Ketenagakerjaan dan (iv) RPP
Penyelenggaraan JKP.
Gambar 5.8 Pokok-pokok UU Cipta Kerja Klaster Ketenagakerjaan25. Perkembangan Kebijakan Pekerja Migran Indonesia (PMI)
Penempatan Pekerja Migran Indonesia (PMI) sempat dihentikan pada bulan Maret 2020 sebagai akibat dari adanya pandemi COVID-19. Namun sebagai upaya mendukung percepatan ekonomi nasional, pemerintah membuka kembali kesempatan bagi PMI untuk bekerja di negara tujuan penempatan. Tetapi tetap dengan mengedepankan prinsip perlindungan hak-hak pekerja migran serta protokol Kesehatan.
Pemerintah membuka secara bertahap penempatan pekerja Migran Indonesia berdasarkan rekomendasi Perwakilan RI atau Kantor Dagang dan ekonomi Indonesia dengan mempertimbangkan terbukanya negara tujuan bagi PMI dan protokol Kesehatan penanganan COVID-19 bagi PMI. Penempatan PMI diprioritaskan bagi CPMI yang telah memiliki Surat Izin Perekrutan Pekerja Migran Indonesia (SIP2MI).
Pada Juli 2020 telah ditetapkan Keputusan Menteri Ketenagakerjaan No 294 Tahun
2020 tentang Pelaksanaan Penempatan PMI Pada Masa Adaptasi Kebiasaan Baru (sekaligus mencabut Kepmenaker No.151 Tahun 2020 tentang Penghentian Sementara Penempatan PMI). Dengan persyaratan umum perjalanan wajib menerapkan dan mematuhi protokol kesehatan (memakai masker, jaga jarak, dan cuci tangan) dan mengisi Kartu Kewaspadaan Kesehatan Elektronik (Electronic Health Alert Card) melalui aplikasi Kemenkes.
Setiap Calon PMI/PMI yang melaksanakan perjalanan dgn kendaraan pribadi, bertanggung jawab atas kesehatan masing-masing, serta tunduk & patuh pada syarat dan ketentuan yang berlaku, Menunjukkan identitas diri (KTP), Menunjukkan surat keterangan bebas COVID-19 sesuai dengan ketentuan yang berlaku pada transportasi umum, mengunduh dan mengaktifkan aplikasi Peduli Lindungi pada perangkat telepon seluler. Setiap Calon PMI/PMI yang melaksanakan perjalanan orang dengan transportasi umum darat, laut dan udara harus menunjukkan identitas diri (Paspor atau tanda pengenal lainnya yang sah) dan
144 |
OUTLOOK PEREKONOMIAN INDONESIA 2021menunjukkan surat keterangan uji Pemeriksaan Polymerase Chain Reaction (PCR) yang masih berlaku dengan hasil negatif sesuai dengan ketentuan Satuan Tugas Penanganan COVID-19 dan kebijakan dari negara tujuan penempatan
26. Daftar Prioritas Investasi
Sebagai salah satu upaya untuk menarik investasi asing, saat ini Pemerintah sedang berupaya untuk menyampaikan sentimen positif kepada dunia usaha. Kebijakan pengaturan bidang usaha yang lebih terbuka dan prioritas disusun dalam Pengaturan Bidang Usaha Untuk Penanaman Modal. Ini merupakan salah satu peraturan turunan dari Undang - Undang Cipta Kerja (UU Ciptaker) yang akan menggantikan Peraturan Presiden nomor 44 tahun 2016 tentang Daftar Bidang Usaha Yang Tertutup Dan Bidang Usaha Yang Terbuka Dengan Persyaratan Di Bidang Penanaman Modal (DNI).
Pengaturan Bidang Usaha Untuk Penanaman Modal yang disesuaikan dengan kondisi setelah UU Ciptaker diterbitkan. Pertama, Bidang usaha yang terbuka bagi kegiatan penanaman modal dan kedua, Bidang usaha yang tertutup bagi kegiatan penanaman modal.
