BAB III IDEOLOGI DALAM TIGA CERPEN KARYA PUTU WIJAYA55
3.3 Ideologi Cerpen ‘Merdeka’ Karya Putu Wijaya
3.3.1 Idealisme sebagai Representasi dari Tokoh Merdeka
Ideologi dalam merepresentasikan hubungan individu-individu dibagi menjadi dua bagian, yakni merepresentasikan dari segi imajiner menjadi nyata dan merepresentasikan kenyataan menjadi sebuah imajiner. Dalam pengaplikasiannya terhadap cerpen ‘Merdeka’, representasi yang dimaksud di sini adalah cerminan keidealisan yang berdampak bagi Merdeka dan lingkungannya. Penggambarannya dapat dilihat kutipan berikut.
(17) Merdeka mulai marah dan benci pada kehidupan, karena hidup berpihak pada ketidakadilan. Ia menjadi sinis dan apatis. Dunia yang dibayangkannya sebagai lautan harapan, sekarang sudah menjadi sarang kebobrokan. Masa depan hanya enak dalam obrolan, pada kenyataannya semua kentut. (Wijaya, 2010:29).
Pada kutipan (17) terlihat bahwa adanya representasi ideologi terhadap relasi-relasi individu. Maksudnya adalah tokoh Merdeka sebagai seorang idealis diperhadapkan dengan keadaan dunia yang membuatnya marah, skeptis, dan apatis. Apa yang dia bayangkan tidak sesuai keinginannya dan membuatnya menjadi sinis serta apatis.
(18) “Berkorban? Berkorban apa? Ini sudah zaman merdeka, kita tidak memerlukan pengorbanan jiwa lagi seperti di masa revolusi seperti Bapakku. Kita memerlukan pekerja-pekerja lapangan yang canggih. Dan aku canggih. Aku tidak mau mengorbankan jiwaku. Aku mau berbakti kepada bangsa, negara dan rakyatku. Kamu jangan macam-macam, Duk!” (Wijaya, 2010: 35).
Sama seperti kutipan (17), kutipan (18) juga menunjukkan representasi yang berbeda. Kutipan (18) adalah wujud nyata ketika ideologi yang ada dalam pikiran Merdeka berbeda dengan keadaan dunia nyata. Wujudnya adalah tanda tanya kenapa harus melakukan sesuatu demi mengikuti ideologi yang ada di
lingkungan sekitar. Selain tanda tanya, respon lainnya adalah tidak terima dan mengucapkan protes.
(19) “Sialan! Aku memang perlu uang. Aku tahu untuk hidup orang membutuhkan uang. Tapi aku tidak hidup untuk mencari uang. Aku cari uang untuk hidup. Dan aku hidup untuk menjalankan amanat bapakku untuk membangun bangsa ini. Untuk menjadi manusia yang berarti dan berbuat kebajikan kepada negeri dan rakyatku!” (Wijaya, 2010:31).
(20) “Mengganti nama? Tidak. Tidak mungkin,” katanya. “Nama ini pemberian bapakku. Dia seorang pejuang yang hebat. Dia orang yang jujur. Dia sudah berjasa kepada negeri ini, tetapi dia tidak punya uang. Dia tidak punya pabrik. Dia tidak punya kekuasaan. Dia hanya punya cita-cita dan konsep. Dan semua itu dia wariskan kepadaku. Aku tidak bisa mengganti apa yang diwariskan oleh orang tuaku begitu saja. Karena itu adalah amanat. Aku tidak mau menjadi manusia durhaka!” (Wijaya, 2010:36).
Kutipan (19) dan (20) adalah bentuk responsif dari Merdeka ketika ideologi kebebasan yang dipegang teguh, nyatanya berbanding terbalik dengan dunia nyata. Dalam hal ini, representasi idealismenya mengalami kekacauan dan menuntutnya untuk mempertahankan idealismenya itu.
3.3.2 Interpelasi Kebebasan dalam Diri Merdeka
Interpelasi adalah salah satu bagian dari ideologi yang bersifat pemanggilan terhadap subjek. Dalam cerpen ‘Merdeka’, Merdeka terpanggil untuk menjadi subjek dari kebebasan karena adanya perbedaan ideologi yang signifikan antara Merdeka dan masyarakat. Pemanggilan yang dimaksud adalah kebebasan yang diperoleh Merdeka berbeda dengan masyarakat. Hal tersebut dapat dilihat dalam kutipan-kutipan berikut.
