• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Analisis Faktor Risiko Pada Kelahiran Mati Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005-2006"

Copied!
123
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS FAKTOR RISIKO PADA KELAHIRAN MATI DI KABUPATEN TAPANULI UTARA

TAHUN 2005-2006

TESIS

Oleh

V I K T O R 037 023 016 / AKK

SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

ANALISIS FAKTOR RISIKO PADA KELAHIRAN MATI DI KABUPATEN TAPANULI UTARA

TAHUN 2005-2006

TESIS

Untuk Memperoleh Gelar Magister Kesehatan Masyarakat (M.Kes) dalam Program Magister Administrasi dan Kebijakan Kesehatan

Konsentrasi Administrasi Kesehatan Komunitas/Epidemiologi Pada Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara

Oleh

V I K T O R 037 023 016 / AKK

SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(3)

Judul Tesis : ANALISIS FAKTOR RISIKO PADA KELAHIRAN MATI DI KABUPATEN TAPANULI UTARA TAHUN 2005 - 2006

Nama Mahasiswa : V I K T O R Nomor Induk Mahasiswa : 037 023 016

Program Studi : Administrasi dan Kebijakan Kesehatan

Konsentrasi Administrasi Kesehatan Komunitas/Epidemiologi

Menyetujui, Komisi Pembimbing :

Prof. dr. Guslihan Dasa Tjipta, Sp.A(K) Ketua

dr. Ria Masniari Lubis, MSi dr. Yusniwarti Yusad, MSi

Anggota Anggota

Ketua Program Studi, Direktur SPs USU,

(4)

Telah diuji

Pada Tanggal : 18 September 2007

Panitia Penguji Tesis

Ketua : Prof. dr. Guslihan Dasa Tjipta, Sp.A (K) Anggota : dr. Ria Masniari Lubis, Msi

dr. Yusniwarti Yusad, MSi

(5)

PERNYATAAN

ANALISIS FAKTOR RISIKO PADA KELAHIRAN MATI DI KABUPATEN TAPANULI UTARA

TAHUN 2005-2006

TESIS

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam tesis ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka

Medan, September 2007

(6)

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : V I K T O R

Tempat/tanggal lahir : P. Siantar, 28 – 10 - 1960 Alamat Kantor : Jl. Pahae Tarutung.

Alamat Rumah : Jl. H. Agus Salim No. 1 Tarutung Nama istri : dr. Ita. L. Roderthani Tobing, SpTHT Nama anak : Patrio Cipta Harvi Sitorus

Viktoria Thanita Sitorus

Riwayat pendidikan :

1. SD Negeri No. 55 Pematang Siantar Tamat Tahun 1973 2. SMP Negeri II Pematang Siantar Tamat Tahun 1976 3. SMA Negeri III Pematang Siantar Tamat Tahun 1980

4. Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Tamat tahun 1987

5. Sekolah Pasca Sarjana Magister Kesehatan Program Studi Administrasi Kesehatan Komunitas/Epidemiologi di Universitas Sumatera Utara Tamat tahun 2007

Riwayat Pekerjaan :

1. Kepala Puskesmas Mogang Kecamatan Palipi Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 1989 – 1991

2. Kepala Puskesmas Limbong Kecamatan Arian Boho Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 1991 – 1993

3. Kepala Puskesmas Sirait Kecamatan Harian Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 1993 – 1995

4. Staf Rumah Sakit Umum Adam Malik tahun 1995 – 1998

5. Kepala Seksi Bimbingan dan Pengendalian Pelayanan Kesehatan di Kantor Departemen Kesehatan Tapanuli Utara tahun 1998 – 2001

6. Ka.Subdin P2P Dinas Kesehatan Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2001 – 2005

(7)

ANALISIS FAKTOR RISIKO PADA KELAHIRAN MATI DI KABUPATEN TAPANULI UTARA

TAHUN 2005 – 2006

Oleh : V I K T O R

ABSTRAK

Kelahiran mati adalah keluarnya hasil konsepsi dalam keadaan mati yang telah mencapai umur kehamilan 28 minggu atau berat badan lahir lebih atau sama dengan 1000 gram. Program kesehatan bayi baru lahir tercakup di dalam program kesehatan ibu. Dalam rencana strategi nasional Making Pregnancy Safer, target dari dampak kesehatan untuk bayi baru lahir adalah menurunkan angka kelahiran mati dari 25 per 1000 kelahiran hidup (1997) menjadi 15 per 1000 kelahiran hidup (2010).

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor risiko dan hubungannya pada kelahiran mati. Penelitian ini merupakan rancangan deskriptif analitik menggunakan studi analitik dengan pendekatan case control study terhadap 134 responden terdiri dari 67 responden dengan kelahiran mati dan 67 responden dengan kelahiran hidup.

Hasil penelitian pada uji statistik menunjukkan bahwa ada hubungan kunjungan K1 (p = 0,001, OR = 3,245), kunjungan K4 (p = 0,000, OR = 3,792), paritas (p = 0,037, OR = 2,081), anemia (p = 0,024, OR = 2,210), riwayat penyakit ibu (p = 0,001, OR = 3,225), riwayat persalinan (p = 0,009, OR = 2,496), dan penolong persalinan (p = 0,000, OR = 5,608) dengan kelahiran mati, sedangkan fasilitas pelayanan kesehatan serta jarak rumah ke tempat persalinan tidak ada hubungan. Hasil uji regresi logistik berganda ditemukan 4 variabel independent yang berhubungan dengan kelahiran mati yaitu penolong persalinan, kunjungan K4, paritas dan riwayat penyakit ibu. Variabel independent yang paling berpengaruh berdasarkan uji regresi logistik berganda adalah penolong persalinan (OR = 5,721, CI = 2,349 – 13,938).

Rekomendasi dalam upaya penurunan angka kelahiran mati berupa pelatihan secara berkala kepada dukun-dukun bayi, peningkatan pengetahuan dan sikap masyarakat dalam mencari tenaga penolong persalinan.

Kata Kunci : Kelahiran Mati, Faktor Risiko

(8)

ANALYSIS OF THE RISK FACTOR IN THE STILLBIRTH IN TAPANULI UTARA DISTRICT IN

2005 – 2006

V I K T O R

ABSTRACT

Stillbirth is a stillborn result of conception after 28 weeks of pregnancy with body weight of about or the same 1000 grams. The health program for newly-born baby is included in the maternal health program. In the national strategic planning of Making Pregnancy Safer, the target of the health impact for newly-born baby is to minimize the stillbirth rate from 25 per 1000 (1997) to 15 per 1000 life birth (2010).

The purpose of this study is to find out the relationship of risk factor and stillbirth. This analytical descriptive study with case control approach was done to 134 respondents consisting of 67 respondents with stillbirth and 67 respondents with live birth.

The result of statistical test shows that there is a relationship between visit K1 (p = 0,001, OR = 3,245), visit K4 (p = 0,000, OR = 3,792), parity (p = 0,037, OR = 2,081), anemia (p = 0,024, OR = 2,210), history of mother’s disease (p = 0,001, OR = 3,225), history of pregnancy (p = 0,009, OR = 2,496), and birth attendant (p = 0,000, OR = 5,608) and the stillbirth while there is no relationship between health service facility and the distance between home and the maternity clinic and the stillbirth.

The result of multiple logistic regression test shows that 4 (four) independent variables such as birth attendant, visit K4, parity and history of mother’s disease are related to the stillbirth. According to the result of multiple logistic regression tests, the most influencing independent variable is birth attendant (OR = 5,721, CI = 2,349 – 13,938).

In order to minimize the rate of stillbirth, it is suggested that traditional midwives/birth attendants be provided with periodic training and the knowledge and the attitude of the community in selecting birth attendant be improved.

Keywords: Stillbirth, Risk Factor

(9)

DAFTAR ISI

2.1. Kumpulan Pendapat/Hasil Penelitian Terdahulu ... 7

2.2. Definisi Yang Berhubungan Dengan Penelitian ... 8

2.2.1. Kelahiran Mati (Still Birth) ... 8

2.2.2. Kelahiran Hidup (Live Birth) ... 9

2.2.3. Kematian Janin (Foetal Death)... 9

2.2.4. Faktor Risiko... 10

2.3. Faktor Determinan Kelahiran Mati ... 11

2.4. Pencegahan Kelahiran Mati ... 19

2.4.1. Pelayanan Antenatal-Care Secara Rutin ... 19

2.4.2. Pengawasan Terhadap Kehamilan Risiko Tinggi (High Risk Pregnancy)... 22

(10)

BAB 3 METODE PENELITIAN ... 38

3.3.3. Teknik Pengambilan Sampel... 40

3.4. Manajemen Data ... 40

4.1. Gambaran Umum Kabupaten Tapanuli Utara... 47

4.2. Analisis Univariat ... 49

4.3. Analisis Bivariat... 50

4.4. Analisis Multivariat... 55

BAB 5 PEMBAHASAN ... 58

5.1. Hubungan Antenatal Care dengan Kelahiran Mati ... 58

5.2. Hubungan Faktor Ibu dengan Kelahiran Mati ... 63

(11)

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 1.1 Distribusi Jumlah Kelahiran Mati di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2001 – 2006 ... 4 Tabel 2.1 Daftar Peralatan Untuk Pertolongan Persalinan... 33 Tabel 2.2 Formulir Yang Disediakan Dalam Proses Persalinan ... 34 Tabel 4.1 Distribusi Responden Berdasarkan Pendidikan dan Pekerjaan di

Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2007 ... 49

Tabel 4.2 Tabulasi Silang Antara Variabel Antenatal-Care Dengan

Variabel Kelahiran Mati di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2007... 50 Tabel 4.3 Tabulasi Silang Antara Variabel Faktor Ibu Dengan Variabel

Kelahiran Mati di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2007... 52 Tabel 4.4 Tabulasi Silang Antara Variabel Fasilitas Pelayanan Kesehatan

