IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.3 Identifikasi Komponen Utama yang Berpengaruh terhadap
Di samping kebisingan di tempat kerja, kebisingan di tempat tinggal karyawan juga berpengaruh pada tingkat pendengaran karyawan (Eleftheriou 2000). Berdasarkan hasil pengamatan sebagaimana disajikan pada Lampiran 5, 32 orang (10,67%) karyawan tinggal pada areal tempat tinggal dalam kategori
38 0 10 20 30 40 50 60 70
BISING TIDAK BISING
Kategori Kebisingan Tempat Tinggal Karyawan
Ju m lah K a ryaw an ( O ra n g )
Indus tri Pangan Indus tri Baja Indus tri Kayu/furniture
Indus tri Kulit/Sepatu Indus tri Teks til Indus tri Plas tik
bising (lebih dari 70 dB), sedangkan 268 orang (89,33%) karyawan tinggal pada areal tidak bising (kurang dari 70 dB). Pola sebaran tempat tinggal karyawan pada keenam industri terpilih disajikan pada Gambar 9.
Gambar 9. Pola sebaran karakteritik kebisingan tempat tinggal para karyawan pada keenam industri
Berdasarkan Gambar 9, secara umum para karyawan tinggal pada areal tempat tinggal yang tidak bising. Namun demikian, berdasarkan tingkat kebisingan tempat tinggal, karyawan industri baja bertempat tinggal dilingkungan dengan kategori bising. Hal ini diduga berpengaruh secara simultan terhadap penurunan tingkat pendengaran para karyawan yang bekerja di industri baja dengan tingkat kebisingan tempat kerja sebagaimana disajikan pada Gambar 8.
Penurunan tingkat pendengaran karyawan, bukan saja sebagai akibat dari kebisingan di tempat kerja dan/atau kebisingan tempat tinggal, melainkan juga dipengaruhi oleh umur, riwayat penyakit, dan kebisingan di tempat tinggal (Miyakita dan Ueda 1997). Eleftheriou, P.C. (2001) menyatakan, seseorang yang bekerja di tempat bising akan mulai mengalami gangguan pendengaran secara nyata terlihat pada umur di atas 30 tahun. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa semakin bertambahnya umur (di atas 30), kemungkinan penurunan pendengaran seseorang, secara alami, akan terjadi tanpa adanya pengaruh faktor eksternal (kondisi tempat kerja, tempat tinggal, dan riwayat penyakit.
0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 ≤ 30 TAHUN > 30 TAHUN
Se baran umur Karyawan (Tahun)
Jum la h K a ry aw a n ( O ra ng)
Industri Pangan Industri Baja Industri Kayu/furniture
Industri Kulit/Sepatu Industri Tekstil Industri Plastik
Berdasarkan hasil pengamatan, sebagaimana disajikan pada Lampiran 4, sebanyak 147 responden berumur kurang dari 30 tahun (49%), sedangkan 153 responden berumur di atas 30 tahun (51%). Komposisi umur pada masing- masing industri terpilih disajikan pada Gambar 10.
Gambar 10. Komposisi umur karyawan yang bekerja pada proses produksi pada masing-masing industri
Berdasarkan Gambar 10, industri dengan jumlah karyawan terbesar dengan berumur di atas 30 tahun secara berturut-turut adalah industri pangan, baja, kayu/furniture, kulit/sepatu, plastik, dan tekstil. Penurunan tingkat pendengaran karyawan pada keenam industri terpilih, selain dikarenakan tingkat kebisingan di tempat kerja, juga diduga dipengaruhi oleh umur karyawan.
Variabel lainnya yang berpengaruh pada penurunan tingkat pendengaran selain umur, tingkat kebisingan tempat kerja, dan kebisingan tempat tinggal, adalah masa kerja. Masa kerja seseorang, terutama yang bekerja di tempat bising akan memperbesar peluang seseorang untuk kontak langsung dan besarnya kemungkinan terpajan bising. Semakin lama masa kerja seseorang yang bekerja di tempat bising diduga penurunan tingkat pendengaran akan semakin besar bila dibandingkan dengan seseorang yang baru bekerja pada tempat yang sama.
