BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.4. Mengembangkan Sistem Pengelolaan Fasilitas Pembiayaan
peningkatan produktifitas usaha para pedagang di pasar rakyat tercantum dalam Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 70 Tahun 2013 Pasal 18 ayat:
a. Pengelolaan Pasar Tradisional dapat dilakukan oleh Koperasi, Swasta, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).
b. Menteri, Gubernur, dan Bupati/Walikota baik sendiri maupun secara bersama-sama melakukan pemberdayaan terhadap pengelolaan Pasar Tradisional dalam rangka peningkatan daya saing.
c. Peningkatan daya saing sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan dalam bentuk:
1) peremajaan atau revitalisasi bangunan Pasar Tradisional;
2) penerapan manajemen pengelolaan yang profesional;
3) penyediaan barang dagangan dengan mutu yang baik dan harga yang bersaing; dan/ atau
4) fasilitasi proses pembiayaan kepada para pedagang pasar guna modal kerja dan kredit kepemilikan tempat usaha.
Merujuk pada ketentuan tersebut, kebijakan dukungan fasilitasi pembiayaan bagi para pedagang pasar menjadi bagian tidak terpisahkan dari upaya pengembangan dan peningkatan daya saing pasar rakyat.
Kajian BPPKP Kementerian Perdagangan (2012), menunjukan sejumlah aspek menarik terkait perihal kemauan dan kemampuan pedagang pasar untuk mengakses peminjaman dana dari sejumlah sumber pembiayaan:
Puska Dagri, BP2KP, Kemendag 67
a. Sumber atau lokasi peminjaman dana. Salah satu indikator apakah usaha dagang mengalami pertumbuhan adalah penambahan modal yang umumnya diiringi dengan peminjaman bantuan dana. Hasil kajian menunjukan bahwa sebelum dilakukan revitalisasi, tidak sampai 50% pedagang di lokasi kajian yang pernah meminjam dana.
Sementara paska revitalisasi, semakin banyak pedagang yang berani melakukan pinjaman ke bank, lembaga-lembaga keuangan lainnya dan koperasi pasar. Meskipun demikian, presentase pedagang yang melakukan pinjaman ke perseorangan (rentenir atau bank keliling) dan kerabat cenderung menurun, tetapi angkanya cukup signifikan untuk diperhatikan.
b. Alasan peminjaman dana. Alasan peminjaman pun beragam, mayoritas pedagang melakukan pinjaman dana untuk menambah modal dagang/usaha. Meskipun, ada sebagian kecil pedagang yang meminjam dana untuk kebutuhan biaya pendidikan anak dan penanggulangan kebutuhan darurat karena adanya musibah.
c. Jaminan peminjaman dana. Dalam rangka mendapatkan dana pinjaman tersebut, mayoritas (sepertiga) pedagang mengagunkan surat bukti pemilikan kendaraan bermotor (BPKB) yang dimiliki.
Selanjutnya materi lain yang biasanya dijadikan agunan peminjaman adalah sertifikat kepemilikan tanah dan surat kepemilikan atau penyewaan kios di pasar.
Berdasarkan temuan di atas, terdapat sejumlah aspek yang harus diperhatikan dalam rangka mendorong pedagang pasar untuk meningkatkan modal usahanya:
a. Kondisi positif menunjukan bahwa semakin banyak pedagang yang melakukan peminjaman ke bank, koperasi pedagang pasar dan lembaga-lembaga keuangan lainnya. Hal ini pertanda bahwa kesadaran pedagang untuk mengakses pembiayaan dari perbankan dan lembaga keuangan lainnya sudah semakin terlihat. Di sisi lain, perbankan juga melihat bahwa secara aspek kelayakan bisnis dan
Puska Dagri, BP2KP, Kemendag 68
ekonomi, para pedagang di pasar rakyat sudah memiliki nilai kelayakan yang cukup memenuhi syarat untuk diberikan bantun dana permodalan.
b. Kondisi negatif yang harus diperhatikan adalah kenyataan bahwa masih ada sebagian pedagang yang masih tetap mengakses peminjaman ke sumber pembiayaan perorangan, yang biasanya disebut sebagai ‘rentenir’ atau ‘bank keliling’. Tidak dapat dipungkiri, mengakses peminjaman dari sumber-sumber tidak resmi ini memiliki resiko tinggi, terutama resiko gagal bayar karena besaran bunga pengembalian yang jauh lebih tinggi dari nilai normal di perbankan.
