• Tidak ada hasil yang ditemukan

Humor adalah respon emosional yang secara ekstrim subjektif menjadi perubahan-perubahan dalam hidup. Dalam penjelasan mengenai humor, Melvin Helitzer (2006) mencantumkan argumen Psikolog Patricia Keith-Spiegel, menurut Patricia ada delapan hal teori yang menyebabkan seseorang tertawa, yaitu Surprise, Superiority, Biological, Incongruity, Ambivalance, Release, Configurational, Psychoanalytical.

Ada beberapa tingkatan humor yang beredar di masyarakat yaitu humor yang mengandalkan pelecehan fisik seperti menertawakan orang yang jatuh, humor seks seperti menjadikan dialog mengenai penampilan seksi aktor sebagai lelucon, humor pekerjaan seperti dialog antara atasan dan bawahan di kantor, humor

ideologis dan politis yang menjadikan keputusan pemerintah menjadi anekdot, humor anak-anak dalam kartun, humor slapstick, humor situasi komedi, dan humor pada tayangan drama komedi (Set, 2008:114).

Dalam komunikasi humor, dituliskan oleh Melvin Helitzer (2006) dalam Comedy Writing Secret, komedi bukanlah jenis hiburan yang eksklusif dan dapat digunakan dibanyak orang sebagai pembuka pidato untuk cepat mendapat perhatian. Secara psikologi, tidak mungkin membenci seseorang yang dianggap lucu. Penjelasan tersebut diperkuat dengan pendapat Robert Orben yang dikutip Helitzer, “When we laugh we temporarily give ourselves over to the person who makes us laugh.”

Proses pembentukan pertunjukan komedi terdiri dari tiga poin. Material, Audiens, dan Penampilan komedian (MAP). Materi yang disampaikan haruslah sesuai dengan hal yang menjadi perhatian dari audiens dan materi ini juga harus terkait dengan kepribadian komedian. Demikian pula dengan audiens yang harus mengimbangi materi yang disampaian dan gaya penyampaian komedian. Karakter dari bahan humor harus tepat dengan karakter komedian dan karakter audiens (Helitzer, 2006:3).

2.2.6.1 Stand Up Comedy

Stand Up Comedy muncul antara abad ke 18 dan 19 di Inggris, namun pada perkembangannya orang-orang di Amerika yang menjadikan jenis komedi monolog ini sebagai budaya populer. Sejarah Stand Up Comedy di Indonesia

berawal dari program televisi Bincang Bintang yang disiarkan RCTI dengan pembawa acara Iwel Wel yang telah lama berkecimpung di dunia pertelevisian. Meski sebuah program talkshow, Stand Up Comedy disisipkan dalam program tersebut untuk memperkenalkan jenis komedi baru yang hampir mirip dengan joke telling. Lantas beberapa tahun kemudian muncul lebih banyak nama seperti Raditya Dika dan Pandji Pragiwaksono yang mempraktikkan Stand Up Comedy. Hingga kemudian program bertema Stand Up Comedy hadir Metro TV dengan bentuk show dan Kompas TV memproduksi dalam bentuk kompetisi (blog Stand Up Indonesia, diakses 15 Mei 2012).

Dalam kesempatan peluncuran Kompas TV, pelawak kawakan Indro Warkop menyatakan bahwa proses pembuatan materi Stand Up Comedy layaknya skripsi, memerlukan analisa dan pemikiran yang serius. Lantas kemudian dirumuskan oleh Pandji Pragiwaksono bahwa Stand Up Comedy bukanlah menceritakan anekdot atau lelucon berupa tebak-tebakan yang kerap dilakukan oleh pelawak di Indonesia seperti Alm. Taufik Savalas.

