BAB II KAJIAN TEORI DAN KERANGKA KONSEP
F. Visum et Repertum
5. Peran Visum et Repertum (VeR)
Peran Visum et repertum sebagai salah satu alat bukti yang sah dalam proses pembuktian perkara pidana terhadap kesehatan dan jiwa manusia. Dalam VeR terdapat uraian hasil pemeriksaan medis yang tertuang dalam bagian pemberitaan, yang karenanya dapat dianggap sebagai pengganti barang bukti. VeR juga memuat keterangan atau pendapat dokter mengenai hasil pemeriksaan medis yang tertuang dalam bagian kesimpulan56.
Sebagaimana diketahui bahwa alat-alat pembuktian di dalam pidana sudah diatur dalam Pasal 184 Ayat (1) Undang-undang Hukum Acara Pidana (Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981) yang menyebutkan adanya beberapa alat-alat bukti yang sah, antara lain : 1) Keterangan Saksi;
2) Keterangan Ahli;
3) Surat;
4) Petunjuk;
5) Keterangan Terdakwa.
Ad.a. Keterangan Saksi
Pasal 1 butir 26 KUHAP menyebutkan “saksi adalah orang yang dapat memberikan keterangan guna kepentingan penyidikan, penuntutan, dan peradilan tentang suatu perkara pidana yang ia dengar sendiri, ia lihat sendiri, dan ia alami sendiri”.
Ad.b. Keterangan Ahli
56Ibnu Artadi. 1974. Peranan Visum Et Repertum dalam Penyelesaian Perkara Pidana, Hal : 7-80.
Pasal 1 butir 28 KUHAP menyatakan “keterangan ahli adalah keterangan yang diberikan oleh seorang yang memiliki keahlian khusus tentang hal yang diperlukan untuk membuat terang suatu perkara pidana guna kepentingan pemeriksaan”.
Penjelasan Pasal 186 KUHAP menguraikan:
Keterangan ahli ini dapat juga sudah diberikan pada waktu pemeriksaan oleh penyidik atau penuntut umum yang dituangkan dalam suatu bentuk laporan dan dibuat dengan mengingat sumpah di waktu ia menerima jabatan atau pekerjaan. Jika hal itu tidak diberikan pada waktu pemeriksaan oleh penyidik atau penuntut umum, maka pada pemeriksaan disidang, diminta untuk memberikan keterangan dan dicatat dalam berita acara pemeriksaan, ketyerangan tersebut diberikan setelah ia mengucapkan sumpah atau janji dihadapan hakim.57
Ad. c. Surat
Pengertian surat telah diuraikan dalam Pasal 187 KUHAP, yang berbunyi sebagai berikut:
Surat sebagaimana tersebut pada Pasal 184 ayat (1) huruf c, dibuat atas sumpah jabatan atau dikuatkan dengan sumpah, adalah:
1) Berita acara dan surat lain dalam bentuk resmi yang dibuat oleh pejabat umum yang berwenang atau yang dibuat dihadapannya, yang memuat keterangan tentang kejadian atau keadaan yang di dengar, dilihat atau dialaminya sendiri, disertai dengan alasan yang jelas dan tegas tentang keterangan itu;
2) Surat yang dibuat menurut ketentuan peraturan perundang-undangan atau surat yang dibuat oleh pejabat mengenai hal yang termasuk dalam tata laksana yang menjadi tanggung jawabnya dan yang diperuntukkan bagi pembuktian sesuatu hal atau sesuatu keadaan;
3) Surat keterangan dari seorang ahli yang memuat pendapat berdasarkan keahliannya mengenai sesuatu hal atau sesuatu keadaan yang diminta secara resmi dari padanya;
57Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana, Pasal 186 Tentang Penjelasan Keterangan Ahli
4) Surat lain yang hanya dapat berlaku jika ada hubungannya dengan isi dari alat pembuktian yang lain.
Ad.d. Petunjuk
Pengertian petunjuk telah diuraikan dalam Pasal 188 KUHAP, yaitu sebagai berikut:
1) Petunjuk adalah perbuatan, kejadian atau keadaan, yang karena persesuaiannya, baik yang satu dengan yang lain, maupun dengan tindak pidana itu sendiri, menandakan bahwa telah terjadi suatu tindak pidana dan siapa pelakunya.
