• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III PENCATATAN PERKAWINAN DALAM

B. Prosedur dan Tata Cara Pencatatan Perkawinan di

Perkawinan merupakan salah satu tahapan penting dalam kehidupan manusia dan telah dijalani selama berabad-abad dalam suatu masyarakat budaya dan agama. Beberapa orang menganggapnya sebuah kesakralan.

sebagaimana peristiwa kelahiran dan kematian yang diusahakan hanya terjadi sekali seumur hidup.29

Di masa penjajahan Belanda hukum perkawinan yang berlaku ialah Compendium Freijer, yaitu kitab hukum yang berisi aturan-aturan hukum perkawinan dan hukum waris menurut Islam, yang ditetapkan pada 25 Mei 1760 untuk dipakai oleh VOC. Atas usul Residen Cirebon, Mr. P.C.

Hasselaar (1757-1765) dibuatlah kitab Tjicebonshe Rechtsboek.

Sementara untuk Landraad di Semarang tahun 1750 dibuat Compendium

28 Yayan Sopyan. Transformasi Hukum Islam ke dalam Sistem Hukum Nasional (Studi tentang Masuknya Hukum Perkawinan Islam ke dalam UU No 1tahun 1974 tentang Perkawinan). h. 406.

29 Nastangin. Tinjauan Filosofis (Pasal 2 Ayat (2) Undang-Undang Perkawinan No 1 Tahun 1974 Tentang Pencatatan Perkawinan). Jurnal al-Hakimi Vol. 2 No. 1 Januari 2018, h. 13.

tersendiri. Sedang untuk daerah Makassar oleh VOC disahkan suatu Compendium sendiri. Pada masa Daendels (1800-1811) dan Thomas S.

Raffles (1811-1816), hukum Islam merupakan hukum yang berlaku bagi masyarakat.30

Setelah Indonesia merdeka, terdapat beberapa peraturan perkawinan Islam. Diantaranya ialah Undang-undang Nomor 22 Tahun 1946 tentang Pencatatan Nikah, Talak, dan Rujuk, yang ditetapkan pada tanggal 21 Nopember 1946 dan terdiri dari 7 pasal. Ketentuan tentang pencatatan perkawinan diatur dalam Pasal 1 ayat (1), yaitu: “Nikah yang dilakukan menurut agama Islam, selanjutnya disebut nikah. Diawasi oleh Pegawai Pencatat Nikah yang diangkat oleh Menteri Agama atau oleh Pegawai yang ditunjuk olehnya. Talak dan rujuk yang dilakukan menurut agama Islam, selanjutnya disebut talak dan rujuk, diberitahukan kepada Pegawai Pencatat Nikah.”31

Sedangkan alat bukti yang diberikan berkaitan dengan pencatatan perkawinan berupa “surat petikan buku pendaftaran nikah”, sebagaimana diatur dalam Pasal 2 ayat (2), yaitu: “ ... maka mereka itu wajib memberikan petikan dari pada buku-pendaftaran yang tersebut diatas ini kepada yang berkepentingan dengan percuma tentang nikah yang dilakukan dibawah pengawasannya atau talak dan rujuk yang dibukukannya ...”

Yang terpenting dari undang-undang ini ialah semangat pemerintah untuk memperbaiki keefektifan catatan perkawinan, perceraian, dan rujuk bagi seluruh rakyat Indonesia. Meskipun begitu, penekanannya lebih pada proses hukum dari pencatatan perkawinan, bukan pada

30 Nafi Mubarak, Sejarah Hukum Pencatatan Perkawinan di Indonesia. Dalam jurnal Justicia Islamica, Vol. 14 No. 1 Tahun 2017, h. 77.

31 Nafi Mubarak, Sejarah Hukum Pencatatan Perkawinan di Indonesia. h. 77.

kandungan hukum dari proses pencatatan perkawinan.32 Hanya saja undang-undang ini hanya berlaku untuk daerah Jawa dan Madura saja, sebagaimana diatur dalam Pasal 6, yaitu: “Undang-undang ini disebut

"Undang-undang Pencatatan nikah, talak dan rujuk" dan berlaku untuk Jawa dan Madura pada hari yang akan ditetapkan oleh Menteri Agama.”

