• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III PENCATATAN PERKAWINAN DALAM

C. Problematika Pencatatan Perkawinan Masa Kini

6. Kurangnya Pemahaman Masyarakat

Banyaknya jumlah penduduk yang tidak memiliki akta perkawinan mengindikasikan kurangnya pemahaman dan informasi terkait pentingnya memiliki akta perkawinan. Oleh karena itu, perlu dilaksanakannya penyuluhan tentang arti penting pencatatan Perkawinan dengan berkoordinasi secara lintas sektor kepada para stakeholder, untuk meningkatkan kesadaran hukum masyarakat di Indonesia terkait urgensi pencatatan perkawinan untuk memperoleh akta perkawinan.102

Faktor kurangnya pemahaman bisa diakibatkan pendidikan yang masih rendah. Melihat dari penelitian yang dilakukan BPS tingkat pencapaian pendidikan selain dilihat dari jenjang pendidikan yang ditamatkan, juga dapat dilihat melalui rata-rata lama sekolah.

Rata-rata lama sekolah merupakan rata-rata jumlah tahun yang dihabiskan seseorang untuk menempuh semua jenis pendidikan yang pernah dijalani (tidak termasuk tahun yang mengulang). Dengan melihat rata lama sekolah. akan terlihat di tahun ke berapa rata-rata seseorang berhenti sekolah.103

Dari 34 provinsi, hanya 14 provinsi di mana rata-rata lama sekolah untuk perempuan usia 20-24 tahun yang melangsungkan perkawinan anak melebihi angka nasional. Sementara sisanya, masih berada di bawah angka nasional. Pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Maluku mempunyai rata-rata lama sekolah di atas 7 tahun. Sementara itu, pada beberapa provinsi di Pulau Sulawesi, Nusa Tenggara Timur, dan Papua masih terdapat

102 Elfrida Ratnawati, Sri Nanang M Kamba, dkk. Catat Perkawinan Untuk Kepastian Hukum dan Perlindungan Hukum (Studi Kasus: Kabupaten Minahasa Utara), h. 243.

103 BPS, Kementerian PPN/ Bappenas, PUSKAPA UIN, dan UNICEF. Pencegahan Perkawinan Anak Percepatan yang Tidak Bisa ditunggu. h. 9.

provinsi dengan rata-rata lama sekolah di bawah 7 (tujuh) tahun, yaitu Provinsi Nusa Tenggara Timur (6,51), Sulawesi Barat (6,51), Gorontalo (6,49), dan Papua (3,73).104

Selain itu tingkat kepatuhan hukum pada masyarakat begitu kurang. Walaupun legislatif Indonesia telah mengamandemen UU Perkawinan, namun saat ini ratusan ribu orang tua di seluruh wilayah Indonesia menikahkan anak perempuan mereka tanpa persetujuan pengadilan (AIPJ2, 2019). Menaikkan batas usia dari 16 menjadi 19 tahun bagi anak perempuan tidak akan meningkatkan kepatuhan terhadap hukum Indonesia di kota dan desa kecuali dilakukan aksi bersama pada berbagai sisi.105

Pencatatan perkawinan di Indonesia, dengan demikian masih belum efektif dilaksanakan seperti yang dicita-citakan peraturan perundang-undangan. Pencatatan perkawinan, yang sejatinya untuk meningkatkan status perempuan dan menjamin kesejahteraan (serta anak-anaknya) belum mampu disadari penuh oleh masyarakat. Beberapa faktor yang menjadikan praktik ini tetap eksis ialah karena ambigunya peraturan perkawinan, termasuk dalam hal pencatatan perkawinan itu sendiri, sehingga masyarakat masih sangat kuat bahwa anggapan nikah yang tidak dicatatkan tetap sah dalam kacamata agama dan adat istiadat.

Faktor lain yang dapat dilihat ialah kesadaran hukum dan pendidikan yang relative rendah di kalangan masyarakat, sehingga tidak merasa penting pencatatan ini. Selain itu, faktor ekonomi juga mempengaruhi mengapa masyarakat lebih suka menikah di penghulu-penghulu.106

104 BPS, Kementerian PPN/ Bappenas, PUSKAPA UIN, dan UNICEF. Pencegahan Perkawinan Anak Percepatan yang Tidak Bisa ditunggu. h. 8.