Dengan Variabel Kelahiran Mati di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2007 ... 54 Tabel 4.5 Identifikasi Variabel Dominan Penyebab Kelahiran Mati di

(12)

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1 Naskah Penjelasan... 83

Lampiran 2 Persetujuan Setelah Penjelasan (Informed Consent)... 84

Lampiran 3 Formulir Pengumpulan Data ... 85

Lampiran 4 Validitas dan Reliabilitas ... 89

Lampiran 5 Master Data Kelahiran Mati di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005 – 2006... 93

Lampiran 6 Analisis Univariat ... 95

Lampiran 7 Analisis Bivariat... 97

Lampiran 8 Analisis Multivariat... 106

Lampiran 7 Peta Tapanuli Utara... 110

Lampiran 8 Surat Izin Penelitian dari Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara... 111

Lampiran 9 Surat Izin Pelaksanaan Penelitian dan Pengumpulan Data Dari Dinas Kesehatan Kabupaten Tapanuli Utara ... 112

(13)

DAFTAR SINGKATAN

AKB : Angka Kematian Bayi AKI : Angka Kematian Ibu AKP : Angka Kematian Perinatal ANC : Antenatal Care

ASI : Air Susu Ibu

CI : Class Interval

BBLR : Berat Badan Lahir Rendah

BKKBN : Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional BPS : Badan Pusat Statistik

Hb : Haemoglobin

IUGR : Intra Uterin Growth Retardation K1 : Kunjungan Pertama Kali

K4 : Kunjungan Yang Ke empat

KB : Keluarga Berencaran KIA : Kesehatan Ibu dan Anak KMS : Kartu Menuju Sehat

OR : Odds Rasio

PWS : Pemantauan Wilayah Setempat Risti : Risiko Tinggi

RT : Rukun Tetangga

RW : Rukun Warga

SDKI : Survei Demografi Kesehatan Indonesia SKRT : Survei Keseharan Rumah Tangga TT : Tetanus Toksoid

(14)

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Kemampuan penyelenggaraan pelayanan kesehatan suatu bangsa di ukur

dengan menentukan tinggi rendahnya angka kematian ibu per 1000 persalinan hidup

dan angka perinatal dalam 1.000 kelahiran hidup. Ilmu yang secara khusus

mempelajari perinatal adalah perinatalogi. Tujuan perinatalogi sama dengan obstetri

yakni mengupayakan hasil konsepsi yang baik, selamat dan sehat serta sanggup

tumbuh dan berkembang sebaik-baiknya secara optimal sehingga tercipta suatu

generasi masa depan yang berkualitas tinggi (Manuaba, 1998).

Pembangunan jangka panjang tahap II dalam bidang kesehatan diharapkan

angka kematian bayi (AKB) dapat di tekan menjadi 35 per 1.000 kelahiran hidup.

Untuk mewujudkan hal ini, upaya penurunan kematian perinatal di pandang sebagai

suatu langkah strategis. Hal ini karena kematian perinatal mempunyai sumbangan

yang besar dalam tingginya jumlah kematian bayi termasuk kelahiran mati (Depkes

RI, 1990).

Penelitian di Inggris yang dilakukan Dummer (2000) menyatakan bahwa

kelahiran mati adalah keluarnya hasil konsepsi dalam keadaan mati pada kehamilan

28 minggu keatas atau berat badan lahir 1000 gram atau lebih. Insidens kelahiran

(15)

Penelitian yang dilakukan di Rwanda oleh Rahlenbeck (2002) dan India oleh

Agarwal (1998) melaporkan bahwa insiden kelahiran mati yaitu 10%. Hasil penelitian

tersebut menjelaskan penyebab kelahiran mati adalah ibu hamil berusia 35 tahun ke

atas, proses kelahiran secara tradisional.

Penelitian kohort yang dilakukan di Denmark oleh Aarhus University Hospital

selama tahun 1989-1996 terhadap ibu hamil yang mengkonsumsi kopi, merokok dan

minum minuman beralkohol. Ibu hamil yang mengkonsumsi kopi sehari delapan

gelas atau lebih selama masa kehamilan menunjukkan risiko yang tinggi

dibandingkan dengan ibu hamil yang tidak minum kopi dengan nilai Odds Ratio (OR)

sebesar 3 dengan tingkat kepercayaan 95% berada pada interval 1,5 - 5,9.

Kebiasaan merokok dan minum minuman beralkohol selama masa kehamilan risiko

relatif kelahiran mati menunjukkan peningkatan yang tidak signifikan.

Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2002/2003, melaporkan

angka kematian ibu (AKI) di Indonesia berada pada angka 307 per 100.000 kelahiran

hidup atau setiap jamnya terdapat 2 orang ibu bersalin meninggal dunia. SDKI juga

melaporkan cakupan pemberian tablet Fe masih sangat kurang terhadap ibu hamil dan

wanita pasangan usia subur. Demikian pula Angka Kematian Bayi (AKB) masih

berada pada kisaran 20 per 1.000 kelahiran hidup (BPS, 2001).

Tingginya angka kematian ibu disebabkan berbagai penyebab yang kompleks:

tradisi, sosial-budaya, ekonomi, pendidikan, fasilitas pelayanan kesehatan,

ketidaksetaraan gender, dan akses terhadap sarana kesehatan dan transportasi

(16)

Hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) dengan jumlah sampel

278.352 rumah tangga di Indonesia tahun 2001 ditemukan bahwa kematian neonatal

adalah 180 kasus, kelahiran mati sebanyak 115 kasus dan kematian bayi sebanyak

466 kasus.

Kesadaran ibu untuk merawat kehamilannya tercermin dari perilakunya dalam

memilih pelayanan dan dijelaskan dalam enam model yaitu faktor penolong

persalinan, pilihan kelas pelayanan, pilihan untuk operasi caesar, faktor kedekatan

lokasi pelayanan, jenis kelamin penolong persalinan, dan alat transportasi. Sementara

itu, beberapa variabel penjelas yang mempengaruhi adalah pendapatan, karakteristik

kehamilan (kehamilan yang ke), risiko kehamilan, usia ibu, profesi, tingkat

pendidikan, dan jarak kehamilan. Dengan demikian, kompleksitas model dapat

menjelaskan perilaku ibu dalam melakukan pilihan permintaan pelayanan persalinan

dan diharapkan akan berdampak pada keselamatan ibu dan bayi (Sarimawar, 2004).

Survei pendahuluan yang dilakukan berdasarkan laporan dinas kesehatan

Kabupaten Tapanuli Utara ditemukan kasus kelahiran mati selama tahun 2001-2003

cenderung menurun. Tahun 2001 kasus kelahiran mati sebanyak 15 orang (0,42%),

tahun 2002 sebanyak 8 orang (0,21%) dan tahun 2003 menjadi 8 orang (0,37%).

Tahun 2004 kasus kelahiran mati meningkat menjadi 30 orang (1,91%). Tahun 2005

kasus kelahiran mati ditemukan sebanyak 32 orang (2,22%). Tahun 2006 kasus

kelahiran mati sebanyak 35 orang (2,35%). Secara jelas data kelahiran mati di

(17)

Tabel 1.1

Distribusi Jumlah Kelahiran Mati di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2001-2006

Tahun Jumlah Kelahiran

Mati

Jumlah Ibu

Melahirkan Persentase (%)

2001 15 3547 0,42

2002 8 3724 0,21

2003 8 2124 0,37

2004 30 1564 1,91 2005 32 1435 2,22 2006 35 1485 2,35

Jumlah kelahiran mati tahun 2003 ke tahun 2005 menunjukkan cenderung

meningkat yaitu dari 0,37% tahun 2003 meningkat menjadi 1,91% tahun 2004 dan

menjadi 2,22% pada tahun 2005. Tahun 2006, kasus kelahiran mati ditemukan

sebesar 2,35%. Berdasarkan data tersebut maka perlu dilakukan penelitian mengenai

faktor risiko pada kelahiran mati di Kabupaten Tapanuli Utara tahun 2005-2006.

1.2. Rumusan Masalah

Meningkatnya jumlah kelahiran mati di Kabupaten Tapanuli Utara tahun

2005-2006.

1.3. Tujuan Penelitian 1.3.1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui faktor-faktor risiko dan hubungannya dengan kelahiran mati

(18)

1.3.2. Tujuan Khusus

1). Untuk mengetahui hubungan kunjungan K1 ibu hamil dengan terhadap

kelahiran mati Kabupaten Tapanuli Utara

2). Untuk mengetahui hubungan kunjungan K4 ibu hamil dengan kelahiran mati

Kabupaten Tapanuli Utara

3). Untuk mengetahui hubungan paritas dengan kelahiran mati Kabupaten

Tapanuli Utara

4). Untuk mengetahui hubungan anemia ibu dengan kelahiran mati Kabupaten

Tapanuli Utara

5). Untuk mengetahui hubungan riwayat penyakit ibu dengan kelahiran mati

Kabupaten Tapanuli Utara

6). Untuk mengetahui hubungan riwayat persalinan dengan kelahiran mati

Kabupaten Tapanuli Utara

7). Untuk mengetahui hubungan fasilitas pelayanan kesehatan dengan kelahiran

mati Kabupaten Tapanuli Utara

8). Untuk mengetahui hubungan penolong persalinan dengan kelahiran mati

Kabupaten Tapanuli Utara

9). Untuk mengetahui hubungan jarak rumah ke tempat persalinan dengan

kelahiran mati Kabupaten Tapanuli Utara

10). Untuk mengetahui faktor risiko dominan penyebab kelahiran mati di

(19)

1.4. Manfaat Penelitian

1. Hasil penelitian dapat dimanfaatkan untuk program safe motherhood dan making

pregnancy safer di Tapanuli Utara

(20)

BAB 2

STUDI KEPUSTAKAAN

2.1. Kumpulan Pendapat/Hasil Penelitian Terdahulu

Penelitian mengenai kasus kelahiran mati di Indonesia secara khusus belum

dapat ditemukan dalam suatu literatur buku maupun jurnal-jurnal penelitian sehingga

penulis mengalami kesulitan menemukan hasil-hasil penelitian terdahulu di

Indonesia.

