• Tidak ada hasil yang ditemukan

Aesthetic Ideology Mastermind Puppet Mask Malang

IDIOLOGI ESTETIK DALANG WAYANG TOPENG MALANG

Suparjo (53 th.) ketua Wayang Topeng Wirabakti dari Desa Jabung. Suroso (43 th.) penari dari Desa Kedungmonggo. Sumantri (60 th.) Pengendang Wayang Topeng dan komposer musiki tradisional Malang Observasi dilakukan pada penyajian Wayang Topeng pada Bersih Desa di Pijiombo, Ruwatan Wayang Topeng di Nduwet Tumpang, dan penyajian Suguh Pundhen di Desa Kedungmangga setiap bulan pada hari Senin legi.

Analisis data menggunakan teori kekuasaan. Teori ini mengisyaratkan tentang besar kecil dari kekuasaan yang dimiliki individu. Kekuasan yang diterima karena aspek keturunan atau pelimpahan yang dimandatkan dari sebuah komunitas. Ekspresi kekuasaan simbol adalah kekuatan membujuk dan memaksa untuk mengikuti ide-ide seniman (Fashri, 2007: 92). Kuasa simbol yang diterapkan dalam komunitasnya digunakan oleh Daryusti, untuk meneliti kuasa Penghulu pada Budaya Minangkabau (Daryusti, 2006: 34). Tindakan yang diekspresikan para dalang diinterpretasikan dan dimaknai berdasarkan reaksi serta relasi yang ditimbulkan atas respon dari orang-orang tertentu, dalam hal ini adalah para Anak Wayang.

Wayang Topeng di Kabupaten Malang pada tahun 1930-an tesebar di berbagai desa. Masyarakat memfungsikan Wayang Topeng sebagai Suguh Pundhen pada saat Bersih Desa. Pada dasawarsa awal abad XI ini, desa-desa yang masih melestarikan Suguh Pundhen dengan menggelar Wayang Topeng adalah Desa Kedungmonggo di Kecamatan Pakisaji, Desa Pijiombo di Kecamatan Wonosari, dan Desa Jatiguwi di Kecamatan Sumberpucung.

Tradisi pementasan pada Ritual Bersih Desa merupakan upaya untuk memperingati siklus pembukaan lahan pemukiman, masyarakat di Malang menyebut dengan istilah Bedah Kerawang. Bedah Kerawang yang dimaksud adalah orang yang dianggap memiliki jasa membuka pemukiman. tempat sakral yang digunakan untuk memperingati

Volume 30, 2015 MUDRA Jurnal Seni Budaya

kerajaan menyelenggarakan ritual-ritual tradisional (Boechari, 2012: 277-278). Rama-Rama sebagai pimpinan adat dan sekaligus pimpinan komunitas mempunyai kewajiban menyelenggarakan peringatan hari penetapan Sima setiap tahun. Tradisi itu menjadi model dalam memperingati para Bedah Kerawang yang dianggap roh-rohnya masih bersemayam di tempatnya. Roh Bedah Kerawang oleh kebanyakan masyarakat di Jawa disebut sebagai Dahnyang Desa.

Di ketiga desa itu ketika menyelenggarakan ritual Suguh Pundhen selalu berkoordinasi dengan seorang dalang, melalui M. Dahlan, seorang Kamituwa Desa Kedungmangga selalu bertindak sebagai koordinator. Kamituwa bertugas sebagai menyedia sarana prasarana ritual, termasuk yang mengupayakan dana. Tugas ini dilakukan atas dasar tradisi secara turun-temurun. Pada semula ayah M. Dahlan juga jadi Karituwa di desanya. Bahkan tugasnya lebih berat, selain menggalang dana sosial juga dibebani tugas untuk memimpin doa yang disebut Suguh setiap bulan, pada hari Senin Legi. Sekarang tugas ritual itu sudah diambil alih oleh dalang, bahkan setiap bulan tidak hanya suguh dengan membuat sesaji dan membakar kemenyan di pundhen Belik Kurung. Sekarang juga disertai pertunjukan Wayang Topeng (wawancara dengan Dahlan pada 3 Januari 2014).

