DAFTAR ISTILAH
V. PENDEKATAN SISTEM
5.3. Identifikasi Sistem
Dalam memodelkan sistem penunjang pengambilan keputusan manajemen risiko rantai pasok produk/komoditas jagung perlu dikenali hubungan atau pengaruh antara kebutuhan pelaku dengan permasalahan yang telah teridentifikasi.
Identifikasi sistem merupakan mata rantai hubungan antara pernyataan-pernyataan kebutuhan setiap pelaku dalam sistem dengan permasalahan yang telah diformulasikan. Identifikasi sistem dapat digambarkan dalam bentuk diagram sebab akibat dan diagram input output.
Diagram lingkar sebab akibat pada prinsipnya menggambarkan hubungan antara komponen di dalam sistem manajemen risiko rantai pasok produk agroindustri. Hubungan antar komponen tersebut dapat bernilai positif atau negatif, dapat berlangsung searah dan dapat juga bersifat timbal balik. Diagram sebab akibat ini digunakan sebagai dasar pengembangan model.
Adanya manajemen risiko rantai pasok produk agroindustri diharapkan dapat mengantisipasi terjadinya risiko secara preventif dalam hal penanganan risiko di setiap pelaku rantai pasok dan setiap tahapan jaringan rantai pasok untuk meningkatkan kualitas produk dan menjaga kontinuitas pasokan bahan baku.
Meningkatnya kualitas bahan baku produk agroindustri akan berkontribusi terhadap peningkatan harga produk dan kualitas produk serta kepuasan konsumen, sehingga dapat terjalin kesinambungan siklus pasokan yang kontinyu dengan didukung penyediaan bibit unggul bagi petani sehingga dapat meningkatkan produktivitas dan produksi bahan baku agroindustri. Peningkatan produktivitas dapat berkontribusi terhadap peningkatan taraf hidup dan kesejahteraan petani sehingga petani lebih bergairah dalam penyediaan bahan baku serta memperlancar proses pengembalian pinjaman modal terhadap lembaga keuangan.
Manajemen risiko di setiap tingkatan rantai pasok dapat digunakan untuk mengidentifikasi, menganalisa, memprioritaskan, dan menangani risiko yang mungkin terjadi pada pelaku di setiap tingkatan rantai pasok sehingga dapat bertindak dengan lebih efektif dengan mempertimbangkan segala kemungkinan
terjadinya risiko untuk menjaga kualitas dan kontinuitas pasokan. Kesadaran akan pentingnya manajemen risiko tersebut juga dapat mengurangi terjadinya distorsi informasi antar pelaku dalam rantai pasok, sehingga setiap pelaku akan bertindak dengan tingkat akurasi perkiraan kebutuhan yang lebih efektif dan efisien dengan tersedianya informasi yang seimbang di antara pelaku rantai pasok.
Ketersediaan informasi tersebut perlu ditunjang oleh sarana infrastruktur dan peran pemerintah yang lebih nyata dalam memberikan jaminan usaha yang lebih kondusif sehingga tercipta usaha agroindustri baru yang dapat menyerap tenaga kerja dan meningkatkan pendapatan asli daerah serta devisa negara.
Manajemen risiko rantai pasok produk agroindustri diharapkan dapat mengatasi kesenjangan risiko yang tinggi antar pelaku rantai pasok dengan konsep penyeimbangan atau pendistribusian risiko antara pelaku rantai pasok sehingga suatu risiko tidak ditanggung oleh suatu pihak dalam rantai pasok tetapi ditanggung bersama guna meningkatkan kinerja rantai pasok dalam hal peningkatan kualitas dan kontinuitas pasokan dengan pendekatan menjaga kestabilan harga bahan baku. Dengan konsep harga yang stabil akan memudahkan semua pihak dalam memperkirakan tindakan yang tepat dalam perencanaan usaha sehingga kepastian usaha tercapai dan jaminan kontinuitas agroindustri.
