BAB 5 PEMBAHASAN
5.3. Hubungan Faktor Pelayanan Kesehatan dengan Kelahiran
Pada tabel 4.4 dapat di lihat bahwa tidak ada hubungan antara variabel fasilitas pelayanan kesehatan dengan kelahiran mati dengan nilai p = 0,226 (p>0,05).
Hal ini dapat dijelaskan karena proses persalinan dapat berjalan lancar jika keadaan ibu sehat dan kehamilan normal tanpa ada riwayat penyakit dan riwayat persalinan risiko tinggi. Selain hal tersebut, fasilitas sarana dan prasana kesehatan di Kabupaten
Tapanuli Utara untuk menangani proses kehamilan telah lengkap dan juga tenaga kesehatan yang profesional dalam penanganan persalinan. Tenaga kesehatan juga mendapatkan pelatihan secara berkala di tingkat kabupaten dan tingkat propinsi.
Perbandingan penelitian berdasarkan penolong persalinan belum dapat ditemukan kerena kemungkinan ini merupakan penelitian yang pertama untuk mengetahui hubungan variabel penolong persalinan dengan kelahiran mati.
Mutu pelayanan kesehatan adalah penampilan yang sesuai (berhubungan dengan standar-standar) dari suatu intervensi yang diketahui aman, dapat memberikan hasil kepada masyarakat yang bersangkutan dan mempunyai kemampuan untuk menghasilkan dampak pada kematian, kesakitan, ketidakmampuan dan kekurangan gizi (Wijono, 1999)
Pelaksanaan manajemen puskesmas perlu memperhatikan upaya manajemen kebutuhan (demand) yang ditandai dengan skala prioritas dan penyediaan pelayanan waktu yang tepat. Menejemen puskesmas memiliki peran untuk melakukan perencanaan pengembangan dengan mengidentifikasi kesempatan yang ada, mengevaluasi manfaat bagi pelayanan pasien, penghitungan laba-rugi pengembangan dan penilaian terhadap faktor lingkungan yang terkait (Yoga, 2003).
Upaya yang terus dilakukan di Kabupaten Tapanuli Utara dalam peningkatan kualitas mutu petugas kesehatan dan profesionalisme pekerjaan, dinas kesehatan selalu melakukan kegiatan penyuluhan dan evaluasi kegiatan yang berhubungan dengan persalinan dan kehamilan, kematian ibu dan anak, kegiatan Audit Maternal
Perinatal.
b. Penolong Persalinan
Dari tabel 4.3 dijumpai bahwa nilai OR = 5,60 berarti risiko untuk mengalami kelahiran mati 5,60 kali lebih besar jika di tolong bukan tenaga kesehatan dibanding di tolong tenaga kesehatan.
Hal ini dapat dijelaskan karena tingkat pendidikan dan pengetahuan masyarakat tentang pentingnya pemeriksaan kehamilan masih kurang. Selain itu, masyarakat juga masih memanfaatkan tenaga dukun beranak dalam melakukan pemeriksaan kehamilan dan persalinan. Pencarian bukan tenaga kesehatan disebabkan karena pendidikan dan pengetahuan masyarakat yang rendah serta kedekatan masyarakat terhadap dukun beranak.
Selain faktor pendidikan dan pengetahuan, ibu yang merasa waktunya akan bersalin memanggil dukun bayi untuk melakukan persalinan karena kepercayaan masyarakat kepada dukun beranak
meskipun pada saat proses persalinan mengalami kesulitan persalinan yang dapat mengakibatkan janin mati sebelum dapat dikeluarkan.
Perbandingan penelitian berdasarkan penolong persalinan belum dapat ditemukan kerena kemungkinan ini merupakan penelitian yang pertama untuk mengetahui hubungan variabel penolong persalinan dengan kelahiran mati.
Persalinan merupakan suatu proses alami yang ditandai oleh terbukanya serviks, diikuti dengan lahirnya bayi dan plasenta melalui jalan lahir. Pernolong persalinan perlu memantau keadaan ibu dan janin untuk mewaspadai secara dini terjadinya komplikasi. Di samping itu, penolong persalinan juga berkewajiban untuk memberikan dukungan moril dan rasa nyaman kepada ibu yang sedang bersalin (Depkes RI, 2000)
Persalinan membutuhkan usaha total ibu secara fisik dan emosional. Karena itu dukungan moril dan upaya untuk menimbulkan rasa nyaman bagi ibu bersalin sangatlah penting (Depkes RI, 2000)
Persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan terjamin sebagai persalinan yang bersih dan aman, karena selain pertolongan persalinan dilakukan dengan bersih, bila terjadi gangguan dalam persalinan akan segera diketahui dan ditangani atau dirujuk (Depkes RI, 1998)
Upaya yang dilakukan di Kabupaten Tapanuli Utara agar ibu hamil tidak memanggil dukun bayi saat akan bersalin berupa kegiatan penyuluhan dan peningkatan pengetahuan cara dan proses kehamilan yang baik, sehat dan steril serta penanganan kehamilan yang baik dilakukan oleh petugas kesehatan. Selain kegiatan penyuluhan dinas kesehatan juga melakukan kegiatan pelatihan dengan mengundang dukun bayi dalam membantu proses kehamilan yang aman dan sehat.