Bidang usaha yang terbuka bagi kegiatan penanaman modal terdiri atas bidang usaha prioritas dan bidang usaha yang dibatasi dengan regulasi. Bidang usaha prioritas merupakan bidang usaha yang diberikan insentif perpajakan dengan berdasarkan kriteria Proyek Strategis Nasional, Padat Modal, Padat Karya, Teknologi Tinggi, Orientasi Ekspor/Subsitusi impor dan kriteria lain yang ditetapkan Pemerintah. Beberapa contoh bidang usaha prioritas adalah industri petrokimia berbasis minyak bumi, gas alam, atau batubara tanpa atau beserta turunannya yang terintegrasi dan Industri
Pengubah Tegangan (transformator), Pengubah Arus (Rectifier) dan Pengontrol Tegangan (voltage stabilizer).
Disamping itu terdapat Bidang Usaha yang dibatasi dengan regulasi yang merupakan bidang usaha terbuka untuk penanaman modal dengan persyaratan tertentu yang diatur oleh Undang – Undang dan/atau Peraturan Pemerintah yang mencakup Bidang usaha untuk penanam modal dalam negeri; dan/atau Bidang usaha dengan pembatasan modal asing; dan/atau Bidang Usaha dengan Pengaturan Khusus. Contoh bidang usaha yang dibatasi dengan regulasi adalah Industri Alat Utama dan Penerbitan Surat Kabar, Majalah, dan Buletin (pers). Selain menciptakan iklim usaha yang terbuka, Pemerintah tetap menutup bidang usaha tertentu yang tidak dapat diusahakan oleh penanam modal berdasarkan konvensi internasional dan asas kepatutan. Hal ini dilakukan untuk memberikan kepastian kepada para pelaku usaha bahwa hanya ada 6 bidang usaha yang tertutup untuk penanaman modal di Indonesia yakni : segala bentuk perjudian/kasino, budidaya dan produksi narkotika golongan I, industri pembuatan senjata kimia, industri pembuatan bahan perusak lapisan ozon (BPO), penangkapan spesies ikan yang tercantum dalam appendix I convention on
international trade in endangered species of wild fauna and flora (CITES), pemanfaatan
atau pengambilan koral dan pemanfaatan atau pengambilan karang dari alam yang digunakan untuk bahan bangunan/kapur/ kalsium, akuarium, dan souvenir/perhiasan, serta koral hidup atau koral mati (Recent
Death Coral) dari alam.
Lebih lanjut, dengan terbitnya pengaturan ini, UMKM mendapatkan kesempatan yang lebih luas untuk berkembang dengan dapat melakukan kegiatan usaha di semua Bidang
OUTLOOK PEREKONOMIAN INDONESIA 2021 |
145
Usaha yang terbuka untuk penanamanmodal. Pemerintah memberikan kemudahan, perlindungan dan pemberdayaan bagi pelaku UMKM yang diatur tersendiri dalam peraturan perundang-undangan sektor UMKM.
Diharapkan dengan adanya pengaturan bidang usaha untuk penanaman modal ini dapat menarik investasi yang bukan hanya besar, namun juga berkualitas dan mampu menciptakan lapangan pekerjaan yang lebih luas dan memberikan multiplier effect yang tinggi bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Gambar 5.9 Norma Pokok Daftar Prioritas Investasi
27. Reputable Trader
Pada tanggal 13 Maret 2020, Pemerintah Indonesia telah mengumumkan Paket Kebijakan Stimulus Ekonomi Non-Fiskal yang salah satu amanatnya adalah pemberian insentif berupa kemudahan dan percepatan proses perizinan ekspor dan impor bagi eksportir dan importir bereputasi baik (Reputable Traders). Selain itu, insentif ini juga merupakan pelaksanaan dari Instruksi Presiden Nomor 5 tahun 2020 tentang Penataan Ekosistem Logistik Nasional yang mengamanatkan dilakukannya penerapan sistem manajemen risiko untuk penyederhanaan proses perizinan ekspor dan impor.