Meskipun demikian, mekanisme peminjaman melalui praktek ‘rentenir’
ini memberikan kemudahan perihal prosedur pengajuan peminjaman ketimbang prosedur peminjaman di perbankan. Hal ini yang mungkin yang menjadi daya tarik bagi para pedagang untuk tetap meminjam di
‘rentenir’, terlebih bagi pedagang yang secara nilai kelayakan bisnis usahanya tidak memenuhi syarat untuk meminjam dana di perbankan.
c. Fakta lain yang harus diperhatikan adalah perihal materi yang diagunkan untuk kebutuhan pengajuan peminjaman. Kenyataan yang menunjukan bahwa hanya sekitar seperempat pedagang yang mengagunkan surat bukti kepemilikan atau perjanjian penyewaan kios, secara tidak langsung memunculkan persoalan bahwa belum semua kios yang dimiliki, atau terutama yang disewa oleh pedagang bisa memenuhi kelayakan hukum dan bisnis untuk digunakan sebagai agunan peminjaman.
Kondisi tersebut semakin menegaskan kebutuhan bahwa dalam rangka meningkatkan produktifitas dan omset pedagang pasar rakyat, maka sedari awal aspek kelayakan bisnis usaha mereka harus terpenuhi sehingga bisa digunakan sebagai syarat dan jaminan peminjaman modal usaha ke lembaga perbankan. Salah satu komponen utama dalam kelayakan bisnis adalah kejelasan terkait bukti kepemilikan dan atau penyewaan kios di setiap pasar. Karena itu, di awal pembangunan pasar harus dipastikan tidak ada konflik hukum terkait kepemilikan pasar yang
Puska Dagri, BP2KP, Kemendag 69
berdampak terhadap ketidakjelasan kepemilikan dan atau penyewaan kios kepada para pedagang.
Kejelasan pengelolaan pasar berdasarkan aspek hukum dan legalitas tersebut pada prakteknya akan menjadi sangat penting untuk memastikan kondisi pasar rakyat yang bebas “sengketa” sehingga dikemudian hari menjadi aset yang dapat dijaminkan sebagai syarat kerjasama dengan lembaga keuangan dalam kaitannya mengupayakan sumber alternatif permodalan bagi pedagang pasar. Hal tersebut dikarenakan hanya pasar yang sehat secara hukum dan sehat secara pengelolaan yang bisa menjadi penjamin bagi pedagang yang ingin melakukan peminjaman dengan mengagunkan surat tanda sewa kios pada pasar tersebut.
Puska Dagri, BP2KP, Kemendag 70
BAB V
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI KEBIJAKAN
5.1. Kesimpulan
a. Mengaitkan definisi revitalisasi berdasarkan regulasi dan kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah, terdapat beberapa hal yang dapat disimpulkan dalam hal ini sebagai gambaran besar fokus dan tujuan dari revitalisasi pasar rakyat itu sendiri, yaitu: Perlu adanya transformasi konsep pasar rakyat dimata masyarakat yang menimbulkan persepsi bahwasanya pasar rakyat sekarang adalah: pasar rakyat yang baik secara infrastruktur (Gozales dan Waley, 2012), cakap secara pengelolaan, bermutu dan higienis dalam penyajian bahan pangan lokal (Goldman dan Hino, 2005; Lagerkvist, Okello & Kalanja, 2015), serta mendukung pertumbuhan ekonomi lokal. Dalam prosesnya penting untuk tetap mempetimbangkan kaitannya dengan elemen sosial dan memperimbangkan kepentingan bukan hanya pengelola pasar dan pengunjung, melainkan juga pedagang pasar sebagai penggiat utama dari pasar rakyat itu sendiri.
b. Nama “Pasar Rakyat” sendiri dapat diartikan sebagai sebuah brand, yang dapat mewakili seluruh elemen yang bernaung di dalamnya. Mulai dari ketersediaan fasilitas, sistem pengelolaan pasar, kategori pedagang, komoditas yang diperjual belikan, dan hal-hal terkait lainnya. Dengan demikian maka brand “Pasar Rakyat” akan dengan sendirinya menjadi rujukan bagi konsumen yang ingin berbelanja ke pasar tradisional yang bersih, nyaman dan tepat ukur. Oleh karena itu harus dikembangkan sebuah identitas standar dimana pasar rakyat merupakan jaminan dari layanan pasar tradisional yang memiliki diferensiasi tersendiri dibandingkan dengan pasar modern.
c. Transformasi konsep dan identitas pasar rakyat. Idealnya arah pengembangan dan transformasi fisik pasar rakyat dapat
Puska Dagri, BP2KP, Kemendag 71
memenuhi ketentuan SNI 8152 Tahun 2015 tentang Pasar Rakyat.
