• Tidak ada hasil yang ditemukan

Structural Analysis Si Bongkok dengan sulingnya Composed by Amir Pasaribu and Sumatran Fiesta composed by Ben Pasaribu

Notasi 6. Ritme tema CTema C masuk dengan pola ritme:

Pada birama 9-21 dengan pola iringan dengan memakai teknik akord yang dipecah.

Volume 30, 2015 MUDRA Jurnal Seni Budaya

Progresi akordnya I-IV-I-V. Tema A diakhiri dengan akord ‘Imperfect cadence’ (kadens I-IV). Bagian transisi terdapat akord tingkat II yang disuspensi yaitu D-G-A (II Sus).

Tema B dimulai dengan modulasi pada tingkat III dari Es mayor, yaitu G minor dan diakhiri dengan akord D Mayor.

Tema C terjadi modulasi dari C minor- As Mayor- Ces Mayor- Es Mayor. Dari birama 34-43.

Kadens yang terdapat pada lagu ini terdiri dari: 1) Kadens Perfect V-I (birama 12-13); 2) Kadens Imperfect I-V(birama 21-22); dan 3) Kadens Perfect V-I (birama 33). Kadens tanda yang mengakhiri sebuah frase. Sesuai dengan fungsinya kadens bisa menimbulkan kesan “berhenti sementara’ dan bisa

menimbulkan kesan “selesai” (Budilinggono, 1991: 11).

Adapun meter/metrum yang terdapat dalam komposisi ini adalah, sebagai berikut: 1) Tema A dengan birama 2/4; 2) Tema B dengan birama

Ance Juliet Panggabean (Analisa Struktur Komposisi...) MUDRA Jurnal Seni Budaya

3/4; dan 3) Tema C dengan birama 4/4. Textur komposisi ini adalah komposisi disusun dengan jalinan homofoni.

Komposisi Musik Sumatran Fiesta Karya Ben Pasaribu

Secara formal menyelesaikan program pendidikan musik di IKIP Medan (1980), Sarjana Etnomusikologi dari USU Medan (1985) dan Master of Musical Arts untuk bidang komposisi musik eksperimental di Wesleyen University, CT, USA (1990), disamping itu beberapa pendidikan khusus di Marymont college, New York dan Gaudeamus Centrum Hedendaagse Muziek, Amsterdam.

Sebagai pemusik, dia berpartisipasi di sejumlah events, diantaranya: 1) Ethnic Music Festival di Erisbane, Australia; 2) WOMAD Festival dan Indian Ocean Music Festival London; 3) Indonesicher Kulturabend di Frankfurt dan sejumlah konser di USA.

Pendidikan musiknya di bawah pengarahan John Cage, Christian Wolff, Gordon Monahan, John Zorn, James Tenney, Deborah Hay, Alvin Lucier, dan Ron Kuivila.

Dari beberapa karya Ben Pasaribu, penulis tertarik untuk menganalisa karya Sumatran Fiesta. Sumatran Fiesta yang diciptakannya pada tahun 1989 yang terdiri dari tiga gerakan dimana komponis menekankan pola ritme yang diangkat dari pola ritme Gordang Sambilan yang merupakan ansambel masyarakat Mandailing.

Sumatran Fiesta, karya ini dibagi menjadi tiga bagian, yaitu (1) Bagian pertama, birama 1-46

dengan tempo cepat (MM=80); (2) Bagian kedua, birama 47-54 dengan tempo lambat(MM=96); dan (3) Bagian ketiga, birama 55-117 dengan tempo cepat (MM=80).

Gaya atau kecirikhasan dari komposisi Ben Pasaribu adalah komposisi diciptakan berlatar belakang budaya Indonesia dan budaya barat tetapi dengan suatu pendekatan dan tujuan yang sangat unik. Unsur musik dalam komposisinya merupakan unsur concept art dengan materi musik yang selalu sangat terbatas dan sangat menonjol. Konsep Ben Pasaribu dapat disebut semacam Neo ritualisme. Materi yang terbatas dan sangat abstrak, digunakan bentuk suatu proses ‘ritualisasi’ melalui cara atau praktik penerapannya.

Bagian pertama, 1) Melodi.

Dimulai dengan intro (birama 18), melodi dengan memakai konsep serialisme, (konsep dua belas nada) (Gordon, 1973) dimainkan oleh violin dan flute sebagai counter. Kemudian pada birama 32 terdapat pengulangan dan unsur melodi dibawakan flute hanya dengan empat nada yaitu: A-BES-G-F. Keempat nada tersebut disusun dengan jalan melangkah (interval sekunda) maupun dengan jalan melompat (interval ters, kuart, dan oktaf). Pada birama 33-36 terdapat unsur kontras terhadap bagian sebelumnya (birama 9-32) dimana konsep serialisme kembali lagi dimainkan oleh flute. Keseluruhan bagian ini, melodi disusun dengan pola ritme yang berbeda namun mempunyai keterikatan dengan bagian yang lainnya (seperti pada cello dan contra bass).

