• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR ISTILAH

IV. METODE PENELITIAN

4.1. Kerangka Pemikiran

Manajemen risiko rantai pasok produk/komoditas jagung merupakan suatu proses yang kompleks. Kompleksitas lingkungan tempat keputusan strategis dibuat merupakan pertimbangan utama untuk menggunakan sistem intelijen dalam sistem pengambilan keputusan cerdas yang akan dikembangkan. Terdapat beberapa alasan adanya kompleksitas ini yaitu: (1) adanya informasi dan pengetahuan yang mendukung keputusan tidak lengkap, tidak pasti atau tidak tepat atau bahkan tidak konsisten; (2) terdapat berbagai tujuan bahkan tujuan yang bertentangan dan terdapat banyak tipe batasan yang berbeda; (3) terdapat batasan waktu untuk pengambilan keputusan pada lingkungan yang selalu berubah; dan (4) terdapat kecenderungan pada pengambilan keputusan kelompok dimana berbagai tipe konsensus terjadi di dalam prosesnya. Untuk dapat menganalisis dan memodelkan permasalahan yang kompleks dan tidak terstruktur tersebut, dalam penelitian ini akan digunakan metodologi soft sistem (Checkland 1981).

Menurut Hallikas et al. (2004), proses manajemen risiko terdiri dari dua tahap utama, yaitu penilaian risiko (risk assessment) yang terdiri dari proses mengidentifikasi, menganalisis, memprioritaskan dan pengendalian risiko (risk control) yang terdiri dari perencanaan manajemen risiko, perencanaan resolusi risiko (risk resolution) dan monitor risiko (risk monitoring), penelusuran (tracking) dan tindakan perbaikan (corrective action). Menurut Chapman et al.

(2002) identifikasi dan penilaian risiko merupakan bagian yang paling penting dalam seluruh proses manajemen risiko karena kualitas dari hasil sebuah analisis tergantung sepenuhnya kepada proses identifikasi dan penilaian.

Pengukuran risiko dalam penelitian ini dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Oleh karena sumber-sumber risiko mempunyai sifat yang tidak pasti, maka di dalam analisis kualitatif dan kuantitatif selain memerlukan analisis statistik, diperlukan juga analisis lebih lanjut dengan menggunakan analisis posibilitas untuk dapat mengetahui pengaruh ketidakpastian sumber risiko.

Variabel dari masing-masing sumber risiko yang mungkin timbul dalam manajemen risiko rantai pasok produk pertanian akan dinilai (assess) secara semi

kuantitatif berdasarkan tiga kelompok skala kualitas yang merupakan komponen risiko, yaitu berdasarkan konsekuensi (severity), paparan (exposure) dan posibilitas (likelihood) melalui pengisian kuesioner oleh responden dan berdasarkan akuisisi pengetahuan pakar. Konsekuensi (severity) diukur dengan empat kategori yaitu waktu (time), kualitas (quality), biaya (cost) dan keselamatan (safety).

Kerangka kerja yang dilakukan dalam penelitian ini akan mengacu pada kerangka kerja yang telah dikembangkan oleh Rajamani et al. (2006), dengan beberapa penyesuaian pada manajemen risiko rantai pasok produk pertanian dan menggunakan kategori dan variabel risiko yang telah diidentifikasi oleh Xiaohui et al. (2006). Dalam penelitian ini identifikasi dan analisis risiko akan dilakukan pada setiap pelaku rantai pasok untuk mendapatkan tingkat risiko masing-masing, kemudian dilakukan agregasi nilai risiko total rantai pasok sehingga mendapatkan ukuran tingkat risiko rantai pasok dan cara penanganan risiko dilakukan secara menyeluruh untuk mendapatkan distribusi dan keseimbangan risiko rantai pasok.

Detail dari kerangka pikir penelitian manajemen risiko rantai pasok dapat diperlihatkan pada Gambar 16.