Masyarakat di Malang masih meyakini dalang sebagai orang yang memiliki kaweruh (pengetahuan) spiritual, di samping sebagai seniman. Dalang sebagai pimpinan ritual mempunyai tugas membacakan doa-doa (mantra) permohonan keselamatan, kelimpahan berkah, dan tolak balak. Tugas ini sama dengan yang dilakukan oleh Mandakat, yang membaca mantra dan menyempurnakan kurban, berupa memecahkan telur ayam ke dalam Watu Kulumpang dan meneteskan darah ayam yang disembelih. Di samping itu juga menyampaikan sejarah tanah perdikan (mendongeng) dan menutup dengan sapatah (kutukan). Bentuk sapatah itu sama dengan pesan moral yang harus dipatuhi.

Spiritualitas yang dipelajari oleh seorang dalang adalah menjadi syarat yang menertai dalam belajar teknik-teknik seni pertunjukan. Rasimen, seorang dalang dari Desa Kedungmonggo selalu membaca melakukan ritual mandi kramas (menyucikan

diri dengan cara mandi) dan membaca mantra khusus ketika terang bulan. Ritual itu dilakukan untuk membuat kemampuan mengingat tetap kuat. Apabila akan melaksanakan pentas, Rasimin melakukan ritual puasa dan tidak tidur semalam suntuk. Tujuannya agar pertunjukan berjalan lancar dan penonton tidak pulang sebelum pertunjukan selesai. Ritual yang dilakukan oleh Rasimin itu juga dijalankan oleh Karimoen, pimpinan Wayang Topeng Asmarabangun dari Desa Kedungmonggo (wawancara dengan Suroso pada 21 Mei 2013). Para Anak Wayang (anggota) selalu disarankan untuk puasa kalau belajar menari. Bahkan jika telah mampu menari dan pentas untuk pertama kali. Karimun mengharuskan penari itu untuk melakukan selamatan yang disebut telasan (mengakhiri). M. Soleh Adipramono, seorang dalang Wayang Topeng dari Desa Kemulan. Selalu mengadakan puasa jika akan mengadakan pertunjukan, terlebih untuk pertunjukan ritual. Bahkan Ki Soleh selalu memeriksa dengan cermat berbagai sajen yang disediakan si empunya hajat. Menutut Ki Soleh, sesaji yang disedikan untuk ritual jika kurang akan berakibat pada penyajian pertunjukan Wayang Topeng. Di Desa Pijiombo, Kecamatan Wonosari pernah terjadi ada penari yang kerasukan roh. Topengnya tidak dapat dilepaskan dari mukanya. Setelah diteliti, ternyata Kapur Sirih tidak tersedia (wawancara dengan Adipramono pada 5 Desember 2013).

Karimun juga pernah menceritakan, bahwa dalang Wayang Topeng harus mempunyai kekuatan spiritual. Karena pergelaran analoginya seperti maju ke medan perang. Semua Anak Wayang sangat bergantung pada dalang. Kelancaran pentas dan juga keselamatan ditentukan oleh besar kecilnya kekuatan dalang. Dalang yang tidak memiliki kekuatan spiritual terkadang dapat diganggu oleh orang-orang yang ilmunya lebih tinggi, selain dari pada itu juga kadang diganggu oleh roh-roh penunggu Pundhen Desa. Beberapa penari pernah tidak sedar diri dan topeng yang dipakai tidak dapat dilepas. Setelah dalang memeriksa kelengkapan sesaji, ternyata tidak disertakan kapur sirih dan badek tape ketan hitam. Setelah kekurang sesaji diperintahkan untuk disediakan, anak wayang yang kesurupan segera dapat disadarkan.

