OUTLOOK PEREKONOMIAN INDONESIA 2021 |
i
DAFTAR ISI
Daftar Isi ... iDaftar Tabel ... ii
Daftar Grafik ... iii
Daftar Gambar ... vi
Daftar Singkatan ... vii
Kata Pengantar ... ix
Sambutan Menteri ... x
Ringkasan ... xi
Perkembangan Perekonomian Global Pertumbuhan Ekonomi ... 2 Perdagangan ... 14 Pasar Komoditas ... 17 Kebijakan Moneter ... 20 Kebijakan Fiskal ... 24 Pasar Finansial ... 28
Perkembangan Perekonomian Indonesia Pertumbuhan Ekonomi Indonesia ... 35
Inflasi ... 43
Kondisi Moneter ... 44
Kondisi Fiskal ... 48
Kondisi Neraca Pembayaran ... 51
Perkembangan Investasi ... 54
Tantangan dan Peluang Tantangan dan Peluang Eksternal ... 60
Tantangan dan Peluang Internal ... 63
Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi dan Sektoral 2021 ... 72
Kebijakan Prioritas ... 122
Program Pemulihan Ekonomi Nasional Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional ... 166
Anggaran Penanganan Covid-19 dan Klusterisasi Program ... 168
Realisasi dan Penyerapan Anggaran PEN ... 171
Upaya Mendorong Percepatan Realisasi Program PEN ... 172
Monitoring World Bank Indonesia atas Program PEN ... 173
Percepatan Pemulihan sebagai Agenda Prioritas APBN 2021 ... 174
ii |
OUTLOOK PEREKONOMIAN INDONESIA 2021DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 Pertumbuhan PDB Global (%, yoy)
Tabel 2.1 Pertumbuhan Ekonomi secara Spasial (%. yoy)
Tabel 2.2 Posisi Kredit Modal Kerja Berdasarkan Sektor Ekonomi (%)
Tabel 4.1 Pertumbuhan Perekonomian Berdasarkan Lapangan Usaha (%, yoy) Tabel 5.1 Realisasi PSR tahun 2016-2020*
Tabel 5.2 Capaian Implementasi Kartu Tani
Tabel 6.1 Rincian Anggaran PEN (dalam Rp. Triliun) Tabel 6.2 Penyerapan Anggaran PEN (dalam Rp.Triliun)
Tabel 6.3 Klaster Kesehatan, Perlindungan Sosial, dan Sektoral K/L dan Pemda Tabel 6.4 Klaster UMKM dan Pembiayaan Korporasi
OUTLOOK PEREKONOMIAN INDONESIA 2021 |
iii
DAFTAR GRAFIK
Grafik 1.1 Indeks Ketidakpastian Global Grafik 1.2 Perekonomian Dunia dalam Resesi
Grafik 1.3 Deviasi Proyeksi PDB (%) dan Lockdown Stringency Index, Semester 1-2020 Grafik 1.4 Google Mobility Index
Grafik 1.5 Manufacturing PMI-Headline
Grafik 1.6 Indeks Ekspektasi Kepercayaan Konsumen Grafik 1.7 Pertumbuhan Perdagangan Global
Grafik 1.8 Neraca Sektor Jasa: Transportasi Penumpang dan Perjalanan Grafik 1.9 Pergerakan Indeks Harga Komoditas Bulanan 2020
Grafik 1.10 Tahun dengan Penurunan Permintaan Minyak Bumi Terbesar Grafik 1.11 Pergerakan Harga Minyak Bumi
Grafik 1.12 Tren Kebijakan Suku Bunga Global
Grafik 1.13 Kebijakan Moneter di Negara Berkembang Grafik 1.14 Inflasi Kelompok Negara Maju (%)
Grafik 1.15 Inflasi di Kelompok Negara Berkembang (%) Grafik 1.16 Persentase Stimulus Fiskal terhadap PDB Grafik 1.17 Keseimbangan Primer Negara Berkembang Grafik 1.18 Persentase Hutang Pemerintah terhadap PDB Grafik 1.19 Tingkat Yield Obligasi AS
Grafik 1.20 Pergerakan Harga Saham Utama Dunia (Januari 2020=100) Grafik 2.1 Perkembangan Kasus COVID-19 Nasional
Grafik 2.2 Tingkat Penyebaran COVID-19 Menurut Provinsi
Grafik 2.3 Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Skenario Optimis dan Sangat Optimis Grafik 2.4 Mobilitas Masyarakat Indonesia
Grafik 2.5 Survei Kegiatan Dunia Usaha (%) Grafik 2.6 Retail Sales Index (%)
Grafik 2.7 Purchasing Manager Index (PMI Manufaktur)
Grafik 2.8 Pertumbuhan Ekonomi Menurut Sektor (%, yoy) Grafik 2.9 Pertumbuhan Ekonomi Menurut Pengeluaran (%, yoy) Grafik 2.10 Mobilitas Masyarakat Wilayah Sumatra
Grafik 2.11 Mobilitas Masyarakat Wilayah Jawa Grafik 2.12 Mobilitas Masyarakat Wilayah Kalimantan Grafik 2.13 Mobilitas Masyarakat Wilayah Sulawesi
Grafik 2.14 Mobilitas Masyarakat Wilayah Bali dan Nusa Tenggara Grafik 2.15 Mobilitas Masyarakat Wilayah Maluku dan Papua Grafik 2.16 Perkembangan Inflasi mtm (%)
Grafik 2.17 Perkembangan Nilai Tukar Rupiah (end of period) Grafik 2.18 Perkembangan Yield SBN Tenor 10T
Grafik 2.19 Realisasi APBN s.d. 31 Juli, 2019 – 2020 (dalam triliun Rp) Grafik 2.20 Neraca Transaksi Berjalan
Grafik 2.21 Neraca Perdagangan Grafik 2.22 Neraca Jasa
iv |
OUTLOOK PEREKONOMIAN INDONESIA 2021Grafik 2.23 Perkembangan Transaksi Modal dan Finansial Grafik 2.24 Posisi Cadangan Devisa
Grafik 2.25 Perkembangan Investasi Asing di Indonesia Berdasarkan Sektor (Ribu US$) Grafik 2.26 Perkembangan PMDN Berdasarkan Sektor (dalam juta Rp)
Grafik 4.1 Perkembangan Distribusi PDB Sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan (%, yoy) Grafik 4.2 Pertumbuhan PDB Sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan (%, yoy)
Grafik 4.3 Perkembangan Distribusi PDB Sektor Pertambangan dan Penggalian (%, yoy) terhadap PDB nasional
Grafik 4.4 Grafik Pertumbuhan PDB Sektor Pertambangan dan Penggalian (%, yoy) Grafik 4.5 Perkembangan Distribusi PDB Industri Pengolahan (%, yoy)
Grafik 4.6 Perkembangan Pertumbuhan PDB Industri Pengolahan (%, yoy)
Grafik 4.7 Distribusi PDB Subsektor Pengadaan Listrik dan Gas serta Proporsi Sektor Pengadaan Listrik dan Gas terhadap PDB Nasional (%, yoy)
Grafik 4.8 Pertumbuhan PDB Sektor Pengadaan Listrik dan Gas (%, yoy)
Grafik 4.9 Perkembangan Distribusi PDB Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah Dan Daur Ulang (%, yoy)
Grafik 4.10 Perkembangan Pertumbuhan PDB Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah Dan Daur Ulang (%, yoy)
Grafik 4.11 Proporsi PDB Sektor Konstruksi terhadap PDB Nasional (%, yoy) Grafik 4.12 Pertumbuhan PDB Sektor Konstruksi (%, yoy)
Grafik 4.13 Konsumsi Semen Domestik (Ribu Ton)
Grafif 4.14 Perkembangan Distribusi PDB Sektor Perdagangan (%, yoy) Grafik 4.15 Laju Pertumbuhan PDB Sektor Perdagangan (%, yoy)
Grafik 4.16 Distribusi PDB Subsektor Pengadaan Listrik dan Gas serta Proporsi Sektor Pengadaan Listrik dan Gas terhadap PDB Nasional (%, yoy)
Grafik 4.17 Pertumbuhan PDB pada Subsektor Transportasi dan Pergudangan tahun 2020 (%, yoy)
Grafik 4.18 Pertumbuhan PDB Sektor Transportasi dan Pergudangan (%, yoy)
Grafik 4.19 Perkembangan Distribusi PDB Sektor Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum (%, yoy)
Grafik 4.20 Pertumbuhan PDB Sektor Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum (%) Grafik 4.21 Perkembangan Distribusi PDB Sektor Informasi dan Komunikasi (%, yoy) Grafik 4.22 Pertumbuhan PDB Sektor Informasi dan Komunikasi (%, yoy)
Grafik 4.23 Perkembangan Distribusi PDB Sektor Jasa Keuangan dan Asuransi serta Komponen Pembentuknya terhadap Total PDB (%, yoy)
Grafik 4.24 Laju Pertumbuhan PDB Sektor Jasa Keuangan dan Asuransi (%, yoy) Grafik 4.25 Perkembangan Distribusi PDB Real Estate (%, yoy)
Grafik 4.26 Perkembangan Pertumbuhan PDB Real Estat (%, yoy) Grafik 4.27 Pertumbuhan PDB Sektor Jasa Perusahaan (%, yoy)
Grafik 4.28 Pertumbuhan PDB Sektor Jasa Administrasi Pemerintah, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib (%, yoy)
Grafik 4.29 Distribusi PDB Sektor Jasa Pendidikan (%, yoy)
Grafik 4.30 Laju Pertumbuhan PDB Sektor Jasa Pendidikan (%, yoy)
OUTLOOK PEREKONOMIAN INDONESIA 2021 |
v
Grafik 4.32 Laju Pertumbuhan PDB Sektor Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial (%, yoy)Grafik 4.33 Pertumbuhan PDB Sektor Jasa Lainnya (%, yoy) Grafik 5.1 Target Pinjaman Daerah 2020-2023 (miliar Rp)
