• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pada tahap awal proses pemotongan, pekerja melakukan cek material terhadap plat yang akan digunakan untuk memeriksa bahwa material yang akan di proses tersedia dan ukurannya sesuai dengan kebutuhan. Cek material juga dilakukan untuk mengukur ketebalan plat yang tersedia. Pada saat melakukan cek material, pekerja berpotensi tersandung dan tergores material. Hal ini disebabkan karena material yang berupa plat besi disusun bertumpuk dipermukaan tanah, sehingga jika pekerja tidak hati-hati ketika berjalan maka akan tersandung dan tergores material. Untuk menghindari hal tersebut sebaiknya pekerja harus menggunakan safety gloves dan memindahkan material yang menutupi jalan agar pekerja tidak tersandung.

Tahap selanjutnya yaitu menyiapkan peralatan untuk memotong plat yaitu

cutting toast, palu, dan paku. Pekerja harus mengambil peralatan yang akan digunakan di dalam gudang penyimpanan. Pada saat mengambil peralatan, pekerja bisa tertusuk paku, tertimpa peralatan yang dapat mengakibatkan luka pada tubuh. Selain itu pekerja juga bisa terjatuh akibat tersandung kabel mesin yang tidak beraturan yang menyebabkan luka memar pada tubuh. Untuk mencegah terjadinya hal tersebut sebaiknya kabel yang menghubungkan dengan arus listrik harus digulung atau ditata dengan rapi, tidak berserakan, sehingga

tidak menyebabkan pekerja terlilit dan terjatuh dan Memperhatikan posisi pada saat mengangkat dan menggunakan helm dan safety shoes.

Tahap selanjutnya yaitu melakukan marking pada plat besi sesuai dengan pola. Pertama-tama plat besi diukur ketebalannya kemudian mengukur panjang dan lebar sesuai dengan pola. Setelah diukur plat besi digrip/dibagian yang akan dipotong dengan palu dan paku. Pada saat melakukan pengukuran dan grip, pekerja berada pada posisi jongkok dan membungkuk. Potensi bahaya yang dapat terjadi yaitu terkena pukulan palu. Bahaya tersebut dapat dihindari dengan menggunakan palu yang ukurannya sesuai dengan kebutuhannya

Peralatan yang sudah diambil kemudian disusun diatas plat besi yang akan dipotong dan kabel dihubungkan dengan saklar listrik. Alat yang digunakan untuk memotong plat besi yaitu mesin cutting toast. Cara kerja mesin cutting toast yaitu gas asetilen atau gas oksigen ditekan pada tekanan tinggi dan diberi percikan api untuk mulai menjalankannya. Dengan tekanan dan panas yang tinggi, maka plat akan terpotong. Pekerja harus memantau pergerakan mesin agar sesuai dengan pola yang sudah digrip/ditandai dan memindahkan ke bagian yang lain ketika sudah selesai.

Pada tahap menghidupkan mesin cutting toast dapat terjadi kejut listrik. Bahaya ini dapat terjadi ketika pekerja menghubungkan mesin ke sumber listrik dan apabila terdapat kabel yang terkelupas kemudian tersentuh oleh pekerja. Untuk itu perlu dilakukan pemeriksaan rutin kabel yang terkelupas dan tidak menghidupkan mesin dengan tangan yang basah. Selain itu, pada tahap ini dapat menyebabkan pekerja tersambar api ketika menggunakan mancis untuk memberi

percikan api pada mesin agar dapat dijalankan. Bahaya lainnya yang dapat terjadi yaitu tersandung kabel yang terdapat disekitaran pekerja dan bising akibat suara yang dihasilkan oleh mesin.

Pada saat menjalankan mesin cutting toast pekerja mempunyai potensi yang berbahaya. Bahaya yang dapat terjadi antara lain tersandung kabel, tertimpa alat, terkena percikan api, dan suara bising yang dihasilkan dari mesin.

Menurut Ridley (2008), pencegahan terhadap peralatan listrik yaitu dengan cara: memindahkan atau memasukkan kabel yang melintasi lantai ke dalam konduit khusus yang rata dengan lantai, melakukan inspeksi kontak (plug), soket, kabel, dan peralatan listrik secara rutin oleh teknisi yang berkualifikasi dan melakukan penggantian barang yang rusak, perbaikan peralatan hanya dilakukan oleh teknisi yang berkualifikasi, peralatan harus diisolasikan dari arus listrik, dan melarang penggunaan peralatan yang tidak berhubungan dengan pekerjaan, misalnya ketel, radio, dan sebagainya.

Pekerja sering mengabaikan keselamatannya dalam bekerja. Hal ini dapat dilihat dari tidak lengkapnya alat pelindung diri yang digunakan, pekerja hanya memakai safety shoes, baju, dan celana panjang. Menurut Rijanto (2011), tindakan pencegahan dalam bentuk alat pelindung diri dapat dilakukan dengan cara memakai pelindung pernafasan (respirator) apabila gas, debu dan uap tidak dapat ditahan dibawah nilai ambang batas. Gunakan kaca mata pelindung dengan pelindung samping, helm, dan pelindung muka, untuk melindungi mata. Pakaian pelindung yang diperlukan oleh pekerja yaitu sarung tangan “gauntlet” tahan api,

tudung atau penutup bahu dari kulit atau bahan tahan api lainnya, dan topi pelindung atau pelindung kepala.

