• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III KERANGKA KONSEP

3.1 Kerangka Konsep

4.1 Langkah Penentuan Sampel 55

xv

5.1 Proporsi Gambaran Frekuensi Risiko Diare Pada Baduta Di Kelurahan Ciputat tahun 2014

65 5.2 Proporsi Gambaran Frekuensi Populasi Vektor Musca

domestica (lalat rumah) di Pantry

xvi Lampiran II Kuesioner Penelitian Lampiran III

Lampiran IV Lampiran V

Lembar Observasi Output Analisis Data Foto

1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Penyakit diare masih menjadi masalah global dengan derajat kesakitan dan kematian yang tinggi di berbagai negara terutama di negara berkembang, dan juga sebagai salah satu penyebab utama tingginya angka kesakitan dan kematian anak di dunia. Secara umum, diperkirakan lebih dari 10 juta anak berusia kurang dari 5 tahun meninggal setiap tahunnya di dunia dimana sekitar 20% meninggal karena infeksi diare (Magdarina, 2010). Menurut data World Health Organization (WHO), diare adalah penyebab nomor satu kematian balita di seluruh dunia, sementara menurut United Nation Children (UNICEF) memperkirakan bahwa setiap 30 detik ada satu anak yang meninggal dunia karena diare (WHO, 2002).

Diare adalah suatu penyakit dengan tanda-tanda adanya perubahan bentuk dan konsistensi dari tinja, yang melembek sampai mencair dan bertambahnya frekuensi buang air besar biasanya tiga kali atau lebih dalam sehari (Depkes, 2005).Penyakit diare pada bayi dan anak dapat menimbulkan dampak yang negatif, yaitu dapat menghambat proses tumbuh kembang anak yang pada akhirnya dapat menurunkan kualitas hidup anak.

Gejala diare biasanya timbul yang di awali dengan gelisah, suhu tubuh biasanya meningkat, nafsu makan berkurang/tidak ada, dan kemudian timbul diare, tinjanya cair dan di sertai lendir/lender dan darah. Pada orang yang terkena diare dapat menyebabkan terjadinya dehidrasi (ringan, berat, sedang),

hipoglikemi, intoleransi sekunder akibat kerusakan villi mukosa usus dan defisiensi enzim laktosa (Ngastiyah, 2005).

Sebagian besar diare terjadi pada anak dibawah usia 2 tahun. Balita yang berumur 12-24 bulan mempunyai resiko terjadi diare 2,23 kali dibanding anak umur 25-59 bulan (Wulandari, 2010). Distribusi Penyakit Diare Berdasarkan Orang (umur) Sekitar 80% kematian diare tersebut terjadi pada anak dibawah usia 2 tahun. Data terakhir menunjukkan bahwa dari sekitar 125 juta anak usia 0- 11 bulan, dan 450 juta anak usia 1-4 tahun yang tinggal di negara berkembang, total episode diare pada balita sekitar 1,4 milyar kali pertahun. dari jumlah tersebut total episode diare pada bayi usia di bawah 0-11 bulan sebanyak 475 juta kali dan anak usia 1-4 tahun sekitar 925 juta kali pertahun (Marto, 2008).

Berdasarkan hasil survey Program Pemberantasan (P2) diare di Indonesia menyebutkan bahwa angka kesakitan diare di Indonesia pada tahun 2000 sebesar 301 per 1000 penduduk dengan episode diare balita adalah 1,0- 1,5 kali per tahun. Tahun 2003 angka kesakitan penyakit ini meningkat menjadi 374 per 100 penduduk. Hasil survey Departemen Kesehatan (2003), penyakit diare menjadi penyebab kematian pada balita. Kejadian diare pada balita secara proporsional lebih banyak di bandingkan kejadian diare pada seluruh golongan umur yakni sebesar 55 %.

