• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN KEPUSTAKAAN

B. Kajian Teori

2. Hukum Perlindungan Konsumen

a. Pengertian Hukum perlindunan Konsumen

Pengertian hukum perlindungan konsumen menurut Undang-Undang tentang perlindungan konsumen pada nomor 8 tahun 1999 pasal 1 angka 1 menyebutkan “ hukum perlindungan konsumen adalah segala upaya yang menjamin adanya kepastian hukum untuk memberi perlindungan pada konsumen”.24 Adapun hukum perlindungan konsumen menurut Az. Nasution adalah suatu aturan yang didalamnya terdapat asas-asas dan suatu kaidah yang mengatur dan melindungi kepentingan dari konsumen. Kalimat tersebut diharapkan menjadi

23 Republik Indonesia, Peraturan Mentri Kesehatan RI Nomor 1174/MENKES/PER/VIII/2010 Tentang Izin produksi Kosmetik,h.5.

24 Republik Indonesia,”Undang-Undang RI Nomor 8 tahun 1999 tentang perlindungan

suatu benteng yang dimana meniadakan tindakan sewenang-wenang yang dapat merugikan salah satu pihak. Kesewenag-wenangan akan mengakibatkan ketidak pastian hukum. oleh karena itu upaya agar memberikan jaminan yangg efektif akan kepastian hukum ditentukan dalam Undang-Undang perlindungan konsumen dan undang-undang lainnya yang dimana masih berlaku untuk memberikan perlindungan konsumen, baik dalam hukum publik maupun hukum privat.25

b. Asas-asas Hukum Perlindungan Konsumen

Asas-asas Undang-Undang Perlindungan Konsumen tertuang dalam Pasal 2 Undang-Undang Perlindungan Konsumen Nomor 8 Tahun 1999 yang melindungi konsumen atas dasar keselamatan, perlindungan konsumen, manfaat, keseimbangan, keadilan dan kepastian hukum.26 Penjelasan Pasal 2 Undang-undang Perlindungan Konsumen No. 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen yang dimana mmenyatakan bahwa perlindungan konsumen digunakan untuk usaha bersama berdasarkan atas lima asas yang relevan dalam pembangunan yaitu :

1) Asas Manfaat

Yang dimaksud dengan asas manfaat yaitu untuk menjelaskan bahwa segala hal dalam menyelenggarakan

25 Ahmadi Miru dan Sutarman Yodo, Hukum perlindungan Konsumen ( Cet. IX ; Jakarta;

pt. Raja Grapindo Persada,2015) hlm.2

26 Republik Indonesia. “Undang-Undang RI Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan

perlindungan konsumen harus memberikan kemanfaatan bagi kepentingan konsumen dan pelaku usaha.

2) Asas keadilan

Yang dimaksud pada asas keadilan bahwasanya agar partisipasi masyarakat dapat terwujud secara maksimal dan memberikan kepada pihak konsumen maupun pelaku usaha untuk memperoleh hak dan kewajibannya secara adil.

3) Asas Keseimbangan

Yang dimaksud asas keseimbangan dimana antara kepentingan pelaku usaha, konsumen dan pemerintah dalam arti materil maupun sepiritual memberikan keseimbangan.

4) Asas keamanan dan keselamatan konsumen

Yang dimaksud asas keselamatan dan keamanan konsumen yaitu memberikan jaminan keamanan dan keselamatan bagi konsumen yang menggunakan, memakai, dan memanfaatkan barang atau jasa yang digunakan maupun dikonsumsi.

5) Asas kepastian hukum

Yang dimaksud asas ini yaitu pelaku usaha maupun konsumen menaati hukum dan memperoleh keadilan dalam melaksanakan perlindungan konsumen, serta negara menjamin kepastian hukum.27

c. Tujuan Perlindungan Konsumen

Pasal 3 Undang-Undang Perlindungan Konsumen Nomor 8 Tahun 1999 menyebutkan bahwa perlindungan konsumen bertujuan untuk:

1) Meningkatkan kesadaran, kemampuan dan kemandirian konsumen bertujuan untuk melindungi diri.

2) Meningkatkan harkat dan martabat manusia dengan mencegah atau melindungi dari ekses negatif saat menggunakan barang atau jasa.