Robby Hidajat (Idiologi estetik Dalang Wayang..) MUDRA Jurnal Seni Budaya

Kasnam dalang Wayang Topeng dari Desa Kesamben meyakini kekuatan roh penunggu desa yang disebut Danyang Desa. Roh penunggu itu akan marah jika waktu menggelar pertunjukan Wayang Topeng untuk Ritual Ruwatan. Dalang yang disyaratkan untuk Ritual Ruwatan sangat berat. Dalang itu harus memiliki pengetahuan dan pengalaman spiritual yang mendalam, bahkan disyaratkan juga berasal dari keturunan dalang. M. Soleh Adipramono meyakini bahwa dia adalah keturunan dalang, kakeknya yang bernama Rosman adalah dalang ruwat. Sebagai cucu seorang dalang, ada tanggung jawab spiritual untuk mewarisi sebagai dalang ruwat. Jika diminta meruwat di suatu tempat, terlebih dahulu dilakukan suguh di pundhen desa tempat menggelar Wayang Topeng. Seminggu sebelumnya sudah menyucikan diri dengan cara berpuasa atau tidak tidur sore hari. Anak Wayang diperintahkan untuk menyiapkan mental dan spiritual dengan cara membersihkan diri dengan mandi kramas, tidak banyak berbicara pada waktu persiapan pentas, meletakan topeng-topeng pada tempat yang lebih tinggi dari tempat duduk (wawancara dengan Adipramono pada 4 Januari 2014).

Hasil analisis berdasarkan teori kekuasaan, yaitu melihat seseorang dari besar kecilnya potensi kewenangan menentukan dan memutuskan sesuatu untuk melakukan tindakan atau mempengaruhi masyarakat. Dalang sebagai orang yang dipercaya memainkan anak wayang dan juga mempunyai kewenangan untuk memimpin ritual tradisional, Ruwatan, Nadhar, atau Suguh Pundhen pada waktu Ritual Bersih Desa. Kekuatan-kekuatan yang dimiliki secara kualitas menjadi keyakinan yang mampu memaksakan pada orang lain.

Idiologi Dalang

Dalang-dalang Wayang Topeng di Malang pada umumnya bukan dalang komersial seperti dalang Wayang Purwa. Seperti Rasimin dan Kasnam, dalang Wayang Topeng Asmarabangun dari Desa Kedungmongo atau Wiji, dalang Wayang Topeng

baik menyelenggarakan hajatan atau membangun rumah. Bahkan ada yang meminta jasa mereka untuk mengembalikan istri atau suami yang meninggalkan rumah tanpa pamit. Jika ada orang yang sedang menyelenggarakan hajatan, para dalang diminta secara khusus untuk menjaga agar tamu yang diundang datang semua atau mencegah turunnya hujan.

Karimun, selain sebagai seorang dalang juga menjadi pimpinan aliran kepercayaan yang disebut Kaweruh Kasunyatan. Pada masa hidupnya, Karimun selalu mentakbiskan pengikutnya dengan ritual khusus yang disebut mijeni. Mijeni berasal dari istilah ‘wiji’ artinya benih. Pengikut aliran kepercayaan itu ditakbiskan dengan harapan dapat menyemaikan diri seperti benih yang disemaikan. Umumnya para Anak Wayang mendapatkan ajaran yang diyakini Karimoen. Kayakinan itu dianggap sebagai sarana penyerahan diri, mengendalikan hawa nafsu, dan mengalirkan segala sesuatu sebagaimana adanya. Anak Wayang dijadikan tokoh tertentu dikarenakan atas kesesuaian antara fisik dengan kemauannya. Fisiknya sesuai, namun kalau kemauannya tidak ada. Anak Wayang itu tentu tidak akan jadi tokoh yang dikehendaki oleh dalang. Dalang itu adalah orang yang sekedar menggerakkan wayang. Dia tidak mempunyai kewenangan untuk memastikan sesuatu yang terjadi, karena sesuatu yang dialami seseorang tergantung dari sesuatu yang disebut ‘kapesten’ (takdir). Kata itu seolah-oleh tidak ada pilihan bagi Anak Wayang yang menginkan sesuatu menurut hasratnya, sehingga yang dapat dilakukan adalah mengikuti nasihat dalang untuk menjadi yang terbaik. Jadi prajurit kalau sangat trampil, merupakan pencapaian tertinggi. Jakimin, salah satu penari Wayang Topeng dari Desa Gelagahdawa. Sejak belajar menari dia tidak pernah menarikan tokoh. Dia hanya merupakan penari spesialis tari prajurid, yaitu Tari Grebeg.

