Oleh: dr Frengky Susanto
Oleh :
dr. frengky susanto
Bab VIII
ILMU PENYAKIT THT
Telinga
Otitis eksterna difusa
Radang pada 2/3 bagian dalam meatus acusticus eksternus, tampak hiperemis, oedem, dan tidak jelas batasannya serta tidak ada furunkel.
Penyebab yang tersering: Pseudomonas, Stapilococcus albus, E. coli.
Gejala klinisnya; gatal, nyeri, kadang ada sekret yang membau.
Penatalaksanaan:
- Pembersihan sekret
- Antibotik topikal: seperti Otopain R 3x 4tts, Ofloksasin (Tarivid R) 2x 6tts.
- Antibiotik sistemik (k/p), seperti
Amoksilin (Dexymox R)3x1 tab atau + As. Klavulamat (Claneksin R, AusphilicR) 3x 1tab. Atau
Klindamisin (Clinjos R) 3x 1tab, atau
Roksitromisin (Simacron R) 2x1 tab
- Anti inflamasi: Loratadin (Sohotin
R)1x1 tab.
- Analgetik (K/p) As. Mefenamat (Cetalmic R) 3x 500mg
Ctt. Komposisi otopain R: Polimiksin B sulfat, Neomisin sulfat, Fludrokortison asetat, air, Propilon glikol, Gliserin.
Otitis eksterna sirkumskripta (furunkel= bisul) Radang pada 1/3 bagian luar meatus acusticus eksternus yang mengandung adneksa kulit seperti folikel rambut, kelenjar sebasea, kelenjar serumen, maka ditempat itu terjadi nifeksi kelenjar pilosebaseadan terbentuk furunkel.
Kuman penyebab yang sering, stapilococcus aureus, stapilococcus albus.
Gejala klinis;
☺ Rasa sakit yang hebat, tidak sesuai dengan besarnya bisul.
☺ Timbulnya nyeri saat penekanan didaerah perikondrium, dan saat membuka mulut.
☺ Gangguan pendengaran jika furunkel besar dan menyumbat liang telinga.
Penatalaksanaan:
Antibotik topikal: seperti Otopain R 3x 4tts, Ofloksasin (Tarivid R) 2x 6tts.
Antibiotik sistemik (k/p), seperti
-Amoksilin (Dexymox R)3x1 tab atau + As.
Klavulamat (Claneksin R, AusphilicR) 3x 1tab.
Atau
-Klindamisin (Clinjos R) 3x 1tab, atau
-Roksitromisin (Simacron R) 2x1 tab
Anti inflamasi : Loratadin (Sohotin R)1x1 tab.
Analgetik (K/p) : As. Mefenamat (Cetalmic R) 3x 500m
Otomikosis
Yang tersering karena Aspergilus dan Kandida albikan
Gejala klinis :Rasa gatal, rasa penuh, kadang tanpa keluhan.
Pembersihan liang telinga
Anti jamur :Klotrimazol (Canesten salep telinga R),
dioleskan dengan mengunakan cotton bud. Ruptur membran timpani
Robeknya membran timpani akibat korek telinga, trauma, barotrauma. Ciri khasnya tepi robekan tidak rata, bentuk bintang,bulan sabit.
Penatalaksanaan:
Bersihkan telinga, pasang tampon steril
Antibiotik sistemik
Amoksisilin (Deximox R) 3x 500mg atau + As.
Clavulanat(Claneksin R) 3x1 tab. atau
Roksitromisin (Simacron R) 2x 150mg
Otitis media akuta (OMA)
Kuman penyebab yang sering: Streprococcus Hemoliticus, Stapilococcus, Pneumococcus, H. Influenza (biasanya pada anak < 5th).
Stadium:
☺ Oklusi tuba
Adanya gambaran retraksi membran timpani akibat tekanan negatif didalam telinga tengah, akibat adanya absorbsi udara.
☺ Hiperemis (presupurasi)
Tampak pembuluh darah yang melebar dimemebran timpani atau seluruh membran timpani tampak hiperemis serta oedem, sekret yang terbentuk mungkin masih eksudat.
☺ Supurasi
Oedem hebat pada mukosa telinga tengah dan hancurnya sel epitel superficialis serta terbentuknya exudat purulen,menyebabkan membran timpani bulging. Pasienn tampak kesakitan, nadi dan suhu meningkat, rasa nyeri diteling bertambah berat.
