IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.2 Studi Tingkat Kebisingan Indoor dan Identifikasi Tingkat
Sektor Industri Jumlah Jumlah Reponden (Orang)
Pangan 8 72
Baja 6 72
Kayu/Furniture 5 40
Kulit dan Sepatu 3 36
Tekstil 4 40
Plastik 4 40
Total 30 300
4.2. Studi Tingkat Kebisingan Indoor dan Identifikasi Tingkat Pendengaran Karyawan
Menurut Miyakita dan Ueda (1997), terdapat beberapa faktor yang berpengaruh, baik secara langsung maupun tidak langsung, terhadap penurunan tingkat pendengaran, diantaranya gaya hidup dan/atau kebiasaan hidup, trauma kepala, dan mengkonsumsi berbagai jenis obat-obatan, serta penyakit yang berhubungan langsung dengan pendengaran seperti otitis media. Lebih lanjut dijelaskan, sebagai dasar perlindungan karyawan dan kesehatan kerja mulai 1989, test terhadap tingkat pendengaran merupakan satandar operasional dalam pemantauan kesehatan karyawan.
Upaya lain untuk melindungi para karyawan telah dilakukan sejak 1992, dalam bentuk sosialisasi panduan untuk pencegahan kebisingan sebagai salah satu bahan pencemar. Salah satu tujuan dari kebijakan tersebut adalah meminimalkan kerusakan dan/atau gangguan kesehatan akibat kebisingan dan mencegah perambatan kebisingan melalui upaya perlindungan yang sesuai. Namun kenyataannya, penurunan tingkat pendengaran akibat kebisingan di tempat kerja masih tinggi (Miyakita dan Ueda 1997). Kenyataan yang muncul di masyarakat adalah bahwa mayoritas masyarakat di areal industri tidak merasa mengalami penurunan tingkat pendengaran. Kesalah pahaman tersebut selanjutnya diterima oleh para pekerja bahwa penurunan tingkat pendengaran yang mungkin dialami adalah salah satu konsekuensi bekerja di areal bising.
0 5 10 15 20 25 30 35 40 0-25 dB 26-40 dB 41-55 dB >55 dB
Kisaran Hasil Pemeriksaan Audiometrik (4000 Hz)
Ju m lah K a ry a w an (O ra n g )
Indus tri Pangan Indus tri Baja Indus tri Kayu/furniture
Indus tri Kulit/Sepatu Indus tri Teks til Indus tri Plas tik
Penurunan tingkat pendengaran serupa, diduga telah terjadi di Kota Tangerang. Kajian serupa telah dilakukan dengan menggunakan beberapa variebel yaitu umur, masa kerja, kebisingan tempat tingal, riwayat penyakit, dan kebisingan di areal kerja pada 30 industri terpilih sebagaimana disajikan pada Tabel 2. Kelima variabel tersebut dibahas secara dekriptif untuk mengetahui pola sebaran umur karyawan yang bekerja di bagian produksi. Pengujian tingkat pendengaran karyawan (responden) dilakukan untuk mengetahui ketajaman tingkat pendengaran karyawan pada saat ini, yang selanjutnya digunakan sebagai bahan pendugaan keterkaitan antar variabel yang diamati.
Berdasarkan hasil pegamatan terhadap tingkat pendengaran 300 karyawan pada 30 industri terpilih, sebagaimana disajikan pada Lampiran 2, diperoleh hasil bahwa sebanyak 86 orang (28,67%) responden memiliki tingkat pendengaran berkisar antara 0-25 dB, 166 orang (53,33%) responden memiliki tingkat pendengaran berkisar antara 26-40 dB, 41 orang (13,67%) responden memiliki tingkat pendengaran berkisar antara 41-55 dB, dan 7 orang (2,33%) responden memiliki tingkat pendengaran diatas 55 dB. Pola sebaran tingkat pendengaran karyawan (responden) pada 30 industri terpilih disajikan pada Gambar 7.
