BAB II KAJIAN TEORI DAN KERANGKA KONSEP
F. Visum et Repertum
2. Dasar Hukum Visum Et Repertum
Hukum pidana umum tercantum dalam KUHP dan semua perundang-undangan yang mengubah dan menambah KUHP, sedangkan hukum pidana khusus, tercantum di dalam perundang-undangan di luar KUHP, baik perundnag-undangan pidana maupun bukan pidana, tetapi bersanksi pidana (ketentuan yang menyimpang dari KUHP).
3. Kewenangan penyelidikan dan penyidikan
Yang menjadi penyelidikan dan penyidik dalam hukum pidana umum adalah polisi, sedang dalam hukum pidana khusus adalah polisi, jaksa, PPNS, dan KPK
4. Pengadilan.
Pemeriksaan perkara dalam hukum pidana umum dilakukan di pengadilan umum, sedangkan pemeriksaan perkara dalam hukum pidana khusus adalah pengadilan tipikor, pengadilan pajak, pengadilan
hubungan industrial, pengadilan anak, pengadilan HAM, pengadilan niaga, dan pengadilan perikanan33.
D. Pengertian Penyidikan, Fungsi dan Tugas Kewenangan Penyidikan Menurut KUHAP.
1. Pengertian Penyidikan
Penyidikan merupakan tahapan penyelesaian perkara pidana setelah penyelidikan yang merupakan tahapan permulaan mencari ada atau tidaknya tindakan pidana dalam suatu peristiwa. Ketika diketahui ada tindakan pidana terjadi, maka saat itulah penyelidikan dapat dilakukan berdasarkan hasil penyelidikan. Pada tindakan penyelidikan, penekanannya diletakkan pada tindakan “mencari dan menemukan “suatu peristiwa” yang dianggap atau diduga sebagai tindakan pidana.
Sedangkan pada penyidikan titik berat penekanannya diletakkan pada tindakan “mencari serta mengumpulkan bukti”. Penyidikan bertujuan membuat terang tindak pidana yang ditemukan dan juga menentukan pelakunya. Pengertian penyidikan tercantum dalam Pasal 1 angka 2 KUHAP yakni dalam BAB 1 mengenai penjelasan umum, yaitu
“Penyidikan adalah serangkaian tindakan penyidik dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti ini membuat terang tentang pidana yang terjadi dan guna menemukan tersangkanya”.
33Azis Syamsuddin. 2011. Tindak Pidana Khusus. Jakarta. PT. Sinar Grafika, Hal : 9
Berdasarkan rumusan Pasal 1 Angka 2 KUHAP, unsur-unsur yang terkandung dalam pengertian penyidikan adalah:
a. Penyidikan merupakan serangkaian tindakan yang mengandung tindakan –tindakan yang antara satu dengan yang lain saling berhubungan.
b. Penyidikan dilakukan oleh pejabat publik yang disebut penyidik c. Penyidikan dilakukan dengan berdasarkan peraturan
perundang-undangan.
d. Tujuan penyidikan ialah mencari dan mengumpulkan bukti, yang dengan bukti itu membuat terang tindak pidana yang terjadi, dan menemukan tersangkanya.
Mengenai yang dimaksud dengan tindakan penyidikan berdasarkan definisi yuridis, beberapa ketentuan perundanga-undangan yang menyebutkan pengertian penyidikan diantaranya KUHAP daan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Republik Indonesia.
Berdasarkan keempat unsur tersebut sebelum dilakukan penyidikan, telah diketahui adanya tindak pidana tetapi tindak pidana itu belum terang dan belum diketahui siapa yang melakukannya. Adanya tindak pidana yang belum terang itu diketahui dari penyelidikannya.
Pasal 1 angka 13 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Republik Indonesia serta Pasal 1 angka 2 KUHAP memberikan pengertian yang sama dengan tindakan penyidikan,
dinyatakan bahwa: “Penyidikan adalah serangkaian tindakan penyidik dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam undang-undang untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti tersebut membuat terang tentang tindak pidana yang terjadi dan guna menemukan tersangkanya.
Berdasarkan pengertian dan rumusan yuridis diatas, dapat disimpulkan bahwa tugas utama penyidik adalah mencari serta mengumpulkan bukti agar tindak pidana yang ditemukan dapat menjadi terang serta dapat diketahui dan ditemukan pelaku tindakan pidana tersebut.
