• Tidak ada hasil yang ditemukan

VI HASIL DAN PEMBAHASAN

6.3 Analisis Stakeholder Kegiatan Wisata Alam Gunung Pananjakan 1

6.3.2 Identifikasi Pengaruh dan Kepentingan Stakeholder

Stakeholder yang telah diidentifikasi perannya, diklasifikasikan berdasarkan tingkat pengaruh dan kepentingannya dalam kegiatan wisata alam di Gunung Pananjakan 1 TNBTS. Tingkat pengaruh stakeholder dilihat dari kewenangan stakeholder dalam mempengaruhi kegiatan wisata alam, baik kewenangan formal maupun non formal. Semakin tinggi kewenangan stakeholder dalam kegiatan wisata alam maka tingkat pengaruhnya semakin tinggi.

60

Selanjutnya, tingkat kepentingan stakeholder dilihat dari ketergantungan

stakeholder terhadap kegiatan wisata, semakin tinggi ketergantungan terhadap

kegiatan wisata maka tingkat kepentingan akan semakin tinggi. Hasil scoring tingkat pengaruh dan kepentingan stakeholder ditunjukkan pada Tabel 17 dan 18.

Tabel 17 Tingkat pengaruh stakeholder kegiatan wisata alam Gunung Pananjakan 1

No Nama stakeholder Tingkat pengaruh stakeholder Total skor P1 P2 P3 P4 P5 A. Pemerintah 1 BBTNBTS 4 5 3 5 5 22 2 RPTN Gunung Pananjakan 2 3 2 2 3 12 3 Desa Wonokitri 2 3 1 3 2 11 Rata-rata 3 4 2 3 3 15 B. Masyarakat 4 Paguyuban PKL 2 2 1 2 3 10 5 Paguyuban ojeg 2 3 2 2 3 12

6 LWG Bromo Tengger Sejahtera 3 4 3 4 5 19

7 Volunteer 2 1 1 2 2 8

8 Paguyuban jeep 3 3 2 2 5 15

Rata-rata 2 3 2 2 4 13

Sumber: Hasil olahan data primer (2016)

Keterangan:

P1 : Peran dan partisipasi stakeholder dalam kegiatan wisata P2 : Kekuatan stakeholder dalam interaksi terkait kegiatan wisata P3 : Kontrol dan pengawasan stakeholder dalam kegiatan wisata P4 : Kekuatan pribadi stakeholder dalam kegiatan wisata

P5 : Kapasitas atau kondisi sumberdaya yang disediakan stakeholder dalam kegiatan wisata

Tabel 18 Tingkat kepentingan stakeholder kegiatan wisata alam Gunung Pananjakan 1

No Nama stakeholder Tingkat kepentingan stakeholder Total skor K1 K2 K3 K4 K5 A. Pemerintah 1 BBTNBTS 5 4 5 3 4 21 2 RPTN Gunung Pananjakan 4 3 3 3 3 16 3 Desa Wonokitri 1 2 2 1 3 9 Rata-rata 3 3 3 2 3 15 B. Masyarakat 4 Paguyuban PKL 3 3 3 4 4 17 5 Paguyuban ojeg 2 3 2 2 3 12

6 LWG Bromo Tengger Sejahtera 4 4 3 3 3 17

7 Volunteer 2 3 3 4 3 15

8 Paguyuban jeep 3 3 3 3 3 15

Rata-rata 3 3 3 3 3 15

61

Keterangan:

K1 : Keterlibatan stakeholder dalam kegiatan wisata K2 : Manfaat kegiatan wisata bagi stakeholder K3 : Kewenangan stakeholder dalam kegiatan wisata K4 : Curahan waktu stakeholder dalam kegiatan wisata

K5 : Tingkat ketergantungan stakeholder dalam kegiatan wisata

Hasil klasifikasi berdasarkan tingkat pengaruh dan kepentingan tiap

stakeholder selanjutnya ditampilkan dalam bentuk plot aktor grid. Plot aktor grid

terdiri atas empat kuadran, yaitu (1) subject pada kuadran I, merupakan

stakeholder yang memiliki tingkat pengaruh rendah dan tingkat kepentingan

tinggi, (2) players pada kuadran II, merupakan stakeholder yang memiliki tingkat pengaruh dan kepentingan tinggi, (3) bystanders pada kuadran III, merupakan

stakeholder yang memiliki tingkat pengaruh dan kepentingan rendah, dan (4) actors pada kuadran IV, merupakan stakeholder yang memiliki tingkat pengaruh

tinggi sedangkan tingkat kepentingannya rendah. Keragaan stakeholder berdasarkan tingkat pengaruh dan kepentingannya terhadap kegiatan wisata di Gunung Pananjakan 1 dapat dilihat pada Gambar 10.

