IV. METODOLOGI PENELITIAN
4.6. Identifikasi Model
Identifikasi model dilakukan agar dapat menentukan metode estimasi yang akan digunakan. Identifikasi model ditentukan berdasarkan dua kondisi yaitu kondisi order dan rank (Koutsoyiannis, 1977). Kedua kondisi ini harus dipenuhi oleh persamaman agar dapat diidentifikasi. Untuk keperluan identifikasi setiap persamaan perilaku, dalam penelitian ini hanya didasarkan pada kondisi order. Kondisi order secara matematis dapat dilihat dari persamaan :
(
K−M) (
≥ G−1)
dimana :
K = Jumlah keseluruhan peubah endogendan predeterminan,
M = Jumlah peubah endogen dan peubah eksogen dalam persamaan, G = Jumlah keseluruhan persamaan (jumlah persamaan endogen), Pada kondisi rank ditentukan oleh determinan turunan persamaan struktural yang nilainya tidak sama dengan nol. Jika (K-M) = (G-1) maka persamaan dikatakan exactly identified dan jika (K-M) < (G-1) maka persamaan dikatakan under- identified. Jika (K-M) > (G-1) maka persamaan dikatakan over identified.
Jika sistem persamaan atau model secara keseluruhan adalah under-identified maka tidak satupun tehnik ekonometrika yang dapat dilakukan untuk mengestimasi parameter tersebut. Jika sistem persamaan exactly identified, maka tehnik yang digunakan adalah Indirect Least Squares (ILS), dan jika over identified maka digunakan Two Stage Least Squares (2 SLS) atau Three Stage Least Squares (3SLS).
Dalam model penelitian ini, untuk model usaha ternak sapi-jagung di Minahasa terdapat 43 persamaan yang terdiri dari 19 persamaan struktural (perilaku) dan 23 persamaan identitas. Berarti jumlah peubah endogen sebesar 43 persamaan
dan peubah eksogen sebanyak 44 peubah. Untuk model usaha ternak sapi-kelapa di Bolaang Mongondow terdapat 35 persamaan yang terdiri dari 15 persamaan struktural (perilaku) dan 20 persamaan identitas. Berarti jumlah peubah endogen sebesar 35 persamaan dan peubah eksogen sebanyak 40 peubah. Total peubah endogen dan eksogen dalam persamaan (maksimum) adalah sebesar 7 peubah, sehingga untuk usaha ternak sapi-jagung di Minahasa diperoleh K = 88, M = 7 dan G = 43. Sedangkan untuk usaha ternak sapi-kelapa di Bolaang Mongondow diperoleh K = 72, M = 7 dan G = 35, dengan demikian model yang dibangun menghasilkan persamaan over identified. Model over identified akan menghasilkan perkiraan untuk parameter persamaan struktural atau perilaku.
4.7.Validasi Model
Menurut Sitepu dan Sinaga (2006), simulasi dilakukan dengan tujuan untuk mencari model yang tepat dan bagaimana perubahan peubah endogen sebagai suatu fungsi dari satu atau lebih peubah eksogen. Kriteria ini ditentukan oleh kriteria goodness of fit statistics. Beberapa nilai-nilai ukuran statistik yang tersedia digunakan untuk menilai kemampuan suatu model dalam melakukan simulasi. Untuk mengetahui apakah suatu model cukup baik maka dilakukan validasi model, sehingga manfaat validasi model adalah untuk mengetahui apakah model yang digunakan menggambarkan informasi aktual dengan baik. Atau untuk mengetahui apakah model dapat menghasilkan nilai ramalan untuk peubah endogen yang tidak jauh berbeda dengan nilai-nilai aktualnya. Validasi model menggunakan kriteria statistik Root Mean Squares Error (RMSE), Root Mean Squares Percent Error (RMSPE),
koefisien determinasi (R2) dan Theil’s Inequality Coefficient (U). Persamaan masing- masing kriteria statistik menurut Koutsoyiannis (1977) dan Pindyck and Rubinfeld (1991), adalah :
( )
∑
(
−)
= 2 * / 1 n Si Ai RMSE( )
∑
{(
−)
}
= 2 / * / 1 * 100 n Si Ai Ai RMSPE( )
(
)
( )
∑
( )
( )
∑
( )
∑
+ − = 2 2 2 * / 1 * / 1 * / 1 i i i i A n S n A S n U dimana: n = Jumlah pengamatan, Si = Nilai simulasi contoh ke-I, Ai = Nilai aktual contoh ke-iKriteria RMSE, RMSPE dan U Theil’s, menunjukkan apakah suatu model akan semakin baik sebagai penduga atau tidak. Semakin kecil nilai RMSE, RMSPE dan U Theil’s akan semakin baik penduga model yang digunakan. Jika U=0 berarti estimasi model yang dihasilkan adalah semakin baik, dan jika U=1 maka estimasi model semakin jelek. Nilai R2 untuk membandingkan antara data actual dengan data hasil estimasi peubah endogen (Pindyck and Rubinfeld, 1991).
4.8. Simulasi Model
Kebijakan yang dilakukan pemerintah dalam rangka pengembangan peternakan khususnya pada usaha ternak sapi diantaranya pemberian bantuan dalam
bentuk ternak atau dana cash. Bantuan ini dilakukan oleh pemerintah sebagai upaya peningkatan pendapatan rumahtangga petani usaha ternak sapi-tanaman yang selanjutnya dapat meningkat kesejahteraan mereka. Pemerintah melakukan investasi peternakan untuk mengantisipasi adanya impor ternak dan produk ternak yaitu daging sapi. Namun kenyataan di lapang menunjukkan bahwa program yang dilakukan pemerintah kurang berhasil.