2) Keterangan terdakwa yang diberikan di luar sidang dapat digunakan untuk membantu menemukan bukti sidang, asalkan keterangan itu didukung oleh suatu niat bukti yang sah sepanjang mengenai hal yang didakwakan kepadanya.
3) Keterangan terdakwa hanya dapat digunakan terhadap dirinya sendiri.
4) Keterangan terdakwa saja tidak cukup untuk membuktikan bahwa ia bersalah melakukan perbuatan yang didakwakan kepadanya, melainkan harus disertai alat bukti yang lain.
G. Pengertian Teori atau Sistem Pembuktian 1. Pengertian Pembuktian
Pembuktian adalah penyajian alat-alat bukti yang sah menurut hukum oleh para pihak yang beperkara kepada hakim dalam suatu persidangan, dengan tujuan untuk memperkuat kebenaran dalil tentang fakta hukum yang menjadi pokok sengketa, sehingga hakim memperoleh dasar kepastian untuk menjatuhkan keputusan. Subekti, mantan ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia dan guru besar hukum perdata pada Universitas Indonesia berpendapat bahwa pembuktian adalah suatu proses bagaimana alat-alat bukti dipergunakan, diajukan atau dipertahankan sesuatu hukum acara yang berlaku58.
Menurut Sudikno Mortokusumo, membuktikan mengandung beberapa pengertian, yaitu59:
a. Membuktikan dalam arti logis, berarti memberi kepastiaan yang bersifat mutlak, karena berlaku bagi setiap orang dan tidak memungkinkan adanya bukti lawan.
b. Membuktikan dalam arti konvesional, berarti memberi kepastian tetapi bukan kepastian mutlak melainkan kepastian yang relatif sifatnya yang mempunyai tingkatan-tingkatan sebagai berikut:
1) Kepastian yang hanya didasarkan pada perasaan, sehingga bersifat intuitif dan disebut conviction intime.
2) Kepastian yang didasarkan pada pertimbangan akal, sehingga disebut conviction raisonee.
3) Membuktikan dalam arti yuridis (dalam hukum acara pidana), tidak lain berarti memberi dasar-dasar yang cukup kepada hakim yang memeriksa perkara guna memberi kepastian tentang kebenaran peristiwa yang diajukan.
Sistem pembuktian adalah sistem yang berisi terutama tentang alat-alat bukti apa yang boleh digunakan untuk membuktikan, cara bagaimana alat bukti itu boleh dipergunakan, dan nilai kekuatan dari
alat-58Subekti, 1991, Hukum Pembuktian, Jakarta, Penerbit : Pradnya Paramita, Hal : 7
59 Sudikno Mertokusumo, 2002, Hukum Acara Perdata Indonesia Edisi Enam, Yogyakarta, Penerbit : Liberty, Hal : 127.
alat bukti tersebut serta standar/kriteria yang menjadi ukuran dalam mengambil kesimpulan tentang terbuktinya suatu (objek) yang dibuktikan. Sistem pembuktian merupakan suatu kebulatan atau keseluruhan dari berbagai ketentuan perihal kegiatan pembuktian yang saling berkaitan dan berhubungan satu dengan yang lain yang tidak terpisahkan dan menjadi satu kesatuan yang utuh60.
Hukum acara pidana mengenal beberapa macam teori pembuktian yang menjadi pegangan bagi hakim dalam melakukan pemeriksaan terhadap di sidang pengadilan. Sejalan dengan perkembangan waktu, teori atau sistem pembuktian mengalami perkembangan dan perubahan.
Demikian pula penerapan sistem pembuktian di suatu negara dengan negara lain dapat berbeda. Adapun sistem atau teori pembuktian yang di kenal dalam dunia hukum pidana yaitu conviction intime atau teori pembuktian berdasarkan keyakinan hakim semata-mata, conviction rasioneen atau teori pembuktian berdasarkan keyakinan hakim dalam batas-batas, tertentu atas alasan yang logis, positif wettelijk bewijstheorie atau teori pembuktian yang hanya berdasarkan kepada alat-alat pembuktian yang disebut oleh undang-undang secara positif, dan negatif wettelijk bewijstheorie atau teori pembuktian berdasarkan keyakinan hakim yang timbul dari alat-alat bukti dalam undang-undang secara negatif61.
