BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI KEBIJAKAN
5.2. Rekomendasi
a. Revitalisasi fisik yang baik pada akhirnya akan berdampak pada revitalisasi ekonomi. Meskipun demikian, revitalisasi fisik juga berdampak pada meningkatnyajumlah pedagang baru sehingga menambah tingkat persaingan. Konsekuensi disisi pengelola pasar,
Puska Dagri, BP2KP, Kemendag 74
maka omzet pendapatan pasar sudah pasti akan meningkat seiring dengan perluasan pasar tersebut. Ke depannya, revitalisasi perlu mempertimbangkan dampak pertumbuhan ekonomi yang terjadi bukan hanya dari sisi pengelola pasar, melainkan juga dari sudut pandang pedagang.
b. Perlu adanya transformasi konsep pasar rakyat dimata masyarakat yang menimbulkan persepsi bahwasanya pasar rakyat sekarang adalah: pasar rakyat yang baik secara infrastruktur, cakap secara pengelolaan, bermutu dan higienis dalam penyajian bahan pangan lokal, serta mendukung pertumbuhan ekonomi lokal. Dalam prosesnya penting untuk tetap mempertimbangkan kaitannya dengan elemen sosial dan memperimbangkan kepentingan bukan hanya pengelola pasar dan pengunjung, melainkan juga pedagang pasar sebagai penggiat utama dari pasar rakyat itu sendiri.
c. Transformasi konsep pasar rakyat seharusnya bukan mengubah konsep pasar rakyat menjadi pasar modern. Pasar rakyat harus tetap memiliki fungsi dan perannya sebagai salah satu warisan budaya dan menjunjung kearifan lokal dimana transaksi antara pedagang dan pembeli bukan sebatas pertukaran barang atau transaksi finansial layaknya yang terjadi di pasar modern, melainkan sebagai perwujudan dari interaksi sosial masyarakat melalui transaksi jual beli dan tawar menawar antara penjual dan pembeli dalam kondisi yang dibuat lebih nyaman, bersih dan aman.
Dengan demikian maka konsep revitalisasi tetap menjaga konteks revitalisasi sosial dalam menciptakan lingkungan yang menarik (interesting), dan berdampak positif serta dapat meningkatkan dinamika dan kehidupan sosial masyarakat/ warga (public realms).
d. Identitas inilah yang nantinya akan disampaikan atas nama brand
“Pasar Rakyat”. Dengan demikian pasar yang memajang nama/brand “Pasar Rakyat” pada papan informasinya, akan diasosiasikan oleh masyarakat sebagai pasar yang ber-SNI namun masih memiliki konsep layaknya pasar tradisional pada umumnya.
Puska Dagri, BP2KP, Kemendag 75
Idealnya tidak semua pasar tradisional dialih bahasakan menjadi pasar rakyat, karena seharusnya “Pasar Rakyat” adalah brand yang diusung oleh Kementerian Perdagangan sebagai indikasi terhadap pasar yang telah direvitalisasi secara fisik berdasarkan SNI pasar rakyat. Dengan demikian maka label “Pasar Rakyat” dengan sendirinya akan menjadi diferensiasi dengan pasar modern atau pasar tradisional lain yang belum direvitalisasi oleh Kementerian Perdagangan.
e. Dilakukan telaah mendalam terhadap aspek hukum dan legalitas pasar rakyat yang akan dibangun. Sudah benar bahwa salah satu indikator pada pembangunan pasar adalah harus mendapatkan izin dari pihak berwenang, termasuk di dalamnya melibatkan sejumlah pemangku kepentingan. Namun penting juga untuk memperhatikan tindak lanjut dari proses pasca pengembangan pasar tersebut.