Volume 30, 2015 MUDRA Jurnal Seni Budaya

2) Harmoni.

Dalam karya ini harmoni bukan sebagai penyangga harmoni, tetapi lebih dekat sebagai ’warna suara’ yang meniru bunyi Gordang Sambilan. Harmoni yang dipakai lebih bersifat perkusif. Ini dapat dilihat

dari pemakaian interval sekunda, kuint dan cluster. Contohnya pada birama 10, nada ES-B (violin), nada D-AS (cello) dengan interval kuint namun jika dimainkan bersamaan maka hasilnya sangat perkusif.

Pada violin terdapat teknik yang dimainkan dengan teknik pizzicato pada birama 16 ketukan ke dua, interval yang digunakan adalah kuint, bunyi yang

interval kuint dan cluster

Interval kuint

dihasilkan selain perkusif juga menghasilkan nuansa ‘kering’ sifatnya. Jelas terlihat di sini ritme harmonik sangat berpengaruh.

3). Ritme

Ritme bagian pertama, banyak meniru ritme dari Gordang Sambilan dan ini dapat dilihat pada birama

Ritme harmonik dengan memakai interval kuint G-D, D-A, A-E

15-28, dimana flute dan cello memainkan pola ritme sebagai berikut.

Pola ritme Gordang Sambilan pada birama 15-28 dan contra bass memainkan pola ritme sebagai berikut.

Ance Juliet Panggabean (Analisa Struktur Komposisi...) MUDRA Jurnal Seni Budaya

Contra bass memainkan nada C dan G saja yang meniru efek gong dari Gordang Sambilan birama 15, violin pada birama 16 memainkan pola ritme

dengan teknik dipukul dengan jarak atau interval kuint (birama 16-32) sebagai berikut.

Bagian kedua, 1). Melodi

Melodi disusun dengan konsep serialisme yang dimainkan dengan sebuah motif yang diulang secara

bergantian oleh masing-masing instrumen. Motif tersebut sebagai berikut.

Dengan nada GES-AS-D_ES. Ritme ini juga merupakan melodi pokok sedangkan yang lainnya sebagai counter melodi. Menurut Delamont Gordon (1973: 5) dalam bukunya “Modern Twelve Tone Technique” menyatakan bahwa musik serialisme juga mempunyai bermacam-macam corak dalam penulisan melodi. Misalnya karakter tematis yang tradisional pada melodi yang menjadi dasar melodi dari bermacam-macam perbedaan. Karakter melodi ini diciptakan tergantung pada ciri atau kekhasan

Schoenberg pada tahun 1920 an dan paling banyak digunakan dalam komposisi masa Modern. Sistem ini pada hakikatnya adalah sumber komposisi yang disusun berdasarkan suatu deretan keduabelas nada dalam satu oktaf yang spesifik, yang disebut dengan istilah ‘tone row’ atau deretan nada. Deretan duabelas nada yang disusun telah mencakup melodi, harmoni, dan kontrapung yang disusun berdasarkan deretan nada (Griffiths, 1980: 162).

Volume 30, 2015 MUDRA Jurnal Seni Budaya

3) Ritme.

Dalam musik Modern, ritme-ritme yang digunakan semakin kompleks walaupun ada banyak juga yang masih menggunakan ritme-ritme yang biasa.

Kesemuanya ini tergantung dari ide dan gaya yang akan disajikan dalam satu komposisi (Stein, 1979). Keseluruhan bagian kedua ini dipersatukan oleh ritme sebagai berikut.

Sedangkan metrum pada bagian kedua ini memakai

change meters (metrum yang berubah-ubah) mulai dari metrum 3/8, 6/8, 7/8, 5/8

Bagian ketiga, 1) Melodi.

Melodi disusun dengan konsep serialisme tetapi unsur melodi tidak begitu menonjol. Ini karena unsur

ritme yang lebih dominan dan melodi terdengar sebagai counter saja. Melodi tampak jelas pada bagian pembukaan (birama 55-58) yang dibawakan flute; pada birama 99-110 dibawakan contra bass.

Ance Juliet Panggabean (Analisa Struktur Komposisi...) MUDRA Jurnal Seni Budaya

Efek drone dengan interval septim (C-B)

Efek drone dengan interval septim (F-E) 2). Harmoni.

Unsur harmoni sebagai warna suara. Pada birama 59-61 terdapat interval septim dan birama 62-69 terdapat I nterval kuint pada contra bass yang

meniru efek drone, kemudian efek drone ini muncul lagi pada birama 85-97 juga dibawakan oleh contra bass.

Volume 30, 2015 MUDRA Jurnal Seni Budaya

(birama 60-73)

Pada birama 74-81 terdapat pola ritme yang

dimainkan secara hocket antara flute, violin, cello dan contra bass. Pola ritme tersebut sebagai berikut.