Baru pada 26 Oktober 1954 undang-undang tersebut berlaku secara menyeluruh di Indonesia, dengan disahkannya Undang-undang No. 32 tahun 1954 tentang Penetapan Berlakunya Undang-undang Republik Indonesia No. 22 Tahun 1946 tentang Pencatatan Nikah, Talak dan Rujuk di Seluruh Daerah Jawa dan Madura, sebagaimana disebutkan dalam Pasal 1.33

Dengan demikian, maka dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut:

1. Pengaturan pencatatan perkawinan dapat diklasifikasikan pada dua jenis, yaitu:

a. Tidak mengatur pencatatan perkawinan, sebagaimana diatur dalam:

(1) Compendium Freijer(masa VOC tahun 1750-1765), (2) Hukum Islam (masa Deandels tahun 1800-1811), (3) Hukum Islam (masa T.

S. Raffles tahun 1811-1816), (4) R/Stbl. 1885 No 2 dan (5) IR/Stbl.

1925 No. 416.

b. Mengatur pencatatan perkawinan, sebagaimana diatur dalam (1) RO Perkawinan Tercatat, (2) Undang-undang No. 22 Tahun 1946, dan (3) Undang-undang No. 32 Tahun 1954.

2. Dalam kaitannya dengan alat bukti perkawinan, maka dapat diklasifikasikan pada dua jenis, yaitu:

a. Alat bukti sebagaimana dalam Hukum Islam, yaitu wali dan dua saksi, sehingga tidak terdapat bukti tertulis, sebagaimana diatur

32 Nafi Mubarak, Sejarah Hukum Pencatatan Perkawinan di Indonesia, h. 77.

33 Nafi Mubarak, Sejarah Hukum Pencatatan Perkawinan di Indonesia, h. 78.

dalam (1) Compendium Freijer(masa VOC/1750-1765), (2) Hukum Islam (masa Deandels/1800-1811), (3) Hukum Islam (masa T. S.

Raffles/1811-1816), (4) R/Stbl. 1885 No 2 dan (5) IR/Stbl. 1925 No. 416.

b. Alat bukti tertulis, baik (1) dari Lembaga Catatan Sipil (sebagaimana diatur dalam RO Perkawinan Tercatat) atau (2) dari Pegawai Pencatat Nikah (sebagaimana diatur dalam Undang-undang No. 22 Tahun 1946, dan Undang-Undang-undang No. 32 Tahun 1954.)

Negara menginginkan agar pembentukan lembaga perkawinan itu bertujuan untuk membentuk keluarga yang bahagia, religious, terjaminnya pemeliharaan dan pendidikan anak serta berlangsung selama mungkin. Tak terkecuali Negara Indonesia yang dalam hal ini pemerintah mengambil peran yang sangat besar dalam membuat aturan perkawinan, agar tujuan perkawinan yang dimaksud tercapai.

Sebelum berlakunya UUP ketentuan, tatacara dan sahnya perkawinan bagi orang Indonesia umumnya didasarkan pada hukum agama dan hukum adat masing-masing. Menurut hukum adat, perkawinan ialah ikatan antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan untuk membentuk rumah tangga yang dilakukan menurut adat dan agamanya dengan melibatkan keluarga kedua belah pihak saudara maupun kerabat.34

Aturan ini kemudian dirasa sudah tidak relevan lagi dengan kebutuhan dan permasalahan-permasalahan yang timbul di zaman sekarang ini. Syarat perkawinan yang hanya dilakukan berdasarkan agama dan hukum adat, tidak menjamin adanya kepastian hukum

34 Wasman dan Wardah Nuroniyah. Hukum Perkawinan Islam di Indonesia, cet. ke-1 (Yogyakarta: CV. Citra Utama, 20ke-1ke-1), h 279.

bilamana di kemudian hari terjadi suatu peristiwa hukum atau konflik diantara kedua belah pihak. Terkait hal tersebut berarti, tidak ada bukti otentik yang dijadikan dasar untuk menyelesaikan konflik tersebut.

Setelah berlakunya UUP, terjadilan kesatuan hukum perkawinan di Indonesia. Pengaturan hukum tentang perkawinan telah berlaku sama bagi semua warga Negara. Oleh karena itu, setiap warga Negara harus tunduk dan patuh terhadap aturan yang berlaku, termasuk Undang-undang No. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan yang menjadi dasar untuk menciptakan kepastian hukum, baik dari segi hukum keluarga, harta benda, dan akibat hukum dari suatu perkawinan.35

Pada prinsipnya sebuah perkawinan dapat dikatakan sah secara hukum apabila memenuhi 2 (dua) syarat yaitu, baik syarat materil maupun formil. Di Indonesia, syarat sahnya suatu perkawinan diatur dalam UndangUndang Nomor: 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.

