• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembangunan dan/atau revitalisasi pasar rakyat

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.2. Fokus Pengembangan Pasar Rakyat Berdasarkan Tinjauan

2.2.1. Pembangunan dan/atau revitalisasi pasar rakyat

Menurut kamus besar bahasa indonesia (Moeliono, 2007;954), revitalisasi adalah proses, cara, pembuatan menghidupkan kembali atau menggiatkan kembali. Arti harfiah dari revitalisasi adalah menghidupkan kembali, namun makna dari kata tersebut bukan sekedar mengadakan atau mengaktifkan kembali apa yang sebelumnya pernah ada, melainkan menyempurnakan strukturnya, mekanisme kerjanya, dan menyesuaikan dengan kondisi baru, semangatnya dan komitmennya.

Hal tersebut di atas selaras dengan Program Pengembangan Pasar Rakyat Kementerian Perdagangan, yaitu Revitalisasi Pasar Rakyat.

Dimana, Revitalisasi Pasar Rakyat adalah program untuk mendukung pengembangan pasar tradisional berdasarkan proposal yang diajukan oleh Pemerintah Daerah. Fokus yang dilakukan pada Program Revitalisasi Pasar adalah perbaikan fisik pasar dan pemberian diklat bagi pengelola dan pedagang (Petunjuk Teknis Tinjauan Lapangan; Aspek Fisik Pasar, Kementerian Perdagangan RI, 2011).

Pada periode 2011-2014, Kementerian Perdagangan bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten/Kota telah melakukan pembangunan/revitalisasi terhadap 2.471 Unit Pasar Rakyat melalui mekanisme Dana Tugas Pembantuan dan Dana Alokasi Khusus.

Revitalisasi fisik dilakukan melalui pembangunan pasar baru maupun renovasi. Revitalisasi manajemen dilakukan dengan melaksanakan

Puska Dagri, BP2KP, Kemendag 20

pelatihan manajemen pengelolaan pasar dan pendampingan pengelola pasar. Pasar Rakyat yang telah direvitalisasi diharapkan dapat dijadikan

"model" oleh Pemerintah Daerah dalam pembangunan dan pengembangan Pasar Rakyat dimasa yang akan datang agar Pasar Rakyat dapat tetap eksis dan mampu bersaing dengan perkembangan toko modern dan pusat-pusat perbelanjaan.

Alokasi anggaran dan jumlah Pasar Rakyat untuk program dan kegiatan revitalisasi pasar selama periode 2011-2014 dengan menggunakan Dana Tugas Pembantuan adalah sebesar Rp 2.246.089.118.000 untuk merevitalisasi 541 Pasar Rakyat di 334 Kabupaten/Kota. Selain melalui mekanisme Dana Tugas Pembantuan dalam melakukan revitalisasi/pembangunan baru Pasar Rakyat, pembangunan Pasar Rakyat dapat dilakukan pula melalui mekanisme Dana Alokasi Khusus yang lebih diarahkan kepada pasar desa dan kecamatan. Alokasi anggaran dan jumlah Pasar Rakyat untuk program dan kegiatan revitalisasi pasar selama periode 2011-2014 dengan menggunakan Dana Alokasi Khusus adalah sebesar Rp 1.451.572.610 untuk merevitalisasi 1.929 Pasar Rakyat di 1.104 Kabupaten/Kota.

Jika definisi pembangunan dan/atau revitalisasi pasar rakyat adalah perbaikan fisik pasar, maka pemerintah sebenarnya sudah memberikan definisi yang jelas terkait hal tersebut. Peraturan Menteri Perdagangan No.48 tahun 2013, telah mensyaratkan beberapa ketentuan tentang pendirian pasar rakyat yang diklasifikasikan dalam kategori pasar tipe A dan tipe B, tipe C dan tipe D. Dimana dalam peraturan tersebut, didefinisikan secara detil mengenai lokasi, kelengkapan yang harus dimiliki oleh pasar, serta aturan aksesibilitas masyarakat yang harus dipenuhi (lihat tabel 2).

Puska Dagri, BP2KP, Kemendag 21

Tabel 2.2. Kategorisasi Pasar Rakyat berdasarkan PerMenDag No.48 Tahun 2013.