☺ Perforasi
Pus keluar mengalir dari telinga tengah keliang teling luar. Anak yang tadinya gelisah menjadi tenang, suhu badan turun dan anak dapat tertidur nyenyak. ☺ Resolusi
Sekret akan berkurang dan akhirnya kering, bila daya tahan tubuh baik dan virulensi kuman rendah maka resolusi dapat terjadi walaupun tanpa pengobatan.
OMA menjadi OMSK (otitis media supuratif kronis) bila perforasi menetap dengan sekret yang keluar terus –menerus atau hilang timbul.
Penatalaksanaan:
Decongestan: Rhinofed 3x1 tab Antibiotik sistemik:
Amoksisilin (Dexymox R) + As. Clavulamat (Claneksin R) 3x 1tab, atau
Eritromisin (Erysanbe R) 3x 250mg, atau
Spiramisin (Rovadi R) 3x1tab, atau
Sefadroxil (Cefat R) 2x 500mg.
Anti alergi: Feksotenadin Hcl (telfast R) 1x1 tab (jika memiliki riwayat alergi).
Pneumo massage
Stadium presupuratif
Decongestan : Rhinofed 3x1 tab Antibiotik :
Amoksisilin (Dexymox R) + As. Clavulamat (Claneksin R) 3x 1tab, atau
Eritromisin (Erysanbe R) 3x 250mg, atau
Spiramisin (Rovadin R) 3x1tab, atau
Sefadroxil (Cefat R) 2x 500mg.
Analgetik :
As. Mefenamat (Nichoatan R) 3x 500mg
Anti inflamasi :
Loratadin (Sohotin R) 1x1tab
Anti piretik :
Ibuprofen (Proris R ) 3x 200mg
Stadium supuratif:
Terapi sama dengan stadium presupuratif. Pada fase ini sebaiknya dirujuk ke RS/ Sp.THT untuk dilakukan miringotomi.
Stadium perforasi
Obat cuci telinga H2O2 3% , selama 5hari Antibiotik:
Sistemik:
Amoksisilin (Dexymox R) + As. Clavulamat (Claneksin R) 3x 1tab, atau
Eritromisin (Erysanbe R) 3x 250mg, atau
Spiramisin (Rovadin R) 3x1tab, atau
Sefadroxil (Cefat R) 2x 500mg.
Lokal:
Ofloksasin (Tarivid otic drop R) 2x 6tts
Ctt. Biasanya sekret akan hlang dalam waktu 7- 14 hari. Dan perforasi akan menutup kembali.
Otitis media supuratif kronis (OMSK) Dikatakan kronis jika proses berlangsung > 2 bulan. Diklasifikasikan menjadi 2 type,
☺ Benigna:
Proses peradangan hanya tebatas pada mukosa saja dan biasanya tidak mengenai tulang, perforasi
terletak sentral, type ini jarang menimbulkan komplikasi yang berbahaya.
☺ Maligna:
OMSK yang disertai dengan kolesteatom (kista epitel yang berisi deskuamasi epitel/keratin), biasanya perforasi didaerah marginal atau atik.
Penatalaksanaan:
OMSK sering memerlukan terapi yang lama dan harusberulang karena:
1. Adanya perforasi membran timpani yang permanen
2. terdapat sumber infeksi difaring, nasofaring, hidung dan sinus paranasal
3. Sudah terbentuk jaringan patologis yang ireversibel dalam rongga mastoid.
4. Gizi dan higine rendah Terapi:
Obat cuci telinga: H2 O2 3% selama 5 hari Antibiotik:
Antibiotik tetes telinga :
Kloramfenicol (Colme ptic drop R) 3x 2tts, Ofloksasin (Tarivid otic dropR)2x
6tts
Antibiotik sistemik :
Amoksisilin (Dexymox R) + As.
Clavulamat (Claneksin R) 3x
1tab, atau
Eritromisin (Erysanbe R) 3x 250mg,
atau
Spiramisin (Rovadin R) 3x1tab, atau
Sefadroxil (Cefat R) 2x 500mg.
