• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGADAAN AIR, PENGELOLAAN SAMPAH, LIMBAH DAN DAUR ULANG

RESILIENSI TENAGA KERJA INFORMAL

PENGADAAN AIR, PENGELOLAAN SAMPAH, LIMBAH DAN DAUR ULANG

Sektor pengadaan air, pengelolaan sampah, limbah dan daur ulang mencakup kegiatan pengumpulan, pengolahan dan pendistribusian air untuk kebutuhan rumah tangga dan industri. Di samping itu, sektor ini juga mencakup kegiatan penanganan berbagai bentuk limbah dan sampah yang berasal dari rumah tangga dan industri yang dapat mencemari lingkungan.

Dalam lima tahun terakhir, kontribusi PDB pengadaan air, pengelolaan sampah, limbah dan daur ulang terhadap PDB nasional stabil pada 0,08%. Sementara itu, pertumbuhan PDB pengadaan air, pengelolaan sampah, limbah dan daur ulang mengalami perlambatan pada tahun 2016 namun kemudian secara bertahap mengalami peningkatan kembali. Pada tahun 2019, pertumbuhan PDB pengadaan air, pengelolaan sampah, limbah dan daur ulang tercatat sebesar 6,83% (yoy). Adapun perkembangan distribusi PDB sektor pengadaan air, pengelolaan sampah, limbah dan daur ulang serta subsektor di dalamnya dapat dilihat pada Grafik 4.9.

Pada triwulan I dan II 2020 PDB pengadaan air, pengelolaan sampah, limbah dan daur ulang tetap tumbuh positif di tengah situasi pandemi COVID-19, yaitu sebesar pada 4,56% (yoy). Meskipun demikian, pertumbuhan pada triwulan I dan II 2020, lebih lambat jika dibandingkan dengan pertumbuhan pada

triwulan I dan II 2019 yaitu sebesar 9,0% dan 8,3% (yoy).

Grafik 4.9 Perkembangan Distribusi PDB Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah Dan Daur Ulang (%)

Sumber: BPS, 2020

Kemudian pada triwulan III 2020, PDB pengadaan air, pengelolaan sampah, limbah dan daur ulang mampu tumbuh lebih tinggi dari tahun sebelumnya yaitu 6,04% (yoy). Di mana pada triwulan III 2019 pertumbuhan sektor ini tercatat sebesar 4,85%.

Capaian pertumbuhan positif tersebut salah satunya didorong oleh peningkatan kebutuhan air untuk kegiatan desinfeksi dan mencuci tangan, serta peningkatan aktivitas pengolahan limbah barang habis pakai di Rumah Sakit. Pada saat yang sama juga terjadi peningkatan aktivitas industri pada triwulan III 2020. Kondisi tersebut berdampak pada peningkatan kebutuhan air dan pengolahan limbah industri.

Dengan perbaikan kinerja sektor Industri Pengolahan pada triwulan III yang diharapkan akan berlanjut pada triwulan IV, maka PDB pengadaan air, pengelolaan sampah, limbah dan daur ulang diestimasikan akan tumbuh 6,10% s.d 7,60% (yoy) pada triwulan IV 2020, Sehingga pertumbuhan PDB pengadaan air, pengelolaan sampah, limbah dan daur ulang pada tahun 2020 diestimasikan sebesar 5,33% s.d 5,72% (yoy).

0.082 0.081 0.081 0.081 0.082 0.06 0.07 0.08 0.09 2015 2016 2017 2018 2019

88 |

OUTLOOK PEREKONOMIAN INDONESIA 2021

Grafik 4.10 Perkembangan Pertumbuhan PDB Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah Dan Daur Ulang (%)

Sumber: BPS dan Kemenko Perekonomian, 2020

Pada tahun 2021, dengan rencana pelaksanaan vaksinasi COVID-19 secara bertahap dimulai pada triwulan I 2021, maka diharapkan terbentuk sentimen positif yang mampu meningkatkan aktivitas konsumsi masyarakat. Dengan demikian aktivitas industri akan meningkat sehingga akan mendorong kebutuhan air bersih dan jasa pengolahan limbah hasil industri. Selain itu pada tahun 2021, pemerintah juga akan melaksanakan program pembangunan dan rehabilitasi 13 unit bendungan multiguna, revitalisasi 7 unit tampungan alami, dan modernisasi 398.123 ha daerah irigasi premium.