Reputable Traders sendiri merupakan perusahaan-perusahaan yang melakukan kegiatan ekspor-impor dengan tingkat kepatuhan yang tinggi. Kementerian
Perdagangan bersama dengan Ditjen Bea dan Cukai bekerja sama dalam penentuan kandidat Reputable Traders yang termasuk dalam perusahaan Authorized Economic
Operator (AEO) dan Mitra Utama (MITA),
penerima penghargaan Primaniyarta dan perusahaan ekspor impor aktif lainnya. Beberapa kriteria yang disepakati untuk penetapan Reputable Traders adalah: a. Telah memenuhi kewajiban pelaporan
realisasi di bidang ekspor dan impor selama 6 bulan terakhir;
b. Tidak pernah dikenai sanksi administratif terhadap pelanggaran di bidang ekspor dan impor;
c. Tidak sedang dikenai sanksi administratif;
d. Tidak pernah melakukan pelanggaran pidana di bidang perdagangan;
e. Mendapat status valid dalam konfirmasi status wajib pajak dari Kementerian Keuangan.
Dari penyaringan yang dilakukan berdasarkan kriteria tersebut, telah didapatkan 810 perusahaan yang pantas menyandang gelar Reputable Traders yang terdiri dari 389 perusahaan AEO/MITA, 19 perusahaan penerima penghargaan Primaniyarta, dan 402 perusahaan ekspor impor aktif. Jumlah ini bukan tidak mungkin akan terus bertambah seiring penyaringan yang dilakukan Kementerian Perdagangan dan Ditjen Bea dan Cukai serta keinginan pelaku usaha untuk dikategorikan sebagai
Reputable Traders sehingga dapat menikmati fasilitas yang disediakan pemerintah.
Untuk meningkatkan fasilitasi yang diberikan kepada Reputable Traders, antara lain persetujuan perizinan secara otomatis (auto-approval) bagi komoditi berisiko rendah, Kementerian Perdagangan perlu terlebih dahulu melakukan analisis risiko untuk menetapkan tingkat risiko masing-masing komoditi.
Bagi perusahaan yang telah menyandang gelar sebagai Reputable Traders akan diberikan fasilitas antara lain:
146 |
OUTLOOK PEREKONOMIAN INDONESIA 2021a. Proses verifikasi permohonan perizinan secara otomatis melalui sistem INATRADE dengan jangka waktu penerbitan 1 (satu) hari kerja;
b. Tidak masuk dalam daftar pelaku usaha yang akan dilaksanakan pengawasan berkala dalam jangka waktu 1 (satu) tahun sejak ditetapkan; dan
c. Pemberian status risiko rendah (low risk) kepada importir dalam sistem pemeriksaan dan pengawasan tata niaga impor setelah melalui kawasan pabean. Pemberian fasilitas bagi Reputable Traders ini diharapkan dapat meningkatkan peringkat Ease of Doing Business Indonesia di tahun 2021 di mana pada tahun 2020, Indonesia terjebak di peringkat 73 (sama dengan di tahun 2019). Melalui penerapan manajemen risiko dalam proses penerbitan perizinan ekspor impor serta percepatan perizinan bagi Reputable Traders, diharapkan akan tercapai peningkatan pada kelancaran arus barang yang masuk ke Indonesia, terutama untuk bahan baku dan bahan penolong Industri.
Pada laporan Ease of Doing Business Tahun 2020 yang dikeluarkan oleh Bank Dunia, Indonesia berada pada peringkat 73 yang berarti tidak terjadi peningkatan peringkat dibanding tahun sebelumnya meskipun skor EODB Indonesia mengalami kenaikan. Ini berarti Indonesia berada pada peringkat kelima terendah di ASEAN dalam indeks kemudahan berbisnis (Ease of Doing Business/EODB) 2020.
Grafik 5.5 Indikator Kemudahan Berbisnis 2020
Sumber: World Bank
Salah satu indikator EODB Indonesia yang memiliki nilai rendah adalah indikator Perdagangan Lintas Batas. Kemudahan Berusaha dalam Indikator Perdagangan Lintas Batas mengukur efisiensi terhadap waktu dan biaya dalam proses ekspor dan impor di suatu negara. Indikator Trading
Across Borders di Indonesia secara global
dalam Ease of Doing Business (EoDB) 2020 menduduki peringkat 116 di bawah Vietnam yang menduduki peringkat 104.
Dampak dari penetapan Reputable Traders bagi pelaku usaha dapat kita lihat pada beberapa perusahaan AEO MITA yang juga telah menerima fasilitas Kawasan Berikat (KB) dan Kemudahan Impor Tujuan Ekspor (KITE). Pada tahun 2018, fasilitas KB dan KITE yang telah diterima oleh perusahaan AEO MITA mencapai Rp11,85 triliun dengan rincian KB sebesar Rp8,64 triliun dan KITE sebesar Rp3,21 triliun.