Penelitian yang dilakukan oleh Aarhus University Hospital terhadap 25.395

ibu hamil didapatkan informasi bahwa sebanyak 18.478 ibu hamil minum kopi

selama masa kehamilan. Berdasarkan analisis statistik yang dilakukan ditemukan

bahwa ibu hamil yang selama kehamilan minum kopi lebih dari 8 (delapan) gelas atau

lebih kemungkinan untuk mengalami kelahiran mati 3 (tiga) kali dibandingkan

dengan ibu hamil yang tidak minum kopi.

Penelitian ini juga menyimpulkan bahwa penyebab kelahiran mati antara lain

fetoplacental dysfunction (tidak berfungsinya plasenta), antepartum haemorrhage

(perdarahan sebelum partus), congenital malformation (adanya kelainan bawaan),

intrapartum event (adanya kejadian saat proses kehamilan), unexplained intrauterine

death (kurangnya penjelasan kematian yang disebabkan perdarahan), maternal

disease (adanya penyakit pada ibu).

Kelahiran mati di negara Singapore pada tahun 1994 berjumlah 4,48/1000

(21)

melakukan pemeriksaan kehamilan pada dokter atau petugas kesehatan (Bidan).

Kelahiran mati di Amerika Serikat setiap tahunnya terjadi 26 per 1000 kelahiran

hidup (Zachary, 2002).

Kelahiran mati di Amerika Serikat berdasarkan faktor umur terbanyak pada

usia 20-24 tahun yaitu 8 orang (3,7%) dari 19 kasus kelahiran mati pada tahun 2000

(Kulakov, 2001).

2.2. Definisi yang Berhubungan Dengan Penelitian 2.2.1. Kelahiran Mati (Still Birth)

Kelahiran mati adalah keluarnya hasil konsepsi dalam keadaan mati yang

telah mencapai umur kehamilan 28 minggu atau berat badan lahir lebih atau sama

dengan 1000 gram (Wiknjosastro, 2002).

Program kesehatan bayi baru lahir tercakup di dalam program kesehatan ibu.

Dalam rencana strategi nasional Making Pregnancy Safer, target dari dampak

kesehatan untuk bayi baru lahir adalah menurunkan angka kelahiran mati dari 25 per

1000 kelahiran hidup (1997) menjadi 15 per 1000 kelahiran hidup (2010).

Sehubungan dengan tersedianya data studi mortalitas SKRT 2001, beberapa

informasi mengenai kelahiran mati dapat dipertimbangkan sebagai informasi untuk

kegiatan-kegiatan program dalam menurunkan kesakitan dan kematian bayi baru lahir

di Indonesia (Depkes RI, 2003).

Fetal death didefinisikan oleh World Health Organization (WHO) adalah

(22)

kehidupan yang sempurna atau keluar dari rahim ibu selama masa kehamilan.

Kelahiran mati (kematian janin yang terlambat) dan kematian bayi yang terlalu cepat

(kematian bayi pada minggu pertama kehidupan) dikombinasikan dalam suatu

kategori yang disebut dengan kematian perinatal (Say, 2001).

Besarnya insiden kelahiran mati dihitung dengan mengetahui jumlah kematian

janin pada usia kehamilan 28 minggu atau lebih di kali 100 di bagi dengan jumlah

seluruh kelahiran, yang dikembangkan dalam suatu penelitian di Inggris sebagai

ukuran dalam penelitian cross sectional, kohort dan survey (Say, 2001).

100

2.2.2. Kelahiran Hidup (Live Birth)

Kelahiran hidup adalah keluarnya hasil konsepsi secara sempurna dari ibunya

tanpa memandang lamanya kehamilan, dan sesudah terpisah dari ibunya bernapas

atau menunjukkan tanda-tanda kehidupan seperti denyutan tali pusat atau pergerakan

otot, tidak peduli apakah tali pusat telah dipotong atau belum (Wiknjosastro, 2002).

2.2.3. Kematian Janin (Foetal Death)

Kematian janin adalah kematian hasil konsepsi sebelum dikeluarkan dengan

sempurna dari ibunya tanpa memandang tuanya kehamilan. Kematian dinilai dengan

fakta bahwa sesudah dipisahkan dari ibunya janin tidak benafas atau menunjukkan

tanda-tanda kehidupan, seperti denyut jantung, atau pulsasi tali pusat, atau kontraksi

(23)

Definisi ini seringkali pangkal perbedaan dalam angka-angka statistik

mengenai kematian perinatal. Sebab perbedaan ini ialah karena kriterium yang

dipakai mengenai berat badan lahir dan lamanya masa kehamilan tidak selalu sama.

Berhubung dengan ini WHO Expert Commitee on the Prevention of Perinatal

Morbidity and Mortality (1970) menganjurkan agar dalam perhitungan statistik, yang

dinamakan kematian janin ialah kematian janin yang pada waktu lahir berat badannya

diatas 1000 gram.

Kematian janin dapat dibagi dalam 4 golongan, yaitu

Golongan I : kematian sebelum masa kehamilan mencapai 20 minggu penuh

Golongan II : kematian sesudah ibu hamil 20 minggu hingga 28 minggu

Golongan III : kematian sesudah masa kehamilan lebih 28 minggu (Late Foetal

Death)

Golongan IV : kematian yang tidak dapat digolongkan pada ketiga kelompok

diatas.

2.2.4. Faktor Risiko

Faktor risiko adalah sesuatu yang ada pada diri seseorang atau komunitas

yang mungkin pada suatu waktu dapat menyebabkan ketidaknyamanan, kesakitan

atau kematian (Manuaba, 1998; Rochyati, 2002; Martaadisoebrata, 2005; Martianto,

(24)

Menurut Backett, faktor risiko itu bisa bersifat biologis, genetik, lingkungan,

atau psikososial. Namun, dalam kesehatan reproduksi, faktor risiko dibagi secara

lebih spesifik, yaitu (Martaadisoebrata, 2005) :

1. Faktor demografi : umur, paritas, dan tinggi badan

2. Faktor medis biologis : underlying disease, seperti penyakit jantung dan

malaria

3. Faktor riwayat obstetri : abortus habitualis, berbagai komplikasi obstetri, SC

4. Faktor lingkungan : polusi udara, kelangkaan air bersih, penyakit endemis.

5. Faktor sosioekonomibudaya : pendidikan, penghasilan, dan kepincangan

gender (Martaadisoebrata, 2005).

2.3. Faktor Determinan Kelahiran Mati 1. Usia Ibu

Usia mempunyai pengaruh terhadap kehamilan dan persalinan ibu. Risiko

tinggi kelahiran mati terjadi pada ibu yang berumur < 20 tahun dan > 35 tahun.

Banyak ibu-ibu yang berumur < 20 tahun belum cukup matang dalam

menghadapi kehidupan sehingga belum siap secara fisik dan mental dalam

menghadapi kehamilan dan persalinan. Usia ibu < 20 tahun, rahim, panggul ibu

belum berkembang dengan baik, hingga perlu diwaspadai kemungkinan

mengalami persalinan yang sulit dan keracunan kehamilan atau gangguan lain

karena ketidaksiapan ibu untuk menerima tugas dan tanggung jawabnya sebagai

(25)

sudah kurang siap lagi menghadapi kehamilan dan persalinan. Ibu yang berusia >

35 tahun cenderung mengalami perdarahan, hipertensi, obesitas, diabetes,

myoma uteri, persalinan lama dan penyakit-penyakit lainnya. Selain risiko tinggi

untuk terjadinya kehamilan kongenitas atau malformasi juga semakin besar (2

kali lebih besar dibanding usia 20-40 tahun) (Depkes RI, 2001).

Hasil penelitian Soejoenoes (1976) di Rumah Sakit Dr Kariadi Semarang

diperoleh bahwa dari 5508 kelahiran, yang mengalami kelahiran mati sebanyak

253 kasus, 126 kasus diantaranya ibu yang berumur kurang dari 20 tahun dan

lebih dari 30 tahun.

Usia hamil yang ideal bagi seorang wanita adalah antara umur 20-35

tahun karena pada usia tersebut rahim sudah siap menerima kehamilan, mental

sudah matang dan sudah mampu merawat bayi dan dirinya (Draper, 2001).

2. Paritas

Risiko terhadap kesehatan ibu dan anak meningkat pada persalinan

pertama, keempat dan seterusnya. Kehamilan yang paling aman adalah

kehamilan kedua dan ketiga. Hal ini sesuai dengan pendapat Moeluk tahun 1983

yang di kutip oleh Sarumpaet (2000) menyatakan bahwa persalinan yang paling

aman adalah persalinan kedua dan ketiga (Sarumpaet, 2000; Pernol, 1984).

Kehamilan dan persalinan anak pertama, risiko meningkat terutama

disebabkan karena ibu belum pernah menghadapi kehamilan dan persalinan, di

(26)

kehamilan rahim ibu teregang oleh adanya janin. Bila terlalu sering melahirkan,

rahim akan semakin melemah, maka perlu diwaspadai adanya gangguan pada

waktu kehamilan, persalinan dan nifas. Kehamilan dan persalinan anak kelima

atau lebih risiko meningkat karena kehamilan dan persalinan berulang-ulang

akan mengakibatkan berkurangnya cadangan zat-zat tambahan misalnya, asam

folat, Fe, Yodium, Vitamin A, Vitamin B dan Vitamin D, kelelahan pada tubuh

ibu dan alat kandungan (Soejoenoes, 1976).

Hasil penelitian Soejoenoes di RS Dr. Kariadi Semarang tahun 1976

menemukan bahwa dari 253 kasus kelahiran mati, 199 kasus diantaranya

merupakan paritas pertama dan paritas keempat atau lebih.

