4 HASIL DAN PEMBAHASAN
4.2 Analisis Sistem Perikanan Panah .1Analisis Kebutuhan
4.2.3 Identifikasi sistem
4.2.3.2 Diagram input-output
Diagram ini menjelaskan informasi yang berkaitan dengan input yang ada sehingga menghasilkan output, dengan kontrol dari lingkungan. Input dapat berasal dari dalam maupun dari luar sistem, input tersebut berupa input terkontrol dan input tidak terkontrol yang akan menghasilkan output yang diharapkan maupun output yang tidak diharapkan.
Terdapat tiga input yang berbeda dalam sistem perikanan panah di Karimunjawa, yaitu input lingkungan, input terkontrol dan input tidak terkontrol. Input lingkungan merupakan intput yang berasal dari luar sistem, yaitu berupa kebijakan pemerintah, diantaranya berupa UU No 45 tahun 2009, KEPMEN Kelautan dan Perikanan No. KEP.06/MEN/2010, SK Menhutbun No.78/Kpts-II/1999 tentang penetapan Taman Nasional Karimunjawa, serta peraturan-peraturan yang dikeluarkan oleh pengelola Taman Nasional Karimunjawa, diantaranya tentang zonasi di kawasan Taman Nasional Karimunjawa.
Input terkontrol antara lain berupa biaya operasi penangkapan ikan, jumlah ABK, metode penangkapan ikan, teknologi alat tangkap, keterampilan dan pengetahuan nelayan, dan nelayan dari daerah lain yang menangkap ikan di daerah Karimunjawa. Faktor-faktor tersebut dapat dikendalikan secara mandiri oleh nelayan serta melalui peraturan-peraturan daerah yang ada. Faktor-faktor input yang tidak terkontrol diantaranya adalah kondisi cuaca, musim, dan harga ikan serta permintaan ikan di pasar. Input-input ini susah dan bahkan tidak dapat dikontrol oleh nelayan.
Output yang ada berupa output dikehendaki dan output yang tidak dikehendaki. Output yang dikehendaki diantaranya adalah kesehatan dan keselamatan nelayan terjamin, harga jual ikan tinggi, permintaan ikan hasil tangkapan nelayan panah tetap tinggi, peningkatan pendapatan nelayan dan sumberdaya ikan tetap lestari.
Output yang tidak dikehendaki nelayan diantaranya adalah terjadinya kecelakaan dalam kegiatan operasi penangkapan ikan, baik yang disengaja maupun tidak, kerusakan ekosistem terumbu karang yang diikuti dengan menurunnya jumlah dan kualitas sumberdaya ikan serta menurunnya pendapatan nelayan. Diagram input-output disajikan pada Gambar 27.
Gambar 27 Diagram input-output sistem perikanan panah di Karimunjawa 4.3 Analisis perikanan panah berdasarkan CCRF
Mengacu kepada CCRF, terdapat beberapa aspek yang perlu dikaji terhadap perikanan panah di Karimunjawa, diantaranya yaitu :
1) Aspek biologi
Menjamin konservasi sumberdaya ikan
Wilayah Kecamatan Karimunjawa termasuk dalam kawasan pelestarian alam dengan adanya Taman Nasional Karimunjawa dibawah Kementrian Kehutanan yang dibentuk melalui SK Menhutbun No.78/Kpts-II/1999, Input terkontrol :
Keterampilan dan pengetahuan nelayan
Nelayan pendatang
Biaya operasi penangkapan ikan
ABK
Metode penangkapan ikan Alat tangkap
Output yang tidak dikehendaki : Kecelakaan kerja Ekosistem rusak SDI menurun Pendapatan menurun Output yang dikehendaki : Kesehatan dan keselamatan
kerja terjamin Harga ikan tinggi Permintaan tetap tinggi SDI lestari
Pendapatan meningkat Input tidak terkontrol :
Cuaca Musim ikan Harga ikan
Meningkatnya permintaan pasar
Manajemen Pengendalian
PROSES
dengan wilayah seluas 111.625 Ha, meliputi 22 pulau. Kawasan Taman Nasional Karimunjawa terbagi menjadi beberapa zona, yaitu : zona inti, zona perlindungan, zona pemanfaatan pariwisata, zona pemukiman, zona rehabilitasi, zona budidaya dan zona pemanfaatan perikanan tradisional. Zona inti seluas 444,629 hektar meliputi sebagian perairan P. Kumbang, Perairan Taka Menyawakan, perairan Taka Malang dan perairan Tanjung Bomang. Zona inti adalah zona yang mutlak harus dilindungi karena di dalamnya tidak diperbolehkan adanya perubahan apapun oleh aktivitas manusia. Kegiatan yang diperbolehkan hanya yang berhubungan untuk kepentingan ilmu pengetahuan, pendidikan, penelitian, kegiatan inventarisasi, pemantauan potensi, perlindungan dan pengamanan.