105 Cate Sumner. Mengakhiri Pernikahan Anak di Indonesia: Peran Pengadilan, The CILIS Policy Paper, Mellbourne University, Australia, 2020, h. 19.

106 Ahmad Tholabie Kharlie. Modernitas Hukum Keluarga di Indonesia, (Disertasi Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta, 2009), h. 206.

Meskipun masyarakat mengakui pencatatan perkawinan sebagai hal yang sangat penting, namun dalam praktiknya dilapangan masyarakat cenderung terikat dengan hukum adat yang telah turun-temurun. Budaya yang sudah berlangsung selama ini akhirnya menimbulkan dilema bagi penegak hukum untuk menegakkan hukum yang sesuai dengan undang-undang yang berlaku. Berbeda dengan masyarakat perkotaan atau masyarakat terpelajar yang lebih menerima pencatatan sebagai suatu tatanan administrasi, pegawai KUA dalam beberapa hal masih sangat terikat dengan lingkungan sosial disekitarnya, sehingga hubungan antar mereka saling mempengaruhi tindakan selanjutnya.107

Meskipun demikian, tentu terdapat perbedaan yang signifikan antara proses pelayanan pencatatan perkawinan dahulu dengan sekarang ini.

Semakin berkembangnya teknologi, pemerintah mengambil inisiatif dengan melakukan perubahan terhadap layanan administrasi pencatatan perkawinan, bisa diakses melalui aplikasi sistem informasi manajemen nikah (SIMKAH) yang berbasis online. Sebagaimana termaktub dalam PMA No 19 tahun 2018 jo PMA No. 20 tahun 2019 tentang Pencatatan Perkawinan Pasal 21 ayat (1) “Administrasi pencatatan perkawinan dilakukan melalui sistem informasi manajemen perkawinan berbasis online.” Kemudian ayat (2) “Dalam hal KUA Kecamatan belum terhubung jaringan, administrasi pencatatan perkawinan dilakukan secara offline.” Tentu hal ini masih menjadi persoalan bagi masyarakat yang berada jauh diluar pulau yang akses internetnya terbatas.

Kesimpulan dari penulis yaitu, dari enam problematika yang ada ini, yang berimplikasi nyata terhadap pencatatan perkawinan di Indonesia adalah point terakhir, yaitu kurangnya pemahaman masyarakat akan

107 Ahmad Tholabie Kharlie. Modernitas Hukum Keluarga di Indonesia, (Disertasi Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta, 2009), h. 207.

urgensi pencatatan nikah. Maka dari itu diperlukannya kerjasama yang baik kepada semua element baik itu pemerintahan dan perangkat di desa/

perkampungan untuk mensosialisasikan akan hal ini. Agar terwujudnya tertib administrasi dan kemaslahatan bagi masyarakat, khususnya istri dan anak.

119 BAB IV

ANALISIS KONSEP MASLAHAH DAN KEPASTIAN HUKUM DALAM PENCATATAN PERKAWINAN DI INDONESIA

A. Asas Kepastian Hukum dalam Pencatatan Perkawinan

Dalam pencatatan perkawinan, jika menelisik pada masa awal Islam sudah ada tradisi i‟lan al-Nikah. Menurut pendapat sebagian ulama, i`lan al nikah merupakan salah satu syarat sahnya akad nikah.

Artinya apabila perkawinan tidak diumumkan, maka perkawinan tersebut tidak sah, bahkan menurut pendapat sebagian ulama, yang membedakan antara perkawinan dan perzinaan ialah bahwa perkawinan diumumkan sedangkan perzinaan tidak diumumkan.

Praktek i`lan al-Nikah pada masa awal Islam merupakan salah satu hal yang disunahkan dan sangat dianjurkan oleh Rasulullah. Hal ini terbukti dengan adanya hadits yang menyatakan demikian, diantaranya: bersabda: “Umumkanlah perkawinan itu dan jadikanlah tempat mengumumkannya di masjid-masjid dan tabuhlah rebana-rebana.”

(HR. al-Tirmidzi).

Mengadakan atau menyeleggrakan akad nikah di masjid merupakan bentuk pengumuman paling praktis. Sebab masjid adalah tempat umum dan tempat berkumpulnya orang-orang pada waktu shalat. Pada masa awal Islam keberadaan masjid sama fungsinya seperti aula atau gedung pertemuan di masa sekarang ini.