3. Jarak Kelahiran

Risiko terhadap kematian ibu dan anak meningkat jika jarak antara dua

kehamilan < 2 tahun atau > 5 tahun. Jarak kehamilan yang aman ialah antara 2-4

tahun. Jarak antara dua kehamilan yang < 2 tahun berarti tubuh ibu belum

kembali ke keadaan normal akibat kehamilan sebelumnya sehingga tubuh ibu

akan memikul beban yang lebih besar. Jarak kelahiran anak sebelumnya kurang

dari 2 tahun, rahim dan kesehatan ibu belum pulih dengan baik, kehamilan dalam

keadaan ini perlu diwaspadai karena adanya kemungkinan pertumbuhan janin

kurang baik, mengalami persalinan yang lama atau perdarahan. Sebaliknya jika

(27)

juga mengakibatkan persalinan berlangsung seperti kehamilan dan persalinan

pertama (Depkes RI, 2001).

4. Riwayat Persalinan Yang Lalu

Persalinan yang pernah dialami oleh ibu dengan perdarahan, abortus,

partus prematuritas, kematian janin dalam kandungan, preeklamsia/eklamsia,

kehamilan muda, kelainan letak pada hamil tua, hamil dengan tumor (myoma

atau kista ovari) serta semua persalinan tidak normal yang pernah dialami ibu

merupakan risiko tinggi untuk persalinan berikutnya. Keadaan-keadaan tersebut

perlu diwaspadai karena kemungkinan ibu akan mendapatkan kesulitan dalam

kehamilan dan saat akan melahirkan (Pincus, 1998).

5. Umur Kehamilan (Maturitas)

Maturitas ialah kehamilan di hitung dari hari pertama periode menstruasi

normal terakhir sampai dengan terjadinya proses kelahiran janin.

Berdasarkan umur kehamilan, persalinan dapat dibedakan atas:

a). Partus prematurus adalah persalinan dari hasil konsepsi pada kehamilan 22-36

minggu, janin dapat hidup tetapi premateur.

b). Normal (partus maturus) adalah partus pada kehamilan 37-40 minggu (antara

259 hari dan 280 hari), janin matur, berat badan diatas 2500 gram.

c. Partus postmaturus (serotinus) adalah persalinan yang terjadi 2 minggu atau

(28)

Penelitian yang dilakukan Harjono Purwadhi di RSUP Dr. Sardjito

Yogyakarta tahun 1983 menemukan bahwa kematian perinatal yang tertinggi

terjadi pada umur kehamilan 32-36 minggu. Penelitian Soejoenoes tahun 1976 di

RS Dr. Kariadi Semarang mendapatkan bahwa jumlah kelahiran mati terbesar

pada umur kehamilan 28-38 minggu.

6. Frekuensi Pemeriksaan Kehamilan

Pemeriksaan kehamilan hendaknya di mulai seawal mungkin yaitu segera

setelah tidak haid selama 2 bulan berturut-turut. Tujuannya jika ada kelainan

pada kehamilan, cukup waktu untuk menanganinya sebelum persalinan (Depkes

RI, 1998).

Pelayanan antenatal mempunyai pengaruh yang lebih besar dibandingkan

dengan faktor-faktor lain seperti umur dan paritas. Dengan melakukan

pemeriksaan kehamilan akan mempunyai kematian perinatal lebih rendah dari

pada ibu dengan umur atau paritas yang optimal (Mutiara, 1994).

Penelitian di Brazil yang di kutip oleh Mutiara (1994) melaporkan bahwa

jumlah kunjungan pemeriksaan kehamilan berhasil menurunkan AKP (Angka

Kematian Perinatal). AKP diantara wanita yang tidak melakukan pemeriksaan

kehamilan adalah 56,2 per 1000 kelahiran hidup, sementara untuk wanita yang

melaksanakan pemeriksaan kehamilan sebanyak 10 kali atau lebih mempunyai

AKP 26,2 per 1000 kelahiran hidup.

(29)

7. Riwayat Penyakit Ibu

Kesehatan dan pertumbuhan janin dipengaruhi oleh kesehatan ibu. Bila

ibu mempunyai penyakit yang berlangsung lama atau merugikan kehamilannya,

maka kesehatan dan kehidupan janin pun terancam (Depkes RI, 2001).

Wanita hamil dengan penyakit seperti diabetes, hipertensi, anemia

merupakan faktor yang memperbesar terjadinya kelahiran mati (Mochtar, 1995).

Diabetes melitus pada ibu dapat mengakibatkan bayi mempunyai berat

badan melebihi usia kehamilan (makrosomia), karena kadar gula darah dalam

tubuh ibu sangat tinggi sehingga mempengaruhi pertumbuhan janin. Janin akan

tumbuh dengan cepat melebihi usia kehamilan. Diabetes melitus pada bayi juga

dapat mengakibatkan hipoglikemia, karena ketika di dalam tubuh ibu, janin

menyesuaikan jumlah insulin dengan keadaan tubuh ibunya tetapi setelah lahir

jumlah insulin yang telah terbentuk tidak sesuai dengan kadar gula darah dalam

tubuh bayi (kadar insulin yang berlebihan) sehingga bayi dapat mengalami

hipoglikemia, hipokalsemia dan immaturitas (Jumiarni, 1994).

Hipertensi pada ibu dapat mengakibatkan pertumbuhan janin terhambat

dalam kandungan atau Intra Uterin Growth Retardation (IUGR) dan kelahiran

mati. Hal ini disebabkan karena hipertensi pada ibu akan menyebabkan

terjadinya perkapuran di dalam plasenta, sedangkan bayi memperoleh makanan

dan oksigen dari plasenta. Dengan adanya perkapuran pada plasenta, makanan

(30)

8. Anemia Ibu

Anemia atau kurang darah adalah rendahnya kadar hemoglobin (Hb)

dalam sel-sel darah merah, yaitu kurang dari 11 gr%. Prevalensi anemia pada

ibu hamil pada tahun 1995 adalah 51,3% (SKRT 1995). Kegiatan pencegahan

dan penanggulangan masalah anemia secara luas telah dilaksanakan bagi semua

ibu hamil berupa pemberian tablet Fe sebanyak 90 tablet selama masa kehamilan

dan bagi ibu hamil yang menderita anemia (Hb < 11 gr%) diberikan pengobatan

khusus di puskesmas atau rumah sakit (Depkes RI, 2002).

Tanda-tanda ibu menderita anemia seperti perasaan lesu, sering

mengantuk, selaput bagian dalam kelopak mata, bibir dan kuku pucat serta

penglihatan berkunang-kunang (Depkes RI, 1996).

Masalah yang ditemui adalah rendahnya cakupan pemberian tablet Fe

yaitu sekitar 64,4% pada tahun 1998, hal ini disebabkan tidak mencukupinya

persediaan tablet Fe saat pemeriksaan kehamilan (Depkes RI, 2002).

Kegiatan yang saat ini dilaksanakan adalah mengganti Fe dengan

multivitamin dan pemberiaan tablet Fe pada remaja putri sejak usia sekolah

menengah (Depkes RI, 2002).

Kehilangan fisiologis basal dari tubuh melalui kulit dan alat pencernaan

diperkirakan 14 mikrogram per kilogram berat badan per hari atau sekitar 0,8

miligram bagi wanita dewasa yang berat badannya 55 kilogram. Wanita selain

(31)

melalui proses menstruasi. Jumlah zat besi yang hilang meliputi 95% wanita

menstruasi adalah 1,6 miligram per hari (Martianto, 1992).

Wanita yang berat badannya 55 kilogram, memerlukan tambahan zat besi

untuk pembentukan hemoglobin sejumlah 500 miligram, untuk pembentukan

janin 290 miligram dan untuk plasentas 25 miligram serta untuk darah yang

keluar pada saat melahirkan diperkirakan total kebutuhan zat besi wanita hamil

selama sembilan bulan kehamilan adalah 1000 miligram (Martianto, 1992).

9. Jarak Rumah ke Tempat Pelayanan Kesehatan

Sasaran ibu hamil ini hendaknya digambarkan dalam peta wilayah dengan

kode yang diperbaharui setiap bulan, sehingga ada peta ibu hamil yang bersifat

dinamis. Peta ini perlu dilengkapi dengan lokasi ibu hamil berisiko (Depkes RI,

1996).

Pemanfaatan peta wilayah ini berguna untuk pembangunan fasilitas

kesehatan sehingga semua masyarakat dapat menjangkau pelayanan kesehatan

yang bersifat urgensi. Dengan adanya peta wilayah ibu hamil maka diharapkan

pelayanan kesehatan yang ada di desa dapat dijangkau dengan jarak kurang dari

3000 meter (Depkes RI, 1996)

10. Penyakit atau Kelainan Bawaan pada Janin

Morbiditas dan mortalitas perinatal mempunyai kaitan sangat erat dengan

(32)

penyebab morbiditas dan mortalitas janin antara lain anoksia dan hipoksia,

infeksi, trauma lahir dan cacat bawaan.

11. Penyakit Infeksi

Infeksi terjadi melalui kuman yang menulari janin dengan cara kontak

langsung dengan daerah-daerah yang sudah dicemari kuman, misalnya:

a). Pada keadaan ketuban pecah dini, kuman dari vagina masuk ke dalam rongga

amnion.

b). Partus lama dan sering dilakukan pemeriksaan vagina yang tidak

memperhatikan teknik aseptik dan antiseptik memungkinkan masuknya

kuman ke rongga vagina dan kemudian ke dalam rongga amnion.

c). Pada ibu yang menderita gonorea, kuman menulari janin pada saat janin

melalui jalan lahir.

