BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1.1.1 Identifikasi Masalah
Identifikasi masalah dilakukan dengan teknik observasi dan wawancara. Permasalahan yang diidentifikasi adalah permasalahan terkait kesulitan belajar yang dialami oleh siswa. Hasil dari observasi dan wawancara tersebut kemudian dikaji dengan menggunakan triangulasi data.
4.1.1.1.1 Observasi
Kegiatan observasi dilaksanakan untuk mengamati pembelajaran IPS kelas IV dan ketersediaan alat peraga di SD Karangwuni 1. Kisi-kisi pedoman observasi dapat dilihat pada tabel 3.1 halaman 43. Pedoman observasi telah divalidasi sebelum digunakan. Berikut adalah hasil validasi terhadap instrumen observasi yang disajikan pada tabel 4.1.
Tabel 4.1 Hasil Validasi Instrumen Pedoman Observasi oleh Ahli
Ahli No. Item Total Rerata
1 2 3 4 5
IPS 4 4 4 4 4 20 4
Guru 4 3 3 4 4 18 3,6
Rerata 19 3,8
Berdasarkan hasil validasi pedoman observasi oleh ahli pada tabel 4.1, didapatkan rerata skor sebesar 3,8. Jika dibandingkan dengan tabel 3.11 halaman 55, rerata tersebut memiliki nilai lebih dari 2,50 dan termasuk dalam kategori
sangat baik. Dengan demikian, instrumen dinyatakan valid dan layak digunakan. Lembar hasil validasi pedoman observasi oleh ahli dapat dilihat pada lampiran 1.1 halaman 113. Para ahli juga memberikan komentar terhadap instrumen pedoman observasi yang dituangkan pada tabel 4.2.
Tabel 4.2 Rekapitulasi Komentar Validasi Pedoman Observasi oleh Ahli
No. Item Komentar ahli
2 Dapat diobservasi jika ada alat peraga di kelas 3 Dapat diobservasi jika ada alat peraga di kelas
Beberapa komentar dari para ahli pada tabel 4.2 menjadi pertimbangan bagi peneliti dalam melakukan revisi. Setelah pedoman wawancara selesai direvisi, peneliti melakukan observasi pada pembelajaran IPS kelas IV dan ketersediaan alat peraga di SD N Karangwuni 1. Observasi dilaksanakan pada 14 September 2015. Lembar hasil observasi dapat dilihat pada lampiran 1.2 halaman 115 yang juga disajikan pada tabel 4.3.
Tabel 4.3 Hasil Observasi Pembelajaran IPS
Objek yang diamati Jawaban Catatan
Ada alat peraga yang diletakkan di kelas untuk pembelajaran IPS.
Tidak -
Alat peraga layak untuk digunakan dalam pembelajaran.
Tidak Tidak terdapat alat peraga.
Guru menggunakan alat peraga selama
pembelajaran IPS untuk menjelaskan materi.
Tidak Guru menggunakan metode ceramah dan tanya-jawab. Guru menggunakan pedoman berupa buku cetak. Guru menulis di papan tulis dengan
menggunakan kapur. Selanjutnya, guru
mengarahkan siswa untuk mengerjakan soal latihan di buku.
Guru menguasai cara menggunakan alat peraga.
Tidak Guru tidak menggunakan alat peraga. Guru menunjukkan kepada
siswa cara menggunakan alat peraga.
Tidak Guru tidak menggunakan alat peraga.
Siswa dapat menggunakan alat peraga secara mandiri.
Tidak Siswa tidak menggunakan alat peraga. Siswa mempelajari materi dengan mendengarkan guru dan membaca buku cetak.
Siswa mengalami kesulitan dalam pembelajaran IPS.
Ya Kebanyakan siswa diam ketiaka guru bertanya. Siswa tidak dapat menjawab pertanyaan guru dengan tepat ketika ditunjuk untuk menjawab. Siswa mengalami kesulitan
dalam mengerjakan soal IPS.
Ya Siswa mengerjakan soal latihan dengan waktu yang singkat, namun masih banyak jawaban yang kurang tepat.