Dalam Undang-undang ini, tepatnya di dalam Pasal 2 diatur bahwa sebuah perkawinan sah secara hukum apabila dilakukan menurut hukum agama dan kepercayaan dari masing-masing pihak yang akan menikah dan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.36

Syarat materil dari sebuah perkawinan yang dimaksud dalam pasal ini ialah bahwa perkawinan yang akan dilakukan sah menurut agama masing-masing pihak. Apabila perkawinan akan dilakukan oleh pasangan yang berbeda agama, maka kembali lihat kepada hukum agama masing-masing pihak. Bahwa sebagaimana diatur dalam ketentuan Pasal 10 PP No. 9 Tahun 1975 dinyatakan, perkawinan baru dapat dikatakan sah secara hukum apabila dilakukan di hadapan pegawai pencatat dan

35 K. Wantjik Saleh. Hukum Perkawinan Indonesia (Jakarta Timur: Ghalia Indonesia, 1982). h. 3. Lihat juga, Dyah Ochtorina Susanti, Siti Nur Shoimah. Urgensi Pencatatan Perkawinan (Perspektif Utilities), Vol. 11. No. 2, Desember 2016). h. 167.

36 Barzah Latupono. Pencatatan Perkawinan Di Indonesia Dikaitkan Dengan Good Governance. Jurnal S A S I Vo l u m e 2 4 N o . 2 , J u l i - D e s e m b e r 2 0 1 8. h. 151.

dihadiri dua orang saksi. Dan tata cara perkawinan dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya. Di Indonesia, sebuah perkawinan wajib di daftarkan (di catat) di instansi yang telah ditentukan (KUA bagi pasangan beragama Islam dan Kantor Catatan Sipil bagi pasangan yang beragama Non-Islam). Dalam hal ini setiap pasangan yang akan mencatatkan perkawinannya wajib memilih salah satu instansi ini.37

Mengingat begitu pentingnya suatu lembaga perkawinan, Negara menentukan prosedur tertentu bagi warganya yang hendak melangsungkan perkawinan. Salah satu prosedur perkawinan yang harus dilaksanakan oleh pihak-pihak yang ingin menikah ialah dengan mencatatkan perkawinannya di hadapan para pejabat perkawinan.38 Ketentuan pencatatan perkawinan ini dapat dilihat dalam dua sumber hukum yang berlaku di Indonesia, yaitu pasal Pasal 2 ayat 1 UU No. 1 Tahun 1974 dan Pasal 5 Kompilasi Hukum Islam. Pada pasal 2 ayat 1 UU No. 1 Tahun 1974 disebutkan ”Tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.” Kemudian pasal 5 Kompilasi Hukum Islam (KHI) menyebutkan:

1. Agar terjamin ketertiban perkawinan bagi masyarakat Islam, setiap perkawinan harus dicatat.

2. Pencatatan perkawinan tersebut pada ayat (1) dilakukan oleh pegawai pencatat nikah sebagaimana yang diatur dalam Undang-undang No. 27 tahun 1946 jo. Undang-undang No. 32 tahun 1954.

Terkait hal tersebut, berarti pencatatan perkawinan bukan menjadi penentu sah tidaknya suatu perkawinan. Hal ini yang kemudian menjadi

37 Barzah Latupono. Pencatatan Perkawinan Di Indonesia Dikaitkan Dengan Good Governance. h. 152.

38 Ibnu Radwan Siddik. Studi Pebandingan Ketentuan Pencatatan Perkawinan Di Indonesia Dan Malaysia. Dalam artikel diakses pada tanggal 22 Juni 2021 Pkl 21.43 WIB.

faktor yang mengakibatkan banyak orang tidak melakukan pencatatan pada Kantor Catatan Sipil atau Kantor Urusan Agama (KUA) bagi orang muslim. Pada sisi lain, ketentuan ini merupakan suatu kesatuan yang tidak dapat dipilih keberlakuannya. Pada saat hanya memenuhi salah satu ketentuan saja, maka peristiwa perkawinan tersebut belum memenuhi unsur hukum yang ditentukan oleh Undang-undang. Hal tersebut berarti, apabila ada suatu sengketa antara suami istri yang perkawinannya tidak dicatatkan, maka salah satu pihak yang bersengketa tidak dapat melakukan penuntutan.

