RESILIENSI TENAGA KERJA INFORMAL
PERTAMBANGAN DAN PENGGALIAN
Perekonomian Indonesia saat ini masih mengandalkan sektor pertambangan dan penggalian (tradable) melalui upaya pengambilan endapan bahan galian berharga dan bernilai ekonomis berserta segala jenis barang galian lainnya. Dalam perhitungan PDB, Sektor pertambangan dan penggalian memiliki 4 (empat) subsektor utama yaitu:
(i) pertambangan minyak dan gas bumi; (ii) pertambangan batubara dan lignit; (iii) pertambangan bijih logam; serta
(iv) pertambangan dan penggalian lainnya. Dalam kurun waktu 2015-2019, kontribusi sektor pertambangan terhadap PDB nasional bersifat dinamis dan sangat dipengaruhi oleh kondisi permintaan dan penawaran baik global maupun dalam negeri. Pada tahun 2015 sektor ini berkontribusi sebesar 8,54%, namun pada tahun 2019 sektor ini mengalami penurunan kontribusi menjadi sebesar 7,36%. Secara rata-rata dalam 5 tahun tersebut sektor ini berkontribusi sebesar 7,92%. Kontribusi masing-masing subsektor terhadap sektor pertambangan dan penggalian tidak mengalami pergeseran secara proporsinya. Berdasarkan kontribusi keempat subsektor terhadap sektor pertambangan dan penggalian pada tahun 2019, subsektor pertambangan minyak dan gas bumi memiliki proporsi nilai terbesar dibandingkan subsektor lainnya yaitu sebesar 37,79%. Adapun subsektor dengan proporsi nilai terbesar kedua berasal dari subsektor pertambangan batubara dan lignit dengan kontribusi sebesar 33,83%. Selanjutnya subsektor dengan kontribusi terkecil berasal dari pertambangan bijih logam dengan kontribusi sebesar 0,80%.
78 |
OUTLOOK PEREKONOMIAN INDONESIA 2021Grafik 4.3 Perkembangan Distribusi PDB Sektor Pertambangan dan Penggalian terhadap PDB nasional (%)
Sumber: BPS, 2020 (diolah)
Pertumbuhan sektor pertambangan dan penggalian dalam kurun waktu 2015-2019 bergerak secara fluktuatif. Dalam rentang tahun tersebut, pertumbuhan tertinggi terjadi pada tahun 2018 yaitu sebesar 2,16% (yoy). Di tahun 2019, sektor pertambangan dan penggalian mengalami tekanan dari sisi permintaan maupun penawaran sehingga terjadi perlambatan pertumbuhan menjadi sebesar 1,22% (yoy). Dari sisi permintaan, sektor ini mengalami perlambatan sebagai dampak dari penurunan aktivitas industri global. Sementara itu dari sisi penawaran, tekanan juga disebabkan oleh penurunan volume produksi dari komoditas-komoditas tambang strategis.
Pada triwulan I 2020, sektor pertambangan dan penggalian masih mengalami pertumbuhan positif sebesar 0,5% (yoy), walaupun angka pertumbuhan tersebut lebih rendah dibandingkan pertumbuhan triwulan I 2019 yaitu sebesar 2,32% (yoy). Penurunan kinerja ini salah satunya dipengaruhi oleh penurunan harga minyak dunia dan permintaannya.
Di samping itu, pada triwulan tersebut, sejumlah negara tujuan ekspor batubara
seperti Tiongkok juga telah memasuki fase awal pandemi COVID-19 yang menyebabkan pengurangan aktivitas sejumlah industri yang pada akhirnya menyebabkan melemahnya permintaan akan komoditas tersebut. Hal ini tercermin dari ICP pada bulan Januari 2020 yang tercatat US$65,38 per barel, semakin menurun semenjak pandemi COVID-19 dan pada bulan Maret ICP mencapai US$34,23 per barel.
Grafik 4.4 Pertumbuhan PDB Sektor Pertambangan dan Penggalian (%)
Sumber: BPS, Kemenko Perekonomian, 2020 (diolah)
Pada triwulan II 2020, sektor pertambangan dan penggalian mengalami kontraksi dengan pertumbuhan sebesar -2,72% (yoy) dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Salah satu penyebab utama adalah terjadinya puncak pandemi COVID-19 di sejumlah negara yang mengharuskan adanya penerapan kebijakan lockdown. Adanya pandemi ini secara signifikan mempengaruhi penurunan permintaan dan menghambat pasokan yang pada akhirnya menyebabkan penurunan harga komoditas migas dan hasil tambang di pasar internasional.