40 0 10 20 30 40 50 60 ≤ 5 TAHUN > 5 TAHUN
Masa Kerja (Tahun)
J um lah K ar y aw an (O rang)
Pangan Pekerja Baja Kayu/furniture Kulit/Sepatu Tekstil Plastik
Berdasarkan hasil pengamatan (Lampiran 5), 121 orang karyawan (40,33%) pada industri terpilih memiliki masa kerja kurang dari 5 tahun, sedangkan 179 orang karyawan (59,67%) memiliki masa kerja di atas 5 tahun. Pola sebaran masa kerja pada masing-masing industri terpilih disajikan pada Gambar 11, apabila dikaitkan dengan hasil pengukuran dengan audiometri, sebagaimana disajikan pada Gambar 7, sebagian besar karyawan telah mengalami gangguan pendengaran dari tuli ringan hingga tuli berat, maka banyaknya karyawan dengan masa kerja di atas 5 tahun diduga secara bersama- sama berpengaruh pada penurunan tingkat pendengaran.
Gambar 11. Komposisi masa kerja karyawan yang bekerja pada proses produksi pada masing-masing industri
Variabel eksternal lainnya yang diduga berpengaruh pada penurunan tingkat pendengaran karyawan pada penelitian ini adalah riwayat penyakit juga berpengaruh langsung terhadap gangguan pendengaraan. Seseorang dengan riwayat penyakit yang berhubungan, baik secara langsung maupun tidak langsung dengan organ pendengaran, memiliki peluang lebih besar mengalami gangguan pendengaran dibandingkan dengan seseorang tanpa riwayat penyakit. Namun demikian, pada dua orang yang sama-sam memiliki riwayat penyakit
0 10 20 30 40 50 60 70 80
Memiliki Tidak Memiliki
Riw ayat Penyakit yang Berhubungan dengen Pendengaran Ju m lah K ar y aw an ( O ran g )
Indus tri Pangan Indus tri Baja Indus tri Kayu/furniture Indus tri Kulit/Sepatu Indus tri Teks til Indus tri Plas tik
yang sama, kondisi penyakit yang diderita juga berpengaruh terhadap gangguan pendengaran yang dihasilkan.
Berdasarkan hasil pengamatan sebagaimana disajika pada Lampiran 6, 47 orang (15,67%) karyawan pernah memiliki riwayat penyakit yang berhubungan dengan pendengaran, sedangkan 253 orang (84,33%) karyawan tidak memiliki riwayat penyakit yang berhubungan dengan pendengaran. Pola sebaran karyawan dengan ada dan tidak memiliki riwayat penyakit disajikan pada Gambar 12.
Gambar 12. Pola sebaran riwayat penyakit para karyawan pada keenam industri
Berdasarkan Gambar 12, para karyawan yang bekerja di industri baja memiliki riwayat penyakit yang berhubungan dengan pedengaran. Kondisi ini diduga juga berpengaruh terhadap penurunan tingkat pendengaran karyawan di industri baja. Hubungan antara riwayat penyakit dengan penurunan tingkat pendengaran akan dilakukan pengujian lanjutan dengan menggunakan Khi- kuadrat, sedangkan analisis komponen utama dilakukan untuk mengetahui keberadaan riwayat penyakit bila dibandingkan dengan variabel lainnya, dan akan dibahas pada sub pokok bahasan berikutnya.
42 0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50
TDK PERNAH KADANG-KADANG SELALU Pe nggunaan Alat Pe lindung Te linga (APT)
Jum la h K a ryaw an ( O ra ng)
Industri Pa nga n Industri Ba ja Industri Ka yu/furniture
Industri Kulit/Se pa tu Industri Te kstil Industri Pla stik
Telah dikemukakan sebelumnya bahwa perusahaan dihimbau untuk melakukan upaya perlindungan terhadap para pekerja dari pemajanan kebisingan. Beberapa upaya untuk mengantisipasi pemajanan kebisingan tersebut adalah memantau kondisi peralatan dan/atau mesin yang digunakan selama proses produksi, mendesain ruangan (sumber kebisingan) untuk meminimalkan pemajanan, dan penggunaan alat pelindung telinga (APT).