Dengan berbagai program pemerintah dan optimisme pemulihan aktivitas industri tersebut, maka PDB pengadaan air, pengelolaan sampah, limbah dan daur ulang pada tahun 2021 diproyeksikan dapat tumbuh pada kisaran 6,91% s,d 8,09% (yoy). Namun demikian, ketidakpastian kondisi pendemi COVID-19 pada tahun 2021 masih menimbulkan risiko perlambatan aktivitas ekonomi di berbagai sektor lapangan usaha. KONSTRUKSI

Sektor konstruksi merupakan kegiatan usaha di bidang konstruksi umum dan konstruksi

khusus pekerjaan gedung dan bangunan sipil, baik digunakan sebagai tempat tinggal atau sarana kegiatan lainnya. Dalam perhitungannya, sektor konstruksi mencakup pekerjaan baru, perbaikan, penambahan dan perubahan, pendirian prefabrikasi bangunan atau struktur di lokasi proyek dan juga konstruksi yang bersifat sementara (BPS, 2018).

Pada tahun 2019, sektor konstruksi berkontribusi sekitar 10,12% terhadap PDB Nasional. Di samping itu, kinerja sektor konstruksi selama periode 2015-2019 terbilang cukup stabil dengan pertumbuhan yang terjaga pada kisaran 6%. Capaian tersebut sejalan dengan kebijakan pembangunan infrastruktur yang menjadi agenda prioritas pemerintah. Adapun perkembangan distribusi PDB sektor konstruksi terhadap PDB secara keseluruhan dapat dilihat pada Grafik 4.11.

Grafik 4.11 Kontribusi PDB Sektor Konstruksi terhadap PDB Nasional (%)

Sumber: BPS, Kemenko Perekonomian, 2020

Pada triwulan I 2020, sektor konstruksi mengalami perlambatan dari 5,91% pada periode yang sama di tahun sebelumnya, menjadi 2,9% di tahun 2020. Hal ini secara tidak langsung juga disebabkan oleh Pandemi COVID-19. Perlambatan ini kemudian berlanjut pada triwulan II 2020 dimana pertumbuhan sektor konstruksi pada periode tersebut terkontraksi hingga 5,32% (yoy). 5.33 6.91 7.07 3.6 4.59 5.56 6.83 5.72 8.09 0 2 4 6 8 10 2015 2016 2017 2018 2019 2020e 2021f

Baseline Scenario Optimist Scenario

9.65% 9.79% 9.80% 9.97% 10.05% 10.12% 9.4% 9.5% 9.6% 9.7% 9.8% 9.9% 10.0% 10.1% 10.2% 2014 2015 2016 2017 2018 2019

OUTLOOK PEREKONOMIAN INDONESIA 2021 |

89

Grafik 4.12 Pertumbuhan PDB Sektor

Konstruksi (%)

Sumber: BPS, Kemenko Perekonomian, 2020

Pada triwulan III 2020, mulai terjadi pembalikan arah pertumbuhan, dimana sektor konstruksi mencatatkan pertumbuhan sebesar -4,25% (yoy). Perbaikan pertumbuhan sektor konstruksi pada triwulan III disebabkan oleh meningkatnya belanja modal konstruksi pemerintah seiring dengan dimulainya kembali pengerjaan proyek infrastruktur di era adaptasi kebiasaan baru.

Sektor konstruksi diproyeksikan perlahan-lahan akan mengalami pemulihan pada triwulan IV, walaupun diperkirakan masih berada pada area pertumbuhan yang belum positif, Sehingga secara keseluruhan, Kemenko Perekonomian memproyeksikan sektor konstruksi pada tahun 2020 akan mengalami pertumbuhan -1,50% s.d -0,81% (yoy).

Perlambatan pertumbuhan tersebut dibandingkan dengan tahun sebelumnya, selain karena dampak pandemi COVID-19, juga disebabkan oleh penurunan pada konsumsi semen. Hingga akhir tahun 2020, konsumsi semen diproyeksikan akan mengalami penurunan yang cukup dalam. Hingga triwulan III 2020, secara kumulatif konsumsi semen telah mengalami penurunan sebesar -8,15% (yoy).