2.4. Pencegahan Kelahiran Mati

2.4.1. Pelayanan Antenatal-Care Secara Rutin

Pelayanan antenatal adalah pelayanan yang diberikan kepada ibu hamil secara

berkala untuk menjaga kesehatan ibu dan janinnya. Hal ini meliputi pemeriksaan

kehamilan dan tindak lanjut terhadap penyimpangan yang ditemukan, pemberian

intervensi dasar (misalnya pemberian imunisasi TT dan teblet Fe), serta mendidik dan

memotivasi ibu agar dapat merawat dirinya selama hamil dan mempersiapkan

(33)

Penerapan praktis pelayanan antenatal-care sering dipakai standard minimal

yaitu, terdiri atas (Depkes RI, 1996) :

1). Timbang berat badan dan (pengukuran) tinggi badan (suatu teknologi tepat guna)

yang dapat dimanfaatkan untuk menilai suatu status gizi ibu.

2). Pemeriksaan tekanan darah

3). Pemeriksaan Hb

4). Pemeriksaan tinggi fundus uteri

5). Pemberian tetanus toksoid (TT) dua kali selama hamil

6). Pemberian tablet zat besi (Fe) minimal 90 tablet selama hamil.

Antenatal-care merupakan kegiatan pemeriksaan ibu dan janin selama

kehamilan yang dilakukan secara teratur. Pemeriksaan antenatal pertama kali

biasanya dilakukan pada bulan pertama kehamilan, selanjutnya periksa ulang 1 kali

sebulan dan periksa ulang 1 kali setiap minggu sesudah kehamilan 9 bulan.

Jadwal pemeriksaan antenatal adalah sebagai berikut:

a. Trimester I dan II

1. Setiap bulan sekali

2. Di ambil data tentang laboratorium

3. Pemeriksaan Ultrasonografi

4. Nasehat Diet : - Empat sehat lima sempurna

- Protein ½ gr/Kg berat badan ditambah satu telor/hari

5. Observasi : - Penyakit yang dapat mempengaruhi kehamilan

(34)

6. Rencana : - Pengobatan penyakit

- Menghindari terjadinya komplikasi kehamilan

- Imunisasi tetanus I

b. Trimester III

1. Setiap seminggu atau dua minggu sampai ada tanda kelahiran tiba

2. Evaluasi data laboratorium untuk melihat hasil pengobatan

3. Diet empat sehat lima sempurna

4. Pemeriksaan ultrasonografi

5. Imunisasi tetanus II

6. Observasi : - Penyakit yang menyertai kehamilan

- Komplikasi hasil trimester ketiga

- Berbagai kelainan kehamilan trimester III

7. Nasehat dan petunjuk tentang:

- Tanda inpartu

- Kemana harus datang untuk melahirkan

Frekuensi kunjungan masing-masing ibu hamil berbeda-beda tergantung pada

keadaan masing-masing ibu hamil (keluhan-keluhan). Tujuan pengawasan antenatal

ialah menyiapkan sebaik-baiknya fisik dan mental ibu hamil, serta menyelamatkan

ibu dan anak dalam kehamilan, persalinan dan masa nifas sehingga keadaan ibu pada

saat postpartum dalam keadaan sehat dan normal, tidak hanya fisik akan tetapi juga

(35)

1). Adanya kelainan fisik atau psikologik harus ditemukan dini dan diobati

2). Wanita melahirkan tanpa kesulitan dan bayi yang dilahirkan sehat fisik maupun

mental (Depkes RI, 1990).

2.4.2. Pengawasan Terhadap Kehamilan Risiko Tinggi (High Risk

pregnancy)

Kehamilan risiko tinggi adalah kehamilan dimana jiwa dan kesehatan ibu atau

janin dapat terancam. Penentuan kehamilan dengan risiko tinggi pada ibu maupun

janin dapat dilakukan dengan cara:

a. Melakukan anamnesa yang intensif (baik) yakni anamnese identitas (istri dan

suami), anamnese umum (tentang keluhan-keluhan, nafsu makan, tidur,

perkawinan, tentang haid, tentang riwayat kehamilan yang lalu dan

sebagainya)

b. Melakukan pemeriksaan fisik

c. Melakukan pemeriksaan penunjang (teknik diagnosa gawat janin), seperti:

1) Pemeriksaan laboratorium, misalnya pemeriksaan urine dan darah

sekurang-kurangnya 2 kali selama kehamilan (pada permulaan dan akhir

kehamilan)

2) Pemeriksaan rontgenologi

Pemeriksaan rontgenologi di pakai sebagai penunjang diagnosa bila

terdapat keragu-raguan pada pemeriksaan obstetrik. Pemeriksaan ini

(36)

dapat memberikan informasi tentang keadaan janin dan kandungan (letak

janin, posisi janin dan tanda-tanda kematian janin dalam kandungan)

3) Pemeriksaan Ultrasonografi (USG)

USG tidak berbahaya bagi janin, jadi boleh dipergunakan pada kehamilan

muda. Pemeriksaan USG dapat mengetahui letak plasenta, jumlah air

ketuban, taksiran berat badan janin, gerakan dan bunyi jantung janin

(Depkes RI, 1990)

2.4.3. Mewujudkan Pelayanan Kebidanan Yang Baik Dan Bermutu

Menurut Prawirohardjo hal-hal di bawah ini sangat perlu menjadi perhatian

untuk dikembangkan seluas-luasnya dalam membina pelayanan kebidanan yang baik

dan bermutu memecahkan masalah kematian perinatal, antara lain:

a. Semua ibu hamil menggunakan kesempatan untuk menerima pengawasan

serta pertolongan kehamilan, persalinan dan nifas.

b. Walaupun tidak semua persalinan berlangsung di rumah sakit, namun harus

ada kemungkinan bahwa ibu tersebut dapat menerima perawatan segera di

rumah sakit jika terjadi komplikasi.

c. Pemberian prioritas bersalin di rumah sakit kepada:

1. Wanita dengan komplikasi obstetrik: panggul sempit, preeklamsia dan

(37)

2. Wanita dengan riwayat obstetrik yang buruk: perdarahan postpartum,

kematian janin sebelum lahir, dan sebagainya pada kehamilan

sebelumnya.

3. Wanita dengan kehamilan pertama, kelima atau lebih

4. Wanita dengan umur di bawah 20 tahun atau 35 tahun ke atas.

2.4.4. Pengawasan Ibu dan Bayi

Pengawasan dan pengenalan tanda bahaya pada kehamilan, persalinan dan

nifas adalah tanda/gejala yang menunjukkan ibu atau bayi yang dikandungnya dalam

keadaan bahaya. Bila ada tanda bahaya, ibu perlu mendapatkan pertolongan segera di

rumah sakit (Depkes RI,2001).

Kebanyakan kehamilan berakhir dengan persalinan dan masa nifas normal.

Namun, 15 sampai 20 diantara 100.000 ibu hamil mengalami gangguan pada

kehamilan, persalinan atau nifas (Depkes RI, 2001).

Gangguan tersebut dapat terjadi secara mendadak, dan biasanya tidak dapat

diperkirakan sebelumnya. Karena itu, tiap ibu hamil, keluarga dan masyarakat perlu

mengetahui dan mengenali tanda bahaya. Tujuannya, agar dapat segera mencari

pertolongan ke bidan, dokter atau langsung ke rumah sakit untuk menyelamatkan

jiwa ibu dan bayi yang dikandungnya (janin) (Depkes RI, 2001).

Ada 10 tanda bahaya yang perlu dikenali dalam pengawasan ibu dan bayi

(38)

1. Ibu tidak mau makan dan muntah terus

2. Berat badan ibu hamil tidak naik

3. Perdarahan

4. Bengkak tangan/wajah, pusing, dan dapat diikuti kejang

5. Gerakan janin berkurang atau tidak ada

6. Kelainan letak janin dalam rahim

7. Ketuban pecah sebelum waktunya (ketuban pecah dini)

8. Persalinan lama

9. Penyakit ibu yang berpengaruh terhadap kehamilan

10.Demam tinggi pada masa nifas (Depkes RI, 2001).

Pengenalan tanda bahwa tersebut di atas maka perlu dilakukan pengawasan

seperti tersebut dibawah ini:

a. Pengawasan terhadap terjadinya infeksi

b. Pengawasan terhadap terjadinya trauma kelahiran.

Upaya peningkatan mutu pelayanan dan pengawasan diperlukan suatu

manajemen yang baik dalam penanganan kelahiran mati. Untuk terlaksananya

kegiatan pengawasan kelahiran mati perlu di dukung oleh sumber daya manusia yang

profesional dan sistem pencatatan dan pelaporan (Depkes RI, 2003).

2.5. Manajemen Puskesmas

Pelayanan yang baik maka dibutuhkan berbagai sumber daya yang mengatur

(39)

Koontz dan Weirich, 1992; Winardi, 1990 dan juga pada dasarnya menyatakan bahwa

manajemen terdiri dari planning, organizing, actuating dan controlling (POAC).

Luther Gullick (1937) menyebutkan proses usaha dalam manajemen yang meliputi

planning, organizing, staffing, directing, coordinating, operating, reporting,

budgeting dan supervising (POSDCORBS). Stoner di kutip dari Hellriegel dan

Slocum, 1992; Koontz dan Weirich, 1992; Winardi, 1990 memberikan definisi bahwa

manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, memimpin dan mengawasi

usaha-usaha dari anggota organisasi dan dari sumber organisasi lainnya untuk

mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan (Yoga, 2003).

Pelaksanaan manajemen puskesmas perlu memperhatikan upaya manajemen

kebutuhan (demand) yang ditandai dengan skala prioritas dan penyediaan pelayanan

waktu yang tepat. Menejemen puskesmas memiliki peran untuk melakukan

perencanaan pengembangan dengan mengidentifikasi kesempatan yang ada,

mengevaluasi manfaat bagi pelayanan pasien, penghitungan laba-rugi pengembangan

dan penilaian terhadap faktor lingkungan yang terkait (Yoga, 2003).