Pendapat serupa juga dikemukakan oleh Mardji (1997) yang menyatakan, ketulian sebagai dampak negatif dari pemajanan kebisingan dapat dicegah melalui pengendalian secara teknik diantaranya dengan memberikan peredaman pada sumber kebisingan, pengendalian secara administratif yaitu dengan merotasi job karyawan atau peraturan setiap karyawan diwajibkan menggunakan APT, namun demikian upaya ini tidak terlepas dari faktor individu yang terdiri dari pendidikan, pengalaman pelatihan, dan umur yang menentukan perilaku pemakaian APT. Berdasarkan ketiga upaya tersebut, pemberlakuan penggunaan APT merupakan standar oprasional prosedure minimal pada industri yang potensial menimbulkan kebisingan.
Berdasarkan hasil pengamatan sebagaimana disajikan pada Lampiran 7, 196 orang (65%) karyawan tidak pernah menggunakan APT, 81 orang (27%) karyawan kadang-kadang menggunakan APT, dan 23 orang (7,67%) karyawan selalu menggunakan APT. Pola sebaran penggunaan APT pada masing-masing industri terpilih disajikan pada Gambar 13.
Gambar 13. Pola sebaran penggunaan apt bagi para karyawan pada masing-masing industri
Berdasarkan Gambar 13, karyawan pada industri pangan dan industri baja relatif lebih banyak tidak menggunakan APT dibandingkan dengan industri kulit/sepatu, tekstil, plastik, dan kayu/furniture. Kondisi ini semakin memperkuat kemungkinan para karyawan terpajan kebisingan. Dari keenam industri terpilih, industri tekstil dan kulit/sepatu terdapat karyawan yang tidak selalu menggunakan APT.
Keseluruhan uraian tersebut di atas hanya menggambarkan pola persebaran umur, riwayat penyakit, kebisingan tempat tinggal, masa kerja dan kebisingan pada masing-masing industri terpilih dan pengaruhnya terhadap tingkat pendengaran karyawan. Pembahasan selanjutnya bertujuan untuk mengkaji keterkaitan variebel eksternal (kemungkinan pengaruh kebisingan di luar tempat kerja), dan variabel internal (kemungkinan pengaruh kebisingan di tempat kerja). Variebel eksternal pada kajian ini antara lain umur, masa kerja, tingkat kebisingan tempat tinggal karyawan, dan riwayat penyakit yang berhubungan dengan pendengaran yang pernah diderita para karyawan.
Berdasarkan hasil penelitian sebagaimana disajikan pada Gambar 9 dan 12, 89,33% karyawan bermukim pada areal tidak bising dan 84,33% karyawan tidak memiliki riwayat penyakit yang berhubungan dengan pendengaran, namun demikian diketahui bahwa sejumlah karyawan didapati mengalami gangguan pendengaran. Kebisingan tempat tinggal dan riwayat penyakit merupakan faktor kedua yang berkaitan langsung dengan pendengaran. Faktor pertama yang berhubungan langsung dengan kesehatan organ pendengaran pekerja adalah kebisingan tempat kerja.
Fenomena tersebut merupakan salah satu dasar untuk dilakukan upaya identifikasi lanjutan terhadap jumlah karyawan yang tidak bermukim di tempat bising dan tidak memiliki riwayat penyakit yang berhubungan dengan pendengaran namun pada kenyataannya menderita gangguan pendengaran. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh hasil bahwa 144 orang karyawan dari 300 karyawan atau sekitar 48% karyawan menderita gangguan pendengaran dari tuli ringan hingga tuli berat. Kisaran karyawan pada masing-masing industri dengan karakteristik tidak bermukin di areal bising dan tidak memiliki riwayat penyakit yang berhubungan dengan pendengaran disajikan pada Tabel 3.