Grafik5.2 Penyaluran KUR tahun 2020 per Bulan (s.d. Oktober 2020) Grafik 5.3 Penyaluran KUR Berdasarkan Skema (s.d. Oktober 2020) Grafik 5.4 Inflasi Umum dan Inflasi Bahan Makanan, 2018-2020 (%) Grafik 5.5 Indikator Kemudahan Berbisnis 2020
vi |
OUTLOOK PEREKONOMIAN INDONESIA 2021DAFTAR GAMBAR
Gambar 5.1 Relaksasi Pinjaman PEN Daerah
Gambar 5.2 Nilai Ekonomi Pengembangan Pisang Cavendish Gambar 5.3 Pilar Pengembangan Klaster Pertanian
Gambar 5.4 Model Bisnis Closed Loop Cabai
Gambar 5.5 Model Pengembangan Kawasan Peternakan Terintegrasi Gambar 5.6 Program 5P Industri Rumput Laut
Gambar 5.7 Mekanisme Kartu Prakerja
Gambar 5.8 Pokok-pokok UU Cipta Kerja Klaster Ketenagakerjaan Gambar 5.9 Norma Pokok Daftar Prioritas Investasi
Gambar 5.10 Konsepsi National Logistic Ecosystem (NLE) Gambar 5.11 Peta Sebaran KEK
Gambar 5.12 Status Kemajuan PSN
Gambar 5.13 Status Pembangunan Infrastruktur Ketenagalistrikan
Gambar 5.14 Distribusi Kebutuhan Tenaga Kerja (HOK) Program Padat Karya Infrastruktur Gambar 5.13 Tren Penyerapan Anggaran PEN (dalam triliun rupiah)
OUTLOOK PEREKONOMIAN INDONESIA 2021 |
vii
DAFTAR SINGKATAN
Singkatan Kepanjangan
AKB : Adaptasi Kebiasaan Baru
AL/DPK : Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga
APBN-P Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan APD : Alat Pelindung Diri
APJII : Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia APP : Asset Purchase Programme
ASEAN : Association of Southeast Asian Nations BBM : Bahan Bakar Minyak
BI : Bank Indonesia
BI7DRR : BI 7 Days Repo Rate
BNPB : Badan Nasional Penanggulangan Bencana BKPM : Badan Koordinasi Penanaman Modal BLT : Bantuan Langsung Tunai
BMKG : Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika BOS : Bantuan Operasional Sekolah
Brexit : British Exit
BPHTB : Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan
BP2BT : Bantuan Pembiayaan Perumahan Berbasis Tabungan BPR : Bank Perkreditan Rakyat
BPRS : Bank Perkreditan Rakyat Syariah BPUM : Bantuan Presiden untuk Usaha Mikro BUMN : Badan Usaha Milik Negara
BUMS : Badan Usaha Milik Swasta
CEPA : Comprehensive Economic Partnership Agreement CHSE : Cleanliness, Health, Safety, environment
CPO : Crude Palm Oil DID : Dana Insentif Daerah
DNDF : Domestic Non Deliverable Forward DPK : Dana Pihak Ketiga
DPR : Dewan Perwakilan Rakyat DTP : Ditanggung Pemerintah ECB : European Central Bank
EMDE : Emerging Market and Development Economies EoDB : Ease of Doing Business
ESDM : Energi dan Sumber Daya Mineral FAO : Food and Agriculture Organization FDI : Foreign Direct Investment
FLPP : Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan FTA : Free Trade Agreement
GEMARIKAN : Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan GSP : Generalized System of Preference
viii |
OUTLOOK PEREKONOMIAN INDONESIA 2021Singkatan Kepanjangan
GWM : Giro Wajib Minimun HBA Harga Batubara Acuan HCI : Human Capital Index
HSP : Health Security Preparedness ICP : Indonesia Crude Price
IEA : International Energy Agency IHK : Indeks Harga Konsumen IJP : Imbal Jasa Penjaminan IKM : Industri Kecil Menengah IMF : International Monetary Fund IPR : Indeks Penjualan Rill
IVO : Industrial Vegetable Oil JKN : Jaminan Kesehatan Nasional
KBLI : Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia
KCPEN : Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional KEK : Kawasan Ekonomi Khusus
KI : Kawasan Industri
KPPIP Komite Percepatan Penyediaan Infrastruktur Prioritas KUR : Kredit Usaha Rakyat
LNG : Liquefied natural gas
LNPRT : Lembaga Non Profit yang Melayani Rumah Tangga LPEI : Lembaga Penjamin Ekspor Indonesia
LRT : Light Rail Transit
MBR : Masyarakat Berpenghasilan Rendah MFN : Most Favoured Nation
MICE : Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition NDP : Nongsa Digital Park
NLE : National Logistic Ecosystem NPI : Neraca Pembayaran Indonesia NPL : Non-Performing Loan
NPWP : Nomor Pokok Wajib Pajak OJK : Otoritas Jasa Keuangan
OPT : Organisme Pengganggu Tanaman PAUD : Pendidikan Anak Usia Dini
PBPU : Pegawai Bukan Penerima Upah PEN : Pemulihan Ekonomi Nasional
PEPP : Pandemic Emergency Purchase Programme PHK : Pemutusan Hubungan Kerja
PJJ : Pembelajaran Jarak Jauh PKH : Program Keluarga Harapan PLN : Perusahaan Listrik Negara PNS : Pegawai Negeri Sipil PMA : Penanaman Modal Asing
OUTLOOK PEREKONOMIAN INDONESIA 2021 |
ix
Singkatan Kepanjangan
PMTB : Pembentuk Modal Tetap Bruto PMI : Prompt Manufacturing Index PMI : Purchasing Manager’s Index PMI : Pekerja Migran Indonesia PMN penyertaan modal Negara PNBP : Penerimaan Negara Bukan Pajak PPKOM : Perkembangan Properti Komersial PPn : Pajak Pertambahan Nilai
PPh : Pajak Pertambahan Hasil PTA : Prefential Trade Agreement
PT PII : PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia PSBB : Pembatasan Sosial Berskala Besar PSN : Proyek Strategis Nasional
PSR : Peremajaan Sawit Rakyat QRIS : QRcode Indonesia Standard
RAPBN : Rancangan Anggaran Pembiayaan Belanja Negara RDBPO : Refined Bleached and Deodorized Palm Oil SBUM : Subsidi Bantuan Uang Muka
SDA : Sumber Daya Alam SBN : Surat Berharga Negara SBT : Saldo Bersih Tertimbang SDM : Sumber daya Manusia SFH : School From Home
SIP2MI : Surat Izin Perekrutan Pekerja Migran Indonesia SKB : Seleksi Kompetensi Bidang
SKDU : Survei Kegiatan Dunia Usaha SNI : Standar Nasional Indonesia SPAM : Sistem Penyediaan Air Minum SSB : Subsidi Selisih Bunga
THR : Tunjangan Hari Raya
TKDD : Transfer ke Daerah dan Dana Desa
TLTRO III : Targeted Longer-Term Refinancing Operations TMF : Transaksi modal dan finansial
UHC : Universal Health Coverage UKT : Uang Kuliah Tunggal
UMKM : Usaha Mikro Kecil dan Menengah UMK : Usaha Mikro Kecil
UMKMK : Usaha Mikro Kecil Menengah dan Koperasi UPPO : Unit Pengolahan Pupuk Organik
VF : Volatile Foods
WFH : Work From Home
OUTLOOK PEREKONOMIAN INDONESIA 2021 |
i
Tahun 2020 menjadi tahun yang dipenuhi dengan ketidakpastian ekonomi. Adanya pandemi COVID-19 yang dimulai pada awal tahun 2020 banyak mempengaruhi kondisi perekonomian global, tidak terkecuali Indonesia. Sejalan dengan kontraksi pertumbuhan ekonomi yang dialami oleh berbagai negara, Indonesia saat ini telah berhasil melewati titik terendah dalam perekonomiannya. Hal ini dibuktikan dari pertumbuhan Indonesia pada triwulan III 2020 tumbuh lebih baik bila dibandingkan triwulan II 2020.
Laporan Outlook ini mengambil tema “Pemulihan dan Transformasi Ekonomi Naional”. Tema ini sejalan upaya perbaikan kondisi ekonomi yang tidak terlepas dari berbagai kebijakan yang dikeluarkan oleh Pemerintah secara intensif dalam penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PC-PEN). Pemerintah menerapkan langkah-langkah strategis dalam menjaga momentum pemulihan ekonomi, diantaranya melalui percepatan implementasi program PEN yang dibagi ke dalam klaster kesehatan, perlindungan sosial, insentif usaha, dukungan UMKM, pembiayaan koperasi, hingga sektoral K/L dan Pemda. Pemerintah juga mendorong ekspor utama Indonesia dengan memanfaatkan perbaikan harga komoditas. Selain itu, dalam mengatasi disrupsi kondisi ketenagakerjaan akibat pandemi, Pemerintah juga mengeluarkan program Kartu Prakerja dan melakukan reformasi regulasi melalui UU No.11/2020 tentang Cipta Kerja. Dari sisi pemulihan bidang kesehatan, Pemerintah juga saat ini tengah menyiapkan pengadaan vaksin dan pelaksanaan vaksinasi COVID-19.
