• Tidak ada hasil yang ditemukan

Proses pengelasan merupakan proses yang memiliki banyak tahapan kerja dibandingkan dengan proses yang lain. Pada tahap ini tidak hanya kegiatan las saja yang dilakukan, kegiatan seperti gerinda dan potong juga termasuk pada proses ini. Proses pengelasan dibagi menjadi 3 bagian yaitu pengelasan bahan mterial besar dimana material yang dilas sudah melalui proses pengerolan, pengelasan dishend dimana dilakukan proses jack, dan stel las untuk menggabungkan beberapa material yang sudah di las.

a. Pengelasan bahan material besar

Tahap awal pengelasan yaitu menyiapkan peralatan yang akan digunakan di dalam gudang penyimpanan. Pada saat mengambil peralatan, pekerja bisa tertimpa dan tergores alat apabila tidak berhati-hati dan tidak berkonsentrasi yang dapat mengakibatkan luka memar dan gores pada tubuh. Selain itu pekerja juga bisa terjatuh akibat tersandung kabel mesin yang tidak beraturan yang menyebabkan luka memar pada tubuh. Untuk mencegah terjadinya hal tersebut seharusnya pekerja selalu menggunakan pelindung diri juga harus menggulung kabel dan menata dengan rapi agar tidak berserakan setelah memakainya.

Pada proses pengelasan plat besi yang sudah selesai di rol, sisa pengerolan/pancingan akan dipotong secara manual. Pancingan adalah sisa dari plat besi yang tidak di roll. Pemotongan dilakukan ketika plat besi masih berada didalam mesin roll. Setelah pancingan dipotong, plat besi kemudian di las pertemuan roll. Plat yang sudah dilas kemudian digerinda untuk membersihkan terak dan merapikan sisa pengelasan yang tidak rapi. Pada saat melakukan pemotongan dan penggerindaan jika tidak memperhatikan prosedur dan aspek keselamatan dan kesehatan kerja dapat memotong bagian tangan, dimana bagian jari merupakan bagian tubuh yang sangat berisiko terhadap bahaya ini. Kemudian plat yang sudah selesai kemudian dipindahkan ke tempat penumpukan sementara menggunakan crane.

Pada proses pengelasan tidak hanya bahaya terpotong saja yang dapat terjadi. Bahaya lain seperti terkena percikan api dari mesin las dan gerinda, suara bising yang dihasilkan dari mesin, tersandung kabel sehingga pekerja terjatuh, terkena

sinar ultra violet dan infra merah, dan terhirup asap dapat terjadi. Ketika melakukan pengelasan dan gerinda pekerja sering mengabaikan keselamatan dalam bekerja, contohnya masih banyak yang tidak menggunakan alat pelindung diri. Tidak semua pekerja menggunakan alat pelindung diri yang lengkap. Pada saat bekerja biasanya para pekerja memakai safety shoes, safety gloves, dan terkadang memakai pelindung muka.

Tindakan pencegahan dalam bentuk alat pelindung diri dapat dilakukan dengan cara memakai pelindung pernafasan (respirator) apabila gas, debu dan uap tidak dapat ditahan dibawah nilai ambang batas. Gunakan kaca mata pelindung dengan pelindung samping, helm, dan pelindung muka, untuk melindungi mata. Pakaian pelindung yang diperlukan oleh pekerja yaitu sarung tangan “gauntlet” tahan api, apron (celemek) kulit atau bahan tahap api lainnya, sepatu pelindung, tudung atau penutup bahu dari kulit atau bahan tahan api lainnya, dan topi pelindung atau pelindung kepala.

Operator dan pekerja lainnya yang semua bagian tubuh dapat terpapar radiasi ultra violet dan inframerah dilindungi terhadap terbakarnya kulit dan jenis cedera yang lain. Pakaian gelap lebih disukai daripada warna terang karena mengurangi pantulan terhadap muka operator dibawah topi. Pakaian dari kain woll daripada kain katun karena lebih tahan terhadap lapuk, dan tidak mudah untuk tersulut api. Bagian luar pakaian harus bebas dari oli dan gemuk. Apron dan pakaian overall jangan ada kantong depan, dimana percikan dapat masuk (Rijanto, 2011).