Kategori Pasar berdasarkan PerMenDag No.48 tahun 2013 Pasar

Kategori Tipe A

a. luas lahan paling sedikit 3.000 m2;

b. kepemilikan lahan dibuktikan dengan dokumen yang sah;

c. peruntukan lahan sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayab (RTRW) daerah setempat;

d. jumlah pedagang paling sedikit 150 pedagang;

e. bangunan utama Pasar Tradisional berupa los, kios, selasar koridor/gang dan sarana pendukung lainnya, meliputi:

1) kantor pengelola dan kantor fasilitas pembiayaan;

2) ruang serbaguna untuk pembinaan pedagang, penitipan dan bermain anak dengan luas paling sedikit 50m2;

8) drainase (ditutup dengan grill);

9) tempat penampungan sampah sementara;

10) gudang tempat penyimpanan stok barang;

11) area bongkar muat;

12) tempat parkir;

13) area penghijauan;

14) hidran dan/atau alat pemadam kebakaran (fire extinguisher);

15) instalasi air bersih dan jaringan listrik;

16) instalasi pengolahan air limbah (IPAL);

17) telekomunikasi;

18) sistem informasi harga dan stok; dan

19) papan pengumuman informasi harga harian f. jalan menuju Pasar Tradisional mudah diakses dan

didukung dengan sarana transportasi umum;

g. Pasar Tradisional dikelola secara langsung oleh Manajemen pengelolaan pasar;

Puska Dagri, BP2KP, Kemendag 22

h. Kegiatan/operasional Pasar Tradisional dilakukan setiap hari; dan

i. CCTV yang terhubung secara online dengan Kementerian Perdagangan melalui internet untuk memantau aktifitas perdagangan.

Pasar Kategori Tipe B

a. luas lahan paling sedikit 1.500 m2;

b. kepemilikan lahan dibuktikan dengan dokumen yang sah;

c. peruntukan lahan sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayab (RTRW) daerah setempat;

d. jumlah pedagang paling sedikit 75 pedagang;

e. bangunan utama Pasar Tradisional berupa los, kios, selasar koridor/gang dan sarana pendukung lainnya, meliputi:

1) kantor pengelola dan kantor fasilitas pembiayaan;

2) ruang serbaguna untuk pembinaan pedagang, penitipan dan bermain anak dengan luas paling sedikit 40m2;

3) toilet/WC;

4) tempat ibadah;

5) pos kesehatan;

6) pos keamanan;

7) drainase (ditutup dengan grill);

8) tempat penampungan sampah sementara;

9) tempat parkir;

10) area penghijauan;

11) hidran dan/atau alat pemadam kebakaran (fire extinguisher);

12) instalasi air bersih dan jaringan listrik;

13) telekomunikasi;

14) sistem informasi harga dan stok; dan

15) papan pengumuman informasi harga harian f. jalan menuju Pasar Tradisional mudah diakses dan

didukung dengan sarana transportasi umum;

g. Pasar Tradisional dikelola secara langsung oleh Manajemen pengelolaan pasar;

h. Kegiatan/operasional Pasar Tradisional dilakukan paling sedikit 3 hari dalam seminggu; danCCTV yang terhubung secara online dengan Kementerian Perdagangan melalui internet untuk memantau aktifitas perdagangan.

Pasar a. luas lahan paling sedikit 1.000 m2;

Puska Dagri, BP2KP, Kemendag 23 Kategori

Tipe C

b. kepemilikan lahan dibuktikan dengan dokumen yang sah;

c. peruntukan lahan sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayab (RTRW) daerah setempat;

d. jumlah pedagang paling sedikit 30 pedagang;

e. bangunan utama Pasar Tradisional berupa los, kios, selasar koridor/gang dan sarana pendukung lainnya, meliputi:

1) kantor pengelola dan kantor fasilitas pembiayaan;

2) toilet/WC;

3) tempat ibadah;

4) pos kesehatan;

5) drainase (ditutup dengan grill);

6) tempat penampungan sampah sementara;

7) tempat parkir;

8) area penghijauan;

9) hidran;

10) instalasi air bersih dan jaringan listrik; dan 11) telekomunikasi;

f. jalan menuju Pasar Tradisional mudah diakses dan didukung dengan sarana transportasi umum;

g. Pasar Tradisional dikelola secara langsung oleh Manajemen pengelolaan pasar;

h. Kegiatan/operasional Pasar Tradisional dilakukan 1 atau 2 hari dalam seminggu.