60Adhami Chazawi, 2008, Hukum Pembuktian Tindak Pidana Korupsi, Bandung, Alumni, Hal : 1161Hendra Soetarna, 2011, Hukum Pembuktian Dalam Acara Pidana, Bandung, Hal : 11
Adapun beberapa teori atau pembuktian yang dianut dalam Hukum Acara Pidana:
2. Sistem atau Teori Pembuktian Berdasarkan Atas Keyakinan Hakim Teori pembuktian berdasarkan keyakinan hakim atau conviction intime diartikan sebagai pembuktian berdasarkan keyakinan hakim belaka. Teori pembuktian ini lebih memberikan kebebasan kepada hakim untuk menjatuhkan suatu putusan berdasarkan keyakinan hakim, artinya bahwa jika dalam pertimbangan keputusan hakim telah menganggap terbukti suatu perbuatan sesuai dengan keyakinan yang timbul dari hati nurani, terdakwa yang diajukan kepadanya dapat dijatuhkan putusan.
Keyakinan hakim pada teori ini adalah menentukan dan mengabaikan hal-hal lainnya jika sekiranya tidak sesuai atau bertentangan dengan keyakinan hakim tersebut62.
Sistem ini pernah diterapkan diindonesia, yaitu pada pengadilan distrik dan pengadilan kabupaten. Sistem ini memungkinkan hakim menyebut apa saja sebagai dasar keyakinannya, termasuk bisikan dukun.
Hal tersebut juga terjadi pada pengadilan adat dan swapraja yang para hakimnya terdiri atas orang-orang yang bukan ahli hukum. Sistem ini merugikan dalam hal pengawasan terhadap hakim dan merugikan terdakwa dan penasihat hukum karena tidak jelas patokan dan ukuran suatu keyakinan hakim63.
62 Rusli Muhammad, 2007, Hukum Acara Pidana Kontemporer, Bandung, Penerbit: Citra Aditya Bakti, Hal : 186-187.
63Hendra Soetarna, Op cit, Hal : 39-40.
Sistem ini mengandung kelemahan yang besar, karena sebagai manusia biasa, hakim bisa salah keyakinan yang telah dibentuknya, berhubung tidak ada kriteria, alat-alat bukti tertentu yang harus dipergunakan dan syarat serta cara-cara hakim dalam membentuk keyakinannya itu. Disamping itu, pada sistem ini terbuka peluang yang besar untuk terjadi praktik penegakan hukum yang sewenang-wenang, dengan bertumpa pada alasan keyakinan hakim64.
3. Sistem atau Teori Pembuktian Berdasarkan Keyakinan Hakim Dalam Batas-batas Tertentu Atas Alasan Yang Logis.
Teori pembuktian berdasarkan keyakinan hakim dalam batas-batas tertentu atas alasan yang logis conviction rasionee adalah sistem pembuktian yang tetap menggunakan keyakinan hakim, tetapi keyakinan hakim didasarkan pada alasan-alasan (reasoning) yang rasional. Dalam sistem ini hakim tidak dapat lagi memiliki kebebasan untuk menentukan keyakinannya, tetapi keyakinannya harus diikuti dengan alasan-alasan yang reasonable yakin alasan yang dapat diterima oleh akal pikiran yang menjadi dasar keyakinannya itu65.
Bertolak dari pemikiran itulah, maka teori pembuktian berdasarkan keyakinan hakim selalu didasarkan pada keyakinan hati nuraninya sendiri. Dengan sistem pembuktian ini, pemidanaan dimungkinkan tanpa didasarkan pada alat-alat bukti berdasarkan undang-undang.
64Adhami Chazawi, Op Cit, Hal : 25.
65Rusli Muhammad, Op Cit, Hal: 187.
Conviction rasionee sebagai jalan tengah antara teori pembuktian berdasarkan undang-undang dan teori pembuktian semata-mata terdasar keyakinan hakim. Dalam teori ini, hakim dapat memutuskan terdakwa bersalah berdasarkan keyakinannya, namun tidak semata-mata keyakinan yang diciptakan oleh hakim tersendiri, tetapi keyakinan hakim sampai batas tertentu, yaitu keyakinan hakim yang didasarkan kepada dasar-dasar pembuktian dengan suatu kesimpulan (conclusive) yang berlandaskan kepada ketentuan pembuktian tertentu66.
