Pada tahap awal pengerolan, pekerja terlebih dahulu menghidupkan mesin
roll dan memastikan mesin dalam keadaan baik. Bahaya yang dapat terjadi pada tahap ini adalah pekerja dapat tersandung kabel disekitar mesin, tersandung material/peralatan apabila tidak tersusun rapi dan pekerja yang tidak berkonsentrasi dan tersengat arus listrik ketika menghubungkan mesin dengan arus listrik.
Menurut Ridley (2008), pencegahan terhadap peralatan listrik yaitu dengan cara: memindahkan atau memasukkan kabel yang melintasi lantai ke dalam konduit khusus yang rata dengan lantai, melakukan inspeksi kontak (plug), soket, kabel, dan peralatan listrik secara rutin oleh teknisi yang berkualifikasi dan melakukan penggantian barang yang rusak, perbaikan peralatan hanya dilakukan oleh teknisi yang berkualifikasi, peralatan harus diisolasikan dari arus listrik, dan melarang penggunaan peralatan yang tidak berhubungan dengan pekerjaan, misalnya ketel, radio, dan sebagainya.
Plat besi yang sudah dipotong dipindahkan menggunakan crane ke tempat mesin pengerolan. Pemindahan plat yang sudah dipotong menggunakan bantuan
crane. Kemudian rantai besi yang dipasang pada plat dipastikan sudah terpasang dengan benar, kemudian plat diangkat dengan crane dari permukaan tanah dan dijalankan menuju mesin roll.
Untuk memastikan agar tidak terjadi bahaya yang tidak diinginkan seperti tertimpa material,bahaya listrik, tersandung dan tergores material maka harus diperhatikan benar kondisi crane yang akan digunakan serta fungsi kontrolnya. Beban angkat crane juga harus sesuai dengan beban unit yang akan diangkat. Gunakan tali pengangkat yang konstruksinya direkomendasikan untuk penggunaan crane. Pemasangan rantai pengikat harus simetris dan bertumpu pada satu titik berat agar unit seimbang dan tidak jatuh.
Selain itu pergerakan crane harus dipandu oleh kode standar dari aba-aba yang disampaikan kepada operator crane oleh pengarah. Aba-aba harus dapat dilihat atau terlihat setiap saat. Bila aba-aba secara visual tidak mencukupi, gunakan alat komunikasi lainnya. Operator mengontrol semua pergerakan jembatan, roda-roda, dan pengangkatan, dari lantai. Hanya boleh ada satu petugas yang ditunjuk saja yang berwenang memberi aba-aba kepada operator. Operator jangan menggerakkan peralatannya sebelum aba-abanya dimengerti dengan jelas. Bila suatu kecelakaan tidak dapat dihindari karena mengikuti aba-aba, operator harus segera memberitahu kepada petugas aba-aba sehingga perbaikan dapat dilakukan. Pekerja yang membantu di sekitarnya harus diinstruksikan untuk tidak berada di bawah beban (Rijanto, 2011).
Kapasitas angkat beban aman setiap peralatan angkat harus diperhatikan dengan jelas. Alat angkat di atas kepala yang beroperasi di atas rel atau roda-roda harus mempunyai penghentian atau alat pembatas pada peralatan untuk mencegah kelebihan batas. Beban boleh di angkat hanya bila letaknya benar-benar telah di bawah crane. Bila beban tidak benar-benar terpusat akan dapat menyebabkan terayun saat di angkat dan dapat menyebabkan cedera. Tidak seorang pun boleh berada di bawah beban yang sedang diangkat atau diturunkan. Perhatikan dengan benar pemakaian, kegagalan pemakaian, dan pengoperasian yang benar pada peralatan, seperti pengait beban, tali, rem, kopling, dan tombol-tombol pembatas (Rijanto, 2011).
Pengerolan merupakan proses pembentukan yang dilakukan dengan menjepit plat diantara dua rol. Rol tekan dan rol utama berputar berlawanan arah sehingga dapat menggerakan plat. Plat bergerak linear melewati rol pembentuk. Posisi rol pembentuk berada di bawah garis gerakkan plat, sehingga plat tertekan dan mengalami pembengkokan. Akibat penekanan dari rol pembentuk dengan putaran rol penjepit ini maka terjadilah proses pengerolan. Pada saat plat bergerak melewati rol pembentuk dengan kondisi pembengkokan yang sama maka akan menghasilkan radius pengerolan yang merata.
Plat yang sudah dipindahkan menggunakan crane kemudian dimasukkan kedalam mesin roll diantara 3 buah roll. Mesin roll ini mempunyai 3 buah rol, dimana dua rol bagian bawah berfungsi menahan plat yang akan di rol dan rol bagian atas berfungsi menekan plat sampai plat mengalami perubahan bentuk menjadi melengkung. Setelah plat masuk pekerja menggerakkan roll
menggunakan control panel. Proses membuat plat menjadi lingkaran harus dilakukan berulang-ulang, plat digerakkan keluar dan masuk berulang kali sampai berbentuk lingkaran.
Pada saat menjalankan mesin roll bagian seperti tangan atau jari dapat terjepit mesin yang menyebabkan memar, terkilir dan patah tulang. Pekerja dapat tertimpa dan tergores material yang akan di roll apabila material tidak terpasang dengan benar. Pekerja yang tertimpa material dapat menyebabkan luka memar sampai patah tulang. Untuk menghindari bahaya-bahaya tersebut diperlukan pengendalian bahaya. Pekerja harus mematuhi prosedur dan konsentrasi pada saat proses berlangsung. Pada saaat bekerja harus berada pada posisi yang benar dan memastikan material yang akan di roll sudah aman dan tidak akan terlepas dari mesin. Selain itu pekerja harus menggunakan helm, safety shoes dan safety gloves.
Untuk mencegah pekerja terpapar bahaya di area kerja perlu dilakukan pemasangan tanda peringatan bahaya berupa rambu-rambu keselamatan dan kesehatan kerja. Rambu-rambu bermanfaat dalam menyediakan kejelasan informasi dan memberikan pengarahan umum, sebagai fungsi kontrol guna memberikan informasi, tentang kondisi seperti larangan, peringatan, persyaratan bahkan suatu pertolongan. Oleh karena itulah sangatlah perlu adanya penjelasan pengetahuan tentang symbol, kode tentang tanda yang akan dipasang sebagai rambu-rambu dengan standar internasional. Rambu-rambu sebaiknya dipasang di lokasi yang mudah dilihat dengan jelas, dalam jarak pandang yang tepat sehingga informasinya terbaca jelas, di lokasi dimana karyawan memiliki waktu yang
cukup untuk membaca pesan yang disampaikan, sehingga bisa menghindari bahaya dan melakukan tindakan yang diperlukan untuk menjaga keselamatan.
Gambar 5.1 Rambu-rambu K3 Sumber: google