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa ketersediaan alat peraga IPS masih terbatas. Guru pun tidak menggunakan alat peraga dalam pembelajaran. Guru menggunakan pedoman berupa buku cetak dan menulis di papan tulis hitam dengan menggunakan kapur untuk memberikan penekanan terhadap materi yang dianggap penting. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penggunaan alat peraga dalam pembelajaran IPS di kelas IV SD N Karangwuni 1 belum optimal. Selain itu, peneliti menemukan bahwa siswa mengalami kesulitan belajar dalam materi yang diterangkan pada hari tersebut yaitu keragaman budaya Indonesia. Hal tersebut diketahui dari hasil observasi bahwa siswa tidak mampu menjawab pertanyaan yang diajukan oleh guru. Selain itu, ketika mengerjakan latihan soal, siswa menjawab dengan kurang tepat.
4.1.1.1.2 Wawancara
Kegiatan wawancara dilakukan kepada kepala sekolah, guru kelas IV, dan 2 siswa kelas IV. Sebelum melakukan wawancara, pedoman wawancara terlebih dahulu divalidasi oleh ahli. Ahli yang melakukan validasi adalah ahli bahasa, ahli IPS dan guru SD setara. Validasi yang dilakukan adalah validasi konstruk.
Wawancara yang pertama dilakukan kepada Kepala sekolah. Rencana wawancara dengan Kepala Sekolah dapat dilihat pada tabel 3.2 di halaman 44. Pedoman wawancara Kepala Sekolah telah divalidasi oleh ahli bahasa dan ahli pembelajaran IPS dengan hasil yang dituangkan dalam tabel 4.4.
Tabel 4.4 Hasil Validasi Pedoman Wawancara Kepala Sekolah
Ahli No. Item Total Rerata
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
Bahasa 4 4 4 4 4 3 4 4 4 3 4 4 46 3,83
IPS 3 3 4 4 4 4 4 4 4 3 4 4 45 3,75
Rerata 45,5 3,79
Berdasarkan hasil validasi pedoman wawancara kepala sekolah oleh ahli pada tabel 4.4, didapatkan rerata skor sebesar 3,79. Jika dibandingkan dengan tabel 3.11 halaman 55, rerata tersebut memiliki nilai lebih dari 2,50 dan termasuk dalam kategori sangat baik. Dengan demikian, instrumen dinyatakan valid dan layak digunakan. Lembar hasil validasi pedoman wawancara Kepala Sekolah oleh ahli dapat dilihat pada lampiran 1.3 halaman 116. Para ahli juga memberikan
komentar terhadap instrumen pedoman wawancara Kepala Sekolah yang dituangkan pada tabel 4.5.
Tabel 4.5 Rekapitulasi Komentar Validasi Pedoman Wawancara Kepala Sekolah
No. Item Komentar ahli
1 Kata prestasi tidak perlu diulang 2 Kata prestasi tidak perlu diulang 3 Kata sajakah diubah menjadi kata saja
4 -
5 Kata manakah diubah menjadi mana
6 Tambahkan pertanyaan ‘mengapa’
7 -
8 -
9 -
10 - Item nomor 10 perlu ditanyakan juga alasannya. Mengapa
11 -
12 Tambahkan ‘jika ada’ sebelum pertanyaan
Beberapa komentar dari para ahli pada tabel 4.5 menjadi pertimbangan bagi peneliti dalam melakukan revisi. Setelah pedoman wawancara selesai direvisi, peneliti melakukan wawancara kepada Kepala SD N Karangwuni 1. Wawancara dilaksanakan pada 29 September 2015. Transkrip wawancara dengan Kepala Sekolah dapat dilihat pada lampiran 1.4 halaman 118. Berikut hasil wawancara dengan Kepala Sekolah yang disajikan pada tabel 4.6.
Tabel 4.6. Hasil Wawancara dengan Kepala Sekolah
Topik pertanyaan No. Item Hasil wawancara Informasi berkaitan dengan sekolah
1 dan 2 Dalam bidang nonakademis prestasi yang diraih adalah juara III lomba baca puisi se-kecamatan dan juara I lomba menggambar. Dalam bidang akademis, siswa belum memiliki prestasi. Ketersediaan
alat peraga di sekolah
3, 4, 5 dan 6
Di SD N karangwuni 1 terdapat alat peraga untuk mata pelajaran IPA, IPS, PPKn, Bahasa Indonesia dan Matematika. Alat peraga tersebut disimpan dengan baik. Sekolah mendapatkan alat peraga dari hibah dan membuat sendiri. Dalam membuat alat peraga siswa dapat mengetahui kesalahan mereka melalui pemahaman mereka sendiri.
