• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ideologi Menginterpelasi Individu sebagai Subjek

BAB I PENDAHULUAN1

1.6 Landasan Teori

1.6.2 Ideologi dalam Perspektif Louis Althusser

1.6.2.2 Ideologi Menginterpelasi Individu sebagai Subjek

Tidak ada ideologi kecuali bagi subjek-subjek yang konkret dan tujuan bagi ideologi hanya memungkinkan lewat kategori subjek dan bentuk fungsionalisasinya. Kategori subjek merupakan kategori konstitutif dari semua ideologi karena ideologi tidak memiliki sejarah. Namun, kategori subjek hanya bersifat konstitutif dari semua ideologi sepanjang semua ideologi memiliki fungsi yang ‘mengkonstitusi’ individu-individunya sebagai subjek. Dalam interaksi konstitusi ganda terdapat fungsionalisasi semua ideologi, yakni ideologi adalah kekosongan, kecuali fungsionalisasinya dalam bentuk eksistensi material dari fungsionalisasinya.

Kategori subjek adalah ‘keniscayaan’ utama, yang mana manusia adalah subjek dan menganggap suatu kata ‘menamai suatu benda’ atau ‘memiliki arti’ merupakan efek ideologi mendasar. Yang bekerja dalam reaksi ini adalah fungsi pengenalan ideologis yang merupakan salah satu dari fungsi ideologi yakni salah sangka (meconnaissance). Untuk merepresentasikan penyebab ‘subjek’ menjadi bentuk konstitutif ideologi, terdapat satu cara yakni semua ideologi menginterpelasi individu sebagai subjek konkret dengan memungsikan sebagai kategori subjek.

Semua ideologi menginterpelasi individu sebagai subjek konkret dengan memungsikan sebagai kategori subjek yakni ideologi berfungsi dengan suatu cara yang merekrut subjek-subjek di antara individu-individu atau mengubah indvidu-individu sebagai subjek melalui operasi yang sangat presisi. Ideologi bersifat eksternal dan selalu menginterpelasi individu-individu sebagai subjek membawa

ke satu pengertian lain yakni individu-individu adalah subjek yang selalu mengakhiri (indivuals are always-already subject). Individu bersifat ‘abstrak’ berkenaan dengan ideologi yang selalu mengakhiri.

Menurut Harrison dan Tony (2018) kajian terhadap ideologi dapat dibagi atas beberapa bagian, yaitu 1) Marxisme dan ekonomi/faktor kelas, 2) ideologi dominan dan ideologi resistensi (perlawanan), 3) ideologi restrifikasi (terkungkung) dan ideologi bebas, 4) ideologi kiri, kanan, dan tengah.

(1) Marxisme dan Ekonomi/Kelas Faktor

Dalam studi yang dilakukan oleh Marx dan Engels, terlebih dalam The

German Ideology (1846) dijelaskan bahwa terdapat kaitan antara kondisi material

dan masyarakat, yang mana kekayaan itu diproduksi (substruktur), untuk struktur kelas dan sistem kepercayaan (superstruktur). Saat sistem ekonomi berubah, ideologi menopang hal tersebut, sama seperti dengan sistem kelas ekonomi yang muncul dari ‘relasi produksi’ yang saling dihubungkan. Salah satu contohnya adalah liberalisme. Liberalisme adalah ideologi sama seperti ideologi lainnya. Sebagai salah satu kebenaran universal yang nilai-nilainya sesuai dengan semua kalangan dan tidak hanya untuk lingkungan liberalis. Liberalisme digunakan sebagai alat ideologi untuk melindungi dan memperkuat kepentingan kelas-kelas tertentu (borjuis) dan membantu mengeksploitasi kelas pekerja (proletar).

Ideologi berkaitan dengan kelas jika masyarakat menjadi satu bagian dengan kelas masyarakat lainnya, maka konsekuensi akan terjadi revolusi proletar yang tidak bisa dihindari dan ideologi borjuis akan menghilang. Lenin dalam

bukunya What is to be Done? (1902) berkata jika strategi tidak hanya bekerja melalui pesta revolusi semata, tetapi juga melihat ideologi sosialis menjadi alat dari kaum proletar untuk menggulingkan kekuasaan dan kelas penguasa. Dalam hal ini, ideologi sebagai sebuah pembenaran dari peraturan. ‘eksploitasi manusia manusia’ dari kaum kapitalis berubah menajdi ‘eksploitasi manusia dari manusia’ di bawah sosialisme Soviet (Harrison dan Tony, 2018:138-139).