Pemberian fasilitas percepatan perizinan bagi Reputable Traders diharapkan dapat memperbaiki peringkat EODB Indonesia terutama dari segi Perdagangan Lintas Batas. Proses perizinan yang dipangkas menjadi satu hari, diharapkan akan mempersingkat proses documentary compliance untuk ekspor dan impor yang
saat ini berkisar antara 60-106 jam jauh di atas Vietnam yang berkisar antara 50-76 jam. Selain itu, dengan lancarnya arus keluar masuk barang dari pelabuhan, biaya ekspor dan impor juga dapat dipangkas terutama biaya demurrage dan penyimpanan barang di pelabuhan.
Kebijakan penetapan Reputable Traders ini sejalan dengan amanat dari Undang-Undang Cipta Kerja, dimana Pemerintah diminta untuk melakukan peningkatan kemampuan eksportir dan importir sehingga menjadi pelaku usaha yang andal. Dalam rangka pengendalian ekspor dan impor, eksportir dan importir yang bereputasi baik dapat diberikan kemudahan berusaha pada masing-masing Kementerian/Lembaga (Kementerian/Lembaga) terkait, berupa antara lain auto-approval dan prioritas asistensi. Selain itu, Kementerian/Lembaga juga dapat merekomendasikan pelaku usaha 86.2 81.5 80.1 70.1 69.8 69.6 62.8 53.8 50.8 46.8 0 20 40 60 80 100 Singapura Malaysia Thailand Brunei Vietnam Indonesia Filipina Kamboja Laos Myanmar
OUTLOOK PEREKONOMIAN INDONESIA 2021 |
147
binaannya untuk dapat dipertimbangkansebagai Reputable Traders.
28. Pengembangan National Logistic Ecosystem
Berdasarkan Instruksi Presiden No. 5 tahun 2020 tentang Penataan Ekosistem Logistik Nasional dan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian memiliki tugas dan fungsi mengkoordinasikan penyusunan arah dan kebijakan umum penataan ekosistem logistik nasional dan penetapan langkah-langkah penyelesaian permasalahan dalam pelaksanaan Rencana Aksi Penataan Ekosistem Logistik Nasional Tahun 2020-2024.
NLE adalah Ekosistem Logistik yang menyelaraskan arus lalu lintas barang dan dokumen internasional sejak kedatangan sarana pengangkut di pelabuhan hingga barang tiba di gudang (hinterland). NLE pada dasarnya kerjasama antar instansi pemerintah dan swasta: melalui pertukaran data, simplifikasi proses, penghapusan repetisi dan duplikasi dan Menggunakan teknologi informasi dan teknologi digital.
Gambar 5.11 Konsepsi National Logistic Ecosystem (NLE)
Sampai dengan Agustus 2020, telah diselesaikan uji coba Penerapan Sistem
Single Submission (SSm) kepabeanan dan
karantina secara terbatas di tiga pelabuhan utama yaitu Pelabuhan Belawan Medan, Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, dan Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Telah tersedia fitur pemesanan truk untuk pengangkutan barang impor/ ekspor dari/ke pelabuhan serta pemasukan/pengeluaran barang ke/dari tempat penimbunan berikat (TPB). Saat ini layanan Pengurusan Delivery
Order (D/O) secara online telah dikolaborasikan dalam NLE.
Selain itu, saat ini telah tersedia dashboard yang menginformasikan jadwal dan ketersediaan ruang di kapal laut berikut fitur pemesanan tempat di kapal. Layanan penerbitan dokumen penyerahan petikemas dari operator terminal petikemas (Surat Penyerahan Petikemas/SP2) secara online sudah siap secara sistem dan telah diujicobakan di TPK Koja Tanjung Priok satu siklus proses dengan menggunakan data dummy. Layanan pembayaran secara online melalui platform pembayaran telah diujicobakan untuk layanan trucking dan D/O online dan penyerahan petikemas melalui Bank Mandiri dan BRI.
