VII. STRATEGI PENGEMBANGAN KE DEPAN
7.4. Matriks Strengths-Weaknesses-Opportunities-Threats ( SWOT)
Merupakan tahapan kedua dalam proses perumusan strategi dan berfungsi untuk mencocokan antara kekuatan dan kelemahan dari faktor internal dengan peluang dan ancaman dari faktor eksternal. Alat analisis yang digunakan adalah matriks SWOT.
Pada matriks SWOT dilakukan pencocokan antara kekuatan dan kelemahan dengan peluang dan ancaman perusahaan. Dari penggabungan matriks SWOT diperoleh beberapa alternatif strategi yaitu strategi S-O, strategi S-T, strategi W-O, dan strategi W-T. Hasil analisis matriks SWOT Pariwisata Manggarai Barat dapat dilihat pada Tabel 14.
Tabel 14. Matriks Strengths-Weaknesses-Opportunities-Threats (SWOT)
Kekuatan (strengths)
S1. Manggarai Barat kaya akan budaya.
S2. Manggarai Barat kaya akan keindahan alam lautnya. S3. Manggarai Barat memiliki Taman Nasional Komodo. S4.Masyarakat Manggarai adalah masyarakat yang ramah. S5. Dukungan yang positif dari pemerintah setempat dan masyarakatnya.
S6. Lembaga non-pemerintah yang pro aktif .
S7. Manggarai Barat merupakan pintu masuk ke Pulau Flores dari Barat.
S8. Ketersediaan layanan transportasi umum. S9. Kondisi yang aman bagi wisatawan.
S10. Lembaga adat dan agama yang masih diakui oleh masyarakat setempat.
Kelemahan (Weaknesses)
W1. Belum dikembangkannya potensi yang ada di pedalaman. W2. Keterbatasan dalam akomodasi terutama di wilayah pedesaan.
W3. Belum tersedianya money changer.
W4. Akses internet masih lemah. W5. Tidak memiliki museum. W6. Tidak adanya kantor keimigrasian.
W7. Fasilitas kesehatan yang minim.
W8. Tingkat pendidikan dan ketrampilan penduduk masih rendah.
W9. Kualitas SDM di Diparbud yang rendah.
W10. Belum ada Perguruan Tinggi.
Peluang (Opportunities)
O1. Minat akan wisata alam yang meningkat.
O2. Dukungan yang positif dari Pemerintah Pusat.
O3. Akan dibangunnya pelabuhan khusus kapal pesiar di Teluk Kupang.
O4. Kepedulian lembaga-lembaga asing.
O5. Kebijakan Perundang-undangan yang mendukung. O6. Meningkatnya jumlah wisatawan yang akan datang. O7. Ketertarikan Investor dalam menanamkan investasi. O8. Kerjasama dengan Travel-travel agent di Bali yang baik.
Strategi S-O
1. Melakukan pengembangan wisata budaya, bahari (ekowisata) dan pertanian (agrowisata).
2. Melakukan upaya mengurangi jarak tempuh wisatawan ke objek-objek wisata yang ada.
Strategi W-O
1. Meningkatkan promosi wisata.
2. Pengadaan layanan Internet dan Money Changer. 3. Meningkatkan kualitas sumberdaya di Diparbud Kabupaten Manggarai Barat. Ancaman (Threats)
T1. Penguasaan tanah oleh investor secara besar-besaran. T2. Potensi dijual oleh asosiasi dari lain provinsi.
T3. Masuknya budaya-budaya negatif.
T4. Masuknya tenaga-tenaga terampil dari luar wilayah. T5. Privatisasi obyek wisata yang berlebihan.
T6. Pembangunan yang merusak keindahan alam dan kelestarian alam.
Strategi S-T
1. Mendorong kerjasama dengan Kabupaten-Kabupaten tetangga. 2. Membuat peta wisata. 3. Meningkatkan hubungan
kerja sama dengan lembaga nonpemerintah dalam mengontrol tingkah laku para wisatawan yang datang ke Manggarai Barat.