Pemetaan awal menunjukan sejumlah catatan kritis terkait upaya implementasi SNI tersebut:
1) Tantangan pada implementasi indikator yang berkaitan dengan variabel kebersihan dan kesehatan pasar, terutama untuk pemenuhan poin (a) dimana pasar rakyat idealnya bebas dari lalat, kecoa, tikus dan nyamuk. Hal tersebut sulit dicapai karena kondisi Indonesia yang merupakan negara dengan iklim tropis dimana perkembangbiakan serangga (lalat, nyamuk, dan lainnya) dapat dengan mudah terjadi.
Indikator tersebut idelanya dapat terpenuhi jika dalam prakteknya bentuk bangunan pasar rakyat diasumsikan sama dengan bentuk bangunan pasar modern, yang tertutup dan dilengkapi dengan pendingin udara, sehingga kontaminasi serangga dapat diminimalisir.
2) Pada indikator aksesibilitas yang menyatakan bahwa seluruh fasilitas harus bisa diakses oleh penyandang cacat dan lansia bisa terpenuhi jika bangunan pasar rakyat hanya satu lantai dengan seluruh area lantai memiliki permukaan yang rata sehingga dapat diakses oleh penyandang cacat dan lansia yang menggunakan kursi roda, atau tersedia fasilitaslift atau akses kursi roda (yang aman)jika bangunan lebih dari satu lantai.
3) Terjadi kontradiktif aturan antara persyaratan umum dan persyaratan teknis dalam pembangunan pasar, khususnya yang meliputi indikator kebersihan dan kesehatan (pada persyaratan umum) dan indikator pencahayaan dan sirkulasi udara (pada persyaratan teknis). Sebagai jalan tengah dari kontradiksi kedua indikator ini, SNI pasar rakyat memberikan solusi dengan membolehkan adanya pencahayaan dan sirkulasi udara buatan.Jika solusi tersebut dipenuhi maka wujud dari pasar rakyat akan diterjemahkan sebagai pasar
Puska Dagri, BP2KP, Kemendag 72
rakyat tertutup, disertai dengan pendingin udara, dan penerangan lampu sehingga kebutuhan kesehatan, pencahayaan dan sirkulasi udara terpenuhi. Namun jika demikian, esensi pasar rakyat dalam mempertahankan kearifan lokal akan hilang sama sekali. Resikonya, pasar rakyat bukan hanya sekedar bertransformasi melainkan diubah menjadi pasar modern yang tidak ramah lingkungan dan hemat energi.
4) Persyaratan umum dan persyaratan teknis yang diatur oleh SNI pasar rakyat dalam hal ini adalah persyaratan yang sangat ideal untuk mewujudkan pengembangan sebuah pasar rakyat. Terlepas dari beberapa cacatan kritis yang harus diperhatikan dalam pelaksanaannya, pasar rakyat yang baik idealnya harus memenuhi ketentuan sebagaimana ditetapkan dalam SNI pasar rakyat tersebut. Dengan memenuhi ketentuan di atas, maka asumsinya transformasi konsep dan identitas pasar rakyat adalah berubahnya citra dan kesan pasar yang identik dengan kotor, becek, semrawut, bau, gersang, dan kumuh menjadi pasar yang bersih, nyaman, dan tepat ukur.
d. Penataan sistem pengelolaan manajemen pasar. SNI Pasar Rakyat juga mengatur tentang persyaratan pengelolaan pasar rakyat. Terkait dengan ketentuan tersebut, perlu adanya penekanan pada implementasi pengelolaan pasar, khususnya yang berkaitan dengan pemberdayaan pedagang dan pembangunan pasar. Pengelola pasar harus memberikan output berupa revitalisasi secara ekonomi di tingkat pedagang yang diarahkan untuk meningkatkan omzet pedagang. Pengelola pasar harus jeli dalam melakukan prioritas penempatan ruang dagang untuk pedagang apabila pasar mengalami revitalisasi atau relokasi.