29. Sertifikasi Halal
Kebijakan sertifikasi halal untuk UMK dilakukan oleh Kemenko Perekonomian dengan tujuan untuk memudahkan UMK dalam memperoleh sertifikat halal. Untuk mewujudkan hal tersebut, Kemenko Perekonomian telah melakukan rapat koordinasi pembahasan RUU Cipta Kerja pada Klaster Jaminan Produk Halal. RUU Cipta Kerja pada Klaster Jaminan Produk Halal (JPH) memuat beberapa perubahan ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal di antaranya yaitu sertifikasi halal untuk UMK (omset < Rp 1 Miliar) tidak dikenai biaya (biaya ditanggung Negara) dan kewajiban bersertifikat halal untuk beberapa kategori
148 |
OUTLOOK PEREKONOMIAN INDONESIA 2021UMK didasarkan atas pernyataan pelaku UMK berdasarkan standar halal yang ditetapkan BPJPH. Penyederhanaan proses pelayanan sertifikasi halal sehingga menjadi maksimal 21 hari dari sebelumnya minimal 3 bulan.
Selain itu, Pemerintah memperluas partisipasi ormas Islam, PTN, dan PTS di bawah lembaga keagamaan islam berbadan hukum atau Yayasan keagamaan Islam berbadan hukum untuk menyiapkan auditor halal dan Lembaga Pemeriksa Halal (LPH). Saat ini telah terbentuk dua Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) baru (Sucofindo dan Surveyor) dan telah ada daftar usulan pembentukan 77 calon LPH baru. Pemerintah melalui Kemenko Perekonomian mendorong terbentuknya LPH-LPH baru dengan memberikan kemudahan dalam sertifikasi dan uji kompetensi calon auditor dan sertifikasi LPH oleh BPJPH.
Saat ini Kemenko Perekonomian sedang mengawal penyusunan Rancangan Peraturan Pemerintah tentang Pelaksanaan UU Nomor 33 Tahun 2014 tentang JPH dan UU Nomor 11 Tahun 2020 Tentang Cipta Kerja. RPP tersebut mengatur muatan terkait Lembaga Pemeriksa Halal, auditor halal, penyelia halal, permohonan sertifikasi halal, pemeriksaan dan pengujian halal, label halal, perpanjangan sertifikat halal, peran serta masyarakat dan pemberian penghargaan, serta pengenaan sanksi administratif.
Berkaitan dengan tarif layanan sertifikasi halal, saat ini telah tersusun draft Peraturan Menteri Keuangan tentang Tarif Layanan Sertifikasi Halal untuk Barang dan Jasa, Registrasi, dan Akreditasi Lembaga Pemeriksa Halal Badan Layanan Umum BPJPH pada Kemenag. Adapun PMK tersebut masih sedang disusun dan
menunggu proses penyelesaian RPP tentang Pelaksanaan UU Nomor 33 Tahun 2014 tentang JPH dan UU Nomor 11 Tahun 2020 Tentang Cipta Kerja.
30. Pengembangan Industri
Sektor industri memiliki peran vital sebagai penggerak utama (prime mover)
pertumbuhan ekonomi yang kuat dan berkesinambungan. Sektor ini tidak hanya menciptakan output, namun mampu memberikan nilai tambah, perluasan lapangan kerja, penggerak investasi, dan pendorong ekspor.
Sektor industri saat ini tengah menghadapi tekanan berat di tengah pandemi COVID-19. Sebagai penyumbang 20% PDB Nasional tentunya akan mempengaruhi pertumbuhan sektor industri pada tahun 2020. Hal ini telah terlihat pada triwulan II 2020 yang tumbuh negatif sebesar -6,19% (year on year) disertai penurunan utilisasi produksi sebesar 50%-70%.
Untuk membantu sektor industri bertahan di tengah pandemik COVID-19, Pemerintah memberikan stimulus guna membantu kelancaran cashflow dengan memberikan insentif fiskal berupa PPh Pasal 21 Ditanggung Pemerintah, Pembebasan PPh Pasal 22 Impor, Pengurangan angsuran PPh Pasal 25 sebesar 30%, dan Percepatan pengembalian PPN, sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan No. 86 Tahun 2020 jo. Peraturan Menteri Keuangan No. 110 Tahun 2020; Restrukturisasi kredit; Penundaan pembayaran iuran BPJS Ketenagakerjaan; Pembayaran THR 2020 yang dicicil, sesuai SE Menaker No. M/6/HI.00.01/V/2020; Pembebasan dari ketentuan pembayaran rekening listrik minimum 40 jam.
