• Tidak ada hasil yang ditemukan

Identifikasi Lingkungan Internal Perusahaan

VII. STRATEGI PENGEMBANGAN KE DEPAN

7.1. Identifikasi Lingkungan Internal dan Eksternal Perusahaan

7.1.1. Identifikasi Lingkungan Internal Perusahaan

Identifikasi lingkungan internal diperoleh melalui wawancara dengan pihak Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Diparbud) Kabupaten Manggarai Barat. Berdasarkan hasil identifikasi faktor-faktor internal pariwisata Manggarai Barat diperoleh kekuatan dan kelemahan sebagai berikut :

1. Kekuatan (Strenght) :

1. Manggarai Barat kaya akan budaya.

Manggarai kaya akan budaya. Kekayaan akan budaya merupakan potensi yang pelu dikembangkan dalam industri pariwisata Manggarai Barat. Budaya-budaya itu seperti : peninggalan jaman prasejarah seperti fosil, Compang, Kampung tua, sistim pemerintahan adat Manggarai (kedaluan), kesenian dan keterampilan lokal, hikayat-hikayat, filosofi dan cara penggunaan lahan untuk bertani yang dapat memberikan pemandangan yang indah berupa hamparan sawah berbentuk jaring laba-laba.

2. Manggarai Barat kaya akan keindahan alam lautnya.

Manggarai Barat memiliki keindahan pemandangan pantai dan keindahan alam bawah laut. Terdapat 19 Taman Laut yang ada di Manggarai Barat (Diparbud 2007). Hal ini merupakan kekuatan untuk mengembangkan wisata bahari.

3. Manggarai Barat memiliki Taman Nasional Komodo.

TNK terletak di Pulau Komodo dan Pulau Rinca. Kedua pulau ini secara administratif termasuk wilayah Manggarai Barat. Dengan adanya TNK,

Pariwisata Manggarai Barat mempunyai kekuatan dalam menarik para wisatawan untuk berkunjung ke Manggarai Barat.

4. Masyarakat Manggarai adalah masyarakat yang ramah.

Keramahan masyarakat Manggarai ditunjukan dari sikap terhadap wisatawan yang datang. Selain itu dari aspek historis, Manggarai Barat merupakan pencampuran dari beberapa etnis seperti : etnis Manggarai, etnis Cina, Etnis Makasar dan Etnis Bima. Hal ini menunjukan sikap keterbukaan dan keramahan masyarakat Manggarai terhadap suku-suku dari luar Manggarai.

5. Dukungan yang positif dari pemerintah setempat dan masyarakatnya. Dukungan pemerintah dapat secara lansung dan tidak lansung. Secara lansung dapat ditunjukan dari sikap proaktifnya dalam melakukan kerjasama dengan lembaga non pemerintah seperti SWISSCONTACT untuk pembuatan Agenda, Draf, dan Atlas Sikap secara tidak lansung dapat dilihat dari usaha pemerintah dalam menciptakan keamanan dan ketertiban.

Dukungan masyarakat Manggarai Barat ditunjukan dari pembebasan tanah masyarakat untuk pembuatan jalan tampa ganti rugi serta sikap kerjasama dan keramahan terhadap wisatawan yang datang.

6. Lembaga non-pemerintah yang pro aktif terhadap pembangunan pariwisata Manggarai Barat.

Sikap pro aktif ditunjukan dalam membantu pemerintah dalam upaya pengembangan konsep pengembangan pariwisata Manggarai Barat dalam bentuk Atlas pariwisata, pemberian beasiswa serta pendampingan kepada

masyarakat.

7. Manggarai Barat merupakan pintu masuk ke Pulau Flores dari Barat.

Dengan adanya fasilitas pelabuhan dan bandara udara menjadikan Manggarai Barat sebagai pintu masuk ke Pulau Flores dari Barat. Fasilitas ini merupakan kekuatan pariwisata Manggarai Barat dalam memudahkan para wisatawan yang mau berkunjung ke Manggarai Barat serta dapat dijadikan media promosi bagi mereka yang hanya singgah di pelabuhan atau bandara udara di Manggarai Barat.