3) Meningkatkan pemberdayaan konsumen dalam menentukan, pilihan dan tuntutan hak-hak konsumen.

4) Terciptanya sistem perlindungan konsumen yang mengandung unsur kepastian hukum dan keterbukaan informasi, serta akses informasi.

5) Menciptakan kesadaran pengusaha, yang sangat penting bagi konsumen untuk menciptakan sikap jujur dan bertanggung jawab dalam berbisnis.

6) Meningkatkan mutu barang atau jasa yang menjamin mutu produksi secara aman, sehat dan ramah konsumen.28

d. Pihak-Pihak dalam Pelaksanaan Perlindungan Konsumen

Dalam melakuka upaya pelaksanaan perlindungan konsumen terdapat beberapa pihak yaitu :

28 Tim Redaksi BIP, “ undang- undang RI Nomor 8 Tahun 1999 tentang perlindungan

1) Konsumen

Menurut UU Perlindungan Konsumen yang diusulkan oleh Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, konsumen adalah pengguna jasa atau barang yang tersedia dalam masyarakat untuk kepentingan pribadi atau keluarga atau keuntungan lain dan tidak dimaksudkan untuk dijual kembali. Lahirnya UUPK, yang menyatakan bahwa konsumen adalah seseorang yang menggunakan jasa atau barang yang tersedia di masyarakat baik untuk kepentingan atau kebutuhannya sendiri, untuk kebutuhan keluarga atau orang lain. Maupun mahluk hidup yang dimana tidak untuk diperdagangkan.29

Sebagai suatu konsep "konsumen" telah diperkenalkan beberapa puluh tahun lalu diberbagai negara dan saat ini banyak negara yang menggunakan undang-undang atau peraturan yan dikhususkan untuk perlindungan konsumen termasuk sarana peradilan bagi konsumen. Seiring berjalannya waktu berbagai negara juga menetapkan hak-hak konsumen yang ditetapkan diperaturan perlindungan konsumen. Istilah konsumen sendiri berasal dari alih bahasa dari consumer (Inggris Amerika), konsument atau consumer (Belanda). Secara hanafiah kata konsumen adalah lawan kata dari kata produsen. Tujuan

29 Ahmad Miru, prinsip-prinsip perlindungan hukum bagi konsumen di Indonesia (cet.11

pengunaan barang atau jasa nanti akan menentukan konsumen tersebut termasuk kelompok pengguna yang mana.30

Berdasarkan pengertian konsumen di atas, konsumen dapat dibedakan menjadi tiga batasan, yaitu:

a) Konsumen Komersial, seseorang yang membeli barang atau jasa yang digunakan dalam produksi barang atau jasa lain untuk mendapatkan keuntungan.

b) Konsumen antara,seseorang yang membeli produk atau jasa dengan kebiasaan menjualnya untuk mendapatkan keuntungan.

c) Konsumen akhir, seseorang yang memperoleh atau menggunakan jasa atau barang untuk kepuasan hidup pribadi atau orang lain dan makhluk hidup lain dan bukan untuk dijual kembali.31

Perlindungan konsumen Indonesia tertuang dalam UU Perlindungan Konsumen No. 8 Tahun 1999. Secara ringkas dapat dikatakan bahwa perlindungan konsumen dalam Bab 1 UUPK mengacu pada segala upaya untuk menjamin kepastian hukum.

untuk melindungi konsumen.

30 Celina Tri Siwi Kristiyanti, Hukum perlindungan konsumen (Cet.111:Jakarta:Sinar Grafika,2011),h.22

31 A.Z Nasution,hukum perlindungan konsumen suatu pengantar (Jakarta: Diadit

Hak konsumen meliputi :32

a) Hak atas kenyamanan dan keamanan dalam mengkonsumsi barang atau jasa.

b) Hak untuk memilih barang atau jasa sesuai dengan pilihan dan syarat serta jaminan yang dijanjikan.

c) Hak untuk memperoleh informasi yang benar, jelas dan jujur tentang syarat dan jaminan barang atau jasa.

d) Hak untuk didengarkan tentang keluhan atau pendapat tentang barang atau jasa.

e) Hak atas perwakilan hukum, perlindungan dan langkah-langkah yang tepat untuk menyelesaikan sengketa perlindungan konsumen.

f) Hak atas pelatihan atau pendidikan konsumen.