Penetapan Taman Nasional tersebut merupakan salah satu upaya untuk mengkonservasi sumberdaya ikan, sehingga dapat menjamin keberlanjutan kegiatan perikanan dan dapat menurunkan angka kemiskinan.
Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Jepara dan Dinas terkait lainnya juga berperan dalam konservasi dan pengelolaan perikanan di Kecamatan Karimunjawa ini.
Mencegah lebih tangkap atau penangkapan ikan yang melebihi kapasitas. Sampai saat ini belum ada aturan pemerintah yang membatasi jumlah hasil tangkapan (kuota) dari masing-masing alat penangkapan ikan yang beroperasi di Indonesia. Nelayan panah Karimunjawa memanah semua ikan yang dijumpai dan mempunyai nilai ekonomis. Memang ikan yang dipanah mempunyai ukuran yang cukup besar, tidak mungkin nelayan panah menangkap ikan berukuran kecil karena sulit untuk dipanah.
Terdapat beberapa lokasi daerah penangkapan ikan di kawasan Karimunjawa yang sudah jenuh, diantaranya adalah Pulau Menyawakan, Taka Menyawakan, Pulau Cemara Besar, Pulau Burung, Tanjung Gelam, Pulau Tengah dan sebelah timur Pulau Kemujan (Mukminin, et. al., 2006).
Upaya penangkapan ikan dilakukan hampir sepanjang tahun. Baik itu yang dilakukan oleh nelayan panah maupun nelayan alat tangkap lainnya, seperti pancing, jaring insang, muroami, dan bubu. Pola upaya penangkapan ikan tersebut menyebabkan stok sumberdaya ikan menurun. Laju rekrutmen sumberdaya ikan lebih rendah dibandingkan dengan upaya penangkapan ikan yang dilakukan. Apabila pola penangkapan ikan seperti ini dipertahankan, maka dikhawatirkan kondisi lebih tangkap akan terjadi.
Informasi tersebut memberikan dasar bagi pengelola perikanan untuk lebih memperketat pengawasan kegiatan perikanan tangkap di Karimunjawa, sehingga tidak terjadi kondisi lebih tangkap yang dapat membahayakan keberlanjutan kegiatan perikanan.
2) Aspek teknologi
Unit penangkapan ikan selektif
Alat tangkap ini sangat selektif dari sisi ukuran ikan target penangkapan, tetapi tidak selektif terhadap jenis ikan target. Nelayan tidak mungkin memanah juvenil ikan, nelayan memanah ikan-ikan yang ukurannya cukup besar dan mempunyai nilai ekonomis. Selektifitas alat tangkap panah ini sangat tergantung kepada nelayan penggunanya. Nelayan dapat saja memanah jenis-jenis ikan yang dilindungi.
Jenis ikan yang dipanah oleh nelayan panah Karimunjawa termasuk ke dalam kelompok ikan target dan kelompok ikan lain (mayor famili) yang jumlahnya masih cukup banyak.
Aman digunakan
Panah merupakan alat tangkap yang relatif aman. Nelayan panah Karimunjawa memasang karet pada panah (siap ditembakkan) setelah berada di air dan langsung menyelam untuk memanah ikan. Risiko tertusuk panah memang masih tetap ada, tetapi belum pernah terjadi kasus nelayan tertusuk panah.