2. Fungsi Penyidik
Agar seorang pejabat kepolisian dapat diberi jabatan sebagai penyidik, maka harus memenuhi syarat kepangkatan sebagaimana hal itu ditegaskan dalam Pasal 6 Ayat (2) KUHAP. Menurut penjelasan Pasal 6 Ayat (2), kedudukan dan kepangkatan yang diatur dalam peraturaan pemerintah, diselaraskan dan di seimbangkan dengan kedudukan dan kepangkatan penuntut umum dan hakim peradilan umum. Peraturan Pemerintahan yang mengatur masalah kepangkatan penyidik adalah berupa Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1983. Syarat kepangkatan dan pengangkatan pejabat penyidikan antara lain adalah sebagai berikut : a. Pejabat Penyidik Penuh
Pejabat polisi yang dapat diangkat sebagai pejabat “ penyidik penuh”, harus memenuhi syarat-syarat kepangkatan dan pengangkatan, yaitu34:
1) Berpangkat paling rendah inspektur dua polisi (Ipda) dan berpendidikan paling rendah sarjana strata satu atau setara.
2) Bertugas di bidang fungsi penyidkan paling singkat dua tahun.
3) Mengikuti dan lulus pendidikan pengembangan spesialisasi fungsi reserse kriminal.
4) Sehat jasmani dan rohani yang dibuktikan dengan surat keterangan dokter.
5) Memiliki kemampuan dan integritas moral yang tinggi.
b. Penyidik Pembantu.
Kepolisian Negara Republik Indonesia yang diangkat oleh Kepala Kepolisian Negara menurut syarat-syarat yang diatur dengan peraturan pemerintah35. Pejabat polisi yang dapat diangkat sebagai
“penyidik pembantu” diatur didalam Pasal 3 Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1983 Jo. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2010. Menurut ketentuan ini, syarat kepangkatan untuk dapat diangkat sebagai pejabat penyidik pembantu dari dari unsur kepolisian, selain memiliki kepangkatan serendah-rendahnya brigadir dua polisi, juga memenuhi persyaratan36.
34 Ruslan Renggong. 2016. Hukum Acara Pidana . Jakarta. Penerbit: Prenadamedia Group, Hal : 210
35 Ibid, Ruslan Renggong. Hal: 210.
36 Ibid, Ruslan Renggong. Hal: 210.
1) Mengikuti dan lulus pendidikan pengembangan spesialisasi fungsi reserse kriminal.
2) Bertugas di bidang fungsi penyidikan paling singkat dua tahun.
3) Sehat jasmani dan rohani yang diuktikan dengan surat keterangan dokter.
4) Memiliki kemampuan dan integritas moral yang tinggi.
Adapun wewenang Kepolisian Republik Indonesia di atur dalam Pasal 16 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Republik Indonesia sebagai berikut:
1) Melakukan penangkapan, penahanan, penggeledahan, dan penyitaan.
2) Melarang setiap orang meninggalkan atau merasuki tempat kejadian perkara untuk kepentingan penyidikan.
3) Membawa dan menghadapkan orang kepada penyidik dalam rangka penyidikan.
4) Menyuruh berhenti orang yang dicurigai dan menanyakan serta memeriksa tanda pengenal diri.
5) Melakukan pemeriksaan dan penyitaan surat.
6) Memanggil orang untuk didengar dan diperiksa sebagai tersangka sebagai tersangka atau saksi.
7) Mendatangkan saksi/orang ahli yang diperlukan dalam hubungannya dengan pemeriksaan perkara.
8) Mengadakan penghentian penyidikan.
9) Menyerahkan berkas perkara kepada penuntut umum.
10) Mengajukan pemerintaan secara langsung kepada pejabat imigrasi yang berwenang ditempat pemeriksaan imigrasi dalam keadaan mendesak atau mendadak untuk mencegah atau menangkal orang yang disangka melakukaan tindak pidana.
11) Memberi petunjuk dan bantuan penyidikan kepada penyidik pegawai negeri sipil serta menerima hasil penyidikan penyidik pegawai negeri sipil untuk diserahkan kepada penuntut umum, 12) Mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggungdan
jawab.