Gambar 16 Kerangka pikir penelitian manajemen risiko rantai pasok

4.2. Tata Laksana Penelitian 4.2.1. Tahapan Penelitian

Langkah-langkah pengembangan sistem pendukung pengambilan keputusan manajemen risiko rantai pasok adalah: identifikasi faktor-faktor manajemen risiko rantai pasok, pembuatan model manajemen risiko rantai pasok dengan multi objective programming, simulasi model manajemen risiko rantai pasok dengan program dinamik, analisa berbagai skenario manajemen risiko dengan kriteria finansial dan non finansial, pemilihan skenario manajemen risiko dengan memperhatikan profit sharing optimum dan minimisasi risiko gobal dan lokal, pembuatan sistem pendukung pengambilan keputusan cerdas manajemen risiko rantai pasok dan pembuatan rekomendasi tindakan dan kesimpulan.

Langkah-langkah tersebut akan dibagi menjadi tiga tahapan yaitu tahap analisis, tahap pemodelan dan tahap perancangan dan implementasi sistem (Gambar 17).

Pada tahap pertama dimulai dengan membuat tujuan penelitian dan mempelajari sistem rantai pasok produk pertanian melalui observasi lapang dan wawancara dengan beberapa pihak yang memahami risiko rantai pasok produk pertanian. Studi pustaka dilakukan untuk meningkatkan pemahaman terhadap risiko rantai pasok produk pertanian dan metode yang akan digunakan dalam penelitian. selain itu, juga dilakukan analisis kondisi manajemen risiko rantai pasok produk pertanian yang mencakup aspek nilai tambah, penanganan risiko dan kelembagaan pada masing-masing pelaku dalam rantai pasok. Analisis dilakukan untuk mendapatkan data kebutuhan dari setiap stakeholder dalam manajemen rantai pasok untuk mengurangi risiko dan identifikasi konflik kepentingan dalam rantai pasok secara vertikal. Kajian dilanjutkan dengan perancangan model kolaborasi perencanaan manajemen risiko rantai pasok produk pertanian pada aspek penyediaan, distribusi dan produksi. Output yang diharapkan pada tahap ini adalah adanya pemetaan (mapping) risiko rantai pasok produk pertanian mulai dari hulu sampai hilir, tersedianya informasi yang lengkap mengenai penanganan risiko, dan kelembagaan pada rantai pasok pertanian, adanya model kolaborasi perencanaan manajemen risiko rantai pasok.

Tahap kedua dari penelitian ini adalah pembuatan model sistem pendukung pengambilan keputusan cerdas manajemen risiko rantai pasok untuk

mendukung program ketahanan pangan. Model manajemen risiko akan dikembangkan secara kualitatif dan kuantitatif. Model kualitatif menggunakan fuzzy analitik hierarki proses dan fuzzy multi expert multi criteria decision making, sedangkan model kuantitaif menggunakan value at risk dan indek risiko serta algoritma genetika dan multi objectives programming untuk penyeimbangan risiko. Kemudian dilanjutkan dengan verifikasi dan validasi model dengan menggunakan data simulasi pada berbagai skenario. Output dari tahap ini adalah model sistem pendukung keputusan cerdas dengan berbagai skenario yang valid.

Tahap ketiga dari penelitian ini adalah perancangan dan implementasi sistem pendukung keputusan cerdas manajemen risiko rantai pasok. Perancangan sistem dilakukan dengan pendekatan sistem yang berorientasi object menggunakan alat bantu UML (Unified Modeling Language), sedangkan implementsi sistem dilakukan dengan sistem yang berbasis web dengan menggunakan program java. Output dari tahapan ini adalah sebuah rancangan sistem pendukung keputusan cerdas manajemen risiko rantai pasok yang berorientasi obyek serta perangkat lunak sistem pendukung keputusan cerdas manajemen risiko rantai pasok. Adapun rincian langkah-langkah kegiatan penelitian adalah sebagai berikut:

1. Mempelajari sistem rantai pasok produk/komoditas jagung melalui observasi pendahuluan dengan beberapa pihak yang terkait dengan rantai pasok komoditas jagung seperti petani, pengumpul dan industri apakn ternak. Selain itu, studi pustaka dilakukan untuk pemahaman sistem nyata yang dipelajari.