Ctt. Bila sekret telah kering, diobservasi 2 bulan, maka idealnya dilakukan mirinngoplasti atau timpanoplsti dengan tujuan: menghentikan infeksi secara permanen, memperbaiki membran timpani yang Perforasi, mencegah komplikasi atau kesulitan pendengaran yang lebih berat.
Otitis media efusi
Terbagi menjadi otitis media serosa (OMS) yaitu jika terdapat sekret nonpurulen ditelinga tengah sedangkan membran timpani utuh, sedangkan jika sekretnya kental disebut otitis media mucoid(OMM).
OMS terjadi akibat adanya transudat/ plasma yang mengalir dari pembuluh arah keteling tengah yang sebagian besar terjadi akibat adanya perbedaan tekanan hidrostatik. Sedangkan pada otitis media mucoid terjadi akibat darikelenjar dan kista yang
terdapat dimukosa telinga tengah, tuba eustachii, dan rongga mastoid.
Penatalaksanaan:
Decongestan:
Pseudoefedrin (Rhinofed R) 3x1 tab
Antihistamin:
Loratadin (Sohotin R) 1x1 tab
Antibiotik sistemik:
Amoksisilin (Dexymox R) + As.
Clavulamat (Claneksin R) 3x 1tab,
atau
Eritromisin (Erysanbe R) 3x 250mg, atau
Spiramisin (Rovadin R) 3x1tab, atau
Sefadroxil (Cefat R) 2x 500mg.
Mukolitik:
Bromhexin (Mucosovan R) 3x 1tab
Perasat Valsava, dilakukan jika tidak ada tanda infeksi saluran nafas atas.
Hidung
Rhinitis alergika Gejala klinis:
serangan bersin yang berulang (>5x/serangan) terutama pagi hari atau bila kontak dengan debu.
Rinore, sekret encer dan banyak Hidung tersumbat
Hidung dan mata gatal kadang disertai banyak air mata yang keluar.
Pemeriksaan:
▣ Anamnesa:
Apakah alergi terhadap makanan tertentu?
Apakah ada riwayat alergi pada penderita dan keluarga? Apakah ada alergi pada organ tubuh lain?
▣ Pemeriksaan fisik:
Pada pemeriksaan rhinoskopi anterior tampak mukosa oedem, basah, berwarna pucat atau livid disertai adanya banyak sekret yang encer.
▣ Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan eosinofil pada sekret hidung dan darah Tes kulit (Prick tes)
Penatalaksanaan:
Anti histamin generasi I, seperti : CTM 3x 1tab
Deksklorfeniramin maleat (Polarist R) 3x1tab
Feksofenadin Hcl (Telfast R)1x1tab
metil prednisolon (Lameson R) 3x1tab
Analgetik, seperti:
Tinoridina (Non flamin R) 3x 1tab
Roborantia, seperti:
Alinamin F R 1x1tab
Ctt. Alinamin F berisi Tiamin Tetrahhidroxil furil disulfida dan vit. B2
Rhinitis vasomotor
Gangguan motorik hidung, tedapatnya gangguan fisiologis lapisan mukosa hidung yang disebabkan oleh betambanhnya aktifitas parasimpatis.
Faktor – faktor yang mempengaruhi keseimbangan vasomotor: 1. Obat yang menekan saraf simpatis, seperti Ergotamin, Chlorpromazin, obat anti hipertensi dan vasokonstriktor topikal
2. Faktor fisik, seperti iritasi oleh asap rokok, udara dingin, kelembaban udara yang tinggi dan bau yang merangsang. 3. Faktor endokrin, seperti keadaan kehamilan, pubertas,
pemakaian pil anti hamil, dan hipotiroidisme 4. Faktor psikis, seperti rasa cemas, tegang. Klinis:
Hidung tersumbat, bergantian kanan dan kiri, tergantung posisi pasien. Rinore mucous atau serous (lebih sering serous), tidak disertai bersin dan tidak ada rasa gatal dimata.
Gejala memburuk pada pagi hari waktu bangun tidur karena adanya perubahan suhu yang ekstrim, udara lembab,juga karena asap rokok.
Pemeriksaan:
Pada pemeriksaan rhinoskokpis anterior didapatkan: oedemmukosa hidung, konka warna merah gelap, atau merah tua, kadang pucat.Permukaan konka dapat licin atau berbenjol (tidak rata). Pada rongga hidung sekret mucoid sedikit, sekret serous banyak jumlahnya.