3. Tugas dan Kewenangan Penyidikan Menurut KUHAP
Pasal 6 KUHAP menentukan bahwa penyidik adalah pejabat Polisi Negara Republik Indonesia dan Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu (selanjutnya disingkat PNS) yang diberi wewenang khusus oleh undang-undang. Menurut Pasal 2 huruf A Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 58 Tahun 2010 yang mengubah dan menambah beberapa Pasal dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 1983 Tentang Pelaksanaan KUHAP, menentukan bahwa untuk dapat diangkat sebagai penyidik kepolisian.
Adapun kewenangan penyidik menurut Pasal 7 KUHAP, antara lain:
a. Menerima laporan atau pengaduan dari seorang tentang adanya tindak pidana;
b. Melakukan tindakan pertama pada saat di tempat kejadian;
c. Menyuruh berhenti seorang tersangka dan memeriksa tanda pengenal diri tersangka;
d. Melakukan penangkapan, penahanan, penggeledaan, dan penyitaan;
e. Melakukan pemeriksaan dan penyitaan surat;
f. Mengambil sidik jari dan memotret seseorang;
g. Memanggil orang untuk didengar dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi;
h. Mendatangkan orang ahli yang diperlukan dalam hubungannya dengan pemeriksaan perkara;
i. Mengadakan penghentian penyidik;
j. Mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggung jawab.
Selain penyidik yang diatur di dalam KUHAP, juga dikenal pula penyidik yang berwenang melakukan penyidikan untuk tindak pidana tertentu. Jaksa misalnya, sampai saat ini berwenang melakukan penyidikan terhadap pembuat tindak pidana korupsi. Kewenangan jaksa menyidik tindak pidana korupsi didasarkan pada Pasal 284 KUHAP jo Pasal 30 ayat (1) butir di Undang – undang Nomor 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan dan Pasal 17 Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1983 tentang Pelaksanaan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana.
Demikian pula ketentuan dalam Pasal 21 UUPHAM yang menentukan bahwa penyidik perkara pelanggar HAM yang berat dilakukan oleh jaksa agung dan dalam hal-hal tertentu jaksa agung dapat mengangkat penyidik ad hoc yang terdiri atas unsur pemerintah dan/atau masyarakat37.
Dalam melaksanakan tugasnya tersebut penyidik wajib menjujung hukum yang berlaku. Untuk itu penyidik membuat berita acara pelaksanaan tindakan (Pasal 75 KUHAP) tentang38:
a. Pemeriksaan tersangka;
b. Penangkapaan;
c. Penahanan;
d. Penggeledahan;
e. Pemasukan rumah;
f. Penyitaan benda;
g. Pemeriksaan surat;
h. Pemeriksaan saksi;
i. Peemeriksaan tempat kejadian;
37Ruslan Renggong, Op.cit,. Hal 212.
38Darwan Prinst, 1989, Hukum Acara Pidana Suatu Pengantar, Jakarta, Penerbit : Djambatan, Hal : 92-93.
j. Pelaksanaan penetapan dan putusan pengadilan;
k. Pelaksanaan tindakan lain sesuai KUHAP.
E. Tindak Pidana Penganiayaan
1. Pengertian Tindak Pidana Penganiayaan
Secara umum tindak pidana terhadap tubuh dalam KUHAP disebut penganiayaan. Dari segi kata bahasa, penganiayaan adalah suatu kata jadian atau kata sifat yang berasal dari kata dasar “aniaya” yang mendapat awalan
“pe” dan akhiran “an” sedangkan penganiayaan itu sendiri berasal dari kata benda yang berasal dari kata aniaya yang menunjukkan subyek atau pelaku penganiayaan itu M. H. Tirtaamidjaja membuat pengertian “penganiayaan”
sebagai berikut. 39“menganiaya” ialah dengan sengaja menyebabkan sakit atau luka pada orang lain.
Akan tetapi suatu perbuatan yang menyebabkan sakit atau luka pada orang lain tidak dapat dianggap sebagai penganiayaan kalau perbuatan itu dilakukan untuk menjaga keselamatan badan40.
Dalam kamus Bahasa Indonesia disebutkan penganiayaan adalah perlakuan sewenang-wenang (penyiksaan, penindasan, dan sebagainya).