Dalam konteks global, terjadi penurunan harga minyak mentah dunia yang dipengaruhi oleh sentimen pasar terhadap lonjakan kasus COVID-19 di AS pada triwulan II. Selain itu, kekhawatiran pasar juga didorong oleh gelombang kedua COVID-19 yang terjadi di Tiongkok dan Korea Selatan.
8.54 8.21 7.87 7.64 7.36 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 2015 2016 2017 2018 2019
Pertambangan dan Penggalian Lainnya Pertambangan Bijih Logam
Pertambangan Batubara dan Lignit Pertambangan Minyak, Gas dan Panas Bumi Pertambangan dan Penggalian
-2.07 1.21 -3.42 0.95 0.66 2.16 1.22 -1.61 1.99 -4 -3 -2 -1 0 1 2 3 2015 2016 2017 2018 2019 2020P 2021P
OUTLOOK PEREKONOMIAN INDONESIA 2021 |
79
Pandemi COVID-19 yang nyatanya terjadisecara berkepanjangan dan kondisi geopolitik yang masih dipengaruhi perang dagang antara Tiongkok dan AS memberi risiko pada pemulihan permintaan pasar untuk komoditas minyak. Di sisi lain, ICP pada akhir triwulan II 2020 (bulan Juni), mengalami peningkatan dibanding bulan Mei. Hal ini dipengaruhi kesepakatan OPEC+ untuk melakukan pemangkasan produksi dengan angka penurunan sebesar 9,7 juta bopd sampai dengan bulan Juli 2020.
Selain harga minyak mentah dunia, harga batubara juga mengalami penurunan. Salah satu penyebabnya adalah kebijakan Tiongkok untuk membatasi impor batubara yang menyebabkan harga Batubara Newcastle 5,500 kcal/kg turun lebih tajam. Tidak hanya itu, harga Batubara Newcastle 6,000 kcal/kg untuk pasar Jepang juga berpotensi mengalami penurunan dengan ditundanya kegiatan Olimpiade Tokyo 2020 akibat COVID-19. Dari sisi dalam negeri, Harga Batubara Acuan (HBA) juga mengalami penurunan sejak pertengahan tahun 2018 dan diperparah oleh pandemi COVID-19. Pada akhir triwulan II 2020 (bulan Juni), Kementerian ESDM menetapkan harga batubara acuan Juni sebesar US$52,98 per ton.
Adanya pandemi COVID-19 juga mempengaruhi sisi ketenagakerjaan dalam negeri. Berdasarkan SKDU BI, tingkat penggunaan tenaga kerja sektor pertambangan dan penggalian pada triwulan II 2020 terindikasi menurun dibanding triwulan sebelumnya.
Selanjutnya, pada triwulan III 2020 pertumbuhan sektor pertambangan dan penggalian mengalami perlambatan pertumbuhan menjadi sebesar -4,28% (yoy), masih lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pada triwulan III 2019 akibat dampak penurunan produksi minyak dan gas bumi. Pada triwulan ini, pertambangan minyak dan gas panas bumi terkontraksi
sebesar -7,14% (yoy). Selanjutnya, pertambangan dan penggalian lainnya juga terkontraksi sebesar -2,04% (yoy) sejalan dengan penurunan permintaan luar negeri terhadap barang galian seperti kerikil, aspal alam, tanah liat, dan batu hias. Untuk pertambangan Bijih Logam naik sebesar 9,23% didorong oleh peningkatan produksi tembaga PT Freeport yang naik sebesar 16,23%.
Pada triwulan III 2020, pertumbuhan sektor ini juga terpengaruh harga minyak mentah dunia dan ICP. Harga minyak mentah di pasar internasional naik dari US$16,63 per barel pada triwulan II 2020 menjadi US$43,38 per barel pada triwulan III 2020, atau naik sebesar 62,93% (qtq). Namun demikian apabila dibandingkan dengan harga minyak mentah pada triwulan III 2019, harga pada triwulan III 2020 ini turun sebesar 30,29% (yoy). Di sisi lain, harga rata-rata ICP juga mengalami kenaikan dari US$27,67 per barel pada triwulan II 2020 menjadi US$39,90 per barel pada triwulan III 2020 atau naik sebesar 44,20% (qtq). Namun demikian, apabila dibandingkan dengan harga pada triwulan III 2019, maka harga pada triwulan III 2020 turun sebesar 33,29% (yoy).