Pengajuan revitalisasi pasar juga harus sudah mempertimbangkan aspek analisis bisnis, yang terkait apakah pasar memiliki potensi
Puska Dagri, BP2KP, Kemendag 73
yang cukup besar untuk dikembangkan dan tidak malah mematikan pedagang karena over capacity pedagang tidak disertasi dengan kepadatan pengunjung.
e. Mengembangkan sistem koordinasi dengan pusat distribusi.
Dalam arah pengembangan pasar rakyat penting untuk dapat menyertakan pengembangan sistem koordinasi dan integrasi dengan PDR setempat dalam upaya memberikan alternatif yang dapat dipilih oleh pedagang pasar dalam proses penyediaan kebutuhan barang dagangannya (selain dari pemasok yang biasa).
Dalam prakteknya pengelola pasar dapat membuat sistem informasi ketersediaan komoditas (per kategori), informasi distributor serta kisaran harga dari masing-masing PDR yang masih berada dalam wilayah jangkauan pasar rakyat tersebut. Sistem informasi tersebut disarankan untuk dipampang secara jelas dan terbuka, dan diperbaharui secara berkala.
f. Mengembangkan sistem pengelolaan fasilitas pembiayaan.
kebutuhan bahwa dalam rangka meningkatkan produktifitas dan omset pedagang pasar rakyat, maka sedari awal aspek kelayakan bisnis usaha mereka harus terpenuhi sehingga bisa digunakan sebagai syarat dan jaminan peminjaman modal usaha ke lembaga perbankan. Salah satu komponen utama dalam kelayakan bisnis adalah kejelasan terkait bukti kepemilikan dan atau penyewaan kios di setiap pasar. Karena itu, di awal pembangunan pasar harus dipastikan tidak ada konflik hukum terkait kepemilikan pasar yang berdampak terhadap ketidakjelasan kepemilikan dan atau penyewaan kios kepada para pedagang.
5.2. Rekomendasi
a. Revitalisasi fisik yang baik pada akhirnya akan berdampak pada revitalisasi ekonomi. Meskipun demikian, revitalisasi fisik juga berdampak pada meningkatnyajumlah pedagang baru sehingga menambah tingkat persaingan. Konsekuensi disisi pengelola pasar,
Puska Dagri, BP2KP, Kemendag 74
maka omzet pendapatan pasar sudah pasti akan meningkat seiring dengan perluasan pasar tersebut. Ke depannya, revitalisasi perlu mempertimbangkan dampak pertumbuhan ekonomi yang terjadi bukan hanya dari sisi pengelola pasar, melainkan juga dari sudut pandang pedagang.
b. Perlu adanya transformasi konsep pasar rakyat dimata masyarakat yang menimbulkan persepsi bahwasanya pasar rakyat sekarang adalah: pasar rakyat yang baik secara infrastruktur, cakap secara pengelolaan, bermutu dan higienis dalam penyajian bahan pangan lokal, serta mendukung pertumbuhan ekonomi lokal. Dalam prosesnya penting untuk tetap mempertimbangkan kaitannya dengan elemen sosial dan memperimbangkan kepentingan bukan hanya pengelola pasar dan pengunjung, melainkan juga pedagang pasar sebagai penggiat utama dari pasar rakyat itu sendiri.
c. Transformasi konsep pasar rakyat seharusnya bukan mengubah konsep pasar rakyat menjadi pasar modern. Pasar rakyat harus tetap memiliki fungsi dan perannya sebagai salah satu warisan budaya dan menjunjung kearifan lokal dimana transaksi antara pedagang dan pembeli bukan sebatas pertukaran barang atau transaksi finansial layaknya yang terjadi di pasar modern, melainkan sebagai perwujudan dari interaksi sosial masyarakat melalui transaksi jual beli dan tawar menawar antara penjual dan pembeli dalam kondisi yang dibuat lebih nyaman, bersih dan aman.
Dengan demikian maka konsep revitalisasi tetap menjaga konteks revitalisasi sosial dalam menciptakan lingkungan yang menarik (interesting), dan berdampak positif serta dapat meningkatkan dinamika dan kehidupan sosial masyarakat/ warga (public realms).
d. Identitas inilah yang nantinya akan disampaikan atas nama brand
“Pasar Rakyat”. Dengan demikian pasar yang memajang nama/brand “Pasar Rakyat” pada papan informasinya, akan diasosiasikan oleh masyarakat sebagai pasar yang ber-SNI namun masih memiliki konsep layaknya pasar tradisional pada umumnya.