Mudah digunakan
Alat tangkap panah relatif mudah digunakan. Untuk menjadi mahir memanah ikan dengan panah, memang diperlukan jam layar yang cukup banyak.
Produktif
Jumlah hasil tangkapan ikan per unit upaya perikanan panah Karimunjawa meningkat cukup tinggi, dari 8 kg/trip pada tahun 2005 (Mukminin et. al., 2006) menjadi rata-rata 63,27 kg/trip pada periode November 2009 sampai Desember 2010. Keuntungan per unit perikanan panah di Karimunjawa pada periode yang sama adalah Rp. 873.484. Perikanan panah merupakan unit penangkapan ikan yang paling produktif bila dibandingkan dengan alat penangkapan ikan lainnya yang beroperasi di Karimunjawa.
3) Aspek ekonomi Menguntungkan
Perikanan panah merupakan salah satu alat tangkap di Karimunjawa yang cukup menguntungkan. Rata-rata keuntungan per trip adalah Rp. 873.484, dengan rata-rata 20 trip per bulan, maka rata-rata keuntungan satu unit perikanan panah per bulan mencapai Rp. 17.469.684. Keuntungan tersebut kemudian dibagikan, satu bagian untuk nelayan, satu bagian untuk nakhoda, dan dua bagian untuk kapal dan kompresor.
4) Aspek sosial
Persepsi nelayan alat tangkap lain terhadap nelayan panah
Penggunaan panah (speargun) dalam kegiatan perikanan mendapat sorotan di beberapa negara kepulauan Pacific karena dianggap bertanggung jawab terhadap berlebihnya upaya penangkapan ikan pada perikanan pantai yang menyebabkan terjadinya penurunan sumberdaya ikan (Gillet & Moy, 2006). Kondisi yang hampir sama terjadi di Karimunjawa, menurut Ardiwijaya et al. (2010) penurunan biomasa dan kelimpahan ikan yang terjadi disebabkan oleh tekanan perikanan yang
tinggi. Terutama disebabkan oleh penggunaan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan seperti cantrang dan penggunaan alat tangkap panah dengan alat bantu kompresor sehingga produktifitasnya sangat tinggi. Kondisi ini menyebabkan nelayan panah kurang mendapat sambutan yang baik dari nelayan alat tangkap lain, karena dianggap bertanggung jawab terhadap menurunnya stok sumberdaya ikan.
Tidak menimbulkan konflik sosial
Nelayan perikanan panah, memanah semua jenis ikan yang dijumpai dan mempunyai nilai ekonomis. Hal tersebut, menimbulkan keluhan dari nelayan alat tangkap lainnya, terutama dari nelayan pancing.
Menyikapi hal tersebut dan untuk mencegah timbulnya konflik, kedua kelompok nelayan tersebut membuat kesepakatan diantara mereka untuk lebih arif dalam melakukan operasi penangkapan ikan.
Tidak berisiko tinggi atau tidak membahayakan keselamatan jiwa nelayan Mayoritas nelayan panah Karimunjawa menggunakan alat bantu kompresor. Operasi penangkapan ikan dilakukan dengan cara menyelam dengan kompresor.
Menyelam merupakan kegiatan yang berisiko tinggi, oleh karena itu nelayan harus mengikuti standar baku penyelaman untuk menekan risiko yang mungkin timbul.
5) Aspek lingkungan
Unit penangkapan ikan tidak merusak lingkungan atau ekosistem; tidak menangkap di habitat kritis seperti hutan bakau dan terumbu karang. Dewasa ini masalah lingkungan menjadi isu yang cukup sensitif. Target penangkapan perikanan panah terutama adalah ikan-ikan karang, sehingga daerah penangkapan ikan nelayan panah ada di daerah ekosistem terumbu karang. Oleh karena itu perlu diperhatikan metode operasi penangkapan ikan agar tidak merusak ekosistem terumbu karang. Masalah ini juga menjadi perhatian bagi pengelola Taman Nasional Karimunjawa.