Kenaikan harga minyak pada triwulan III 2020 jika dibandingkan oleh triwulan II 2020 ini dipengaruhi oleh beberapa kondisi. Pada triwulan ini, OPEC+ mengeluarkan kesepakatan untuk memperpanjang pemangkasan produksi minyak yang bertujuan untuk mengendalikan harga jual di tengah pandemi COVID-19. Walaupun pada triwulan ini harga minyak masih berfluktuatif, namun harga minyak Brent sempat mengalami kenaikan yang disebabkan oleh penyusunan persediaan minyak di AS. Di sisi lain, dengan pelonggaran kebijakan
lockdown dan stimulus ekonomi yang
diberikan turut serta mendorong peningkatan harga minyak pada periode ini. Di wilayah AS sendiri, dimulainya driving
season dan mulai pulihnya penerbangan
80 |
OUTLOOK PEREKONOMIAN INDONESIA 2021mendorong peningkatan permintaan minyak mentah.
Pada awal triwulan III 2020, terjadi penurunan HBA menjadi US$52,16 per ton. Penurunan HBA ini disebabkan oleh kondisi minimnya serapan pasar global terhadap pasokan batubara Indonesia. Di satu sisi, baik India maupun Tiongkok saat ini mengambil langkah optimalisasi penggunaan pasokan batubara dalam negeri dengan stok yang tinggi. Selain itu, melambatnya aktivitas ekonomi di berbagai negara menyebabkan konsumsi batubara sebagai bahan energi semakin menurun. Bahkan beberapa negara cenderung beralih ke sumber energi alternatif dalam negeri.
Pada triwulan IV 2020, Kemenko Perekonomian memproyeksikan pertumbuh-an positif ypertumbuh-ang sejalpertumbuh-an dengpertumbuh-an peningkatpertumbuh-an sentimen positif pasar akan penemuan vaksin COVID-19 dan kondisi kinerja hulu migas mengalami perkembangan cukup baik di tengah pandemi COVID-19.
Dari sisi internal, di tengah Pandemi COVID-19 sejak triwulan III kinerja hulu migas sudah mencatatkan perkembangan yang cukup baik dan diharapkan juga mampu memberikan dampak positif pada pertumbuhan sektor pertambangan dan penggalian pada triwulan IV 2020. SKK Migas mencatat, hingga September 2020 lifting migas sebesar 1,689 ribu barel minyak ekivalen per hari (BOEPD) dengan rincian lifting minyak sebesar 706,2 ribu barel minyak per hari (BOPD) atau 100,2% dari target APBN-P sebesar 705 ribu BOAPBN-PD. Sedangkan lifting (salur) gas sebesar 5,502 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD) atau 99,3% dari target APBN-P yakni 5,556 MMSCFD. Selain itu, pada semester I 2020 produksi emas dan tembaga PT Freeport Indonesia juga tumbuh secara positif dengan peningkatan produksi tembaga PT Freeport sebesar 18,88% dibandingkan produksi Semester 1 2019. Selanjutnya, penjualan konsentrat tembaga juga masih berjalan normal sesuai rencana,
walaupun sempat terjadi slow demand dari Asia.
Jika melihat perkembangan secara triwulan di atas, maka pertumbuhan sektor pertambangan dan penggalian pada tahun 2020 diproyeksikan masih akan mengalami perlambatan bila dibandingkan tahun 2019. Secara keseluruhan pertumbuhan 2020 diproyeksikan sebesar -2,07 s.d -1,61% (yoy). Namun demikian, perlu menjadi catatan bahwa angka proyeksi ini sangat bersifat dinamis karena ketidakpastian yang masih tinggi pada sisi permintaan dan penawaran yang terjadi pada lingkup global maupun dalam negeri pada triwulan IV 2020 ini. Pandemi COVID-19 menjadi salah satu faktor perlambatan utama yang melemahkan kinerja sektor pertambangan dan penggalian secara sistemik. Perkembangan kasus positif COVID-19 dan adanya kebijakan lockdown di sejumlah negara besar mendorong penurunan pada sisi produksi dan sentimen negatif permintaan pasar. Penurunan tersebut pada akhirnya mempengaruhi harga sejumlah komoditas tambang. Namun demikian, proses uji klinik sejumlah vaksin COVID-19 yang telah memasuki fase akhir (fase III) di akhir tahun 2020 dan awal 2021 diharapkan mampu mendorong sentimen positif baik pasar Indonesia dan global. Untuk tahun 2021, Kemenko Perekonomian memproyeksikan angka pertumbuhan pada sektor pertambangan dan penggalian sebesar 1,21% – 1,98% (yoy). Pada tahun ini, pemulihan ekonomi nasional diharapkan akan terjadi secara menyeluruh sejalan dengan dinamika perkembangan positif produksi vaksin secara global dan Indonesia, serta jadwal pemberian vaksin yang akan dilakukan pada 2021. Adanya vaksin COVID-19 diharapkan dapat mengendalikan pandemi COVID-19 sehingga diharapkan mampu meningkatkan kembali berbagai aktivitas industri global. Adanya pemulihan kondisi ekonomi, diperkirakan juga mendorong terjadinya perbaikan harga komoditas utama
OUTLOOK PEREKONOMIAN INDONESIA 2021 |
81
dunia dan peningkatan permintaan eksporIndonesia yang pada akhirnya dapat mendorong perbaikan kinerja pada perusahaan yang bergerak di sektor pertambangan dan penggalian.