Di sisi lain, pengumuman juga bertujuan untuk memberikan dorongan untuk kawula muda agar berani menikah. Inilah tujuan yang dicita-citakan dari pemberlakuan dan tuntutan Islam yang sangat mulia.1 Biasanya dalam pesta pernikah atau walimah diadakan hiburan yang berupa music dan nyanyian. Maksudnya untuk memeriahkan suasana, menghibur para tamu undangan, khususnya pengantin yang sedang duduk di pelaminan agar mereka lebih gembira. Hal ini diperbolehkan dalam ajaran Islam selama music dan nyanyian itu bersifat positif dan tidak dicampuri oleh omongan kotor yang mengarah pada perbuatan dosa. Musik dan nyanyian tidak boleh dibarengi dengan perbuatan haram, misalnya bercampur baurnya antara laki-laki dan perempuan, apalagi kalau disertai dengan minum-minuman keras.2

Salah satu bentuk i`lan al nikah ialah walimah al `urusy (resepsi perkawinan). Dalam sebuah hadits, Rasulullah memerintahkan untuk melaksanakannya, walaupun secara sederhana:

Artinya: “Rasulullah SAW bersabda: “Adakanlah walimah, walaupun hanya dengan menyemblih seekor kambing.” (HR.

Bukhori).

1 Muhammad Ali al-Shabuni, Kawinlah selagi Muda, Dar al-Qalam, Damaskus, Cet kesatu, 1411 H/1991M, h.142.

2 Abdul Muhaimin As‟ad, Risalah Nikah, Bintang Terang Surabaya, Cet kesatu, 1993, h.49

Dalam pelaksanaan walimah ada beberapa adab yang harus dipatuhi, diantaranya:

a. Hendaknya berwalimah dengan menyembelih seekor kambing atau lebih, jika memiliki kelebihan ekonomi.

b. Jika tidak mampu, boleh menyuguhkan makanan apa saja, walaupun bukan daging.

c. Tidak boleh mengundang orang-orang kaya saja.

d. Suami dan orang-orang yang mengadakan walimah wajib menjauhkan segala bentuk kemunkaran dan hal-hal yang dilarang dalam Islam.3

Dari beberapa hadits diatas, terlihat bahwa walaupun pada masa itu pencatatan perkawinan belum dilakukan, namun substansi yang ingin dicapai pencatatan perkawinan telah dimanifestasikan.

Meskipun dalam bentuk yang lebih sederhana, sebagaimana yang telah dikemukakan sebelumnya bahwa tradisi walimah al-„urusy yang merupakan salah satu bentuk i‟lan al-Nikah dianggap sebagai saksi telah terjadinya suatu perkawinan, disamping adanya saksi syar‟i. Hal demikian, dilakukan guna untuk mencapai kepastian hukum.

Sedangkan di Indonesia sendiri, sebagaimana terdapat dalam Pasal 2 ayat (1) UU No. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan menyatakan bahwa perkawinan ialah sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaannya. Selanjutnya dalam penjelasan pasal tersebut disebutkan bahwa tidak ada perkawinan diluar agama dan kepercayaannya masing-masing.

Kemudian dalam ayat (2) disebutkan bahwa perkawinan harus

3 Abdullah Nashih Ulwan, Adab al-Khitbah wa Al-zafaf wa huquq al-Zaujian, penerjemah Aunur rafiq shaleh, Al-islahiy Press, Jakarta, 1407 H/1978 M, h.108-112.

dicatatkan. Regulasi yang dimaksud ialah UU No. 22 tahun 1946 dan UU No. 34 tahun 1954, sedangkan kewajiban pencatat nikah diatur dalam PP No. 1 tahun 1955. Menurut ketentuan pasal 2 PP No. 9 tahun 1975 bahwa pencatatan perkawinan bagi yang beragama Islam dilakukan oleh PPN KUA, sedangkan bagi non-muslim dilakukan di kantor catatan sipil (KC).4