Volume 30, 2015 MUDRA Jurnal Seni Budaya

itu adalah orang yang mengemukakan realitas, yaitu ‘kesejatian dari sesuatu.’ Para tokoh dan lakon yang dimainkan itu adalah Kaweruh kesejatian atau yang disebut dengan Kasunyatan Jati. Oleh karena itu, para dalang selalu menekankan, bahwa Lakon itu adalah ‘laku.’ (tindakan) yang harus ‘dilakoni.’ (dijalankan). Wayang itu adalah laku yang dilakoni (dijalankan). Di sini dapat ditegaskan, bahwa dalang itu memang orang yang bertugas ‘menjalankan titah’ (menjalankan perintah), wayang itu adalah lakune titak. Kehidupan yang digelar adalah Kasunyatan. Pada kitab Arjuna Wiwaha (Empu Kanwa). Diceritakan ada orang yang menangis ketika menyaksikan pertunjukan wayang (Hazeu 1979: 41).

Idiologi Estetik

Idiologi estetik dalang dalam berkesenain tampak pada peranannya dalam seni pertunjukan, yaitu seniman yang memainkan Anak Wayang, dalam hal ini pemain topeng. Penari-penari Topeng di Dusun Kedungmonggo sudah terbiasa menerima intruksi dari dalang. Mereka hanya mengkondisikan gerak tari dari tokoh-tokoh yang diperankan. Struktur tari dari tokoh untuk semua penampilan pada umumnya sama. Hubungan hirarkis ini bersifat patriaki. Para Anak Wayang menaruh hormat dan mematuhi berbagai instruksi dalang. Oleh karena itu, dalang merupakan sumber referensi dari kualitas Anak Wayang. Kasnam selalu menunjuk Handoyo yang bertubuh tinggi besar, penampilannya tenang, tenaganya kuat dan tegas sebagai tokoh Klana Sewandana, Bagus yang berperawakan sedang agak kurus, tenaganya yang kuat, serta gerakannya yang patah-patah dipercaya sebagai penari Bapang. Pola ini tidak terlalu istimewa, sebab para dalang Wayang Topeng pada umumnya paham terhadap karakteristik Wayang Purwa. Oleh karena itu, postur penari Wayang Topeng pada umumnya menggunakan referensi dari tokoh-tokoh Wayang Purwa. Klana Sewandana seperti Dasamuka, Panji Asmarabangun seperti Arjuna, Gunungsari seperti Samba, Bapang seperti tokoh Cakil (sungguhpun wataknya seperti Dursasana). Idiologi estetik yang diterapkan pada Wayang Topeng adalah berdasarkan pola yang disebut referensial. Pengetahuan referensial dalang dari Wayang Purwa adalah moral, Arjuna yang lemah lembut merupakan orang yang sangat kuat. Secara phisik mengarahkan pada pandangan bahwa

bukan ukuran phisik untuk menjadi kuat, namun kehalusan budi perkerti yang luhur umumnya berada pada phisik-phisik yang kecil, gerak yang lembut, dan tidak emosional.

Tafsir-tafsir lakon ada di tangan dalang. Karimun adalah salah satu dalang yang seringkali banyak memasukan pengalaman hidupnya dalam lakon. Penghayatannya terhadap ketentraman, kesuburan, dan perdamaian masyarakat dibentuk dalam wujud penyajian. Lakon mbalike pusaka gedhong semara denok yang digunakan sebagai penampilan bersih desa di Desa Kedungmangga. Lakon itu menceritakan bahwa ‘wanita.’ yang diistilahkan ‘denok.’ adalah pusaka yang dipertahankan oleh komunitas masyarakat yang mengidamkan keselamatan. M. Soleh Adipramono juga salah satu dalang muda yang memaksakan gerak dinamika lakon Panji sebagai kekuatan pemersatu bangsa, sehingga Panji Nusantara adalah salah satu karya yang menjadi obsesi kuasa estetiknya (wawancara dengan Adipramono pada Januari 2014).