Konsep penyeimbangan risiko dapat dilakukan dengan pendekatan menajemen pengambilan keputusan secara bersama dengan konsep stakeholder dialog yang saling menguntungkan dalam menentukan harga bahan baku di tingkat petani yang menguntungkan petani dan tidak merugikan pihak lain seperti konsumen yaitu industri pakan ternak dan peternak. Pendekatan ini bertujuan untuk mempertahankan kontinuitas pasokan dan meningkatkan kualitas bahan baku dengan menyeimbangkan kepentingan yang berbeda pada setiap tingkatan rantai pasok sebagai contoh petani menginginkan harga yang setinggi-tingginya dengan kualitas yang rendah tetapi pihak lain penginginkan harga yang serendah-rendahnya dengan kualitas yang tinggi.
Penyeimbangan risiko tersebut dapat dilakukan dengan terlebih dahulu mengetahui risiko dan faktor risiko yang berpengaruh terhadap setiap tingkatan pelaku sehingga setiap pelaku mempunyai konsep yang sama dalam
mengantisipasi risiko yang sesuai dengan kepentingannya masing-masing. Faktor risiko tersebut perlu diidentifikasi dan dianalisa guna menentukan prioritas tindakan yang tepat sesuai dengan permasalahan yang dihadapi sehingga mendapatkan solusi permasalahan yang efektif.
Manajemen risiko rantai pasok dapat digambarkan dengan diagram hubungan sebab akibat yang relatif kompleks antar elemen yang perlu dikelola secara terencana dan tepat sasaran guna tercipta suatu model manajemen risiko rantai pasok yang efektif. Diagram lingkar sebab akibat tersebut dapat diperlihatkan pada Gambar 19.
Gambar 19 Diagram lingkar sebab akibat
Diagram input output menggambarkan masukan (input) dan keluaran (output) dari model yang akan dikembangkan. Input sistem terbagi menjadi dua yaitu input yang berasal dari luar sistem atau input lingkungan dan input yang berasal dari dalam sistem. Input dari dalam sistem merupakan perubah yang
Pasokan
diperlukan oleh sistem dalam melaksanakan fungsinya sesuai dengan keluaran yang dikehendaki.
Input dari dalam sistem terdiri dari input terkendali dan input tidak terkendali. Input terkendali dapat meliputi aspek manusia, bahan atau material, energi, modal dan informasi. Input terkendali ini dapat bervariasi selama pengoperasian sistem untuk mencapai kinerja sistem atau output yang dikehendaki. Input tidak terkendali tidak cukup penting peranannya dalam mengubah kinerja sistem.
Input terkendali dari model yang akan dikembangkan meliputi nilai investasi, tingkatan teknologi, sistem distribusi, sistem kemitraan, jenis produk dan bahan baku dan jenis risiko dan faktor risiko. Pengendalian input terkendali menjadi titik kritis keberhasilan sistem dalam mencapai output yang diinginkan sekaligus untuk mengurangi output yang tidak dikehendaki. Input ini menjadi perhatian utama karena input terkendali merupakan input yang dapat dikelola agar keluaran sistem sesuai dengan yang diharapkan.
Input tidak terkendali dalam sistem meliputi persaingan usaha, tingkat suku bunga, nilai tukar rupiah, permintaan dan selera konsumen serta harga bahan baku dan produk. Input tidak terkendali ini juga mempengaruhi sistem secara keseluruhan.
Output dari sistem terdiri dari dua jenis yaitu output yang dikehendaki dan output yang tidak dikehendaki. Output yang dikehendaki umumnya dihasilkan dari hasil pemenuhan kebutuhan yang ditentukan secara spesifik pada saat dilakukan analisis kebutuhan sistem. Output yang dikehendaki dari sistem yang dimodelkan meliputi kontinuitas pasokan bahan baku, peningkatan kualitas produk, peningkatan produktivitas, peningkatan kesejahteraan petani, dan menurunnya ketergantungan impor.