Masalah lain, rumahtangga petani usaha ternak sapi-tanaman menghadapi biaya transaksi dalam penjualan ternak sapi. Kasus tersebut sangat diperlukan intervensi pemerintah dalam hal bagaimana meminimalkan biaya transaksi agar penerimaan yang diperoleh dari penjualan ternak sapi lebih tinggi. Apabila biaya transaksi tidak bisa dihindari maka upaya yang dapat dilaksanakan adalah peningkatan harga output (harga sapi). Harga output dapat ditingkatkan dengan cara meningkatkan bobot minimum penjualan ternak sapi. Naiknya biaya transaksi dibarengi naiknya harga output diharapkan mempunyai dampak positif terhadap perilaku ekonomi rumahtangga petani usaha ternak sapi-tanaman. Cara lain yang dapat dilakukan pemerintah adalah perlu dipertimbangkan untuk membangun suatu lembaga yaitu koperasi agar ke depan rumahtangga dapat menjual ternaknya melalui koperasi.
Berdasarkan kondisi tersebut di atas maka dilakukan analisis simulasi biaya transaksi, harga dan upah. Analisis ini dilakukan untuk mempelajari dampak perubahan : harga ouput, harga input, upah tenaga kerja, biaya transaksi maupun dampak penurunan biaya perantara penjualan sapi terhadap perilaku ekonomi rumahtangga. Analisis perubahan tersebut akan dilakukan adalah kombinasi dengan
perubahan sebesar 10 persen. Peningkatan ini dilakukan berdasarkan kenyataan di lapangan bahwa biaya perantara penjualan sapi setiap tahunnya mengalami peningkatan dan pada saat penelitian biaya perantara penjualan sapi berkisar antara 10-20 persen. Penekanan biaya perantara dapat dilakukan dengan cara rumahtangga menjual sendiri ternaknya atau melalui koperasi. Harga ternak sapi juga mengalami peningkatan setiap tahunnya namun harga ternak sapi di Sulawesi Utara lebih murah dibanding daerah lain. Harga kopra yang diterima rumahtangga lebih murah dibanding bila rumahtangga menjual di pabrik minyak goreng. Analisis simulasi di Minahasa dan Bolaang Mongondow dilakukan dengan berbagai skenario, yaitu :
Skenario 1 (S1) = Skenario 2 (S2) = Skenario 3 (S3) = Skenario 4 (S4) = Skenario 5 (S5) = Skenario 6 (S6) =
Peningkatan biaya perantara penjualan sapi dikombinasikan dengan biaya transpor penjualan jagung/kopra, harga sapi dan harga jagung/kopra.
Peningkatan biaya perantara penjualan sapi dikombinasikan dengan biaya transpor penjualan jagung/kopra, harga rumput, harga urea dan upah tenaga kerja.
Peningkatan biaya perantara penjualan sapi dikombinasikan dengan biaya transpor penjualan jagung/kopra, harga sapi, harga jagung/kopra, harga rumput, harga urea dan upah tenaga kerja.
Penurunan biaya perantara penjualan sapi dikombinasikan dengan peningkatan biaya transpor penjualan sapi, biaya administrasi, biaya retribusi, biaya transpor penjualan jagung/kopra, harga sapi dan harga jagung/ kopra.
Penurunan biaya perantara penjualan sapi dikombinasikan dengan peningkatan biaya transpor penjualan sapi, biaya administrasi, biaya retribusi, biaya transpor penjualan jagung/kopra, harga rumput, harga urea dan upah tenaga kerja. Penurunan biaya perantara penjualan sapi dikombinasikan dengan peningkatan biaya transpor penjualan sapi, biaya administrasi, biaya retribusi, biaya transpor penjualan jagung/kopra, harga sapi, harga jagung/kopra, harga rumput,
Skenario 7 (S7) =
Skenario 8 (S8) =
harga urea dan upah tenaga kerja.
Peningkatan harga sapi dan harga jagung/kopra pada kondisi ada biaya transaksi dan kondisi tidak ada biaya transaksi rumahtangga petani peternak sapi di Minahasa dan Bolaang Mongondow.
Peningkatan harga sapi, harga jagung/kopra, harga rumput, harga urea dan upah pada kondisi ada biaya transaksi dan kondisi tidak ada biaya transaksi rumahtangga petani peternak sapi di Minahasa dan Bolaang Mongondow.
Pada bagian ini akan dibahas keadaan umum wilayah penelitian dan keadaan umum rumahtangga petani peternak sapi sebagai responden. Keadaan umum wilayah sebagai penunjang pengembangan peternakan khususnya pengembangan usaha ternak sapi sehingga perlu dipelajari dalam penelitian ini. Keadaan wilayah tersebut di Sulawesi Utara menyangkut keadaan kabupaten Minahasa dan Bolaang Mongondow. Keadaan rumahtangga yang dimaksud yaitu karakteristik dan perilaku rumahtangga. Karakteristik rumahtangga meliputi umur, lama pendidikan (baik formal maupun informal), pengalaman berusaha ternak sapi serta jumlah anggota keluarga, jumlah anak sekolah dan jumlah angkatan kerja. Perilaku rumahtangga menyangkut perilaku ekonomi yang meliputi :1) kegiatan produksi, 2) curahan kerja, 3) pendapatan; dan 4) pengeluaran untuk konsumsi rumahtangga petani peternak.