Sumber: Hasil olahan data primer (2016)

Gambar 10 Plot pengaruh dan kepentingan stakeholder kegiatan wisata alam di Gunung Pananjakan 1

Berdasarkan Gambar 10, dapat diketahui klasifikasi stakeholder kegiatan wisata di Gunung Pananjakan 1 sebagai berikut.

BBTNBTS RPTN Paguyuban jeep Paguyuban PKL Paguyuban ojeg LWG Volunteer Desa Wonokitri 0 15.5 31 0 12 24 K epent ing a n Pengaruh Kuadran II Players Kuadran I Subject Kuadran III Bystanders Kuadran IV Actors

62

1. Subject

Subject merupakan stakeholder yang berada di Kuadran I dan memiliki

kepentingan tinggi pada kegiatan wisata namun pengaruhnya rendah. Stakeholder yang berada pada kuadran I adalah paguyuban PKL dan RPTN Gunung Pananjakan. Berikut ini identifikasi kepentingan dan pengaruh masing-masing

stakeholder kegiatan wisata Gunung Pananjakan 1.

1) Paguyuban Pedagang Kaki Lima (PKL)

Paguyuban PKL merupakan kelompok masyarakat yang memiliki usaha penyediaan barang atau jasa wisata. Selain terlibat secara langsung dalam pelaksanaan kegiatan wisata, paguyuban PKL juga terlibat dalam pengawasan kegiatan wisata khususnya kegiatan yang dilakukan oleh pengunjung selama di dalam kawasan. Tingginya tingkat kepentingan paguyuban PKL dalam kegiatan wisata terjadi karena kegiatan wisata memberikan manfaat ekonomi bagi setiap pelaku usaha. Manfaat ekonomi tersebut berupa lapangan kerja sampingan dan penerimaan wisata.

BBTNBTS telah menetapkan aturan yang harus dipatuhi oleh anggota paguyuban PKL, yaitu jumlah bangunan PKL maksimal sebanyak 20 kios dan bersifat semi permanen. Hal tersebut sesuai dengan ketentuan taman nasional sebagai kawasan konservasi yaitu tidak melakukan perubahan pada kawasan taman nasional. Tingkat ketergantungan paguyuban PKL pada kegiatan wisata cukup tinggi karena 80% penerimaan dari kegiatan wisata menjadi sumber pendapatan total. Lebih lanjut lagi, curahan waktu yang diluangkan oleh pelaku usaha juga menjadi prioritas utama terutama saat musim liburan.

Berbeda dengan tingkat kepentingan, tingkat pengaruh paguyuban PKL memiliki skor rendah. Hal tersebut terjadi karena paguyuban PKL tidak memiliki kewenangan dalam membuat atau mempengaruhi setiap kebijakan terkait kegiatan wisata. Tata tertib yang dimiliki oleh paguyuban hanya mampu mengikat anggota saja, sedangkan untuk lembaga lain tidak dapat dipengaruhi. Paguyuban PKL memiliki agenda rutin untuk membahas kegiatan wisata di Gunung Pananjakan 1, hal ini dilakukan untuk memantau setiap kegiatan pelaku usaha dan memberikan informasi terbaru terkait kegiatan wisata. Saat ini, paguyuban PKL tidak memiliki kewenangan dalam memberikan sanksi bagi anggotanya yang melakukan

63

pelanggaran. Hal tersebut terjadi karena setiap pelanggaran terkait kegiatan wisata ditindak langsung oleh pihak RPTN Gunung Pananjakan. Meskipun demikian, kapasitas sumberdaya yang dimiliki oleh paguyuban cukup memadai terutama sumber daya manusia dan fasilitas penunjang kegiatan wisata.