Laporan Outlook ini bertujuan untuk memberikan gambaran kondisi perekonomian 2020 dan target perekonomian 2021. Laporan diawali dengan pembahasan mengenai perkembangan perekonomian secara global yang meliputi pertumbuhan ekonomi, perdagangan, pasar komoditas, kebijakan moneter, kebijakan fiskal, dan pasar finansial. Bagian kedua merupakan pembahasan mengenai perkembangan perekonomian Indonesia, mencakup pertumbuhan ekonomi, kebijakan moneter, kebijakan fiskal, neraca pembayaran, dan perkembangan investasi. Bagian ketiga membahas mengenai tantangan dan peluang perekonomian yang dilihat dari sisi eksternal dan internal. Kemudian, bagian keempat pembahasan berfokus pada realisasi pertumbuhan ekonomi sektoral 2020 dan target pertumbuhan tahun 2021 beserta kebijakan pendorongnya. Dalam rangka mendorong pemulihan ekonomi nasional, selanjutnya dipaparkan berbagai kebijakan Kemenko Perekonomian yang dilaksanakan bersama dengan Kementerian/Lembaga di bawah koordinasinya untuk mencapai target-target tersebut. Selanjutnya, pada bagian terakhir dijabarkan kerangka konseptual dan realisasi dari Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).
Akhir kata, kami mengucapkan terima kasih untuk seluruh pihak yang telah membantu penyusunan laporan Outlook Perekonomian Indonesia ini. Semoga laporan ini dapat memberikan manfaat bagi para pemangku kepentingan, baik Kementerian/Lembaga, Pemerintah Daerah, pelaku usaha, asosiasi, akademisi, dan media.
SUSIWIJONO SEKRETARIS KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN
OUTLOOK PEREKONOMIAN INDONESIA 2021 |
1
Menjelang akhir tahun 2020, perekonomianglobal masih diliputi oleh ketidakpastian. Hal
ini seiring dengan terjadinya gelombang lanjutan COVID-19 di beberapa negara maju, sementara jumlah kasus di negara berkembang besar belum menunjukkan penurunan. Meskipun demikian, outlook pertumbuhan telah bergerak ke arah yang lebih optimis dibandingkan proyeksi tengah tahun karena pemulihan yang lebih cepat dan kuat di Tiongkok. Selanjutnya untuk tahun 2021, pertumbuhan global diproyeksi akan mengalami rebound meskipun belum mampu kembali ke kondisi sebelum pandemi.
Outlook pertumbuhan di tahun 2020-2021 bergerak kearah pemulihan dengan tetap dibayangi oleh downside risk. Dari sisi downside risk, telah terjadi gelombang kedua
dan ketiga pandemi di beberapa negara, sementara krisis finansial dan peningkatan tensi sosial-politik masih menjadi risiko yang perlu diwaspadai. Di sisi lain, pemulihan ekonomi yang cepat di Tiongkok serta sentimen positif terkait penemuan vaksin menjadi upside risk yang mendukung outlook pertumbuhan ke depan.
Secara global, stimulus fiskal yang telah dikeluarkan untuk penanganan krisis akibat COVID-19 telah mencapai US$11,7 triliun, atau setara dengan 12% PDB global. Stimulus fiskal
digunakan untuk memberi dukungan kesehatan dan perlindungan bagi kelompok rentan maupun bisnis yang terdampak. Bersamaan dengan itu, otoritas moneter di berbagai negara juga menetapkan stimulus berupa pelonggaran kuantitatif guna mendukung sisi permintaan dan menjaga sistem keuangan. Bauran berbagai kebijakan tersebut selanjutnya mampu menahan resesi yang lebih dalam di berbagai negara. Dampak positif ini dapat dilihat dari perbaikan
sentimen produsen dan konsumen hingga perbaikan di pasar komoditas hingga pasar finansial.
Penurunan kondisi eksternal dan
pembatasan aktivitas selama masa PSBB telah menyebabkan kontraksi pada perekonomian Indonesia. Data hingga
triwulan III 2020 menunjukkan perlambatan pertumbuhan di sektor-sektor yang besar kontribusinya terhadap PDB seperti pengolahan, pertambangan dan penggalian, perdagangan, serta transportasi dan pergudangan. Sementara itu dari sisi pengeluaran, komponen konsumsi rumah tangga, PMTB, dan Ekspor-Impor masih tumbuh negatif kecuali konsumsi pemerintah yang tumbuh positif. Kemudian, defisit perdagangan menunjukkan penurunan, tetapi tetap perlu diwaspadai karena disebabkan oleh impor yang menurun.
Selanjutnya di tahun 2020, Kemenko Perekonomian mengestimasi Indonesia akan tumbuh pada rentang -1,7% sampai dengan -0,6%. Kontraksi yang tidak terlalu
dalam di tahun 2020 ditopang oleh perbaikan kinerja sektoral kontributor utama PDB dan pertumbuhan sektor informasi dan komunikasi serta sektor jasa kesehatan.
Angka estimasi ini dibayangi oleh downside risk yang cukup signifikan. Dari sisi
kesehatan, tingkat penyebaran COVID-19 masih tinggi sehingga kepercayaan masyarakat untuk kembali beraktivitas belum sepenuhnya pulih. Selain itu, daya beli masyarakat yang masih lemah menahan laju pertumbuhan konsumsi. Meskipun demikian, terdapat beberapa upside risk
mulai perbaikan realisasi program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN), perkembangan vaksinasi, hingga penguatan harga komoditas global.
2 |
OUTLOOK PEREKONOMIAN INDONESIA 2021Di tengah tingginya ketidakpastian, indikator-indikator ekonomi Indonesia masih dapat terjaga, merefleksikan resiliensi fundamental perekonomian Indonesia. Nilai
tukar Rupiah cukup terkendali meskipun sempat mengalami depresiasi terhadap Dollar AS di awal masa pandemi. Rupiah berpotensi dapat menguat hingga akhir tahun 2020 dan diproyeksi dapat stabil pada kisaran Rp14.600/US$ di tahun 2021. Selanjutnya meskipun mengalami deflasi pada pada periode PSBB, inflasi mulai bergerak naik sejak Bulan Agustus seiring dengan pembukaan aktivitas kembali.
Pemerintah telah mengimplementasikan serangkaian kebijakan untuk mencegah resesi perekonomian yang lebih dalam di tahun 2020 dan mendorong perbaikan ekonomi di tahun 2021. Dari sisi fiskal,
pemerintah mengambil extraordinary measures untuk memprioritaskan penanganan penanganan COVID-19 dalam APBN 2020 dan melonggarkan batasan defisit untuk mendukung pembiayaan. Stimulus fiskal selanjutnya menjadi instrumen utama pemerintah untuk menjamin kapasitas pelayanan kesehatan serta melindungi masyarakat kelompok rentan dan pemulihan dunia usaha. Selanjutnya dari sisi moneter, Bank Indonesia mendukung pemulihan perekonomian dengan menerapkan kebijakan moneter dan makroprudensial yang akomodatif untuk mendukung likuiditas.
Dengan mengasumsikan pengendalian COVID-19 yang semakin membaik serta keberlanjutan Program Pemulihan Ekonomi
(PEN), Kemenko Perekonomian
memproyeksikan pertumbuhan Indonesia akan mengalami rebound dengan
pertumbuhan sebesar 4,5% hingga 5,5% di tahun 2021. Angka pertumbuhan tersebut
diperkirakan utamanya akan didukung oleh pertumbuhan di sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan; konstruksi, perdagangan; transportasi dan pergudangan; penyediaan akomodasi dan makanan minuman; serta jasa lainnya.
Dalam penyusunan outlook 2020-2021 ini, Kemenko Perekonomian juga melihat adanya tantangan dan peluang bagi Indonesia baik di sisi eksternal maupun internal. Dari sisi eksternal, Indonesia juga
akan menghadapi tantangan seperti resesi global, pembatasan logistik dan penurunan permintaan komoditas, ketidakpastian arah hubungan perdagangan AS-Tiongkok, hingga volatilitas arus investasi global. Meskipun demikian, Indonesia masih memiliki peluang terkait dengan diversifikasi komoditas ekspor dan pemanfaatan teknologi.
Dari sisi internal, terdapat tantangan seperti penurunan permintaan domestik, isu ketenagakerjaan, dan defisit APBN yang masih berada di atas 3%. Namun demikian, Indonesia memiliki peluang berupa ekspor komoditas, ekonomi digital, dan pengadaan vaksinasi.
Kemenko Perekonomian menyadari bahwa pandemi COVID-19 adalah extraordinary
situation sehingga juga memerlukan adanya extraordinary measures untuk menangani
dampak-dampaknya. Di sisi lain, COVID-19 juga telah menciptakan momentum untuk mengakselerasi transformasi, agar Indonesia tidak hanya mampu kembali ke kondisi perekonomian pra pandemi, tetapi juga agar mampu keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah.
OUTLOOK PEREKONOMIAN INDONESIA 2021 |
3
Dalam jangka pendek, strategi pemulihanperekonomian difokuskan pada
perlindungan kesehatan, penguatan daya beli masyarakat, dan perlindungan usaha.
Strategi ini dijalankan melalui program PEN yang di tahun 2020 mendapat alokasi dana sebesar Rp695,2 triliun. Anggaran ini digunakan untuk memberikan dukungan kesehatan, perlindungan sosial, dukungan sektoral K/L dan pemda, dukungan UMKM, serta pembiayaan korporasi.
Kemenko Perekonomian turut mendukung strategi tersebut melalui serangkaian kebijakan yang antara lain meliputi: stimulus UMKM melalui KUR; penempatan dana pada bank umum mitra; pinjaman PEN ke daerah; Dana Insentif Daerah (DID) tambahan; insentif pajak untuk wajib pajak terdampak; penempatan pelaksanaan PEN pada BUMN; penyediaan vaksin COVID-19; program belanja warung tetangga; koordinasi perkembangan program PEN bagi UMKM; bantuan produktif bagi pelaku usaha mikro; kartu pra kerja; padat karya infrastruktur; hingga dukungan penanganan COVID-19 dalam forum ASEAN dan G20.