Berdasarkan data profil Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan (2012) jumlah penderita diare berdasarkan 10 penyakit terbanyak rawat jalan Puskesmas se-Tangerang Selatan berada di posisi ke-9 dengan jumlah 9071 kasus, dengan Case Fatality Rate sebesar 0,03% dari jumlah 3 kasus kematian. Hal tersebut menjadikan jumlah kematian bayi akibat penyakit diare di Kota Tangerang Selatan tahun 2012 menempati urutan kedua tertinggi. Jumlah penduduk di Kecamatan Ciputat Kota Tangerang Selatan saat ini berjumlah 210,295 jiwa. Kecamatan Ciputat berada di posisi ke 3 terbanyak jumlah penduduk per Kecamatan di Kota Tangerang Selatan. Sedangkan dalam hal kasus diare di wilayah tersebut berada pada posisi ke-6 jumlah kasus terbanyak pada tahun 2012 (Dinkes, 2012).

Jumlah penderita diare di Kecamatan Ciputat termasuk cukup tinggi yakni terdapat 6763 kasus. Berdasarkan Profil Kesehatan Puskesmas Ciputat (2010) jumlah kasus diare untuk semua umur ditemukan 1413 kasus. Selain itu, berdasarkan laporan bulanan Puskesmas Ciputat (2012) terhitung dari bulan Februari sampai Desember menunjukan bahwa kasus diare cukup tinggi yakni sebesar 1704 kasus baru. Dari hasil data tersebut kasus diare paling banyak dialami dari golongan umur kurang dari 2 tahun yaitu golongan umur untuk baduta.

Salah satu risiko diare yakni berasal dari keberadaan sampah. Sampah merupakan suatu bahan atau benda padat yang sudah tidak dipakai lagi oleh manusia atau benda-benda padat yang sudah tidak digunakan lagi dalam suatu kegiatan manusia dan dibuang (Notoatmodjo, 2007). Keberadaan sampah

dapat juga mengganggu kesehatan masyarakat karena sampah merupakan salah satu sumber penularan penyakit. Sampah juga menjadi tempat yang ideal untuk sarang dan tempat berkembangbiaknya vektor penyakit.

Kecamatan Ciputat sebagai salah satu kecamatan yang berkembang juga tak luput dari permasalahan penanganan sampah. Berdasarkan data dari Dinas Kebersihan Pertamanan dan Pemakaman (2010), timbulan sampah yang terdapat di Kecamatan Ciputat berada di urutan ketiga tinggi bila dibandingkan dengan Kecamatan lain yang ada di Kota Tangerang Selatan yaitu sebesar 603 m3/hari.

Pengelolaan sampah dapat mempengaruhi frekuensi keberadaan lalat rumah. Ada tiga tahapan dalam pengelolaan sampah, dalam hal ini adalah sampah padat. Pengelolaan sampah yang baik melalui tiga tahapan, yaitu pengumpulan dan penyimpanan, pengangkutan dan pemusnahan (Chandra,2007).

Pada tahap pengumpulan dan penyimpanan dapat disebut dengan Tempat Pembuangan Sementara (TPS), sedangkan tahap pengangkutan dan pemusnahan dapat dikatakan Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Di tahap pengumpulan dan penyimpanan terkait dengan risiko diare maka kemungkinan output secara langsung dari pengelolaan sampah yakni akibat vektor, salah satunya yaitu dari lalat rumah (Musca domestica).

Volume sampah yang dihasilkan dari aktivitas manusia seperti di rumah tangga dapat meningkat terus sehingga terjadi penumpukan sampah.

Penumpukan sampah dapat memburuk bila pengelolaan di masing-masing rumah tangga masih kurang efektif, efisien, dan berwawasan lingkungan. Selain itu bila penumpukkan sampah terus dibiarkan maka akan berpengaruh kepada daya tarik vektor lalat rumah (Musca domestica) sehingga kemungkinan penularan penyakit dapat terjadi karena secara mekanis bulu-bulu badannya, kaki-kaki serta bagian tubuh yang lain dari lalat rumah merupakan tempat menempelnya mikroorganisme penyakit yang dapat berasal dari sampah. Bila Musca domestica tersebut hinggap ke makanan manusia, maka kotoran tersebut akan mencemari makanan yang akan dimakan oleh manusia sehingga akan timbul gejala sakit pada bagian perut atau mules. Penyakit-penyakit yang ditularkan oleh lalat adalah diare, disentri, kolera, dan typhus (Depkes RI, 2001).