2) Resort Pengelolaan Taman Nasional (RPTN) Gunung Pananjakan

RPTN Gunung Pananjakan berada di bawah BBTNBTS dengan tingkat pengaruh relatif lebih rendah dan kepentingan cukup tinggi. Keterlibatan RPTN Gunung Pananjakan antara lain pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan kegiatan wisata. Pelaksanaan kegiatan wisata oleh RPTN dibantu oleh tenaga kerja pendukung retribusi tiket, tenaga upah, dan volunteer. Hal ini memberikan kesempatan bagi masyarakat lokal untuk terlibat dalam kegiatan wisata karena kegiatan wisata membuka lapangan kerja baru dan mampu memberikan penerimaan tambahan bagi masyarakat. Selain memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat yang bekerja di RPTN, kegiatan wisata juga memberikan manfaat berupa PNBP yang cukup tinggi. Pada tahun 2015, tercatat bahwa RPTN Gunung Pananjakan memberikan kontribusi PNBP sebesar Rp 4,129,672,000.00. Ketergantungan RPTN terhadap kegiatan wisata relatif sedang (berkisar antara 41-60%), karena kegiatan wisata bukan merupakan satu-satunya kegiatan yang menjadi perhatian RPTN. Curahan waktu yang diberikan oleh RPTN untuk kegiatan wisata cukup menjadi prioritas utama meskipun hampir semua staf dan tenaga pendukung memiliki pekerjaan utama di bidang pertanian.

RPTN memiliki pengaruh relatif rendah dalam kegiatan wisata karena semua kegiatan berdasarkan instruksi dan ketentuan dari BBTNBTS. Namun, RPTN memiliki kewenangan untuk mengadakan forum dengan stakeholder lainnya terkait kegiatan wisata. Forum tersebut biasanya membahas mengenai informasi, pelatihan peningkatan kapasitas, maupun diskusi mengenai perubahan aturan terkait kegiatan wisata. Perubahan terkait kegiatan wisata terjadi karena harus menyesuaikan dengan kondisi masyarakat sekitar kawasan. Selain itu, perubahan tersebut harus sepengetahuan BBTNBTS dan disetujui terlebih dahulu.

Kapasitas yang dimiliki oleh RPTN kurang memadai karena anggaran yang disediakan oleh pihak BBTNBTS seringkali tidak memenuhi kebutuhan RPTN, ditambah lagi dengan sumber daya manusia yang kurang memadai (hanya

64

5 staf) dibandingkan dengan tugas dan program yang harus dilaksanakan. Meski demikian, fasilitas dan informasi terkait kegiatan wisata di RPTN Gunung Pananjakan sudah mampu memenuhi kebutuhan wisata di Gunung Pananjakan 1. 2. Players

Stakeholder yang memiliki tingkat kepentingan dan pengaruh tinggi

berada di kuadran II terdiri atas dua stakeholder, yaitu Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BBTNBTS) dan Local Working Group (LWG) Bromo Tengger Sejahtera. Kedua stakeholder tersebut memiliki keterlibatan cukup besar dalam kegiatan wisata di Gunung Pananjakan 1, yaitu dalam perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, atupun pengawasan kegiatan wisata di Gunung Pananjakan 1. Identifikasi pengaruh dan kepentingan masing-masing

stakeholder pada kuadran II adalah sebagai berikut.

1) Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BBTNBTS)

Bentuk keterlibatan BBTNBTS dalam kegiatan wisata berlaku untuk semua lokasi wisata di TNBTS, yaitu dalam kegiatan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan kegiatan wisata. Kegiatan wisata merupakan salah satu upaya pemanfaatan sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya agar mampu memberikan manfaat, yaitu menghasilkan PNBP BBTNBTS dengan persentase kontribusi lebih dari 90% setiap tahunnya (BBTNBTS 2015a), menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat sekitar kawasan seperti usaha kios makanan dan cinderamata, penyewaan jeep, dan ojeg, serta membuka akses bagi masyarakat sekitar untuk ikut berperan serta dalam kegiatan pengelolaan kawasan.

Sebagai pelaksana teknis, BBTNBTS memiliki kewenangan dalam melakukan pengamanan kegiatan wisata, memberikan informasi dan data terkait kegiatan wisata, melakukan pelayanan perizinan masuk kawasan, serta meningkatkan sarana dan prasarana penunjang kegiatan wisata. Program yang dilaksanakan di kawasan sesuai dengan tugas pokok dan fungsi kawasan (tupoksi) taman nasional. Ketergantungan BBTNBTS terhadap kegiatan wisata terlihat dari besar kontribusi PNBP kegiatan wisata setiap tahunnya. Selain itu, berdasarkan hasil wawancara dengan key person diketahui curahan waktu dalam kegiatan wisata menjadi prioritas (sebesar 80%) bagi BBTNBTS. Hal ini ditunjukkan dari

65

kegiatan wisata yang selalu buka setiap hari, mulai pukul 02.00 WIB sampai 17.00 WIB. Petugas yang berada di lapangan memiliki jadwal piket sehingga kegiatan pengawasan dapat dilakukan 24 jam sehari.