Pustaka yang dipelajari berhubungan dengan manajemen risiko rantai pasok dan teknik-teknik yang digunakan dalam manajemen risiko.

2. Wawancara mendalam dengan pengambil keputusan dan survei lapang di obyek studi kasus. Tujuannya adalah mengetahui rangkaian kegiatan rantai pasok dan kendala-kendal manajemen risiko rantai pasok. Pendalaman terhadap pengetahuan para pemangku kepentingan rantai pasok jagung.

Beberapa pihak yang diwawancarai adalah petani dan kelompok tani, beberapa pengumpul dan manajer pengadaan bahan baku jagung di industri pakan ternak. Melalui wawancara akan diperoleh gambaran situasi secara

menyeluruh terhadap risiko yang dihadapi setiap pelaku dan cara mengatasinya.

3. Merumuskan faktor-faktor risiko dan variabel penentu yang dibutuhkan dalam penilaian tingkat risiko sesuai dengan tingkatan dalam jaringan rantai pasok.

Prosedur yang dilakukan melalui wawancara dan studi pustaka hasil-hasil penelitian terkait. Faktor-faktor risiko yang diperoleh akan distrukturisasi secara hierarki sehingga mendeskripsikan keterkaitan antar faktor.

4. Merumuskan basis aturan untuk menterjemahkan hasil penilaian risiko sehingga rekomendasi dapat dikeluarkan oleh model. Rekomendasi merupakan hasil akuisisi pengetahuan para ahli yang terdiri dari praktisi agroindustri dan dilengkapi melalui studi pustaka penelitian yang terkait.

5. Informasi yang dibutuhkan selanjutnya adalah prakiraan harga jagung pipilan dan persayaratan mutu serta metode pasokan dan penyimpanannya Data yang dibutuhkan adalah data masa lalu yang diperoleh melalui laporan kegiatan industri pakan ternak dan pelaku rantai pasok di lokasi penelitian.

6. Formulasi model matematik untuk penyeimbangan risiko rantai pasok dengan pendekatan manajemen dialog berdasarkan evaluasi risiko setiap tingkatan.

Model matematik dirumuskan melalui proses iterative untuk penentuan harga jagung pipilan di tingkat petani dengan memeperhatikan tingkat risiko masing-masing tingkatan dan tingkat utilitas ketersediaan jagung.

7. Merumuskan teknik-teknik penyelesaian untuk setiap formulasi model matematik dan penilaian risiko dalam bentuk program komputer. Pada tahap ini dibangun elemen-elemen dari basis data, basis pengetahuan dan basis model serta hubungan masukan dan keluaran. Keterkaitan ini dibutuhkan untuk menghasilkan keterpaduan. Keterpaduannya diwujudkan dalam bentuk sebuah Sistem Penunjang Keputusan cerdas.

8. Verifikasi model menggunakan data dari obyek studi kasus yaitu industri pakan ternak yang menggunakan bahan baku jagung. Nilai-nilai yang dihasilkan model akan diperiksa kesesuaiannya berdasarkan logika dan kerja komputasi. Pada tahap ini telah dihasilkan program komputer yang terdiri dari basis model, basis data dan basis pengetahuan.

9. Validasi model untuk mendapatkan keabsahan dan keyakinan bahwa model mampu bekerja sesuai kebutuhan pengambil keputusan.

Persiapan penelitian Latar belakang dan perumusan masalah

Perumusan tujuan penelitian

Analisa kebutuhan stakeholder manajemen risiko rantai pasok (UML)

Identifikasi konflik kepentingan dan tujuan dalam manajemen risiko rantai pasok produk/komoditas Jagung

Identifikasi jenis risiko dan sumber risiko rantai pasok (fuzzy AHP)

Evaluasi risiko dan dampak risiko serta alternatif penghilangan risiko rantai pasok (fuzzy AHP)

Pengembangan model manajemen risiko pada setiap tingkatan pelaku rantai pasok (Multiobjectives programming)

Pengembangan model agregasi pengukuran risiko rantai pasok secara global (Fuzzy Agregation)

Pengembangan model penyeimbangan risiko (risk balancing) rantai pasok (stakeholder dialog dan fungsi utilitas-regresi fuzzy)