Selanjutnya untuk strategi pertumbuhan jangka menengah, pemerintah terus mendorong transformasi struktural yang utamanya diwujudkan dalam UU Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja. Kondisi
pandemi COVID-19 telah terjadi perubahan pola kerja, dan oleh karena itu, lingkungan bisnisnya. Penggunaan teknologi dan digitalisasi menjadi dua hal yang akan mendasari praktik bisnis dan perilaku kerja di masa mendatang. Perubahan-perubahan tersebut selanjutnya menuntut adanya kerangka regulasi yang mampu
mengakomodasi cepatnya dinamika di lapangan, tetapi tetap memberikan jaminan perlindungan bagi masyarakat terutama kelompok rentan. Menjawab kebutuhan ini, UU Cipta Kerja berupaya mengakomodasi kebutuhan masyarakat dan dunia usaha akan kemudahan berusaha sementara memperkuat kepastian regulasi berikut perlindungannya.
Selain melalui implementasi UU Cipta Kerja dan peraturan turunannya, Kemenko Perekonomian turut mendukung akselerasi transformasi struktural melalui kebijakan-kebijakan strategis yang memiliki implikasi struktural dalam jangka menengah-panjang.
Kebijakan strategis tersebut antara lain: pengembangan desa digital dan UMKM digital serta penyiapan konsep strategi nasional ekonomi digital; reputable trader; pengembangan ekosistem logistik nasional; sertifikasi halal untuk UMK; pengembangan industri; penyusunan rencana induk percepatan pengembangan kawasan Batam-Bintan-Karimun-Tanjung Pinang; pelaksanaan kebijakan Satu Peta; serta Kawasan Ekonomi Khusus.
Dengan implementasi kebijakan yang didasari pada strategi pemulihan di jangka pendek dan pertumbuhan di jangka menengah, perekonomian Indonesia diharapkan dapat segera kembali ke jalur pertumbuhan yang ditargetkan.
OUTLOOK PEREKONOMIAN INDONESIA 2021 |
1
2 |
OUTLOOK PEREKONOMIAN INDONESIA 2021PERTUMBUHAN EKONOMI
Pertumbuhan ekonomi dunia di tahun 2020 mengalami penurunan akibat meningkatnya ketidakpastian global seiring dengan terjadinya pandemi COVID-19. Tingkat ketidakpastian global di tahun 2020 jauh melebihi level di tahun 2019, yaitu ketika terjadi konflik dagang antara AS dan Tiongkok yang berkepanjangan. Tingkat ketidakpastian global di tahun 2020 juga tercatat sebagai level tertinggi sejak pertama kali direkam pada tahun 1960. Tingginya tingkat ketidakpastian ini turut disebabkan oleh fakta bahwa dunia menghadapi situasi krisis yang sama sekali baru dan berbeda, termasuk jika dibandingkan dengan situasi saat Flu Spanyol terjadi di tahun 1918.
Grafik 1.1 Indeks Ketidakpastian Global
Sumber: World Bank, 2020
Perekonomian dunia telah menunjukkan tanda-tanda pelemahan di triwulan I 2020 seiring dengan merebaknya COVID-19 di Tiongkok. Pertumbuhan global selanjutnya mencatatkan kontraksi dalam pada triwulan II karena implementasi kebijakan lockdown total di berbagai negara untuk mengendalikan penyebaran virus. Pada periode ini, berbagai indikator ekonomi menunjukkan pergerakan yang konvergen ke arah pelemahan hingga berada di bawah rata-rata historis.
Sinyal perbaikan ekonomi terlihat pada triwulan II, terutama didukung oleh pemulihan Tiongkok yang berlangsung lebih cepat dan kuat dibandingkan perkiraan. Sentimen positif pada periode ini secara umum juga membaik karena adanya peningkatan kapasitas pengetesan, pengobatan dan perawatan, serta perkembangan dalam uji coba vaksin.
Meskipun demikian, terjadinya gelombang kedua di sebagian negara besar Eropa dan gelombang ketiga di AS pada triwulan IV dapat memengaruhi tren perbaikan yang terjadi di periode sebelumnya. Pada gelombang lanjutan ini, terjadi peningkatan kasus infeksi COVID-19 yang lebih tinggi dibandingkan saat gelombang pertama. Dengan latar belakang kondisi tersebut, di awal triwulan IV negara seperti Irlandia, Jerman, Perancis, dan Polandia kembali memberlakukan kebijakan lockdown nasional sementara Inggris memberlakukan lockdown lokal. Di saat yang sama, jumlah kasus infeksi baru di kelompok negara berkembang seperti Rusia, India, Iran, Meksiko, dan Indonesia masih belum menunjukkan penurunan yang signifikan.
Pada awal November 2020, jumlah kasus COVID-19 yang terkonfirmasi telah tercatat lebih dari 48 juta dengan jumlah kematian mencapai lebih dari 1,2 juta jiwa. Dari jumlah kasus tersebut, rata-rata tingkat infeksi dan kematian harian di kelompok negara-negara berkembang masih lebih tinggi daripada di kelompok negara maju.
Dengan melihat keterkaitan erat antara kemampuan penanganan kesehatan dan keberlangsungan aktivitas ekonomi, maka
outlook di tahun 2021 akan sangat tergantung
pada faktor kesehatan yang meliputi pengendalian penyebaran virus di sebagian
403.7 0 100 200 300 400 500 1960 1975 1990 2005 2020
OUTLOOK PEREKONOMIAN INDONESIA 2021 |
3
besar negara serta penemuan dan distribusivaksin yang efektif.
Terjaminnya aspek kesehatan dan keamanan sendiri merupakan prasyarat bagi keberlanjutan aktivitas ekonomi karena menjadi dasar tumbuhnya kepercayaan pasar. Kepercayaan ini diperlukan agar masyarakat mau dan dapat menjalankan aktivitas. Selanjutnya ketika masyarakat kembali beraktivitas, perekonomian yang saat ini masih bertopang pada stimulus negara diharapkan dapat segera pulih dari krisis akibat COVID-19.
Dari sisi ekonomi, dunia memasuki periode resesi dengan pertumbuhan ekonomi negatif pada triwulan I dan II di sebagian besar negara. Di tahun 2020 sendiri, diperkirakan sebesar 92,9% negara di dunia akan mengalami resesi. Angka tersebut tercatat sebagai yang tertinggi dalam sejarah modern, dengan periode Great Depression di tahun 1931 berada pada posisi kedua dengan 83,8% ekonomi dunia mengalami resesi. Selanjutnya ditinjau dari tingkat dampaknya, resesi yang terjadi akibat pandemi COVID-19 tercatat sebagai resesi paling dalam setelah Perang Dunia II dan hampir tiga kali lebih dalam daripada periode Krisis Finansial Global di tahun 2008.
Grafik 1.2 Perekonomian Dunia dalam Resesi
Sumber: World Bank, 2020
Penurunan pertumbuhan terjadi sebagai implikasi dari kebijakan pembatasan pergerakan manusia maupun barang. Kebijakan pencegahan penyebaran ini memiliki dampak besar terhadap aktivitas perekonomian modern, dengan menekan sisi konsumsi, investasi, serta ekspor-impor secara bersamaan. Sektor jasa seperti penerbangan dan pariwisata yang banyak menjadi penggerak perekonomian baik di negara maju maupun berkembang mengalami tekanan berat dengan adanya pembatasan sosial dan fisik hingga penutupan pintu perbatasan di sebagian besar negara.
Penurunan yang dialami sektor jasa selanjutnya berimplikasi terhadap permintaan barang, mengingat sebagian besar proses penyediaan jasa tetap memerlukan barang untuk mendukungnya. Dampak berantai dari penurunan tersebut selanjutnya menyebabkan tingkat konsumsi masyarakat mengalami penurunan secara agregat. Selain menyebabkan penurunan perdagangan, penurunan konsumsi juga turut berdampak pada penurunan investasi karena investor menunda keputusan ekspansi usaha maupun belanja modalnya. Sektor ketenagakerjaan selanjutnya mengalami dampak signifikan, dengan tenaga kerja mengalami pengurangan jam kerja hingga pemutusan hubungan kerja. Secara spesifik, tekanan di sektor ketenagakerjaan paling banyak dirasakan oleh kelompok tenaga kerja berketerampilan rendah yang tidak memiliki pilihan untuk bekerja dari rumah. Terkait dengan hal ini, International Labour Organization (ILO) mengestimasi setidaknya terdapat 1,8 miliar pekerja informal secara global yang terdampak oleh pandemi.
83.8 92.9 0 20 40 60 80 100 1871 1901 1931 1961 1991 2021
4 |
OUTLOOK PEREKONOMIAN INDONESIA 2021Dengan adanya tekanan terhadap pertumbuhan perekonomian dan sektor ketenagakerjaan, World Bank memperkira-kan terjadinya peningkatan angka kemiskinan secara global di tahun 2020. World Bank memperkirakan akan ada 71-100 juta orang dalam kemiskinan ekstrem, atau meningkat dari 8,23% di tahun 2019 menjadi 8,82-9,18% di tahun 2020. Sejalan dengan perkiraan tersebut, angka kemiskinan juga diperkirakan akan mengalami peningkatan sebesar 2,3% dari dasar penghitungan tanpa COVID-19. Peningkatan tersebut berasal dari 176 juta orang di kelompok negara berpendapatan rendah dan 177 juta orang di kelompok berpendapatan menengah yang menjadi orang miskin baru akibat COVID-19. Untuk mengatasi dampak krisis ekonomi, pemerintah dan bank sentral di berbagai negara telah mengeluarkan kebijakan stimulus baik fiskal maupun moneter untuk menjadi penyangga atas guncangan yang terjadi. Stimulus yang diberikan negara untuk
mengatasi dampak pandemi COVID-19 ini besar secara nilai serta komprehensif secara cakupan, karena tidak hanya dibutuhkan untuk mendorong sektor riil, tetapi juga diperlukan untuk menjamin keberlanjutan sektor finansial.