Selain memiliki tingkat kepentingan tinggi, BBTNBTS memiliki pengaruh yang tinggi dalam kegiatan wisata. Kewenangan BBTNBTS dalam kegiatan wisata, yaitu mengadakan forum untuk membahas opini atau pendapat terkait kegiatan wisata, mengadakan kerjasama terkait kegiatan wisata, membuat promosi kegiatan wisata melalui website atau pameran, serta mengubah aturan kegiatan wisata. Kebijakan yang dikeluarkan BBTNBTS mampu mempengaruhi

stakeholder lain dalam kegiatan wisata, seperti pelaku usaha wisata. Bentuk

kebijakan yang dikeluarkan antara lain pengaturan transportasi, penerapan tarif tiket masuk, pemberian izin masuk kawasan, dan pemberian izin usaha wisata. Setiap pelanggaran memiliki sanksi sesuai perundang-undangan yang berlaku, apabila pelanggaran dinilai berat maka BBTNBTS menyerahkannya ke pihak berwenang. Berdasarkan data di BBTNBTS, pelanggaran pada kegiatan wisata jarang terjadi dan jika ada hanya pelanggaran ringan seperti vandalisme.

Sebagai stakeholder yang memiliki pengaruh tinggi, BBTNBTS memiliki kapasitas sumberdaya yang memadai untuk mendukung kegiatan wisata, baik sumber daya manusia yang terlihat pada petugas di lapangan yang memiliki keahlian sesuai bidangnya, anggaran yang mencukupi setiap tahunnya, fasilitas penunjang kegiatan wisata, serta informasi terkait kegiatan wisata. Selain itu, BBTNBTS juga memiliki program rutin dalam membantu pelaksanaan kegiatan wisata yang lebih baik. Salah satu program rutin yang dilaksanakan berupa pelatihan dan peningkatan kapasitas pelaku jasa wisata serta pemberian bantuan fisik untuk menunjang kebutuhan wisata seperti bantuan pemanas air di Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo.

2) Local Working Group (LWG) Bromo Tengger Sejahtera

Bentuk keterlibatan LWG Bromo Tengger Sejahtera dalam kegiatan wisata alam Gunung Pananjakan 1, yaitu dalam pengorganisasian paguyuban pelaku usaha, pelaksanaan usaha terkait kegiatan wisata oleh anggota paguyuban, serta pengawasan kegiatan paguyuban pelaku usaha jasa wisata. Tingkat kepentingan LWG lebih rendah dibandingkan BBTNBTS karena LWG tidak

66

terlibat dalam perencanaan kegiatan wisata. Manfaat kegiatan wisata bagi LWG dirasakan oleh setiap anggotanya antara lain sebagai pekerjaan sampingan, memberikan penerimaan tambahan, dan mendorong pembangunan desa.

LWG merupakan forum komunikasi masyarakat yang ditunjuk oleh BBTNBTS untuk mewadahi paguyuban pelaku usaha jasa wisata di Gunung Pananjakan. Kewenangan yang diberikan kepada LWG berupa pemberiaan rekomendasi bagi setiap pelaku usaha baru yang ingin membuka jasa wisata di Gunung Pananjakan 1. Selain itu, LWG juga berperan dalam memberikan informasi terkait kegiatan wisata dan memberikan pelatihan peningkatan kapasitas paguyuban pelaku usaha. Ketergantungan LWG terhadap kegiatan wisata bersifat sedang karena sebagian besar anggota LWG menjadikan usaha di bidang wisata sebagai usaha sampingan (usaha utama di bidang pertanian). Curahan waktu yang diberikan untuk kegiatan wisata hanya 60% setiap harinya.