4. Sistem atau Teori Pembuktian Yang Hanya Berdasarkan Kepada Alat-alat Pembuktian Yang Disebut Oleh Undang-undang Secara Positif.
Sistem pembuktian positif wettelijk bewijstheorie adalah pembuktian berdasarkan alat bukti menurut undang-undang secara positif atau pembuktian dengan menggunakan alat-alat bukti yang sebelumnya telah ditentukan dalam undang-undang. Untuk menentukan kesalahan seseorang, hakim harus mendasarkan pada alat-alat bukti yang tersebut dalam undang-undang, jika alat-alat bukti tersebut telah terpenuhi, hakim sudah cukup beralasan untuk menjatuhkan putusannya tanpa harus timbul keyakinan terlebih dahulu atas kebenaran alat-alat bukti yang ada.
Dengan kata lain, keyakinan hakim tidak diberi kesempatan dalam menentukan ada tidaknya kesalahan seseorang, keyakinan hakim harus
66Subekti. 1991. Hendra Soetarna. Penerbit: Op Cit. Hal: 40.
dihindari dan tidak dapat dijadikan sebagai pertimbangan dalam menentukan kesalahan seseorang67.
Sistem ini hanya sesuai dengan pemeriksaan yang bersifat inkuisitor yang dulu pernah dianut di Eropa yang saat ini sudah tidak digunakan lagi karena pertentangan dengan hak-hak asasi manusia yang saat ini sangat diperhatikan dalam hal pemeriksaan tersangka atau terdakwa oleh negara. Sistem ini sama sekali mengabaikan perasaan hati nurani hakim, dimana hakim bekerja menyidangkan terdakwa seperti robot yang tingkah lakunya sudah diprogram melalui undang-undang68.
Wirjono Prodjodikoro, menolak teori ini untuk dianut di Indonesia, karena menurutnya bagaimana hakim menetapkan kebenaran selain dengan cara menyatakan kepada keyakinannya tentang hal kebenaran itu, lagi pula keyakinan seorang hakim yang jujur dan berpengalaman mungkin sekali adalah sesuai dengan keyakinan masyarakat69.
5. Sistem atau Teori Pembuktian Berdasarkan Keyakinan Hakim Yang Timbul dari Alat-alat Bukti Dalam Undang-undang Secara Negatif
Pembuktian negatif wettelijk bewijstheorie atau pembuktian berdasarkan undang-undang secara negatif adalah pembuktian yang selain menggunakan alat-alat bukti yang dicantumkan dalam undang-undang.
Sistem pembuktian ini menggabungkan antara sistem pembuktian menurut undang-undang secara positif dan sistem pembuktian menurut keyakinan
67Rusli Muhammad. Penerbit: Op Cit, Hal: 190.
68Adhami Chazawi, Op Cit, Hal : 27-28
69Andi Hamzah, 2014, Hukum Acara Pidana Indonesia, Jakarta, PT. Sinar Grafika, Hal : 251.
hakim sehingga sistem pembuktian ini disebut pembuktian berganda (doubelen grondslag)70.
Negatif wettelijk bewijstheorie memadukan dua unsur yaitu ketentuan pembuktian berdasarkan undang-undang dan unsur keyakinan hakim menjadi satu unsur yang tidak dapat terpisahkan. Keyakinan hakim dipandang tidak ada apabila keyakinan tersebut tidak diperoleh dari sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah, dan dua alat bukti yang sah dipandang nihil bila tidak dapat menciptakan keyakinan hakim71.hDari hasil penggabungan kedua sistem dari yang saling bertolak belakang itu, terwujudlah suatu sistem pembuktian menurut undang-undang secara negatif. Dimana rumusannya bahwa salah tidaknya seorang terdakwa ditentukan oleh keyakinan hakim yang didasarkan kepada cara dan dengan alat-alat bukti sah menurut undang-undang72.
Sistem pembuktian negatif wettelijk bewijstheorie mempunyai persamaan dan perbedaan dengan sistem conviction rasionalee.
