• Tidak ada hasil yang ditemukan

2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Perikanan Panah

Berdasarkan KEPMEN No. KEP.06/MEN/2010 tentang alat penangkapan ikan di wilayah pengelolaan perikanan Negara Republik Indonesia, alat tangkap

speargun ini disebut panah. Termasuk ke dalam kelompok alat penangkapan ikan menjepit dan melukai (grappling and wounding). FAO dalam jurnal FAO Fisheries Technical Paper : Definition and Classification of Fishing Gear Categories mengkategorikan alat tangkap panah ini ke dalam kelompok grappling and wounding gear. Subani dan Barus (1988) mengelompokkan alat tangkap panah ke dalam kelompok “lain-lain alat penangkap ikan” dengan istilah rifle

(senapan ikan).

Dewasa ini perikanan panah menggunakan alat yang lebih modern dan efektif yaitu speargun. Speargun adalah senapan yang didesain untuk melontarkan sebilah anak panah, biasanya digunakan di bawah permukaan air untuk memanah ikan. Anak panah dilontarkan dari senapan dengan menggunakan tali karet atau udara bertekanan. Perikanan panah bisa dilakukan dengan cara menyelam, baik menggunakan alat bantu pernafasan (SCUBA diving dan hookah) maupun tanpa alat bantu pernafasan (free-diving).

Kegiatan memanah ikan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pangan dan ekonomi nelayan, terutama nelayan di perairan tropis dengan menggunakan peralatan snorkeling. Kegiatan memanah ikan juga dilakukan untuk tujuan rekreasi (sport spearfishing) (www.wikipedia.org).

Metode dan lokasi memanah ikan dengan penyelaman bebas, sangat beragam di seluruh dunia. Variasi yang terjadi tergantung pada spesies ikan target dan peralatan yang digunakan. Berikut beberapa tipe perikanan panah yang umum dilakukan di seluruh dunia (www.wikipedia.org).

 Menyelam dari pantai

Menyelam dari pantai merupakan salah satu bentuk perikanan panah yang paling umum dilakukan, yaitu dengan cara masuk dan keluar air dari pantai dan kemudian melakukan perburuan. Biasanya dilakukan di sekitar ekosistem terumbu karang, tetapi juga dilakukan di sekitar daerah yang

berbatu, ekosistem kelp, dan daerah berpasir. Perburuan ikan dilakukan pada kedalaman 5 sampai 25 meter, tergantung pada lokasinya. Pada beberapa lokasi di Pasifik Selatan, para penyelam dihadapkan dengan kontur laut yang menurun tajam (drop-off) dari 5 meter sampai 30 atau bahkan 40 meter dengan jarak yang sangat dekat dari garis pantai.

Hasil tangkapan cukup beragam, utamanya ikan karang, tapi seringkali ikan pelagis besar juga tertangkap dan bisa menjadi target khusus penangkapan ikan. Kantung penyimpanan ikan hasil tangkapan sebaiknya tidak dibawa atau diikatkan pada penyelam karena dapat mengganggu pergerakan penyelam di bawah air, khususnya ketika naik atau turun dari penyelaman yang cukup dalam. Membawa kantung ikan hasil tangkapan pada perairan yang banyak terdapat hiu sangat berbahaya karena dapat meningkatkan risiko serangan hiu. Sebaiknya kantung peenyimpanan ikan hasil tangkapan diikatkan pada sebuah pelampung, sehingga tidak mengganggu penyelam.

 Menggunakan perahu

Perahu, kapal atau bahkan kayak dapat digunakan untuk mengakses daerah terumbu karang atau struktur di laut, seperti puncak gunung yang terpisah dari daratan. Struktur buatan manusia seperti rig pengeboran minyak dan alat pengumpul ikan (fish aggregating device - FAD) juga dapat menjadi lokasi menombak ikan. Seringkali perahu sangat dibutuhkan untuk mengakses lokasi-lokasi yang dekat dari pantai, tetapi tidak dapat diakses dari daratan. Metode dan peralatan yang digunakan pada perikanan panah yang dilakukan dengan menyelam dari perahu tidak berbeda dari penyelaman dari pantai atau perburuan lepas pantai, yaitu tergantung dari target ikan yang ada. Penataan alat tangkap panah di atas perahu yang sempit harus dilakukan secara hati-hati dan sangat direkomendasikan untuk tidak memasang anak panah pada alat tangkap di atas perahu.