g) Hak untuk diperlakukan atau dilayani secara adil, jujur dan tanpa diskriminasi.

h) Hak atas ganti rugi atau ganti rugi jika barang tidak sesuai atau seharusnya tidak sesuai dengan kontrak.

i) Hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya.

j) Konsumen berhak atas keselamatan, kenyamanan dan keamanan dalam mengkonsumsi barang atau jasa, sebaliknya pedagang bertanggung jawab untuk memenuhi kewajibannya

32 Republik Indonesia, Undang-Undang RI Nomor 8 Tahun 1999 tentang perlindungan

untuk mendapatkan informasi yang benar, jelas dan jujur tentang status barang atau jasa.

2) Pelaku Usaha

Pelaku usaha adalah setiap orang perorangan atau badan usaha baik yang berbentuk badan hukum maupun bukan badan hukum yang didirikan dan berkedudukan dalam wilayah hukum Negara Republik Indonesia, baik sendiri maupun bersama-sama berdasarkan suatu perjanjian, atau melakukan kegiatan untuk melakukan usaha. dalam berbagai sektor ekonomi.

UUPK tidak hanya melindungi konsumen, tetapi UUPK juga mengatur hak-hak pengusaha berdasarkan Pasal 6 Undang-Undang Perlindungan Konsumen 8 tahun 1999, di mana berlaku hak-hak pengusaha:

a) Hak menerima pembayaran yang sesuai dengan kesepakatan mengenai kondisi dan nilai barang atau jasa yang diperdagangkan.

b) Hak mendapat perlindungan hukum dari tindakan konsumen yang beritikad tidak baik.

c) Hak melakukan pembelaan diri didalam penyelesaian hukum sengketa konsumen.

d) Hak untuk rehabilitasi nama baik apabila terbukti secara hukum bahwa kerugian konsumen tidak diakibatkan oleh barang atau jasa yang diperdagangkan.

e) Hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya.

Kewajiban pelaku usaha juga diatur dalam UUPK Pasal 7 UU No.8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen yaitu:

a) Beritikad baik dalam melakukan usaha.

b) Memberikan informasi yang benar, jelas, dan jujur, mengenai kondisidan jaminan barang atau jasa serta memberikan penjelasan penggunaan, perbaikan, pemeliharaan.

c) Melayani dan memperlakukan konsumen secara benar dan jujur serta tidak diskrimatif.

d) Menjamin mutu barang atau jasa yang diproduksi atau diperdagangkan sesuai dengan ketentuan standar mutu barang atau jasa yang diperdagangkan.

e) Memberi kesempatan kepada konsumen untuk menguji barang atau jasa tertentu seraa memberi jaminan atau garansi atas barang yang diperdagangkan.

f) Memberi kompensasi, ganti rugi atas kerugian pengunaan atau pemakaian barang yang di perdagangan.

g) Memberi kompensasi, ganti rugi atau penggantian barang atau jasa yang diterima atau dimanfaatkan tidak sesuai dengan perjanjian.33

33 Republik Indonesia, Undang-Undang RI Nomor 8 Tahun 1999 tentang perlindungan

Undang-undang perlindungan konsumen memiliki tujuan antara lain untuk mengangkat dan melindungi kehidupan konsumen, maka dari itu semua hal yang dapat membawa dampak negative harus dihindarkan baik pemakaian barang atau jasa, maka dari itu undang-undang menentukan berbagai larangan yang terdapat pada pasal 8UU No. 8 Tahun 1999 tentang perlindungan konsumen yaitu:

Pengusaha dilarang memproduksi atau menjual barang atau jasa yang;

a) tidak memenuhi atau tidak memenuhi standar yang disyaratkan oleh hukum.

b) tidak sesuai dengan berat bersih atau isi bersih yang dinyatakan pada label produk.

c) Tidak dihitung menurut skala, jumlah, ukuran dan kuantitas menurut ukuran sebenarnya.

d) tidak sesuai dengan kondisi, karakteristik, jaminan yang tertera pada label atau deskripsi barang atau jasa.

e) tidak sesuai dengan komposisi, kualitas, kualitas, pemrosesan, gaya, atau penggunaan bahan tertentu sebagaimana ditunjukkan pada label atau deskripsi barang atau jasa. f) tidak memenuhi janji yang disebutkan dalam label, deskripsi, iklim atau promosi produk atau jasa.