Strategi W-T
1. Pemberdayaan masyarakat lokal terutama di sekitar objek wisata.
2. Penerimaan tenaga ahli dari luar daerah secara proporsional.
Tabel 15. Alternatif strategi dan keterkaitan dengan faktor kunci
Alternatif Strategi Keterkaitan
Strategi S-O
1. Melakukan pengembangan wisata budaya, bahari (ekowisata) dan pertanian (agrowisata).
2. Melakukan upaya mengurangi jarak tempuh wisatawan ke objek-objek wisata yang ada.
S1, S2, S3, S4, S6, S9,S10, O1, O2, O3, O4, O5 S7, S9, S10, O1, O2, O3 Strategi W-O
1. Meningkatkan promosi wisata.
2. Pengadaan layanan Internet dan Money Changer.
3. Meningkatkan kualitas sumberdaya di Diparbud Kabupaten Manggarai Barat.
W1, W7, W8, O1, O2, O3, O4, O6, O7, O8
W3, W4, W8, W9, O2, O3, O6, O7, O8
W9,W10,O2,O4
Strategi S-T
1. Mendorong kerjasama dengan Kabupaten-Kabupaten tetangga.
2. Membuat peta wisata.
3. Meningkatkan hubungan kerja sama dengan lembaga non pemerintah dalam mengontrol tingkah laku para wisatawan yang datang ke Manggarai Barat.
S1, S2, S3, S5, S7, T2, T4 S1, S2, S3, S5, S6, T1, T2, T3, T5 S4,S5,S6,S10,T1, T3,T5,T6 Strategi W-T
1. Pemberdayaan masyarakat lokal terutama di sekitar objek wisata.
2. Penerimaan tenaga ahli dari luar daerah secara proporsional.
W5, W7, W8, T2, T3, T4, T5, T6 W1, W4, W9, W10, T2, T3, T4, T5, T6
Sumber : Data primer, 2007(diolah)
7.4.1. Strategi S-O
Strategi S-O atau strategi kekuatan-peluang merupakan strategi yang menggunakan kekuatan internal perusahaan untuk memanfaatkan peluang eksternal.
Alternatif strategi yang direkomendasikan sebagai strategi kekuatan-peluang yakni:
1. Melakukan pengembangan wisata budaya, bahari (ekowisata) dan pertanian (agrowisata).
Meningkatnya jumlah wisatawan ke depan dan trend akan selera wisatawan yang lebih menginginkan wisata alami seperti menikmati kreasi budaya (culture) dan peninggalan sejarah (heterige) serta nature atau eko-wisata dari suatu daerah atau negara merupakan peluang yang harus dimanfaatkan oleh Kabupaten Manggarai Barat. Peluang ini dapat dimanfaatkan oleh pariwisata Manggarai Barat dengan memanfaatkan kekuatan yang dimiliki seperti kekayaan budaya dan alam laut. Maka dari itu Manggarai Barat perlu mengembangkan wisata budaya, ekowisata dan agrowisata yang dapat memberikan ciri khusus terhadap pariwisatanya yang membedakan dengan tempat wisata lainnya.
2. Melakukan upaya mengurangi jarak tempuh wisatawan ke objek-objek wisata yang ada.
Mengurangi jarak tempuh merupakan suatu upaya dalam meningkatkan pelayanan terhadap wisatawan. Jarak tempu yang dimaksud adalah waktu yang dibutuhkan wisatawan dari kedatangannya di Manggarai Barat sampai ke tempat tujuan yaitu objek wisata yang ingin dikunjungi.
Wisatawan lebih cendrung menyukai pelayanan yang cepat dengan informasi yang jelas. Maka dari itu perlu dilakukan upaya mengurangi jarak tempuh wisatawan dengan cara penertiban keluar masuk
penumpang di bandara, pelabuhan dan terminal, mempermudah proses perijinan serta pengadaan layanan informasi yang mudah diakses.
7.4.2. Strategi W-O
Strategi W-O atau strategi kelemahan-peluang merupakan strategi yang bertujuan untuk memperbaiki kelemahan internal perusahaan dengan memanfaatkan peluang eksternal.
Adapun beberapa strategi yang direkomendasikan sebagai bagian dari strategi kelemahan-peluang adalah :
1. Meningkatkan promosi wisata.
Promosi merupakan suatu cara dalam memperkenalkan produk kepada khalayak ramai. Strategi meningkatkan promosi dimaksudkan untuk memanfaatkan peluang yang ada dalam mengurangi kelemahan belum berkembangnya pariwisata di pedalaman.
Upaya promosi perlu dilakukan. Selain memperkenalkan objek wisata yang ada di pedalaman, upaya ini dapat mendorong kreatifitas masyarakat Manggarai dalam mencipta atau membuat paket-paket wisata yang menarik bagi wisatawan.
