingkungan. Walaupun lingkungan sendiri tidak dapat segera diperbaiki dengan kegiatan puskesmas, tetapi pengetahuan tentang keadaan lingkungan dapat membantu merumuskan strategi atau cara pendekatan dalam melakukan kegiatan agar dapat berhasil.

d. Outcome

Outcome adalah hasil akhir kegiatan dan tindakan tenaga kesehatan

profesional terhadap pasien. Dapat berarti adanya perubahan derajat kesehatan dan kepuasan baik positif maupun negatif (Wijono, 1999).

Penilaian terhadap outcome adalah evaluasi hasil akhir dari kesehatan atau

kepuasan. Evaluasi ini dalam banyak hal memberikan bukti atau fakta akhir dimana pelayanan asuhan baik, buruk, atau diabaikan yang disebabkan karena keadaan sosial yang mendasar dalam arti luas dan kesepakatan profesi dimana hasil-hasilnya timbul, paling sedikit terhadap derajat pelayanan asuhan yang semestinya (Wijono, 1999).

Terselenggaranya berbagai upaya kesehatan perorangan dan upaya kesehatan masyarakat maka puskesmas harus di tunjang oleh manajemen puskesmas yang baik. Rangkaian kegiatan sistematis yang dilaksanakan oleh puskesmas membentuk fungsi- fungsi manajemen. Ada tiga fungsi manajemen puskesmas yaitu perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian serta pengawasan dan pertanggungjawaban. Semua fungsi tersebut harus dilaksanakan secara terkait dan berkesinambungan (Depkes RI, 2004)

Puskesmas dalam pelayanan ibu hamil untuk mencapai sasaran dan target yang diharapkan perlu dilaksanakan pengelolaan upaya penjaringan ibu hamil melalui pemeriksaan kesehatan K1 dan K4 melalui instrumen yang ada dipuskesmas yaitu perencanaan tingkat puskesmas, minilokakarya, dan stratifikasi puskesmas (Depkes RI, 2000).

Pelayanan kesehatan perinatal di wilayah kerja Puskesmas lebih diutamakan kepada upaya peningkatan, pencegahan dan deteksi dini risiko tinggi pada masa perinatal serta penatalaksanaannya pada tingkat pelayanan kesehatan dasar yang sesuai dengan batas kewenangan petugas kesehatan dalam rangka mendukung upaya penurunan kematian bayi terutama pada masa neonatal (Depkes RI, 1993).

Contoh kasus:

Kegiatan pelayanan ibu hamil kunjungan pertama (K1), maka diperhitungkan bahwa K1 diupayakan mencapai 85% (output).

Input

- Tenaga Kesehatan - Sarana dan prasarana - Biaya

Proses

- Penyuluhan kesehatan setiap kali dalam pembinaan posyandu - Pembinaan kader posyandu oleh bidan di desa

- Menambah waktu buka puskesmas pembantu

Output

- Kegiatan yang dilakukan pada proses dan input maka diharapkan kunjungan ibu hamil (K1) dapat mencapai 85%.

Outcome

- Pelayanan kunjungan ibu hamil yang mencapai 85% maka deteksi dini ibu hamil risiko tinggi dapat segera ditangani sebagai pencegahan terjadinya kematian ibu dan bayi.

Pelayanan kesehatan perinatal masih belum mendapat perhatian sepenuhnya dan belum diupayakan secara komprehensif. Hal ini terlihat dari:

1. Kurangnya jangkauan dan mutu pelayanan kesehatan perinatal yang

menyebabkan belum terjaminnya kesejahteraan janin dan keselamatan bayi baru lahir serta belum memadainya pelaksanaan perawatan pada bayi baru lahir. 2. Terbatasnya kemampuan dan keterampilan petugas dalam pelayanan kesehatan

perinatal termasuk penatalaksanaan kegawat-daruratan.

3. Mekanisme rujukan medis pada saat ini masih belum mendukung upaya

menurunkan kematian perinatal di suatu wilayah oleh karena banyaknya faktor teknis dan non teknis yang berada di luar batas kemampuan petugas kesehatan. 4. Masih kurangnya kesadaran masyarakat dalam memelihara kesehatan bayi yang

harus di mulai sejak janin dalam kandungan hingga minggu pertama kehidupan bayi.