44
dan tidak memiliki riwayat penyakit yang berhubungan dengan pendengaran namun menderita gangguan pendengaran
Tuli ringan Tuli sedang Tuli berat Industri
Jumlah % Jumlah % Jumlah %
Pangan 27 37,50 2 2,78 0 0,00 Baja 34 47,22 9 12,50 0 0,00 Kayu/furniture 25 62,50 1 2,50 0 0,00 Kulit/sepatu 16 44,44 0 0,00 0 0,00 Tekstil 23 57,50 1 2,50 0 0,00 Plastik 19 47,50 0 0,00 1 2,50 Total 144 48,00 13 4,33 1 0,33
Berdasarkan hasil penelitian, sebagaimana disajikan pada Gambar 9, 10, dan 11, terdapat beberapa karyawan yang memiliki indikasi adanya sumber pemajanan yang bersama-sama di duga berpengaruh terhadap tingkat pendengaran karyawan. Guna mengetahui faktor-faktor dominan yang berpengaruh terhadap tingkat pendengaran karyawan, dilakukan analisis lanjutan yaitu analisis komponen utama (AKU) atau Principle Component Analysis (PCA).
Analisis komponen utama merupakan analisis yang digunakan apabila terdapat keterkaitan antar peubah yang diamati. Berdasarkan hasil analisis data tentang pola sebaran masing-masing variabel ekternal (umur, masa kerja, riwayat penyakit, dan kebisingan tempat tinggal) terhadap penurunan tingkat pendengaran karyawan, terdapat beberapa karyawan yang menunjukkan adanya keterkaitan empat peubah tersebut dengan penurunan tingkat pendengaran.
Analisis komponen utama dilakukan pada kategori tuli ringan, sedang, dan tuli berat. Analisis komponen utama terhadap kategori penyakit tuli ringan dan sedang dilakukan pada keenam industri terpilih, sedangkan analisis komponen utama terhadap kategori penyakit tuli berat hanya melibatkan industri baja dan tekstil. Hal ini berdasarkan sebaran tuli berat hanya terdapat pada industri baja dan tekstil.
Berdasarkan hasil analisis komponen utama tehadap kategori penyakit tuli ringan, sebagaimana disajikan pada Lampiran 15, terdapat dua komponen utama yaitu komponen utama pertama (KU1) dengan eigenvalue sebesar 2,79 yang telah mampu menjelaskan 69,84% data, dan komponen utama kedua (KU2) dengan eigenvalue sebesar 0,807 yang telah mampu menjelaskan 20,17%. Akumulasi kedua komponen utama tersebut sebesar 90,01%, sehingga
diputuskan pada analisis komponen utama terhadap penyekit tuli ringan menggunakan dua komponen utama.
Hasil analisis komponen utama terhadap empat variabel yang berpengaruh terhadap penyakit tuli ringan pada enam industri terpilih masing- masing adalah kebisingan tempat tinggal, penyakit, dan masa kerja (berada pada faktor 1 atau KU1), dan diikuti dengan umur (berada pada faktor 2 atau KU2). Kebisingan tempat tinggal, penyakit, dan masa kerja merupakan tiga variabel ekternal yang berpengaruh pada munculnya penyakit tuli ringan karyawan pada enam industri terpilih, sedangkan umur karyawan relatif lebih kecil pengaruhnya terhadap peluang menimbulkan penyakit tuli ringan para karyawan. Analisis lanjutan dilakukan untuk mengetahui pola kebisingan pada keenam industri terpilih dengan menggunakan analisis kluster. Analisis tersebut dilakukan untuk mengetahui kelompok industri yang memiliki kemiripan pada pemicu munculnya penyakit tuli ringan.
Hasil analisis klaster menghasilkan sebaran kedekatan industri pada komponen variabel ekternal yang memicu munculnya penyakit tuli ringan. Berdasarkan hasil analisis klaster terdapat tiga kelompok industri yaitu industri pangan, kayu/furniture dan plastik (kelompok 1), industri kulit/sepatu (kelompok 2), dan industri tekstil dan baja (kelompok 3). Dendogram pengelompokan industri dengan kemiripan variabel eksternal pemicu penyakit tuli ringan hasil analisis klaster disajikan pada Gambar 14 (atas).