Persamaannya adalah kedua teori tersebut sama-sama menggunakan keyakinan hakim dan kedua-duanya sama-sama membatasi keyakinan hakim. Sedangkan perbedaannya bahwa sistem conviction rasionalee bepangkal tolak pada keyakinan hakim yang didasarkan pada suatu kesimpulan atau alasan-alasan yang logis yang diterima oleh akal pikiran yang tidak didasarkan pada undang-undang, sedangkan pembuktian negatif
70Rusli Muhammad, Hukum, Op Cit, Hal : 187.
71Hendra Soetarma, Op Cit, Hal: 41.
72 M. Yahya Harapan, Pembahasan Permasalahan Dan Penerapan KUHAP : Pemeriksaan Sidang Pengadilan Banding, Kasasi, dan Peninjauan Kembali Edisi Kedua, Jakarta, PT. Sinar Grafika, Hal: 277.
wettelijk bewijstheorie berpangkal tolak pada alat-alat bukti yang ditetapkan secara limitatif oleh undang-undanag dan harus mendapat keyakinan hakim73.
Sistem pembuktian yang dianut oleh KUHAP sebagaimana diatur dalam Pasal 183 KUHAP memadukan unsur-unsur objektif dan subjektif dalam menentukan salah tidaknya terdakwa. Tidak ada yang paling dominan diantara kedua unsur tersebut, keduanya saling berkaitan. Jika suatu perkara terbukti secara sah (sah dalam arti alat-alat bukti menurut undang-undang), akan tetapi tidak meyakinkan hakim akan adanya kesalahan tersebut, maka hakim tidak dapat menjatuhkan putusan pidana pemidanaan terhadap terdakwa74.
P.A.F Lamintang menyatakan bahwa sistem pembuktian dalam KUHAP, disebut.75:
1) Wettelijk atau menurut undang-undang karena untuk pembuktian undang-undanglah yang menentukan tentang jenis dan banyaknya alat bukti yang harus ada.
2) Negatif, karena adanya jenis-jenisnya dan banyaknya alat-alat bukti yang ditentukan oleh undang-undang itu belum dapat membuat hakim harus menjatuhkan putusan pidana bagi seorang terdakwa apabila jenis-jenis dan banyaknya alat-alat bukti itu belum dapat menimbulkan keyakinan pada dirinya bahwa suatu
73 Rusli Muhammad, Hukum, Op Cit, Hal : 190-191.
74 Tolib Efendi, 2014, Dasar-dasar Hukum Acara Pidana, Perkembangan Dan Pembahuruannya di Indonesia, Malang, Setara Press, Hal : 172.
75Rusli Muhammad, Hukum, Op Cit, Hal : 192.
tindak pidana itu benar-benar telah terjadi dan bahwa terdakwa telah bersalah melakukan tindak pidana tersebut.
Sistem menurut undang-undang secara negatif yang diatur dalam Pasal 183 KUHAP, mempunyai pokok-pokok sebagai berikut76:
1. Tujuan akhir pembuktian untuk memutuskan perkara pidana, yang jika memenuhi syarat pembuktian dapaat menjatuhkan pidana.
Dengan kata lain bahwa pembuktian ditujukan untuk memutuskan perkara pidana, dan bukan semata-mata untuk menjatukan pidana.
2. Standar/syarat tentang hasil pembuktian untuk menjatuhkan pidana dengan dua syarat yang saling berhubungan dan tidak terpisahkan, yaitu:
a. Harus menggunakan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah.
b. Dengan menggunakan sekurang-kurangnya dua alat bukti hakim memperoleh keyakinan.
Berkaitan dengan keyakinan hakim dalam pembuktian, haruslah dibentuk atas dasar fakta-fakta hukum yang diperoleh dari minimal dua alat bukti yang sah. Adapun keyakinan hakim yang harus didapatkan dalam proses pembuktian untuk dapat menjatuhkan pidana yaitu77:
1. Keyakinan bahwa telah terjadi tindak pidana sebagaimana yang didakwakan oleh JPU, artinya fakta-fakta yang didapat dari dua alat bukti itu (suatu yang objektif) yang membentuk keyakinan hakim
76Adami Chazawi, Op Cit, Hal : 30.
