BAB VI PEMBAHASAN
6.2 Risiko Diare Pada Baduta Di Kelurahan Ciputat
6.3.1 Hubungan Pemisahan Sampah Dengan Risiko Diare Pada Baduta
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa lebih banyak responden yang tidak melakukan pemisahan antara sampah organik dan anorganik. Hal tersebut dapat dilihat dari tabel 5.1 yang menunjukkan bahwa sebesar 82,2% responden tidak melakukan tahap pemisahan sampah yaitu pemisahan sampah organik dan anorganik. Sedangkan 17,8% responden melakukan pemisahan sampah organik dan anorganik.
Berdasarkan hasil analisis dari tabel 5.6 menunjukkan bahwa responden yang tidak melakukan pemisahan sampah lebih banyak berisiko diare (32,9%) dibandingkan dengan responden yang melakukan pemisahan sampah yaitu sebesar 6,2% beresiko daiare. Hasil uji chi squre
menunjukkan nilai P value sebesar 0,035 (p ≤ 0,05) yang artinya terdapat
hubungan yang signifikan antara pemisahan sampah dengan risiko diare pada baduta. Hal tersebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Aprina (2013) di Medan yang menyatakan bahwa ada hubugan antara pemisahan sampah dengan kejadian diare pada balita dengan nilai P value 0,023.
Menurut Suprapto (2005), lalat biasa hidup di tempat-tempat yang kotor dan tertarik akan bau yang busuk. Benda-benda yang bau busuk juga
merupakan makanan lalat. Sampah terutama sampah basah, cepat berbau busuk, sehingga merupakan tempat berkembang biak dan tempat makanan lalat.
Dalam penelitian ini ada hubungan antara pemisahan sampah dengan risiko diare pada baduta. Dari hasil studi ditemukan ada beberapa diantara responden yang membuang sampah basah seperti sampah-sampah potongan-potongan ikan atau ayam ke tempat sampah yang terpisah. Namun kebiasaan responden lebih banyak membuang sampah organik dan anorganik pada tempat pembuangan yang sama. Hal ini kemungkinan yang menyebabkan ada hubungan antara pemisahan sampah dengan risiko diare pada baduta.
Lalat menyukai tempat yang lembab dan berbau busuk seperti tempat penyimpanan sampah. Bau busuk yang berada di tempat sampah kemungkinan disebabkan karena sampah organik yaitu seperti potongan ikan atau ayam dan sampah anorganik dikumpul dalam tempat pembuangan yang sama. Untuk mengurangi risiko diare dapat dilakukan dengan menurunkan frekuensi daya tarik vektor Musca domestica di tempat sampah dengan cara pemisahan sampah organik dan anorganik. Hal ini dikarenakan sampah organik lebih cepat mengalami kebusukkan sehingga membuat daya tarik vektor Musca domestica menjadi tinggi. Selain itu, tempat sampah harus kuat yakni terbuat dari semen, memiliki penutup dan di bersihkan dari sisa bahan cair minimal seminggu dua kali.
6.3.2 Hubungan Penyimpanan Sampah Dengan Risiko Diare Pada Baduta Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 5.7 menunjukkan bahwa 46,7% responden yang tidak memiliki tempat penyimpanan sampah yang tidak kuat atau buruk dapat berisiko diare pada badutanya. Hasil penelitian ini dengan menggunakan uji chi squre diperoleh nilai P value
0,010 (p ≤ 0,05) yang artinya terdapat hubungan yang signifikan antara tempat penyimpanan sampah dengan risiko diare pada baduta.
Hasil penelitian ini sama dengan penelitian yang dilakukan oleh Junias dan Balelay (2008) di Kupang dengan hasil penelitian ada hubungan antara kondisi tempat penyimpanan sampah dengan kejadian diare. Dalam penelitiannya, faktor musim kemarau menjadi salah satu pendukung karena tekanan udara yang tidak menentu dengan angin kencang membuat sampah-sampah yang sudah dikumpulkan kembali beterbangan. Bahkan sebagaian berserakan karena dikoyak-koyak oleh binatang peliharaan seperti anjing. Hal inilah yang menjadi pemicu terjadinya kejadian diare pada responden.