Pemeriksaan laboratorium:
eosinofil pada sekret hidung dan darah, Prick tes(-). Pemeriksaan ini hanya untuk menyingkirkan rhinitis alergi. Penatalaksanaan:
Terapi kausatif tidak ada
Penyuluhan dan peningkatan kondisi badan, olahraga pagi
Anti histamin generasi I: CTM 3x 1tab
Deksklorfeniramin maleat (Polarist R) 3x1tab
Feksofenadin Hcl (Telfast R)1x1tab
Decongestan sistemik;
Pseudoefedrin (Rhinofed R) 3x1 tab
Kateterisasi konka/ konkotomi Sinusitis maksilaris
Gejala Subjektif
▣ Sistemik :Demam dan rasa lesu
▣ Lokal :Keluarnya ingus kental dan berbau dan dirasakan mengalir ke nasopharing, hidung terasa tersumbat, Rasa nyeri pada sinus yang terkena, kadang ada nyeri alih dibawah kelopak mata, dan kadang kealveolus, atau kadang nyeri digigi.
Gejala Objektif
▣ Pemeriksaan sinus , tampak bengkak dipipi dan dikelopak mata bawah.
▣ Rhinoskopi anterior: mukosa konka hiperemi dan oedem, tampak mucopus/ nanah di meatus media.
▣ Pemeriksaan transiluminasi:sinus yang sakit akan menjadi suram/ gelap.
▣ Pemeriksaan foto thorak: water, PA, lateral. Akan tampak perselubungan atau air fluid level pada sinus yang sakit.
Penatalaksanaan: ▣ Antibiotik
Ampicillin (Opicillin R) 3x 500mg, atau
Amoksisilin (Dexymox R) + As. Clavulamat (Claneksin R) 3x 1tab, atau
Eritromisin (Erysanbe R) 3x 250mg, atau
Spiramisin (Rovadin R) 3x1tab, atau
Sefadroxil (Cefat R) 2x 500mg.
▣ Decongestan sistemik, pseudoefedrin
(Rhinofed R) 3x1 tab, jika perlu tambahkan
decongestan lokal
▣ Anti histamin generasi I CTM 3x 1tab
Deksklorfeniramin maleat (Polarist R) 3x1tab
Feksofenadin Hcl (Telfast R)1x1tab
▣ Analgetik:
Tinoridina (Non flamin R) 3x 1tab, atau
As. Mefenamat (Nichostan R) 3x 1tab atau k/p
▣ Irigasi sinus (bila perlu) ▣ Operasi Caldwell luc
Ctt. Untuk penderiat sinusitis kronis sebaiknya dirujuk ke Sp.THT untuk dilakukan tindakan.
Faring
Tonsilitis akut
Insidensi terbesar terjadi pada usia 5-6 tahun, tetapi bisa juga terjadi pada dewasa.
Sebagian besar merupakan infeksi primer yaitu infeksi yang timbul dari tonsil atau sebagian infeksi sekunder dari infeksi traktus respiratorius. Pada kasus yang kedua, infeksi pertama kali didahului oleh virusyang akan memudeahkan invasi oleh bakteri Streptococcus, Staphilococcus, dan Pneumococcus.
Gejala klinis:
Yang pertama kali dikeluhakan tenggorokan terasa kering, malaise, agak panas, dan rasa haus.
Pada kasus yang disebabkan oleh Stertococcus Haemoliticus terdapat tanda- tanda spesifik, seperti: Rasa penuh pada tenggorakan, dysfagia berat, rasa sakit yang menjalat ketelinga, anoreksia (karena dysfagi), suara menjadi berat, terasa sakit dileher, leher terasa kaku oleh karena pembengkakanlymfonodi reggional, headache, rasa sakit ditengkuk, anggota badan rasa menggil oleh karena febris dan inflamasi dapat meluas ke tuba eustachii dan telinga tengah. Pada pemeriksaan didapatkan:
Lidah kotor dan kering Nafas berbau
Tonsil bengkak dan merah dengan bintik-bintik eksudatpurulen pada kripte
Akululasi lendir yang kental karena pasien tidak mau menelan
Pembesaran kelymfojugulo digastrik Temperatur naik
Gejal akut 5-7hari Penatalaksanaan
Pasien istirahat ditempat tidur Minum banyak
Temperatur dan nadi dikontroltiap 8 jam Antibiotik sistemik:
Ampicillin (Opicillin R) 3x 500mg, atau
Amoksisilin (Dexymox R) + As. Clavulamat (Claneksin R) 3x 1tab, atau
Eritromisin (Erysanbe R) 3x 250mg, atau
Spiramisin (Rovadin R) 3x1tab, atau
Sefadroxil (Cefat R) 2x 500mg.