Kemudian pada birama 75-110 terdapat pola ritme talempong yang diulang, seperti terlihat di bawah ini:

Pada birama 111-117 merupakan akhir komposisi. Pada akhir komposisi terdapat tempo cepat dengan mengambil motif ritme dari bagian ketiga. Pada birama 116 merupakan puncak dari komposisi ini, dimana terdapat keunikan pada setiap alat saling

bersahutan dan sampai pada birama 117 komposisi ini berakhir dengan tanda fff (fortisisisimo) yaitu sangat keras sekali. Pola ritme akhir komposisi tersebut sebagai berikut.

Ance Juliet Panggabean (Analisa Struktur Komposisi...) MUDRA Jurnal Seni Budaya

SIMPULAN

Setelah menganalisis struktur musik dari kedua karya tersebut, penulis melihat bahwa kedua komposisi ini mengandung beberapa aspek yang penting dalam musik modern. Seperti ciri dari pemakaian melodi, harmoni, ritme maupun tonalitas. Komposisi Amir Pasaribu bertolak dari unsur pentatonik yang mirip laras pelog yang diharmonisir dengan elemen-elemen harmoni tonal barat.

Komposisi Ben Pasaribu komposisi diciptakan berlatar belakang budaya Indonesia dan budaya barat tetapi dengan suatu pendekatan dan tujuan yang sangat unik. Unsur musik dalam komposisinya merupakan unsur concept art dengan materi musik yang selalu sangat terbatas dan sangat menonjol. Konsep Ben Pasaribu dapat disebut semacam Neo ritualisme. Materi yang terbatas dan sangat abstrak, digunakan bentuk suatu proses ‘ritualisasi’ melalui cara atau praktik penerapannya.

DAFTAR RUJUKAN

Ammer, Christine. (1972), Harper’s Dictionary of Music, Harper & Row Publishers, New York. Banoe, Pono. (2003), Kamus Musik, Kanisius, Yogyakarta.

Budilinggono, I. (1993), Bentuk dan Analisis Musik, Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta.

Christ William and Delone Richard. (1975), Introduction to Materials and Structure of Music, Prentice-Hall, Inc, Englewood Cliffs, New Jersey. Delamot, Gordon. (1973), Modern Twelve-Tone-Technique Kendor Music, Inc. Delevan, New York. Griffiths, Paul. (1980), Serialism. The New grove Dict. of Music.

Hananto, Paulus Dwi. (2011), Jurnal Ilmiah Musik, vol. 2 no.2 Salatiga: Program Studi Musik Fakultas Seni Pertunjukan Universitas Kristen Satya Wacana.

Mack, Dieter. (1995), Sejarah Musik ( jilid 3), Pusat Musik Liturgi, Yogyakarta.

Pasaribu, Amir. (1986), Analisis Musik Indonesia, PT. Pantja Simpati, Jakarta.

Pekerti, Widia, dkk. (2010), Metode Pengembangan Seni, Universitas Terbuka, Jakarta.

Prier, Karl-Edmund Sj. (tt), Ilmu Bentuk Musik, Pusat Musik Liturgi, Yogyakarta.

Raden, Frangky. (1997), “Amir Pasaribu”, dalam majalah Gatra No.16. tahun III, 8 Maret 1997. Stein, Leon. (1979), Structure and Style Princetown, Summy Bichard Music, New Jersey.

Volume 30, 2015 MUDRA Jurnal Seni Budaya ISSN 0854-3461

Volume 30, Nomor 1, Pebruari 2015 p 105 - 113

Pesta Kesenian Bali dirancang agar memiliki peran ganda. Di satu pihak, Pesta Kesenian Bali berperan menanamkan keluhuran nilai-nilai budaya warisan leluhur yang berfungsi membentengi masyarakat Bali dari pengaruh luar. Di sisi lain, Pesta Kesenian Bali dirancang sebagai pertunjukan kesenian yang mampu menarik perhatian para penikmat, terutama wisatawan dalam dan luar negeri, dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat Bali. Peran ganda tersebut membutuhkan strategi pengembangan manajemen untuk dapat memenuhinya. Tulisan ini menawarkan strategi manajemen Pesta Kesenian Bali berbasis sinergisitas kearifan lokal, budaya nasional, dan pengetahuan global. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kualitas Pesta Kesenian Bali, termasuk membangun kreativitas seni budaya para seniman dan masyarakat Bali di tengah-tengah pengaruh globalisasi tanpa tercerabut dari akar budayanya. Permasalah strategi manajemen dalam tulisan ini dipecahkan melalui pendekatan kualitatif dengan menggunakan pemilihan strategi didasarkan pada prinsip dual concern model yang mempostulasikan bahwa pilihan strategis ditentukan oleh kekuatan dua kepedulian, yaitu kepedulian terhadap hasil yang diterima sendiri dan kepedulian terhadap hasil yang diterima orang lain serta mempertimbangkan persepektif persepsi fisibilitas. Hasil pemilihan strategi manajemen Pesta Kesenian Bali yang ditawarkan diharapkan dapat dilaksanakan serta bisa diterima para manajemen dan para pemangku kepentingan (stakeholders).

Kata kunci: strategi, sinergisitas, kearifan lokal, budaya nasional, pengetahuan global

Strategi Pengembangan Manajemen Pesta Kesenian Bali