Puska Dagri, BP2KP, Kemendag 75
Idealnya tidak semua pasar tradisional dialih bahasakan menjadi pasar rakyat, karena seharusnya “Pasar Rakyat” adalah brand yang diusung oleh Kementerian Perdagangan sebagai indikasi terhadap pasar yang telah direvitalisasi secara fisik berdasarkan SNI pasar rakyat. Dengan demikian maka label “Pasar Rakyat” dengan sendirinya akan menjadi diferensiasi dengan pasar modern atau pasar tradisional lain yang belum direvitalisasi oleh Kementerian Perdagangan.
e. Dilakukan telaah mendalam terhadap aspek hukum dan legalitas pasar rakyat yang akan dibangun. Sudah benar bahwa salah satu indikator pada pembangunan pasar adalah harus mendapatkan izin dari pihak berwenang, termasuk di dalamnya melibatkan sejumlah pemangku kepentingan. Namun penting juga untuk memperhatikan tindak lanjut dari proses pasca pengembangan pasar tersebut.
Bagaimana proses serah terima pasar, siapa yang bertanggung jawab terhadap pengelolaannya, apakah ada dinas khusus pasar yang bertanggung jawab atau ditempelkan pada dinas terkait lainnya.
f. Kewenangan pengelolaan pasar berdasarkan aspek hukum dan legalitas tersebut pada prakteknya akan menjadi sangat penting untuk memastikan kondisi pasar rakyat yang bebas “sengketa atau konflik hukum” sehingga dikemudian hari menjadi aset yang dapat dijaminkan sebagai syarat kerjasama dengan perbankan dan lembaga keuangan lainnya dalam kaitannya mengupayakan sumber alternatif permodalan bagi pedagang pasar.Hal tersebut dikarenakan hanya pasar yang sehat secara hukum dan sehat secara pengelolaan yang bisa menjadi penjamin bagi pedagang yang ingin melakukan peminjaman dengan mengagunkan surat tanda sewa kios pada pasar tersebut.
g. Arah kebijakan pengembangan pasar rakyat penting untuk dapat menyertakan pengembangan sistem koordinasi dan integrasi dengan pusat distribusi setempat dalam upaya memberikan
Puska Dagri, BP2KP, Kemendag 76
alternatif yang dapat dipilih oleh pedagang pasar dalam proses penyediaan kebutuhan barang dagangannya (selain dari pemasok yang biasa). Dalam prakteknya pengelola pasar dapat membuat sistem informasi ketersediaan komoditas (per kategori), informasi distributor serta kisaran harga dari masing-masing pusat distribusi yang masih berada dalam wilayah jangkauan pasar rakyat tersebut.
Sistem informasi tersebut disarankan untuk dipampang secara jelas dan terbuka, dan diperbaharui secara berkala.
Puska Dagri, BP2KP, Kemendag 77
DAFTAR PUSTAKA
Appel, D., (1972). The supermarket: early development of an institutional innovation. Journal of Retailing 48 (Spring), 39–52.
Badan Standardisasi Nasional. (2015). Standar Nasional Indonesia 8152 Tahun 2015 tentang Pasar Rakyat
Bennet, R., & Rundle-Thiele, S. (2005). The brand loyalty life cycle:
Implications for marketers. Journal of Brand Management, 12 (4), 250–263.
Cook, I. (2008). Geographies of food: mixing, Progress in Human Geography 32(6): 821–833.
Findlay, A., Paddison, R., Dawson, J. (Eds.), (1990), Retailing Environments in Developing Countries. Routledge, London.
Goldman, A., (1981). Transfer of a retailing technology into less developed countries: the supermarket case. Journal of Retailing 57 (2), 5–29.
Goldman, A., and Hayiel Hino. (2005). Supermarkets vs. traditional retail stores: diagnosing the barriers to supermarkets’ market share growth in an ethnic minority community. Journal of Retailing and Consumer Services. pp. 273–284.
Gonzalez, S and Waley, P. (2013). Traditional Retail Markets: The New Gentrification Frontier? Antipode: a radical journal of geography, 45 (4). 965 - 983. ISSN 0066-4812.
Heldke, L. (2003). Exotic Appetites: Ruminations of a Food Adventurer.
London: Routledge.
Hendrakusumah, E. (2014). Penanganan Permukiman Kumuh Berbasis Kawasan Bernilai Tambah dan Berkelanjutan. Seminar Nasional.