Selain promosi dilakukan lewat media elektronik, surat kabar, fasilitas publik yang ada di Manggarai Barat dan Bali, spanduk, pamflet, promosi juga dapat dilakukan dengan cara meningkatkan aktifitas masyarakat di pedalaman seperti melakukan festifal budaya di Kecamatan Lembor yang mudah diakses dari Labuan Bajo dan
Kabupaten Manggarai, outbbon kaum muda atau pelajar, camping dan lain-lain.
2. Pengadaan layanan Internet dan Money Changer.
Money Changer merupakan tempat penukaran mata uang asing dengan rupiah. Fasilitas ini sangat dibutuhkan oleh wisatawan asing. Maka dari itu fasilitas ini perlu dibentuk.
7.4.3. Strategi S-T
Strategi S-T atau strategi kekuatan-ancaman merupakan strategi yang menggunakan kekuatan internal perusahaan untuk menghindari atau mengurangi dampak ancaman eksternal.
Alternatif strategi yang direkomendasikan sebagai strategi kekuatan-ancaman adalah :
1. Mendorong kerjasama dengan Kabupaten-Kabupaten tetangga.
Dengan sikap proaktifnya pemerintah setempat memungkinkan adanya kerjasama dengan Kabupaten-Kabupaten terdekat dalam memajukan pariwisata Manggarai Barat. Hal ini merupakan suatu pilihan yang harus dilakukan melihat keterbatasan pemerintah dalam promosi pariwisatanya, SDM, teknologi dan sarana dan prasarana lainnya. 2. Membuat peta wisata.
Dampak negatif dari industri pariwisata dapat terjadi bila kurang adanya kontrol atau kebijakan perlindungan terhadap lingkungan. Lingkungan yang merupakan objek dari wisata, akan berkurang kualitas keindahannya jika terjadi pembangunan yang berlebihan.
Selain itu, dengan kondisi banyak pulau memungkinkan terjadi penjualan-penjualan pulau atau tanah yang mempunyai nilai wisata. Penjualan ini sangat mungkin dilakukan oleh masyarakat yang mempunyai hak sebagai warisan adat. Maka dari itu diperlukannya pembuatan peta wisata dimana terdapat zona-zona yang dilindungi dan zona pemukiman masyarakat.
3. Meningkatkan hubungan kerja sama dengan lembaga non pemerintah dalam mengontrol tingkah laku para wisatawan yang datang ke Manggarai Barat.
Penguasaan tanah secara besar-besaran oleh investor, masuknya budaya yang negatif, privatisasi objek wisata terutama di pulau-pulau merupakan ancaman yang harus dihindari. Hal ini bisa dapat dicegah jika adanya kerjasama antara pemerintah dengan lembaga-lembaga nonpemerintah seperti lembaga adat dan agama yang mana selain mempunyai pengaruh di masyarakat, lembaga-lembaga tersebut mempunyai hak yang diakui oleh masyarakat setempat. Hak-hak tersebut seperti hak ulayat, hak mengatur tatakrama dan lain-lain. Dengan adanya kerjasama ini diharapkan adanya kesadaran akan ancaman yang ada dimana penanggulangannya melalui penyadaran kepada masyarakat.
7.4.4. Strategi W-T
Strategi W-T atau strategi kelemahan–ancaman merupakan strategi untuk mengurangi kelemahan internal dan menghindari ancaman eksternal. Alternatif
strategi yang direkomendasikan untuk mengurangi kelemahan internal dan menghindari ancaman eksternal adalah :
1. Pemberdayaan masyarakat lokal terutama di sekitar objek wisata.
Tujuan dari suatu pembangunan adalah mensejahterakan masyarakatnya. Dalam suatu pembangunan masyarakat merupakan subjek pembangunan. Maka dari itu keterlibatan masyarakat sangat penting dalam pembangunan. Berkaitan dengan hal ini, pemberdayaan masyarakat lokal terutama disekitar objek wisata perlu dilakukan. Upaya ini merupakan suatu cara penyadaran atau pemahaman tentang industri pariwisata yang mana dapat menumbuhkembangkan keterlibatan mereka. Keterlibatan masyarakat lokal sangat penting dalam memberikan warna dalam industri pariwisata tersebut.
2. Penerimaan tenaga ahli dari luar daerah secara proporsional.
Banyaknya tenaga ahli dari luar daerah dapat mengakibatkan kecemburuan sosial. Hal ini dapat mengakibatkan konflik horisontal maupun vertikal yang dapat menganggu industri pariwisata itu sendiri. Maka dari itu, Pemerintah daerah perlu mengatur kesempatan kerja dengan menerima tenaga dari luar daerah secara proporsional.