BAB 2 LANDASAN TEORI
2.1.5 Pembelajaran IPS
2.1.5.3 Keragaman Budaya Indonesia
Keragaman berasal dari kata dasar “ragam” yang berarti macam atau jenis (Tim Redaksi Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa, 2008: 23), sedangkan keragaman sendiri memiliki arti berjenis-jenis atau variasi (Tim Reality, 2008: 535). Kata kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta, buddayah, bentuk jamak dari kata budhi yang berarti akal (Susilaningsih, 2008: 89). Kebudayaan diartikan oleh Soemardjan dan Soemardi (dalam Setiadi, Hakam & Effendi, 2013: 28) sebagai semua hasil karya, rasa dan cipta masyarakat. Menurut Koentjaraningrat
(dalam Simon, 2006: 12), kebudayaan adalah totalitas dari sistem gagasan dan rasa, kelakuan dan hasil kelakuan manusia yang teratur oleh tata kelakuan yang harus didapatnya dengan belajar dan kesemuanya tersusun dalam kehidupan masyarakat. Pendapat Koentjaraningrat tersebut sejalan dengan pendapat Davis dan Hoebel (dalam Dwiningrum, Septiarti & Widyaningsih, 2012: 17) yang menyatakan bahwa tindakan kebudayaan adalah segala tindakan yang harus dibiasakan manusia dengan belajar.
Budaya dapat dibedakan menjadi beberapa bentuk/wujud. Menurut Koentjaraningrat (dalam Setiadi, Hakam & Effendi, 2013: 29-30) budaya digolongkan menjadi tiga wujud, yaitu 1) kebudayaan sebagai ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma dan peraturan; 2) kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat; 3) kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia. Kebudayaan sebagai ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma dan peraturan memiliki sifat yang abstrak, tidak dapat diraba/disentuh dan berada di dalam pikiran masyarakat dimana budaya tersebut hidup. Budaya ini berfungsi untuk mengatur dan memberikan arah dalam perbuatan yang manusia lakukan (Koentjaraningrat dalam Setiadi, Hakam & Effendi, 2013: 29).
Kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat dinamakan sistem sosial. Dinamakan demikian karena menyangkut tindakan dan kelakuan berpola dari manusia sendiri. Wujud budaya ini dapat didokumentasikan kerena terdapat aktivitas-aktivitas manusia yang berinteraksi satu dengan yang lainnya di masyarakat. Budaya ini adalah perwujudan budaya secara konkret dalam bentuk perilaku dan bahasa (Koentjaraningrat dalam Setiadi, Hakam & Effendi, 2013: 29).
Kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia disebut juga budaya fisik. Budaya ini bersifat konkret, dapat diraba, dilihat dan berwujud besar atau kecil. Bentuk budaya ini dapat berupa materi maupun artefak, misalnya candi dan kain batik (Koentjaraningrat dalam Setiadi, Hakam & Effendi, 2013: 30).
Secara sederhana, budaya dapat dibedakan menjadi dua yaitu budaya yang berbentuk fisik/jasmani dan budaya yang berbentuk non fisik/rohani. Contoh budaya yang berbentuk fisik atau jasmani adalah pakaian, rumah adat dan alat
musik. Contoh budaya yang berbentuk non fisik atau rohani adalah kepercayaan, bahasa, adat istiadat atau tradisi dan pengetahuan (Pujiati & Yuliati, 2008: 73).
Berdasarkan paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa budaya adalah hasil karya, rasa dan cipta manusia yang diatur oleh tata kelakuan dan diperoleh melalui belajar. Dengan demikian, keragaman budaya Indonesia adalah variasi hasil karya, rasa dan cipta manusia yang diatur oleh tata kelakuan, diperoleh melalui belajar, dan dituangkan dalam wujud/bentuk tertentu. Materi yang digunakan dalam alat peraga ini adalah budaya dalam bentuk konkret sehingga dapat dituangkan dalam bentuk gambar. Macam budaya yang dibahas adalah rumah adat, pakaian adat, senjata tradisional, tarian tradisional dan alat musik tradisional. Berikut adalah penjelasan dari setiap budaya tersebut.
2.1.5.3.1 Rumah Adat
Hampir setiap provinsi di Indonesia memiliki rumah adat yang berbeda-beda (Pujiati & Yuliati, 2008: 74-75). Tabel 2.1 adalah daftar nama beberapa rumah adat yang ada di Indonesia. Pada tabel tersebut terdapat gambar-gambar rumah adat (Chaldun, 2003: ix) dan penjelasan singkat mengenai rumah adat di Indonesia (Gendhis, 2008).