Hingga awal November 2020, secara umum berbagai kebijakan stimulus yang dikeluarkan oleh berbagai negara telah memberikan dampak positif terhadap sentimen pasar sehingga mampu menggerakkan kembali perekonomian masing-masing. Meskipun demikian, pemerintah perlu berhati-hati dalam menavigasi kebijakan tersebut agar injeksi stimulus benar-benar disalurkan untuk sektor yang strategis dalam mendukung pergerakan perekonomian. Selain itu, pemerintah, terutama di negara-negara berkembang, perlu memperhatikan aspek keberlanjutan utang eksternal untuk menjaga kestabilan perekonomian setelah masa pemulihan akibat pandemi COVID-19.
Tabel 1.1 Pertumbuhan PDB Global (%)
Ekonomi IMF 1 World Bank2 2019 2020e 2021p 2019 2020e 2021p Dunia 2,9 -4,4 5,2 2,4 -5,2 4,2 Amerika Serikat 1,7 -4,3 3,1 2,3 -6,1 4,0 Kawasan Euro 2,3 -8.3 5,2 1,2 -9,1 4,5 Jepang 0,7 -5,3 2,3 0,7 -6,1 2,5 Tiongkok 6,1 1,9 8,2 6,1 1,0 6,9 India 4,2 -10,3 8,8 4,2 -3,2 3,1 ASEAN-53 4,9 -3,4 6,2 4,9 -1,4 5,8
Sumber: IMF (Oktober 2020), World Bank (Juni 2020)
Keterangan: “e” adalah singkatan dari “estimasi” dan “p” adalah singkatan dari “prediksi” Kemenko Perekonomian melihat dunia
mengalami resesi di tahun 2020 karena telah terjadi konvergensi pertumbuhan ke arah perlambatan di sebagian besar negara,
1 IMF menghitung pertumbuhan dengan menggunakan pembobotan berdasarkan purchasing power parity dengan mengasumsikan
real effective exchange rate konstan dan dilakukan penyesuaian musiman terhadap data per kuartal
2 World Bank menghitung pertumbuhan agregat menggunakan US$ konstan 2010 dengan bobot PDB 3 Filipina, Indonesia, Malaysia, Thailand, Vietnam
termasuk Tiongkok. Meskipun demikian, Kemenko Perekonomian menilai bahwa sebagian besar negara telah melewati titik terendahnya dan menuju ke arah pemulihan.
OUTLOOK PEREKONOMIAN INDONESIA 2021 |
5
Namun, sinyal pemulihan tersebut masihdibayangi oleh faktor-faktor downside risk yang lebih besar, seperti gelombang lanjutan pandemi, krisis finansial, hingga gejolak sosial.
Seperti dalam kasus pandemi Flu Spanyol 1918-1919, COVID-19 juga telah diikuti oleh gelombang pandemi lanjutan. Sementara itu dalam kasus negara berkembang, banyak di antaranya yang tidak siap dalam menghadapi krisis ekonomi dan kesehatan yang berlangsung secara bersamaan. Tekanan besar ini utamanya dirasakan oleh negara-negara berkembang yang tidak memiliki sistem kesehatan yang mencukupi.
Selain itu, tekanan juga dialami oleh negara yang memiliki ketergantungan tinggi pada perdagangan internasional, sektor pariwisata, remitansi, ekspor minyak bumi dan komoditas lainnya. Negara berkembang dengan tingkat kemiskinan dan sektor informal tinggi juga memiliki kerentanan yang lebih besar, mengingat akses yang lebih sulit bagi sebagian besar masyarakatnya terhadap fasilitas kesehatan, jaring pengaman sosial, hingga pangan. Skenario pemulihan ekonomi menghadapi ketidakpastian yang tinggi karena pandemi berlangsung lebih lama dari ekspektasi, sehingga kebijakan pembatasan masih diperlukan dalam taraf tertentu. Efektifitas dari kebijakan pembatasan sendiri merupakan faktor determinan dalam upaya pemulihan ekonomi.
Dalam World Economic Outlook bulan Oktober 2020, IMF menyatakan bahwa kebijakan pembatasan yang ketat di awal masa pandemi dapat mendorong pemulihan ekonomi yang lebih cepat. Meskipun pembatasan ketat dapat menyebabkan kerugian ekonomi jangka pendek, kerugian
tersebut akan dikompensasi oleh pertumbuhan dalam jangka menengah. Pembatasan yang efektif di awal masa pandemi berkontribusi positif terhadap kecepatan penanganan virus, sehingga mengurangi perlunya masyarakat untuk melakukan pembatasan aktivitas secara sukarela. Kondisi demikian dapat dilihat dari keberhasilan Tiongkok dan Vietnam. Di awal masa pandemi, pemerintah di kedua negara memberlakukan lockdown ketat maupun melakukan pengetesan dan pelacakan secara masif (nilai lockdown stringency index Tiongkok adalah 62,36 dan Vietnam sebesar 47,91). Dengan pengendalian yang efektif di awal pandemi, kedua negara dapat segera membuka kembali aktivitas perekonomian sehingga mencegah penurunan pertumbuhan yang lebih dalam (proyeksi pertumbuhan Tiongkok turun sebesar 7,82% sementara Vietnam sebesar 4,35% dari angka di Bulan Januari).
Grafik 1.3 Deviasi Proyeksi PDB (%) dan Lockdown Stringency Index, Semester I-2020
Sumber: IMF, 2020
Sebaliknya, jika kebijakan pengendalian memiliki efektifitas yang rendah, masyarakat akan cenderung melakukan pembatasan kegiatan secara sukarela sehingga semakin memperpanjang periode kelesuan ekonomi. Inggris dan Slovenia menjadi contoh dalam
0 10 20 30 40 50 60 -25 -20 -15 -10 -5 0 L o c k d o w n Stri n g e n c y In d e x Deviasi Proyeksi PDB CHN SWE PER ISR ITA SVN ESP TWN
*) Deviasi dihitung dari proyeksi bulan Januari
VNM
6 |
OUTLOOK PEREKONOMIAN INDONESIA 2021 kasus ini, di mana lockdown stringency index di masing-masing negara berada di bawah rata-rata global, yaitu pada 38,99 dan 34,24. Untuk periode paruh pertama 2020, pertumbuhan Inggris turun sebesar 12,91% sementara Slovenia sebesar 11,35% dari angka proyeksi Bulan Januari.Berlanjutnya kondisi pandemi telah menekan kegiatan konsumsi sehingga memengaruhi kondisi likuiditas bisnis. Problem ini selanjutnya dapat berimbas pada pengurangan tenaga kerja, kredit macet, hingga kebangkrutan. Kondisi demikian dapat semakin meningkatkan risiko krisis finansial di banyak negara, terlebih jika mengingat tingkat utang yang sudah tinggi saat ini.
Selain itu, meningkatnya angka pengangguran dapat meningkatan tensi konflik horizontal maupun vertikal yang akan mengganggu stabilitas politik dan pemerintahan. Oleh karena itu, pemerintah di berbagai negara mengupayakan langkah komprehensif dan memastikan efektivitas implementasinya untuk mencegah agar gejolak ekonomi tidak berubah menjadi gejolak sosial.
Beranjak dari posisi di akhir tahun 2020 yang sudah menunjukkan tanda-tanda perbaikan, Kemenko Perekonomian melihat pertumbuhan ekonomi global di tahun 2021 akan mengalami rebound dengan mengasumsikan dua faktor utama. Pertama, pemerintah di sebagian besar negara telah dapat mengendalikan penyebaran virus dengan didukung oleh kemajuan dalam agenda penemuan obat dan vaksin. Terjaminnya aspek keamanan dan kesehatan adalah prioritas karena menjadi jaminan yang sangat dibutuhkan oleh pasar maupun publik secara umum agar dapat kembali melakukan aktivitas.
Kedua, kebijakan moneter dan fiskal yang dikeluarkan pemerintah di berbagai negara untuk memitigasi dampak pandemi terhadap perekonomian tidak dihentikan dalam waktu dekat. Di tahun 2020, stimulus telah menjadi penyangga bagi keberlangsungan perekonomian di sebagian besar negara. Selanjutnya, stimulus fiskal dan moneter diperlukan untuk memberikan daya dorong agar perekonomian dapat kembali bergerak di tengah ketidakpastian yang tinggi.
Dukungan fiskal yang dikeluarkan untuk meningkatkan kapasitas pelayanan kesehatan berdampak positif terhadap tingkat kepercayaan publik atas perlindungan kesehatan dan keselamatan. Pengendalian dari sisi kesehatan mendorong pembukaan kembali aktivitas perekonomian, sehingga mendorong kembalinya pergerakan dan kegiatan konsumsi sebagaimana dapat dilihat dari tren google
mobility index dan beberapa survei ekonomi.