Analisa serupa juga dilakukan untuk mengetahui hubungan variabel ekternal yang potensial memicu munculnya penyakit tuli sedang, sedangkan analisis pengaruh variabel ekternal terhadap munculnya penyakit tuli berat tidak dilakukan, karena penyakit tersebut hanya ditemukan pada industri baja dan tekstil. Berdasarkan hasil analisis komponen utama tehadap kategori penyakit tuli sedang, sebagaimana disajikan pada Lampiran 16, terdapat dua komponen utama yaitu komponen utama pertama (KU1) dengan eigenvalue sebesar 3,71 yang telah mampu menjelaskan 92,7% data, dan komponen utama kedua (KU2) dengan eigenvalue sebesar 0,2736 yang telah mampu menjelaskan 6,8%%. Akumulasi kedua komponen utama tersebut sebesar 99,5%, sehingga diputuskan pada analisis komponen utama terhadap penyekit tuli ringan menggunakan dua komponen utama.
Hasil analisis komponen utama terhadap empat variabel yang berpengaruh terhadap penyakit tuli sedang pada enam industri terpilih masing-
46
masing adalah umur dan masa kerja (berada pada faktor 1 atau KU1), dan penyakit dan kebisingan tempat tinggal (berada pada faktor 2 atau KU2). Umur dan masa kerja merupakan dua variabel ekternal yang berpengaruh pada munculnya penyakit tuli sedang karyawan pada enam industri terpilih, sedangkan penyakit dan kebisingan tempat tinggal karyawan relatif lebih kecil pengaruhnya terhadap peluang menimbulkan penyakit tuli sedang para karyawan. Analisis lanjutan dilakukan untuk mengetahui pola kebisingan pada keenam industri terpilih dengan menggunakan analisis kluster. Analisis tersebut dilakukan untuk mengetahui kelompok industri yang memiliki kemiripan pada pemicu munculnya penyakit tuli sedang.
Hasil analisis klaster menghasilkan sebaran kedekatan industri pada komponen variabel ekternal yang memicu munculnya penyakit tuli sedang. Berdasarkan hasil analisis klaster terdapat tiga kelompok industri yaitu industri pangan, kayu/furniture dan plastik (kelompok 1), industri kulit/sepatu (kelompok 2), dan industri tekstil dan baja (kelompok 3) (Gambar 14).
Berdasarkan Gambar 14 (a) dan (b) tertera persamaan pengelompokan industri berdasarkan kemiripan variabel eksternal dominan yang berpengaruh pada munculnya penyakit tuli ringan dan sedang. Berdasarkan hasil pengujian dengan analisis komponen utama terhadap variabel dominan yang berpengaruh pada munculnya penyakit tuli ringan dan munculnya penyakit tuli sedang, diperoleh hasil bahwa penyakit tuli ringan lebih dominan disebabkan oleh kebisingan tempat tinggal, penyakit, dan masa kerja, dan variabel ekternal dominan ke dua adalah umur karyawan.
Berdasarkan hasil pengamatan, terdapat perbedaan antara variabel ekternal terhadap munculnya penyakit tuli ringan dan pemicu munculnya penyakit tuli sedang. Variabel umur dan masa kerja merupakan variabel ekternal dominan pertama yang memicu munculnya penyakit tuli sedang, sedangkan variabel ekternal dominan ke dua yang berpengaruh pada munculnya penyekit tuli sedang adalah penyakit dan kebisingan tempat tinggal. Hal ini diduga umur dan masa kerja berinteraksi positif terhadap peluang munculnya penyakit tuli sedang.
Telah diuraikan sebelumnya bahwa, penambahan umur secara alami berpengaruh terhadap penurunan tingkat pendengaran, dan diperkuat dengan masa kerja karyawan pada tempat bising juga berpengaruh positif terhadap penurunan tingkat pendengaran. Fenomena tersebut dapat dihubungkan dengan histogram pada Gambar 10, bahwa kisaran umur karyawan di atas 30 tahun lebih
besar dari persentase umur karyawan di bawah 30 tahun. Oleh karena itu, peluang komponen umur terhadap penurunan tingkat pendengaran relatif lebih besar dibandingkan variabel lainnya seperti penyakit dan kebisingan tempat tinggal.