Mahkamah Konstitusi dalam putusannya berpendapat bahwa pokok permasalahan hukum pencatatam perkawinan menurut undang-undang ialah mengenai pencatatan perkawinan. Mengenai masalah ini, penjelasan umum nomor 4 huruf b UUP tentang asas-asas perkawinan menyatakan bahwa:, “...bahwa suatu perkawinan ialah sah bilamana dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu; dan di samping itu tiap-tiap perkawinan harus dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pencatatan tiap-tiap perkawinan ialah sama halnya dengan pencatatan peristiwa-peristiwa penting dalam kehidupan seseorang, misalnya kelahiran, kematian yang dinyatakan dalam surat-surat keterangan, suatu akte yang juga dimuat dalam daftar pencatatan”.5

Menurut Mahkamah Konstitusi (MK) berdasarkan Penjelasan Umum angka 4 huruf b UUP nyatalah bahwa:

1. Pencatatan perkawinan bukanlah merupakan faktor yang menentukan sahnya perkawinan; dan

2. Pencatatan merupakan kewajiban administratif yang diwajibkan berdasarkan peraturan perundang-undangan.6

4 Marwin. Pencatatan Perkawinan Dan Syarat Sah Perkawinan Dalam Tatanan Konstitusi, h. 103.

5 Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 46/PUU-VIII/2010.

6 Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 46/PUU-VIII/2010.

Faktor yang menentukan sahnya suatu perkawinan ialah syarat-syarat yang ditentukan oleh agama masing-masing pasangan calon mempelai. Kewajiban pencatatan perkawinan oleh Negara melalui peraturan perundang-undangan merupakan kewajiban administrative. Menurut MK, pentingnya kewajiban administrative dapat dilihat dua perspektif. Pertama, dari perspektif Negara, pencatatan diperlukan dalam rangka fungsi Negara untuk menjamin perlindungan, pemajuan, penegakan dan pemenuhan hak asasi manusia yang menjadi tanggung jawab Negara dan harus dilaksanakan sesuai dengan prinsip Negara. Negara hukum yang demokratis yang diatur dan dituangkan dalam peraturan perundang-undangan.7

Pencatatan administrative yang dilakukan oleh Negara dimaksudkan agar perkawinan sebagai suatu perbuatan hukum yang penting dalam kehidupan yang bersangkutan, yang mempunyai implikasi hukum yang sangat luas, nantinya dapat dibuktikan dengan bukti yang sempurna dengan suatu akta yang autentik, sehingga perlindungan dan pelayanan disediakan oleh Negara. Terkait hak-hak yang timbul adanya perkawinan dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien.8

Artinya, dengan adanya alat bukti perkawinan yang autentik, maka hak-hak yang timbul akibat perkawinan dapat dilindungi dan dilayani dengan baik. Karena ridak diperlukan suatu proses pembuktian yang memakan waktu, biaya, dan tenaga dan pikiran yang lebih banyak, seperti pembuktian asal usul anak dalam

7 Marwin. Pencatatan Perkawinan Dan Syarat Sah Perkawinan Dalam Tatanan Konstitusi. h. 102 Lihat juga dalam Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 46/PUU-VIII/2010 www.mahkamahkonstitusi.go.id, diunduh tanggal 15 Juni 2021, h. 33.

8 Marwin. Pencatatan Perkawinan Dan Syarat Sah Perkawinan Dalam Tatanan Konstitusi, h. 102.

perkawinan. Pasal 55 UUP mengatur bahwa apabila asal-usul anak tidak dapat dibuktikan dengan akta autentik maka hal itu akan ditentukan dengan putusan pengadilan yang berwenang. Pembuktian demikian tentu tidak lebih efektif dan effisien jika dibandingkan dengan adanya akat autentik sebagai alat bukti.9

Diwajibkannya pencatatan perkawinan disamping karena alasan hukum, hal ini merupakan salah satu bentuk taat kepada pemerintah.10Kewajiban mentaati pemerintah termaktub dalam firman Allah QS.an-Nisa ayat 59:

ُخْعَصاَىَج ْنِاَف ْۚم ُىْى ِم ِش ْم َ ْالا ىِلوُاَو ٌَْى ُظَّشلا اىُعْي ِطَاَو َ هاللَّ اىُعْيِطَا آْىُىَمٰا ًًَِْزَّلا اَهُّيَآًٰ

ٍء ْي َ ش ْي ِف ْم

َّو ٌرْي َخ ًَِل ٰر ِِۗش ِخْٰالا ِمْىَيْلاَو ِ هللّٰاِب َنْىُىِمْؤُج ْمُخْىُه ْنِا ٌِْى ُظَّشلاَو ِ هاللَّ ىَلِا ُهْوُّدُشَف ًلاْيِو ْ