Grafik 1.4 Google Mobility Index
a. Ritel dan Rekreasi
b. Pusat Transportasi Umum
-100 -50 0 Feb Mar Ap r Mei Ju n J u l A g s S e p Ok t Perancis Inggris Jerman Jepang -100 -50 0 Feb Mar Ap r M e i J u n J u l A g s S e p Ok t Perancis Inggris Jerman Jepang
OUTLOOK PEREKONOMIAN INDONESIA 2021 |
7
c. Tempat KerjaSumber: Google, 2020
Grafik 1.5 Manufacturing PMI – Headline
Sumber: CEIC
Grafik 1.6 Indeks Ekspektasi Kepercayaan Konsumen
Sumber: CEIC
Meskipun demikian, terjadinya gelombang pandemi lanjutan di beberapa negara
ekonomi besar turut memengaruhi mobilitas masyarakat seiring dengan penerapan kembali kebijakan lockdown di beberapa negara Eropa. Namun, lockdown yang kedua kalinya ini tidak memengaruhi mobilitas masyarakat secara drastis seperti yang terjadi di musim semi. Kondisi ini terlihat dari google
mobility index untuk pusat transportasi
umum dan tempat kerja yang hanya mengalami penurunan moderat, sementara mobilitas masyarakat di sejumlah negara Eropa mengalami penurunan akibat
lockdown yang kembali diberlakukan.
Dengan melihat perkembangan penanganan COVID-19 di berbagai negara, Kemenko Perekonomian melihat bahwa stimulus masih diperlukan untuk menjaga langkah menuju pemulihan ekonomi. Oleh karena itu, stimulus negara diasumsikan masih akan dilanjutkan setidaknya dalam jangka waktu menengah, atau hingga perekonomian dapat kembali berjalan seperti kondisi sebelum pandemi.
Amerika Serikat – Kemenko Perekonomian
melihat pertumbuhan AS akan mengalami kontraksi di tahun 2020. AS sendiri sempat menjadi salah satu episentrum penyebaran COVID-19 pada triwulan II-2020 dan tengah menghadapi gelombang ketiga pandemi. Tingginya angka infeksi dan kematian selanjutnya mendorong pemberlakuan kebijakan pembatasan di tingkat negara bagian, sehingga turut menyebabkan disrupsi aktivitas di level domestik. Lebih jauh, dampak ekonomi akibat disrupsi juga turut berkontribusi terhadap eskalasi tensi sosial yang sempat terjadi pada bulan Mei di beberapa negara bagian AS.
Secara umum, perekonomian AS di tahun 2020 mengalami tekanan akibat kebijakan
lockdown. Berbagai indikator ekonomi AS
menunjukkan kontraksi yang lebih dalam
-100 -80 -60 -40 -20 0 20 Feb Mar Ap r Mei Ju n J u l A g s S e p Ok t Perancis Inggris Jerman Jepang AS 30 35 40 45 50 55 60 A gs Se p O kt N o v De s Jan Feb Mar Ap r Me i Ju n Ju l A gs Se p O kt 2019 2020 Perancis Jerman Jepang Inggris AS Tiongkok 80 90 100 110 120 130 140 A gs Se p O kt N o v De s Jan Feb Mar Ap r Me i Ju n Jul A gs Se p O kt 2019 2020 Tiongkok AS
8 |
OUTLOOK PEREKONOMIAN INDONESIA 2021 dibandingkan masa Krisis Finansial 2008, seperti tingkat pengangguran, produksi manufaktur, penjualan ritel, hingga sektor jasa. Selanjutnya dari sisi investasi, anjloknya harga minyak dunia menjadi tekanan tersendiri bagi sektor minyak serpih (shaleoil) yang tengah didorong oleh AS.
Untuk memitigasi krisis yang terjadi, parlemen AS mengesahkan empat undang-undang yaitu Coronavirus Preparedness and
Response Supplemental Appropriations Act, Families First Coronavirus Response Act, Coronavirus Aid, Relief, and Economic Security Act, dan Paycheck Protection Program and Health Care Enhancement Act yang selanjutnya menjadi payung hukum paket stimulus fiskal, moneter, maupun bantuan lainnya.
Pada Maret 2020, The Federal Reserve (The Fed) melakukan pemotongan suku bunga sebesar 150 bps sehingga membuat suku bunga turun menjadi 0-0,25%. Selain itu, The Fed juga mengumumkan kebijakan stimulus moneter lain untuk menjaga kestabilan sistem keuangan AS. Melalui Coronavirus Aid,
Relief, and Economic Security Act, The Fed
diizinkan untuk melakukan pembelian surat utang dan obligasi pemerintah serta obligasi perusahaan dan surat utang yang diterbitkan oleh pemerintah negara bagian di pasar primer maupun sekunder dengan total nilai US$454 miliar.
Stimulus fiskal juga diberikan oleh Pemerintah AS dengan nilai mencapai US$3 triliun, yang di antaranya dialokasikan untuk pinjaman perusahaan, negara bagian, dan pemerintah daerah (US$1 triliun); jaminan PHK (lebih dari US$250 miliar), transfer ke daerah (US$150 miliar); bantuan pangan (US$25 miliar); bantuan pendidikan (US$30 miliar); pemotongan pajak individu (US$250
miliar); serta pemotongan kredit karyawan (US$50 miliar).
Perekonomian AS menunjukkan sinyal positif di triwulan III berkat implementasi kebijakan moneter yang longgar dan fiskal yang ekspansif. Membaiknya perekonomian AS selanjutnya membuat estimasi pertumbuhan tahun 2020 bergerak ke arah yang lebih optimis dibanding proyeksi di pertengahan tahun.
Meskipun demikian, pada Bulan Oktober World Bank mencatat adanya penurunan momentum pemulihan. Beberapa indikator perekonomian seperti pertumbuhan pengeluaran konsumsi, tingkat pendapatan yang dibelanjakan, hingga partisipasi kerja mulai menunjukkan tingkat perbaikan yang lebih kecil dibandingkan bulan sebelumnya, sementara tingkat infeksi COVID-19 masih cukup tinggi.
Namun demikian, Kemenko Perekonomian melihat ekonomi AS akan kembali tumbuh positif di tahun 2021 dengan mengasumsikan adanya perkembangan signifikan dalam penanganan virus COVID-19, masih dijalankannya kebijakan moneter akomodatif oleh The Fed, serta stimulus fiskal yang masih dilanjutkan oleh Pemerintah AS.
Terkait dengan pergantian kepemimpinan di AS, kebijakan fiskal sebagai instrumen pemulihan ekonomi masih akan menjadi strategi bagi rezim pemerintahan yang baru. Untuk mendukung pemulihan ekonomi yang kuat dan berkelanjutan, stimulus fiskal akan difokuskan pada infrastruktur energi terbarukan, teknologi untuk sektor manufaktur, pendidikan, serta kesehatan. Sementara realisasi rencana stimulus fiskal tersebut masih akan ditentukan oleh proses politik domestik di AS, eksistensi dari rencana stimulus itu sendiri dapat memberikan
OUTLOOK PEREKONOMIAN INDONESIA 2021 |
9
sentimen positif terhadap pemulihanekonomi AS di tahun 2021.
Dari sisi eksternal, pertumbuhan AS juga akan turut didukung oleh pemulihan ekonomi Tiongkok dan keberlanjutan implementasi Kesepakatan Fase Satu (Phase One Deal). Kemenko Perekonomian melihat bahwa pergantian kepemimpinan di AS akan memengaruhi arah kebijakan perdagangan ke depan, dengan AS diharapkan dapat kembali berperan aktif dalam forum kerja sama perdagangan multilateral, terutama dalam World Trade Organization (WTO). Meskipun demikian, isu perdagangan bilateral dengan Tiongkok masih akan menjadi isu penting dalam hubungan kedua negara, terlebih dengan mempertimbangkan dinamika di empat tahun sebelumnya. Berdasarkan posisi Presiden Terpilih Joseph Biden, Jr. pada masa kampanye terhadap isu ini, Kemenko Perekonomian melihat bahwa AS tidak akan menghadapi Tiongkok secara bilateral seperti yang dilakukan rezim sebelumnya. Alih-alih pendekatan bilateral, AS akan menggunakan aliansi ekonomi yang dimilikinya (Kanada, Uni Eropa) untuk meningkatkan posisi tawarnya. Terkait dengan hal ini, Kemenko Perekonomian akan terus memantau keberlanjutan implementasi Kesepakatan Fase Satu serta dialog perdagangan lanjutan antara kedua negara.
Kawasan Euro – Kemenko Perekonomian
juga melihat krisis akan terjadi di Kawasan Euro pada tahun 2020. Dengan Spanyol dan Italia sempat menjadi episentrum penyebaran COVID-19 pada triwulan-I 2020, sebagian besar negara Kawasan Euro turut memberlakukan kebijakan pembatasan ketat sehingga menyebabkan disrupsi aktivitas perekonomian. Di sektor ketenagakerjaan, tingkat pengangguran di Kawasan Euro masih dapat dikendalikan berkat adanya
kebijakan pengurangan waktu kerja. Meskipun demikian, banyak negara anggota Kawasan Euro memiliki ketergantungan besar terhadap sektor pariwisata (Portugal, Spanyol, Italia) sehingga memiliki kerentanan terkait dengan kemampuannya untuk bertahan di masa pandemi serta ketika memasuki masa pemulihan.
Untuk merespon situasi yang berkembang, European Central Bank (ECB) mengambil langkah untuk menurunkan suku bunga pinjaman kepada bank sehingga mampu mendorong peningkatan pembelian aset secara signifikan. Selain itu, ECB juga mencabut larangan pembelian surat utang untuk mencegah kebangkrutan negara anggotanya.
Komisi Eropa mengumumkan adanya Corona
Response Investment Initiative dengan nilai
US$41 miliar untuk mendukung belanja publik di bidang kesehatan, pasar ketenagakerjaan, dan negara anggota yang memerlukan dukungan. Selain itu, Komisi Eropa juga tengah membahas EU Solidarity Fund yang dapat digunakan oleh negara anggota EU yang paling terdampak, dengan nilai bantuan di tahun 2020 mencapai €800 juta.