f) Ketidakpatuhan terhadap peraturan produksi Halal sebagaimana tertera pada pernyataan Halal pada label.

g) Stiker dengan penjelasan nama produk, ukuran, berat bersih, komposisi, label halal, tanggal pembuatan, kadaluwarsa, efek samping, alamat distributor dan keterangan lain yang dipersyaratkan tidak dilampirkan. pada label produk atau kemasan.

h) Tidak memuat keterangan atau petunjuk penggunaan dalam bahasa Indonesia menurut hukum yang berlaku.

i) Pedagang tidak boleh memperdagangkan barang yang rusak, rusak atau bekas dan terkontaminasi tanpa memberikan informasi yang lengkap dan benar tentang barang tersebut.

j) Pengusaha dilarang menyerahkan atau menjual obat dan makanan yang rusak, bekas, terkontaminasi, cacat tanpa memberikan informasi yang lengkap dan benar.

k) Pengusaha yang melanggar ayat 1 dan 2 tidak boleh menjual barang atau jasa dan harus mengeluarkannya dari toko.34

3) Departemen atau Instansi Pemerintah

Keterlibatan negara dalam penyelenggaraan perlindungan konsumen didasarkan pada kepentingan yang diatur dalam UUD 1945, antara lain negara melayani kesejahteraan rakyatnya. Hal ini

dijelaskan dalam Pasal 33 UUD 1945.35 Maka sebagai mana yang diataur dalam pasal 29 UU No 8 Tahun 1999 tentang perlindungan konsumen, menyatakan:

a) Tugas pemerintah mendorong terselenggaranya perlindungan konsumen yang menjamin terwujudnya hak-hak konsumen dan pelaku ekonomi serta terpenuhinya kewajiban pelaku ekonomi dan konsumen.

b) Pemerintah mengarahkan pelaksanaan perlindungan konsumen sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 melalui Menteri atau Menteri terkait.

c) Mentri tersebut pada ayat 2 mengoordinasikan penyelenggaraan perlindungan konsumen.

d) Pelaksanaan pembinaan perlindungan konsumen sebagaimana dimaksud dalam ayat 2 meliputi upaya:

(1) Menciptakan suasana bisnis dan mengembangkan bisnis-konsumen yang sehat.

(2) Pembentukan lembaga perlindungan konsumen yang mandiri.

(3) Meningkatkan kualitas sumber daya dan memperkuat kegiatan penelitian dan pengembangan di bidang perlindungan konsumen.

e) Ketentuan tambahan untuk mendorong pelaksanaan perlindungan konsumen diatur dengan peraturan pemerintah.

Untuk melindungi masyarakat dari bahaya, BPOM adalah lembaga yang bertugas mencegah peredaran kosmetik yang tidak sesuai dengan melakukan penilaian dan pengujian sebelum kosmetik diedarkan.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) adalah suatu lemaga yang bertugas mengawasi peradaran produk obat-obatan makanan, dan kosmetik dengan tujuan melindungi keamanan, kesehatan dan keselamata konsumen baik di dalam negri maupun diluar negri.

Produk kemasan seperti minuman, makanan dan kosmetik harus mempunyai setandarisasi dari Badan Pengawas Obat dan Makanan, hal tersebut karena produk-produk makanan, minuman, dan kosmetik umumnya mempunyai kandungan zat tertentu didalamnya.36

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), sebuah lembaga pemerintah, bertugas untuk melakukan standarisasi dan sertifikasi obat dan makanan, yang mencakup semua aspek pembuatan, penjualan dan penggunaan, termasuk keamanan pangan, kosmetik dan produk lainnya. Badan BPOM bertanggung

jawab mengendalikan peredaran obat dan makanan di Indonesia yang merupakan LPND (Lembaga Non Departemen) berdasarkan Keputusan Presiden No. 103 Tahun 2001. Merupakan lembaga pemerintah pusat yang bertanggung jawab langsung kepada Presiden Indonesia. Republik Indonesia dalam melaksanakan tugasnya. Oleh karena itu, pengawasan yang dipusatkan BPOM fokus pada khasiatnya, yakni terkait obat dan makanan.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memiliki fungsi dan kewenangan berdasarkan Perpres No. 80 Tahun 2017.37

a) Perumusan kebijakan nasional di bidang farmasi dan pangan.

b) Pelaksanaan kebijakan pengawasan obat dan makanan tertentu

c) Menetapkan standar dan pengaturan, prosedur, standar dan kriteria di bidang pengawasan sebelum dan selamaberedar.

d) Dukungan pengawasan sebelum dan selama beredar.

e) Koordinasi pelaksanaan pengawasan dengan instansi pemerintah dan industri pangan.

f) Bimbingan dan saran ahli di bidang pengawasan obat dan makanan.