Penyelaman dari perahu dilakukan hampir di seluruh dunia. Lokasi-lokasi favorit termasuk di kepulauan utara Selandia Baru (dengan target ikan yellow tail kingfish), rig pengeboran minyak teluk Florida (ikan cobia dan kerapu) dan di Great Barrier Reef (ikan wahoo dan dog-tooth tuna). FAD banyak juga digunakan untuk perikanan panah, seperti daerah penangkapan ikan laut

dalam di lepas pantai Cape Point (Cape Town, Afrika Selatan) yang banyak disinggahi yellowfin tuna.

 Perburuan lepas pantai

Perburuan lepas pantai sangat disukai oleh para penombak ikan kawakan dan menjadi semakin populer beberapa tahun belakangan ini. Biasanya dilakukan di perairan yang sangat dalam dan jernih untuk mencari dan memburu ikan-ikan pelagis besar seperti marlin, tuna dan kuwe (giant trevally). Perikanan panah di lepas pantai sering dilakukan dengan cara menghanyutkan diri ; pengemudi kapal akan menurunkan para penyelam panah dan membiarkan mereka hanyut terbawa arus sejauh beberapa kilometer sampai akhirnya dijemput kembali.

Perburuan di lepas pantai juga dilakukan hampir di seluruh dunia, tetapi lokasi favorit terdapat di Afrika Selatan dengan target penangkapan yellowfin tuna dan di Pasifik selatan (dog-tooth tuna).

 Tanpa menyelam

Metode ini telah dikenal dan digunakan sejak ribuan tahun yang lalu. Seorang penombak ikan berjalan pelan di perairan yang dangkal dengan panah ditangan. Nelayan harus memperhitungkan refraksi cahaya dari permukaan air yang membuat ikan terlihat lebih dekat. Perairan yang dangkal dan tenang sangat mendukung keberhasilan menombak ikan dari atas permukaan air.

Ketika perikanan panah dilakukan dengan menggunakan alat bantu pernafasan (SCUBA, hookah, dll) maka nelayan atau pelaku perikanan panah lainnya berisiko terkena penyakit yang berhubungan dengan penyelaman. Menurut Ariadno et al. (2003) potensi bahaya tersebut berasal dari suplai udara, teknik penyelaman (waktu penyelaman, alat yang digunakan, dan lain-lain), dan lingkungan (biota berbahaya, tekanan air, suhu, arus, gelombang, dan lain-lain). Untuk memperkecil atau bahkan menghilangkan risiko tersebut, maka standar baku prosedur dan perencanaan penyelaman harus dilakukan dengan sungguh-sungguh. Standar baku prosedur penyelaman tersebut diantaranya adalah :

 Sebelum penyelaman dilakukan maka rencana penyelaman harus dibuat terlebih dahulu dan menyelamlah sesuai dengan rencana.

 Tidak boleh menyelam seorang diri; suatu kegiatan penyelaman harus dilakukan minimal oleh dua orang penyelam (buddy pair).

 Kecepatan naik dan turun maksimum 0,5 feet/detik.

 Tidak boleh menahan nafas selama penyelaman dilakukan.

 Tidak boleh menyelam melebihi batas kemampuan.

Sementara itu rencana penyelaman yang harus disiapkan oleh para penyelam, diantaranya adalah :

 Tujuan penyelaman

 Penentuan lokasi penyelaman; termasuk tempat masuk/keluar dari kedalaman.

 Waktu penyelaman maksimum; sangat disarankan untuk melakukan penyelaman tanpa dekompresi (no decompression dive)

 Kedalaman maksimum yang direncanakan; kedalaman penyelaman ditentukan dengan memperhatikan penyelam dengan kemampuan dan pengalaman paling rendah.

 Apabila penyelaman dilakukan oleh lebih dari dua orang, maka pimpinan penyelaman (divemaster) menentukan pasangan penyelam (buddy pair).

 Rencana jumlah penyelaman untuk hari itu; apakah satu kali (single dive) atau beberapa kali penyelaman (repetitive dive).

 Apabila akan melakukan repetitive dive; maka penyelaman pertama dilakukan pada kedalaman yang paling dalam, kemudian penyelaman berikutnya pada kedalaman yang lebih dangkal.