Lebih lanjut, penelitian lain yang dilakukan oleh Budiman, (2011) menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara kondisi tempat penyimpanan sampah dengan kejadian diare pada balita dengan nilai P
value 0,001. Menurut Apriadji (1992), tempat penyimpanan sampah yang baik adalah yang mudah dibersihkan, kuat dan awet, tertutup dan ditempatkan jauh dari rumah. Karena kondisi tempat penyimpanan sampah yang buruk akan mendukung penyebaran penyakit lewat vektor penyakit.
Kondisi tempat penyimpanan sampah dengan keadaan terbuka sangat mendukung akan terjadinya penyebaran virus atau bakteri yang mengakibatkan diare pada anak balita. Tempat penyimpanan sampah yang dalam keadaan terbuka banyak dihinggapi lalat yang berterbangan bebas masuk ke rumah untuk menghinggapi makanan yang ada di rumah.
Pada umumnya kondisi tempat penyimpanan sampah di rumah penduduk di Kelurahan Ciputat cukup baik yakni kuat dan tetutup. Namun tidak sedikit pula yang memiliki tempat penyimpanan sampah yang tidak kuat dan tidak tertutup, hal ini dapat menyebabkan banyak lalat yang akan hinggap di tempat penyimpanan sampah tersebut. Menurut Dwiyatmo (2007) bahwa pemberian tutup bertujuan agar sampah tidak menjadi sarang lalat.
Pada beberapa tempat penyimpanan sampah terdapat sisa bahan cair, hal ini mungkin menjadi faktor yang dapat mengundang datangnya vektor seperti lalat. Dari hasil penelitian di lihat pada diagram 5.2 menunjukkan bahwa populasi vektor Musca domestica di pantry dengan frekuensi tinggi terdapat 15,6% sedangkan untuk frekuensi rendah terdapat 84,4%. Hasil ini tidak jauh berbeda dengan kunjungan Musca domestica
yang ada di tempat penyimpanan sampah. Berdasarkan tabel 5.5 terlihat bahwa frekuensi kunjungan Musca domestica yang tinggi sebesar 25,6% dan frekuensi kunjungan rendah 74,4%.
Lalat dapat menjadi vektor dalam penyebaran penyakit diantaranya adalah diare. Hal ini kemungkinan besar lalat dapat berkembang biak dan menyebarkan kuman-kuman yang terdapat dalam sampah tersebut kepada manusia melalui makanan dan media penularan lainnya. Ditegaskan oleh Junias (2008) lalat adalah salah satu makhluk yang berperan dalam penyebaran kejadian diare, bertindak sebagai agen atau vektor mekanis yang hanya bertindak sebagai alat pemindah pasif.
Pada pola hidup Musca domestica (lalat rumah) tempat uyang disenangi yaitu tempat yang lembab dan kotor seperti sampah yang sebagai tempat ntuk bersarang dan berkembang biak. menyukai tempat yang lembab seperti tempat penyimpanan sampah. Dalam hasil penelitian diketahui bahwa ada hubungan antara penyimpanan sampah dengan risiko diare pada balita. Hal ini kemungkinan terjadi karena penumpukkan sampah yang dibiarkan maka akan berpengaruh kepada daya tarik vektor
Musca domestica (lalat rumah) sehingga memungkinkan mencemari makanan yang akan di makan baduta dan risiko diare menjadi tinggi.
Upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko diare yakni tidak membiarkan penumpukkan sampah terjadi dengan cara pembuangan sampah secara teratur minimal seminggu dua kali. Hal ini juga dapat mencegah agar tempat penyimpanan sampah tidak terdapat sisa bahan cair yang dapat membuat mengundang daya tarik vektor Musca domestica.
(lalat rumah). Atau dapat membuat program bank sampah dimana tujuan dari program ini mengurangi volume penumpukkan sampah sehingga
sampah dapat dikelola dengan baik dan memberi manfaat bagi masyarakat selain itu dengan hal ini dapat menurunkan frekuensi kunjungan vektor
Musca domestica..