M.Soleh Adipramono juga merasa yakin, bahwa Panji adalah nenek moyang raja-raja di Jawa Timur, Setidaknya dapat dilacak melalui eyang Darmawangsa Teguh yang menurunkan kekuatan dewata penjaga ketentraman dunia, yaitu Erlangga, yaitu Wisnu. Panji sebagai pemersatu nusantara adalah pengejawaantahan Dewa Wisnu. Transformasinya dalam kehidupan di perdesaan hadir sebagai dalang sejati. sementara pasangan Betari Sri hadir sebagai bentuk tumbuh-tumbuhan yang memberikan berkah kesuburan. Maka Kuasa estetik dari Wayang Topeng lakon Panji adalah lakon tentang kesuburan.

Paham kesuburan secara transformatif terkait dengan kedudukan dalang. Dalang bukan individu profesional yang hanya sebagai ‘tukang seni.’ Dalang memiliki koneksitas diakronis dengan syaman; pemimpin ritual kuno; berdasarkan ritual Hindu memilik koneksitas diakronis dengan Resi; menurut falsafah ritual Hindu Jawa memiliki konesitas diakronis dengan manguyu, berdasarkan sistem pemerintahan Hindu, dalang setara dengan makundur, dan pada sistem pemerintahan Islam setara dengan modin/kaum, dan ritual seni pertunjukan WTM ditemukan kedudukan dalang.

Robby Hidajat (Idiologi estetik Dalang Wayang..) MUDRA Jurnal Seni Budaya

Selain dari pada itu ditemukan fungsi Juru Mandakat secara khusus disebut pahawuhawu; petugas yang berkuasa untuk hiburan atau tempat pertunjukan, dalang; petugas untuk pemain dagelan atau pelawak, atapukan: petugas yang mengurus Wayang Kulit, abanwal: pelawak atau badut, haluwarak: petugas pengurus gamelan (Haryono, 2008: 32-37).

Jika dianalisis secara transformatif, bahwa dalang yang dianggap sebagai eksistensi Wisnu adalah memiliki pasangan oposisional yaitu ‘Kamituwa,’ yaitu pamong desa. Dalam penampilan Wisnu tampil sebagai Panji dan Kamituwa tampil sebagai Semar. Pasangan opisisional ini bertugas untuk menjaga ketentraman dan keselamatan masyarakat agraris. M. Soleh Adipramono setiap menyelenggarkan ruwatan. Lakon Murwakala sebagai sarana menolak balak anak-anak sukerto, yaitu anak yang terancam kekuatan magis dari Betara Kala karena kelahiran atau perbuatan yang diangap salah. Panji Asmarabangun selalu digunakan sebagai Dalang Kondobuwono. Dalang sebagai pengejawentahan dari Dewa Wisnu bertanggung jawab menentramkan dunia, selain dari pada itu para anak-anak yang telah dibebaskan itu menjadi anak angkat dari para dalang ruwat. Ini membuktikan, bahwa dalang memiliki kuasa. Kehadiran dalang dalam komunitasnya bersifat fungsional, sehingga tindakannya selalu diperhitungkan oleh masyarakat. Oleh karena kepercayaan masyarakat yang begitu besar, M. Soleh Adipramono selalu bertindak hati-hati dalam

memerankannya. Ide tirakat dengan cara berpuasa itu tidak ada pakem khusus, akan tetapi atas dasar tanggung jawab dan sikap menjaga keselamatan dari semua yang terlibat di dalamnya.

Dalang memiliki kedudukan sentral, bahkan avatar dari Wisnu juga menjadi bagian integral dari pribadinya, yaitu Sebagai Dalang Purbasejati. Sehingga dalang merupakan pribadi yang memiliki kewenangan atas segala hal, termasuk melepaskan pengaruh buruk dalam kehidupan manusia. Anak-anak yang telah dibebaskan dari ancaman Betara Kala itu secara langsung telah menjadi ‘anak angkat.’ Oleh karena itu ‘kuasa’ dalang menjelma sebagai ‘bapak.’ atau ‘Rama’ (tetua desa) yang selalu melindungi masyarakat dan menjaga atas berbagai ancaman marabahaya yang sewaktu-waktu mengancam, termasuk wabah penyakit dan kelaparan. Misi ini yang membuat dalang mengambil kuasa ‘Wisnu’ agar sebagai pribadi pelindung kesejahteraan alam raya.