Hal ini terlihat dari kunjungan antenatal rata-rata kurang dari 4 kali, masih banyak persalinan yang di tolong oleh dukun bayi, masih banyak perawatan bayi baru lahir tidak higienes, masih banyak ibu-ibu yang memberikan makanan lain selain air susu kepada bayi baru lahir dan masih kurangnya penyuluhan mengenai kesehatan bayi baru lahir kepada keluarga dan masyarakat (Depkes RI, 1993).

Hal-hal yang perlu diperhatikan berdasarkan keadaan tersebut diatas maka perlu perencanaan pelayanan kesehatan perinatal di puskesmas sebagai berikut: 1. Menentukan target sasaran.

Target sasaran ditentukan oleh petugas puskesmas bersama-sama dengan kepala desa atau kader posyandu. Target pelayanan kesehatan perinatal disesuaikan dengan target ibu hamil, pertolongan persalinan dan bayi baru lahir di wilayah tersebut. Target di buat per RT/RW, per posyandu atau per desa disesuaikan dengan kebutuhan setempat.

2. Menyiapkan sarana dan peralatan.

Sarana dan peralatan bagi penyelenggaraan pelayanan kesehatan perinatal disiapkan sesuai dengan kebutuhan pelayanan kesehatan dasar di tingkat keluarga, masyarakat, pondok bersalin, puskesmas dan puskesmas dengan perawatan. Persiapan ini meliputi antara lain, menyiapkan kamar/ruangan untuk pelayanan antenatal dan tempat bersalin yang bersih dengan sistem penerangan yang memadai, peralatan pertolongan persalinan yang steril, peralatan untuk perawatan tali pusat di rumah, sarana transportasi untuk persiapan rujukan dan sebagainya. Persiapan dilakukan melalui pendekatan kepada keluarga dan masyarakat setempat.

Sarana dan peralatan yang harus tersedia di pusat pelayanan kesehatan masyarakat seperti puskesmas, polindes dan pustu seperti tercantum dalam Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 900/MENKES/SK/VII/2002 dapat di lihat secara rinci pada tabel 2.1 berikut ini.

Tabel 2.1

Daftar Peralatan Untuk Pertolongan Persalinan

No Jenis Alat Tersedia Berfungsi

1. Tensi meter

2. Stetoskop binoculer

3. Monoral (alat pendengar denyut jantung janin

dalam kandungan)

4. Timbangan dewasa

5. Timbangan bayi

6. Pengukur panjang bayi

7. Termometer

8. Ambu bag dengan masker resusitasi (ibu dan bayi)

9. Penghisap lendir

10. Lampu/sorot

11. Sterilisator

12. Alat pemeriksa Hb (sahli)

13. Sarung tangan untuk mencuci alat

14. Masker

15. Pengamanan mata

16. Forceps

17. Gunting tali pusat

18. Gunting benang 19. Gunting episitomi 20. Kateter karet/metal 21. Pincet anatomi 22. Pincet chirurgial 23. Vagina spekulum

24. Pengikat tali pusat

25. Tampon vagina

26. Jarum kulit dan otot

27. Sarung tangan

28. Benang sutera dan catgut

29. Kapas

Keterangan :

: Tersedia dan Berfungsi

Peralatan proses persalinan yang seharusnya tersedia di puskesmas, pustu, maupun polindes sebanyak 29 jenis peralatan. Selain peralatan tersebut, perlu juga disediakan formulir persalinan. Untuk lebih jelas formulir yang harus tersedia dapat di lihat pada tabel 2.2 di bawah ini.

Tabel 2.2

Formulir Yang Disediakan Dalam Proses Persalinan

No Jenis Formulir yang Disediakan Tersedia

1. Formulir ANC

2. Formulir Partograp

3. Formulir Persalinan/Nifas dan KB 4. Buku register: ibu, bayi, anak, KB

5. KMS ibu hamil 6. Formulir laporan 7. Formulir rujukan Catatan : ANC : Antenatal-Care KB : Keluarga Berencana KMS : Kartu Menuju Sehat

3. Menyiapkan tenaga yang mampu dan terampil.

Kemampuan petugas kesehatan terutama bidan dan paramedis

puskesmas yang memberikan pelayanan kesehatan perinatal termasuk penatalaksanaan kegawat-daruratan dan rujukan perinatal yang sesuai dengan kewenangannya dapat ditingkatkan dengan pelatihan, pembinaan dan konsultasi berjenjang dengan dokter puskesmas/dokter ahli rumah sakit, rujukan di samping pembinaan dukun bayi terlatih.