Grafik 4.13 Konsumsi Semen Domestik (Ribu Ton)

Sumber: CEIC Data, 2020

Faktor lain yang mendorong perlambatan pertumbuhan pada sektor konstruksi adalah menurunnya realisasi belanja modal pemerintah. Diperkirakan, realisasi belanja modal pemerintah hingga akhir tahun 2020 menurun sebesar -12,30% (yoy).

Di samping itu, penurunan pertumbuhan sektor konstruksi juga sejalan dengan berkurangnya realisasi PSN yang selesai hingga akhir tahun 2020. Hingga Oktober 2020, terdapat 7 proyek yang selesai dengan nilai investasi Rp53,9 triliun. Proyek yang selesai diantaranya adalah LRT Sumatera Selatan, Bandar Udara NYIA, Tol Pandaan – Malang, Tol Pekanbaru - Dumai, SPAM Lampung, KI Wilmar Serang, dan KI Ketapang. Sehingga proyek yang selesai sejak 2016 hingga Oktober 2020 secara kumulatif terdapat 99 PSN selesai dengan nilai investasi mencapai Rp521,3 triliun. Berdasarkan hal tersebut hingga akhir tahun 2020 diprakirakan realisasi PSN yang akan selesai adalah sebanyak 10 proyek. Jumlah ini lebih rendah daripada realisasi tahun 2019 yang mencapai 30 proyek. Total nilai investasi pada 19 PSN yang akan selesai di tahun 2020 adalah sebesar Rp145,0 triliun.

Sampai dengan akhir tahun 2020, diperkirakan akan ada 10 PSN lagi yang akan selesai, Adapun 10 proyek yang diperkirakan selesai sampai akhir 2020 antara lain Jalan Tol Balikpapan – Samarinda, Tol Serpong – Cinere, Tol Cinere – Jagorawi, Pelabuhan KEK -1.5 4.46 6.36 5.22 6.80 6.09 5.76 -0.81 5.01 -3 -1 1 3 5 7 2015 2016 2017 2018 2019 2020e 2021f

Baseline Scenario (%) Optimist Scenario (%)

6,184 2000 3000 4000 5000 6000 7000 8000 01 /2 01 8 04/201 8 07 /2 0 18 10 /201 8 01 /2 01 9 0 4/201 9 07 /2 0 19 10/201 9 01 /2 020 04/202 0 07 /2 0 20

90 |

OUTLOOK PEREKONOMIAN INDONESIA 2021

Maloy, Kereta Api Tebing Tinggi-Kuala Tanjung, Kawasan Industri Konawe, Bendungan Tukul, Bendungan Tapin, Bendungan Passeloreng, dan Bendungan Napun gete.

Kemudian, hingga akhir tahun 2020, diperkirakan realisasi PSN yang akan selesai adalah sebanyak 17 proyek. Jumlah ini lebih rendah daripada realisasi tahun 2019 yang mencapai 30 proyek. Total nilai investasi pada 17 PSN yang akan selesai di tahun 2020 adalah sebesar Rp140,4 triliun.

Di tahun 2021, Kemenko Perekonomian memproyeksikan sektor konstruksi akan mampu tumbuh sebesar 4,46 s.d 5,01% (yoy). Optimisme tersebut didasarkan pada kebijakan alokasi anggaran pemerintah untuk infrastruktur sebesar Rp413,8 triliun di tahun 2021. Penyediaan infrastruktur ini meliputi infrastruktur untuk layanan dasar, peningkatan konektivitas, dan dukungan pemulihan ekonomi serta melanjutkan program prioritas yang tertunda.

Selanjutnya, Kemenko Perekonomian melalui KPPIP juga akan melanjutkan proses penyelesaian PSN di tahun 2021 yang berjumlah 38 proyek dengan nilai investasi sebesar Rp464,6 triliun. Adapun dari 38 proyek tersebut, terdiri dari 14 Bendungan, konstruksi tangki penyimpanan BBM. Pengembangan lapangan unitisasi gas Jambaran-Tiung Biru, 12 proyek jalan tol, 1 kawasan ekonomi khusus, 3 kawasan industri, 2 proyek kereta api, 2 proyek irigasi dan 2 proyek SPAM.

PERDAGANGAN BESAR DAN ECERAN,