Analgetik:
Tinoridina (Non flamin R) 3x 1tab, atau
As. Mefenamat (Nichostan R) 3x 1tab atau k/p
Antipiretik: Paracetamol 3x 500mg Tonsilitis kronis
Faktor predisposisi:
Pernah terkena tonsilitis akut dan diobati kurang adekuat, Misalnya :
Pasien makan obat tidak teratur
Makan obat yang seharusnya 10 hari hanya 4 hari. Daya tahan menurun
Herediter
Bentuk- bentuk tonsilitis kronis nonspesifik: Folikularis (lakunaris)
Bila ada debris pada kripte Hipertrofikans
Bila tonsil cukup besar sehingga menggangu pernafasan dan menelan. Tidur ngorok.
Fibrotik
Bila tonsil kecil dan fibrotik Penatalaksanaan:
Antibiotik sistemik: (sama dengan tonsilitis akut) Obat kumur untuk membersihkan kripte
Pengobatan paliatif dengan mengambil masa keju yang berasal dari kripte
Tonsilektomi. Indikasi tonsilektomi:
Tonsilitis akut yang kambuh >3x/th Infeksi kronis pada tonsil
Pembesaran kelenjar di leher bersamaan dengan sorethroat atau tonsilitis akut
Quinsy yang sering kambuh
OM bersama dengan sorethroat atau tonsilitis akut
Infeksi kronis beta streptococcus hemoliticus atau difteri
Adanya efek sekunder pada organ Adenitis servikalis TBC
Adanya gangguan menelan dan pernafasan.
Faringitis akut
Sebagian besar kasus- kasus ini disebabkan oleh virus seperti Influenza, Parainfluenza, Enterovirus, Rhinovirus dan Adenovirus, sisanya disebabkan oleh Streptococcus haemoliticus, Streptococus pneumonia, dan oleh Haemophilus influenza.
Gejala klinis:
◭ Sore throat ringan selama
beberapa hari
◭ Sedikit malaise
◭ Derajat dari pyreksia
Pada kasus yang berat dapat dijumpai:
◭ Sore throat yang lebih berat dengan toxemia
◭ Febris
◭ Kesulitan menelan ludah Pemeriksaan fisik:
Pada kasus ringan faring terlihat injeksi atau kemerahan pada arcus pharing.
Pada kasus yang lebih berat dapat dijumpai mukosa oedem, dan sering pula mengenai palatum dan uvula. Pada tonsil juga dapat ditemukan injeksi dan adanya eksudat pada permukaannya.
Pada kasus yang berat dapat pula ditemukan kesulitan pemeriksaan oleh karena adanya trismus, nafas berbau dan mulut penuh dengan saliva.
Penatalaksanaan:
Untuk kasus – kasus yang ditemukan eksudat , maka harus disingkirkan difteri dan angina vincent, Pemeriksaan kultur swab tenggorokan seyogyanya dikerjakan untuk menentukan diagnosa. Tetapi mengobatan harus segera diberikan berdasarkan klinis.
Antibiotik sistemik: Ampicillin (Opicillin R) 3x 500mg, atau
Amoksisilin (Dexymox R) + As. Clavulamat
(Claneksin R) 3x 1tab, atau
Eritromisin (Erysanbe R) 3x 250mg, atau
Spiramisin (Rovadin R) 3x1tab, atau
Sefadroxil (Cefat R) 2x 500mg. Kortikosteroid : Dexametazon (Kalmetazon R) 3x 0,5mg Antipiretik (K/P): Paracetamol 3x 500mg Faringitis kronis
Faringitis kronis bisa disebabkan oleh infeksi primer pada jaringan faring, tetapi lebih sering akibat adanya penyakit pada bagian lain dari traktus respiratorius atas (rhinitis, sinusitis, caries dentis, pernafasan mulut, produksi suara yang salah, gigi protusive) atau sistem lain.