Menurut Rijanto (2011), sebelum digunakan periksa kekencangan piringan atau roda yang terlepas dapat terlempar dari gerindanya dan menyebabkan cedera serius. Tetapi juga jangan terlalu kencang karena dapat merusak pengikat piringan atau rodanya. Pastikan bahwa posisi switch dalam keadaan off sebelum memasukkan plug listrik. Operator harus memegang kuat gerinda atau bilahnya dan menjauhkan dari tubuhnya atau orang lain saat menghidupkannya. Peringatkan operator untuk tidak menggunakan gerinda putar dengan bilah menghadap ke arah mereka, karena bila meleset dapat menyebabkan cedera. Operator harus menyingkirkan semua benda yang dapat menyala akibat percikan gerinda.

Selalu kenakan pelindung mata atau kaca mata keselamatan dengan penutup samping, dan pelindung muka bila diperlukan. Kenakan respirator debu untuk area kondisi kerja yang berdebu. Kenakan pelindung telinga selama periode operasi yang diperpanjang. Pemeriksaan udara mungkin harus dilakukan untuk mengetahui apakah udara tercemar selama batas waktu yang ditentukan, disebabkan oleh penggerindaan (Rijanto, 2011).

Plat yang sudah selesai di las dan di gerinda kemudian dikeluarkan dari mesin

roll menuju tempat penumpukan sementara menggunakan crane. Pada saat mengeluarkan material yang sudah di roll pekerja berpotensi tertimpa material dan terjepit. Untuk mencegah hal tersebut pekerja harus memperhatikan posisi pada saat mengangkat, menggunakan helm dan safety shoes. Selain itu mematuhi prosedur dan konsentrasi pada saat proses berlangsung agar tidak terjadi kecelakaan atau hal yang tidak diinginkan.

b. Dish End

Pada tahap ini plat besi bagian dish end akan dilakukan proses jack. Pengejekan dilakukan untuk membuat plat besi yang sudah dipotong berbentuk lingkaran menjadi cembung. Sebelum dilakukan proses pengejekan, terlebih dahulu pekerja menghidupkan mesin jack dan menyiapkan peralatan yang akan digunakan.

Plat dipindahkan menggunakan crane menuju mesin jack. Proses pengejekan masih dibantu dengan tenaga manusia, dimana dua orang pekerja harus memutar plat besi sampai proses jack selesai. Ketika pekerja memutar plat besi, posisi kerja dengan duduk pada bagian samping mesin jack. Pekerja menempatkan dirinya pada kondisi yang tidak aman akibat tindakannya yang tidak aman, dimana pekerja dapat tertimpa material karena posisi pekerja yang terlalu dekat dengan material, tangan terluka ketika memutar material, dan bahaya listrik seperti tersengat/tersetrum. Pekerja juga tidak menggunakan helm ketika bekerja, bahaya dapat dicegah dengan mematuhi prosedur dan konsentrasi pada saat proses berlangsung.

c. Stel las

Pada tahap ini komponen yang sudah di las pada tahap sebelumnya akan dirakit. Proses ini dinamakan stel las, dimana dua buah komponen akan dirakit menjadi satu bagian. Komponen yang akan di stel las akan dipindahkan menggunakan crane. Pekerja akan memindahkan komponen body diatas permukaan tanahkemudian memindahkan komponen ring diatas komponen body.

Setelah itu dilakukan pengelasan secara manual pertemuan antara dua buah komponen.

Komponen yang sudah dirakit akan dilakukan pengelasan robot pada bagian luar dengan mesin las robot otomatis. Posisi ketika bekerja dengan dudukdisamping mesin yang berada pada tempat yang tinggi. Saat proses pengelasan pekerja tidak menggunakan APD yang lengkap, pekerja hanya memakai topi, safety shoes, celana panjang. Pekerja berpotensi terkena bahaya listrik yaitu tersetrum listrik, terkena percikan api dari pengelasan, tersandung kabel disekitar yang dapat menyebabkan terjatuh, terhirup asap dan debu dari hasil pengelasan.