(21) Merdeka tidak peduli apa yang dikatakan guru-gurunya. Ia lapar ilmu. Ia buka mulutnya lebar-lebar untuk mereguk. Dia tidak peduli sama sekali apa perasaan guru-gurunya. Kalau ia tak setuju, tanpa
pertimbangan lagi ia protes. Tidak pandang tempat dan waktu, ia langsung dobrak. (Wijaya, 2010:27).
Dalam kutipan (21) kebebasan tersebut terggambar secara tidak langsung. Merdeka terinterpelasi untuk meraup ilmu semaunya dan sesuka hatinya, tanpa memedulikan guru-gurunya. Keterpanggilan tentang kebebasan dalam meraih ilmu adalah salah satu cerminan dari interpelasi kebebasan.
(22) “Kalian semua hanya ngomong-ngomong muluk, prakteknya semua dagang. Segala kegombalan yang kalian maki-maki, nyatanya kalian kaji sendiri!” teriak Merdeka. (Wijaya, 2010; 28).
Kutipan (22) menggambarkan interpelasi kebebasan dari segi menyuarakan pendapat. Merdeka terpanggil untuk menyuarakan pendapatnya secara bebas dibandingkan orang lain. Disaat orang lain tidak terima dengan situasi dunia nyata, tetapi enggan untuk membuka mulut. Merdeka terpanggil untuk menyuarakan ketidakadilan dan tidak terima, sehingga itu adalah wujud kebebasan lainnya.
(23) “Nah!” teriak orang tua itu lebih dahsyat lagi. “Kamu ini merdeka karena kamu masih bisa bilang tidak. Tidak ada orang yang tidak merdeka bisa bilang tidak. Jadi tetaplah merdeka. Sekali merdeka tetap merdeka. Jangan berhenti. Jangan pernah berhenti merdeka, Merdeka. Jangan menyerah. Tetaplah merdeka! Teruskan… hhhhhhhh!!!” (Wijaya, 2010; 40).
Kutipan (23) memperlihatkan bentuk interpelasi dari segi yang berbeda, yakni dari ayah Merdeka. Pemanggilan yang dimaksud di sini berupa pandangan orang lain terhadap subjek. Jika dilihat dari paragraf sebelumnya, Merdeka meneriakkan kata ‘tidak’ dengan lantang, berarti Merdeka masih bisa berkata tidak secara bebas dibandingkan orang lain.
3.3.3 Ideologi Bebas
Ideologi yang terdapat dalam cerpen ‘Merdeka’ adalah ideologi bebas karena adanya kebebasan dari diri Merdeka, tanpa harus terkungkung dalam sistem yang dibuat masyarakat. Merdeka bebas mencela sistem dan memberontak jika tidak sesuai dengan idealisme yang dipegangnya. Penerapannya dalam cerpen ‘Merdeka’ dapat dilihat dalam kutipan berikut.
(24) “Kalian semua hanya ngomong-ngomong muluk, prakteknya semua dagang. Segala kegombalan yang kalian maki-maki, nyatanya kalian kaji sendiri!” teriak Merdeka (Wijaya, 2010:28).
(25) “Sialan! Aku memang perlu uang. Aku tahu untuk hidup orang membutuhkan uang. Tapi aku tidak hidup untuk mencari uang. Aku cari uang untuk hidup. Dan aku hidup untuk menjalankan amanat bapakku untuk membangun bangsa ini. Untuk menjadi manusia yang berarti dan berbuat kebajikan kepada negeri dan rakyatku!”(Wijaya, 2010:31).
(26) “Tidak! Aku tidak mau jadi orang Jawa yang nrimo. Itu sudah kuno! Aku manusia baru. Aku bukan proyek feodalisme yang mau saja menjadi budak segala ketidakadilan ini. Aku mau berontak!” (Wijaya, 2010:31).
Kutipan (24), (25), dan (26) menunjukkan adanya ideologi bebas yang dianut oleh Merdeka karena Merdeka mampu menyuarakan apa yang ingin disampaikan. Disaat semua orang-orang haus akan jabatan dan melakukan hal-hal kotor, Merdeka menyuarakannya dan tidak terima. Merdeka menggunakan akal sehatnya untuk bertindak. Ia bebas dan tidak terikat ideologi-ideologi yang tidak sesuai dengan idealismenya.