Gejala klinis yang sering didapatkan:
Ras
a tidak enak dan kekeringan pada tenggorokan, terutama pada pagi hari
Kad
ang- kadang terasa ada benda asing ditenggorokan
Ada
perasaan rangsangan
Ada
batuk spasmodic.
Kadang- kadang pasien mengeluih kehilangna suara kalau bicara banyak.
Pemeriksaan fisik:
Kongesti pada faring dan pelebaran pembuluh darah pada dinding faring posterior, arkus faring sering terlihat menebal terdapat kenaikan sekresi lendir dan dinding faring tertutup oleh cairan berbuih.
Faringitis kronis hipertrofikans:
Terdapat hipertropi mukosa faring, sering kali terjadi sesudah tonsil dan adenoid diambil. Awalnya sekresi lendir berlebihan, tetapi kemudian limfonodi tertutup oleh limfonodi yang hipertrofi dan kemudian akan terjadi sekresi yang lengket pada dinding faring.
Pada faring terlihat injeksi, serta tampak granulasi. Pada palatum juga terlihat injeksi.
Penatalaksanaannya: Banyak Istirahat
Tidak terlalu banyak melakukan gerakan menelan dan juga gerakan membersihkan tenggorokan, serta menekan batuk.
Pemberian antiseptik kumur(Betadine gargle
mouthwash R)
Pada pasien yang hipertropi menonjol, dapat dilakukan kateterisasi.
Pada kasus faringitis sekunder mencari sebab primernya.
Memperbaiki kebiasan –kebiasaan yang jelek, seperti tidur membuka mulut, menggunakan suara yang berlebihan.
Laring
Laringitis akut non spesifik Biasanya bersifat self limited
Manifestasi dari infeksi saluran nafas atas Biasanya bersamaan dengan Rhinitis akut Penyebabnya hampir selalu virus, mungkin
infeksi sekunder oleh bakteri.
Terjadinya infeksi bisa oleh karena: Perubahan temperatur mendadak
Malnutrisi
Menurunnya daya tahan
Klinis:
Suara serak
Rasa kering ditenggorokan, rasa kasar, perubahan suara
Batuk- batuk
Bila oedem pada plika vokalis terjadi afoni Temperature subfebril
Mukosa laring inflamasi dan oedematus Berlangsung kurang lebih 4-5 hari
Pemeriksaan laringoskop indirek:
Didapatkan laring hiperemi dan oedem diatas ataupun dibawah plika vokalis.
Penatalaksanaan: ☺ Istirahat bicara 2-3 hari ☺ Antibiotik sistemik:
Ampicillin (Opicillin R) 3x 500mg, atau
Amoksisilin (Dexymox R) + As. Clavulamat (Claneksin R) 3x 1tab, atau
Eritromisin (Erysanbe R) 3x 250mg, atau
Spiramisin (Rovadin R) 3x1tab, atau
Sefadroxil (Cefat R) 2x 500mg.
☺ Kortikosteroid:
Dexametazon (Kalmetazon R) 3x 0,5mg
☺ Antitusif, antipiretik, antihistamin
Anadex R 3x1 tab
Ctt. Formula anadex :dextrometrofan, paracetamol, klorfenilamin maleat, fenil profanolamin.
Laringitis kronis simplek
Etiologi yang sebenarnya belum diketahui, diduga iritasi persistent dari asap rokok, pabrik; bronkhietasis, sinusitis, vokal abuse (kesalahanpemakaian pita suara), mouth breathing persistent.
Klinis:
Hoarsness pada pagi hari
Suara kasar, nada rendah,
suara mudah pecah
Mudah terjadi kelelahan vokalis, diskomfort pada laring, dehem- dehem
Mukosa laring difusse
merah
Plika vokalis merah muda – merah
Tepi plika terlihat bulat, bila pasien fonasi vibrasi asinkron
Mukous kental
Terlihat plika hipertrofi ireguler
Penatalaksanaan:
Dicari faktor yang
mengiritasi laring, termasuk: rokok, alkhol, infeksi paru, sinusitis.
Vokal rest
Humidifikasi
Ekspektoran:
Minum banyak
Bila ada kecurigaan
adanya keganasan atau spesifik bronkitis(Tb) sebaiknya dibiopsi.