Tabel 2.1 Daftar Nama Beberapa Rumah Adat di Indonesia
No. Provinsi Nama dan gambar rumah
adat Keterangan
1 Jawa Tengah Rumah Joglo Rumah Joglo Jawa Tengah berbentuk Padepokan.
Padepokan merupakan bangunan induk istana Mangkunegara di Surakarta. Rumah ini terdiri dari 3 ruangan. Pendopo, tempat untuk menerima tamu, upacara dan kesenian. Pringgitan, tempat untuk pagelaran wayang kulit. Dalem, tempat singgasana Raja. Kata ‘Dalem’ bagi masyarakat Jawa Tengah berarti tempat tinggal/rumah.
2 Sumatera
Barat
Rumah Gadang Rumah Gadang memiliki Gonjoang (tonjolan
atapnya yang mencuat ke atas) sebanyak 4-7 buah. Gonjoang ini menjurus kepada Tuhan Yaang Maha Esa. Rumah gadang memiliki 2-3 lumbung padi. Pertama, Si Bayo-bayo, artinya persediaan padi bagi keluarga dari rantau. Kedua, Si Tinjak Lauik yang padinya diberikan kepada orang tidak mampu. Ketiga, Si Tangguang Litak yang padinya khusus untuk pemilik rumah.
No. Provinsi Nama dan gambar rumah
adat Keterangan
3 Sulawesi
Selatan
Tongkonan Rumah ini berbentuk panggung dan memiliki
kolong yang berfungsi sebagai kandang kerbau belang atau Tedong Bonga. Kepala kerbau merupakan lambang kekayaan. Di depan rumah tersusun tanduk-tanduk kerbau sebagai lambang bahwa pemiliknya telah melakukan upacara kematian secara besar-besaran. Rumah Tongkonan terdiri dari 3 ruangan yaitu ruang tamu, ruang makan dan ruang belakang.
4 Sulawesi
Tenggara
Rumah Malige Rumah Malige terdiri dari empat tingkat. Ruang
lantai pertama lebih luas dari lantai kedua, sedangkan lantai ketiga lebih luas dari lantai keempat. Jadi semakin ke atas ruangannya semakin sempit. Tetapi lantai keempat lebih melebar. Seluruh bangunan dibuat tanpa menggunakan paku, melainkan menggunakan pasak atau paku kayu.
5 Kepulauan
Riau
Rumah Lancang Rumah Lancang mempunyai atap melengkung
keatas, agak runcing seperti tanduk kerbau. Sedangkan dindingnya miring keluar dengan hiasan kaki dinding mirip perahu atau lancang. Hal itu melambangkan penghormatan kepada Tuhan dan sesama. Tangga rumah biasanya ganjil.
2.1.5.3.2 Pakaian Adat
Hampir semua daerah di Indonesia mempunyai pakaian adat sendiri. Pakaian khas tersebut selain indah juga mempunyai arti tertentu. Saat ini pakaian adat tidak banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Biasanya pakaian adat digunakan saat upacara adat, upacara perkawinan dan saat memperagakan tarian atau pertunjukan daerah (Pujiati & Yuliati, 2008: 76). Tabel 2.2 merupakan beberapa contoh pakaian adat di Indonesia. Pada tabel tersebut terdapat gambar-gambar (Chaldun, 2003: v) dan penjelasan singkat mengenai pakaian adat (Gendhis, 2008).
Tabel 2.2 Daftar Nama Beberapa Pakaian Adat di Indonesia
No Provinsi Nama dan gambar
pakaian adat Keterangan
1 Bengkulu Melayu Bengkulu Pria: Menggunakan baju model jas tertutup dan
celana panjang serta mahkota. Dilengkapi dengan kalung dan kain songket yang melingkar di pinggang.
Wanita: Memakai baju kurung yang berlengan panjang, sarung songket benang emas atau perak, sehelai kampuh, kalung bersusun dan mahkota.
2 D.I.Y. Pakaian Adat Surjan
dan Kebaya
Pria: Memakai destar (penutup kepala), jas dengan leher tertutup dan keris yang diselipkan di pinggang bagian belakang. Mengenakan kain batik dengan corak yang sama dengan wanita.
Wanita: Memakai kebaya dan kain batik. Perhiasannya berupa kalung, anting-anting dan cincin.
3 Sulawesi
Tenggara
Pakaian Adat Babung Gina Saman
Pria: Memakai baju model jas tertutup, celana panjang dan sarung sebatas lutut. Memakai penutup kepala yang disebut destar.