Salah satu penyebab diare adalah tercemarnya makanan dan minuman oleh bakteri yang dibawa oleh lalat rumah (Musca domestica). Lalat ini dianggap mengganggu karena kesukaannya hinggap di tempat-tempat yang lembab dan kotor, seperti sampah. Selain hinggap, lalat rumah juga menghisap bahan-bahan kotor dan memuntahkan kembali dari mulutnya ketika hinggap di tempat berbeda. Jika makanan yang dihinggapi lalat rumah akan tercemar oleh mikroorganisme baik bakteri, protozoa, telur/larva cacing atau bahkan virus yang dibawa dan dikeluarkan dari mulut lalat-lalat dan bila dimakan oleh manusia, maka dapat menyebabkan penyakit diare (Andriani, 2007).

Pada pola hidup lalat rumah (Musca domestica), tempat yang disenangi adalah tempat yang basah, benda-benda organik, tinja, kotoran

binatang. Selain itu, tempat yang disenangi adalah sampah yang sebagai tempat untuk bersarang dan berkembang biak (Dwiyatmo, 2007).

Berdasarkan hal tersebut peneliti tertarik untuk meneliti tentang hubungan pengelolaan sampah rumah tangga dengan daya tarik vektor Musca domestica (lalat rumah) terhadap risiko diare pada baduta (bayi dua tahun) di Kelurahan Ciputat Tahun 2014.

1.2 Perumusan Masalah

Menurut data Badan Kesehatan Dunia (WHO), diare adalah penyebab nomor satu kematian balita di seluruh dunia, hal tersebut juga di perkuat dengan pernyataan UNICEF (Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk urusan anak) yang memperkirakan bahwa setiap 30 detik ada satu anak yang meninggal dunia karena diare. Di negara Indonesia angka kesakitan penyakit diare meningkat. Hal ini diketahui berdasarkan hasil survey Program Pemberantasan diare (2000) yang menyebutkan bahwa angka kesakitan diare di

Indonesia sebesar 301 per 1000 penduduk dengan episode diare balita adalah

1,0- 1,5 kali per tahun. Tahun 2003 angka kesakitan penyakit ini meningkat

menjadi 374 per 1000 penduduk. Hasil survey Departemen Kesehatan (2003),

penyakit diare menjadi penyebab kematian pada balita. Kejadian diare pada

balita secara proporsional lebih banyak di bandingkan kejadian diare pada

seluruh golongan umur yakni sebesar 55 %.

Di Kota Tangerang Selatan jumlah penderita diare berada dalam urutan ke-9 untuk penyakit terbanyak rawat jalan puskesmas se-Tangerang Selatan. Pernyataan tersebut di dapatkan berdasarkan data profil Dinas

Kesehatan Kota Tangerang Selatan (2012). Untuk wilayah Kelurahan Ciputat berdasarkan hasil laporan bulanan Puskesmas Ciputat (2012), kasus diare cukup tinggi yakni sebesar 1704 kasus baru. Dalam kasus baru ini paling banyak dialami oleh golongan umur baduta yakni umur yang kurang dari 2 tahun.

Salah satu penyebab diare yaitu tercemarnya makanan dan minuman oleh bakteri yang dibawa oleh lalat rumah (Musca domestica). Lalat ini dianggap mengganggu karena kesukaannya hinggap di tempat-tempat yang lembab dan kotor, seperti sampah. Volume sampah yang dihasilkan dari aktivitas manusia seperti di rumah tangga dapat meningkat terus sehingga terjadi penumpukan sampah. Penumpukan sampah dapat memburuk bila pengelolaan di masing-masing rumah tangga masih kurang efektif, efisien, dan berwawasan lingkungan. Selain itu bila penumpukkan sampah terus dibiarkan maka akan berpengaruh kepada daya tarik vektor lalat rumah (Musca domestica) sehingga di asumsikan penularan penyakit yang ditularkan oleh lalat salah satunya adalah diare (Depkes RI, 2001).