أَج ًُ َع ْخَا

Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS an-Nisa: 21)

Bentuk ketaatan kepada pemerintah adalah melaksanakan aturan yang dibuat oleh mereka. Kalau taat pada Pemerintah itu wajib, maka melaksanakan pencatatan perkawinan juga wajib karena merupakan undang-undang dari Pemerintah.11 Dan hal ini dalam

9 Marwin. Pencatatan Perkawinan Dan Syarat Sah Perkawinan Dalam Tatanan Konstitusi. h. 103.

10 Mayadina Rohmi musfirah,Muhammad idkholus Surur, Kajian Mengenai Pencatatan Perkawinan di Indonesia ditinjau dari Pemahaman Hukum Santri, Isti‟dal, Vol.

4 No. 2, Juli-Desember 2017.

11 Mayadina Rohmi musfirah,Muhammad idkholus Surur, Kajian Mengenai Pencatatan Perkawinan di Indonesia ditinjau dari Pemahaman Hukum Santri, Isti‟dal, Vol.

4 No. 2, Juli-Desember 2017.

kaidah fiqih dikenal dengan " تحلصملاب طونم تيعر يلع ماملإا فرصح”

suatu tindakan atau peraturan pemerintah berintikan terjaminnya kepentingan dan kemaslahatan umat. Dengan demikian maka ketundukan terhadap aturan ini adalah sebuah keharusan.

Kewajiban pencatatan perkawinan oleh Negara tidak hanya di Indonesia, pencatatan perkawinan diberlakukan hampir seluruh Negara muslim di dunia. Menurut Khoiruddin Nasution aturan pencatatan perkawinan di Negara-negara muslim dapat dibagi menjadi tiga golongan. Pertama, kelompok Negara yang mewajibkan pencatatan dan pemberian sanksi (akibat hukum) bagi yang melanggar. Kedua, Negara yang membuat pencatatan hanya sebagai persyaratan administrative dan tidak memberi sanksi atau denda bagi pelanggarnya. Ketiga, Negara yang mewajibkan pencatatan perkawinan tetapi tetap mengakui adanya perkawinan yang tidak didaftarkan.12

Pandangan tentang pencatatan nikah sebagai kewajiban administrasi juag dikemukakan oleh Ahmad Tholabie Kharlie, ynag menyatakan bahwa pencatatan nikah di Indonesia hanya merupakan peraturan administrasi tidak termasuk salah satu syarat sahnya suatu perkawinan. Akan tetapi, pencatatan perkawinan yang hanya berstatus administrasi itu justru menimbulkan kerancuan dalam pengertian dan penerapannya, karena menimbulkan akibat yuridis bahwa perkawinan yang dilakukan menurut agama yang bersangkutan dianggap sah meskipun tidak dicatatkan.13

Sementara lainnya berpendapat pencatatan perkawinan bukanlah merupakan syarat sahnya perkawinan, melainkan hanya

12 Ahmad Tholabi Kharlie, Hukum Keluarga Indonesia, (Jakarta: Sinar Grafika, 2013), h. 182.

13 Ahmad Tholabi Kharlie, Hukum Keluarga Indonesia, h. 190.

sebagai syarat kelengkapan administrasi perkawinan. Sahnya perkawinan dilakukan menurut cara berdasarkan aturan agama dan keyakinan kedua belah pihak yang melakukan perkawinan.14

Perbuatan pencatatan perkawinan, bukanlah menentukan sah atau tidaknya suatu perkawinan. Pencatatan bersifat administratif, yang menyatakan bahwa peristiwa perkawinan itu memang ada dan terjadi. Dengan pencatatan itu perkawinan menjadi jelas, baik bagi yang bersangkutan maupun pihak-pihak lainnya. Suatu perkawinan yang tidak tercatat dalam Akta Nikah dianggap tidak ada oleh negara dan tidak mendapat kepastian hukum.15 Begitu pula segala akibat yang timbul dari perkawinan tidak dicatat itu.16

Realitasnya, di antara warga negara Indonesia banyak yang tidak mencatatkan perkawinannya kepada Pegawai Pencatat Nikah (PPN). Perkawinan yang dilakukan oleh mereka hanya memenuhi tuntutan agamanya tanpa memenuhi tuntutan administratif. Salah satu sebabnya ialah karena ketidaktegasan hukum pencatatan perkawinan.