Wanita: memakai baju kebaya. Di atas kepala terdapat hiasan kembang. Memakai anting-anting, kalung dan gelang.
4 Papua Pakaian Adat
Manawou
Pria: Memakai hiasan kepala, kalung yang terbuat dari gigi dan tulang binatang/kerang, dilengkapi hiasan di bagian kaki.
Wanita: Memakai baju berumbai-rumbai sebatas lutut dan hiasan bulu di bagian kepala. Memakai perhiasan seperti kalung yang terbuat dari kerang dan gigi binatang serta hiasan kaki.
5 Kalimantan
Barat
Pakaian Adat Melayu Sambas
Pria: Mengenakan penutup kepala, baju lengan panjang, celana panjang, ikat pinggang dan tenun sambas yang menyelempang di bahu dan melingkar di pinggang.
Wanita: memakai baju panjang dan kain tenun sambas, ikat pinggang, kalung serta mahkota di kepala.
2.1.5.3.3 Senjata Tradisional
Senjata tradisional memiliki banyak manfaat. Dahulu senjata tradisional sering digunakan untuk memotong, berburu, dan berperang. Saat ini senjata tradisional lebih banyak digunakan sebagai hiasan atau pelengkap pakaian adat (Pujiati & Yuliati, 2008: 76). Tabel 2.3 merupakan beberapa contoh senjata tradisional di Indonesia. Pada tabel tersebut terdapat gambar-gambar senjata
tradisional dan penjelasan singkat mengenai senjata tradisional di Indonesia (Gendhis, 2008).
Tabel 2.3 Daftar Nama Beberapa Senjata Tradisional di Indonesia
No Provinsi Nama dan gambar senjata
radisional Keterangan
1 Nanggroe
Aceh Darussalam
Rencong Rencong merupakan senjata belati yang
bentuknya menyerupai huruf L. Bilah rencong terbuat dari besi dan biasanya bertuliskan ayat Al-Quran.
Senjata lain:
Pedang Daun Tebu, Pedang Oom Ngom dan Reudeuh
2 Jawa Barat Kujang Kujang adalah senjata tikam berbentuk
lengkung. Pada mata Kujang terdapat 1-5 buah lubang. Pada bilahnya terdapat ukiran-ukiran.
Senjata lain:
Keris Kirompang, Kris Kidongkol, Golok, Bedok, Panah bambu, Panah kayu dan Tombak
3 Sulawesi
Tengah
Pasatimpo Pasatimpo adalah senjata yang hulunya
bengkok ke bawah dan sarungnya diberi tali. Senjata lain:
Tombak, Parang, Pisau, Perisai dan Sumpitan
4 Papua Pisau Belati Pisau belati teruat dari tulang kaki burung
Kaswari. Pisau ini juga dihiasi dengan bulu burung Kaswari.
Senjata lain:
Busur, Panah, Sumpit dan Tombak
5 Maluku Parang dan Salawaku Parang terbuat dari besi dan ditempa oleh
pandai besi khusus. Panjang Parang yaitu antara 90-100 cm. Salawaku adalah perisai
yang diberi hiasan motif-motif yang
melambangkan keberanian. Parang dan
Salawaku digunakan untuk berperang. Selain itu juga digunakan untuk berburu binatang.
2.1.5.3.4 Tarian Tradisional
Tarian merupakan bagian dari kesenian. Setiap provinsi memiliki tarian tradisionalnya masing-masing. Beberapa provinsi bahkan memiliki lebih dari satu tarian tradisional. Tarian adat sering ditampilkan dalam upacara perkawinan, upacara adat, menyambut tamu atau dalam pertunjukan seni. Saat ini tarian tradisional sudah banyak dikombinasikan dengan tarian modern (Pujiati & Yuliati,
2008: 77). Tabel 2.4 merupakan beberapa contoh tarian tradisional di Indonesia. Pada tabel tersebut terdapat gambar-gambar tarian tradisional (Chaldun, 2003: vi) dan penjelasan singkat mengenai tarian tradisional tersebut (Gendhis, 2008).
Tabel 2.4 Daftar Nama Beberapa Tarian Tradisional di Indonesia
No Provinsi Nama dan gambar
tarian tradisional Keterangan
1 Nanggroe
Aceh Darussalam
Saman Tari saman digunakan untuk merayakan hari lahir Nabi
Muhammad SAW. Kata ‘Saman’ diambil dari nama Syech Saman (ulama besar di NAD). Syair dalam tari Saman menggunakan bahasa Arab dan Gayo. Tari ini mencerminkan pendidikan, keagamaan, sopan santun, kepahlawanan, kekompakan, kebersamaan dan merupakan media dakwah.