77Ibid, Adami Chazawi. Hal : 32-34.
bahwa tindak pidana yang didakwakan benar-benar terjadi. Dalam praktik disebut bahwa tindak pidana yang didakwakan JPU terbukti secara sah dan meyakinkan. Secara sah maksudnya telah menggunakan alat-alat bukti yang memenuhi syarat minimal yakni dari dua alat bukti. Keyakinan tentang telah terbukti tindak pidana, tetapi diperlukan pula dua keyakinan lainnya.
2. Keyakinan tentang terdakwa yang melakukannya, adalah juga keyakinan terhadap sesuatu yang objektif. Dua keyakinan itu dapat disebut sebagai hal yang objektif yang disubjektifkan. Keyakinan adalah suatu yang subyektif yang didapatkan hakim atas sesuatu yang obyektif.
3. Keyakinan tentang terdakwa bersalah dalam hal melakukan tindak pidana, bisa terjadi terhadap dua hal/unsur, yaitu pertama hal yang bersifat objektif adalah tiadanya alasan pembenar dalam melakukan tindak pidana. Dengan tidak adanya alasan pembenar pada diri terdakwa, maka hakim yakin kesalahan terdakwa. Sedangkan keyakinan hakim tentang hal yang subyektif adalah keyakinan hakim tentang kesalahan terdakwa yang dibentuk atas dasar-dasar hal mengenai diri terdakwa. Maksudnya, adalah ketika melakukan tindak pidana pada diri terdakwa tidak terdapat alasan pemaaf (fait d’excuase). Bisa jadi terdakwa benar melakukan tindak pidana dan hakim yakin tentang itu, tetapi setelah mendapatkan fakta-fakta yang menyangkut keadaan jiwa terdakwa dalam persidangan, hakim tidak
terbentuk keyakinanya tentang kesalahan terdakwa melakukan tindak pidana tersebut.
Dengan demikiaan, maksud dilakukannya kegiatan pembuktian sebagaimana di atur dalam Pasal 183 KUHAP adalah untuk menjatuhkan atau mengambil putusan in casu menarik amar putusan oleh majelis hakim. Pembuktian dilakukan terlebih dahulu dalam usaha mencapai derajat keadilan dan kepastian hukum yang setinggi-tingginya dalam putusan hakim. Sehingga pembuktian tidak hanya ditujukan untuk menjatuhkan pidana saja berdasarkan syarat minimal dua alat bukti yang harus dipenuhi dalam hal pembuktian untuk menjatuhkan pidana78.
H. Kerangka pikir
Kerangka pikir penelitian adalah suatu hubungan atau kaitan antara konsep satu terhadap konsep yang lainnya dari masalah yang ingin diteliti.
Dalam rangka mewujudkan kebenaran dan keadilan setiap orang atau kelompok masyarakat dimanapun berada, baik secara naluri maupun rasio pada dasarnya memiliki pandangan dan kehendak yang sama, yaitu bahwa orang yang melakukan kesalahan harus tidak dihukum, sedangkan orang yang tidak bersalah harus dibebaskan atau harus tidak dihukum. Logika hukum seperti ini adalah selaras dengan cita-cita konstitusi dan naluri serta akal sehat manusia dalam mencari kebenaran dan keadilan yang hakiki. Namun demikian, seiring dengan dinamika kehidupan dan perkembangan peradaban
78Ibid, Adami Chazawi. Hal : 31.
manusia, cara pandangan dalam mewujudkan kebenaran dan keadilan pun mengalami perubahan-perubahan yang mendasar sesuai dengan tingkat pikiran dan pemahaman manusia tentang hukum itu sendiri. Untuk memperoleh jawaban atas pertanyaan apakah seseorang itu telah melakukan tindak pidana atau tidak?, harus didasarkan pada pengakuan tersangka.
Pengakuan tersangka tersebut adalah sebagai upaya untuk mewujudkan kebenaran dan keadilan sehubungan telah dilakukannya tindak pidana, sehingga keberadaannya didukung oleh perangkat hukum yang ada pada saat itu. Pengakuan tersangka sebagai alat pembuktian terhadap tindak pidana yang telah dilakukan oleh seseorang, terutama yang bertalian dengan pengajaran seseorang tersangka untuk mengakui terhadap apa yang telah dilakukannya, dengan menggunakan sistem pemeriksaan inquisitor, yaitu sistem pemeriksaan yang menempatkan tersangka sebagai obyek dan si pemeriksa (aparat penegak hukum dalam hal ini kepolisian) sebagai subyek.
