BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI KEBIJAKAN
5.1. Kesimpulan
a. Mengaitkan definisi revitalisasi berdasarkan regulasi dan kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah, terdapat beberapa hal yang dapat disimpulkan dalam hal ini sebagai gambaran besar fokus dan tujuan dari revitalisasi pasar rakyat itu sendiri, yaitu: Perlu adanya transformasi konsep pasar rakyat dimata masyarakat yang menimbulkan persepsi bahwasanya pasar rakyat sekarang adalah: pasar rakyat yang baik secara infrastruktur (Gozales dan Waley, 2012), cakap secara pengelolaan, bermutu dan higienis dalam penyajian bahan pangan lokal (Goldman dan Hino, 2005; Lagerkvist, Okello & Kalanja, 2015), serta mendukung pertumbuhan ekonomi lokal. Dalam prosesnya penting untuk tetap mempetimbangkan kaitannya dengan elemen sosial dan memperimbangkan kepentingan bukan hanya pengelola pasar dan pengunjung, melainkan juga pedagang pasar sebagai penggiat utama dari pasar rakyat itu sendiri.
b. Nama “Pasar Rakyat” sendiri dapat diartikan sebagai sebuah brand, yang dapat mewakili seluruh elemen yang bernaung di dalamnya. Mulai dari ketersediaan fasilitas, sistem pengelolaan pasar, kategori pedagang, komoditas yang diperjual belikan, dan hal-hal terkait lainnya. Dengan demikian maka brand “Pasar Rakyat” akan dengan sendirinya menjadi rujukan bagi konsumen yang ingin berbelanja ke pasar tradisional yang bersih, nyaman dan tepat ukur. Oleh karena itu harus dikembangkan sebuah identitas standar dimana pasar rakyat merupakan jaminan dari layanan pasar tradisional yang memiliki diferensiasi tersendiri dibandingkan dengan pasar modern.
c. Transformasi konsep dan identitas pasar rakyat. Idealnya arah pengembangan dan transformasi fisik pasar rakyat dapat
Puska Dagri, BP2KP, Kemendag 71
memenuhi ketentuan SNI 8152 Tahun 2015 tentang Pasar Rakyat.
Pemetaan awal menunjukan sejumlah catatan kritis terkait upaya implementasi SNI tersebut:
1) Tantangan pada implementasi indikator yang berkaitan dengan variabel kebersihan dan kesehatan pasar, terutama untuk pemenuhan poin (a) dimana pasar rakyat idealnya bebas dari lalat, kecoa, tikus dan nyamuk. Hal tersebut sulit dicapai karena kondisi Indonesia yang merupakan negara dengan iklim tropis dimana perkembangbiakan serangga (lalat, nyamuk, dan lainnya) dapat dengan mudah terjadi.
Indikator tersebut idelanya dapat terpenuhi jika dalam prakteknya bentuk bangunan pasar rakyat diasumsikan sama dengan bentuk bangunan pasar modern, yang tertutup dan dilengkapi dengan pendingin udara, sehingga kontaminasi serangga dapat diminimalisir.
2) Pada indikator aksesibilitas yang menyatakan bahwa seluruh fasilitas harus bisa diakses oleh penyandang cacat dan lansia bisa terpenuhi jika bangunan pasar rakyat hanya satu lantai dengan seluruh area lantai memiliki permukaan yang rata sehingga dapat diakses oleh penyandang cacat dan lansia yang menggunakan kursi roda, atau tersedia fasilitaslift atau akses kursi roda (yang aman)jika bangunan lebih dari satu lantai.