Corpus alienum di traktus thrakeobronkhial Masuknya benda asing pada trakeobronchial tree akan menyebabkan batuk spasmodik yang berat kadang sianosis.
Batuk kira- kira 30 menit kemudian akan mereda masuk dalam periode laten dan korpus alienum berpindah ketempat lain( bronkhus kanan).
Pada auskultasi akan terdengar respirator whesse, udara dapat masuk tapi tidak dapat keluar, hal ini menyebabkan emfisema. Selain itu juga didapatkan suara nafas vesikuler melemah.
Jika terjadi obstruksi total dibronkus akan menjadi atelektase, dalam 30 menit akan terjadi sianosis dan kegagalan kardiorespirasi walaupun korpus alienum sudah diambil.
Tanda korpus alienum pada laring:
Serak
Suara krok- krok
Odinofagi
Hemoptisis, dispneu, apneu, sianosis, terasa ada benda asing
Croupyness, biasanya oleh karena pembengkakan subglotis
Dapat cepat mengakibatkan kematian Tanda benda asing ditrakhea:
Pada palpasi getaran dapat diraba.
Pada auskultasi, terdengar suara klep, stridor inspirasi dan ekspirasi
Tanda benda asing dibronkhus:
▣ Tanda awal terdapat batuk- batuk , rasa seperti tercekik, asmatoid whesee, kemudian tengan tanpa gejala.
▣ Rasa seperti ada logam atau bau yang spesifik dari korpus alienum.
▣ Membedakan korpus alienum dibronkhus kanan/kiri?
Pada bronkus yang terdapat korpua lienum didapatkan: ◭ Inspeksi :gerakan tertinggal ◭ Palpasi :gerakan kurang
◭ Perkusi
Emfisema :hipersonor Atelektase :redup
◭ Auskultasi :vesikuler diperlemah
◭ Rontgen foto : emfisema/
Ctt. Membedakan dengan korpus aliennum dioesophagus, pada oesophagus tidak didapatkan tanda - tanda obstruksi jalan nafas, kecuali bendanya besar sehingga mendesak lumen trakhea.
Penatalaksanaan:
Pertolongan pertama bila benda asing dalam saluran nafas, penderita didudukan dikursi, kepala disuruh menunduk, kemudian tepuklah tengkuknya keras- keras. Pada anak/ bayi dapat diangkat pada kakinya dan dijungkirkan , kemudian tepuk punggungnya keras- keras, benda yang menyumbat biasanya terlempar keluar. BILA BELUM BERHASIL
Untuk anak lebih dari 2 tahun :
Pelu
klah korban dari belakang dan lingkarkan tangan anda keperut tepat dibawah tulang iga
Ben
gkokan punggung korban kedepan dengan posisi kepala agak menggantung
Kep
alkan salah satu tangan andatepat dibawahujung-ujung tulang dada korban, kemudian telapak tangan anda yang satu lagi diatas kepalan tadi
Teka
n dan dorong perut korban kuat dan menyentak dengan arah menyerong 45 derajat keatas, kearah letak jantung.
Jang
an menekan tulang iganya
Jan
gan menekan dengan tulang anda, tetapi gunakan kepalan tangan dengan sentakan yang cepat dan kuat.
Untuk anak kecil dan bayi:
☺ Terlentangkan korban dan letakan pangkal telapak tangan anda ditentang sekat rongga badan.
☺ Tekan secara kuat dan tajam kearah jantung,dengan sudut 45 derajat kearah rongga dada.
Ctt. Jika wajah korban mulai membiru, segera berikan pernafasan buatan mulut kemulut, atau berikan oksigen.
Jika belum tertolong lakukan trakheostomy darurat dan rujuk ke RS untuk dilakukan laringoscopy atau broncoscopy.
o Korpus alienum pada inferior musculus krikopharingeus meneybabkan distensi dan rasa sakit pada artea supra sternal ketika menelan
o Korpus alienum yang tajam dapat menyebabkan laserasi, perforasi pada pharing dan oesophagus.
o Korpus alienum yang besar akan menekan trakea dan dapat menyebabkan sesak nafas.
o Bila benda asingnya koin, biasanya tidak ada gangguan menelan karena koin dalam posisi vertikal.
o Untuk menentukan posisi korpus alienum, dilakukan rontgen.
Penatalaksanaan: