• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III PENCATATAN PERKAWINAN DALAM

C. Problematika Pencatatan Perkawinan Masa Kini

4. Jarak Tempuh

Selain biaya yang dikenakan dirasa sangat tingi, problem sealnjutnya yaitu mengenai jauhnya Jarak antara Kediaman Penduduk dan Kantor Administrasi Pencatatan Sipil membuat masyarakat tidak melakukan pencatatan perkawinannya, dikarenakan biaya ongkos yang tinggi dan ketidakmampuan dalam keuangan untuk menjangkau jarak.90

88 Elfrida Ratnawati, Sri Nanang M Kamba, dkk. Catat Perkawinan Untuk Kepastian Hukum dan Perlindungan Hukum (Studi Kasus: Kabupaten Minahasa Utara), h. 246.

89 Elfrida Ratnawati, Sri Nanang M Kamba, dkk. Catat Perkawinan Untuk Kepastian Hukum dan Perlindungan Hukum (Studi Kasus: Kabupaten Minahasa Utara), h. 245.

90 Elfrida Ratnawati, Sri Nanang M Kamba, dkk. Catat Perkawinan Untuk Kepastian Hukum dan Perlindungan Hukum (Studi Kasus: Kabupaten Minahasa Utara), h. 245.

Mungkin hal ini berbeda dengan masyarakat yang tinggal di daerah perkotaan yang dengan mudah untuk mengurus persyaratan pencatatan perkawinan. Namun bagaimana dengan masyarakat yang masih tinggal di daerah pedesaan maupun pedalaman yang membutuhkan waktu berjam-jam bahkan berhari-hari untuk sampai ke pusat kota mengurus pencatatan perkawinan saja.

Akibatnya, masih banyak terjadi perkawinan di bawah umur, kalo kita melihat pada penelitian yang dilakukan BPS dan Bappenas dalam 10 tahun terakhir. Disagregasi menurut daerah tempat tinggal menunjukkan bahwa prevalensi perkawinan anak perempuan lebih tinggi di daerah perdesaan dibandingkan dengan perkotaan. Hal ini terlihat pada kelompok perkawinan pertama sebelum usia 18 tahun maupun sebelum usia 15 tahun. Sepanjang tahun 2018, prevalensi perempuan 20 – 24 tahun di perdesaan yang perkawinan pertamanya sebelum usia 18 tahun masih lebih tinggi dibandingkan dengan di perkotaan.91

Persentase perkawinan anak di perdesaan ialah 16,87 persen sementara di perkotaan hanya 7,15 persen. Namun, terdapat penurunan prevalensi di perkotaan yang lebih kecil dibandingkan dengan penurunan yang terjadi di desa selama 10 tahun terakhir. Hal ini dapat menunjukkan bahwa tren penurunan perkawinan anak lebih dipengaruhi oleh penurunan di daerah perdesaan. Di daerah perdesaan, prevalensi perempuan 20–24 tahun yang perkawinan pertamanya sebelum usia 15 tahun mengalami penurunan sebesar 1,8 poin persen selama periode 2008–2018 (2,78 menjadi 0,95 persen),

91 BPS, Kementerian PPN/ Bappenas, PUSKAPA UIN, dan UNICEF. Pencegahan Perkawinan Anak Percepatan yang Tidak Bisa ditunggu. h. 7.

sedangkan di perkotaan penurunannya hanya sebesar 0,3 poin persen (0,59 menjadi 0,28 persen).92

Begitu pula dengan perempuan 20–24 tahun yang perkawinan pertamanya sebelum usia 18 tahun, baik di perdesaan maupun perkotaan mengalami penurunan tren dalam kurun waktu 2008-2018.

Prevalensi daerah perdesaan menurun sebesar 5,76 poin persen (22,63 menjadi 16,87 persen) sedangkan di perkotaan penurunannya lebih lambat, hanya kurang dari satu poin persen (7,82 menjadi 7,15 persen).93

Dari data tersebut menerangkan bahwa perkawinan anak masih banyak terjadi di masyarakat pedesaan khususnya, hal ini memang ada berbagai macam faktor. Termasuk budaya masyarakat yang masih kental dengan istilah perawan tua kalo tidak menikah muda, selain itu kendala jarak tempuh dari desa ke tempat Dinas Pencatatan sipil sangat sulit sehingga susah untuk mengurus administrasi pencatatan perkawinan.

Semakin jauh tempat tinggal masyarakat dari ibu kota kabupaten, semakin lama waktu dan semakin mahal biaya perjalanan yang harus dikeluarkan untuk mendatangi dinas catatan sipil. Banyak responden bertempat tinggal jauh dari penyedia layanan identitas hukum, dengan rata-rata jarak ke kantor dinas catatan sipil sejauh 26 km. Jarak maksimum ke suatu kantor/dinas penyedia layanan identitas hukum di Jawa Barat ialah sejauh 18 km, sedangkan di NTB dan NTT angka ini mencapai 200 km.94

92 BPS, Kementerian PPN/ Bappenas, PUSKAPA UIN, dan UNICEF. Pencegahan Perkawinan Anak Percepatan yang Tidak Bisa ditunggu. h. 8.

93 BPS, Kementerian PPN/ Bappenas, PUSKAPA UIN, dan UNICEF. Pencegahan Perkawinan Anak Percepatan yang Tidak Bisa ditunggu. h. 8.

94 Cate Sumner. Studi Dasar AIPJ tentang Identitas Hukum Jutaan Orang Tanpa Identitas Hukum di Indonesia. (Jakarta: DFAT, 2018), h. 73.

Akan tetapi, jarak tidak secara akurat dapat diterjemahkan menjadi waktu, kesulitan, dan biaya terkait dengan perjalanan untuk memperoleh layanan identitas hukum. Perjalanan dari suatu daerah terpencil ke kantor dinas catatan sipil seringkali dipenuhi kendala finansial, budaya, fisik, dan kadang psikologis bagi orang yang menempuh perjalanan tersebut. Kendala finansial bisa mencakup biaya transportasi yang harus dikeluarkan untuk menempuh perjalanan dari daerah terpencil ke daerah perkotaan selama beberapa kali, sesuai jumlah yang dipersyaratkan untuk memperoleh dokumen identitas hukum, serta hilangnya pendapatan yang terjadi saat melakukan perjalanan tersebut. Kendala fisik bisa mencakup beratnya medan di lapangan, jadwal angkutan laut yang tidak pasti atau tidak rutin, serta masalah keamanan di beberapa daerah dalam jalur menuju gedung pengadilan.95

Kendala budaya dan/atau psikologis kerap menghalangi perempuan dan anak-anak melakukan perjalanan dari desa mereka ke daerah pusat kota untuk mencatatkan dan mengajukan perkaranya untuk disidangkan secara resmi di pengadilan.96

Penyandang disabilitas menghadapi kendala tambahan ketika melakukan perjalanan, sekalipun dengan jarak tempuh singkat, untuk memperoleh layanan identitas hukum. Biaya transportasi bisa jadi lebih mahal bagi warga dengan hambatan fisik yang kesulitan menggunakan angkutan umum yang ada sehingga mereka terpaksa menggunakan taksi atau kendaraan pribadi. Di beberapa kabupaten,

95 Cate Sumner. Studi Dasar AIPJ tentang Identitas Hukum Jutaan Orang Tanpa Identitas Hukum di Indonesia. h. 73.

96 Cate Sumner. Studi Dasar AIPJ tentang Identitas Hukum Jutaan Orang Tanpa Identitas Hukum di Indonesia. h. 73-74.

kemungkinan tidak ada bentuk angkutan yang dapat diakses oleh warga dengan hambatan fisik untuk menuju ibu kota kabupaten.97 5. Rumitnya Proses Memperoleh Dokumen

Penelitian yang dilakukan BPS menemukan bahwa hanya ada sedikit informasi tentang proses pencatatan kelahiran yang tersedia dan dapat diakses publik. Banyak peraturan daerah yang mengatur proses permohonan pencatatan kelahiran tidak memberikan pedoman yang jelas tentang langkah-langkah yang harus diambil, namun hanya memuat informasi tentang biaya dan saksi berupa denda. Studi ini menemukan bahwa di banyak kasus, kurangnya informasi tentang proses memperoleh dokumen identitas hukum ini dijadikan peluang oleh para perantara untuk menawarkan jasa atau bantuannya.98

Studi dasar ini menemukan bahwa ada sebagian kecil responden (4%) yang menganggap dokumen identitas hukum merupakan hal yang tidak perlu atau tidak penting, dan hal ini menandakan perlunya edukasi bagi masyarakat tentang pentingnya akta kelahiran dan cara memperoleh dokumen tersebut bagi anak-anak mereka. Di tahun 2013, sudah ada beberapa perubahan yang dilakukan untuk menyederhanakan proses pemerolehan dokumen identitas hukum; hal ini berkat adanya gugatan ke Mahkamah Konstitusi RI yang berhasil dimenangkan dan kemudian dituangkan dalam peraturan perundang-undangan yang disahkan DPR RI pada bulan Desember 2013. Akan tetapi perubahan dalam peraturan perundang-undangan ini tidak akan ada maknanya tanpa adanya

97 Cate Sumner. Studi Dasar AIPJ tentang Identitas Hukum Jutaan Orang Tanpa Identitas Hukum di Indonesia. h. 74.

98 Cate Sumner. Studi Dasar AIPJ tentang Identitas Hukum Jutaan Orang Tanpa Identitas Hukum di Indonesia. h. 75.

kampanye untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya dan manfaat dokumen identitas hukum.99

Persyaratan yang harus dipenuhi sangat banyak. Bahwa sebelum Tahun 2013, apabila masyarakat hendak melakukan pencatatan perkawinan, terlalu banyak syarat yang harus dipenuhi, antara lain harus ada syarat sudah melakukan imunisasi, apabila berada di luar wilayah harus membawa surat rekomendasi, pasangan yang belum tercatat harus ke Pengadilan terlebih dahulu lalu mengajukan perceraian. Hal ini dirasakan terlalu berat oleh masyarakat dan ada suatu pemikiran apabila pergi ke Pengadilan menyelesaiakan suatu permasalahan dianggap tabu dan memalukan.

Terhadap masalah ini sudah ada solusinya, yaitu pada saat ini apabila pasangan yang belum mencatatkan perkawinannya, lalu berpisah dan hendak menikah lagi, maka ada solusi yang ditawarkan yaitu tidak perlu melakukan proses litigasi ke Pengadilan, namun pihak Pejabat Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil melakukan proses non Litigasi dengan cara memanggil para pihak untuk menyelesaikan permasalahan dan Pihak Pencatatan Sipil bertindak sebagai mediator untuk mediasi para pihak.100

Dengan demikian permasalahan-permasalahan dapat segera teratasi tanpa memakan waktu lama dan biaya tinggi. Saat ini pengurusan membuat akta perkawinan ditetapkan dengan persyaratan yang lebih sedikit antara lain KTP Para Pihak, Kartu Keluarga, Surat Kawin Gereja, Kutipan Akta Kelahiran dan Saksi.101

99 Cate Sumner. Studi Dasar AIPJ tentang Identitas Hukum Jutaan Orang Tanpa Identitas Hukum di Indonesia. h. 75-76.

100 Elfrida Ratnawati, Sri Nanang M Kamba, dkk. Catat Perkawinan Untuk Kepastian Hukum dan Perlindungan Hukum (Studi Kasus: Kabupaten Minahasa Utara), h. 244.

101 Elfrida Ratnawati, Sri Nanang M Kamba, dkk. Catat Perkawinan Untuk Kepastian Hukum dan Perlindungan Hukum (Studi Kasus: Kabupaten Minahasa Utara), h. 244.

6. Kurangnya Pemahaman Masyarakat

Banyaknya jumlah penduduk yang tidak memiliki akta perkawinan mengindikasikan kurangnya pemahaman dan informasi terkait pentingnya memiliki akta perkawinan. Oleh karena itu, perlu dilaksanakannya penyuluhan tentang arti penting pencatatan Perkawinan dengan berkoordinasi secara lintas sektor kepada para stakeholder, untuk meningkatkan kesadaran hukum masyarakat di Indonesia terkait urgensi pencatatan perkawinan untuk memperoleh akta perkawinan.102

Faktor kurangnya pemahaman bisa diakibatkan pendidikan yang masih rendah. Melihat dari penelitian yang dilakukan BPS tingkat pencapaian pendidikan selain dilihat dari jenjang pendidikan yang ditamatkan, juga dapat dilihat melalui rata-rata lama sekolah.

Rata-rata lama sekolah merupakan rata-rata jumlah tahun yang dihabiskan seseorang untuk menempuh semua jenis pendidikan yang pernah dijalani (tidak termasuk tahun yang mengulang). Dengan melihat rata lama sekolah. akan terlihat di tahun ke berapa rata-rata seseorang berhenti sekolah.103

Dari 34 provinsi, hanya 14 provinsi di mana rata-rata lama sekolah untuk perempuan usia 20-24 tahun yang melangsungkan perkawinan anak melebihi angka nasional. Sementara sisanya, masih berada di bawah angka nasional. Pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Maluku mempunyai rata-rata lama sekolah di atas 7 tahun. Sementara itu, pada beberapa provinsi di Pulau Sulawesi, Nusa Tenggara Timur, dan Papua masih terdapat

102 Elfrida Ratnawati, Sri Nanang M Kamba, dkk. Catat Perkawinan Untuk Kepastian Hukum dan Perlindungan Hukum (Studi Kasus: Kabupaten Minahasa Utara), h. 243.

103 BPS, Kementerian PPN/ Bappenas, PUSKAPA UIN, dan UNICEF. Pencegahan Perkawinan Anak Percepatan yang Tidak Bisa ditunggu. h. 9.

provinsi dengan rata-rata lama sekolah di bawah 7 (tujuh) tahun, yaitu Provinsi Nusa Tenggara Timur (6,51), Sulawesi Barat (6,51), Gorontalo (6,49), dan Papua (3,73).104

Selain itu tingkat kepatuhan hukum pada masyarakat begitu kurang. Walaupun legislatif Indonesia telah mengamandemen UU Perkawinan, namun saat ini ratusan ribu orang tua di seluruh wilayah Indonesia menikahkan anak perempuan mereka tanpa persetujuan pengadilan (AIPJ2, 2019). Menaikkan batas usia dari 16 menjadi 19 tahun bagi anak perempuan tidak akan meningkatkan kepatuhan terhadap hukum Indonesia di kota dan desa kecuali dilakukan aksi bersama pada berbagai sisi.105

Pencatatan perkawinan di Indonesia, dengan demikian masih belum efektif dilaksanakan seperti yang dicita-citakan peraturan perundang-undangan. Pencatatan perkawinan, yang sejatinya untuk meningkatkan status perempuan dan menjamin kesejahteraan (serta anak-anaknya) belum mampu disadari penuh oleh masyarakat. Beberapa faktor yang menjadikan praktik ini tetap eksis ialah karena ambigunya peraturan perkawinan, termasuk dalam hal pencatatan perkawinan itu sendiri, sehingga masyarakat masih sangat kuat bahwa anggapan nikah yang tidak dicatatkan tetap sah dalam kacamata agama dan adat istiadat.

Faktor lain yang dapat dilihat ialah kesadaran hukum dan pendidikan yang relative rendah di kalangan masyarakat, sehingga tidak merasa penting pencatatan ini. Selain itu, faktor ekonomi juga mempengaruhi mengapa masyarakat lebih suka menikah di penghulu-penghulu.106

104 BPS, Kementerian PPN/ Bappenas, PUSKAPA UIN, dan UNICEF. Pencegahan Perkawinan Anak Percepatan yang Tidak Bisa ditunggu. h. 8.

105 Cate Sumner. Mengakhiri Pernikahan Anak di Indonesia: Peran Pengadilan, The CILIS Policy Paper, Mellbourne University, Australia, 2020, h. 19.

106 Ahmad Tholabie Kharlie. Modernitas Hukum Keluarga di Indonesia, (Disertasi Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta, 2009), h. 206.

Meskipun masyarakat mengakui pencatatan perkawinan sebagai hal yang sangat penting, namun dalam praktiknya dilapangan masyarakat cenderung terikat dengan hukum adat yang telah turun-temurun. Budaya yang sudah berlangsung selama ini akhirnya menimbulkan dilema bagi penegak hukum untuk menegakkan hukum yang sesuai dengan undang-undang yang berlaku. Berbeda dengan masyarakat perkotaan atau masyarakat terpelajar yang lebih menerima pencatatan sebagai suatu tatanan administrasi, pegawai KUA dalam beberapa hal masih sangat terikat dengan lingkungan sosial disekitarnya, sehingga hubungan antar mereka saling mempengaruhi tindakan selanjutnya.107

Meskipun demikian, tentu terdapat perbedaan yang signifikan antara proses pelayanan pencatatan perkawinan dahulu dengan sekarang ini.

Semakin berkembangnya teknologi, pemerintah mengambil inisiatif dengan melakukan perubahan terhadap layanan administrasi pencatatan perkawinan, bisa diakses melalui aplikasi sistem informasi manajemen nikah (SIMKAH) yang berbasis online. Sebagaimana termaktub dalam PMA No 19 tahun 2018 jo PMA No. 20 tahun 2019 tentang Pencatatan Perkawinan Pasal 21 ayat (1) “Administrasi pencatatan perkawinan dilakukan melalui sistem informasi manajemen perkawinan berbasis online.” Kemudian ayat (2) “Dalam hal KUA Kecamatan belum terhubung jaringan, administrasi pencatatan perkawinan dilakukan secara offline.” Tentu hal ini masih menjadi persoalan bagi masyarakat yang berada jauh diluar pulau yang akses internetnya terbatas.

Kesimpulan dari penulis yaitu, dari enam problematika yang ada ini, yang berimplikasi nyata terhadap pencatatan perkawinan di Indonesia adalah point terakhir, yaitu kurangnya pemahaman masyarakat akan

107 Ahmad Tholabie Kharlie. Modernitas Hukum Keluarga di Indonesia, (Disertasi Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta, 2009), h. 207.

urgensi pencatatan nikah. Maka dari itu diperlukannya kerjasama yang baik kepada semua element baik itu pemerintahan dan perangkat di desa/

perkampungan untuk mensosialisasikan akan hal ini. Agar terwujudnya tertib administrasi dan kemaslahatan bagi masyarakat, khususnya istri dan anak.

119 BAB IV

ANALISIS KONSEP MASLAHAH DAN KEPASTIAN HUKUM DALAM PENCATATAN PERKAWINAN DI INDONESIA

A. Asas Kepastian Hukum dalam Pencatatan Perkawinan

Dalam pencatatan perkawinan, jika menelisik pada masa awal Islam sudah ada tradisi i‟lan al-Nikah. Menurut pendapat sebagian ulama, i`lan al nikah merupakan salah satu syarat sahnya akad nikah.

Artinya apabila perkawinan tidak diumumkan, maka perkawinan tersebut tidak sah, bahkan menurut pendapat sebagian ulama, yang membedakan antara perkawinan dan perzinaan ialah bahwa perkawinan diumumkan sedangkan perzinaan tidak diumumkan.

Praktek i`lan al-Nikah pada masa awal Islam merupakan salah satu hal yang disunahkan dan sangat dianjurkan oleh Rasulullah. Hal ini terbukti dengan adanya hadits yang menyatakan demikian, diantaranya: bersabda: “Umumkanlah perkawinan itu dan jadikanlah tempat mengumumkannya di masjid-masjid dan tabuhlah rebana-rebana.”

(HR. al-Tirmidzi).

Mengadakan atau menyeleggrakan akad nikah di masjid merupakan bentuk pengumuman paling praktis. Sebab masjid adalah tempat umum dan tempat berkumpulnya orang-orang pada waktu shalat. Pada masa awal Islam keberadaan masjid sama fungsinya seperti aula atau gedung pertemuan di masa sekarang ini.

Di sisi lain, pengumuman juga bertujuan untuk memberikan dorongan untuk kawula muda agar berani menikah. Inilah tujuan yang dicita-citakan dari pemberlakuan dan tuntutan Islam yang sangat mulia.1 Biasanya dalam pesta pernikah atau walimah diadakan hiburan yang berupa music dan nyanyian. Maksudnya untuk memeriahkan suasana, menghibur para tamu undangan, khususnya pengantin yang sedang duduk di pelaminan agar mereka lebih gembira. Hal ini diperbolehkan dalam ajaran Islam selama music dan nyanyian itu bersifat positif dan tidak dicampuri oleh omongan kotor yang mengarah pada perbuatan dosa. Musik dan nyanyian tidak boleh dibarengi dengan perbuatan haram, misalnya bercampur baurnya antara laki-laki dan perempuan, apalagi kalau disertai dengan minum-minuman keras.2

Salah satu bentuk i`lan al nikah ialah walimah al `urusy (resepsi perkawinan). Dalam sebuah hadits, Rasulullah memerintahkan untuk melaksanakannya, walaupun secara sederhana:

Artinya: “Rasulullah SAW bersabda: “Adakanlah walimah, walaupun hanya dengan menyemblih seekor kambing.” (HR.

Bukhori).

1 Muhammad Ali al-Shabuni, Kawinlah selagi Muda, Dar al-Qalam, Damaskus, Cet kesatu, 1411 H/1991M, h.142.

2 Abdul Muhaimin As‟ad, Risalah Nikah, Bintang Terang Surabaya, Cet kesatu, 1993, h.49

Dalam pelaksanaan walimah ada beberapa adab yang harus dipatuhi, diantaranya:

a. Hendaknya berwalimah dengan menyembelih seekor kambing atau lebih, jika memiliki kelebihan ekonomi.

b. Jika tidak mampu, boleh menyuguhkan makanan apa saja, walaupun bukan daging.

c. Tidak boleh mengundang orang-orang kaya saja.

d. Suami dan orang-orang yang mengadakan walimah wajib menjauhkan segala bentuk kemunkaran dan hal-hal yang dilarang dalam Islam.3

Dari beberapa hadits diatas, terlihat bahwa walaupun pada masa itu pencatatan perkawinan belum dilakukan, namun substansi yang ingin dicapai pencatatan perkawinan telah dimanifestasikan.

Meskipun dalam bentuk yang lebih sederhana, sebagaimana yang telah dikemukakan sebelumnya bahwa tradisi walimah al-„urusy yang merupakan salah satu bentuk i‟lan al-Nikah dianggap sebagai saksi telah terjadinya suatu perkawinan, disamping adanya saksi syar‟i. Hal demikian, dilakukan guna untuk mencapai kepastian hukum.

Sedangkan di Indonesia sendiri, sebagaimana terdapat dalam Pasal 2 ayat (1) UU No. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan menyatakan bahwa perkawinan ialah sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaannya. Selanjutnya dalam penjelasan pasal tersebut disebutkan bahwa tidak ada perkawinan diluar agama dan kepercayaannya masing-masing.

Kemudian dalam ayat (2) disebutkan bahwa perkawinan harus

3 Abdullah Nashih Ulwan, Adab al-Khitbah wa Al-zafaf wa huquq al-Zaujian, penerjemah Aunur rafiq shaleh, Al-islahiy Press, Jakarta, 1407 H/1978 M, h.108-112.

dicatatkan. Regulasi yang dimaksud ialah UU No. 22 tahun 1946 dan UU No. 34 tahun 1954, sedangkan kewajiban pencatat nikah diatur dalam PP No. 1 tahun 1955. Menurut ketentuan pasal 2 PP No. 9 tahun 1975 bahwa pencatatan perkawinan bagi yang beragama Islam dilakukan oleh PPN KUA, sedangkan bagi non-muslim dilakukan di kantor catatan sipil (KC).4

Mahkamah Konstitusi dalam putusannya berpendapat bahwa pokok permasalahan hukum pencatatam perkawinan menurut undang-undang ialah mengenai pencatatan perkawinan. Mengenai masalah ini, penjelasan umum nomor 4 huruf b UUP tentang asas-asas perkawinan menyatakan bahwa:, “...bahwa suatu perkawinan ialah sah bilamana dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu; dan di samping itu tiap-tiap perkawinan harus dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pencatatan tiap-tiap perkawinan ialah sama halnya dengan pencatatan peristiwa-peristiwa penting dalam kehidupan seseorang, misalnya kelahiran, kematian yang dinyatakan dalam surat-surat keterangan, suatu akte yang juga dimuat dalam daftar pencatatan”.5

Menurut Mahkamah Konstitusi (MK) berdasarkan Penjelasan Umum angka 4 huruf b UUP nyatalah bahwa:

1. Pencatatan perkawinan bukanlah merupakan faktor yang menentukan sahnya perkawinan; dan

2. Pencatatan merupakan kewajiban administratif yang diwajibkan berdasarkan peraturan perundang-undangan.6

4 Marwin. Pencatatan Perkawinan Dan Syarat Sah Perkawinan Dalam Tatanan Konstitusi, h. 103.

5 Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 46/PUU-VIII/2010.

6 Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 46/PUU-VIII/2010.