Tingkat pengaruh yang dimiliki LWG lebih rendah dibandingkan dengan BBTNBTS. Meskipun demikian, LWG mampu mempengaruhi lembaga yang ada dibawahnya, yaitu paguyuban-paguyuban pelaku usaha jasa wisata di Gunung Pananjakan 1. Bentuk pengaruh LWG yaitu adanya tata tertib yang harus dipatuhi oleh setiap paguyuban dan apabila terjadi pelanggaran maka akan diberikan sanksi sesuai jenis pelanggaran. Untuk menunjang kegiatan wisata, LWG mengadakan forum rutin dengan setiap paguyuban untuk membahas kerjasama dan informasi terkait kegiatan wisata. Selain itu, LWG memiliki kapasitas yang memadai baik dari segi anggaran dana, sumber daya manusia, fasilitas, maupun informasi. 3. Bystanders

Bystanders merupakan stakeholder dengan tingkat pengaruh dan

kepentingan rendah dan berada pada kuadran III. Stakeholder yang berada pada kuadran ini ada 3, yaitu volunteer, Desa Wonokitri, dan paguyuban ojeg. Berikut ini identifikasi tingkat kepentingan dan pengaruh masing-masing stakeholder. 1) Volunteer

Volunteer berperan dalam mendistribusikan tiket masuk kawasan, menjaga

keamanan pengunjung dan kawasan, menjaga kebersihan sarana dan prasarana pendukung wisata, menjaga kebersihan kawasan, melindungi dan mengawasi aktivitas pengunjung, serta melayani kebutuhan wisata bagi pengunjung.

67

Keterlibatan dalam kegiatan wisata menjadikan volunteer memiliki kepentingan terhadap kegiatan wisata. Kegiatan wisata telah memberikan mereka kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan dan memberikan penerimaan setiap bulannya. Meski demikian, tingkat ketergantungan volunteer terhadap kegiatan wisata masih bersifat sedang karena pendapatan dari kegiatan wisata ini sama besarnya dengan pendapatan dari kegiatan bertani. Curahan waktu untuk kegiatan wisata menjadi prioritas karena rata-rata setiap volunteer menghabiskan waktu 17 jam per hari dalam menunjang kegiatan wisata.

Pengaruh yang dimiliki volunteer juga relatif rendah karena tidak memiliki kewenangan dalam proses pengambilan keputusan maupun dalam mempengaruhi

stakeholder wisata lainnya. Meski demikian, volunteer memiliki kapasitas yang

memadai terkait dengan informasi mengenai kawasan dan kegiatan wisata. Meskipun tidak memiliki keahlian khusus seperti pendidikan tinggi, volunteer memberikan kontribusi tinggi dalam membantu memenuhi pelayanan kebutuhan wisata di Gunung Pananjakan 1.

2) Desa Wonokitri

Desa Wonokitri merupakan desa yang berbatasan langsung dengan pintu masuk kawasan TNBTS, khususnya Gunung Pananjakan. Desa Wonokitri tidak memiliki keterlibatan langsung dalam pelaksanaan kegiatan wisata di TNBTS. Hal ini terjadi karena segala bentuk penyediaan barang dan jasa wisata diserahkan sepenuhnya kepada masyarakat. Kondisi tersebut menyebabkan Desa Wonokitri memiliki pengaruh dan kepentingan rendah dalam kegiatan wisata di Gunung Pananjakan 1.

Kontribusi Desa Wonokitri dalam menyediakan lahan parkir terpusat untuk kendaraan pribadi menjadikan Desa Wonokitri termasuk ke dalam

stakeholder wisata. Bentuk keterlibatan tidak langsung ini tetap memberikan

manfaat bagi Desa Wonokitri yaitu penerimaan biaya sewa lahan yang diberikan oleh pihak ketiga selaku pengelola lahan parkir. Adanya sewa lahan ini memberikan kontribusi pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) sehingga pembangunan Desa Wonokitri dapat dilaksanakan. Pelaksanaan kegiatan wisata oleh Desa Wonokitri tidak menjadi prioritas karena pengelolaan lahan parkir sepenuhnya dilakukan oleh pihak ketiga. Meski demikian, ketergantungan

68

terhadap kegiatan wisata bersifat sedang (41-60%) karena bukan merupakan sumber utama APBDes.