Berdasarkan hal tersebut peneliti tertarik untuk meneliti tentang hubungan pengelolaan sampah dengan daya tarik vektor Musca domestica

(lalat rumah) terhadap risiko diare pada baduta (bayi dua tahun) di Kelurahan Ciputat Tahun 2014.

1.3 Pertanyaan Penelitian

1. Bagaimana gambaran risiko diare pada baduta di Kelurahan Ciputat Tahun 2014?

2. Bagaimana gambaran pengelolaan sampah rumah tangga (pemisahan dan penyimpanan) di Kelurahan Ciputat Tahun 2014?

3. Bagaimana gambaran jarak antara tempat sampah dengan pantry rumah di Kelurahan Ciputat Tahun 2014?

4. Bagaimana gambaran populasi vektor Musca domestica (lalat rumah) di pantry rumah tangga di Kelurahan Ciputat Tahun 2014?

5. Bagaimana gambaran frekuensi kunjungan lalat rumah di tempat sampah di Kelurahan Ciputat Tahun 2014?

6. Adakah hubungan antara pengelolan sampah rumah tangga (pemisahan dan penyimpanan) dengan risiko diare pada baduta di Kelurahan Ciputat Tahun 2014?

7. Adakah hubungan antara jarak tempat sampah terhadap risiko diare pada baduta di Kelurahan Ciputat Tahun 2014?

8. Adakah hubungan antara daya tarik vektor Musca domestica (lalat rumah) terhadap risiko diare pada baduta di Kelurahan Ciputat Tahun 2014? 1.4 Tujuan Penelitian

1.4.1 Tujuan Umum

Untuk mengetahui hubungan pengelolaan sampah rumah tangga terhadap daya tarik vektor Musca domestica (lalat rumah) dengan risiko diare pada baduta di Kelurahan Ciputat Tahun 2014.

1.4.2 Tujuan Khusus

1. Untuk mengetahui gambaran risiko diare pada baduta di Kelurahan Ciputat Tahun 2014

2. Untuk mengetahui gambaran pengelolaan sampah rumah tangga (pemisahan dan penyimpanan) di Kelurahan Ciputat Tahun 2014. 3. Untuk mengetahui gambaran jarak antara tempat sampah dengan

pantry rumah di Kelurahan Ciputat Tahun 2014.

4. Untuk mengetahui gambaran populasi vektor Musca domestica

(lalat rumah) di pantry rumah tangga di Kelurahan Ciputat Tahun 2014.

5. Untuk mengetahui gambaran frekuensi kunjungan lalat rumah di tempat sampah di Kelurahan Ciputat Tahun 2014.

6. Untuk mengetahui hubungan antara pengelolan sampah rumah tangga (pemisahan dan penyimpanan) dengan risiko diare pada baduta di Kelurahan Ciputat Tahun 2014.

7. Adakah hubungan antara jarak tempat sampah terhadap risiko diare pada baduta di Kelurahan Ciputat Tahun 2014?

8. Untuk mengetahui hubungan antara daya tarik vektor Musca domestica (lalat rumah) terhadap risiko diare pada baduta di Kelurahan Ciputat Tahun 2014.

1.5 Manfaat Penelitian 1.5.1 Bagi Peneliti

Dapat mengaplikasikan ilmu yang telah didapat pada saat perkuliahan dan menambah wawasan mengenai hubungan pengelolaan sampah rumah tangga dengan daya tarik vektor Musca domestica (lalat rumah) dengan risiko diare pada baduta di Kelurahan Ciputat.

1.5.2 Bagi FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Hasil dari penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan acuan bagi peneliti lain yang ingin melakukan penelitian tentang pengelolaan sampah rumah tangga dengan daya tarik vektor Musca domestica

(lalat rumah) dengan risiko diare terutama pada baduta. 1.5.3 Bagi Masyarakat

Memberikan masukan kepada masyarakat khususnya yang mempunyai baduta agar memperhatikan pengelolaan sampah di rumah agar tidak tercemar oleh vektor penyakit terutama lalat rumah (Musca domestica) sehingga bayi memiliki resiko yang rendah untuk terkena diare.