6.3.3 Hubungan Jarak Tempat Sampah Dengan Risiko Diare Pada Baduta
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa lebih banyak responden yang memiliki jarak tempat sampah kurang dari 1 meter dari pantry. Hal tersebut dapat dilihat dari tabel 5.3 yang menunjukkan bahwa sebesar 75,6% responden memiliki jarak tempat sampah lebih dari 1 meter dan 24,4% responden memiiki jarak tempat sampah dengan pantry lebih dari 1 meter.
Berdasarkan hasil analisis dari tabel 5.8 menunjukkan bahwa responden yang meiliki jarak kurang dari 1 meter lebih banyak berisiko diare (31,8%) dibandingkan dengan responden yang mempunyai jarak tempat sampah lebih dari 1 meter yaitu sebesar 26,5% beresiko diare. Hasil uji chi squre menunjukkan nilai P value sebesar 0,831 (p ≥ 0,05)
yang artinya tidak ada hubungan yang signifikan antara jarak tempat sampah dengan risiko diare pada baduta. Hal tersebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Junias (2008) di Kupang yang menyatakan bahwa tidak ada hubugan antara letak TPSS dengan kejadian diare dengan nilai P value 0,92.
Berdasarkan hasil penelitian bahwa kondisi jarak tempat sampah di Kelurahan Ciputat cenderung lebih banyak pada jarak lebih dari 1
meter. Hal ini dapat menurunkan risiko diare seperti Menurut Apriadji (1994) mengemukakan bahwa sebaiknya letak tempat sampah di tempatkan di luar rumah atau jauh dari rumah dengan tujuan agar kebersihan rumah terjaga dan mudah diangkut oleh petugas sampah/truk sampah. Diharapkan dengan hal tersebut dapat mengurangi risiko pencemaran dan penyebaran vektor penyakit akibat sampah-sampah yang ada. Selain itu, jika jarak tempat sampah dekat dengan Sarana Air Bersih (SAB) turut mendukung pencemaran lingkungan terutama pencemaran air permukaan. Apabila air pada SAB di gunakan oleh keluarga maka bukan tidak mungkin akan terserang diare (Soemirat, 2005).
Oleh karena itu sebaiknya tempat sampah diletakkan di luar rumah dengan menggunakan tempat penyimpanan yang kuat dan tertutup sehingga mengurangi aroma dari tempat dan karenanya menurunkan frekuensi kunjungan vektor Musca domestica. Selain itu, letak tempat sampah juga jauh dari Sarana Air bersih (SAB) agar tidak terjadi pencemaran air permukaan.
6.3.4 Hubungan Daya Tarik Vektor Musca domestica Dengan Risiko Diare Pada Baduta
Berdasarkan hasil analisis yang terdapat di tabel 5.10 memperlihatkan bahwa hasil pengukuran daya tarik vektor Musca domestica di rumah responden terdapat 6 baduta (37,5%) berisiko diare dengan kondisi daya tarik vektor Musca domestica tinggi sedangkan untuk
kondisi daya tarik vektor Musca domestica yang rendah terdapat 19 baduta (25,7%) berisiko diare.
Hasil uji chi square meunjukkan nilai P value sebesar 0,365 (p ≥
0,05), hal ini menjelaskan tidak ada hubungan yang signifakan antara daya tarik vektor Musca domestica dengan risiko diare pada baduta. Penelitian ini sejalan dengan Dharma (2012) yang menyatakan bahwa dari hasil uji statistik chi square diperoleh nilai p>0,05, artinya tidak ada hubungan yang signifikan antara kepadatan lalat dengan kejadian diare pada anak. Hal ini mungkin disebabkan karena kepadatan lalat yang diukur di pantry (dapur) tidak memiliki hubungan signifikan dengan kejadian diare karena kemungkinan lalat tidak mencemari makanan yang sudah tertutup dengan baik, sehingga kemungkinan menderita diare kecil.
