• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II GAMBARAN UMUM TERHADAP PET BOOM

2.1. Binatang dan Jenis-jenis Binatang

2.1.3 Hubungan Pemelihara dan Binatang Peliharaan

Manusia merupakan makhluk sosial, dimana bersosialisasi merupakan sesuatu yang mutlak dalam kehidupannya karena manusia hidup saling membutuhkan. Berteman termasuk dalam bersosialisasi. Manusia membutuhkan teman dan seringkali menjadikan binatang peliharaannya sebagai salah satu teman dalam kehidupannya. Di samping menjadikan binatang peliharaanya sebagai salah satu temannya manusia juga memiliki motivasi-motivasi lain dalam memelihara binatang tersebut, seperti anjing sebagai penjaga, burung dan ikan untuk keindahan dipandang, burung untuk keindahan didengar, kuda untuk dikendarai, anjing dan kucing untuk dilombakan.

Binatang peliharaan merupakan binatang yang dijinakan dan diurus oleh pemiliknya, serta memiliki ikatan emosional di antara keduanya. Ikatan emosional akan membentuk sebuah hubungan antara manusia dengan binatang. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa hubungan tersebut memberikan manfaat positif untuk pemiliknya baik itu dalam hal fisik, psikologis, dan kesejahteraan sosial, di mana membuat binatang peliharaan akan menjadi suatu kebutuhan yang semakin penting dalam rumah tangga modern.

Hubungan antara pemilik dengan binatang peliharaannya dipengaruhi oleh persepsi pemilik dan karakteristik binatang peliharaannya. Dengan melihat peran binatang peliharaan dalam hubungannya dengan temuan pada anthrozoologists,

diketahui terdapat 3 dimensi dari hubungan pemilik dengan binatang peliharaannya, yaitu: attachment, interaksi, dan peran binatang peliharaan sebagai

1. Attachment

Johnson et al. (1992) menyatakan bahwa attachment adalah tingkat kasih sayang yang terdapat di antara seseorang dengan binatang sebagai sahabat mereka. Attachment juga dapat berarti ikatan antara manusia (pemilik) dengan binatang peliharaannya (human-animal bond). Ikatan antara pemilik dengan binatang peliharaannya didefinisikan sebagai kesesuaian antara binatang dan pemilik pada fisik, perilaku, dan psikologis (Budger et al., 1998 dalam Douglas, 2005). Pemilik menganggap binatang peliharaannya sebagai sahabat atau sesuatu yang berharga sehingga kebutuhan binatang peliharaan mereka akan benar-benar dipertimbangkan. Hubungan ini juga dapat mempengaruhi kesehatan dari pemilik. Sebagai contoh, bagaimana keterikatan pada binatang peliharaan dapat mengurangi kesepian dan mengurangi stres pemiliknya, dan karena itu dikatakan dapat meningkatkan kesehatan pemiliknya.

Pengaruh dari attachment ini selanjutnya dapat diamati ketika pemilik membeli jasa perawatan (grooming) atau mainan yang dirancang untuk binatang peliharaan. Menurut para ahli, semakin tinggi attachment, semakin mungkin pemilik membeli produk yang mewah.

2. Interaksi

Dimensi kedua adalah interaksi, mengacu pada hubungan kemitraan dua arah di mana kedua belah pihak menyesuaikan perilaku mereka sesuai dengan mitra mereka (Turner, 2000 dalam Chen et al., 2012). Dalam studi yang dilakukan oleh Belk (1996), pemilik dengan binatang peliharaannya

telah terbukti akan menyesuaikan perilaku dan gaya hidup mereka ketika berinteraksi satu sama lain. Berdasarkan contoh tersebut, interaksi dapat dianggap sebagai dimensi yang signifikan untuk menguji hubungan antara pemilik dengan binatang peliharaannya.

Hal ini didukung dengan bukti-bukti yang telah diteliti oleh beberapa penelitian sebelumnya (Ellson, 2008; Greenebaum, 2004; dan Holbrook, 1996), di mana perilaku konsumsi beberapa pemilik binatang peliharaan dalam membeli produk dan jasa yang memungkinkan binatang peliharaannya lebih bersosialisasi dengan pemiliknya dan orang lain. Seperti misalnya, pelatihan dan peralatan yang dirancang untuk melibatkan binatang peliharaan dalam kegiatan indoor dan outdoor.