Selain itu, pemerintah negara anggota juga menyediakan paket stimulus untuk mendukung perekonomian domestiknya. Jerman tercatat menyediakan stimulus sebesar 4,5% PDB atau senilai US$159 miliar untuk memberikan tambahan pinjaman bagi perusahaan dan memperkuat jaring pengaman sosial. Kebijakan serupa juga dilakukan oleh Italia dengan stimulus sebesar 4% PDB. Sementara itu di Perancis, pemerintah mengalokasikan anggaran sebesar 0,7% PDB atau senilai US$17 miliar untuk kredit usaha kecil dan menengah (UKM) serta belanja kesehatan.
10 |
OUTLOOK PEREKONOMIAN INDONESIA 2021 Selanjutnya untuk menjaga agar pertumbuhan ekonomi tidak turun semakin dalam, beberapa negara anggota kembali mengumumkan paket kebijakan fiskal pada pertengahan tahun 2020. Dukungan yang diberikan merupakan perpanjangan dari bauran kebijakan yang telah diberikan, seperti dukungan inovasi (Perancis), pelatihan (Perancis), pengembangan ekonomi berbasis lingkungan (Jerman, Perancis, Italia), perluasan infrastruktur digital (Jerman), hingga pemotongan pajak dan pemberian tunjangan anak tambahan (Jerman).Dengan kontraksi yang cukup dalam pada paruh pertama 2020, Kawasan Euro diperkirakan akan mengalami pertumbuhan paling rendah di antara kelompok negara maju. Terjadinya gelombang kedua pandemi di awal triwulan IV dapat berdampak pada pertumbuhan di tahun 2020, tetapi sentimen terhadap pemulihan ekonomi Kawasan Euro secara umum masih tetap positif.
Selanjutnya, Kemenko Perekonomian melihat Kawasan Euro dapat kembali tumbuh positif di tahun 2021. Pertumbuhan ini akan didukung oleh menurunnya kembali pandemi serta pengaruh positif dari realisasi kebijakan fiskal dan moneter akomodatif yang masih diimplementasikan di masing-masing negara anggota.
Jepang – Kemenko Perekonomian melihat
pertumbuhan Jepang di tahun 2020 akan mengalami kontraksi karena dampak COVID-19. Disrupsi akibat COVID-19 sendiri memberikan tekanan terhadap perekonomi-an Jepperekonomi-ang dari sektor perdagperekonomi-angperekonomi-an dperekonomi-an keuangan. Sementara itu, penundaan penyelenggaraan Olimpiade Tokyo 2020 juga diperkirakan akan semakin memberikan dampak negatif terhadap perekonomian Jepang.
Untuk memacu perekonomian, Bank of Japan telah meningkatkan pembelian surat berharga dan obligasi perusahaan hingga mencapai lebih dari 10% PDB sejak Januari 2020. Selain stimulus moneter, Pemerintah Jepang juga mengeluarkan paket stimulus fiskal dengan nilai mencapai 40% PDB, sebagai tambahan dari stimulus yang dikeluarkan pada Desember 2019. Stimulus tersebut meliputi transfer ke pemerintah daerah, pengadaan peralatan kesehatan dan pengembangan vaksin, bantuan langsung untuk rumah tangga, bantuan kredit untuk UKM, hingga pengurangan pajak properti. Di pertengahan tahun 2020, Pemerintah Jepang kembali menambah stimulus fiskal untuk kebutuhan jangka panjang seperti pengembangan energi ramah lingkungan (penghapusan secara bertahap penggunaan batubara) serta peningkatan infrastruktur digital.
Pada Bulan Oktober, jumlah kasus baru COVID-19 telah menurun sehingga mendukung sentimen perbaikan kondisi ekonomi. Penjualan ritel telah mengalami peningkatan dan kembali ke level sebelum pandemi. PMI dari Bulan Juni terus menunjukkan peningkatan, bersamaan dengan perbaikan indeks kepercayaan konsumen. Meskipun demikian, investasi masih dibayangi oleh ketidakpastian terkait pemulihan kondisi secara umum.
Kemenko Perekonomian melihat Jepang dapat kembali tumbuh positif di tahun 2021 dengan adanya dukungan kebijakan fiskal dan moneter yang akomodatif. Selanjutnya, pergantian perdana menteri dari Shinzo Abe ke Yoshihide Suga diekspektasikan tidak akan menyebabkan perubahan iklim kebijakan. Kondisi ini didukung oleh fakta bahwa pasar telah mengantisipasi pemilu di Jepang pada tahun 2021 dan PM Suga berasal dari partai yang sama, yaitu Liberal Democratic Party.
OUTLOOK PEREKONOMIAN INDONESIA 2021 |
11
Tiongkok – Kemenko Perekonomian melihatbahwa meskipun mengalami penurunan pertumbuhan paling besar selama empat dekade terakhir, Tiongkok akan menjadi salah satu dari sedikit negara dengan pertumbuhan positif di tahun 2020. Sebagai negara yang pertama kali memberlakukan pembatasan untuk mencegah penyebaran COVID-19, Tiongkok juga menjadi negara ekonomi besar pertama yang membuka kembali aktivitas perekonomiannya. Pertumbuhan Tiongkok selanjutnya menjadi penggerak utama pemulihan ekonomi global di tahun 2020.
Perekonomian Tiongkok mengalami tekanan paling berat pada triwulan I, ketika terjadi kontraksi dalam pada sektor konsumsi rumah tangga dan jasa selain jasa keuangan. Selain itu, perekonomian juga mengalami tekanan dari sisi eksternal, di mana ekspor mengalami penurunan lebih besar daripada impor. Terjadinya kondisi ini tidak lepas dari dampak kebijakan pembatasan, yang termasuk di dalamnya adalah penutupan sementara pabrik.
Untuk mengatasi krisis yang terjadi, Pemerintah Tiongkok mengimplementasikan kebijakan stimulus fiskal dan moneter dengan total anggaran mencapai 5,6% PDB. Dari sisi fiskal, Pemerintah Tiongkok mengimplementasikan kebijakan yang meliputi relaksasi pajak serta belanja pemerintah untuk kesehatan dan jaminan sosial dengan nilai mencapai 2,8% PDB. Selain itu, Pemerintah Tiongkok juga mengesahkan penerbitan surat utang pemerintah pusat dan daerah dengan nilai mencapai 2,6% PDB.
Seiring dengan peningkatan kemampuan pengendalian pandemi, Pemerintah Tiongkok pada triwulan II telah mulai membuka kembali aktivitas
perekonomiannya. Namun, pabrik belum dapat beroperasi optimal karena keterbatasan pembiayaan serta permintaan ekspor yang masih rendah. Meskipun demikian, perekonomian Tiongkok telah mampu menunjukkan perbaikan yang kuat dan lebih cepat, dengan mencatatkan pertumbuhan sebesar 3,2% (y0y) pada triwulan II. Pertumbuhan Tiongkok selanjutnya kembali meningkat menjadi 4,9% (yoy) pada triwulan III. Sinyal perbaikan juga dapat dilihat dari beberapa indikator ekonomi seperti pertumbuhan penjualan ritel (3,3% di Bulan September dari -15,8%di Bulan Maret) dan mobil (2,56 juta di Bulan September dari 309 ribu di Bulan Februari). Selanjutnya, Kemenko Perekonomian melihat pertumbuhan ekonomi Tiongkok akan kembali tinggi di tahun 2021. Rebound diperkirakan akan turut didukung oleh kebijakan “rebalancing” perekonomian yang bertujuan untuk meningkatkan porsi konsumsi domestik melalui transformasi industri dan teknologi, selain adanya pemulihan dari sisi ekspor dan investasi. Urgensi “rebalancing” perekonomian ini sendiri semakin mengemuka di tengah ketidakpastian akibat konflik dagang dengan AS dan pandemi COVID-19, sehingga Tiongkok berupaya mengurangi risiko ketergantungan terhadap suplai maupun pasar eksternal.
India – Kemenko Perekonomian
memperkira-kan India amemperkira-kan mengalami kontraksi pertumbuhan ekonomi yang cukup dalam di tahun 2020. Kondisi ini disebabkan utamanya oleh kasus infeksi COVID-19 yang masih tinggi hingga triwulan III. Pemerintah India sendiri mulai memberlakukan pembatasan ketat pada triwulan II, tetapi penyebaran virus di negara tersebut belum dapat dikendalikan setelah pelonggaran.
12 |
OUTLOOK PEREKONOMIAN INDONESIA 2021 Kebijakan pembatasan ketat telah menyebabkan penutupan usaha yang dikategorikan non-esensial sehingga menghambat pertumbuhan penjualan ritel. Selain itu, juga terjadi gangguan logistik terutama ke daerah pedesaan sehingga memengaruhi ketersediaan bahan kebutuhan pokok. Kondisi-kondisi tersebut berkontribusi terhadap turunnya tingkat konsumsi rumah tangga, yang mana juga diikuti oleh penurunan penyerapan tenaga kerja dan investasi privat.Selanjutnya dengan melihat tingkat penyebaran virus yang masih tinggi, pembukaan kembali aktivitas perekonomian masih sulit untuk secara optimal mendukung pemulihan yang cepat. Selain itu, India juga turut terdampak oleh penerapan kebijakan pengendalian penyebaran COVID-19 di dunia yang menyebabkan penurunan permintaan industri.
Di sektor keuangan, pandemi juga menyebabkan dampak signifikan terhadap kestabilan pasar. Indeks saham di India mengalami penurunan serta terjadi arus modal keluar di tengah tingginya ketidakpastian dan risiko. Rupee India juga mengalami depresiasi terhadap Dolar AS karena adanya tekanan pada neraca pembayaran.