(2) Ideologi Dominan dan Ideologi Resistensi

Ideologi digunakan oleh kaum sosial dominasi untuk mempertahankan dan meningkatkan posisi kekuasaan dalam pertarungan ide. Ideologi dalam sosial kapitalis yang dimaksud adalah sesuatu yang digunakan untuk kelas dominasi untuk menegakkan peraturan. Mereka menembus lapisan masyarakat mulai dari budaya populer ke sistem pendidikan, dari institusi keagamaaan ke olahraga.Proletar dalam hal ini menggunakan rantai untuk mengikat dirinya dengan kaum borjuis dengan sepenuh hati. Bagaimana pun, ideologi dominasi tidak memiliki lapangan untuk dirinya sendiri. Sosial dan kelompok politik dalam kekuasaannya tidak selalu tunduk pada legitimasi sistem yang mereka gunakan. Ideologi resistensi (perlawanan) atau konter-ideologi, berkembang untuk satu tujuan dan maksud sosial dan perjuangan politik dari orang-orang yang ingin reformasi atau menggulingkan struktur politik (Harisson dan Tony, 2018: 139-140).

(3) Ideologi Terkungkung dan Ideologi Bebas

Ideologi terkungkung adalah kumpulan ide yang dari kerangka yang terusun dengan baik, seperti yang dilihat dalam teks-teks ideologi tradisional yang membentuk kehidupan politik modern. Liberalisme, konservatisme, sosialisme, Marxisme, fasisme, dan lain-lain serta gerakan yang dikenali sastra sebagai prinsip utama dari sistem kepercayaan ideologi. Istilah ini menunjukkan gambaran kekerasan, kesempitan, dan kefanatikan terhadap ideologi. Referensi dari nilai-nilai pemikiran dan tindakan, rasa identitas dengan, dan komintemen untuk, seringkali memperlihatkan tingkat fleksibelitas dalam penggunaan praktik ideologi untuk tetap berhubungan dengan dunia sekitar dan tetap relevan dengan masalah kontemporer. Ideologi ini bisa menjadi alasan rasionalitas dari pihak yang berkomitmen dari kelompok sosial. Hanya saja, jutaan orang bisa tertindas atau kehilangan gerakan politiknya karena adanya dorongan paksaan kebeneran ideologi dalam masyarakat (Harisson dan Tony, 2018:140-141).

Ideologi bebas adalah serangkaian ideologi yang diasumsikan dan dibagi oleh kelompok sosial. Manusia adalah bentukan dari ideologi, sekalipun ideologi yang dimiliki tidak harus dipikirkan dengan baik atau logis. Penganut ideologi ini mungkin tidak menyadari ideologi bahwa mereka ideologis. Hanya terasa seperti mereka bekerja menggunakan akal sehat (Harisson dan Tony, 2018: 141).

(4) Ideologi Kiri, Kanan, dan Tengah

Pengaplikasian tentang kiri dan kanan pada politik pertama kali dikenalkan dari Prancis Estates General3 (1789) yang diketuai oleh raja Louis XVI. Ideologi

kanan lebih kepada patriotisme, ketertiban, disiplin sosial, nilai-nilai tradisional, kecurigaan penuh pada pemerintah, kebebasan dan individualitas sebagai bentuk kebaikan politik yang lebih tinggi daripada kesetaraan. Ideologi kanan sering dikenal dengan ideologi agamawis. Ideologi tengah memiliki nilai yang berbeda, sedikit menyertakan ketimpangan, negara berperan besar dalam membantu individu, tekanan besar dari kebebasan, dan optimisme tentang kemungkinan untuk meningkatkan sifat manusia dan masyarakat. Ideologi tengah sering disebut dengan ideologi liberalisme. Sedangkan ideologi kiri menekankan pada peran negara dalam membuat kesetaraan sosial tumbuh, termasuk di dalamnya adalah kolektif atas alat produksi, penekanan besar terhadap hak-hak kelas dan analisis kelas dalam masyarakat. Ideologi kiri sering juga disebut ideologi komunis (Harrison dan Tony, 2018:141-142).

Dalam studi ini, kajian ideologi akan mencakup 1) ideologi adalah sebuah ‘representasi’ individu dari kondisi imajiner menjadi nyata dalam eksistensinya melalui aparatus negara, 2) ideologi yang menginterpelasi individu melalui sebuah operasi, dan 3) jenis ideologi yang memperlakukan individu sebagai sebuah subjek.

3Tingkatan yang ada di Prancis yang sebelum Revolusi Prancis mewakili tiga tingkatan. Tingkatan pertama yaitu bangsawan, kedua pendeta, dan yang ketiga adalah seluruh masyarakat.