UNISBA.
Indroyono, Puthut. (2013). “Revitalisasi Pengelolaan Pasar Rakyat Berbasis Ekonomi Kerakyatan”. Yogyakarta: Academic article presented in Center for Economic Democracy Studies. Universitas Gadjah Mada.
Kaynak, E., Cavusgil, T., (1982). The evolution of food retailingsystems:
contrasting the experience of developed and developing Countries.
Journal of the Academy of Marketing 10 (3), 249–269.
Puska Dagri, BP2KP, Kemendag 78
Keller, K.L., (2008). Strategic brand management: Building, measuring and managing brand equity. Upper Saddle River, New Jersey, Pearson Education Inc.
Kementerian Perdagangan, BPPKP, Pusat Kebijakan Perdagangan Dalam Negeri. (2012). Peran Revitalisasi Terhadap Kinerja Pasar Tradisional.
Kementerian Perdagangan, BPPKP, Pusat Kebijakan Perdagangan Dalam Negeri. (2013). Analisis Pendirian Pusat Distribusi Regional.
Kementerian Perdagangan, Direktorak Jenderal Perdagangan Dalam Negeri. (2011). Petunjuk Teknis Tinjauan Lapangan Aspek Fisik Pasar.
Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 519 Tahun 2008 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pasar Sehat.
Kumcu, E., Kumcu, M., (1987). Determinants of food retailing in developing countries: the case of Turkey. Journal of Macromarketing 7 (fall), 26–40.
Lagerkvist, et al. (2015). Consumers' evaluation of volition, control, anticipated regret, and perceived food health risk. Evidence from a field experiment in a traditional vegetable market in Kenya. Food Control 47, pp. 359-368.
Lupitosari, D. (2011). Dampak Jumlah Pasar dan Jumlah Pedagang Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Kota Surakarta Sebelum Dan Sesudah Kebijakan Revitalisasi Pasar Tradisional. Skripsi.
Surakarta - F.Ekonomi.
Moeliono, Anton. M. (2007). Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta:
Balai Pustaka.
Moradi, H., & Zarei, A. (2011). The Impact of Brand Equity on Purchase Intention and Brand Preference: The Moderating Effects of Country-of-origin Image. Australian Journal of Basic and Applied Sciences, 5(3): 539-545.
Pappu, R., P.G. Quester, R.W. Cooksey, (2005). Consumer-based brand equity: improving the measurement-empirical evidence. Journal of Product & Brand Management, 14(3): 143-154.
Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 20 Tahun 2012 tentang Pengelolaan dan Pemberdayaan Pasar Tradisional
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 15 Tahun 2013 tentang Fasilitas Khusus Menyusui dan Memerah ASI
Puska Dagri, BP2KP, Kemendag 79
Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 30 Tahun 2006 tentang Pedoman Teknis Fasilitas dan Aksesibilitas pada Bangunan Gedung
Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Republik Indonesia No. 29 Tahun 2006 tentang Pedoman Persyaratan Teknis Bangunan Gedung;
serta
Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia No. 27 Tahun 2015 tentang Rencana Strategis Kementerian Perdagangan Tahun 2015-2019.
Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia No. 48 Tahun 2013 tentang Pedoman Pembangunan dan Pengelolaan Sarana Distribusi Perdagangan
Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia No. 53 Tahun 2008 tentang Pedoman Penataan dan Pembinaan Pasar Rakyat, Pusat Perbelanjaan dan took Modern
Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia No. 70 Tahun 2013 tentang Pedoman Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern
Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 112 Tahun 2007 tentang Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern
Schipmann, C., & Matin Qaim. (2011). Supply Chain Differentiation, Contract Agriculture, and Farmers’ Marketing Preference: The Case of Sweet Pepper in Thailand. Globalfood Discussion Papers.
Slater, C. and Henley, D. (1969). Market processes in La Paz, Bolivia, Latin American Studies Center. Michigan State University, East Lansing.
Suryadarma, et al. (2009). Dampak Supermarket terhadap Pasar dan Pedagang Ritel Tradisional di Daerah Perkotaan di Indonesia.
SMERU.
Undang-undang Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan
Zeugner-Roth, K.P., A. Diamantopoulos, & A. Montesinos. (2008). Home country image, country brand equity and consumers’ product preferences: An empirical study. Management International Review, 5: 576-602.