Tarian lain: Seudati, Pukat, Sunan Gayo, Laweut, Guel, Pho, Rebana dan Likok Pulo
2 Maluku Tari Cakalele Tari Cakalele merupakan tarian tradisional Maluku
yang dimainkan oleh sekitar 30 laki-laki dan perempuan. Para penari cakalele pria biasanya menggunakan parang dan salawaku, sedangkan penari wanita menggunakan lenso (sapu tangan). Tarian ini diiringi musik beduk (tifa), suling, dan kerang besar (fu) yang ditiup. Tarian lain: Tari Lenso dan tari perisai
3 Kalimantan
Selatan
Tari Baksa Kembang Tari Baksa Kembang digunakan untuk menyambut
tamu pada perayaan hari besar dan hajatan. Tarian ini menggambarkan putri-putri remaja cantik yang sedang bermain di tamna bunga. Tari ini diiringi lagu Ayakan dan Jangklong atau Kembang Muni.
Tarian lain: Radap Rahayu, Mantang Gandut dan Tirik
4 Jawa Barat Tari Merak Tarian ini melambangkan gerakan burung Merak.
Ditarikan oleh satu orang atau berkelompok. Penari memakai selendang yang terikat di pinggang menyerupai sayap. Penari juga mengenakan mahkota berbentuk kepala burung merak. Gerakan tangan gemulai merupakan ciri gerak tarian ini.
Tarian lain: Jaipong, tari Topeng, dan tari Rarasati
5 Sulawesi
Selatan
Pakarena Gantarang Tari Pakarena Gantarang merupakan tarian khas
Kabupaten Selayar yang berasal dari sebuah
perkampungan bernama Gantarang Lalang Bata. Tarian ini pertama kali ditampilkan pada awal abad ke-17 yang dikaitkan dengan kemunculan Tumanurung. Tarian lain: Tari Kipas
2.1.5.3.5 Alat musik tradisional
Selain tarian tradisional, alat musik tradisional juga termasuk dalam kesenian. Alat musik tradisional digunakan untuk mengiringi lagu daerah. Alat musik tradisional di Indonesia cukup banyak. Saat ini seni musik tradisional juga sudah banyak dikombinasikan dengan seni musik modern. (Pujiati & Yuliati,
2008: 77). Tabel 2.5 berikut merupakan beberapa contoh alat musik tradisional di Indonesia. Pada tabel tersebut terdapat gambar-gambar alat musik tradisional (Chaldun, 2003: vii) dan penjelasan singkat mengenai alat musik tradisional tersebut (Gendhis, 2008).
Tabel 2.5 Daftar Nama Beberapa Alat Musik Tradisional di Indonesia
No Provinsi Nama dan gambar
alat musik tradisional Keterangan
1 Sumatera
Selatan
Akordion Accordion merupakan alat musik sejenis organ. Alat
musik ini berukuran kecil dan digantungkan di leher. Pemusik memainkan tombol-tombol akord dengan jari-jari tangan kiri, sedangkan tangan kanan digunakan untuk memainkan melodi lagu yang dibawakan. Pada saat dimainkan, accordion ditarik atau didorong untuk menggerakkan udara yang ada di dalamnya.
2 Jawa
Barat
Angklung Angklung adalah alat musik yang terbuat dari
bambu, dibunyikan dengan cara digoyangkan sehingga menghasilkan bunyi yang bergetar dalam susunan nada 2,3, sampai 4 nada dalam setiap ukuran, baik besar maupun kecil. Nada alat musik angklung sebagai musik tradisi Sunda kebanyakan adalah slendro dan pelog.
Alat musik lain: Rebab dan Gamelan Sunda
3 Sulawesi
Tengah
Ganda Ganda adalah alat musik yang dimainkan dengan
cara dipukul, bentuknya menyerupai gendang tetapi lebih panjang.
Alat musik lain: Gendang dan Lado-lado
4 Maluku
Utara
Fu Fu adalah alat musik yang terbuat dari cangkang
kerang laut dan dimainkan dengan cara ditiup. Alat musik lain: Floit dan Tifa
5 D.K.I.
Jakarta
Tehyan Tehyan adalah alat musik semacam Rebab yang
berukuran kecil. Alat musik ini dimainkan dengan cara digesek.
Alat musik lain: Rebab, Tanjidor dan Rebana