Pasar Kategori Tipe D

a. luas lahan paling sedikit 500 m2;

b. kepemilikan lahan dibuktikan dengan dokumen yang sah;

c. peruntukan lahan sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayab (RTRW) daerah setempat;

d. jumlah pedagang paling sedikit 30 pedagang;

e. bangunan utama Pasar Tradisional berupa los dan sarana pendukung lainnya, meliputi:

1) kantor pengelola dan kantor fasilitas pembiayaan;

2) toilet/WC;

3) tempat ibadah;

4) drainase (ditutup dengan grill);

5) tempat penampungan sampah sementara;

6) area penghijauan; dan

7) instalasi air bersih dan jaringan listrik;

f. jalan menuju Pasar Tradisional mudah diakses dan didukung dengan sarana transportasi umum;

g. Pasar Tradisional dikelola secara langsung oleh

Puska Dagri, BP2KP, Kemendag 24

Manajemen pengelolaan pasar;

h. Kegiatan/operasional Pasar Tradisional dilakukan 1 atau 2 hari dalam seminggu

Lebih lanjut analisis terdahulu yang pernah dilakukan oleh Puska Dagri, BPPKP Kementerian perdagangan (2012) telah merekomendasikan sejumlah hal terkait revitalisasi yang berkaitan dengan fisik pasar, yaitu:

a) Revitalisasi terhadap fisik bangunan bukan semata peremajaan atau memperbanyak jumlah kios. Penting untuk memperhatikan struktur pembangunan pasar berdasarkan potensi arah arus pengunjung sehingga visibilitas dan aksesibilitas pasar baik.

b) Muka pasar harus dapat terlihat dari jalan utama, perlu adanya papan identitas pasar yang terletak di muka pasar dengan ukuran minimal 5 x 2 M. Jika pasar terletak di dalam komplek lingkungan, perlu ada tanda identitas pasar di jalan utama yang menunjukkan keberadaan pasar, bahkan jika dirasa perlu pemerintah wajib membuka akses pasar ke jalan umum (membangun sarana jalan atau menambah trayek angkutan umum menuju pasar).

c) Untuk memenuhi kecukupan sirkulasi udara, tinggi bangunan pasar mulai dari lantai sampai atas minimal 6M. Sedangkan untuk memenuhi kecukupan sirkulasi manusia di lorong pasar, maka lebar jalur arus pengunjung di dalam pasar minimal 1M dengan catatan tidak ada pedagang yang menempatkan barang dagangannya di lorong tersebut.

d) Sebaiknya pasar memiliki fasilitas penunjang minimal yang memadai seperti fasilitas MCK, fasilitas Ibadah, fasilitas parkir (untuk pengunjung dan bongkar muat), fasilitas air bersih, listrik, saluran pembuangan, dan tempat pembuangan sampah sementara.

Puska Dagri, BP2KP, Kemendag 25

Berdasarkan tinjauan regulasi dan kebijakan serta kajian yang sudah pernah dilakukan sebelumnya terkait pasar tradisional, maka fokus revitalisasi terhadap pasar rakyat adalah pada fisik bangunan dengan memenuhi kelengkapannya sebagaimana yang telah diatur dan ditetapkan oleh pemerintah sesuai dengan peruntukan wilayahnya.

Mengacu pada klasifikasi kelas pasar yang dibuat oleh Lupotosari (2011), maka pasar dengan kategori tipe A yang dimaksud dalam PerMenDag No.48 tahun 2013 dapat diklasifikasikan sebagai pasar kelas I yaitu pasar rakyat yang berada pada tingkat regional. Sedangkan pasar kategori tipe B adalah pasar kelas II yang melayani perdagangan tingkat kota, dan pasar kategori tipe C adalah pasar kelas III untuk tingkat wilayah bagian kota, dan terakhir pasar kategori tipe D adalah pasar kelas IV untuk melayani perdagangan tingkat lingkungan.