Akibatnya, meskipun perkawinan sudah dipandang sah berdasarkan aturan agama tertentu, tetapi kalau belum dicatatkan pada kantor pemerintah yang berwenang baik Kantor Urusan Agama (KUA) untuk yang beragama Islam ataupun Kantor Catatan Sipil (KCS) untuk yang diluar Islam), maka perkawinan tersebut belum diakui sah oleh negara.

Dalam berbagai kasus, sahnya suatu perkawinan secara yuridis memang harus dibuktikan melalui buku nikah yang diperoleh dari KUA dan KCS.

Hal ini tentu saja menimbulkan implikasi hukum dan sosial yang beragam bagi pasangan yang berbeda agama seperti misalnya anak-anak yang lahir tidak akan dianggap sebagai keturunan yang sah dan suami-istri pun mengalami kesulitan memperoleh hak-hak keperdataan yang timbul dari perkawinan tersebut.

Terkait dengan prinsip pencatatan perkawinan, Pemerintah memberikan keterangan atas permohonan pengujian UU 1/1974 bahwa menurut Undang-Undang a quo, sahnya perkawinan disandarkan kepada hukum agama masing-masing, namun demikian suatu perkawinan belum dapat diakui keabsahannya apabila tidak dicatat sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pencatatan perkawinan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2) bertujuan untuk:

a. tertib administrasi perkawinan;

b. memberikan kepastian dan perlindungan terhadap status hukum suami, istri maupun anak;

c. memberikan jaminan dan perlindungan terhadap hak-hak tertentu yang timbul karena perkawinan seperti hak waris, hak untuk memperoleh akte kelahiran, dan lain-lain;

Bahwa Pasal 2 ayat (2) Undang-Undang a quo memang tidak berdiri sendiri, karena frasa “dicatat menurut peraturan perundangundangan yang berlaku” memiliki pengertian bahwa pencatatan perkawinan tidak serta merta dapat dilakukan, melainkan bahwa pencatatan harus mengikuti persyaratan dan prosedur yang ditetapkan dalam perundang-undangan. Hal ini dimaksudkan agar hak-hak suami, istri, dan anak-anaknya benar-benar dapat dijamin dan dilindungi oleh negara.

Persyaratan dan prosedur tersebut meliputi ketentuan yang diatur dalam Pasal 3 ayat (2), Pasal 4, Pasal 5, Pasal 9, dan Pasal 12 UU Perkawinan, dan Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan UU Perkawinan khususnya Pasal 2 sampai dengan Pasal 9.39

Demikian juga Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) terkait dengan pengujian atas UU No 1 tahun 1974 tersebut menyatakan bahwa untuk menjamin hak-hak keperdataan dan kewajibannya yang timbul dari akibat perkawinan yang sah maka setiap perkawinan perlu dilakukan pencatatan. Meskipun perkawinan termasuk dalam lingkup keperdataan, namun negara wajib memberikan jaminan kepastian hukum dan memberikan perlindungan hukum kepada pihak-pihak yang terkait dalam perkawinan (suami, istri dan anak) terutama dalam hubungannya dengan pencatatan administrasi kependudukan terkait dengan hak keperdataan

39 Rachmadi Usman, Makna Pencatatan Perkawinan Dalam Peraturan Perundang-Undangan Perkawinan Di Indonesia, Jurnal Legislasi Indonesia Vol. 14 No. 03 - September 2017. h. 258.

dan kewajibannya.40 Oleh karena itu pencatatan tiap-tiap perkawinan menjadi suatu kebutuhan formal untuk legalitas atas suatu peristiwa yang dapat mengakibatkan suatu konsekuensi yuridis dalam hak-hak keperdataan dan kewajibannya seperti kewajiban memberi nafkah dan hak waris. Pencatatan perkawinan dinyatakan dalam suatu akte resmi (akta otentik) dan dimuat dalam daftar pencatatan yang dikeluarkan oleh lembaga yang memiliki kewenangan.