Penggunaan alat peraga dalam pembelajaran IPS 7, 8, 9 dan 10
Pembelajaran IPS jarang menggunakan alat peraga. Penggunaan alat peraga kurang maksimal dalam pembelajaran. Karena jumlah alat peraga terbatas, satu alat peraga digunakan untuk seluruh siswa secara bersama-sama. Penggunaan alat peraga dalam pembelajaran lebih menarik bagi siswa daripada tidak menggunakan alat peraga.
Penelitian alat peraga
11 dan 12
Wawancara yang kedua dilakukan kepada guru. Rencana wawancara dengan guru kelas IV dapat dilihat pada tabel 3.3 di halaman 44. Sama halnya dengan pedoman wawancara Kepala Sekolah, pedoman wawancara Guru telah divalidasi oleh ahli dengan hasil yang dituangkan dalam tabel 4.7.
Tabel 4.7 Hasil Validasi Pedoman Wawancara Guru
Ahli No. Item Total Rerata
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17
Bahasa 4 3 4 3 4 4 4 4 3 4 3 4 4 4 4 3 3 59 3,47
IPS 4 4 4 3 4 4 4 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 65 3,82
Rerata 62 3,64
Berdasarkan hasil validasi pedoman wawancara guru oleh ahli pada tabel 4.7, didapatkan rerata skor sebesar 3,64. Jika dibandingkan dengan tabel 3.11 halaman 55, rerata tersebut memiliki nilai lebih dari 2,50 dan termasuk dalam kategori sangat baik. Dengan demikian, instrumen dinyatakan valid dan layak digunakan. Lembar hasil validasi pedoman wawancara guru oleh ahli dapat dilihat pada lampiran 1.5 halaman 121. Para ahli juga memberikan komentar terhadap instrumen pedoman wawancara Guru yang dituangkan pada tabel 4.8.
Tabel 4.8 Rekapitulasi Komentar Validasi Pedoman Wawancara Guru oleh Ahli
No. Item Komentar ahli
1 -
2 Perlu ditanyakan alasannya
3 -
4 Perlu ditanyakan alasannya
5 -
6 -
7 -
8 Spasi
9 Perlu ditanyakan alasannya
10 -
11 Ditanyakan jika jawaban nomor 10 ‘ya’
12 -
13 -
14 -
15 Kata apakah dirubah menjadi kata apa
16 Kata apakah dirubah menjadi kata apa
17 Kata apakah dirubah menjadi kata apa
Beberapa komentar dari para ahli pada tabel 4.8 menjadi pertimbangan bagi peneliti dalam melakukan revisi. Setelah pedoman wawancara selesai direvisi, peneliti melakukan wawancara kepada Guru SD N Karangwuni 1.
Wawancara dilaksanakan pada 14 September 2015. Transkrip wawancara dengan guru dapat dilihat pada lampiran 1.6 halaman 123. Berikut adalah hasil wawancara dengan Guru yang disajikan pada tabel 4.9.
Tabel 4.9 Hasil Wawancara dengan Guru
Topik pertanyaan
No. Item Hasil wawancara
Ketersediaan alat peraga di kelas
1, 2 dan 3 Alat peraga yang dimiliki di kelas IV adalah peta. Peta sudah tersedia dari sekolah. Dalam
penggunaannya siswa menggunakan secara berkelompok karena hanya ada satu peta. Untuk materi keragaman budaya Indonesia, guru menggunakan gambar-gambar yang terdapat di dalam buku cetak.