Upaya kegiatan bekerja sama dengan dukun bayi dan masyarakat terus menerus dilakukan secara berkala agar semua dukun mendapat pelatihan dan sertifikat kemampuan menangani persalinan yang aman dan sehat.
c. Jarak Rumah Ke Tempat Persalinan
Tabel 4.4 menunjukkan bahwa tidak ada hubungan jarak rumah ke tempat persalinan dengan kelahiran mati, nilai p = 0,116 (p>0,05)
Hal ini dapat dijelaskan karena pelayanan kesehatan di Kabupaten Tapanuli Utara telah menjangkau semua desa yang ada dan setiap desa telah ditempat petugas kesehatan yang terlatih. Selain itu, sebagian besar responden yang mengalami kelahiran mati bertempat tinggal yang tersebar merata berada dekat dengan tempat persalinan.
Perbandingan penelitian berdasarkan penolong persalinan belum dapat ditemukan kerena kemungkinan ini merupakan penelitian yang pertama untuk mengetahui hubungan variabel penolong persalinan dengan kelahiran mati.
Pemanfaatan peta wilayah ini berguna untuk pembangunan fasilitas kesehatan sehingga semua masyarakat dapat menjangkau pelayanan kesehatan yang bersifat urgensi. Dengan adanya peta wilayah ibu hamil maka diharapkan pelayanan kesehatan yang ada di desa dapat dijangkau dengan jarak kurang dari 3000 meter (Depkes RI, 1996)
Upaya yang dilakukan di Kabupaten Tapanuli Utara saat ini dengan terus melakukan pembangunan dan pengembangan sarana dan prasarana kesehatan dalam pemberian pelayanan kesehatan yang optimal. Selain pembangunan secara fisik, dinas kesehatan juga melakukan pembangunan sumber daya manusia melalui kegiatan- kegiatan pelatihan secara lintas sektor dan lintas program yang melibatkan masyarakat secara aktif.
5.4. Keterbatasan Peneliti a. Aspek Desain Penelitian
Penelitian ini menggunakan desain case control study yang meneliti kelahiran mati, kemudian menyelidiki apa penyebabnya atau
faktor risikonya. Penelitian ini hanya menunjukkan besarnya hubungan (kemaknaan) faktor pemapar dalam hubungannya dengan kelahiran mati. Upaya yang dilakukan untuk mengurangi bias dalam penelitian ini dengan melakukan matching terhadap pendidikan dan pekerjaan sehingga dengan melakukan matching variabel tersebut dapat mengurangi bias berdasarkan desain penelitian.
b. Aspek Peneliti
Penguasaan ilmu dan pengetahuan peneliti tentang kelahiran mati terasa masih banyak kekurangan. Walaupun peneliti telah berusaha untuk memperkaya bacaan melalui kunjungan ke perpustakaan, pencariaan informasi melalui browsing internet, membentuk kelompok diskusi sebelum penelitian ini dimulai dan saat penelitiaan berlangsung.
Disamping itu dana, sarana dan pengalaman yang kurang dimiliki peneliti menyebabkan kurang sempurnanya penelitian ini. Penelitian ini merupakan penelitian epidemilogis retrospektif kasus kontrol untuk menentukan seberapa besar kekuatan hubungan antara dua variabel yang diteliti.
c. Recall Bias
Recall bias adalah salah satu kelemahan utama studi kasus kontrol karena kemampuan responden mengingat kejadian yang telah berlalu sangat terbatas. Salah satu upaya peneliti untuk mengurangi
bias ini adalah mencari responden yang dalam dua tahun terakhir terjadi kelahiran mati, membuat pertanyaan yang lebih sederhana untuk mudah dimengerti oleh responden.
d. Interviewer Bias
Interviewer bias adalah bias yang bersumber dari pewawancara
sendiri. Hal ini diakibatkan pemahaman seorang pewawancara berbeda dengan pewawancara lain, sehingga pemahaman tentang satu pertanyaan di kuesioner mungkin saja berbeda. Untuk mengatasi hal ini peneliti sudah melakukan pelatihan terhadap pewawancara di lapangan, uji coba kuesioner untuk menguji validitas dan reliabilitas kuesioner, maka diharapkan terjadi kesamaan pemahaman terhadap pertanyaan yang ditujukan kepada responden.