4. Menyiapkan kemandirian keluarga.

Peran serta masyarakat dan kemandirian keluarga dalam mendukung upaya keamanan persalinan dan keselamatan bayi baru lahir dapat ditingkatkan melalui penyuluhan kesehatan yang intensif antara lain penyuluhan mengenai tanda-tanda risiko tinggi pada ibu hamil dan bayi baru lahir berikut pencegahannya, tempat yang tepat bagi keluarga untuk mencari pertolongan kesehatan, cara merawat bayi baru lahir, memberikan ASI kepada bayi segera setelah lahir dan sebagainya.

5. Manfaatkan dan mendayagunakan potensi dan sumber daya masyarakat yang mendukung terselenggaranya upaya keamanan persalinan dan keselamatan bayi baru lahir, misalnya dukungan dana sehat, melatih dukun beranak, dan lain-lain

6. Membuat rencana pembinaan dan pengawasan serta rencana tindak lanjut berdasarkan pada skala prioritas. Dalam menyusun rencana ini termasuk pula rencana kegiatan pembinaan dan supervisi dukun bayi, pembinaan ibu-ibu/kelompok peminat KIA, kader dan posyandu (Depkes RI, 1993).

2.6. Landasan Teori

MacMahon dan Pugh (1970) dalam Murti (2003) mengemukakan bahwa setiap efek atau penyakit tak pernah tergantung kepada sebuah faktor penyebab, tetapi tergantung kepada sejumlah faktor dalam rangkaian kausalitas sebelumnya. Faktor-

faktor yang memudahkan terjadinya efek disebut promotor sedangkan yang menghambat terjadinya efek disebut inhibitor.

Kelahiran mati atau still birth merupakan salah satu bagian dari kematian perinatal yang menjadi indikator kesehatan suatu daerah/bangsa. Kelahiran mati dipengaruhi oleh banyak faktor seperti pelayanan antenatal-care (K1, K4), paritas, riwayat kehamilan, lingkungan, status gizi, penyakit infeksi, pendidikan, pengetahuan, dan faktor lain yang menyebabkan terjadinya kelahiran mati.

Manajemen pelayanan kesehatan dan sistem kesehatan untuk cepat tanggap juga memberi pengaruh terhadap terjadinya kelahiran mati. Kebijakan terhadap sarana dan prasarana dalam upaya peningkatan mutu kesehatan ibu hamil serta kemampuan deteksi dini terhadap terjadinya kelainan kehamilan merupakan faktor penting dalam deteksi dini kelahiran mati (Sarimawar, 2004).

Dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan antenatal atau menyelesaikan masalah-masalah mutu dengan program jaminan mutu dilakukan pendekatan sistem artinya memperhatikan proses pelayanan antenatal, faktor ibu dan lingkungan.

2.7 Kerangka Konsep

Berdasarkan landasaan teori dan studi kepustakaan maka peneliti membuat suatu kerangka konsep penelitian seperti dibawah ini.

Antenatal-Care

1. Kunjungan K1 2. Kunjungan K4

2.8 Jawaban Penelitian

1). Ada hubungan kunjungan K1 ibu hamil dengan kelahiran mati 2). Ada hubungan kunjungan K4 ibu hamil dengan kelahiran mati 3). Ada hubungan paritas dengan kelahiran mati

4). Ada hubungan anemia ibu dengan kelahiran mati

5). Ada hubungan riwayat penyakit ibu dengan kelahiran mati 6). Ada hubungan riwayat persalinan dengan kelahiran mati

7). Ada hubungan fasilitas pelayanan kesehatan dengan kelahiran mati 8). Ada hubungan penolong persalinan dengan kelahiran mati

9). Ada hubungan jarak rumah ke tempat persalinan dengan kelahiran mati

Faktor Ibu

1. Paritas 2. Anemia

3. Riwayat penyakit ibu 4. Riwayat Persalinan

Pelayanan Kesehatan

1. Fasilitas Pelayanan

kesehatan

2. Penolong persalinan

3. Jarak rumah ke tempat

persalinan

Lahir

HIDUP

Dokumen terkait