37 Peraturan Presiden Nomor 80 Tahun 2017 Tentang Badan Pengawas Obat dan

g) melakukan penindakan terhadap pelanggaran ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang obat dan makanan.

h) Mengkoordinasikan pelaksanaan tugas, pelatihan dan pemberian dukungan administrasi untuk seluruh bagian BPOM.

Mengenai kewenangan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

a) Melakukan penelitian dan penyidikan di bidang pengawasan obat dan makanan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan dan memberikan sanksi administratif sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

b) Memberikan persetujuan penjualan dan sertifikasi sesuai dengan standar dan persyaratan keamanan, manfaat, efisiensi, kualitas dan pengujian sesuai peraturan hukum.

Di bawah pengawasan BPOM, berdasarkan Pasal 42 Peraturan Pemerintah No. 28 Tahun 2004 tentang Keamanan, Mutu dan Gizi Pangan, setiap produk olahan dalam dan luar negeri yang dimasukkan untuk usaha ke wilayah Indonesia memerlukan Surat Persetujuan Pendaftaran yang dikeluarkan oleh Kepala yang berwenang. Otoritas pra-distribusi, dan jika produk memiliki ketidaksesuaian yang tidak sesuai dengan standar mutu pangan atau diketahui mengandung bahan

berbahaya, pengawas obat dan makanan berwenang untuk menarik produk dari pasar.38

3. Tinjauan Hukum Islam terhadap jual beli kosmetik tanpa label BPOM a. Pengertian Jual Beli

Secara Etimologi jual beli dapat diartikan: اَقٌم ُ ةَلَب ُ ءْىَّشلا ا ب ءْىَّشل Artinya : Pertukaran sesuatu dengan sesuatu (yang lain).39

Jual beli atau tukarmenukar dalam istilah fikih al-bai, menurut arti turunannya jual atau mengganti. Kata al-ba'i terkadang digunakan untuk menunjukkan kebaikannya, terutama kata al-syira (pembelian).

Oleh karena itu, ba'i merupakan menjual seeperti membeli.40 Selain itu, dalam Pasal 20 Ayat 2 Kompendium Hukum Ekonomi Syariah, Ba'I adalah jual beli antara barang dan benda, atau pertukaran barang dengan uang. 41

b. Dasar hukum Jual beli

Landasan yang kuat tentang jual beli terdapat didalam Qur‟an maupun Hadist ialah terdapat pada :

1) Al-Quran

Islam menawarkan norma-norma dasar yang wajib dipenuhi dalam transaksi, al quran memerintahkan kita untuk senantiasa menepati janji, menunaikan amanat serta melarang kita untuk

38 Peraturan Presiden Nomor 80 Tahun 2017 Tentang Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).hlm 8

39 Alaudin Al-Kasyani,Badai‟ Ash-shanai‟ fi Tarti Asy-Syara‟. Juz V .133

40 Abdul Rahman Ghazaly, dkk. Fiqh Muamalat, (Jakarta:Kencana,2010), 67

41 Mahkamah Agung Republik Indonesia, Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah, (Jakarta

memakan harta secara batil. Sebagaimana firman Allah pada Surat An Nisa Ayat 29 yang berbunyi

















































Artinya : Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sungguh, Allah Maha Penyayang kepadamu.