3) Paguyuban Ojeg

Paguyuban ojeg merupakan stakeholder yang memiliki tingkat pengaruh sedang (antara rendah dan tinggi) dalam kegiatan wisata. Pengaruh sedang yang dimiliki oleh paguyuban ojeg terhadap anggotanya terjadi karena kapasitas yang dimiliki oleh paguyuban ojeg cukup memadai, antara lain terkait sumber daya manusia dan fasilitas kegiatan wisata. Tata tertib yang diterapkan untuk anggota paguyuban mampu mengatur kegiatan masing-masing ojeg yang beroperasi, namun belum ada aturan terkait tarif bersama. Apabila terjadi pelanggaran tata tertib, pelanggar akan dikenakan sanksi administrasi sesuai dengan kesepakatan pada forum rutin paguyuban.

Kepentingan paguyuban ojeg terhadap kegiatan wisata bersifat rendah karena sebagian besar anggota paguyuban hanya menjadikan ojeg sebagai pekerjaan sampingan. Curahan waktu yang diberikan dalam kegiatan wisata sebagian besar anggota paguyuban hanya 9 jam per hari sehingga kontribusi kegiatan wisata dalam memberikan tambahan penerimaan tidak mencapai 50% dari penerimaan total anggota paguyuban.

4. Actors

Actors merupakan stakeholder yang berada di kuadran IV dan memiliki

tingkat pengaruh tinggi namun tingkat kepentingannya rendah dalam kegiatan wisata. Stakeholder pada kuadran IV ini yaitu paguyuban jeep. Paguyuban jeep memiliki tingkat pengaruh dan kepentingan lebih tinggi dibandingkan dengan paguyuban ojeg. Keterlibatan paguyuban jeep dalam kegiatan wisata berupa perencanaan paket kegiatan wisata yang dapat dipilih oleh pengunjung dan pelaksanaan kegiatan wisata berupa penyediaan jasa penyewaan jeep. Manfaat dari kegiatan wisata ada dua, yaitu menciptakan lapangan pekerjaan dan memberikan penerimaan bagi anggota paguyuban.

Selain menyediakan jasa angkutan wisata, paguyuban juga memiliki wewenang untuk memberikan layanan perizinan dan memberikan informasi terkait kegiatan wisata. Bentuk layanan perizinan yang disediakan adalah perizinan untuk memasuki kawasan, hal ini dapat terjadi karena paguyuban jeep

69

sudah menjalin kerjasama dengan beberapa agen wisata sehingga tiket masuk kawasan untuk wisatawan dan kendaraan dapat diurus oleh koordinator paguyuban. Tingkat ketergantungan paguyuban jeep terhadap kegiatan wisata bernilai sedang karena pendapatan wisata hanya berkontribusi antara 41-60% terhadap pendapatan total. Meskipun demikian, penggunaan jeep sebagai angkutan khusus di dalam kawasan memberikan pendapatan relatif tinggi bagi anggota paguyuban dibandingkan angkutan lainnya (ojeg).

Identifikasi tingkat pengaruh paguyuban jeep dalam kegiatan wisata menunjukkan pengaruh paguyuban jeep cukup tinggi, namun hanya mampu mempengaruhi anggota paguyuban saja. Tata tertib yang telah dibuat serta perannya yang besar dalam penyediaan angkutan wisata menjadikan pelaksanaan kegiatan wisata dapat terlaksana dengan tertib. Untuk meningkatkan kenyamanan dan kapasitas pelayanan wisata, paguyuban mengadakan forum rutin dan kerjasama dengan stakeholder lainnya. Penerapan tata tertib yang sudah baik mampu mengurangi pelanggaran yang biasanya terjadi, misalnya pemberian tarif yang tidak sesuai dengan ketentuan. Bentuk sanksi yang diberikan berupa sanksi administrasi, yaitu pengurangan jumlah penyewaan jeep. Tingginya pengaruh paguyuban dalam kegiatan wisata juga dipengaruhi oleh kapasitas yang dimiliki paguyuban, yaitu anggaran memadai dalam menyediakan layanan jasa wisata, anggota paguyuban memiliki keahlian dan menguasai kondisi jalan kawasan, fasilitas jeep yang mencukupi, dan informasi memadai terkait kegiatan wisata. 6.3.3 Kondisi Pemetaan Stakeholder Terkait Manfaat Ekonomi dan Ekologi

Kegiatan Wisata Alam di Gunung Pananjakan 1

Kondisi pemetaan stakeholder terkait manfaat ekonomi dan ekologi kegiatan wisata alam di Gunung Pananjakan 1 merupakan hasil estimasi manfaat ekonomi dan analisis stakeholder kegiatan wisata alam. Pemetaan stakeholder dilakukan untuk mencapai hasil luaran yang diharapkan dari penelitian, yaitu terciptanya tata kelola kegiatan wisata alam yang mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar dan mampu menjaga kelestarian TNBTS.