Akibatnya, perkawinan mereka tidak mendapatkan akta nikah.

sehingga suami atau istri tidak dapat melakukan tindakan hukum keperdataan berkaitan dengan rumah tangganya. Anak-anak yang dilahirkannya hanya diakui oleh negara sebagai anak di luar kawin yang hanya memiliki hubungan keperdataan dengan ibu dan keluarga ibunya. Implikasinya, jika seorang istri dan anaknya ditelantarkan oleh suami atau ayah biologisnya, maka tidak dapat melakukan tuntutan hukum baik pemenuhan hak ekonomi maupun harta

14 Rachmadi Usman. Makna Pencatatan Perkawinan Dalam Peraturan Perundang-Undangan Perkawinan Di Indonesia. Jurnal Legsilasi Indonesia Vol. 14 No. 03 - September 2017, h. 255.

15 Rachmadi Usman. Makna Pencatatan Perkawinan Dalam Peraturan Perundang-Undangan Perkawinan Di Indonesia, h. 255.

16 Abdurrahman dan Riduan Syahrani, Masalah-masalah Hukum Perkawinan di Indonesia, (Bandung: Alumni,1983) h. 16.

kekayaan milik bersama.17 Maka dalam hal ini anak-anak dan istri berada pada posisi yang dirugikan.

Memang pembahasan pencatatan perkawinan dalam kitab-kitab fiqih tradisional tidak ditemukan, karenanya umat Islam yang berfikir fiqih sentris menganggap remeh dan cenderung mengabaikan pencatatan perkawinan oleh lembaga negara yang berwenang untuk itu. Bahkan dijumpai juga pandangan, bahwa perkawinan urusan pribadi (individual affairs) setiap muslim, karena itu pemerintah tidak perlu campur tangan pada wilayah pribadi ini. Di sisi lain sebagian masyarakat muslim yang menggunakan paradigma berfikir fiqih dan perundang-undangan sekaligus, berusaha terus mensosialisasikan manfaat dan keuntungan adanya ketentuan pencatatan perkawinan ini, terutama untuk istri dan anak-anak. Munculnya dua pandangan masyarakat muslim ini disebabkan oleh tidak adanya ketentuan dalam Al-Qur'an dan Hadits yang secara tekstual mengatur mengenai keharusan pencatatan perkawinan.18

Tujuan pencatatan perkawinan ini untuk memberikan kepastian dan perlindungan bagi para pihak yang melangsungkan perkawinan, sehingga memberikan kekuatan bukti autentik tentang telah terjadinya perkawinan dan para pihak dapat mempertahankan perkawinan tersebut kepada siapapun di hadapan hukum. Sebaliknya dengan tidak dicatatnya perkawinan, maka perkawinan yang dilangsungkan para pihak tidak mempunyai kekuatan hukum dan bukti sebagai suatu perkawinan.19