Pada tahun 2021, IEA memperkirakan permintaan minyak bumi akan kembali naik sebesar 5,2 juta barel/hari di tahun 2021. Sementara World Bank memproyeksikan harga minyak akan naik menjadi US$44/ per barel di tahun 2021. Untuk kebijakan dalam negeri, pada asumsi dasar ekonomi makro 2021, Pemerintah menetapkan harga minyak US$45 per barel, lifting minyak sebesar 705 rbph, dan lifting gas sebesar 1,007 rbsmph. INDUSTRI PENGOLAHAN
Sektor industri pengolahan mencakup kegiatan ekonomi atau lapangan usaha di bidang perubahan secara kimia atau fisik dari bahan, unsur atau komponen menjadi produk baru. Termasuk unit yang mengubah bahan menjadi produk baru dengan menggunakan tangan, kegiatan maklon atau kegiatan penjualan produk yang dibuat di tempat yang sama di mana produk tersebut dijual dan unit yang melakukan pengolahan bahan-bahan dari pihak lain atas dasar kontrak.
Industri Pengolahan merupakan sektor utama yang memberikan kontribusi terbesar terhadap PDB Nasional. Dalam lima tahun terakhir, rata-rata kontribusi sektor Industri Pengolahan sebesar 21,18%. Pada tahun 2019, subsektor yang memberikan kontribusi besar pada PDB industri pengolahan adalah industri makanan dan minuman (32,7%); industri kimia, farmasi dan obat tradisional (8,6%); industri batubara dan pengilangan migas (9,5%); industri barang logam, komputer, barang elektronik, optik dan peralatan listrik (9,0%); serta industri tekstil dan pakaian jadi (6,4%). Perkembangan distribusi PDB sektor Industri Pengolahan serta subsektor di dalamnya dapat dilihat pada Grafik 4.5.
Grafik 4.5 Perkembangan Distribusi PDB Industri Pengolahan (%)
Sumber: BPS, 2020
PDB industri pengolahan pada tahun 2015 hingga 2018 tumbuh pada kisaran 4,26% - 4,33% (yoy). Dengan pola pertumbuhan tertinggi berada pada triwulan ketiga. Namun pada tahun 2019, pertumbuhan PDB Industri Pengolahan sedikit melambat yaitu 3,80% (yoy). Perlambatan tersebut disebabkan oleh perang dagang antara AS dan Tiongkok yang berimbas pada penurunan permintaan ekspor dari kedua negara tersebut serta diikuti perlambatan pertumbuhan ekonomi negara mitra ekspor lainnya. Hal ini ditunjukkan dengan pertumbuhan ekspor riil produk manufaktur non migas pada tahun 2019 sebesar -2,6% (yoy).
Kemudian pada triwulan I 2020, fenomena tersebut masih berlanjut dan diperparah dengan adanya pandemi COVID-19 yang terjadi secara global. Hal tersebut menyebabkan pertumbuhan ekspor riil produk manufaktur non migas pada triwulan I dan II 2020 mengalami kontraksi sebesar 1,9% dan 18,1% (yoy). Kontraksi terdalam terjadi pada produk tekstil dan pakaian, serta mesin dan alat transportasi.