Kuasa estetik dalang meliputi ‘keindahan murni’ dan ‘keindahan etika.’ Perpaduan itu menempatkan dalang sebagai sumber tata nilai dari komunitasnya. Karena dalam beberapa sumber sastra Jawa menempatkan dalang sebagai ‘guru sejati.’ Guru yang mengajar melalui berbagai bentuk wacana yang disebut sebagai ‘pasemon.’ sindiran. Baik disampaikan sebagai tuntuan, tontonan, dan hasil akhir yang diharapkan adalah sebuah tatanan struktur masyarakat yang idial, yaitu masyarakat Tabel 1. Transformasi dalang

Ritual Kuno/ prasejarah

Ritual

Hindu Falsafah Ritual Hindu Jawa Masa Pemerin-tahan Hindu Masa Pemerin-tahan Islam Ritual Seni Pertunjukan Wayang Topeng Syaman Anak Wanua Resi Brahmacarin Manguyu/ Jangga Kaki dan Endang Makudur Juru Mandakat Modin/ Kyai Kaum Dalang Pengrawit/ anak wayang/ Sinden

Volume 30, 2015 MUDRA Jurnal Seni Budaya

kuasa alam, tanah dan lumpur-lumpur yang akan menentukan tumbuhnya benih. Kegagalan penanaman merupakan ancaman, namun sepirit yang dilantunkan oleh dalang ketika memulai masa tanam menjadi harapan masa depan yang penuh dengan kemakmuran, bahkan ditekankan dengan harapan seger, waras, slamet.

SIMPULAN

Dalang adalah kata asli yang terkait dengan seni pertunjukan Jawa. Transsformasi istilah dan fungsi dalang hingga saat ini terkait dengan kehidupan sosial masyarakat agraris, yaitu dianggap sebagai sesepuh atau pinisepuh. Orang yang memiliki peran penting disamping para pamong desa. Oleh karena itu keberadaan dalang dan pamong desa hadir sebagai bentuk oposisi yang dijelaskan perannya dalam lakon Panji, yaitu dualitas antara Panji Asmabangn dan Semar Surodibonggo. Kedua tokoh ini menunjukkan adalah pola struktur yang sekarang masih diyakini yaitu peran Kamituwa dan Modin. Keberadaan modin yang terkait dengan legalitas pernikahan dan penyempurnaan kematian adalah bentuk kuasa yang ditransformasikan oleh dalang yang semula adalah samman. Karena dalam komunitas selalu ada posisi yang memiliki ruang sosial berupa kepemimpinan formal dan spiritual. Pada mulanya menjadi satu, Tetua adat atau kuasa Rama, namun perkembangan secara atministratif kuasa itu dibagi, sehingga dalang menjadi orang yang hanya memiliki wilayah kuasa pada Anak Wayang.

Dalang sudah tidak lagi mengambil posisi spiritual, namun telah bertransformasi sebagai sutradara atau ketua organisasi pertunjukan. Perannya lebih banyak memikirkan tentang ide-ide teknis dari penyajian pertunjukan. Kuasanya lebih banyak pada upaya meningkarkan kualitas estetik. Sementara kemampuan sepiritual hanya untuk kepentingan pribadi, bahwa dalam sebuah pementasan ibaratnya sedang maju ke medan laga. Dalang harus menyiapkan diri dengan berbagai kekuatan yang handal, di samping upaya sosial berupa sopan santun. Meminta ijin secara remi atau secara spritual pada pundhen desa disetiap tempat yang akan digunakan untuk pagelaran. Kata-kata dalang yang dilantunkan melalui janturan masih diharapkan mampu membangun mentalitas, yaitu

kuasa dalang dapat menjadi tuntunan, tontonan (aspek menghibur), dan tatanan (terbentuknya struktur sosial).

DAFTAR RUJUKAN

Boechari. (2012), Melacak Sejarah Kuno Indonesia Lewat Prasasti, Gramedia, Jakarta.

Brahmantyo, Goenadi. (1997), Perwara Sejarah, IKIP Malang, Malang.