Perbedaan kedudukan tersangka dan pemeriksaan seperti ini jelas menunjukkan posisi yang tidak sederajat, sehingga boleh jadi pemaksaan, penekanan dan bahkan intimidasi kepada si tersangka dalam proses pemeriksaan merupakan hal yang biasa terjadi. Atas dasar itu, pengalaman sejarah telah membuktikan bahwa sistem pemeriksaan inquisitoir sebagaimana disebutkan diatas, telah menghasilkan pengakuan semua dari si tersangka, yakni pengakuan terpaksa atau takut, padahal sesungguhnya tidak benar atau sebagian tidak benar. Model dan gaya pemeriksaan seperti ini dapat dikatakan, upaya penegakkan hukum dengan cara melanggar hukum.
Praktek peradilan pidana di Indonesia pun tampaknya diwarnai oleh pemahaman tentang pengakuan tersangka, sehingga pembuktian seperti ini tidak dihilangkan sama sekali tetapi menjadi bagian dari alat bukti, hal ini dapat dilihat didalam Pasal 184 (1) huruf e Undang-undang Nomor.8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana.
Apabila ditelaah lebih mendalam, bahwa teori pembuktian berdasarkan pengakuan tersangka sebagaimana diuraikan diatas tampaknya kurang memadai, teristimewa lagi yang menjadi obyek pemeriksaannya adalah kejahatan-kejahatan yang menyebabkan luka atau terganggunya kesehatan seseorang, sementara pada saat yang lain luka atau terganggunya kesehatan tersebut berangsur-angsur sembuh atau sebaliknya. Dengan demikian, maka hukum akan mengalami hambatan dan kesulitan dalam mengusut kasus tersebut, karena barang buktinya telah berubah. Demikian juga terhadap kejahatan-kejahatan yang menyebabkan matinya seseorang, maka kematiannya tersebut akan menutup kemungkinan diproses secara hukum, sehingga ketidakadilan menjadi sesuatu yang sangat mungkin terjadi.
Dalam upaya mencari, menemukan kebenaran mengenai suatu perbuatan tindak pidana kejahatan yang menyebabkan luka, terganggunya kesehatan dan matinya seseorang, jelas ilmu pengetahuan hukum tidak bisa mengungkap permasalahan itu secara detail, karena hal tersebut diluar jangkauannya. Maka diperlukan adanya bantuan dari disiplin ilmu lain, yaitu Ilmu Kedokteran.
Hasil pemeriksaan ahli forensik dimaksud adalah Visum et Repertum yang menceritakan tentang kejadian-kejadian tindak pidana yang dapat menjadi alat bukti dalam pengusutan selanjutnya. Dengan demikian Visum et Repertum tersebut merupakan suatu rencana (verslag) yang diberikan oleh dokter tentang apa yang dilihat dan apa yang ditemukan pada waktu dilakukan pemeriksaan secara objektif, sebagai pengganti sepenuhnya alat bukti (corpus delicti) yang telah diperiksa dengan memuat semua kenyataan, sehingga akhirnya dapat ditarik suatu kesimpulan yang tepat.
Visum et Repertum sangat penting gunanya dan peranannya dalam bidang pengadilan. Visum et Repertum akan sangat membantu bagi hakim dalam usahanya membuat terang suatu perkara. Visum et Repertum merupakan keterangan dokter ahli, di luar kemampuan pengetahuan penyidik (polisi) maupunn hakim. Bagi pengadilan, hakim tetap dijamin kebebasannya oleh undang-undang, artinya hakim sekali-kali tidak wajib menurut pendapat ahli (atau keterangan dokter/ahli yang termuat dalam Visum et repertum) jika bertentangan dengan keyakinannya. Hal ini jarang terjadi, sehingga umumnya keterangan dokter ahli dalam Visum et Repertum merupakan pengganti korban dalam sidang pengadilan.
1. Diagram Kerangka Konseptual
Peran Visum Et Repertum : Faktor-Faktor Berpengaruh : - UU No.1 Tahun 1946 tentang KUHP.
- UU No. 8 Tahun 1981 tentang KUHAP - UU No. 2 Tahun 2002 tentang
Kepolisian Republik Indonesia.