Tujuan pencatatan perkawinan yaitu sebagai berikut:

a. untuk tertib administrasi perkawinan.

b. jaminan memperoleh hak-hak tertentu (memperoleh akte kelahiran, membuat kartu tanda penduduk, membuat Kartu Keluarga, dan lain-lain).

c. memberikan perlindungan terhadap status perkawinan.

d. memberikan kepastian terhadap status hukum suami, istri maupun anak.

e. memberikan perlindungan terhadap hak-hak sipil yang diakibatkan oleh adanya perkawinan.41

Atas dasar dalil tersebut, maka ketentuan Pasal 2 ayat (2) UU Perkawinan yang berbunyi “tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku” merupakan norma yang mengandung legalitas sebagai suatu bentuk formal perkawinan.

Pencatatan perkawinan dalam bentuk akta perkawinan (akta otentik) menjadi penting untuk memberikan jaminan kepastian hukum dan perlindungan hukum untuk setiap perkawinan. Oleh karena itu, DPR berpandangan bahwa perkawinan yang tidak dicatat sesuai dengan

40 Rachmadi Usman, Makna Pencatatan Perkawinan Dalam Peraturan Perundang-Undangan Perkawinan Di Indonesia, h. 259.

41 Rachmadi Usman, Makna Pencatatan Perkawinan Dalam Peraturan Perundang-Undangan Perkawinan Di Indonesia, h. 259.

ketentuan peraturan perundang-undangan dapat diartikan sebagai peristiwa perkawinan yang tidak memenuhi syarat formil, sehingga hal ini berimplikasi terhadap hak-hak keperdataan yang timbul dari akibat perkawinan termasuk anak yang lahir dari perkawinan yang tidak dicatat sebagaimana ditentukan dalam ketentuan peraturan perundang-undangan.42

Berdasarkan keterangan Pemerintah dan DPR tersebut, jelas bahwa pencatatan perkawinan merupakan persyaratan formal untuk menentukan keabsahan suatu perkawinan. Suatu perkawinan yang telah dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya atau kepercayaan agamanya itu, belum dapat diakui keabsahannya sebagai suatu perkawinan bilamana tidak dicatat dalam daftar pencatatan perkawinan menurut peraturan perundangundangan yang berlaku. Hal ini mengandung arti, bahwa pencatatan perkawinan merupakan hal yang menentukan sahnya suatu perkawinan menurut atau berdasarkan UU No 1 tahun 1974 tentang Perkawinan.

Berbeda dengan pendapat Pemerintah dan DPR di atas, Mahkamah Konstitusi dalam Putusan Nomor 46/PUU-VIII/2010 menyatakan bahwa pencatatan perkawinan bukanlah merupakan faktor yang menentukan sahnya perkawinan dan pencatatan perkawinan merupakan kewajiban administratif yang diwajibkan berdasarkan peraturan perundang-undangan. Adapun faktor yang menentukan sahnya perkawinan ialah syarat-syarat yang ditentukan oleh agama dari masing-masing pasangan calon mempelai. Diwajibkannya pencatatan perkawinan oleh negara

42 Rachmadi Usman, Makna Pencatatan Perkawinan Dalam Peraturan Perundang-Undangan Perkawinan Di Indonesia, h. 259 Lihat juga dalam Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 46/PUU-VIII/2010 diakses pada tanggal 24 Agustus 2021 Pkl. 22.19 WIB. h. 26-27.

melalui peraturan perundang-undangan merupakan kewajiban administratif.

Menurut Pasal 2 UU No 1 tahun 1974 dan uraian di atas nyatalah bahwa suatu perkawinan diakui keabsahannya harus memenuhi persyaratan, yaitu: (1) tata cara perkawinan dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu, dan (2) perkawinan dimaksud harus dicatat dalam daftar pencatatan perkawinan dengan mengikuti persyaratan dan prosedur yang ditetapkan dalam peraturan perundang- undangan yang berlaku. Pencatatan suatu perkawinan hanya akan dilakukan bilamana perkawinan yang bersangkutan telah dilakukan secara agama atau kepercayaan agamanya calon mempelai yang bersangkutan. Persyaratan ini dimaksudkan agar perkawinan tersebut menimbulkan akibat hukum yang sah bagi suami istri dan anak-anaknya, sehingga perkawinan tersebut dapat dijamin dan dilindungi oleh negara.