Dengan kata lain untuk menyebut seseorang telah melakukan penganiayaan, maka orang tersebut harus memiliki kesengajaan dalam melakukan suatu kesengajaan dalam melakukan suatu perbuatan untuk membuat rasa sakit pada
39M.H Tjiptomartomo. 2002. Penerapan Ilmu Kedokteran Kehakiman Dalam Proses Penyidikan, Jakarta, Hal: 67.
40Leden Marpaung, 2002, Tindak Pidana Nyawa dan Tubuh (pemberantas dan prevensinya), Jakarta, Penerbit : Sinar Grafika, Hal: 5.
orang lain atau luka pada tubuh orang lain atau pun orang itu dalam perbuatannya merugikan kesehatan orang lain41.
Di dalam KUHAP yang dissebut dengan tindak pidana terhadap tubuh disebut dengan penganiayaan, mengenai arti dan makna kata penganiayaan tersebut banyak perbedaan diantara para ahli hukum dalam memahaminya.
Penganiayaan diartikan sebagai “perbuatan yang dilakukan dengan sengaja untuk menimbulkan rasa sakit atas luka pada tubuh orang lain”. Menurut para ahli ada beberapa pengertian tentang penganiayaan diantaranya sebagai berikut:
1. Menurut H.R (Hooge Raad), penganiayaan adalah setiap perbuatan yang dilakukan dengan sengaja untuk menimbulkan rasa sakit atau luka kepada orang lain, dan semata-mata menjadi tujuan dari orang itu dan perbuatan tadi tidak boleh merupakan suatu alat untuk mencapai suatu tujuan yang diperkenankan42.
2. Menurut Mr. M. H. Tirtaamidjaja menganiaya adalah dengan sengaja menyebabkan sakit atau luka padaa orang lain. Akan tetapi, suatu perbuataan yang menyebabkan sakit atau luka pada orang lain, tidak dapat dianggap sebagai penganiayaan kalau perbuatan itu dilakukan untuk menambah keselamatan badan43.
3. Menurut Doctrine mengartikan penganiayaan sebagai, setiap perbuatan yang dilakukan dengan dengan sengaja untuk menimbulkan rasa sakit atau luka pada orang lain.
41Ibid. M.H Tjiptomartomo, Hal: 35.
42Ibid. M.H Tjiptomartomo, Hal; 35
43Tirtaamidjaja, 1955, Pokok-Pokok Hukum Pidana, Jakarta Fasco, Hal : 174
Ada pula yang memahami penganiayaan adalah dengan sengaja menimbulkan rasa sakit atau luka, kesengajaan itu harus dicantumkan dalam surat tuduhan, menurut doktri/ ilmu pengetahuan hukum pidana penganiayaan mempunyai unsur sebagai berikut:
1. Adanya kesengajaan 2. Adanya perbuatan
3. Adanya akibat perbuatan (yang dituju), yaitu:
a. Rasa sakit pada tubuh.
b. Luka pada tubuh44.
Unsur pertama adalah berupa unsur subjektif (kesalahan), unsur kedua dan ketiga berupa unsur objektif.
Tindak pidana penganiayaan adalah kejahatan yang dilakukan terhadap tubuh dalam segala perbuatan-perbuatannya sehingga menjadikan luka atau rasa sakit pada tubuh bahkan sampai menimbulkan kematian.
2. Jenis – Jenis Penganiayaan
Dalam KUHP, tindak pidana dimasukkan ke dalam tindak kejahatan dan diatur dalam buku Bab XX Pasal 351 sampai dengan Pasal 358 KUHP. Dari rumusan Pasal yang ada dapat diklasifikasi kedalam lima jenis diantaranya:
a. Penganiayaan biasa
Penganiayaan diatur dalam Pasal 351 KUHP dan merupakan bentuk pokok dari tindak pidana penganiayaan bunyi Pasal 351 yaitu:
44Rusli Efendy. 1983. Ruang Lingkup Kriminologi. Bandung, Penerbit : Alumni. Hal : 34.
1) Penganiayaan diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah;
2) Jika perbuatan itu menyebabkan luka-luka berat, yang bersalah dipidana dengan pidana penjara paling lama lima tahun;
3) Jika mengakibatkan mati, dipidana dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun;
4) Dengan penganiayaan disamakan sengaja merusak kesehatan;
5) Percobaan untuk melakukan kejahatan ini tidak di pidana.