Berbeda halnya dengan penelitian Wijayanti (2009) di Bantar Gebang. Dalam penelitian ini diperoleh informasi bahwa proporsi angka kepadatan lalat yang tinggi lebih banyak menimbulkan balita sakit diare dibandingkan angka kepadatan lalat rendah. Secara bivariat ditemukan hasilnya bahwa ada hubungan yang signifikan antara angka kepadatan lalat dengan kejadian diare pada balita. Menurut Manalu (2012) lalat merupakan salah satu insekta (serangga) yang berperan dalam masalah kesehatan masyarakat yaitu sebagai vektor penularan penyakit saluran pencernaan yang dapat memindahkan kuman/patogen penyakit dari tempat-tempat yang lembab dan kotor, misalnya sampah dan tinja,
kemudian hinggap pada makanan dan minuman manusia yang akhirnya akan dapat menyebabkan penyakit diare.
Pemerintah melalui Ditjen P2PL (2007) menyarankan masyarakat untuk mengurangi atau menghilangkan tempat perindukan lalat, dapat dilakukan upaya perbaikan hygiene dan sanitasi lingkungan rumah atau meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kebutuhan akan lingkungan yang bersih, penataan hunian rumah yang sehat.
Dalam penelitian ini, tidak ada hubungan antara daya tarik vektor
Musca domestica dengan risiko diare pada baduta di Kelurahan Ciputat. Hal ini kemungkinan terjadi akibat populasi vektor Musca domestica (lalat rumah) di pantry cenderung rendah sehingga vektor Musca domestica
(lalat rumah) tidak mencemari makanan yang berada di pantry.
Diare bisa terjadi karena infeksi yang berasal dari makanan yang terkontaminasi oleh lalat atau dapat pula terjadi akibat faktor higienitas ibu yang tidak terjaga, seperti perilaku mencuci tangan sebelum dan sesudah makan atau perilaku mencuci tangan setelah BAB.
Upaya pencegahan untuk mengurangi risiko diare pada baduta antara lain dapat dilakukan dengan cara menggunakan tudung saji agar makanan tidak terkontaminasi oleh lalat, lalu meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat dalam hal mengasuh baduta. Terutama perilaku mencuci tangan sebelum atau sesuadah makan, mencuci tangan sebelum dan sesudah BAB, mencuci tangan sebelum menyiapkan makanan untuk
baduta dan sebelum menyuapi baduta. Hal ini sejalan dengan hasil Studi oleh Marlini (2004) tentang manfaat membasuh tangan dengan sabun sesudah buang air besar, sebelum makan dan sebelum menyiapkan makanan, perilaku tersebut merupakan cara yang efektif untuk menurunkan insiden penyakit diare.
Cuci tangan yang benar adalah pakai sabun dengan air bersih yang mengalir melalui kran, pancuran, gayung pembilas yang dilakukan setelah BAB, sebelum makan dan sebelum menyiapkan makanan. (Muhadjir,2005). WHO sebagai badan kesehatan dunia telah merekomendasikan tentang pentingnya bercuci tangan WHO pada tahun 2005 mengeluarkan pesan kesehatan untuk mencuci tangan dengan 7 langkah. Dan dalam pelaksanaannya di bidang kesehatan ada yang mengembangkan menjadi 10 langkah namun intinya adalah pada tahapan proses yang di lakukan. Sedangkan bagi kalangan medis mencuci tangan harus lebih disiplin dan mengikuti standar yang berlaku di tiap – tiap rumah sakit sesuai kebijakan prosedur yang berlaku.Untuk melakukan tindakan medis operatif wajib mencuci tangan sampai ke siku (WHO, 2005).
Berikut ini adalah langkah mencuci tangan sesuai anjuran WHO 2005 yakni 7 lagkah yang di kembangkan menjadi 10 langkah :
1. Basuh tangan dengan air mengalir
3. Gosok punggung tangan dan sela – sela jari tangan kiri dan tangan kanan, begitu pula sebaliknya.
4. Gosok kedua telapak dan sela – sela jari tangan 5. Jari – jari sisi dalam kedua tangan saling mengunci.
6. Gosok ibu jari kiri berputar dalam genggaman tangan kanan dan lakukan sebaliknya.
7. Gosokkan dengan memutar ujung jari – jari tangan kanan di telapak tangan kiri dan sebaliknya
8. Gosok pergelangan tangan kiri dengan menggunakan tangan kanan dan lakukan sebaliknya.
9. Bilas kedua tangan dengan air.