Pengembangan model perlakuan risiko rantai pasok secara lokal dan global (fuzzy inference)

Verifikasi dan validasi model Pembuatan model basis pengetahuan manajemen risiko rantai pasok

Analisa dan perancangan sistem pendukung pengambilan keputusan cerdas manajemen risiko rantai pasok (UML)

Implementasi sistem pendukung pengambilan keputusan cerdas manajemen risiko rantai pasok (web programming)

pengujian dan perbaikan sistem pendukung pengambilan keputusan cerdas manajemen risiko rantai pasok

Kesimpulan dan rekomendasi

Studi Pendahuluan Studi Literatur

Identifikasi lingkup permasalahan

Gambar 17 Langkah pemodelan SPK cerdas pada manajemen risiko rantai pasok

4.2.2 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan di laboratorium dan di lapangan. Penelitian pemodelan dilakukan di Laboratorium/Bagian Teknik Sistem Industri, Departemen Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, IPB di Bogor. Penelitian lapangan dilakukan di Jawa Tengah dan Jawa Timur sebagai sentra produksi jagung di Indonesia.

Penelitian dilakukan mulai bulan Januari 2009 – Desember 2010, untuk mendapatkan informasi, data teknis dan diskusi dengan para narasumber yang terkait. Tambahan data dan informasi yang dibutuhkan dalam pengembangan model dilakukan pada rentang waktu tersebut.

4.2.3. Pengumpulan Data, Informasi dan Pengetahuan

Penelitian menggunakan data sekunder dan data primer. Data sekunder diperoleh dari laporan kajian terdahulu yang relevan dan jurnal ilmiah serta dari berbagai sumber seperti Biro Pusat Statistik, Departemen Pertanian, Departemen Perdagangan, Departemen Perindustrian, Balai-balai penelitian, asosiasi, data perusahaan yang menjadi obyek kajian, dan pihak-pihak yang relevan.

Pengumpulan data primer dilakukan melalui beberapa cara, sebagai berikut :

• Observasi lapangan, yakni melihat secara langsung kegiatan-kegiatan manajemen risiko rantai pasok mulai dari produsen (petani), pedagang pengumpul, prosesor (pengolah), distributor, hingga konsumen.

• Wawancara, dilakukan untuk memperoleh informasi kendala dan risiko, jumlah produksi dan penjualan, sistem transportasi, distribusi dan pasokan serta hubungan kemitraan antara pemasok dan distributor, dari para stakeholder manajemen risiko rantai pasok yang dikaji.

• Focus Group Discussion (FGD), meliputi wakil petani/kelompok tani, pedagang pengumpul, prosesor atau agroindustri, buyer/eksportir, pemerintah (regulator), dan universitas/lembaga riset teknologi. Pada FGD dilakukan pendalaman terhadap kondisi saat ini untuk memperoleh alternatif-alternatif strategi manajemen risiko rantai pasok. FGD juga melakukan verifikasi dan validasi terhadap model pengukuran risiko rantai pasok.

• Pendapat pakar (expert judgement), dilakukan untuk memperoleh basis pengetahuan melalui wawancara secara mendalam (indepth interview) untuk mengakuisisi pengetahuan dari pakar yang terkait dalam menentukan jenis dan sumber risiko dan pengukuran tingkat risiko dan dampaknya serta keberhasilan penanganan risiko.

• Brainstorming dengan pakar untuk memodelkan sistem manajemen risiko rantai pasok produk pertanian dengan Fuzzy AHP menggunakan tools criterium decision plus.

• Pengumpulan informasi dan pengetahuan dari pakar menggunakan metode purposive sampling untuk menentukan pakar yang dilibatkan dalam penelitian. Pertimbangan-pertimbangan yang digunakan untuk menentukan pakar adalah kesesuaian pendidikan pakar, pengalaman pakar dan track record kepakarannya. Demikian juga dalam penentuan responden lain yang dilibatkan dalam penelitian ini seperti petani, prosesor, distributor dan konsumen.

4.3. Teknik-Teknik yang Digunakan

Dokumen terkait