Penganiayaan yang merupakan suatu tindakan yang melawan hukum, memang semuanya perbuatan atau tindakan yang dilakukan oleh seseorang yang berakibat kepada dirinya sendiri. Mengenai penganiayaan biasa ini merupakan suatu tindakan hukum yang bersumber dari sebuah kesengajaan. Kesengajaan ini berarti bahwa akibat suatu perbuatan dikehendaki dan ini ternyata apabila akibat itu sungguh-sungguh dimaksud oleh perbuatan yang dilakukan itu yang menyebabkan seseorang rasa sakit, luka sehingga menimbulkan kematian akan tetapi tidak semua perbuatan memukul atau lainnya yang menimbulkan rasa sakit dikatakan sebuah penganiayaan.
Oleh karena mendapatkan perizinan dari pemerintah dalam melaksanakan tugas dan fungsi jabatannya, seperti contoh : seorang guru yang memukul anak didiknya, atau seorang dokter yang telah melukai pasiennya dan meyebabkan luka, tindakan tersebut tidak dapat dikatakan sebagai penganiayaan, karena ia bermaksud untuk mendidik dan menyembuhkan penyakit yang diderita oleh pasiennya.
Adapun timbulnya rasa sakit yang terjadi pada sebuah pertandingan diatas ring seperti tinju, pencak silat, dan lain sebagaianya.
Di dalam Pasal 351 KUHP telah mempunyai rumusan dalam tindak pidana penganiayaan biasa dapat di belakang menjadi:
1) Penganiayaan biasa yang tidak menimbulkan luka berat maupun kematian;
2) Penganiayaan yang mengakibatkan luka berat;
3) Penganiayaan yang mengakibatkan kematian;
4) Penganiayaan yang berupa sengaja merusak kesehatan.
Selanjutnya dalam hal percobaan menganiaya tidaklah dapat dipidana, kecuali percobaan penganiayaan yang dipikirkan lebih dahulu, dapat dipidana.
b. Penganiayaan Ringan
Disebut Penganiayaan Ringan, apabila penganiayaan itu tidak menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau pencarian, yang diancam dengan pidana penjara paling lama tiga bulan denda paling banyak tiga ratus ribu rupiah. Hukuman ini dapat ditambah sepertiga bagi pelaku yang menganiaya orang yang bekerja padanya atau sebagai bawahannya (Pasal 352 KUHAPidana)45.
Pasal 352 KUHP berbunyi :
1) Kecuali yang tersebut dalam Pasal 353 dan Pasal 356, maka penganiayaan yang tidak menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan menjalankan pekerjaan jabatan atau pencaharian, dipidana sebagai penganiayaan ringan, dengan pidana penjara paling lama tiga bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus. Pidana dapat ditambah sepertiga bagi orang yang melakukan kejahatan itu terhadap orang yang bekerja padanya atau menjadi bawahannya;
2) Percobaan untuk melakukan kejahatan ini tidak dipidana. Melihat Pasal 352 KUHP ayat (2) bahwa “percobaan melakukan kejahatan itu (penganiyaan ringan) tidak dapat di Pidana” meskipun dalam pengertiannya menurut para ahli hukum, percobaan adalah
45Hadikusuma Hilman. 2005. Bahasa Hukum Indonesia. Bandung, Hal :131.
menuju kesuatu hal, tetapi tidak sampai selesai. Disini yang dimaksud adalah percobaan untuk melakukan kejahatan yang bisa membahayakan orang lain dan yang telah diatur dalam Pasal 53 ayat (1). Sedangkan percobaan yang ada dalam penganiayaan ini tidak akan membahayakan orang lain.
c. Penganiyaan Yang Direncanakan Lebih Dahulu
Pasal 353 KUHP mengenai penganiyaan berencana merumuskan sebagai berikut :
1) Penganiyaan dengan berencana lebih dulu, di pidana dengan pidana penjara paling lama empat tahun;
2) Jika perbuatan itu menimbulkan luka-luka berat, yang bersalah di pidana dengan pidana penjara palang lama tujuh tahun;
3) Jika perbuatan itu mengakibatkan kematian, yang bersalah di pidana dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun.
Menurut M.H. Tirtamidjaja arti di rencanakan lebih dahulu adalah “bahwa ada suatu jangka waktu, bagaimanapun pendeknya untuk mempertimbangan, untuk berfikir dengan tenang”46.