1.6 Ruang Lingkup

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan pengelolaan sampah rumah tangga dengan daya tarik vektor Musca domestica (lalat rumah) dengan risiko diare pada bayi usia 0-24 bulan (baduta) di Kelurahan Ciputat Kota Tangerang Selatan tahun 2014 dengan sampel penelitian yaitu bayi usia 0-24 bulan di Kelurahan Ciputat. Peneliti hanya ingin meneliti

pengolahan sampah rumah tangga pada tahap pemisahan dan penyimpanan karena mengingat keterbatasan dari waktu penelitian.

Waktu penelitian dilaksanakan pada bulan Juni 2014. Metode yang digunakan ialah pendekatan kuantitatif dengan desain cross sectional yang dilakukan pada bayi usia 0-24 bulan di Kelurahan Ciputat Kota Tangerang Selatan. Data yang digunakan yaitu data primer melalui wawancara kepada responden dengan kuesioner serta pengukuran frekuensi keberadaan lalat rumah (Musca domestica) dengan menggunakan Fly Grill untuk di tempat sampah dan pengukuran populasi lalat rumah (Musca domestica) di pantry dengan meggunakan Fly Trap.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Diare

2.1.1 Pengertian Diare

Berdasarkan Kepmenkes RI No.1216/Menkes/SK/XI/2001 menyebutkan bahwa batasan diare akut secara operasional adalah buang air besar lembek, cair bahkan dapat berupa air saja yang frekuensinya lebih sering dari biasanya (biasanya 3 kali atau lebih dalam sehari) dan berlangsung kurang dari 14 hari. (Depkes RI, 2007).

Diare adalah keadaan frekwensi buang air besar lebih dari 4 kali pada bayi dan lebih dari 3 kali pada anak. Konsistensi proses encer dapat berwarna hijau atau dapat pula bercampur lendir dan darah atau lendir saja (Ngastiyah, 2005).

Penyakit diare merupakan penyakit menular berbahaya karena dapat menyebabkan kematian apabila tidak segera mendapatkan pertolongan. Kematian terjadi akibat penyakit diare yaitu karena banyaknya cairan dalam tubuh penderita yang keluar dan tidak segera diganti dengan cairan lain.

Menurut data Badan Kesehatan Dunia (WHO tahun 2000), Diare adalah penyebab nomor satu kematian balita di seluruh dunia. Di Indonesia, diare adalah pembunuh balita nomor dua setelah Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA). Sementara UNICEF (Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk urusan anak) memperkirakan bahwa, setiap 30 detik ada satu anak

yang meninggal dunia karena Diare. Di Indonesia, setiap tahun 100.000 balita meninggal karena Diare.

Kematian-kematian karena diare merupakan bagian kematian balita yang besar dari sebab-sebab kematian di Indonesia, 40% kematian-kematian dalam dua tahun pertama kehidupan disebabkan karena diare. Penelitian di Negara berkembang lainnya menunjukkan kematian-kematian dengan diare mencapai puncaknya sesudah anak mencapai umur lebih dari satu tahun (30-40 kematian-kematian per seribu penduduk) dan agak menurun sesudah berumur 2-3 tahun dan menjadi berkurang sesudah 5 tahun.

2.1.2 Klasifikasi Diare

Menurut Depkes RI (2000), jenis diare dibagi menjadi empat yaitu: a. Diare akut, yaitu diare yang berlangsung kurang dari 14 hari

(umumnya kurang dari 7 hari). Akibat diare akut adalah dehidrasi, sedangkan dehidrasi merupakan penyebab utama kematian bagi penderita diare.

b. Disentri, yaitu diare yang disertai darah dalam tinjanya. Akibat disentri adalah anoreksia, penurunan berat badan dengan cepat, kemungkinan terjadinya komplikasi pada mukosa.

c. Diare persisten, yaitu diare yang berlangsung lebih dari 14 hari secara terus menerus. Akibat diare persisten adalah penurunan berat badan dan gangguan metabolisme.

d. Diare dengan masalah lain, yaitu anak yang menderita diare (diare akut dan diare persisten), mungkin juga disertai dengan penyakit lain, seperti demam, gangguan gizi atau penyakit lainnya.