Menurut ILO (2013) pencegahan khusus untuk mencegah syok listrik dapat dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya adalah lindungi atau cegah kabel untuk kontak dengan percikan api. Jangan mengganti elektroda dengan tangan terbuka atau memakai sarung tangan basah, atau berdiri di atas permukaan lantai atau tanah yang basah. Gunakan stop kontak pada kabel tenaga untuk unit pengelasan portabel sehingga tidak memungkinkan melepas plug tanpa membuka

switch suplai tenaga. Jaga agar kabel pengelasan tetap kering, bebas dari minyak dan gemuk untuk mencegah kerusakan awal dari isolasi. Gantungkan kabel di atas bila kabel harus jauh dari unit las. Lindungi kabel yang terletak dilantai atau tanah sehingga tidak mengganggu yang lewat atau menjadi rusak. Jaga agar kabel las jauh dari kabel suplai tenaga, atau kawat tegangan tinggi. Jangan menyangga atau melingkarkan kabel pada tubuh.

Pada saat memindahkan plat menggunakan crane pekerja berpotensi tertimpa material, bahaya listrik, tersandung dan tergores material. Untuk mencegah agar tidak terjadi bahaya tersebut, maka harus diperhatikan benar kondisi crane yang akan digunakan serta fungsi kontrolnya serta keadaan disekitar crane. Beban angkat crane juga harus sesuai dengan beban unit yang akan diangkat. Gunakan tali pengangkat yang konstruksinya direkomendasikan untuk penggunaan crane. Pemasangan rantai pengikat harus simetris dan bertumpu pada satu titik berat agar unit seimbang dan tidak jatuh.

Selain itu pergerakan crane harus dipandu oleh kode standar dari aba-aba yang disampaikan kepada operator crane oleh pengarah. Aba-aba harus dapat dilihat atau terlihat setiap saat. Bila aba-aba secara visual tidak mencukupi, gunakan alat komunikasi lainnya. Operator mengontrol semua pergerakan jembatan, roda-roda, dan pengangkatan, dari lantai. Hanya boleh ada satu petugas yang ditunjuk saja yang berwenang memberi aba-aba kepada operator. Operator jangan menggerakkan peralatannya sebelum aba-abanya dimengerti dengan jelas. Bila suatu kecelakaan tidak dapat dihindari karena mengikuti aba-aba, operator harus segera memberitahu kepada petugas aba-aba sehingga perbaikan dapat dilakukan. Pekerja yang membantu di sekitarnya harus diinstruksikan untuk tidak berada di bawah beban (Rijanto, 2011).

Kapasitas angkat beban aman setiap peralatan angkat harus diperhatikan dengan jelas. Alat angkat di atas kepala yang beroperasi di atas rel atau roda-roda harus mempunyai penghentian atau alat pembatas pada peralatan untuk mencegah kelebihan batas. Beban boleh di angkat hanya bila letaknya benar-benar telah di

bawah crane. Bila beban tidak benar-benar terpusat akan dapat menyebabkan terayun saat di angkat dan dapat menyebabkan cedera. Tidak seorang pun boleh berada di bawah beban yang sedang diangkat atau diturunkan. Perhatikan dengan benar pemakaian, kegagalan pemakaian, dan pengoperasian yang benar pada peralatan, seperti pengait beban, tali, rem, kopling, dan tombol-tombol pembatas (Rijanto, 2011).

Tujuan dari pengelasan adalah untuk menyatukan bagian-bagian logam. Semua proses pengelasan memerlukan panas dan kadang bahan-bahan lain untuk menghasilkan bahan sambungan. Karena untuk membuat bahan sambungan diperlukan panas yang tinggi, sejumlah produk sampingan terjadi dari proses tersebut, termasuk uap-uap dan gas-gas yang dapat menjadi bahan serius terhadap kesehatan pekerja. Bahaya terhadap keselamatan juga timbul berhubungan dengan pengelasan, seperti potensi terjadinya kebakaran atau peledakan, dan cedera akibat radiasi api las, syok akibat listrik, atau dalam penanganan bahan.