Apabila di pahami tentang arti dari direncanakan di atas, bermaksud sebelum melakukan penganiayaan tersebut telah di rencanakan terlebih dahulu, oleh sebab terdapatnya unsur direncanakan lebih dulu (meet voor bedachte rade). Sebelum perbuatan dilakukan, direncanakan lebih dulu (disingkat berencana), adalah berbentuk khusus dari kesengajaan (opzettielijk) dan merupakan alasan pemberat pidana pada penganiayaan yang bersifat
46Ibid. Hadikusuma Hilman.
subjektif, dan juga terdapat pada pembunuhan berencana (Pasal 340 KUHAP).
Perkataan berfikir dengan tenang, sebelum melakukan penganiayaan, si pelaku tidak langsung melakukan kejahatan itu tetapi ia masih berfikir dengan batin yang tenang apakah resiko/ akibat yang akan terjadi yang disadarinya baik bagi dirinya maupun orang lain, sehingga pelaku sudah berniat untuk melakukan kejahatan tersebut sesuai dengan kehendaknya yang telah menjadi keputusan untuk melakukannya. Maksud dari niat dan rencana tersebut tidak dikuasai oleh perasaan emosi yang tinggi, was-was/takut, tergesa-gesa atau terpaksa dan lain sebagainya.
Penganiayaan berencana diatur dalam Pasal 353 KUHAP apabila mengakibatkan luka berat dan kematian dalah berupa faktor atau alasan pembuat pidana yang bersifat objektif, penganiayaan berencana apabila menimbulkan luka berat yang dikehendaki sesuai dengan (ayat (2) ) bukan disebut lagi penganiayaan berencana tetapi penganiayaan berat berencana (Pasal 355 KUHAP), apabila kejahatan tersebut bermaksud dan ditujukan pada kematian ayat (3) bukan disebut lagi penganiayaan berencana tetapi pembunuhan berencana (Pasal 340 KUHAP).
d. Penganiayaan Berat
Penganiayaan berat dirumuskan dalam Pasal 354 KUHP yang rumusannya adalah sebagai berikut:
1) Barangsiapa sengaja melukai berat orang lain, dipidana karena melakukan penganiayaan berat dengan pidana penjara paling lama delapan tahun.
2) Jika perbuatan itu mengakibatkan kematian, yang bersalah dipidana dengan pidana penjara paling lama sepuluh tahun.
Penganiayaan berat (zwar lichamelijk letsel toebrengt) atau dapat disebut juga menjadi berat pada tubuh orang lain haruslah dilakukan dengan sengaja. Kesengajaan itu harus mengenai ketiga unsur dari tindak pidana yaitu, perbuatan yang dilarang, akibat yang menjadi pokok alasan diadakan larang itu dan bahwa perbuatan itu melanggar hukum.
Ketiga unsur di atas harus disebut dalam undang-undang sebagai unsur dari tindak pidana, seorang jaksa harus teliti dalam merumuskan apakah yang telah dilakukan oleh seorang terdakwa dan ia harus menyebutkan pula tuduhan pidana semua unsur yang disebutkan dalam undang-undang sebagai unsur dari tindak pidana.
Apabila dihubungkan dengan unsur kesengajaan maka kesengajaan ini harus sekaligus ditujukan baik terhadap perbuatannya, (misalnya menusuk dengan pisau), maupun terhadap akibatnya, yakni luka berat.
Mengenai luka berat di sini bersifat abstrak bagaimana bentuknya luka berat, kita hanya dapat merumuskan luka berat yang telah dijelaskan pada Pasal 90 KUHP sebagai berikut:
1) Jatuh sakit atau luka yang tak dapat diharapkan akan sembuh lagi dengan sempurna atau yang dapat mendatangkan bahaya maut;
2) Senantiasa tidak cakup mengerjakan pekerjaan jabatan atau pekerjaan pencaharian;
3) Tidak dapat lagi memakai salah satu panca indra;
4) Mendapat cacat besar;
5) Lumpuh (kelumpuhan);
6) Akal (tenaga faham) tidak sempurna lebih lama dari empat minggu;
7) Gugurnya atau matinya kandungan seorang perempuan47.