Selain itu untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas sektor industri, Pemerintah
OUTLOOK PEREKONOMIAN INDONESIA 2021 |
149
melakukan relaksasi regulasi danpenyederhanaan perizinan larangan dan pembatasan (Lartas) ekspor-impor dalam bentuk penyederhanaan perizinan dan relaksasi ekspor Alat Pelindung Diri (APD), Masker, dan Bahan Baku Masker melalui penerbitan Permendag No. 57 Tahun 2020 dan relaksasi penyederhanaan pengecualian sebagai Limbah B3 untuk Fly Ash-Bottom Ash (FABA), Slag Baja, Slag Nikel, dan Spent
Bleaching Earth (SBE) melalui revisi Permen
LHK No. 10 Tahun 2020.
Strategi penguatan akses pasar melalui penerapan IOMKI bagi industri dan protokol kesehatan di pusat perbelanjaan, pasar rakyat dan modern.
Penguatan industri pengolahan di tengah pandemik COVID-19 sangat berperan dalam rangka mempercepat pemulihan industri. Sinyal membaiknya industri Indonesia terlihat dari Purchasing Manager Index (PMI) Manufaktur Indonesia mengalami peningkatan sejak bulan April 2020 sebesar 27,5 menjadi 50,8 di bulan Agustus 2020. Dalam rangka meningkatkan daya saing dan mengembangkan sektor industri, Pemerintah terus berupaya memberikan berbagai dukungan untuk industri dalam negeri berupa fasilitas baik fiskal maupun non fiskal serta menyelesaikan berbagai kendala yang dihadapi oleh industri dalam negeri mulai dari permasalahan mengenai bahan baku/penolong, proses produksi, regulasi dan juga akses pasar.
31. Percepatan Penetapan Peraturan Daerah Rencana Tata Ruang Wilayah dan Rencana Detail Tata Ruang
Dalam rangka mendorong kemudahan berinvestasi guna mendukung Program PEN, maka perlu didorong percepatan penetapan Perda RTRW Kab/Kota dan RDTR sebagai dasar perizinan berusaha dalam sistem OSS.
Untuk mendukung berjalannya Sistem
Online Single Submission (OSS), pada tahun
2020 ditargetkan penetapan 18 Perda RTRW Kabupaten/Kota dan 57 Perda RDTR. Saat ini Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian telah melakukan koordinasi percepatan penetapan Perda RTRW dan RDTR antara Kementerian/Lembaga terkait, seperti Kementerian ATR/BPN, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, BIG, dan LAPAN. Untuk mendukung percepatan tersebut, Kementerian ATR/BPN telah memberikan bantuan teknis penyusunan RDTR kepada 57
Kab/Kota dengan dukungan
KEMENTERIAN/LEMBAGA terkait, dimana sebanyak 55 RDTR telah diberikan persetujuan substansi oleh Menteri ATR/BPN dan 5 diantaranya telah ditetapkan sebagai Perda. Sementara itu, dari target 18 RTRW Kab/Kota, hingga Bulan November 2020 baru 4 RTRW yang telah ditetapkan menjadi Perda. Diharapkan hingga akhir tahun 2020, 14 RTRW Kab/Kota dan 52 RDTR dapat segera ditetapkan.
Kemudian pada Tahun 2020/2021, Kementerian ATR/BPN akan melanjutkan bantuan teknis untuk penyusunan RDTR OSS di 76 Kab/Kota. Lokasi yang diprioritaskan adalah Kab/Kota di Sumatera Utara, Pantai Utara Jawa, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, dan Bali-Nusa Tenggara.
32. Penyusunan Masterplan Percepatan Pengembangan Kawasan Batam-Bintan-Karimun-Tanjung Pinang
Masterplan Percepatan Pembangunan Kawasan BBKT merupakan quickwins
Kemenko Perekonomian berdasarkan arahan Presiden pada tanggal 30 Oktober 2019 di Istana Bogor yaitu mengintegrasikan pengembangan dan pengelolaan Kawasan Batam, Bintan, Karimun, dan Tanjungpinang.