Gambar 7. Komposisi kisaran tingkat pendengaran karyawan yang bekerja pada proses produksi
36
Berdasarkan Gambar 7, jumlah karyawan yang bekerja di Industri pangan memiliki tingkat pendengaran berkisar antara 0-26 dB lebih mendominasi dibandingkan dengan kelima industri lainnya, sedangkan jumlah karyawan dengan tingkat pendengaran berkisar antara 26-41 dB relatif seragam untuk keenam industri terpilih. Nilai ekstrim pada kisaran tingkat pendengaran antara 41-55 dB dan lebih dari 55 dB dimiliki oleh karyawan pada industri baja. Kondisi tersebut menggambarkan bahwa penurunan tingkat pendengaran pada karyawan di keenam industri terpilih telah terjadi.
Menurut Supardi (2002), tingkat kemampuan mendengar dibagi dalam empat kategori antara lain kategori normal apabila hasil pemeriksaan audiometrik tidak lebih dari 25 dB, tuli ringan apabila hasil pemeriksaan audiometrik berada pada kisaran 26-40 dB, tuli sedang apabila hasil pemeriksaan audiometrik berada pada kisaran 41-55 dB, dan tuli berat apabila hasil pemeriksaan audiometrik tidak lebih dari 55 dB. Berdasarkan uraian tersebut maka 86 orang (28,67%) responden memiliki tingkat pendengaran normal, 166 orang (53,33%) responden mengalami tuli ringan, 41 orang (13,67%) responden mengalami tuli sedang, dan 7 orang (2,33%) responden mengalami tuli berat.
Pola peningkatan jumlah karyawan yang mengalami penurunan tingkat pendengaran terbesar, sebagaimana disajikan pada Gambar 7, adalah industri baja. Hal ini disebabkan adanya fluktuasi lonjakan suara secara tiba-tiba yang sangat ekstrim dari mesim yang digunakan atau pemajanan secara tiba-tiba lebih dari 4 dB, sehingga dapat dikatakan bahwa kebisingan di industri baja bersifat impulsive atau impact. Pada kondisi pemajanan tersebut telinga belum beradaptasi dengan lonjakan suara tersebut.
Pengukuran kebisingan di tempat kerja merupakan tahapan kedua dalam managemen kebisingan di tempat kerja. Berdasarkan regulasi yang berlaku di Indonesia, batas ambang kebisingan yang diperbolehkan ada di lingkungan kerja adalah 85 dB. Hasil pengamatan, sebagaimana disajikan pada Lampiran 8, menunjukkan bahwa tingkat kebisingan pada enam industri terpilih relatif bervariasi, dan memiliki kecenderungan melebihi batas ambang yang telah ditentukan. Kisaran tingkat kebisingan di tempat kerja pada enam industri terpilih disajikan pada Gambar 8.
0.00 20.00 40.00 60.00 80.00 100.00
Rerata Minimum Rerata Maksimum Rata-rata Kisaran Nilai Kebisingan
Rera ta Has il P en g u k u ran K e bis inga n ( d B )
Industri Pangan Industri Baja Industri Kayu/furniture Industri Kulit/Sepatu Industri Tekstil Industri Plastik
Gambar 8. Komposisi kisaran tingkat kebisingan minimum dan maksimum masing-masing industri
Berdasarkan Gambar 8, nilai minimum keenam industri terpilih masih berada di bawah batas ambang, yaitu sebesar 63-83 dB, namun dari keenam industri tersebut, industri tekstil telah memiliki nilai minimum kebisingan mendekati batas ambang yang telah ditetapkan (85 dB). Nilai kisaran maksimum kebisingan yang telah melebihi batas ambang adalah industri baja, industri kayu/furniture, dan tekstil, sedangkan nilai rata-rata kebisingan yang telah melebihi batas ambang berada pada industri kulit/sepatu, dan industri tekstil.
Fenomena tersebut sebagai akibat dari pola kebisingan di industri tekstil dan kulit sepatu bersifat kontinyu. Pemajanan kebisingan bersifat kontinyu dimaksudkan adalah pajanan bising yang timbul terus menerus atau relatif konstan, sehingga telinga telah beradaptasi dengan lonjakan intensitas kurang dari 3 dB.
4.3. Identifikasi Komponen Utama Yang Berpengaruh Terhadap