Pada Pasal 90 KUHP diatas telah dijelaskan tentang golongan yang bisa dikatakan sebagai luka berat, sedangkan akibat kematian pada penganiayaan berat bukanlah merupakan unsur penganiayaan berat, melainkan merupakan faktor atau alasan memperberat pidana dalam penganiayaan berat.
e. Penganiayaan Berat Berencana
Penganiayaan berat berencana, dimuat dalam Pasal 355 KUHP yang rumusannya adalah sebagai berikut:
1) Penganiayaan berat yang dilakukan dengan rencana terlebih dahulu, dipidana dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun.
2) Jika perbuatan ini menimbulkan kematian yang bersalah dipidana dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun.
47R.Soenarto Soerodibroto. 2012. KUHP Dan KUHAP. PT. Raja Grafindo Persada, Hal :72
Bila kita lihat penjelasan yang telah ada diatas tentang kejahatan yang berupa penganiayaan berencana, dan penganiayaan berat, maka penganiayaan berat berencana ini merupakan bentuk gabungan antara penganiayaan berat (Pasal 354 Ayat (1) KUHP) dengan penganiayaan berencana (Pasal 353 Ayat (1) KUHP). Dengan kata lain suatu penganiayaan berat yang terjadi dalam penganiayaan berencana, kedua bentuk penganiayaan ini haruslah terjadi secara serentak/bersama. Oleh karena harus terjadi secara bersama, maka harus terpenuhi baik unsur penganiayaan berat maupun unsur penganiayaan berencana.
F. Visum et Repertum
1. Pengertian Visum et Repertum
Ketika berbicara mengenai visum et repertum maka hal ini berkaitan erat dengan ilmu kedokteran forensik. Mengenai disiplin ilmu ini, di mana sebelumnya dikenal dengan ilmu kedokteran kehakiman, R.
Atang Ranoemiharja menjelaskan bahwa ilmu kedokteran kehakiman atau ilmu kedokteran untuk membantu peradilan baik dalam perkara pidana maupun dalam perkara lain (perdata). Tujuan serta kewajiban ilmu kedokteran adalah membantu kepolisian, kejaksaan dan kehakiman dalam menghadapi kasus-kasus perkara yang hanya dapat dipecahkan dengan ilmu pengetahuan kedokteran48.
48R. Atang Ranoemihardja, 1983, Ilmu Kedokteran Kehakiman Forensic Science, Bandung, Tarsito, Hal : 10.
Tugas dari ilmu kedokteran kehakiman adalah membantu aparat hukum (baik kepolisian, kejaksaan dan kehakiman) dalam mengungkap suatu perkara yang berkaitan dengan pengerusakan tubuh, kesehatan dan nyawa seseorang49.
Dengan bantuan ilmu kedokteran kehakiman tersebut, diharapkan keputusan yang hendak diambil oleh badan peradilan menjadi objektif berdasarkan apa yang sesungguhnya terjadi.
Bentuk bantuan ahli kedokteran kehakiman dapat diberikan pada saat terjadi tindak pidana (ditempat kejadian perkara, pemeriksaan korban yang luka atau meninggal dunia) dan pemeriksaan barang bukti, dimana hal ini akan diterangkan dan diberikan hasil secara tertulis dalam bentuk surat yang dikenal dengan istilah visum et repertum
Visum et repertum adalah istilah yang dikenal dalam ilmu kedokteran forensik, biasanya dikenal dengan nama “Visua”. Visua berasal dari bahasa latin, bentuk tunggalnya dalah “Visa”. Dipandang dari arti etimologi atau tata bahasa, kata “Visum” atau “Visa” berarti tanda melihat atau melihat yang artinya penandatanganan dari barang bukti tentang segala sesuatu hal yang ditemukan, disetujui, dan diserahkan, sedangkan “Revertum” berarti melaporkan yang artinya apa yang telah didapat dari pemeriksaan dokter terhadap korban. Secara etimologi visum et repertum adalah apa yang dilihat dan diketemukan50.
49 Waluyadi, 2000, Ilmu Kedokteran Kehakiman Dalam Perspektif Peradilan Dan Aspek Hukum Praktik Kedokteran, Jakarta, Djambatan, Hal : 26.
50 Abdul Mun’im Idris dan Legowo Tjiptomartomo, 2002, Penerapan Ilmu Kedokteran Kehakiman Dalam Proses Penyidikan, Jakarta, Karya Unipres, Hal : 10