(a)
(b)
Gambar 14. Dendogram sebaran kelompok industri hasil analisis klaster: (a) variabel eksternal pemicu penyakit tuli ringan, dan (b) variabel eksternal pemicu penyakit tuli sedang
Pangan Kayu/Furniture Plastik Baja Tekstil Kulit/Sepatu 0.0 0,5 1,0 1,5 2,0 2,5 3,0 3,5 4,0 Jarak Kedekatan
Pangan Kayu Plastik Kulit Baja Tekstil
94,71
95,43
98,24
100
48 0 10 20 30 40 50 60 Pangan Baja Kayu/furniture Kulit/Sepatu Tekstil Plastik J e n is I n d u st ri
Jumlah Karyawan (Orang)
≤ 5 TAHUN > 5 TAHUN
Kebisingan tempat kerja merupakan variabel internal yang berpengaruh terhadap penurunan tingak pendengaran karyawan. Interaksi pemajanan kebisingan dan penurunan tingkat pendengaran karyawan berhubungan dengan masa kerja karyawan pada industri yang berpotensi menimbulkan kebisingan selama proses produksi. Masa kerja dinyatakan sebagai lama bekerja karyawan dalam satuan tahun, dan dengan jam kerja tertentu.
Berdasarkan hasil pengamatan, masa kerja karyawan terbagi menjadi 2 golongan yaitu kurang dari 5 tahun dan lebih dari lima tahun. Lamanya masa kerja karyawan berpeluang memperbesar peluang pemajanan kebisingan pada karyawan. Dengan demikian semakin lama masa kerja maka peluang pemajanan kebisingan akan semakin besar. Pola sebaran masa kerja karyawan pada masing-masing industri terpilih disajikan pada Gambar 15.
Gambar 15. Pola sebaran masa kerja karyawan pada masing-masing industri
Mengacu pola sebaran masa kerja karyawan, sebagaimana disajikan pada Gambar 15, terlihat bahwa kelima industri, kecuali industri plastik, memiliki pola sebaran masa kerja di atas 5 tahun lebih besar dibandingkan dengan masa kerja di bawah 5 tahun. Dengan demikian dapat pula dikatakan bahwa kelima industri (tekstil, kulit/sepatu, kayu/furniture, baja, dan pangan) mempekerjakan karyawan tetap dan memilih mengoptimalkan karyawan yang ada. Kondisi
tersebut memperbesar peluang karyawan mengalami penyakit tuli sedang, terlebih pada karyawan dengan masa kerja di atas 5 tahun
Guna mengetahui variabel eksternal dominan yang berpengaruh terhadap penurunan tingkat pendengaran dan/atau munculnya penyakit tuli ringan hingga tuli sedang pada masing-masing karyawan, maka analisis komponen utama merupakan analisis lanjutan pada pembahasan lebih lanjut. Analisis ini dilakukan dengan pertimbangan bahwa masing-masing industri memiliki karakteristik karyawan yang berbeda. Jenis industri yang dianalisis secara berurutan, sebagaimana hasil analisis klaster sebagaimana tertera pada Gambar 14, adalah industri pangan, kayu/furniture, plastik, kulit/sepatu, tekstil dan baja.
Berdasarkan hasil analisis komponen utama terhadap variabel ekternal yang berpengaruh pada peluang munculnya penyakit tuli ringan hingga tuli berat yang relatif berbeda pada keenam industri terpilih. Variabel ekternal dominan terhadap munculnya penyakit tuli ringan hingga berat pada masing-masing industri disajikan pada Tabel 4. Pembahasan selanjutnya difokuskan terhadap variabel ekternal yang berpeluang menimbulkan penurunan tingkat pendengaran dibahas berdasarkan karakter masing-masing industri.
Berdasarkan Tabel 4, karyawan dengan penyakit tuli berat terdapat pada industri baja dan tekstil, yang secara keseluruhan-berdasarkan hasil pengamatan, variabel eksternal yang dominan berpengaruh adalah masa kerja. Mengacu pada tabel yang sama, karyawan dengan penyakit tuli sedang terdapat pada industri plastik, tekstil, baja, dan pangan. Variabel ekternal yang dominan berpengaruh pada munculnya penyakit tersebut adalah masa kerja pada industri plastik, tekstil, dan baja, sedangkan pada industri pangan adalah umur, penyakit, kebisingan tempat tinggal.