Output yang tidak dikehendaki merupakan hasil samping atau dampak yang ditimbulkan secara bersama-sama dengan output yang dikehendaki. Output tidak dikehendaki meliputi minat investasi agroindustri turun, pasokan bahan baku tidak pasti, biaya produksi meningkat, fluktuasi harga, kridit usaha macet, dan kualitas tidak terpenuhi. Output tidak dikehendaki ini perlu dikendalikan melalui manajemen pengendalian terhadap input yang terkendali sehingga kinerja sistem
dapat berjalan seperti yang diharapkan. Diagram input output dari manajemen risiko rantai pasok produk agroindustri dapat diperlihatkan pada Gambar 20.
MANAJEMEN RISIKO RANTAI PASOK PRODUK AGROINDUSTRI
MANAJEMEN PENGENDALIAN INPUT LINGKUNGAN
• Globalisasi ekonomi
• Kondisi sosial budaya
• Peraturan pemerintah
• Kondisi politik INPUT TIDAK TERKENDALI
• Persaingan usaha
• Tingkat suku bunga
• Nilai tukar rupiah
• Harga bahan baku dan produk
• Permintaan dan selera konsumen
OUTPUT YANG DIKEHENDAKI
• Kontinuitas pasokan bahan baku
• Penigkatan kualitas
• Peningkatan kesejahteraan petani
• Peningkatan produktifitas
• Menurunnya ketergantungan impor
OUTPUT TIDAK DIKEHENDAKI
• Minat investasi agroindustri turun
• Biaya produksi meningkat
• Pasokan bahan baku tidak pasti
• Fluktuasi harga
• Kedit usaha macet
• Kualitas tidak terpenuhi INPUT TERKENDALI
• Nilai investasi
• Tingkatan risiko dan faktornya
• Sistem distribusi
• Sistem kemitraan
• Jenis produk dan bahan baku
Gambar 20 Diagram input output 5.4. Analisis Kebutuhan Sistem
Rantai pasok dapat dipandang sebagai sebuah sistem yang mempunyai elemen-elemen yang teratur, saling berkaitan dan mempunyai tujuan tertentu.
Rantai pasok produk/komoditas jagung mempunyai elemen pelaku yang terlibat langsung dalam tingkatan rantai pasok yaitu petani, pengumpul, agroindustri, distributor dan konsumen. Disamping itu terdapat juga elemen pelaku yang tidak terlibat langsung dalam rantai pasok yaitu pemerintah, lembaga keuangan atau bank dan pemangku kepentingan lain sebagai lingkungan dari sistem. Setiap pelaku dalam rantai pasok tersebut mempunyai tujuan dan kepentingan masing-masing yang kadang-kadang bersifat konflik. Untuk mengatasi dan mengelola
konflik kepentingan tersebut perlu adanya suatu sistem manajemen risiko, sehingga sistem rantai pasok dapat terkendali dalam usaha mencapai tujuan.
Hasil analisis kebutuhan sistem penunjang pengambilan keputusan manajemen risiko rantai pasok dengan pendekatan konsep sistem berorientasi obyek dapat diperlihatkan pada Gambar 21.
Gambar 21 Diagram analisis sistem
Dari Gambar 21 terlihat bahwa user dari sistem ini terdiri dari enam kelompok pengguna yaitu chanel master yang bertindak sebagai admin dari sistem, dan user pengguna sistem yang dikelompokkan dalam level processor, level collector, level processor, level distributor dan level consumer. Setiap level pengguna mempunyai user interface dan fungsionalitas yang berbeda, tetapi dapat menggunakan sistem dalam kontek untuk mendapatkan informasi dalam pengambilan keputusan manajemen risiko rantai pasok secara keseluruhan ataupun sesuai dengan levelnya.
Berdasarkan Gambar 21 terdapat empat skenario manajemen risiko rantai pasok yaitu skenario identifikasi faktor-faktor risiko, evaluasi risiko per tingkatan user, penentuan risiko utama, perhitungan nilai risiko agregasi dan pemberian
solusi mitigasi risiko baik per tingkatan ataupun secara keseluruhan dalam manajemen risiko rantai pasok. Setiap skenario tersebut mempunyai tujuan tertentu. Keterkaitan antar tujuan sistem penunjang pengambilan keputusan manajemen risiko rantai pasok ini dapat diperlihatkan pada Gambar 22.