Mutu pelayanan kesehatan adalah penampilan yang sesuai (berhubungan

dengan standar-standar) dari suatu intervensi yang diketahui aman, dapat memberikan

hasil kepada masyarakat yang bersangkutan dan mempunyai kemampuan untuk

menghasilkan dampak pada kematian, kesakitan, ketidakmampuan dan kekurangan

gizi (Wijono, 1999)

Avedis Donobedian (1980) dalam bukunya The Definition of Quality and

(40)

Assessment dalam Wijono (1999) mengatakan bahwa mutu adalah suatu sifat yang

dimiliki dan merupakan suatu keputusan terhadap unit-unit pelayanan tertentu dan

bahwa pelayanan dibagi ke dalam dua bagian yaitu teknik dan interpersonal. Mutu

pelayanan kesehatan terdiri dari aplikasi ilmu kedokteran (medical science) dan

teknologi yang memaksimalkan manfaatnya terhadap kesehatan, tanpa menambah

risikonya. Oleh karenanya, derajat mutu, pelayanan yang disediakan diharapkan

memberikan keseimbangan yang paling baik antara risiko dan manfaat (Wijono,

1999).

Mutu pelayanan kesehatan adalah hasil akhir (outcome) dari interaksi dan

ketergantungan antara berbagai aspek, komponen atau unsur organisasi pelayanan

kesehatan sebagai suatu sistem. Menurut Prof. A. Donabedian, ada tiga pendekatan

evaluasi (penilaian) mutu yaitu dari struktur input, proses, output dan outcome

(Wijono, 1999).

a. Input

Struktur input meliputi sarana fisik perlengkapan dan peralatan, organisasi

dan manajemen, keuangan, sumber daya manusia dan sumber daya lainnya di fasilitas

kesehatan.

b. Proses

Proses adalah semua kegiatan yang dilaksanakan secara profesional oleh

tenaga kesehatan (dokter, perawat, dan tenaga profesi lain) dan interaksinya dengan

(41)

tindakan, prosedur dan penanganan kasus. Untuk mencapai hasil cakupan kegiatan

pokok, puskesmas melakukan rangkaian kegiatan proses sebagai berikut:

1. Pengorganisasian tenaga yang ada

2. Lokakarya mini puskesmas

3. Pemantauan wilayah setempat (PWS)

4. Penyediaan peralatan dan bahan-bahan tepat waktu

5. Bimbingan teknis petugas pelaksana sesuai prosedur tetap

6. Penyuluhan kesehatan pada masyarakat

7. Pelayanan yang ramah dan bermutu

c. Output

Proses penyusunan kegiatan yang sistematis dan terencana maka dapat

mengatasi masalah-masalah kesehatan yang dihadapi dalam rangka pencapaian tujuan

yang telah ditetapkan. Untuk mencapai tujuan dengan sumber daya yang ada supaya

lebih efisien dengan memperhatikan keadaan lingkungan sosial, budaya, fisik dan

biologik.

Output yang dihasilkan dapat dirumuskan kekurangan atau kelemahan yang

ada pada input dan proses, di samping juga melihat faktor lingkungan. Walaupun

lingkungan sendiri tidak dapat segera diperbaiki dengan kegiatan puskesmas, tetapi

pengetahuan tentang keadaan lingkungan dapat membantu merumuskan strategi atau

(42)

d. Outcome

Outcome adalah hasil akhir kegiatan dan tindakan tenaga kesehatan

profesional terhadap pasien. Dapat berarti adanya perubahan derajat kesehatan dan

kepuasan baik positif maupun negatif (Wijono, 1999).

Penilaian terhadap outcome adalah evaluasi hasil akhir dari kesehatan atau

kepuasan. Evaluasi ini dalam banyak hal memberikan bukti atau fakta akhir dimana

pelayanan asuhan baik, buruk, atau diabaikan yang disebabkan karena keadaan sosial

yang mendasar dalam arti luas dan kesepakatan profesi dimana hasil-hasilnya timbul,

paling sedikit terhadap derajat pelayanan asuhan yang semestinya (Wijono, 1999).

Terselenggaranya berbagai upaya kesehatan perorangan dan upaya kesehatan

masyarakat maka puskesmas harus di tunjang oleh manajemen puskesmas yang baik.

Rangkaian kegiatan sistematis yang dilaksanakan oleh puskesmas membentuk

fungsi-fungsi manajemen. Ada tiga fungsi-fungsi manajemen puskesmas yaitu perencanaan,

pelaksanaan dan pengendalian serta pengawasan dan pertanggungjawaban. Semua

fungsi tersebut harus dilaksanakan secara terkait dan berkesinambungan (Depkes RI,

2004)

Puskesmas dalam pelayanan ibu hamil untuk mencapai sasaran dan target

yang diharapkan perlu dilaksanakan pengelolaan upaya penjaringan ibu hamil melalui

pemeriksaan kesehatan K1 dan K4 melalui instrumen yang ada dipuskesmas yaitu

perencanaan tingkat puskesmas, minilokakarya, dan stratifikasi puskesmas (Depkes

(43)

Pelayanan kesehatan perinatal di wilayah kerja Puskesmas lebih diutamakan

kepada upaya peningkatan, pencegahan dan deteksi dini risiko tinggi pada masa

perinatal serta penatalaksanaannya pada tingkat pelayanan kesehatan dasar yang

sesuai dengan batas kewenangan petugas kesehatan dalam rangka mendukung upaya

penurunan kematian bayi terutama pada masa neonatal (Depkes RI, 1993).

Contoh kasus:

Kegiatan pelayanan ibu hamil kunjungan pertama (K1), maka diperhitungkan

bahwa K1 diupayakan mencapai 85% (output).

Input

- Tenaga Kesehatan

- Sarana dan prasarana

- Biaya

Proses

- Penyuluhan kesehatan setiap kali dalam pembinaan posyandu

- Pembinaan kader posyandu oleh bidan di desa

- Menambah waktu buka puskesmas pembantu

Output

- Kegiatan yang dilakukan pada proses dan input maka diharapkan kunjungan ibu

(44)

Outcome

- Pelayanan kunjungan ibu hamil yang mencapai 85% maka deteksi dini ibu hamil

risiko tinggi dapat segera ditangani sebagai pencegahan terjadinya kematian ibu dan

bayi.

Pelayanan kesehatan perinatal masih belum mendapat perhatian sepenuhnya dan

belum diupayakan secara komprehensif. Hal ini terlihat dari:

1. Kurangnya jangkauan dan mutu pelayanan kesehatan perinatal yang

menyebabkan belum terjaminnya kesejahteraan janin dan keselamatan bayi baru

lahir serta belum memadainya pelaksanaan perawatan pada bayi baru lahir.

2. Terbatasnya kemampuan dan keterampilan petugas dalam pelayanan kesehatan

perinatal termasuk penatalaksanaan kegawat-daruratan.

3. Mekanisme rujukan medis pada saat ini masih belum mendukung upaya

menurunkan kematian perinatal di suatu wilayah oleh karena banyaknya faktor

teknis dan non teknis yang berada di luar batas kemampuan petugas kesehatan.

4. Masih kurangnya kesadaran masyarakat dalam memelihara kesehatan bayi yang

harus di mulai sejak janin dalam kandungan hingga minggu pertama kehidupan

bayi.

Hal ini terlihat dari kunjungan antenatal rata-rata kurang dari 4 kali, masih

banyak persalinan yang di tolong oleh dukun bayi, masih banyak perawatan bayi

baru lahir tidak higienes, masih banyak ibu-ibu yang memberikan makanan lain

selain air susu kepada bayi baru lahir dan masih kurangnya penyuluhan mengenai

(45)

Hal-hal yang perlu diperhatikan berdasarkan keadaan tersebut diatas maka

perlu perencanaan pelayanan kesehatan perinatal di puskesmas sebagai berikut:

1. Menentukan target sasaran.

Target sasaran ditentukan oleh petugas puskesmas bersama-sama dengan

kepala desa atau kader posyandu. Target pelayanan kesehatan perinatal

disesuaikan dengan target ibu hamil, pertolongan persalinan dan bayi baru lahir

di wilayah tersebut. Target di buat per RT/RW, per posyandu atau per desa

disesuaikan dengan kebutuhan setempat.

2. Menyiapkan sarana dan peralatan.

Sarana dan peralatan bagi penyelenggaraan pelayanan kesehatan perinatal

disiapkan sesuai dengan kebutuhan pelayanan kesehatan dasar di tingkat

keluarga, masyarakat, pondok bersalin, puskesmas dan puskesmas dengan

perawatan. Persiapan ini meliputi antara lain, menyiapkan kamar/ruangan untuk

pelayanan antenatal dan tempat bersalin yang bersih dengan sistem penerangan

yang memadai, peralatan pertolongan persalinan yang steril, peralatan untuk

perawatan tali pusat di rumah, sarana transportasi untuk persiapan rujukan dan

sebagainya. Persiapan dilakukan melalui pendekatan kepada keluarga dan

masyarakat setempat.

Sarana dan peralatan yang harus tersedia di pusat pelayanan kesehatan

masyarakat seperti puskesmas, polindes dan pustu seperti tercantum dalam

Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 900/MENKES/SK/VII/2002 dapat di

(46)

Tabel 2.1

Daftar Peralatan Untuk Pertolongan Persalinan

No Jenis Alat Tersedia Berfungsi

1. Tensi meter

2. Stetoskop binoculer

3. Monoral (alat pendengar denyut jantung janin

dalam kandungan)

4. Timbangan dewasa

5. Timbangan bayi

6. Pengukur panjang bayi

7. Termometer

8. Ambu bag dengan masker resusitasi (ibu dan bayi)

9. Penghisap lendir

10. Lampu/sorot

11. Sterilisator

12. Alat pemeriksa Hb (sahli)

13. Sarung tangan untuk mencuci alat

14. Masker

15. Pengamanan mata

16. Forceps

17. Gunting tali pusat

18. Gunting benang

24. Pengikat tali pusat

25. Tampon vagina

26. Jarum kulit dan otot

27. Sarung tangan

28. Benang sutera dan catgut

29. Kapas

Keterangan :

: Tersedia dan Berfungsi

(47)

Peralatan proses persalinan yang seharusnya tersedia di puskesmas,

pustu, maupun polindes sebanyak 29 jenis peralatan. Selain peralatan

tersebut, perlu juga disediakan formulir persalinan. Untuk lebih jelas

formulir yang harus tersedia dapat di lihat pada tabel 2.2 di bawah ini.