Menurut Suraatmaja (2007), jenis diare dibagi menjadi dua yaitu: a. Diare akut, yaitu diare yang terjadi secara mendadak pada bayi

dan anak yang sebelumnya sehat.

b. Diare kronik, yaitu diare yang berlanjut sampai dua minggu atau lebih dengan kehilangan berat badan atau berat badan tidak bertambah selama masa diare tersebut.

2.1.3 Penyebab Diare

Menurut Widoyono (2008), penyebab diare dapat dikelompokan menjadi:

a. Virus: Rotavirus.

b. Bakteri: Escherichia coli, Shigella sp dan Vibrio cholerae. c. Parasit: Entamoeba histolytica, Giardia lamblia dan

Cryptosporidium.

d. Makanan (makanan yang tercemar oleh pertumbuhan bakteri/virus, basi, beracun, terlalu banyak lemak, sayuran mentah dan kurang matang).

e. Malabsorpsi: karbohidrat, lemak, dan protein. f. Alergi: makanan, susu sapi.

g. Imunodefisiensi. 2.1.4 Gejala dan Tanda Diare

Kejadian diare dapat dilihat dari beberapa gejala dan tanda diare, antara lain (Widoyono, 2011):

1. Gejala umum

a. Berak cair atau lembek dan sering, merupakan gejala khas diare.

b. Muntah, biasanya menyertai diare pada gastroenteritis akut. c. Demam, dapat mendahului atau tidak mendahului gejala

diare.

d. Gejala dehidrasi, yaitu mata cekung, ketegangan kulit menurun, apatis, bahkan gelisah.

2. Gejala spesifik

a. Vibrio cholera, ditandai dengan diare hebat, warna tinja sepertian cucian beras dan berbau amis.

b. Disenteriform, ditandai dengan tinja yang berlendir dan berdarah.

2.1.5 Penularan Diare

Penyakit diare sebagian besar disebabkan oleh kuman seperti virus dan bakteri. Penularan penyakit diare karena virus dan bakteri melalui jalur fekal oral yang terjadi karena :

a. Melalui air yang sudah tercemar, baik tercemar dari sumbernya, tercemar selama perjalanan sampai ke rumah-rumah, atau tercemar pada saat disimpan di rumah. Pencemaran ini terjadi bila tempat penyimpanan tidak tertutup atau apabila tangan yang tercemar menyentuh air pada saat mengambil air dari tempat penyimpanan. b. Melalui tinja yang terinfeksi. Tinja yang sudah terinfeksi,

mengandung virus atau bakteri dalam jumlah besar. Bila tinja tersebut dihinggapi oleh binatang dan kemudian binatang tersebut hinggap dimakanan, maka makanan itu dapat menularkan diare ke orang yang memakannya (Widoyono, 2008). Sedangkan menurut (Depkes RI, 2005) kuman penyebab diare biasanya menyebar melalui fecal oral antara lain melalui makanan atau minuman yang tercemar tinja dan atau kontak langsung dengan tinja penderita. Beberapa perilaku yang dapat menyebabkan penyebaran kuman enterik dan meningkatkan risiko terjadinya diare, yaitu: tidak memberikan ASI (Air Susu Ibu) secara penuh 4-6 bulan pada pertama kehidupan, menggunakan botol susu, menyimpan makanan masak pada suhu kamar, menggunakan air minum yang tercemar, tidak mencuci tangan dengan sabun sesudah buang air besar, tidak

mencuci tangan sesudah membuang tinja anak, tidak mencuci tangan sebelum atau sesudah menyuapi anak dan tidak membuang tinja termasuk tinja bayi dengan benar.

