• Tidak ada hasil yang ditemukan

Identitas Petani Responden 1. Umur

Dalam dokumen NILMAYANTI (Halaman 59-65)

II .TINJAUAN PUSTAKA

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1. Identitas Petani Responden 1. Umur

Pada umumnya umur petani akan mempengaruhi kemampuan fisik bekerja dan cara berpikirnya. Petani yang berumur muda dan sehat mempunyai kemampuan fisik yang cenderung lebih besar daripada petani yang berumur tua.

Petani mudah yang lebih cepat menerima hal-hal baru dalam mengelolah usahataninya. Petani mudah biasanya kurang memiliki pengalaman, untuk mengimbangi kekurangan tersebut dia lebih dinamis sehingga cepat mendapatkan pengalaman-pengalaman baru yang berharga bagi perkembangan hidupnya pada masa yang akan datang.

Umur petani responden bervariasi sehingga untuk mengetahui tingkatan umur dari masing-masing responden diklasifikasikan berdasarkan tingkat umur petani responden. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Klasifikasi Umur Petani Responden di Desa Batu Belerang Kecamatan Sinjai Borong Kabupaten Sinjai, 2015

No Klasifikasi Umur (tahun) Jumlah Orang Persentase (%) 1

Sumber : Data Primer Setelah Diolah, 2015

44 5.1.2. Pendidikan

Tingkat pendidikan merupakan salah satu faktor atau segi penilaian terhadap kemajuan suatu bangsa pada umumnya dan daerah atau desa secara khusus.

Makin tinggi tingkat pendidikan petani, maka tingkat kemajuan suatu daerah tersebut relatif tinggi. Faktor pendidikan akan mempermudah suatu inovasi dan teknologi baru sehingga dapat dikatakan bahwa secara relatif petani yang mempunyai tingkat pendidikan akan mengelola usahataninya dengan baik pula dibandingkan dengan petani yang berpendidikan rendah. Untuk lebih jelasnya mengenai tingkat pendidikan petani responden di Desa Batu Belerang Kecamatan Sinjai Barat dapat dilihat pada tabel 6 diwah ini:

Tabel 6. Tingkat Pendidikan Petani di Desa Batu Belerang Kecamatan Sinjai Borong Kabupaten Sinjai

No Tingkat pendidikan Jumlah (jiwa) Persentase (%) 1

Sumber : Data primer setelah diolah, 2015

Berdasarkan Tabel menunjukan bahwa sebagian besar petani responden masih memiliki tingkat pendidikan yang rendah yakni hanya tamat Sekolah Dasar sebanyak 20 orang dengan persentase sebanyak (66,67%). Pendidikan tertinggi yang dicapai petani responden hanya sampai tamat Sekolah Menengah Atas

45 sebanyak 2 orang dengan persentase sebesar (6,66%), yang tamat SLTP sebanyak 5 orang dengan persentase sebanyak (16.89%) sedangkan petani responden yang tidak sekolah sebanyak 3 orang dengan persentase (10,00) dari total petani responden. Dalam mengatasi hal tersebut, peran instansi pertanian yang salah satu fungsinya merupakan pendidikan non formal di lingkungan petani perlu ditingkatkan dalam menambah pengetahuan petani khususnya dalam penerimaan informasi melalui saluran komunikasi, sehingga aktivitas penyuluh pertanian perlu direncanakan secara berkala.

5.1.3. Pengalaman Berusahatani

Pengalaman berusahatani dapat menunjukkan keberhasilan petani dalam mengelolah usahataninya. Sebab dapat menjadi pedoman pada masa yang datang.

Petani yang masih berusia muda belum berpengalaman, sehingga untuk mengimbangi kekurangannya dia perlu dinamis. Sebaliknya petani yang sudah berusia tua banyak berpengalaman dalam berusahatani sehingga sangat berhati-hati dalam bertindak. Adapun pengalaman berusahatani petani responden dapat dilihat pada Tabel 7 berikut ini.

Tabel 7. Pengalaman berusahatani di Desa Batu Belerang Kecamatan Sinjai Borong Kabupaten Sinjai

Sumber : Data Primer setelah diolah, 2015

46 Berdasarkan Tabel 7 menunjukkan pengalaman berusahatani dalam kurung waktu 7-9 tahun sebanyak 3 orang dengan persentase sebesar 10,00 %, 10-12 tahun sebanyak 7 orang dengan persentase sebesar 23,34 %, 13-15 tahun sebanyak 4 orang dengan persentase sebesar 13,34 %, 16-18 tahun sebanyak 6 orang dengan persentase sebesar 20,00 % dan 19-21 tahun sebanyak 7 orang dengan persentase sebesar 23,34 %. Dilihat dari hasil di atas menunjukkan bahwa Petani responden terbanyak memiliki pengelaman berusahatani adalah dalam kurung waktu 10-12 dan 19 -21 tahun sebanyak 7 orang dengan persentase sebesar 23,34%.

Pengalaman berusahatani sangat erat hubungannya dengan keinginan peningkatan keterampilan petani dalam pengembangan usahataninya, karena semakin lama petani responden berusahatani, semakin besar pengetahuan dan keterampilan dalam menerapkan teknologi, sehingga saluran komunikasi yang dilakukan penyuluh dapat diterima dengan baik oleh petani.

5.1.4. Tanggungan Keluarga

Jumlah tanggungan keluarga petani cenderung turut berpengaruh pada kegiatan operasional usahatani, karena keluarga yang relatif besar merupakan sumber tenaga keluarga. Keadaan tanggungan keluarga petani responden dapat dilihat dari Tabel 8 berikut ini.