8. Layanan transportasi umum dalam kota cukup banyak tersedia, sehingga waktu tunggu biasanya pendek serta lalu lintas belum macet.

Ketersediaan layanan transportasi membantu dalam mengurangi waktu tempuh para wisatawan ke objek wisata yang dituju.

9. Kondisi Kabupaten Manggarai Barat relatif aman bagi wisatawan untuk melakukan perjalanan wisata.

Kondisi yang aman menjadikan wisatawan akan lebih nyaman melakukan kegiatan wisatanya. Hal ini merupakan kekuatan karena wisatawan lebih menyukai tempat yang meurutnya aman untuk melakukan suau perjalanan. 10.Keberadaan lembaga adat dan agama yang masih diakui oleh masyarakat

setempat khususnya di desa-desa.

Lembaga adat dan agama di masyarakat merupakan lembaga yang mempunyai andil dalam membentuk dan menguntrol tatakrama masyarakatnya serta mengatur penggunaan lahan adat. Selin itu, lembaga ini juga mempunyai andil dalam melestarikan budaya Manggarai.

2. Kelemahan (Weakness) :

1. Belum dikembangkannya potensi yang ada di pedalaman.

Belum berkembangnya potensi wisata di pedalaman mengakibatkan Manggarai Barat tidak memiliki daya tarik bagi wisatawan untuk berkunjung ke pedalaman. Hal ini disebabkan karena kurangnya promosi dan pengelolaan paket-peket wisata yang menarik bagi wisatawan.

2. Keterbatasan dalam akomodasi terutama di wilayah pedesaan.

Ketersediaan akomodasi seperti hotel dan restoran sangat terbatas di daerah pedalaman. Terdapat 1 hotel yang teletak di Kecamatan Lembor. 3. Belum tersedianya money changer.

Money chager merupakan tempat penukan uang asing dengan uang rupiah. Ketidaktersediaannya money changer merupakan hambatan bagi para wisman yang ingin melakukan transaksi ekonomi di Kabupaen Manggarai Barat.

4. Akses internet masih lemah.

Teknologi internet sangat dibutuhkan oleh para wisatawan untuk melakukan transaksi, pencarian informasi dan lain-lain. Fasilitas ini sangat dibutuhkan oleh para wisman dari negara Jepang, Amerika, Jerman dan Rusia yang merupakan pengguna teknologi tertinggi serta penyumbang wisatawan dunia terbesar.

5. Tidak memiliki museum sehingga aset-aset budaya, aset peninggalan sejarah, sastra budaya serta kazanah seni tradisional dikawatirkan mulai melemah.

wisatawan asing kurang.

7. Fasilitas kesehatan yang minim seperti Rumah Sakit Umum.

Sakit merupakan kondisi fisik yang sangat sulit untuk diduga. Maka dari itu, fasilitas kesehatan seperti Rumah Sakit Umum merupakan fasilitas kesehatan yang sangat dibutuhkan bagi para wisatawan yang sedang melakukan perjalanan di Manggarai Barat.

8. Tingkat pendidikan dan ketrampilan penduduk masih rendah, sehingga belum mampu mengolah semua potensi yang ada di Kabupaten Manggarai Barat.

9. Kualitas SDM di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Manggarai Barat tidak memiliki ketrampilan atau pengetahuan tentang kepariwisataan. Keadaan ini menjadikan kurang kreatifnya dalam membuat konsep wisata serta penciptaan paket-paket wisata yang menarik. 10.Belum ada jenjang Perguruan Tinggi (setingkat akademi) yang bergerak di pendidikan pertanian, perikanan dan pariwisata yang berkualitas serta tidak adanya lembaga atau organisasi mahasiswa ekstra kampus.

Selain sebagai lembaga pendidikan, Perguruan tinggi dan lembaga ekstra kampus merupakan lembaga kontrol terhadap kebijakan pemerintah. Peran ini sangat penting sebagai pengawal dan pembanding atas pembangunan yang diadakan untuk kesejahteraan masyarakatnya.

Dokumen terkait