Tabel 2.2

Formulir Yang Disediakan Dalam Proses Persalinan

No Jenis Formulir yang Disediakan Tersedia

1. Formulir ANC

2. Formulir Partograp

3. Formulir Persalinan/Nifas dan KB 4. Buku register: ibu, bayi, anak, KB

5. KMS ibu hamil

6. Formulir laporan

7. Formulir rujukan

Catatan :

ANC : Antenatal-Care KB : Keluarga Berencana KMS : Kartu Menuju Sehat

3. Menyiapkan tenaga yang mampu dan terampil.

Kemampuan petugas kesehatan terutama bidan dan paramedis

puskesmas yang memberikan pelayanan kesehatan perinatal termasuk

penatalaksanaan kegawat-daruratan dan rujukan perinatal yang sesuai

dengan kewenangannya dapat ditingkatkan dengan pelatihan, pembinaan

dan konsultasi berjenjang dengan dokter puskesmas/dokter ahli rumah

(48)

4. Menyiapkan kemandirian keluarga.

Peran serta masyarakat dan kemandirian keluarga dalam mendukung

upaya keamanan persalinan dan keselamatan bayi baru lahir dapat

ditingkatkan melalui penyuluhan kesehatan yang intensif antara lain

penyuluhan mengenai tanda-tanda risiko tinggi pada ibu hamil dan bayi

baru lahir berikut pencegahannya, tempat yang tepat bagi keluarga untuk

mencari pertolongan kesehatan, cara merawat bayi baru lahir, memberikan

ASI kepada bayi segera setelah lahir dan sebagainya.

5. Manfaatkan dan mendayagunakan potensi dan sumber daya masyarakat

yang mendukung terselenggaranya upaya keamanan persalinan dan

keselamatan bayi baru lahir, misalnya dukungan dana sehat, melatih

dukun beranak, dan lain-lain

6. Membuat rencana pembinaan dan pengawasan serta rencana tindak lanjut

berdasarkan pada skala prioritas. Dalam menyusun rencana ini termasuk

pula rencana kegiatan pembinaan dan supervisi dukun bayi, pembinaan

ibu-ibu/kelompok peminat KIA, kader dan posyandu (Depkes RI, 1993).

2.6. Landasan Teori

MacMahon dan Pugh (1970) dalam Murti (2003) mengemukakan bahwa

setiap efek atau penyakit tak pernah tergantung kepada sebuah faktor penyebab, tetapi

(49)

Faktor-faktor yang memudahkan terjadinya efek disebut promotor sedangkan yang

menghambat terjadinya efek disebut inhibitor.

Kelahiran mati atau still birth merupakan salah satu bagian dari kematian

perinatal yang menjadi indikator kesehatan suatu daerah/bangsa. Kelahiran mati

dipengaruhi oleh banyak faktor seperti pelayanan antenatal-care (K1, K4), paritas, riwayat

kehamilan, lingkungan, status gizi, penyakit infeksi, pendidikan, pengetahuan, dan faktor

lain yang menyebabkan terjadinya kelahiran mati.

Manajemen pelayanan kesehatan dan sistem kesehatan untuk cepat

tanggap juga memberi pengaruh terhadap terjadinya kelahiran mati. Kebijakan

terhadap sarana dan prasarana dalam upaya peningkatan mutu kesehatan ibu

hamil serta kemampuan deteksi dini terhadap terjadinya kelainan kehamilan

merupakan faktor penting dalam deteksi dini kelahiran mati (Sarimawar, 2004).

Dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan antenatal atau

menyelesaikan masalah-masalah mutu dengan program jaminan mutu dilakukan

pendekatan sistem artinya memperhatikan proses pelayanan antenatal, faktor ibu

(50)

2.7 Kerangka Konsep

Berdasarkan landasaan teori dan studi kepustakaan maka peneliti membuat

suatu kerangka konsep penelitian seperti dibawah ini.

Antenatal-Care

1. Kunjungan K1 2. Kunjungan K4

2.8 Jawaban Penelitian

1). Ada hubungan kunjungan K1 ibu hamil dengan kelahiran mati

2). Ada hubungan kunjungan K4 ibu hamil dengan kelahiran mati

3). Ada hubungan paritas dengan kelahiran mati

4). Ada hubungan anemia ibu dengan kelahiran mati

5). Ada hubungan riwayat penyakit ibu dengan kelahiran mati

6). Ada hubungan riwayat persalinan dengan kelahiran mati

7). Ada hubungan fasilitas pelayanan kesehatan dengan kelahiran mati

8). Ada hubungan penolong persalinan dengan kelahiran mati

9). Ada hubungan jarak rumah ke tempat persalinan dengan kelahiran mati

Faktor Ibu

1. Paritas 2. Anemia

3. Riwayat penyakit ibu 4. Riwayat Persalinan

Pelayanan Kesehatan

1. Fasilitas Pelayanan

kesehatan

2. Penolong persalinan

3. Jarak rumah ke tempat

persalinan

Lahir

HIDUP

(51)

BAB 3

METODE PENELITIAN

3.1. Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian bersifat deskriptif analitik. Rancangan

penelitian yang digunakan adalah, studi analitik dengan desain case control study

dengan memilih kasus kelahiran mati dan kontrol kelahiran hidup. Peneliti kemudian

melakukan wawancara untuk mengetahui paparan yang dialami subjek pada waktu

lalu (retrospektip) melalui alat ukur kuesioner.

3.2. Tempat dan Waktu 3.2.1. Tempat

Penelitian dilakukan di Kabupaten Tapanuli Utara karena berdasarkan

survei awal yang dilakukan jumlah kelahiran mati meningkat selama tahun

2005-2006.

3.2.2. Waktu

Penelitian ini dilakukan mulai bulan Januari – September 2007

3.3. Populasi dan sampel 3.3.1. Populasi

Populasi dalam penelitian adalah ibu melahirkan di Kabupaten Tapanuli Utara

tahun 2005 - 2006 yang terdiri dari kasus yaitu, ibu yang mengalami kelahiran mati

(52)

3.3.2. Sampel

Sampel dalam penelitian ini adalah merupakan total kasus yaitu 67

orang ibu yang bayinya mengalami kelahiran mati dan kontrol sebanyak 67

orang ibu yang bayinya kelahiran hidup dengan perbandingan kasus : kontrol

adalah 1: 1 kemudian dilakukan wawancara dengan menggunakan kuesioner

terstruktur. Pengambilan sampel dilakukan dengan kriteria inklusi yaitu

responden bersedia untuk diwawancarai, usia kehamilan ibu 28 minggu dan

berat janin lebih dari atau sama dengan 1000 gram, sedangkan kriteria eksklusi

jika responden meninggal atau pindah, usia kehamilan ibu kurang dari 28

minggu, dan berat badan janin lahir kurang dari 1000 gram. Sampel dalam

penelitian ini dengan melakukan matching pendidikan dan pekerjaan .

Matching dilakukan untuk mengurangi bias penelitian. Matching

pendidikan diketahui karena pendidikan memiliki pengaruh terhadap terjadinya

kelahiran mati, dalam hal ini pendidikan berpengaruh terhadap tingkat

pengetahuan ibu dalam merawat kehamilan, sehingga ibu mengetahui

pentingnya perawatan masa kehamilan dan memeriksakan umur kehamilan

untuk mendeteksi secara dini jika ada masalah dalam perkembangan janin.

Matching pekerjaan karena ibu yang melakukan pekerjaan yang berat

dapat mengganggu perkembangan janin yang dapat menimbulkan kelainan

pada janin dan rahim, sehingga dapat menyebabkan kelahiran mati.

Berdasarkan hal tersebut, maka dilakukan matching terhadap pendidikan dan

(53)

3.3.3. Teknik Pengambilan Sampel

Pengambilan kasus diambil berdasarkan buku kohort ibu yang ada di

puskesmas, kemudian dilakukan kunjungan dan melakukan wawancara dengan

menggunakan alat kuesioner yang telah disusun secara sistematis.

Kontrol diambil dengan memperhatikan matching yang dibuat pada

penelitian ini yaitu, pendidikan dan pekerjaan ibu. Kontrol adalah ibu hamil

yang berada pada satu wilayah kerja puskesmas dimana terdapat ibu yang

bayinya kelahiran mati.

3.4. Manajemen Data 3.4.1. Data Primer

Pengumpulan data langsung dari hasil wawancara terhadap responden yaitu:

a) kunjungan K1, b) kunjungan K4, c) paritas, d) riwayat penyakit ibu, e) riwayat

persalinan, f) fasilitas pelayanan kesehatan, g) penolong persalinan, h) jarak rumah ke

tempat persalinan.