21.5 21.4 21.2 21.0 20.8 0.0 5.0 10.0 15.0 20.0 25.0 2015 2016 2017 2018 2019 Industri Pengolahan Lainnya
Industri Alat Angkutan
Industri Barang-barang Elektronik Industri Kimia dan Farmasi Industri Tekstil dan Pakaian Jadi Industri Makanan dan Minuman
Industri Batubara dan Pengilangan Migas Industri Pengolahan
82 |
OUTLOOK PEREKONOMIAN INDONESIA 2021Selain itu, penerapan pembatasan sosial berskala besar dalam menangani pandemi COVID-19 berdampak pada penurunan permintaan dalam negeri. Hal ini tercermin dari pertumbuhan komponen konsumsi rumah tangga triwulan I dan II 2020 yang melambat pada 2,83% dan -5,51% (yoy). Penurunan ekspor dan permintaan dalam negeri tersebut berdampak pada pertumbuhan PDB sektor Industri Pengolahan pada triwulan I dan II 2020 yang mencapai 2,1% dan -6,2% (yoy).
Dari sisi penawaran, pertumbuhan impor riil bahan baku pada triwulan I dan II 2020 mencapai -5,1% dan -13,0% (yoy). Sementara itu, jumlah investasi langsung (foreign direct
investment) di sektor industri pengolahan
pada semester I 2020 sebesar US$2,655 juta, jauh lebih rendah dibandingkan semester I 2019 yaitu sebesar US$5,718 juta.
Grafik 4.6 Perkembangan Pertumbuhan PDB Industri Pengolahan (%)
Sumber: BPS dan Kemenko Perekonomian, 2020
Pada triwulan III 2020, PDB industri pengolahan mengalami perbaikan dengan pertumbuhan sebesar 5,25% (qtq) dan -4,31% (yoy). Perbaikan tersebut didorong oleh peningkatan permintaan setelah dibukanya kegiatan ekonomi sejak bulan Juni. Namun berdasarkan survei Purchasing Manager’s
Index, laju pertumbuhan pesanan baru
melambat pada bulan Agustus hingga Oktober. Hal ini dipengaruhi oleh perkembangan pandemi COVID-19 yang masih meningkat dan menahan permintaan. Selain itu, terdapat permasalahan dari sisi
pasokan dan harga bahan baku karena pembatasan kegiatan pada negara asal impor.
Pada triwulan IV 2020, permasalahan pasokan, harga bahan baku serta permintaan ekspor diharapkan dapat membaik seiring dengan tren penurunan jumlah kasus di beberapa negara mitra dagang utama Indonesia yaitu Tiongkok, Amerika Serikat dan India. Meskipun demikian masih terdapat risiko perlambatan yang perlu diantisipasi mengingat beberapa negara di Uni Eropa mengalami gelombang kedua dalam perkembangan kasus pandemi COVID-19. Oleh karena itu sumber pertumbuhan yang diharapkan pada triwulan IV adalah permintaan dalam negeri.
Pemerintah berupaya meningkatkan konsumsi dalam negeri dan mengurangi beban dunia usaha melalui program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). Intervensi kebijakan untuk meningkatkan permintaan berupa program perlindungan sosial senilai Rp 203,90 triliun pada 2020 dan Rp 110,20 triliun pada 2021. Sementara itu, untuk menopang sisi penawaran pemerintah memberikan program insentif dunia usaha sebesar Rp 120,61 triliun pada 2020 dan Rp 20,40 triliun pada 2021, dukungan untuk UMKM sebesar Rp 123,46 triliun pada 2020 dan Rp 48,80 triliun pada 2021, serta pembiayaan korporasi sebesar Rp 53,57 triliun pada 2020 dan Rp 14,90 triliun pada 2021.
Program insentif dunia usaha berupa PPh 21 DTP, pembebasan PPh 22 Impor, pengurangan angsuran PPh 25, pengembalian pendahuluan PPN, penurunan tarif PPh Badan, dan pembebasan ketentuan emin (40jam) untuk daya 1300VA ke atas serta pembebasan abodemen untuk daya 220 s,d 900VA. Sementara program dukungan UMKM terdiri atas subsidi bunga, penempatan dana, belanja IJP dan stop loss, PPh Final UMKM DTP, pembiayaan investasi -2.9 2.49 4.33 4.26 4.29 4.27 3.8 -2.11 3.1 -5 -3 -1 1 3 5 7 2015 2016 2017 2018 2019 2020e 2021f
OUTLOOK PEREKONOMIAN INDONESIA 2021 |
83
kepada Koperasi melalui LPDB KUMKM, sertabantuan produktif untuk 15 juta usaha. Berbagai upaya tersebut disertai ekspektasi perubahan kebijakan perang dagang AS-Tiongkok setelah terpilihnya Presiden ke-46 Amerika Serikat diharapkan dapat mendorong pertumbuhan PDB sektor industri pengolahan pada triwulan IV-2020. Oleh karena itu Kemenko Perekonomian memproyeksikan pertumbuhan PDB industri pengolahan pada triwulan IV 2020 mampu membaik dari triwulan sebelumnya, yaitu pada kisaran -3,01% s,d 0,11% (yoy). Sehingga pertumbuhan PDB industri pengolahan pada tahun 2020 diproyeksikan sebesar -2,90% s.d -2,11% (yoy).