Stand Up Comedy merupakan monolog bercerita mengenai fenomenal sosial yang terjadi di kehidupan masyarakat, kemudian diceritakan ulang pada penonton. Penonton yang mengalami atau terlibat langsung dalam fenomena sosial yang dipaparkan comic mendapatkan rasa lucu, tertawa, dan terhibur. Pendekatan seperti ini yang membedakan Stand Up Comedy dengan cabang komedi lainnya. Mulai dari pelaku Stand Up Comedy yang disebut dengan comic. Comic adalah orang yang memiliki bakat melucu baik dalam tindakan maupun ucapan dari pengalaman sendiri dan mengubah pengalamannya itu menjadi bahan lelucon untuk diceritakan pada orang lain (Carter, 2001:17). Comic menyampaikan

komedinya dengan sebelumnya mempersiapkan materi/bit. Bit ini terdiri dari dua elemen yaitu Set-up dan Punchline.

”Saya ingin mengingatkan sekali lagi bahwa Stand Up Comedy sangat berbeda dengan jenis Comedy lain, sehingga pelakunya (Comic) pun berbeda. Salah satu yang harus diketahui adalah julukan pada Stand Up Comedy sebagai “Komedi Pintar”, artinya bukan hanyak penonton atau penikmatnya yang harus pintar tetapi juga si “pembuat” atau penulis Jokes dan penampilannya pun harus lebih pintar.” (Papana, 2012)

Ada proses komunikasi verbal dan non-verbal yang dilakukan comic pada penonton untuk memberikan pendahuluan agar penontonnya mengikuti alur komedi terkait dengan tema yang dipaparkannya. Pada tahap ini target komedi memiliki asumsi atau perkiraan alur bit komedi. Untuk mencapai Stand Up Comedy yang berhasil, comic dituntut mampu merumuskan materi set-up yang mudah dimengerti target dan punch line yang tidak sesuai dengan asumsi yang dimiliki target setelah comic menyampaikan set-up. Selanjutnya, Dean menjelaskan

“... the Setup is the first part of joke that sets up the laugh. As the first part of the joke, the setup is the words and/or actions used to get the audience to expect something. The Punch is the second part that makes you laugh. As the second part of the joke, the punch is the words and/or actions used to suprise the audience.” (Dean, 2000:2)

Ada formula dasar humor yang diterapkan dalam Stand Up Comedy yaitu Target, Hostility, Realism, Exaggeration, Emotion, dan Surprise. Enam formula ini dapat digunakan dalam kombinasi set-up maupun punch line dan harus diterapkan pada tema materi yang tepat. Komedi tidak hanya hiburan tetapi juga kritik terhadap sesuatu yang tidak disampaikan secara frontal namun dikemas dengan formula humor seperti sesuai realita (realism) atau sebaliknya melebih-lebihkan dalam penyampaiannya (exaggretation) (Helitzer, 2006:25).

Ramon Papana (2012) mengutip penjelasan Joe Eagan, bahwa ada delapan tipe Stand Up Comedy. One-Liner yang berupa kalimat-kalimat komentar pendek

yang disampaikan comic mengenai berita atau opini seorang tokoh, Rant yang berarti comic mengomel mengenai kehidupannya tanpa henti, Impression yang meniru gaya tokoh terkenal, Niche / Pioneering yang mengolongkan comic yang tampil dengan alat bantu seperti alat musik, Story dan Long Story, Character, dan yang terakhir adalah Timing.

Teori Uses and Gratification menjelaskan bahwa khalayak berperan aktif dalam pemilihan media yang akan digunakannya, hal ini berdasarkan kesadaran dan motivasi dalam menggunakan. Khalayak mempunyai otonomi dan wewenang dalam memperlakukan media, termasuk memilih dan menggunakan media tersebut untuk memenuhi kebutuhan informasinya, dan bagaimana media akan berdampak bagi dirinya.

Hasil perhitungan Gratification Sought dan Gratification Obtained menentukan hubungan antara penggunaan dan kepuasaan penggunaan yang

Gratification Sought adalah

motivasi yang mendorong

seseorang mengonsumsi program Stand Up Comedy Indonesia di Kompas TV.

Gratification Obtained adalah keberhasilan khalayak mencapai kepuasan dari menggunakan program Stand Up Comedy Indonesia di Kompas TV.

Dokumen terkait