3) Terjadi kontradiktif aturan antara persyaratan umum dan persyaratan teknis dalam pembangunan pasar, khususnya yang meliputi indikator kebersihan dan kesehatan (pada persyaratan umum) dan indikator pencahayaan dan sirkulasi udara (pada persyaratan teknis). Sebagai jalan tengah dari kontradiksi kedua indikator ini, SNI pasar rakyat memberikan solusi dengan membolehkan adanya pencahayaan dan sirkulasi udara buatan.Jika solusi tersebut dipenuhi maka wujud dari pasar rakyat akan diterjemahkan sebagai pasar
Puska Dagri, BP2KP, Kemendag 72
rakyat tertutup, disertai dengan pendingin udara, dan penerangan lampu sehingga kebutuhan kesehatan, pencahayaan dan sirkulasi udara terpenuhi. Namun jika demikian, esensi pasar rakyat dalam mempertahankan kearifan lokal akan hilang sama sekali. Resikonya, pasar rakyat bukan hanya sekedar bertransformasi melainkan diubah menjadi pasar modern yang tidak ramah lingkungan dan hemat energi.
4) Persyaratan umum dan persyaratan teknis yang diatur oleh SNI pasar rakyat dalam hal ini adalah persyaratan yang sangat ideal untuk mewujudkan pengembangan sebuah pasar rakyat. Terlepas dari beberapa cacatan kritis yang harus diperhatikan dalam pelaksanaannya, pasar rakyat yang baik idealnya harus memenuhi ketentuan sebagaimana ditetapkan dalam SNI pasar rakyat tersebut. Dengan memenuhi ketentuan di atas, maka asumsinya transformasi konsep dan identitas pasar rakyat adalah berubahnya citra dan kesan pasar yang identik dengan kotor, becek, semrawut, bau, gersang, dan kumuh menjadi pasar yang bersih, nyaman, dan tepat ukur.
d. Penataan sistem pengelolaan manajemen pasar. SNI Pasar Rakyat juga mengatur tentang persyaratan pengelolaan pasar rakyat. Terkait dengan ketentuan tersebut, perlu adanya penekanan pada implementasi pengelolaan pasar, khususnya yang berkaitan dengan pemberdayaan pedagang dan pembangunan pasar. Pengelola pasar harus memberikan output berupa revitalisasi secara ekonomi di tingkat pedagang yang diarahkan untuk meningkatkan omzet pedagang. Pengelola pasar harus jeli dalam melakukan prioritas penempatan ruang dagang untuk pedagang apabila pasar mengalami revitalisasi atau relokasi.
Pengajuan revitalisasi pasar juga harus sudah mempertimbangkan aspek analisis bisnis, yang terkait apakah pasar memiliki potensi
Puska Dagri, BP2KP, Kemendag 73
yang cukup besar untuk dikembangkan dan tidak malah mematikan pedagang karena over capacity pedagang tidak disertasi dengan kepadatan pengunjung.
e. Mengembangkan sistem koordinasi dengan pusat distribusi.
Dalam arah pengembangan pasar rakyat penting untuk dapat menyertakan pengembangan sistem koordinasi dan integrasi dengan PDR setempat dalam upaya memberikan alternatif yang dapat dipilih oleh pedagang pasar dalam proses penyediaan kebutuhan barang dagangannya (selain dari pemasok yang biasa).
Dalam prakteknya pengelola pasar dapat membuat sistem informasi ketersediaan komoditas (per kategori), informasi distributor serta kisaran harga dari masing-masing PDR yang masih berada dalam wilayah jangkauan pasar rakyat tersebut. Sistem informasi tersebut disarankan untuk dipampang secara jelas dan terbuka, dan diperbaharui secara berkala.
f. Mengembangkan sistem pengelolaan fasilitas pembiayaan.
kebutuhan bahwa dalam rangka meningkatkan produktifitas dan omset pedagang pasar rakyat, maka sedari awal aspek kelayakan bisnis usaha mereka harus terpenuhi sehingga bisa digunakan sebagai syarat dan jaminan peminjaman modal usaha ke lembaga perbankan. Salah satu komponen utama dalam kelayakan bisnis adalah kejelasan terkait bukti kepemilikan dan atau penyewaan kios di setiap pasar. Karena itu, di awal pembangunan pasar harus dipastikan tidak ada konflik hukum terkait kepemilikan pasar yang berdampak terhadap ketidakjelasan kepemilikan dan atau penyewaan kios kepada para pedagang.