Hal ini juga didukung oleh hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha oleh Bank Indonesia yang menunjukkan adanya ekspektasi peningkatan kegiatan industri pengolahan pada triwulan IV 2020, namun masih dalam posisi kontraksi sebesar 1,36 SBT.
Selanjutnya, dengan telah diundangkannya Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja yang disertai target penyelesaian peraturan turunannya pada Januari 2021, diharapkan dapat menjadi pendorong pertumbuhan sektor Industri Pengolahan pada tahun 2021. Beberapa pengaturan dalam UU 11 tahun 2020 yang dapat mendorong kinerja sektor industri pengolahan adalah penyederhanaan perizinan berbasis risiko, serta pemberian kemudahan, pemberdayaan dan perlindungan UMKM. Pengaturan mengenai pemberdayaan UMKM berupa penyediaan basis data tunggal UMKM, pengelolaan terpadu UMKM, kemudahan perizinan berusaha UMKM, kemitraan, serta kemudahan fasilitasi pembiayaan dan insentif fiskal bagi UMKM.
Selain itu, diharapkan imunisasi COVID-19 dapat terlaksana sesuai target yakni dilakukan secara bertahap dimulai pada triwulan I 2021. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat
untuk melakukan aktivitas ekonomi dan meningkatkan sentimen pasar. Oleh karena itu, pertumbuhan PDB industri pengolahan pada tahun 2021 diproyeksikan sebesar 2,49% s.d 3,10% (yoy).
Di samping itu, pemerintah telah menargetkan beberapa program pembangunan pada sektor industri pengolahan yaitu penambahan 3 Kawasan Industri (KI) Prioritas di luar Jawa yang beroperasi pada 2020 dan 2 KI pada 2021. Selain itu, pemerintah juga menargetkan adanya penambahan KI yang dikembangkan sebesar 3 KI pada 2020 dan 4 KI pada 2021, dari 15 KI yang telah difasilitasi pemenuhan infrastrukturnya pada tahun 2019. Pemerintah juga menargetkan penambahan 2 KI tematik pada 2020 dan 2021.
Namun demikian, bagi kabupaten/kota yang tidak memungkinkan dibangun kawasan industri karena tidak layak secara teknis dan ekonomis, maka pembangunan industri dilakukan melalui pengembangan Sentra IKM. Pemerintah telah menargetkan jumlah sentra IKM di luar Jawa yang beroperasi pada 2020 yaitu sebesar 3 sentra, dan pada 2021 yaitu sebesar 5 sentra.
Selanjutnya untuk meningkatkan kemampuan industri dalam negeri, pemerintah menargetkan penerapan SNI di bidang Industri sebesar 5% pada 2020 dan 7% pada 2021. Selain itu, pemerintah masih melanjutkan program Industri 4,0 pada lima sub sektor prioritas yaitu Makanan dan Minuman, Tekstil dan Pakaian Jadi, Otomotif, Elektronik, serta Kimia dan Farmasi. Oleh karenanya pada tahun 2021, Pemerintah menargetkan sebanyak 195 perusahaan akan didampingi untuk proses modernisasi industri hingga 4,0. Kemudian untuk mengurangi mismatch tenaga kerja, pemerintah menargetkan implementasi Industri 4,0 pada pendidikan vokasi dengan 34 pilot project di 2020 dan 44 pilot project pada 2021.
84 |
OUTLOOK PEREKONOMIAN INDONESIA 2021Kemudian mendukung kelancaran arus impor bahan baku dan ekspor hasil industri, pemerintah tengah menyusun peraturan tentang Reputable Trader dan mengembangkan National Logistic Ecosystem. Selain itu, pemerintah juga
menargetkan Peningkatan Investasi (inbound & outbound) Industri GPN berbasis Hilirisasi SDA, Pada industri Teknologi Tinggi Jumlah investasi asing yang masuk di sektor industri tersebut diharapkan sebanyak lima investor/perusahaan pada 2021.