Karyawan dengan penyakit tuli ringan menyebar merata pada semua industri terpilih. Mengacu Tabel 4, variabel ekternal dominan berpengaruh pada penurunan tingkat pendengaran karyawan (tuli ringan) masing-masing industri adalah sebagai berikut:
1) Variabel dominan pada industri pangan adalah kebisingan tempat tinggal, penyakit, umur (KU1), sedangkan masa kerja merupakan variabel ekternal dominan kedua (KU2);
2) Variabel dominan pada industri baja adalah masa kerja (KU1) dan umur (KU2).
50
3) Variabel dominan pada industri kayu/furniture adalah masa kerja (KU1) dan umur (KU2). Pada industri ini, dapat dijumpai penyakit penurunan tingkat pendengaran dengan kategori hanya tuli ringan;
4) Variabel dominan pada industri kulit/sepatu adalah kebisingan tempat tinggal dan penyakit (KU1), sedangkan masa kerja dan umur merupakan variabel ekternal dominan kedua (KU2). Sama halnya dengan industri kayu/furniture, pada industri kulit/sepatu, dapat dijumpai penyakit penurunan tingkat pendengaran dengan kategori hanya tuli ringan;
5) Variabel dominan pada industri tekstil adalah umur (KU1) dan masa kerja (KU2);
6) Variabel dominan pada industri plastik adalah penyakit (KU1), sedangkan umur dan masa kerja merupakan variabel ekternal dominan kedua (KU2)
Tabel 4. Hasil analisis komponen utama terhadap variabel eksternal dominan yang berpengaruh pada peluang munculnya penyakit tuli ringan hingga tuli berat yang diderita karyawan
Industri Kategori
Penyakit Variabel KU1 KU2
Pangan Tuli ringan Umur 0.544 * -0.404
Masa Kerja 0.048 -0.822 *
Penyakit -0.550 * -0.396
Kebisingan Tempat Tinggal -0.632 * -0.065
Tuli sedang Umur 0.544 * -0.404
Masa Kerja 0.048 -0.822 *
Penyakit -0.550 * -0.396
Kebisingan Tempat Tinggal -0.632 * -0.065
Baja Tuli ringan Umur 0.707 0.707
Masa Kerja -0.707 * 0.707
Tuli sedang Umur 0.707 0.707
Masa Kerja -0.707 * 0.707
Tuli berat Umur 0.707 0.707
Masa Kerja -0.707 * 0.707
Kayu/ Tuli ringan Penyakit 0.707 0.707
furniture Kebisingan Tempat Tinggal -0.707 * 0.707
Kulit/ Tuli ringan Umur -0.480 -0.562 *
sepatu Masa Kerja 0.372 -0.790 *
Penyakit -0.560 * -0.195
Kebisingan Tempat Tinggal -0.564 * 0.151
Tekstil Tuli ringan Umur 0.685 * 0.174
Masa Kerja 0.247 -0.969 *
Tuli sedang Umur 0.707 0.707
Masa Kerja -0.707 * 0.707
Industri Kategori
Penyakit Variabel KU1 KU2
Masa Kerja -0.707 * 0.707
Plastik Tuli ringan Umur -0.575 0.638 *
Masa Kerja -0.570 -0.761 *
Penyakit -0.587 * 0.114
Tuli sedang Umur 0.707 0.707
Masa Kerja -0.707 * 0.707
Berdasarkan hasil pengamatan dan hasil analisis data terdapat hubungan antara variabel ekternal berupa umur, masa kerja, penyakit dan kebisingan tempat tinggal terhadap peluang penurunan tingkat pendengaran karyawan pada enam industri terpilih. Pembahasan selanjutnya adalah keterkaitan antara tingkat kebisingan tempat tinggal dengan peluang penurunan tingkat pendengaran karyawan pada enam industri terpilih. Berbeda dengan keterkaitan antara variabel ekternal dan peluang penurunan tingkat pendengaran karyawan, analisis keterkaitan kebisingan tempat kerja dan peluang penurunan tingkat pendengaran dilakukan hingga diperoleh besarnya keterkaitan dan pola keterkaitan yang terjadi.
4.4. Studi Keterkaitan Tingkat Kebisingan Dengan Penurunan