Kedua persyaratan perkawinan tersebut harus dipenuhi agar perkawinan tersebut diakui sebagai perbuatan hukum yang mempunyai akibat hukum yang dijamin dan dilindungi oleh negara.

Suatu perkawinan yang dilakukan semata-mata memenuhi ketentuan Pasal 2 ayat (1) UU No. 1 tahun 1974, maka perkawinannya diakui sebagai perkawinan yang sah menurut ajaran agama, tetapi tidak diakui sebagai perbuatan hukum yang mempunyai akibat hukum oleh negara.

Oleh sebab itu, perkawinan semacam ini tidak mendapat pengakuan dan tidak dilindungi secara hukum. Kedua unsur pada ayat tersebut Pasal 2 UU No 1 tahun 1974 berfungsi secara kumulatif, bukan alternatif. Unsur pertama pada Pasal 2 ayat (1) UU No 1 tahun 1974 berperan memberi label sah kepada perkawinan itu, sedangkan unsur kedua pada Pasal 2 ayat (2) UU No 1 tahun 1974 memberi label bahwa perkawinan tersebut merupakan perbuatan hukum. Sehubungan dengan itu, perbuatan itu

mendapat pengakuan dan dilindungi oleh hukum. Pencatatan perkawinan di sini sangat penting merupakan bukti otentik tentang telah dilangsungkan perkawinan yang sah.43

Terkait dengan prinsip pencatatan perkawinan, Angka 4 huruf b penjelasan umum atas UU No. 1 tahun 1974 menyatakan sebagai berikut:

Dalam Undang-undang ini dinyatakan, bahwa suatu perkawinan ialah sah bilamana dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya dan disamping itu tiap-tiap perkawinan harus dicatat menurut peraturan perundangundangan yang berlaku. Pencatatan tiap-tiap perkawinan ialah sama halnya dengan peristiwa-peristiwa penting dalam kehidupan seseorang, misalnya kelahiran, kematian yang dinyatakan dalam surat-surat keterangan, suatu akte resmi yang juga dimuat dalam pencatatan.44

Dari keterangan di atas jelas, bahwa pencatatan perkawinan merupakan rangkaian pelaksanaan perkawinan. Oleh karena itu pencatatan perkawinan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pelaksanaan perkawinan yang bersangkutan, yaitu menentukan keabsahan suatu perkawinan sebagai suatu perbuatan hukum. Tidaklah berlebihan jika ada sementara pakar hukum yang menempatkan pencatatan perkawinan tersebut sebagai syarat administratif, yang juga menentukan sah tidaknya sebuah perkawinan.45

Penjabaran aturan hukum pencatatan perkawinan dapat dijumpai dalam Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (Lembaran

43 M. Anshary MK. Hukum Perkawinan di Indonesia: Masalah-masalah Krusial, (Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2010), h. 23-24.

44 Rachmadi Usman, Makna Pencatatan Perkawinan Dalam Peraturan Perundang-Undangan Perkawinan Di Indonesia, h. 260.

45 Amir Nuruddin dan Azhari Akmal Tarigan, Hukum Perdata Islam di Indonesia:

Studi Kritis Perkembangan Hukum Islam dari Fikih. UU No 1/1974 sampai KHI, (Kencana, Jakarta, 2006), h. 123.

Negara Republik Indonesia Tahun 1975 Nomor 12, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3050; untuk selanjutnya disebut PP 9/1975). Mengenai tata cara perkawinan diatur dalam Pasal 10 PP 9/1975, yang menentukan:

(1) Perkawinan dilangsungkan setelah hari kesepuluh sejak pengumuman kehendak perkawinan oleh Pegawai Pencatat seperti yang dimaksud dalam Pasal 8 Peraturan Pemerintah ini.

(2) Tatacara erkawinan dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu.

(3) Dengan mengindahkan tata cara perkawinan menurut masing-masing hukum agamanya dan kepercayaannya itu, perkawinan dilaksanakan dihadapan Pegawai Pencatat dan dihadiri oleh dua orang saksi.

Dari ketentuan Pasal 10 PP No. 9 tahun 1975 ini, tata cara perkawinan harus dilakukan sepenuhnya menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu dan dilaksanakan di hadapan pegawai pencatat perkawinan dan dihadiri oleh dua orang saksi. Terkait dengan ketentuan tata cara pencatatan perkawinan, Pasal 11 PP No. 9 tahun 1975 menyatakan:

(1) Sesaat sesudah dilangsungkannya perkawinan sesuai dengan ketentuan-ketentuan Pasal 10 Peraturan Pemerintah ini, kedua mempelai menandatangani akta perkawinan yang telah disiapkan oleh Pegawai Pencatat berdasarkan ketentuan yang berlaku.