Ayat tersebut memberikan pemahaman bahwa jual beli harus dengan unsur keridhaan atau saling rela antar penjual dan pembeli artinya jual beli tanpa unsur kerelaan dilarang oleh Al Quran.42

Tafsir Al-Maraghi menjelaskan bahwa memakan harta dengan jalan yang batil adalah mengambil tanpa keridhaan dari pemilik harta atau menafkakan harta bukan pada hakikinya yang bermanfaat. Melakukan penipuan dalam jual beli, riba, dan mengeluarkan harta pada jalan yang diharamkan. Harta tersebut akan menjadi pangkal persengketaan didalam transaksi antara orang yang memakan harta itu menjadi miliknya.43

Melakukan jual belipun mempunyai etika. Sebagaimana firman Allah dalam surat Asy-syuara : 183 yang berbunyi

42 Sayid Sabiq, Fiqih Sunnah yang diterjemahkan oleh Muhajidin Muhaya (Jakarta: Pena Pundi Aksara, 2010) hlm 34

43 A. Musthafa Al-Maraghi, Terj. Tafsir al-maraghi, juz v (Semarang : Toha Putra, 1998),

َُنْيِدِسْفُمُِضْرَْلاُ ِفُِاْوَ ثْعَ تُ َلَوُْمُىَءۤاَيْشَاَُسا نلاُاوُسَخْبَ تُ َلَو

44

Artinya: dan janganlah akamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan jangan kamu membuat kejahatan dibumi dengan berbuat kerusakan.

Ayat tersebut memberikan pemahaman janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan jangan-lah kamu membuat kerusakan di bumi. Pada dasarnya prinsip hubungan antar manusia menurut Islam adalah tidak boleh menzalimi dan tidak boleh dizalimi dengan cara apa pun dan dalam bidang apa pun.

2) Al- Hadist

Selain dalam Al Quran diatas dalam hadist Rasulullah Saw juga disebutkan tentang diperbolehkannya jual beli, sebagaimana hadist yang diriwayatkan al-Tirmidzi, Rasulullah saw bersabda :

َُْيِّْيِب نلاَُعَمُُْيِْمَلأاُُقْوُد صلاُُرِجا تلا

ُِءاَدَهُّشلاَوَُْيِْقْيِّدِّصلَو

45

Artinya : Pedagang yang dapat dipercaya dan jujur akan bersama-sama dengan para nabi, shiddiqin, syuhada

Berdasarkan hadist di atas dapat dilihat bahwa jual beli merupakan pekerjaan yang baik, dengan ketentuan bahwa dalam transaksi jual beli harus diikuti dengan sifat jujur, amanah, dan juga saling ridha.

c. Rukun dan Syarat Jual Beli

Selain itu islam memberikan penjelasan secara rinci mengenai Rukun dan Syarat Jual Beli. terdapat perbedaan pendapat antara para

44Departemen Agama RI, Al Quran terjemahnya ( Semarang : Karya Toha Putra,1996 ), h. 299

45Hafiz Abi Abdullah Muhammad, Sunan Ibnu Majah, Juz 2, ( Beirut : Dar Al-Kutub Al

ulama mengenai rukun jual beli, menurt Ulama Hanafiyah rukun jual beli merupakan Ijab dan Qobul yang di tunjukkan berupa pertukaran barang dan didasari dengan rasa ridha baik dengan ucapan dan perbuatan.46 Sedangkan pendapat dari e Jumhur ulama rukun jual beli di bedakan menjadi empat yaitu penjual, pembeli, ijab dan qobul dan benda atau barang.

Menurut Jumhur ulama terdapat empat macam syarat jual beli yaitu47

1) Syarat terjadinya akad (in‟Iqad),

Merupakan syarat wajib dilengkapi supaya perjanjian ba‟i dipandang sah dalam agama. Jika syarat ini tidak terlengkapi, maka gugur. Dalam hal ini terdapat 4 macam syarat menurut ulama Hanafiah yaitu48

1) Syarat Aqid

Terdapat tiga syarat anatara penjual dan pembeli diantaranya :

a) Antara penjual dan pembeli wajib mumayyis.

b) Penjual dan pembeli ialah pemilik benda atau barang yang telah dijadikan wakil.

c) Penjual dan pembeli harus didasari oleh sikap suka rela dan apabila adanya paksaan maka tidak sah.

46 Sohari Sahrani, Fikih Muamalah (Bogor : Ghalia Indonesia, 2011), 67

47 Rachmat Syafe‟I, Fiqih Muamalah, (Bandung:Pustaka Setia,2004), 76

Pendapat ulama Malikiyyah tidak memberikan syarat harus Islam bagi aqid terkecuali dalam membeli hamba yang muslim dan membeli mushaf.