Hasil analisis stakeholder menunjukkan BBTNBTS sudah memiliki posisi yang tepat dalam kegiatan wisata alam. BBTNBTS memiliki pengaruh tinggi kepada stakeholder lain yang terlibat dalam kegiatan wisata alam. Tingkat

70

kepentingan BBTNBTS yang tinggi terhadap kegiatan wisata alam menunjukkan BBTNBTS memperhatikan keberlanjutan kegiatan wisata alam yang mampu memberikan manfaat ekonomi dan ekologi. Selanjutnya, posisi LWG Bromo Tengger Sejahtera sudah tepat yakni di bawah BBTNBTS. Meskipun memiliki tingkat kepentingan dan pengaruh yang tinggi, LWG hanya berperan sebagai perantara antara masyarakat dan BBTNBTS. Pengaruh yang tinggi diberikan kepada paguyuban-paguyuban yang berada di bawahnya agar melaksanakan kegiatan wisata yang sesuai tata tertib yang disepakati antara BBTNBTS dan LWG. Adapun, tingkat kepentingan yang tinggi mendorong LWG untuk terus meningkatkan kapasitas anggota agar manfaat ekonomi dan ekologi dapat berjalan secara seimbang.

Selanjutnya, posisi RPTN Gunung Pananjakan sebaiknya lebih tinggi dibandingkan dengan Paguyuban PKL. Meskipun hanya menjalankan instruksi dari BBTNBTS, RPTN Gunung Pananjakan juga memberikan kontribusi dalam mendapatkan PNBP wisata yang merupakan pendapatan utama BBTNBTS. Desa Wonokitri juga perlu mendapatkan posisi yang lebih tinggi dibandingkan

volunteer. Hal ini perlu dilakukan agar desa sekitar kawasan TNBTS memiliki

tanggung jawab dalam menjaga keberlanjutan kegiatan wisata alam yang selaras dengan kelestarian kawasan. Lebih lanjut lagi, ada baiknya semua paguyuban yang terlibat berada pada Kuadran IV dengan tingkat kepentingan yang mendekati tinggi. Hal ini dilakukan agar setiap paguyuban mampu memberikan pengaruh bagi anggotanya untuk melaksanakan kegiatan wisata yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Selain itu, tingkat kepentingan yang mendekati tinggi dapat menjadi dorongan agar anggota paguyuban ikut berpartisipasi dalam kegiatan wisata alam yang memberikan manfaat ekonomi dan ekologi.

Selanjutnya dibuat skema tata kelola kegiatan wisata alam yang mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar dan mampu menjaga kelestarian TNBTS. Skema pada Gambar 11 menunjukkan hubungan instruksi, hubungan koordinasi, dan hubungan aliran dana antar stakeholder kegiatan wisata alam Gunung Pananjakan 1.

71

Sumber: Hasil olahan data primer (2016)

Gambar 11 Skema tata kelola kegiatan wisata alam Gunung Pananjakan 1 Gambar 11 menunjukkan hubungan instruksi, hubungan koordinasi, dan hubungan aliran dana antar stakeholder kegiatan wisata alam di Gunung Pananjakan 1. Hubungan tersebut selanjutnya dijelaskan sebagai berikut.

1. Hubungan Instruksi

Hubungan instruksi menunjukkan alur pemberian instruksi terkait kegiatan wisata alam di Gunung Pananjakan 1. Pada mulanya instruksi diberikan oleh pusat (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan) ke BBTNBTS untuk menjalankan program yang sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan.

Tiket

masuk Sewa jeep

Sewa lahan Pengeluaran wisata Pengeluaran wisata Upah Kas P en g el u ar an w isat a A P B N Bidang PTN Wilayah I Seksi PTN Wilayah I B ia y a p ar k ir Upah A P B N P N B P LWG Bromo Tengger Sejahtera BBTNBTS RPTN Gunung Pananjakan Paguyuban jeep Paguyuban ojeg Paguyuban PKL Kelompok pejabat fungsional (Polhut/PEH)

Pengelola lahan parkir