Bahaya terhadap kesehatan yang paling utama pada proses pengelasasan adalah terbentuknya uap-uap dan gas-gas. Jenis dan jumlah uap atau gasyang terbentuk tergantung ada proses, bahan dasar, bahan pengisi, dan pelindung gas, bila ada. Tingkat racun dari pencemar terutama tergantung pada konsentrasinya, dan pada respons fisiologis dari tubuh manusia.

Pemaparan berbagai gas atau uap yang terbentuk selama pengelasan mengakibatkan dampak peradangan paru-paru (chemical pneumonitis), pembengkakakn dan penumpukan cairan paru-paru (pulmonary edema),

kehilangan elastisitas paru-paru (emhysema), radang tenggorokan kronis (chronic bronchitis), dan sesak nafas (asphyxiation) (Rijanto, 2011).

Pekerjaan pengelasan dan pemotongan jangan diijinkan dilakukan di dekat ruangan yang berisi uap, cairan, atau debu mudah menyala atau terbakar. Semua tempat di sekitarnya harus di ventilasi, dan dilakukan pengecekan gas. Dilakukan upaya melakukan untuk mencegah peningkatan konsentrasi peledakan. Peralatan penyedot udara setempat agar dipasang untuk membuang gas-gas, uap-uap, dan kabut yang muncul di sekitarnya atau terjadi akibat pekerjaan pengelasan atau pemotongan (Rijanto, 2011).

Tindakan pencegahan dalam bentuk alat pelindung diri dapat dilakukan dengan cara memakai pelindung pernafasan (respirator) apabila gas, debu dan uap tidak dapat ditahan dibawah nilai ambang batas. Gunakan kaca mata pelindung dengan pelindung samping, helm, dan pelindung muka, untuk melindungi mata. Pakaian pelindung yang diperlukan oleh pekerja yaitu sarung tangan “gauntlet” tahan api, apron (celemek) kulit atau bahan tahap api lainnya,

sepatu pelindung, tudung atau penutup bahu dari kulit atau bahan tahan api lainnya, dan topi pelindung atau pelindung kepala.

Operator dan pekerja lainnya yang semua bagian tubuh dapat terpapar radiasi ultra violet dan inframerah dilindungi terhadap terbakarnya kulit dan jenis cedera yang lain. Pakaian gelap lebih disukai daripada warna terang karena mengurangi pantulan terhadap muka operator dibawah topi. Pakaian dari kain woll daripda kain katun karena lebih tahan terhadap lapuk, dan tidak mudah untuk tersulut api. Bagian luar pakaian harus bebas dari oli dan gemuk. Apron dan

pakaian overall jangan ada kantong depan, dimana percikan dapat masuk (Rijanto, 2011).

Pada proses pengelasan potensi bahaya yang paling sering terjadi yaitu tertimpa material dan kejut listrik. Pekerja lebih berpotensi tertimpa material karena dalam pengerjaannya material harus dipindahkan dari satu tempat ke tempat yang lain. Proses memindahkan material menggunakan crane dimana apabila posisi pada saat mengangkat tidak pas dapat menyebabkan pekerja tertimpa material yang diangkat. Potensi bahaya lain yang sering terjadi yaitu kejut listrik. Hal ni dikarenakan pekerja menggunakan peralatan portabel bertenaga. Untuk menjalankan peralatan tersebut harus menggunakan aliran listrik. Apabila terdapat kerusakan pada mesin dan pekerja tidak menyadarinya maka pekerja tersebut berpotensi untuk terjadi kejut listrik.

Berdasarkan data kecelakaan perusahaan tahun 2013-2016 proses pengelasan tidak terdapat kasus kecelakaan. Kasus kecelakaan yang terjadi yaitu pada proses pembubutan dan fabrikasi. Pada area pengelasan tidak terdapat sisa potongan plat yang berserakan di lantai sehinga pekerja tidak berpotensi terpijak sisa potongan plat seperti kasus kecelakaan pada proses fabrikasi. Untuk potensi tertimpa material, pada proses pengelasan ukuran material yang di proses tidak sebesar pada proses pembubutan dan fabrikasi. Tetapi ukuran material tidak bisa dijadikan patokan untuk pekerja tidak berpotensi tertimpa material.

Dokumen terkait