Faktor yang menentukan sahnya suatu perkawinan ialah syarat-syarat yang ditentukan oleh agama masing-masing pasangan calon mempelai. Kewajiban pencatatan perkawinan oleh Negara melalui peraturan perundang-undangan merupakan kewajiban administrative. Menurut MK, pentingnya kewajiban administrative dapat dilihat dua perspektif. Pertama, dari perspektif Negara, pencatatan diperlukan dalam rangka fungsi Negara untuk menjamin perlindungan, pemajuan, penegakan dan pemenuhan hak asasi manusia yang menjadi tanggung jawab Negara dan harus dilaksanakan sesuai dengan prinsip Negara. Negara hukum yang demokratis yang diatur dan dituangkan dalam peraturan perundang-undangan.7

Pencatatan administrative yang dilakukan oleh Negara dimaksudkan agar perkawinan sebagai suatu perbuatan hukum yang penting dalam kehidupan yang bersangkutan, yang mempunyai implikasi hukum yang sangat luas, nantinya dapat dibuktikan dengan bukti yang sempurna dengan suatu akta yang autentik, sehingga perlindungan dan pelayanan disediakan oleh Negara. Terkait hak-hak yang timbul adanya perkawinan dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien.8

Artinya, dengan adanya alat bukti perkawinan yang autentik, maka hak-hak yang timbul akibat perkawinan dapat dilindungi dan dilayani dengan baik. Karena ridak diperlukan suatu proses pembuktian yang memakan waktu, biaya, dan tenaga dan pikiran yang lebih banyak, seperti pembuktian asal usul anak dalam

7 Marwin. Pencatatan Perkawinan Dan Syarat Sah Perkawinan Dalam Tatanan Konstitusi. h. 102 Lihat juga dalam Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 46/PUU-VIII/2010 www.mahkamahkonstitusi.go.id, diunduh tanggal 15 Juni 2021, h. 33.

8 Marwin. Pencatatan Perkawinan Dan Syarat Sah Perkawinan Dalam Tatanan Konstitusi, h. 102.

perkawinan. Pasal 55 UUP mengatur bahwa apabila asal-usul anak tidak dapat dibuktikan dengan akta autentik maka hal itu akan ditentukan dengan putusan pengadilan yang berwenang. Pembuktian demikian tentu tidak lebih efektif dan effisien jika dibandingkan dengan adanya akat autentik sebagai alat bukti.9

Diwajibkannya pencatatan perkawinan disamping karena alasan hukum, hal ini merupakan salah satu bentuk taat kepada pemerintah.10Kewajiban mentaati pemerintah termaktub dalam firman Allah QS.an-Nisa ayat 59:

ُخْعَصاَىَج ْنِاَف ْۚم ُىْى ِم ِش ْم َ ْالا ىِلوُاَو ٌَْى ُظَّشلا اىُعْي ِطَاَو َ هاللَّ اىُعْيِطَا آْىُىَمٰا ًًَِْزَّلا اَهُّيَآًٰ

ٍء ْي َ ش ْي ِف ْم

َّو ٌرْي َخ ًَِل ٰر ِِۗش ِخْٰالا ِمْىَيْلاَو ِ هللّٰاِب َنْىُىِمْؤُج ْمُخْىُه ْنِا ٌِْى ُظَّشلاَو ِ هاللَّ ىَلِا ُهْوُّدُشَف ًلاْيِو ْ

أَج ًُ َع ْخَا

Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS an-Nisa: 21)

Bentuk ketaatan kepada pemerintah adalah melaksanakan aturan yang dibuat oleh mereka. Kalau taat pada Pemerintah itu wajib, maka melaksanakan pencatatan perkawinan juga wajib karena merupakan undang-undang dari Pemerintah.11 Dan hal ini dalam

9 Marwin. Pencatatan Perkawinan Dan Syarat Sah Perkawinan Dalam Tatanan Konstitusi. h. 103.

10 Mayadina Rohmi musfirah,Muhammad idkholus Surur, Kajian Mengenai Pencatatan Perkawinan di Indonesia ditinjau dari Pemahaman Hukum Santri, Isti‟dal, Vol.

10 Mayadina Rohmi musfirah,Muhammad idkholus Surur, Kajian Mengenai Pencatatan Perkawinan di Indonesia ditinjau dari Pemahaman Hukum Santri, Isti‟dal, Vol.