Gambar 22 Diagram tujuan sistem
Dari Gambar 22 terlihat bahwa tujuan utama dari manajemen risiko rantai pasok adalah untuk melakukan penyeimbangan risiko setiap tingkatan dalam jaringan rantai pasok yaitu tingkat produser, tingkat collector, tingkat processor, tingkat distributor, dan tingkat consumer. Untuk dapat memperoleh tujuan tersebut dibutuhkan beberapa tujuan antara yaitu identifikasi risiko setiap tingkatan, analisa faktor-faktor risiko dan pengukuran tingkat risiko berdasarkan nilai kemungkinan terjadi risiko dan nilai dampak jika terjadi risiko, kemudian dengan diperolehnya nilai risiko setiap tingkatan dapat diidentifikasi faktor risiko utama yang perlu ditanggulangi atau dilakukan perlakuan tertentu dengan memilih berbagai metode perlakuan yang tepat guna mengurangi dampak dan kemungkinan dari risiko. Disamping itu analisis risiko juga perlu dilakukan secara lokal untuk setiap tingkatan dan secara global dalam jaringan rantai pasok.
Analisa risiko secara global perlu mengindentifikasi faktor-faktor dan jenis risiko yang mungkin terjadi dalam manajemen rantai pasok yaitu risiko arus barang, risiko arus keuangan, risiko kemitraan dan risiko arus informasi yang digabungkan dengan risiko agregasi dari setiap tingkatan maka akan diperoleh risiko utama dari rantai pasok secara global. Untuk mendapatkan faktor utama tersebut perlu dilakukan pengukuran risiko dari faktor-faktor utamanya yang dilakukan oleh chanel master bersama-sama dengan hasil penilaian risiko dari
setiap tingkatan dalam jaringan rantai pasok. Setelah mendapatkan prioritas risiko global akan dilakukan pemilihan tindakan yang tepat guna mengurangi kemungkinan terjadinya risiko dengan berbagai kriteria dari setiap pelaku dalam setiap tingkatan.
Untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas dari sistem penunjang pengambilan keputusan manajemen risiko rantai pasok ini dapat digambarkan dengan diagram peranan subsistem seperti pada terlihat Gambar 23.
Gambar 23 Diagram peranan subsistem
Dari Gambar 23 terlihat bahwa sistem ini terdiri dari empat subsistem yang berperan yaitu subsistem input data, subsistem penilaian risiko, subsistem evaluasi risiko dan subsistem pengambilan keputusan. Subsistem input data digunakan untuk input data risiko baik risiko setiap tingkatan pelaku dan risiko rantai pasok secara global. Subsistem penilaian risiko digunakan untuk untuk mengukur tingkat risiko setiap tingkatan pelaku dengan pendekatan agregasi risiko setiap faktor dalam tingkatan dan melakukan pengukuran risiko rantai
pasok secara global dengan terlebih dulu melakukan agregasi pengukuran risiko local untuk mendapatkan risiko total rantai pasok. Subsistem evaluasi risiko digunakan untuk mengevaluasi tingkat risiko dari hasil penilaian risiko baik untuk setiap pelaku ataupun risiko total rantai pasok guna mendapatkan faktor utama yang berpengaruh terhadap risiko utama yang dihadapi oleh masing-masing pelaku sesuai dengan tingkatannya serta mendapatkan faktor utama risiko yang mempengaruhi risiko utama rantai pasok secara global. Subsistem pengambilan keputusan digunakan untuk memilih jenis risiko utama dan faktor utama yang dapat terjadi pada setiap level rantai pasok serta risiko utama yang dapat terjadi dalam jaringan rantai pasok, disamping itu juga dapat digunakan untuk memilih metode mitigasi risiko dan tindakan yang paling tepat untuk menghadapi risiko utama yang muncul dalam setiap tingkatan rantai pasok dan jaringan rantai pasok untuk mendapatkan solusi penyeimbangan risiko rantai pasok dengan tujuan tertentu.
96