Sebagian besar nelayan panah Karimunjawa menyelam tanpa menggunakan fin, selain berenang, nelayan juga kadang-kadang berjalan di dasar perairan. Ketika berada di ekosistem terumbu karang, kaki nelayan berisiko terluka apabila tidak menggunakan coralboot, selain itu juga dapat merusak terumbu karang.
6) Aspek pasca panen
Proses penanganan, pengolahan, dan distribusi hasil tangkapan mempertahankan nilai gizi, mutu, dan keamanan ikan dan produk perikanan.
Sore hari nelayan mulai bergerak menuju daerah penangkapan ikan. Operasi penangkapan ikan dilakukan pada malam hari, kemudian dini hari menjelang pagi nelayan kembali dari melaut. Ikan hasil tangkapan alat tangkap panah terdapat luka pada tubuhnya akibat tertembus panah. Ikan hasil tangkapan disimpan di dalam palka dan ditambahkan es, sesampainya di darat, hasil tangkapan lansung dijual, sehingga ikan hasil tangkapan masih segar ketika sampai ke tangan konsumen.
7) Aspek hukum
Unit penangkapan ikan legal atau tidak dilarang untuk dioperasikan
Sampai saat ini belum ada peraturan, baik dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah, yang melarang beroperasinya unit perikanan panah. Tidak menangkap biota yang dilindungi
Target penangkapan perikanan panah adalah ikan karang. Berdasarkan data yang diperoleh, tidak ada jenis ikan yang dilindungi ditangkap oleh nelayan panah.
Perikanan panah di Karimunjawa dilihat dari sudut pandang CCRF, belum sepenuhnya mendukung konsep CCRF. Aspek biologi, aspek teknologi, dan aspek sosial perlu dibenahi sehingga perikanan panah dapat benar-benar dapat dikategorikan sebagai alat penangkapan ikan yang mendukung konsep CCRF, sedangkan aspek yang dapat dikatakan mendukung konsep CCRF adalah aspek ekonomi, aspek lingkungan, aspek pasca panen, dan aspek hukum.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk meningkatkan aspek-aspek tersebut, diantaranya adalah :
Aspek biologi; pengaturan pola penangkapan ikan untuk mencegah terjadinya kondisi lebih tangkap atau penangkapan ikan yang melebihi kapasitas.
Aspek teknologi; selektifitas panah sangat tergantung kepada nelayan, sehingga pengetahuan dan pemahaman nelayan tentang konsep perikanan yang berkelanjutan perlu ditingkatkan.
Aspek sosial; metode penangkapan ikan unit perikanan panah merupakan kegiatan yang berisiko tinggi, oleh karena itu nelayan harus sangat berhati-hati dan tetap mengikuti standar baku penyelaman agar risiko bahaya yang mungkin muncul, dapat dihindari.
4.4 Analisis Pengembangan Perikanan Panah
Perikanan panah merupakan alat tangkap paling produktif yang digunakan nelayan di Karimujawa. Hasil tangkapan ikan perikanan panah pada periode November 2009 sampai Desember 2010 yaitu seberat 38.769,4 kg. Lebih banyak bila dibandingkan dengan alat tangkap lainnya yang dioperasikan di Karimunjawa, seperti jaring insang, pancing (handline), muroami dan bubu, dengan jumlah hasil tangkapan masing-masing seberat 955,7 kg, 33.753 kg, 27.893,8 kg dan 1.593,5 kg (WCS, 2010).
Agar dapat melihat dan memprediksi pengembangan perikanan panah, maka diperlukan suatu analisis untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang terkait di dalamnya baik internal maupun eksternal. Analisis yang dapat mengkaji faktor-faktor tersebut adalah analisis SWOT. Faktor internal yang dimaksud merupakan faktor yang mempengaruhi secara langsung kegiatan perikanan panah, faktor internal terdiri dari kekuatan dan kelemahan. Faktor eksternal merupakan faktor dari lingkungan yang turut mempengaruhi berkembangnya perikanan panah di Karimunjawa. Faktor eksternal terdiri dari peluang dan ancaman.