2.1.6 Epidemiologi Diare

Epidemiologi penyakit diare adalah sebagai berikut (Depkes RI, 2005): a. Penyebaran kuman yang menyebabkan diare biasanya menyebar

melalui fecal oral antara lain melalui makanan atau minuman yang tercemar tinja dan atau kontak langsung dengan tinja penderita. Beberapa perilaku yang dapat menyebabkan penyebaran kuman enterik dan meningkatkan risiko terjadinya diare, antara lain tidak memberikan ASI (Air Susu Ibu) secara penuh 4/6 bulan pada pertama kehidupan, menggunakan botol susu, menyimpan makanan masak pada suhu kamar, menggunakan air minum yang tercemar, tidak mencuci tangan dengan sabun sesudah buang air besar atau sesudah membuang tinja anak atau sebelum makan atau menyuapi anak, dan tidak membuang tinja dengan benar.

b. Faktor penjamu yang meningkatkan kerentanan terhadap diare. Beberapa faktor pada penjamu yang dapat meningkatkan beberapa penyakit dan lamanya diare yaitu tidak memberikan ASI sampai dua tahun, kurang gizi, campak, immunodefisiensi, dan secara proporsional diare lebih banyak terjadi pada golongan balita.

Faktor lingkungan dan perilaku. Penyakit diare merupakan salah satu penyakit yang berbasis lingkungan. Dua faktor yang dominan, yaitu sarana air bersih dan pembuangan tinja. Kedua faktor ini akan berinteraksi dengan perilaku manusia. Apabila faktor lingkungan tidak sehat karena tercemar kuman diare serta berakumulasi dengan perilaku yang tidak sehat pula, yaitu melalui makanan dan minuman, maka dapat menimbulkan kejadian diare. 2.1.7 Pencegahan Diare

Menurut Kementerian Kesehatan (2011), cara melakukan pencegahan diare yang benar dan efektif adalah :

a. Perilaku Sehat

Pencegahan pada Bayi

Perilaku yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya diare pada bayi adalah sebagai berikut:

1. Memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan dan diteruskan sampai 2 tahun, ASI merupakan makanan yang paling baik untuk bayi. ASI bersifat steril sehingga menghindarkan anak dari bahaya dan bakteri lain yang akan menyebabkan diare. ASI mempunyai khasiat preventif secara imunologik dengan adanya antibodi dan zat-zat lain yang dikandungnya. ASI turut memberikan perlindungan terhadap diare.

2. Memberikan makanan pendamping ASI sesuai umur, makanan tambahan yang bergizi dan bersih, dimulai ketika anak berumur 4-6 bulan.

3. Memberikan imunisasi campak, anak yang sakit campak sering disertai diare, sehingga pemberian imunisasi campak juga dapat mencegah diare. Oleh karena itu berilah imunisasi campak segera setelah bayi berumur 9 bulan. Pencegahan pada Anak-Anak dan Orang Dewasa

1. Mencuci tangan, kebiasaan yang berhubungan dengan kebersihan perorangan yang penting dalam penularan kuman diare adalah mencuci tangan. Mencuci tangan dapat menurunkan angka kejadian diare sebesar 47%.

2. Menggunakan jamban, keluarga harus buang air besar di jamban. Yang harus diperhatikan oleh keluarga yaitu, keluarga harus mempunyai jamban yang berfungsi baik dan dapat dipakai oleh seluruh anggota keluarga, bersihkan jamban secara teratur, dan gunakan alas kaki bila akan buang air besar.

b. Penyehatan Lingkungan

Selain berperilaku yang sehat, kejadian diare juga dapat dicegah dengan menjaga lingkungan agar selalu bersih dan sehat, sebagai berikut:

a. Penyediaan air bersih, penyediaan air bersih baik secara kuantitas dan kualitas mutlak diperlukan dalam memenuhi kebutuhan air sehari-hari termasuk untuk menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Sumber air juga harus dijaga dari pencemaran oleh hewan dan

Dokumen terkait