Penggunaan alat peraga IPS dalam pembelajaran
4, 5, 6, 7 dan 8
Guru pernah menggunakan alat peraga dalam pembelajaran. Alat peraga yang pernah digunakan adalah peta dan atlas. Siswa lebih aktif jika
menggunakan alat peraga. Siswa menggunakan alat peraga dengan bimbingan dari guru terlebih
dahulu. Siswa dapat mengetahui kesalahannya dalam menggunakan peta karena terdapat legenda di dalamnya.
Kesulitan yang dialami guru dalam menyampaikan materi IPS
9, 10 dan 11 Guru mengalami kesulitan dalam menyampaikan materi IPS. Materi yang sulit disampaikan adalah peta, karena siswa memiliki pengetahuan yang kurang tentang daerahnya sendiri dan akan menjadi lebih sulit jika diajak untuk mempelajari dalam lingkup yang lebih luas. Selain itu, materi keragaman suku dan budaya Indonesia, karena terdapat banyak sekali materi yang harus disampaikan.
Kesulitan belajar yang dialami siswa dalam
pembelajaran IPS
12, 13, 14 dan 15
Siswa mengalami kesulitan dalam materi peta dan keragaman suku dan budaya indonesia karena materi terlalu banyak. Dalam pembelajaran, ada siswa yang aktif dan ada yang tidak karena ada yang suka dengan mata pelajaran IPS dan ada yang tidak. Dalam ulangan harian, sebagian besar siswa mendapat nilai di bawah 70. Siswa yang mendapat nilai di atas 70 yaitu lima siswa dari 16 siswa. Usaha-usaha yang
dilakukan guru dalam mengatasi kesulitan-kesulitan tersebut
16 dan 17 Guru menanamkan konsep dari lingkungan sekitar siswa terlebih dahulu. Dengan demikian, siswa sudah mengetahui apa yang ada di lingkungannya, barulah dalam pembelajaran siswa diajak ke lingkup yang lebih luas
Wawancara yang ketiga ditujukan kepada siswa. Rencana wawancara dengan siswa kelas IV dapat dilihat pada tabel 3.4 di halaman 44. Pedoman
wawancara siswa telah divalidasi oleh ahli bahasa, ahli pembelajaran IPS dan guru SD setara dengan hasil yang dituangkan dalam tabel 4.10.
Tabel 4.10 Hasil Validasi Pedoman Wawancara Siswa
Ahli No. Item Total Rerata
1 2 3 4 5 6 7
Bahasa 3 4 4 3 3 4 3 24 3,42
IPS 3 4 4 4 4 4 4 27 3,85
Guru 3 4 3 4 4 4 4 26 3,71
Rerata 25,7 3,67
Berdasarkan hasil validasi pedoman wawancra siswa oleh ahli pada tabel 4.10, didapatkan rerata skor sebesar 3,67. Jika dibandingkan dengan tabel 3.11 halaman 55, rerata tersebut memiliki nilai lebih dari 2,50 dan termasuk dalam kategori sangat baik. Dengan demikian, instrumen dinyatakan valid dan layak digunakan. Lembar hasil validasi pedoman wawancara siswa oleh ahli dapat dilihat pada lampiran 1.7 halaman 127. Para ahli juga memberikan komentar terhadap instrumen pedoman wawancara siswa yang dituangkan pada tabel 4.11.
Tabel 4.11 Rekapitulasi Komentar Validasi Pedoman Wawancara Siswa oleh Ahli
No. Item Komentar ahli
1 Perbaiki kalimat no. 1
2 -
3 -
4 Tanyakan alasan
5 Tanyakan alasan
6 -
7 Ditanyakan jika jawaban no. 6 adalah ya
Beberapa komentar dari para ahli pada tabel 4.11 menjadi pertimbangan bagi peneliti dalam melakukan revisi. Setelah pedoman wawancara selesai direvisi, peneliti melakukan wawancara kepada siswa kelas IV SD N Karangwuni 1. Wawancara dilaksanakan pada 16 September 2015. Transkrip wawancara dengan siswa dapat dilihat pada lampiran 1.8 halaman 128. Hasil wawancara dengan siswa disajikan pada tabel 4.12.
Tabel 4.12 Hasil Wawancara dengan Siswa
Topik pertanyaan No. Item Hasil wawancara
Tanggapan terhadap pembelajaran IPS yang selama ini terjadi.