Untuk mengatasi dampak negatif pandemi, Pemerintah India mengeluarkan paket kebijakan stimulus yang digunakan untuk meningkatkan anggaran kesehatan, memberikan transfer langsung, bantuan sosial, perlindungan tenaga kerja, bantuan untuk pekerja migran dan di pedesaan, bantuan untuk UMKM, serta bantuan pangan bagi masyarakat. Selain itu, bank sentral juga mengambil langkah untuk menurunkan suku bunga serta meningkatkan likuiditas di sektor
keuangan untuk mendukung pertumbuhan kredit.
Dengan mempertimbangkan kondisi perekonomian saat ini, Kemenko Perekonomian melihat India akan mengalami kontraksi pertumbuhan yang cukup dalam di tahun 2020 dibandingkan rata-rata negara berkembang. Selanjutnya dengan mengasumsikan pemulihan permintaan global dan keberhasilan kebijakan stimulus dalam mendukung perekonomian domestik, Kemenko Perekonomian meyakini India akan kembali tumbuh positif di tahun 2021.
ASEAN-5 – Kemenko Perekonomian melihat
pertumbuhan di kelompok ASEAN-5 masih akan negatif, dengan Vietnam mampu tumbuh positif. Pelemahan pertumbuhan kawasan di tahun 2020 dipengaruhi oleh disrupsi rantai pasok barang setengah jadi dan penutupan pabrik (Malaysia, Thailand), serta jatuhnya harga komoditas di negara-negara eksportir (Indonesia, Malaysia). Kebijakan pembatasan untuk menekan penyebaran COVID-19 menyebabkan penurunan tingkat konsumsi, investasi, produksi, dan perdagangan yang signifikan. Di beberapa negara, penurunan aktivitas di masa COVID-19 menjadi yang terbesar sejak Krisis Asia di tahun 1997.
Berbicara tentang penyebaran COVID-19, Vietnam telah melewati periode puncak penyebaran sehingga mulai merelaksasi kebijakan pembatasan dan mengizinkan pembukaan kembali sektor ekonomi secara bertahap. Berkat respon yang cepat dan efektif, Vietnam mampu mengendalikan pandemi dengan korban jiwa dan biaya ekonomi yang relatif kecil. Malaysia dan Thailand memiliki sistem kesehatan yang cukup untuk menghadapi gelombang lanjutan pandemi, tetapi Thailand memiliki profil yang lebih rentan karena jumlah
OUTLOOK PEREKONOMIAN INDONESIA 2021 |
13
populasi usia tua yang lebih besar dengantingkat kepadatan penduduk yang lebih tinggi. Sementara itu, Indonesia dan Filipina masih belum melewati masa puncak pandemi, sehingga masih perlu mempertimbangkan risiko pembukaan kembali sektor-sektor perekonomiannya. Untuk mengurangi dampak pandemi terhadap perekonomian, pemerintah di negara kawasan juga telah mengeluarkan kebijakan stimulus. Malaysia telah mengalokasikan paket stimulus dengan nilai mencapai 17% PDB sementara Thailand menganggarkan stimulus sebesar 13% PDB. Di kedua negara, stimulus tersebut terdiri dari belanja fiskal sebesar 6% PDB untuk bantuan kesehatan, kesejahteraan sosial, jaminan pinjaman, serta insentif usaha lainnya. Sementara itu, Indonesia dan Filipina menetapkan paket stimulus fiskal dengan nilai 3-5% PDB.
Untuk tahun 2020, tekanan pertumbuhan akan secara signifikan dirasakan oleh Malaysia, Filipina, dan Thailand sebagai dampak penurunan di sektor pariwisata, industri, dan ekspor. Sektor keuangan di negara-negara tersebut juga akan mengalami tekanan sebagai dampak dari kontraksi yang terjadi di sektor riil.
Pandemi akan meninggalkan dampak panjang bagi pertumbuhan ekonomi kawasan karena melemahnya investasi dan disrupsi rantai pasok yang mana keduanya merupakan motor penggerak produktivitas kawasan dalam dekade terakhir. Meskipun beberapa negara kawasan telah memiliki pengalaman dalam menghadapi krisis, masih terdapat risiko yang perlu dikelola dengan hati-hati agar tidak mengganggu jalannya agenda pemulihan ekonomi. Risiko tersebut antara lain adalah tingkat utang yang tinggi (Malaysia), ketergantungan yang tinggi
terhadap modal jangka pendek (Indonesia), serta tingginya kepemilikan asing dalam utang domestik (Indonesia, Malaysia, Thailand).
Meskipun diperkirakan akan mengalami pertumbuhan negatif di tahun 2020, kebijakan fiskal dan moneter yang telah dan masih dijalankan oleh negara kawasan diharapkan berhasil memitigasi dampak berkepanjangan dari krisis yang terjadi. Selain itu, sinyal positif kembalinya permintaan global yang didorong oleh pemulihan ekonomi Tiongkok diperkirakan akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi kawasan semester II 2020. Meningkatnya sentimen pasar juga dapat mendorong normalisasi pasar finansial global serta kembalinya arus modal masuk ke kawasan. Hingga triwulan III 2020, Vietnam menjadi negara dengan tingkat pemulihan tertinggi di antara kelompok ASEAN-5. Meskipun memiliki ketergantungan perdagangan eksternal dan keterlibatan dalam rantai nilai global yang tinggi, Vietnam telah menunjukkan sinyal pemulihan ekonomi yang kuat.
Malaysia dan Thailand selain mengalami penurunan ekspor dan pariwisata, juga rentan terhadap perubahan kondisi pembiayaan eksternal. Selanjutnya dengan adanya gejolak politik domestik di kedua negara, laju pemulihan di Malaysia dan Thailand diperkirakan akan lebih lambat daripada Vietnam.
Indonesia dan Filipina adalah dua negara dengan populasi terbesar di kawasan sehingga menghadapi tantangan yang lebih besar dalam pengendalian pandemi. Sementara Indonesia telah melonggarkan pembatasan sosialnya, Filipina telah mengimplementasikan lockdown dan
14 |
OUTLOOK PEREKONOMIAN INDONESIA 2021 pelonggaran beberapa kali. Kedua negara memiliki modalitas berupa populasi muda yang besar, tetapi di sisi lain juga memiliki sektor informal dan penduduk miskin yang signifikan. Dalam sisi eksternal, Filipina lebih bergantung pada kondisi perdagangan global, pariwisata, dan remitansi daripada Indonesia. Dengan mempertimbangkan faktor domestik di Indonesia serta faktor domestik dan eksternal bagi Filipina, prospek pemulihan dapat menghadapi tantangan yang cukup signifikan. Dengan mempertimbangkan perkembangan kondisi global dan domestik di lima negara utama kawasan, pertumbuhan ASEAN-5 diyakini dapat mengalami rebound di tahun 2021.PERDAGANGAN
Sebelum pandemi terjadi, perdagangan global sudah mengalami tekanan akibat tensi konflik dagang antara AS-Tiongkok dan tereskalasinya tensi antara AS dan Uni Eropa. Konflik dagang AS dan Tiongkok sempat mengalami deeskalasi dengan adanya Kesepakatan Fase Satu. Selanjutnya dengan adanya pandemi, perdagangan global diperkirakan akan mengalami kontraksi di tahun 2020 sebelum kembali tumbuh positif di tahun 2021. Sebagai dampak penurunan perdagangan global, arus investasi juga diperkirakan masih akan mengalami tekanan. Perdagangan merupakan sektor yang pertama kali terdampak oleh pandemi COVID-19. Tiongkok, Uni Eropa, dan AS yang merupakan ekonomi yang terintegrasi erat dalam rantai nilai global menjadi kawasan dengan penyebaran paling tinggi di awal masa pandemi. Kebijakan pembatasan menyebabkan disrupsi pada sektor perdagangan dari sisi permintaan serta dalam rantai pasoknya. Disrupsi arus perdagangan global selanjutnya membuat perusahaan mulai mengalami kesulitan
pembiayaan sehingga melakukan penundaan ekspansi. Dengan kata lain, perusahaan melakukan penundaan investasi. Selanjutnya bercermin dari kasus Krisis Finansial, disrupsi dalam pasar kredit dapat menyebabkan pemulihan ekonomi berlangsung lebih lambat, sehingga menjadi risiko yang perlu dicermati.
Grafik 1.7 Pertumbuhan Perdagangan Global
Sumber: World Bank, 2020
Dalam kondisi pandemi, perdagangan global diperkirakan akan mengalami pertumbuhan negatif sebesar 13,4%, sebelum tumbuh positif kembali di tahun 2021 menjadi 5,3%. Angka pertumbuhan di tahun 2020 tersebut diperkirakan akan menjadi pertumbuhan terendah dalam sejarah modern manusia, melebihi level pertumbuhan setelah Perang Dunia II yang tercatat sebesar -10,4%.
Perdagangan global mengalami penurunan tajam pada semester I-2020 dan berkontribusi terhadap kontraksi pertumbuhan perdagangan global yang mencapai 13,4% di tahun 2020. Perdagangan global akan kembali bergerak pada semester II-2020 seiring dengan pengurangan kebijakan pembatasan secara bertahap dan kembalinya permintaan masyarakat, terutama untuk pasar domestik. Pemulihan di semester II-2020 masih akan lemah, mengingat waktu yang diperlukan untuk mengembalikan kepercayaan pasar,
-15 -10 -5 0 5 10 2 0 1 7 20 18 2 0 1 9 2 0 2 0 2 0 2 1
Terendah sejak Perang Dunia II… Persen