150 |
OUTLOOK PEREKONOMIAN INDONESIA 2021Penyusunan Masterplan Kawasan BBKT bertujuan untuk meningkatkan investasi di Kawasan BBKT, meningkatkan arus barang dan penumpang di dalam Kawasan dan keluar Kawasan BBKT, meningkatkan kunjungan wisatawan ke Kawasan BBKT, dan percepatan penguatan kelembagaan pengelolaan Kawasan BBKT.
Program ini melingkupi pengembangan sektor industri dan jasa strategis yang terintegrasi dan saling mendukung, pembangunan infrastruktur BBKT yang terkoneksi dan terintegrasi, serta harmonisasi dan sinkronisasi regulasi terkait perizinan investasi, fasilitas, dan kemudahan investasi.
Sampai dengan November 2020, telah dilakukan kajian bersama dengan beberapa tenaga ahli untuk mendukung substansi dari
Masterplan Kawasan BBKT, telah disusun
narasi dokumen Masterplan Kawasan BBKT yang mencakup beberapa hal diantaranya skenario pertumbuhan ekonomi dan target kebutuhan investasi, core business Kawasan BBKT, Usulan Program/Proyek Strategis,
grand strategy pembangunan Kawasan
BBKT, serta kelembagaan dan tata kelola integrasi Kawasan BBKT.
DItargetkan pada akhir tahun 2020 akan ditetapkan Peraturan tentang Masterplan Kawasan BBKT, Peraturan Presiden tentang Rencana Tata Ruang Kawasan Strategis Nasional (RTR KSN) BBK, Rencana Zonasi Kawasan Strategis Nasional (RZ KSN) BBK, Peraturan Pemerintah tentang penyelenggaraan KPBPB (yang memuat tentang kelembagaan, tata kelola, dan insentif di Kawasan BBKT).
33. Percepatan Pengadaan Tanah
Pembangunan untuk kepentingan umum memerlukan tanah yang pengadaannya seringkali menimbulkan konflik. Proses
pengadaan tanah untuk proyek pembangunan yang dinilai lambat masih menjadi salah satu isu utama. Oleh karena itu diperlukan percepatan proses pengadaan tanah sebagai salah satu pendukung kemudahan investasi. Selain itu perlu dilakukan pula sinkronisasi kebijakan antar
stakeholder untuk percepatan pengadaan
tanah.
Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian melalui Kedeputian Pengembangan Wilayah dan Tata Ruang terus melakukan koordinasi dengan Kementerian/Lembaga terkait dalam hal percepatan pengadaan tanah, capaian kebijakan dalam rangka percepatan pengadaan tanah sampai bulan November 2020 meliputi:
1. Upaya percepatan pengadaan tanah tahapan perencanaan.
Salah satu permasalahan pengadaan tanah berada pada tahapan perencanaan, dimana tidak terdapat standarisasi dokumen perencanaan pengadaan tanah. Telah terbit Peraturan Menteri ATR/BPN No. 20 Tahun 2020 tentang Pedoman Penyusunan Dokumen Perencanaan Pengadaan Tanah;
2. Upaya percepatan pengadaan tanah pada isu pendanaan
Kendala lain yang dihadapi pada kegiatan pengadaan tanah untuk kepentingan umum yaitu masalah pendanaan, terlebih kegiatan pendanaan yang dilakukan oleh badan usaha terlebih dahulu. Untuk solusi permasalahan ini telah terbit Peraturan Presiden No. 66 Tahun 2020 tentang Pendanaan Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum Dalam Rangka Pelaksanaan PSN. 3. Upaya lain untuk percepatan pengadaan tanah telah termuat dalam UU No 11 tahun 2020 tentang Cipta Kerja, dimana telah diamanatkan peraturan turunan
OUTLOOK PEREKONOMIAN INDONESIA 2021 |
151
dalam rangka percepatan pengadaantanah, diantaranya:
a. RPP Pengadaan Tanah bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum
b. RPP Bank Tanah
c. RPP Kawasan dan Tanah Terlantar d. RPP Hak Pengelolaan dan Hak Atas
Tanah
34. Pelaksanaan Kebijakan Satu Peta/PKSP