1 dan 2 Pembelajaran IPS yang dilakukan selama ini sedikit menyenangkan.
Penggunaan alat peraga dalam pembelajaran IPS
3 dan 4 Guru pernah menggunakan alat peraga peta dan atlas pada saat materi peta. Guru tidak
menggunakan alat peraga pada materi keragaman suku bangsa dan budaya Indonesia. Siswa lebih senang belajar menggunakan alat peraga. Kesulitan belajar yang
dialami siswa dalam pembelajaran IPS
5, 6 dan 7 Siswa mengalami kesulitan dalam mata pelajaran IPS. Materi yang sulit adalah keragaman suku dan budaya Indonesia. Materi tersebut sulit karena materinya banyak sekali.
Berdasarkan hasil wawancara dengan ketiga sumber tersebut, dapat disimpulkan bahwa ketersediaan dan penggunaan alat peraga IPS untuk materi keragaman budaya Indoneia masih terbatas. Hal tersebut terlihat dari jawaban narasumber yang ditampilkan pada bagan 4.1.
Bagan 4.1 Triangulasi Sumber Data Wawancara
Kepala Sekolah Sekolah memiliki alat peraga untuk mata pelajaran IPA, IPS,
Baahasa Indonesia dan
Matematika. Meskipun
demikian, penggunaan alat peraga kurang maksimal dalam pembelajaran. Karena jumlah alat peraga terbatas, satu alat peraga digunakan untuk seluruh siswa secara bersama-sama. Penggunaan alat peraga dalam pembelajaran lebih menarik bagi siswa daripada tidak menggunakan alat peraga.
Siswa
Guru tidak
menggunakan alat peraga pada materi
keragaman suku
bangsa dan budaya Indonesia. Materi tersebut sulit karena banyaknya materi. Penggunaan alat
peraga membuat
siswa lebih senang dalam belajar. Guru
Kelas IV memiliki alat peraga peta.
Peta tersebut
digunakan secara berkelompok karena jumlahnya hanya satu. Untuk materi keragaman budaya Indonesia guru menggunakan gambar yang ada di dalam buku. Materi
tersebut sulit
disampaikan karena banyaknya materi.
Sekolah sudah memiliki alat peraga, tetapi untuk materi alat peraga untuk materi keragaman budaya Indonesia
Berdasarkan bagan 4.1 mengenai triangulagi sumber wawancara yang dilakukan, diketahui bahwa siswa mengalami kesulitan pada materi keragaman budaya Indonesia karena banyaknya materi. Guru pun mengalami kesulitan dalam penyampaian. Hal tersebut menjadi permasalahan karena ketersediaan alat peraga untuk materi keragaman budaya Indonesia masih terbatas sehingga penggunaan alat peraga pada materi keragaman budaya Indonesia dalam pembelajaran masih kurang optimal.
Berdasarkan hasil identifikasi masalah melalui observasi dan wawancara yang telah dilakukan, dapat diketahui bahwa siswa mengalami kesulitan dalam mata pelajaran IPS pada materi keragaman budaya Indonesia. Pada saat wawancara, siswa mengatakan bahwa materi tersebut sulit karena ada banyak budaya di Indonesia. Hal tersebut sesuai dengan hasil observasi, bahwa siswa kesulitan menjawab pertanyaan yang diajukan oleh guru. Siswa juga kurang mampu menjawab soal latihan dengan tepat. Hal tersebut diperkuat dengan pernyataan dari guru pada saat wawancara. Guru mengatakan bahwa siswa yang mendapat nilai di atas tujuh dari 16 siswa adalah lima anak.
Permasalahan lain yang ditemukan adalah kurangnya alat peraga yang digunakan dalam pembelajaran IPS. Berdasarkan hasil observasi, peneliti menemukan bahwa tidak terdapat alat peraga yang dipajang di kelas. Dalam pembelajaran, guru pun tidak menggunakan alat peraga. Guru menggunakan metode ceramah dan tanya jawab. Ketika wawancara, guru menuturkan bahwa beliau menggunakan gambar-gambar yang ada di dalam buku cetak. Beliau belum sempat membuat alat peraga karena masih baru mengajar di kelas IV.