3.4.2. Data Sekunder

Data sekunder diperoleh dari formulir ANC, formulir partograp, formulir

persalinan/nifas dan KB, buku register ibu, bayi, anak, KB, catatan hasil pemeriksaan

Hb dan formulir laporan puskesmas dan rumah sakit serta data-data yang ada di dinas

(54)

3.5. Definisi Operasional

a) Lahir adalah keluarnya hasil konsepsi dari rahim ibu dalam keadaan hidup atau

mati.

b) Kelahiran hidup adalah keluarnya hasil konsepsi dari rahim ibu dan menunjukkan

tanda-tanda kehidupan tanpa memandang usia kehamilan

c) Kelahiran mati adalah keluarnya hasil konsepsi dari rahim ibu dalam keadaan

mati pada usia kehamilan 28 minggu atau lebih.

d) Kunjungan K1adalah kunjungan pertama kali pemeriksaan kehamilan ibu oleh

petugas kesehatan

e) Kunjungan K4 adalah kumjungan empat kali pemeriksaan kehamilan ibu oleh

petugas kesehatan

f) Paritas merupakan banyaknya persalinan yang terjadi dalam keadaan hidup

ataupun mati

g) Anemia adalah kadar Hb dalam darah kurang dari 11gr% (Depkes RI, 2002)

h) Riwayat penyakit ibu adalah ibu yang menderita salah satu penyakit seperti

diabetes, hipertensi dan anemia yang mengakibatkan terganggunya

perkembangan janin dalam rahim ibu.

i) Jarak rumah ke tempat persalinan adalah jarak rumah ibu ke tempat bersalin

dalam satuan meter.

j) Riwayat persalinan adalah cara ibu melahirkan di masa lalu seperti operasi sesar,

(55)

k) Fasilitas pelayanan kesehatan yaitu peralatan yang ada di puskesmas maupun di

polindes yang digunakan untuk menolong proses persalinan.

l) Penolong persalinan adalah orang yang menolong ibu bersalin selama proses

persalinan

3.6. Aspek Pengukuran

a). Lahir merupakan kejadian keluarnya hasil konsepsi yang di ukur menggunakan

skala nominal :

1. Lahir Mati

0. Lahir Hidup

b). Kunjungan K1 ibu hamil merupakan pemeriksaan pertama kali kehamilan oleh

tenaga kesehatan yang di ukur menggunakan skala nominal :

1. Tidak ada

0. Ya

c). Kunjungan K4 ibu hamil merupakan kunjungan pemeriksaan kehamilan empat

kali oleh tenaga kesehatan yang di ukur menggunakan skala nominal :

1. Tidak ada

0. Ya

d). Paritas merupakan banyaknya kelahiran yang terjadi yang di ukur menggunakan

skala nominal :

1. Risiko Tinggi, jika paritas 1 atau >3 kali

(56)

e). Anemia merupakan rendahnya kadar Hb dalam sel-sel darah merah yang di ukur

menggunakan skala nominal (Depkes RI, 2002):

1. Anemia, jika kadar Hb dalam sel-sel darah merah < 11 mg%

0. Tidak Anemia, jika kadar Hb dalam sel-sel darah merah ≥ 11 mg%

f). Riwayat penyakit ibu adalah ibu yang menderita salah satu penyakit diabetes,

hipertensi dan anemia yang di ukur menggunakan skala ordinal yang dibedakan

atas:

1. Risiko tinggi jika ibu menderita salah satu penyakit seperti hipertensi,

diabetes, dan anemia.

0. Tidak risiko tinggi jika ibu tidak ada menderita penyakit hipertensi, diabetes

dan anemi.

g). Jarak rumah ke tempat persalinan adalah jarak rumah ibu ke tempat bersalin

dibedakan atas jarak (Depkes RI, 1996) :

1. Jauh jika berjarak > 3000 meter

0. Dekat jika berjarak ≤ 3000 meter

h). Riwayat persalinan merupakan cara kehamilan ibu di masa lalu yang di ukur

menggunakan skala ordinal yang dibedakan atas:

1. Risiko tinggi jika ibu pernah mengalami operasi, abortus, kelainan letak

janin.

0. Tidak risiko tinggi jika ibu tidak pernah mengalami operasi, abortus,

(57)

i). Fasilitas pelayanan kesehatan yaitu peralatan yang ada di puskesmas maupun di

polindes yang digunakan untuk menolong proses persalinan berdasarkan

Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 900/MENKES/SK/VII/2002 yang di ukur

menggunakan skala ordinal yang dibedakan atas:

1. Tidak lengkap jika peralatan persalinan di puskesmas maupun polindes ada

tetapi tidak berfungsi

0. Lengkap jika peralatan yang butuhkan untuk proses persalinan di

puskesmas maupun di polindes berfungsi

j). Penolong persalinan adalah orang yang menolong ibu bersalin selama proses

persalinan yang di ukur menggunakan skala ordinal yang dibedakan atas:

1. Bukan petugas kesehatan jika yang mengeluarkan hasil konsepsi adalah

dukun, dukun terlatih, shinse dan masyarakat.

0. Petugas kesehatan jika yang mengeluarkan hasil konsepsi adalah bidan,

perawat, dokter atau tenaga medis profesional lainnya.

3.7. Rancangan Analisis Data 3.7.1. Analisis Univariat

Untuk melihat distribusi variabel independen meliputi antenatal-care, faktor

ibu dan pelayanan persalinan yang disajikan dalam bentuk tabel distribusi.

3.7.2. Analisis Bivariat

Analisis bivariat digunakan untuk melihat hubungan variabel independen

(58)

persalinan ibu, fasilitas pelayanan kesehatan, penolong persalinan, dan jarak rumah

ke tempat persalinan dengan variabel dependen (kelahiran mati) dengan

menggunakan uji Chi-Square, pada tingkat kepercayaan 95 % (α=0,05) (Murti, 1997)

3.7.3. Analisis Multivariat

Analisis multivariat dilakukan untuk mengetahui hubungan variabel bebas

dengan kelahiran mati yang mempunyai kemaknaan statistik pada analisis bivariat,

melalui analisis regresi logistik berganda (Multiple Logistic Regression) untuk

mencari faktor risiko yang paling dominan terhadap terjadinya kelahiran mati.

Analisis multivariat dilakukan untuk beberapa variabel yang secara bersama-sama

berhubungan dengan kelahiran mati. Tahapan analisis multivariat yang akan

dilakukan adalah sebagai berikut (Murti, 1997):

1. Melakukan analisis pada model univariat pada setiap variabel dengan tujuan

untuk mengestimasi peranan masing-masing variabel.

2. Melakukan pemilahan variabel yang potensial untuk dimasukkan dalam

model. Variabel yang dipilih atau yang dianggap signifikan adalah variabel

yang mempunyai nilai p kurang dari 0,05 (p<0,05)

3. Penentuan faktor-faktor penyebab kelahiran mati, variabel yang akan

dimasukkan adalah variabel yang mempunyai nilai p kurang dari 0,05.

Dalam penelitian ini ada 9 (sembilan) variabel yang diduga berhubungan

dengan kelahiran mati yaitu kunjungan K1, kunjungan K4, paritas, anemia, riwayat

(59)

persalinan, dan jarak rumah ke tempat persalinan terhadap kelahiran mati di

Kabupaten Tapanuli Utara tahun 2005-2006.

Untuk melakukan analisis regresi logistik ini menggunakan rumus :

Ln = Bo + B1X1 + ……..+ BpXp = Bo + ∑ B1X1

perkiraan probabilitas jadi kasus

ln

dimana : p = adalah probabilitas untuk terjadi kelahiran mati

a = adalah konstanta, dan

bi = koefesien regresi yang ditaksir menggunakan metode maksimum

(maksimum likehood methode).

(60)

BAB 4

HASIL PENELITIAN

4.1. Gambaran Umum Kabupaten Tapanuli Utara a. Geografis

Kabupaten Tapanuli Utara merupakan salah satu kabupaten di Provinsi

Sumatera Utara yang berada pada ketinggian antara 300 – 1.500 meter di

atas permukaan laut. Topografi Kabupaten Tapanuli Utara beraneka ragam

yaitu tergolong datar 3,15%, landai 26,86%, miring 25,62% dan terjal

44,35%.

Kabupaten Tapanuli Utara berada pada posisi 10200 – 20410 Lintang Utara dan 980050 – 990160 Bujur Timur. Kabupaten Tapanuli Utara berbatasan langsung dengan 5 (lima) kabupaten yaitu :

- Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Toba Samosir

- Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Labuhan Batu

- Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Humbang

Hasundutan dan Kabupaten Tapanuli Tengah

- Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Tapanuli Selatan

Luas wilayah Kabupaten Tapanuli Utara sekitar 3.800,31 km2 yang

Gambar

Tabel 1.1 Distribusi Jumlah Kelahiran Mati di Kabupaten Tapanuli Utara
Tabel 2.1 Daftar Peralatan Untuk Pertolongan Persalinan
Tabel 2.2 Formulir Yang Disediakan Dalam Proses Persalinan
Tabel. 4.1 Distribusi Responden Berdasarkan Pendidikan Dan Pekerjaan
+5

Referensi

Dokumen terkait

Lokasi kegiatan terletak di wilayah Kabupaten Tapanuli Tengah dan Tapanuli Selatan, Sumatera Utara.Kondisi geologi yang cukup kompleks, dengan jenis batuan yang berumur mulai

penentu daya saing ekonomi Kabupaten Tapanuli Utara tahun 2015. 1.3

penelitian dan penulisan skripsi yang ber judul “Keanekaragaan Burung Di Hutan Batang Toru Kabupaten Tapanuli Utara Provinsi Sumatera Utara”.. Pada kesempatan ini penulis

APIP yang menjalankan proses pemeriksaan pada Inspektorat Kabupaten Tapanuli Utara.. Sebagai APIP yang

DOKUMEN PELAKSANAAN KEGIATAN KEBERSIHAN SEKOLAH SMA NEGERI 1 SIBORONGBORONG KECAMATAN SIBORONGBORONG KABUPATEN TAPANULI UTARA PROVINSI

Badan Pusat Statistik Kabupaten Tapanuli Utara, 2014, Tapanuli Utara dalam.. Angka 2014 , Tapanuli Utara: BPS Taput bekerjasama dengan

Lokasi kegiatan terletak di wilayah Kabupaten Tapanuli Tengah dan Tapanuli Selatan, Sumatera Utara.Kondisi geologi yang cukup kompleks, dengan jenis batuan yang berumur mulai

Nilai RM Komoditas Kopi Arabika Menurut Produksi di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2016-2018 SIMPULAN Daerah basis komoditas kopi arabika di Kabupaten Tapanuli Utara adalah Kecamatan