Clara, Victoria, van Groendendael. (1987), Dalang di Balik Wayang, Pustaska Utama Grafiti, Jakarta. Dahana, Radhar Panca. (2001), Ideologi Politik dan Teater Modern Indonesia, Indonesia Tera, Magelang.

Daryusti. (2006), Hegemoni Penghulu dalam Perspektif Budaya, Pustaka, Yogyakarta.

Fashri, Fauzi. (2007), Plere Bourdieu: Menyingkap Kuasa Simbol, Jalasutra, Yogyakarta.

Harini, Ninik. (2012), “Transformasi Tari Topeng Malang dalam Pertunjukkan Dramatari Tradisional di Daerah Kabupaten Malang”, dalam Jurnal Media, Seni, Desain dan Pengajarannya, Tahun ketiga, No. 1, April 2012. Jurusan Seni dan Desain Universitas Negeri Malang, Malang.

Haryono, Timbul. (2008), Seni Pertunjukan dan Seni Rupa dalam Perspektif Arkeologi Seni, ISI Press Solo, Surakarta.

Hazeu, G.A.J. (1978), Kawruh Asalipun Ringgit Sarta Gegepokanipun Kaliyan Agami Ing Jaman Kino, Proyek Pengembangan Buku Bacaan Sastra Indonesia dan Daerah, Jakarta.

Hidajat, Robby. (2008), Wayang Topeng Malang, Gantargumelar, Malang.

_____________. (2013), “Transformasi Simbolis Empat Tokoh Sentral Seni Pertunjukan Wayang Topeng Malang di Jawa Timur”, dalam Jurnal Seni Budaya Mudra, Volume 28, No. 1, Januari 2013, UPT Penerbitan Institut Seni Indonesia Denpasar, Denpasar.

Robby Hidajat (Idiologi estetik Dalang Wayang..) MUDRA Jurnal Seni Budaya

Mustansyir, Rizal. (2007), Filsafat Analitik: Sejarah, Perkembangan, dan Peranan Para Tokohnya, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.

Raffles, Thomas Stamford. (2008), The History of Java, Narasi. Yogyakarta.

Simatupang, Lono. (2013), Pergelaran Sebuah Mozaik Penelitian Seni Budaya, Jalasutra. Yogyakarta.

Susanto, Budi. (2000), Imajinasi Penguasa dan Identitias Postkolonia, Kanisius, Yogyakarta. Zaimar, Kusuma Sumantri. (2014), Semiotika dalam Analisis Karya Sastra, Komodo Books, Depok-Jakarta.

Nara Sumber:

Adipramono, M. Soleh. (63 th.), Ketua Padepokan Seni Mangundarmo Tumpang, wawancara 5 Desember 2013 di rumahnya Jl. Gading 14 a, Desa Tulus Sayu-Tulus Besar, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang.

Dhalan, Muhammad. (55 th.), Kamitowo Desa Karangpandan, wawancara 3 Januari 2014 di rumahnya Jl. Prajurid Slamet, RT 17/RW 07, Dusun Kedungmonggo, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang.

Suroso. (43 th.), Anggota Wayang Topong Dusun Kedungmonggo, wawancara 21 Mei 2013 di rumahnya Jl. Prajurid Selamet, Desa Kedungmonggo, Keluarahan Karangpandang, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang.

Volume 30, 2015 MUDRA Jurnal Seni Budaya ISSN 0854-3461

Volume 30, Nomor 1, Pebruari 2015 p 91 - 104

This topic entitled about described some aspects of modern music composition contained in The Hunchback with flute and Sumatran style or Specific identify of and the two composers, Amir Pasaribu and Ben Pasaribu . Structures and concepts that are used in Modern Music composition in terms of a modified form of the traditional forms, the use of the melody and harmony serialisme, which used more complex rhythms and is more unique and asymmetrical as 5/8, 7/8, 11/4, and metrum fickle , and others. By making music structure analysis used in musical composition based on forms, scales, rhythm and harmony. The author also explains the concept of that created by Fiesta Sumatran Indonesian composer: Ben, M. Pasaribu. The second peculiarity of this work is the inclusion of some aspects contained in the terms of modern music era,