3. Human Substitute

Berdasarkan definisi tentang anthropomorphism, human substitute

dalam penelitian ini mengacu pada kecenderungan memanusiakan sesuatu yang bukan manusia (Chen et al., 2012). Menurut definisi tentang

anthropomorphism tersebut, lebih dari 70% dari pemilik menganggap binatang peliharaannya sebagai pengganti dari anak, saudara, dan/atau teman. Pemilik memberi makan binatang peliharaan dengan makanan manusia, memberi binatang peliharaan dengan nama-nama manusia, merayakan ulang tahun binatang peliharaan, membawa binatang peliharaan ke dokter spesialis ketika sakit, pemilik berduka ketika binatang peliharaannya mati, dan menguburkan binatang peliharaannya di pemakaman binatang peliharaan dengan semua ritual pemakaman manusia.

Sebagai contoh, ada beberapa pemilik yang akan bersedia membayar mahal perawatan medis untuk binatang peliharaannya karena pemilik menghargai binatang peliharaan tersebut seolah-olah binatang peliharaan tersebut adalah anggota keluarga pemilik. Selain itu terdapat beberapa pemilik yang akan mempersiapkan upacara keagamaan (misalnya pemakaman) untuk binatang peliharaannya, seperti yang mereka lakukan terhadap anggota keluarga mereka sendiri.

Dapat dilihat dalam dimensi ini menyiratkan bahwa pemilik akan melakukan hal-hal yang bermanfaat untuk binatang peliharaannya, seperti membeli barang kualitas unggul.

2.1.4 Pandangan Orang Jepang Terhadap Binatang Peliharaan

Pada saat ini, masyarakat Jepang sangat gemar memelihara binatang peliharaan. Hal ini dapat dilihat dari jumlah binatang peliharaan yang semakin meningkat. Orang Jepang banyak yang memperlakukan binatang peliharaannya secara khusus, yaitu seperti mereka merawat anak sendiri. Mereka memberikan makanan instan yang bergizi tinggi, dan diberikan pakaian yang bagus. Sebagian masyarakat Jepang sudah menganggap binatang peliharaannya adalah teman bagi dirinya, bahkan ada pula yang sudah menganggap binatang peliharaan tersebut sebagai keluarga.

Awal kedekatan masyarakat Jepang dengan binatang dapat dilihat dari legenda, mitos, dan cerita dalam kebudayaan. Catatan pertama mengenai keberadaan anjing sebagai teman manusia terdapat pada Nihon Shoki yang menuliskan bahwa tredapat seekor anjing bernama Ayuki yang dipelihara oleh

seorang lelaki di preferktur Hyoho. Diceritakan bahwa pada perut anjing tersebut terlihat tanda Yasakani no Magatama, setelah ia memakan badger milik tuannya. Diceritakan pula (Fujino, hlm.3), ketika Mononobe no Moriya dikalahkan oleh Soga no Umako, anjingnya setia menemani Mononobe no Moriya hingga meninggal.

Dalam Makura no Shoshi yang ditulis oleh Sei Shonagon, terdapat beberapa cerita mengenai anjing. Salah satunya merupakan cerita tentang seekor anjing yang membuat marah Ichijo Tenno (980-1011) hingga akhirnya ia diasingkan ke sebuah pulau. Namun, tak lama kemudian, anjing tersebut muncul kembali di depan rumah tuannya. Meskipun telah diusir berkali-kali, namun anjing tersebut terus menerus muncul di depan rumah pemiliknya.

Dari mitologi tersebut dapat menunjukkan bahwa sejak dahulu masyarakat Jepang telah mencitrakan figur anjing sebagai figur yang setia melayani tuannya. Sejak zaman dahulu pun, masyarakat Jepang telah menghormati dan menyayangi anjing sebagai binatang peliharaan dan teman hidup.

Selain anjing, burung juga populer menjadi binatang peliharaan di Jepang. Sebelum burung dijadikan binatang peliharaan oleh masyarakat Jepang, burung pada masyarakat Jepang kuno dipandang sebagai makhluk suci yang membawa jiwa manusia naik ke surga setelah kematian. Burung disebut memiliki kekuatan untuk terbang antara dunia orang mati dan orang hidup. Dalam budaya tradisional di Jepang, diketahui bahwa dukun atau pendeta mengenakan kostum menyerupai burung.

Dokumen terkait