(2) Akta perkawinan yang telah ditandatangani oleh mempelai itu, selanjutnya ditandatangani pula oleh kedua saksi dan Pegawai Pencatat yang menghadiri perkawinan dan bagi yang melangsungkan perkawinan menurut agama Islam, ditandatangani pula oleh wali nikah atau yang mewakilinya.

(3) Dengan penandatanganan akta perkawinan, maka perkawinan telah tercatat secara resmi.

Selanjutnya hal-hal yang wajib dimuat dalam akta perkawinan ditentukan dalam Pasal 12 PP No. 9 tahun 1975. Sementara itu dalam Pasal 13 PP No. 9 tahun 1975 diatur mengenai kutipan akta perkawinan.

Menurut ketentuan ini, akta perkawinan tersebut dibuat dalam rangkap dua, helai pertama disimpai oleh pegawi pencatat perkawinan dan helai kedua disimpan pada panitera pengadilan dalam wilayah Kantor Pencatat Perkawinan berada. Kepada suami isteri masing-masing diberikan kutipan akta perkawinan. Berdasarkan ketentuan Pasal 11 PP No. 9 tahun 1975 tersebut, jelas bahwa setiap perkawinan wajib dilakukan pencatatan di hadapan pegawai pencatat perkawinan yang dibuktikan dengan akta perkawinan.46

Berarti perkawinan yang tidak dapat dibuktikan dengan akta perkawinan bukan perkawinan yang resmi (sah). Dari aspek mengikatnya, secara yuridis fungsi pencatatan perkawinan berdasarkan UU No 1 tahun1974 jo. PP No. 9 tahun 1975 merupakan persyaratan supaya perkawinan tersebut mendapatkan pengakuan dan perlindungan hukum dari negara serta mengikat pihak ketiga (orang lain). Sementara itu dipandang dari aspek regulasi, pencatatan perkawinan mencerminkan suatu kepastian hukum, dengan ditentukannya bahwa suatu peristiwa perkawinan terjadi dibuktikan dengan adanya akta perkawinan. Sebagai konsekuensi lebih lanjut dalam pandangan hukum tidak ada perkawinan

46 Rachmadi Usman, Makna Pencatatan Perkawinan Dalam Peraturan Perundang-Undangan Perkawinan Di Indonesia, h. 261- 262.

atau perkawinan ialah tidak sah apabila pelaksanaan perkawinannya tidak mengikuti tata cara dan pencatatan perkawinan.47

Dengan demikian dalam konteks dan berdasarkan UU No. 1 tahun 1974, peran pemerintah dalam memenuhi hak pencatatan perkawinan merupakan syarat formal yang harus dilaksanakan agar suatu perkawinan diakui keabsahannya sebagai perbuatan hukum yang harus dijamin dan dilindungi oleh negara. Pelaksanaan pencatatan perkawinan tersebut, baru dapat dilakukan sesudah dilangsungkannya perkawinan secara agama atau kepercayaan agamanya calon mempelai.

Selain itu, UU No. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan merupakan sebuah terobosan baru dalam rangka mengatur mengenai perkawinan guna terwujudnya tujuan perkawinan yaitu menjadi keluarga sakinah, mawaddah, dan warahmah. Kemudian UU ini merupakan produk hukum berdasarkan kesepakatan bersama oleh berbagai pihak baik pemerintah, pakar hukum Islam serta peran masyarakat. Oleh karena itu, hemat penulis undang-undang tersebut harus dilaksanakan dan dipatuhi.

Selain itu, UU No. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan merupakan sebuah terobosan baru dalam rangka mengatur mengenai perkawinan guna terwujudnya tujuan perkawinan yaitu menjadi keluarga sakinah, mawaddah, dan warahmah. Kemudian UU ini merupakan produk hukum berdasarkan kesepakatan bersama oleh berbagai pihak baik pemerintah, pakar hukum Islam serta peran masyarakat. Oleh karena itu, hemat penulis undang-undang tersebut harus dilaksanakan dan dipatuhi.