2) Syarat Akad (Ijab dan Qabul)

Syarat ini merupakan syarat penting untuk penerimaan sesuai dengan janji, dalam artian pembeli menerima apa yang dijanjikan penjual. Jika ada perbedaan antara ijab dan qabul, misalnya pembeli menerima sesuatu yang tidak sesuai dengan yang disebutkan oleh penjual, maka akad jual beli batal. 49 3) Syarat tempat akad

Tuntutan yang berkaitan dengan hal ini ialah ijab dan qabul yang perlu dilaksanakan di tempat atau majelis. Bilamana anatar ijab dan qabul beberda majelisnya, dengan ini akad jual beli tidak sah.

4) Syarat objek akad

Perlunya melengkapi beberapa syarat oleh objek akad diantaranya :

a) Barang yang diperdagangkan harus mal mutaqawwin.

b) Barang yang di jual belikan harus berwujud

c) Barang bisa diberikan pada saat terlaksananya akad jual beli.

d) Barang yang di jual belikan wajib barang milik sendiri atau barang yang sudah dimiliki.

e) Dapat dimanfaatkan dan bermanfaat bagi manusia.50 d. Landasan hukum perlindungan konsumen dalam hukum islam

Dalam ekonomi Islam berorientasi pada unsur keadilan, transparansi, kejujuran, dilandasi nilai keimanan dalam praktik tersebut, dalam hal ini ada enam hak konsumen yang membutuhkan perhatian dari pelaku usaha yang dikemukakan oleh muhammad dan Alimin sebagai berikut:

1) Hak untuk memperoleh informasi yang benar dan benar untuk menghindari pemalsuan.

2) Hak atas keamanan produk dan lingkungan yang sehat.

3) Hak atas perwakilan hukum dan penyelesaian sengketa.

4) Hak atas perlindungan dari penyalahgunaan.

5) Hak atas ganti rugi atas kerusakan produk atau ganti rugi negatif.

6) Hak suara dan nilai tukar wajar.51

Menurut Yusuf Qardhawi dalam perdagangan Islam harus ada norma dan etika, dimana pelaku usaha harus jujur dan amanah dalam menjual produk kepada konsumen, pada produk kosmetik si pelaku usaha harus berperiaku jujur kepada konsumen karena konsemen juga memiliki Hak untuk mengetahui keadaan produk yang dijualnya apakah berbahaya atau tidak jika digunakan, jangan sampai pelaku

50 Nasrun Haroen,Fiqh Muamalah (Jakarta:Gaya Media Pratama,2000),118

51 Muhammad dan Alimin, Etika dan Perlindungan Konsumen dalam Ekonomi Islam

usaha merugikan konsumen dengan menjual produk kosmetik berbahaya52

Produk yang aman harus mendapatkan sertifikat Aman atau Halal dari BPOM untuk memastikan bahwa produk tersebut telah teruji keamanan dan Halalnya menurut syariat Islam. Label bertujuan untuk melindungi konsumen dari produk yang berbahaya atau tidak aman dan untuk memastikan bahwa produk yang digunakan benar-benar aman, sehingga konsumen tidak ragu untuk membeli dan menggunakan produk komersial.

Menurut hukum Islam, produk kosmetik yang aman adalah:

1) Tidak mengandung babi,bahan yang berasal dari babi, dan tidak mengandung bahan yang diharamkan seperti darah, dan jika berasal dari daging, maka harus dari hewan yang disembelih halal menurut syariat Islam.

2) Tidak termasuk Khamr

3) Alat yang digunakan tidak menggunakan benda yang digunakan untuk benda yang dilarang.

Standart kehalalan produk kosmetik dan penggunaannya menurut Fatwa Majlis Ulama Indonesia (MUI) nomor 26 tahun 2013 menimbang bahwa sanya:53

1) Kosmetik menjadi salah satukebutuhan manusia pada umumnya.

52 Zainal Arifin “Yusuf Qardhawi,Norma dan Etika Ekonomi Islam” (Jakarta:Gema Insani Press, 19997), 51

53 Majlis Ulama Indonesia, Himpunan Fatwa MUI : bidang POM dan Iptek,

Dokumen terkait