Tabel 8. Jumlah Tanggungan Keluarga Desa Batu Belerang Kecamatan Sinjai Borong Kabupaten Sinjai

No Jumlah Tanggungan Keluarga (Orang)

Sumber : Data primer setelah diolah, 2015

47 Berdasarkan tabel 8 menunjukkan bahwa jumlah tanggungan keluarga petani responden mulai dari 1-2 orang sebanyak 9 orang petani responden dengan persentase sebesar 30,00 %, 3-4 orang sebanyak 17 orang petani responden dengan persentase sebesar 56,67 %, sedangkan 5-6 orang sebanyak 4 orang petani responden dengan persentase sebesar 13,33 %. Dilihat dari hasil di atas menunjukkan bahwa Petani responden yang memiliki tanggungan keluarga terbanyak adalah jumlah tanggungan 5–6 orang berjumlah 4 orang Petani responden denagan persentase sebesar 13,33 %. Keadaan demikian sangat mempengaruhi terhadap tingkat kesejahteraan keluarga dan untuk peningkatan produksi dalam memenuhi kebutuhannya, sehingga petani berusaha untuk menambah pendapatan melalui usahatani bersama keluarganya

5.1.5. Luas Lahan Usahatani

Lahan sebagai tempat berlangsungnya aktifitas bercocok tanam merupakan salah satu faktor produksi di dalam usahatani. Luas lahan usahatani yang di usahakan oleh setiap petani berfariasi, dimana petani yang memiliki lahan yang lebih luas akan cenderung memperoleh produksi yang lebih besar dibandingkan yang luas lahannya lebih sempit. Untuk mengetahui luas lahan yang diusahakan petani responden dapat dilihat pada Tabel 9 berikut ini.

Tabel 9. Luas Lahan Usahatani Petani Responden di Desa Batu Belerang Kecamatan Sinjai Borong Kabup aten Sinjai

No Luas lahan

Sumber : Data Primer Setelah Diolah, 2015

48 Berdasarkan Tabel 9 dapat diketahui bahwa jumlah petani responden yang memiliki luas lahan usaha tani antara 0,25 – 1,00 hektar mempunyai persentase tertinggi (73,34%) dengan jumlah 22 responden, 1,01-1,75 hektar mempunyai persentase sebesar (16,66%) dengan jumlah 5 responden, Sedangkan jumlah petani responden yang memiliki luas lahan usahatani antara 1,76 – 2,00 hektar hanya mencapai 10 % dengan jumlah 3 responden. Keadaan ini menunjukan bahwa sebagian besar luas lahan usahatani yang dimiliki oleh petani responden relatif sempit.

5.2 Dampak Penyuluhan Metode Komunikasi, Terhadap Sikap, Pengetahuan Dan Keterampilan Petani

Komunikasi adalah suatu proses dimana pihak-pihak peserta saling menggunakan informasi dengan tujuan untuk mencapai pengertian yang sama (pengertian bersama) yang lebih baik mengenai masalah-masalah yang penting bagi semua pihak yang bersangkutan. Komunikasi bukan jawabannya sendiri, tetapi pada hakikatnya merupakan kaitan hubungan yang ditimbulkan oleh penerima rangsangan dan pembangkitan balasan (Mardikanto, 1994).

Komunikasi lansung melalui tatap muka untuk mendapatkan pengetahuan, Bahasa yang digunakan dalam komunikasi adalah bahasa daerah karena masyarakat yang ada di Desa Batubelerang Kecamatan Sinjai Borong Kabupaten Sinjai masih memakai bahasa bugis dalam berkomunikasi, dan pengetahuan dasar yang menyangkut materi atau isi pesan yang ditransaksikan dalam sebuah penyuluhan, akan semakin tinggi keaktifan sebuah komunikasi penyuluhan sehingga penyuluh dapat secara langsung menyampaikan materi kepada petani

49 karena tingkat pengetahuan petani lebih mudah diketahui apabila petani sudah mengerti atau tidak mengerti apa yang disampaikan penyuluh.

Sedangkan metode tidak langsung terhadap perubahan pengetahuan petani dapat dilihat dari tingkat pengetahuannya melalui perantara dengan menggunakan media cetak yaitu poster dan media elektronik yaitu radio dan tv sebagai alat yang digunakan untuk menyampaikan informasi yang akan disampaikan penyuluh sehingga petani dapat membaca, mendengar dan memahami apa isi yang ada didalam media tersebut. Agar penyuluh dapat membandingkan apakah tingkat pengetahuan petani dimiliki dalam komunikasi dapat ditransaksikan dalam penyuluhan karena tingkat pengetahuan petani dapat di ukur setelah dilaksanakan penyuluhan dan melakukan adopsi inovasi atau informasi.

Komunikasi tidak langsung terhadap perubahan keterampilan yaitu petani tidak langsung bertatapan muka oleh penyuluh tetapi hal itu tidak membuat petani sulit untuk mengetahui keterampilan yang akan disampaikan penyuluh tetapi akan mendapatkan informasi melalui media yang akan membantu dalam membaca, mendengarkan dan berfikir melalui radio dan tv misalnya petani diajarkan dalam budidaya markisa baik mulai dari pemilihan bibit sampai pasca panen, metode tidak langsung dapat menolong banyak sekali perhatian dan mengunggah hati petani dan dapat menarik perhatian petani.

5.3 Metode Berdasarkan Indera Penerima Terhadap Perubahan Sikap,

Dalam dokumen NILMAYANTI (Halaman 59-65)

Dokumen terkait