Pekerjaan pengelasan dan pemotongan jangan diijinkan dilakukan di dekat ruangan yang berisi uap, cairan, atau debu mudah menyala atau terbakar. Semua tempat di sekitarnya harus di ventilasi, dan dilakukan pengecekan gas. Dilakukan upaya melakukan untuk mencegah peningkatan konsentrasi peledakan. Peralatan penyedot udara setempat agar dipasang untuk membuang gas-gas, uap-uap, dan kabut yang muncul di sekitarnya atau terjadi akibat pekerjaan pengelasan atau pemotongan.

Operator dan pekerja lainnya yang semua bagian tubuh dapat terpapar radiasi ultra violet dan inframerah dilindungi terhadap terbakarnya kulit dan jenis cedera yang lain. Pakaian gelap lebih disukai daripada warna terang karena mengurangi pantulan terhadap muka operator dibawah topi. Pakaian dari kain woll daripda kain katun karena lebih tahan terhadap lapuk, dan tidak mudah untuk tersulut api. Bagian luar pakaian harus bebas dari oli dan gemuk. Apron dan pakaian overall jangan ada kantong depan, dimana percikan dapat masuk (Rijanto, 2011).

Pengendalian yang sudah dilakukan oleh perusahaan antara lain memberikan APD berupa helm, safety shoes, sarung tangan kulit untuk pekerja bagian pengelasan dan sarung tangan kain untuk bagian yang lain. Untuk bagian pengelasan juga diberikan penutup wajah dan kaca mata las agar tidak terkena percikan api.

Plat yang sudah dipotong akan dilakukan pengecekan hasil dengan mengukur hasil potongan untuk melihat apakah sudah sesuai dengan pola. Apabila sudah sesuai plat dapat dipindahkan ke proses selanjutnya. Pada tahap ini pekerja dapat berpotensi tersandung kabel mesin yang masih ada di sekitar material dan tergores oleh material.

Kabel-kabel yang tidak sedang digunakan sebaiknya digulung atau disimpan agar tidak membuat bahaya bagi pekerja. Kabel yang sedang digunakan sebaiknya dilakukan penataan seperti menggantung kabel pada dinding atau tiang di sekitar area kerja, meletakkan kabel di pinggir dinding agar tidak mengganggu proses kerja, membuat saklar di dekat area kerja agar tidak banyak menggunakan kabel sambung. Menurut Rijanto (2011), kabel dan selang di lantai menyebabkan bahaya tersandung dan tejungkal, untuk itu sebaiknya digantung, atau apabila diletakkan di lantai harus dilindungi dengan kayu atau dibuatkan jalur khusus. Kabel dan selang juga dapat disangga sedemikian rupa sehingga tidak terpukul oleh benda-benda yang sedang dibawa atau dipindahkan.

Pemindahan plat yang sudah dipotong menggunakan bantuan crane. Kemudian rantai besi yang dipasang pada plat dipastikan sudah terpasang dengan benar, kemudian plat diangkat dengan crane dari permukaan tanah dan dijalankan menuju tempat penumpukan sementara lalu plat diturunkan secara perlahan diatas permukaan tanah.

Pada saat crane dioperasikan, dapat menimbulkan beberapa bahaya ketika tidak dioperasikan secara benar, hati-hati, dan seksama. Bahaya yang dapat terjadi antara lain pekerja tertimpa material yang akan diangkat, bahaya listrik ketika

menjalankan crane apabila kontrol terdapat kerusakan, tergores material dan tersandung material yang akan diangkat atau yang ada disekitar pekerja apabila tidak disusun rapi dan pekerja kurang konsentrasi.

Untuk memastikan agar tidak terjadi bahaya maka harus diperhatikan benar kondisi crane yang akan digunakan serta fungsi kontrolnya. Beban angkat

cranejuga harus sesuai dengan beban unit yang akan diangkat. Gunakan tali pengangkat yang konstruksinya direkomendasikan untuk penggunaan crane. Pemasangan rantai pengikat harus simetris dan bertumpu pada satu titik berat agar unit seimbang dan tidak jatuh.

Selain itu pergerakan crane harus dipandu oleh kode standar dari aba-aba yang disampaikan kepada operator crane oleh pengarah. Aba-aba harus dapat dilihat atau terlihat setiap saat. Bila aba-aba secara visual tidak mencukupi, gunakan alat komunikasi lainnya. Operator mengontrol semua pergerakan jembatan, roda-roda, dan pengangkatan, dari lantai. Hanya boleh ada satu petugas yang ditunjuk saja yang berwenang memberi aba-aba kepada operator. Operator jangan menggerakkan peralatannya sebelum aba-abanya dimengerti dengan jelas. Bila suatu kecelakaan tidak dapat dihindari karena mengikuti aba-aba, operator harus segera memberitahu kepada petugas aba-aba sehingga perbaikan dapat dilakukan. Pekerja yang membantu di sekitarnya harus diinstruksikan untuk tidak berada di bawah beban (Rijanto, 2011).

Kapasitas angkat beban aman setiap peralatan angkat harus diperhatikan dengan jelas. Alat angkat di atas kepala yang beroperasi di atas rel atau roda-roda harus mempunyai penghentian atau alat pembatas pada peralatan untuk mencegah

kelebihan batas. Beban boleh di angkat hanya bila letaknya benar-benar telah di bawah crane. Bila beban tidak benar-benar terpusat akan dapat menyebabkan terayun saat di angkat dan dapat menyebabkan cedera. Tidak seorang pun boleh berada di bawah beban yang sedang diangkat atau diturunkan. Perhatikan dengan benar pemakaian, kegagalan pemakaian, dan pengoperasian yang benar pada peralatan, seperti pengait beban, tali, rem, kopling, dan tombol-tombol pembatas (Rijanto, 2011).

Dokumen terkait