17 Rachmadi Usman. Makna Pencatatan Perkawinan Dalam Peraturan Perundang-Undangan Perkawinan Di Indonesia, h. 256.

18 Rachmadi Usman. Makna Pencatatan Perkawinan Dalam Peraturan Perundang-Undangan Perkawinan Di Indonesia, h. 257.

19 Rachmadi Usman. Makna Pencatatan Perkawinan Dalam Peraturan Perundang-Undangan Perkawinan Di Indonesia, h. 256.

Bila dicermati ketentuan Pasal 2 ayat (1) UU 1/1974, kemudian dihubungkan dengan prinsip pencatatan perkawinan sebagaimana diatur dalam Pasal 2 ayat (2) UU 1/1974, pemaknaannya bersifat ambiguitas dan memiliki potensi untuk saling melemahkan bahkan bertentangan. Hal ini dikemukakan Hakim Maria Farida Indrati yang memiliki alasan berbeda (concurring opinion) terhadap Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 46/PUU-VIII/2010 yang menyatakan20: Keberadaan Pasal 2 ayat (2) UU 1/1974 menimbulkan ambiguitas bagi pemaknaan Pasal 2 ayat (1) UU 1/1974 karena pencatatan yang dimaksud oleh Pasal 2 ayat (2) Undang-Undang a quo tidak ditegaskan apakah sekadar pencatatan secara administratif yang tidak berpengaruh terhadap sah atau tidaknya perkawinan yang telah dilangsungkan menurut agama atau kepercayaan masing-masing, ataukah pencatatan tersebut berpengaruh terhadap sah atau tidaknya perkawinan yang dilakukan. Keberadaan norma agama dan norma hukum dalam satu peraturan perundangundangan yang sama, memiliki potensi untuk saling melemahkan bahkan bertentangan. Dalam perkara ini, potensi saling meniadakan terjadi antara Pasal 2 ayat (1) dengan Pasal 2 ayat (2) UU 1/1974. Pasal 2 ayat (1) yang pada pokoknya menjamin bahwa perkawinan ialah sah jika dilakukan menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaannya, ternyata menghalangi dan sebaliknya juga dihalangi oleh keberlakuan Pasal 2 ayat (2) yang pada pokoknya mengatur bahwa perkawinan akan sah dan memiliki kekuatan hukum jika telah dicatat oleh instansi berwenang atau pegawai pencatat nikah. Jika Pasal 2 ayat (2) UU 1/1974 dimaknai sebagai pencatatan secara administratif yang tidak berpengaruh

20 Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 46/PUU-VIII/2010.

terhadap sah atau tidak sahnya suatu perkawinan, maka hal tersebut tidak bertentangan dengan UUD 1945 karena tidak terjadi penambahan terhadap syarat perkawinan. Seturut dengan itu, kata

“perkawinan” dalam Pasal 43 ayat (1) Undang-Undang a quo juga akan dimaknai sebagai perkawinan yang sah secara Islam atau perkawinan menurut rukun nikah yang lima. Namun demikian, berdasarkan tinjauan sosiologis tentang lembaga perkawinan dalam masyarakat, sahnya perkawinan menurut agama dan kepercayaan tertentu tidak dapat secara langsung menjamin terpenuhinya hak-hak keperdataan istri, suami, dan/atau anak-anak yang dilahirkan dari perkawinan tersebut karena pelaksanaan norma agama dan adat di masyarakat diserahkan sepenuhnya kepada kesadaran individu dan kesadaran masyarakat tanpa dilindungi oleh otoritas resmi (negara) yang memiliki kekuatan pemaksa.21

Pemaknaan bersifat ambiguitas prinsip pencatatan perkawinan ini dapat menimbulkan ketidakpastian dan ketidakadilan hukum.

Setiap perkawinan pada dasarnya harus dicatat agar terjamin kepastian dan perlindungan hukum bagi suami isteri beserta akibat hukumnya, yang menandakan pencatatan perkawinan merupakan suatu keharusan yang harus dipenuhi, selain harus memenuhi ketentuan dan syarat-syarat perkawinan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya. Prinsip pencatatan perkawinan yang dianut dalam UU 1/1974 menjadi tidak bermakna bilamana keabsahan suatu perkawinan tidak terkait dengan pencatatan perkawinan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Namun hal ini tidak secara tegas ditentukan dalam UU

21 Lihat Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 46/PUU-VIII/2010 tanggal 15 Juni 2021, h. 39-40.

1/1974, sehingga UU 1/1974 memberikan peluang terjadinya perkawinan yang tidak dicatat.22

Dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI), walaupun menegaskan kembali pentingnya pencatatan perkawinan, namun tidak terdapat formula yang menjadikan pencatatan perkawinan sebagai syarat formal untuk menentukan sah tidaknya ikatan perkawinan. Setidaknya hal ini disebabkan KHI menghindari tuduhan dan kritik masyarakat Islam yang masih kuat menganut faham bahwa sahnya perkawinan tidak dibenarkan melebihi syarat dan rukun yang diatur dalam kitab-kitab fiqih. Demi menghindar dari tindakan psikologis dan sosiologis tersebut, perumus KHI memilih jalan keluar, dengan memperinci satu persatu fungsi pencatatan perkawinan dalam pelbagai pasal KHI.23

Terkait dengan prinsip pencatatan perkawinan, Pemerintah memberikan keterangan atas permohonan pengujian UU 1/1974 bahwa menurut Undang-Undang a quo, sahnya perkawinan

Terkait dengan prinsip pencatatan perkawinan, Pemerintah memberikan keterangan atas permohonan pengujian UU 1/1974 bahwa menurut Undang-Undang a quo, sahnya perkawinan