Bagaimana proses serah terima pasar, siapa yang bertanggung jawab terhadap pengelolaannya, apakah ada dinas khusus pasar yang bertanggung jawab atau ditempelkan pada dinas terkait lainnya.
f. Kewenangan pengelolaan pasar berdasarkan aspek hukum dan legalitas tersebut pada prakteknya akan menjadi sangat penting untuk memastikan kondisi pasar rakyat yang bebas “sengketa atau konflik hukum” sehingga dikemudian hari menjadi aset yang dapat dijaminkan sebagai syarat kerjasama dengan perbankan dan lembaga keuangan lainnya dalam kaitannya mengupayakan sumber alternatif permodalan bagi pedagang pasar.Hal tersebut dikarenakan hanya pasar yang sehat secara hukum dan sehat secara pengelolaan yang bisa menjadi penjamin bagi pedagang yang ingin melakukan peminjaman dengan mengagunkan surat tanda sewa kios pada pasar tersebut.
g. Arah kebijakan pengembangan pasar rakyat penting untuk dapat menyertakan pengembangan sistem koordinasi dan integrasi dengan pusat distribusi setempat dalam upaya memberikan
Puska Dagri, BP2KP, Kemendag 76
alternatif yang dapat dipilih oleh pedagang pasar dalam proses penyediaan kebutuhan barang dagangannya (selain dari pemasok yang biasa). Dalam prakteknya pengelola pasar dapat membuat sistem informasi ketersediaan komoditas (per kategori), informasi distributor serta kisaran harga dari masing-masing pusat distribusi yang masih berada dalam wilayah jangkauan pasar rakyat tersebut.
Sistem informasi tersebut disarankan untuk dipampang secara jelas dan terbuka, dan diperbaharui secara berkala.
Puska Dagri, BP2KP, Kemendag 77
DAFTAR PUSTAKA
Appel, D., (1972). The supermarket: early development of an institutional innovation. Journal of Retailing 48 (Spring), 39–52.
Badan Standardisasi Nasional. (2015). Standar Nasional Indonesia 8152 Tahun 2015 tentang Pasar Rakyat
Bennet, R., & Rundle-Thiele, S. (2005). The brand loyalty life cycle:
Implications for marketers. Journal of Brand Management, 12 (4), 250–263.
Cook, I. (2008). Geographies of food: mixing, Progress in Human Geography 32(6): 821–833.
Findlay, A., Paddison, R., Dawson, J. (Eds.), (1990), Retailing Environments in Developing Countries. Routledge, London.
Goldman, A., (1981). Transfer of a retailing technology into less developed countries: the supermarket case. Journal of Retailing 57 (2), 5–29.
Goldman, A., and Hayiel Hino. (2005). Supermarkets vs. traditional retail stores: diagnosing the barriers to supermarkets’ market share growth in an ethnic minority community. Journal of Retailing and Consumer Services. pp. 273–284.
Gonzalez, S and Waley, P. (2013). Traditional Retail Markets: The New Gentrification Frontier? Antipode: a radical journal of geography, 45 (4). 965 - 983. ISSN 0066-4812.
Heldke, L. (2003). Exotic Appetites: Ruminations of a Food Adventurer.
London: Routledge.
Hendrakusumah, E. (2014). Penanganan Permukiman Kumuh Berbasis Kawasan Bernilai Tambah dan Berkelanjutan. Seminar Nasional.
UNISBA.
Indroyono, Puthut. (2013). “Revitalisasi Pengelolaan Pasar Rakyat Berbasis Ekonomi Kerakyatan”. Yogyakarta: Academic article presented in Center for Economic Democracy Studies. Universitas Gadjah Mada.
Kaynak, E., Cavusgil, T., (1982). The evolution of food retailingsystems:
contrasting the experience of developed and developing Countries.
Journal of the Academy of Marketing 10 (3), 249–269.
Puska Dagri, BP2KP, Kemendag 78
Keller, K.L., (2008). Strategic brand management: Building, measuring and managing brand equity. Upper Saddle River, New Jersey, Pearson Education Inc.
Kementerian Perdagangan, BPPKP, Pusat Kebijakan Perdagangan Dalam Negeri. (2012). Peran Revitalisasi Terhadap Kinerja Pasar Tradisional.
Kementerian Perdagangan, BPPKP, Pusat Kebijakan Perdagangan Dalam Negeri. (2013). Analisis Pendirian Pusat Distribusi Regional.
Kementerian Perdagangan, Direktorak Jenderal Perdagangan Dalam Negeri. (2011). Petunjuk Teknis Tinjauan Lapangan Aspek Fisik Pasar.
Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 519 Tahun 2008 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pasar Sehat.
Kumcu, E., Kumcu, M., (1987). Determinants of food retailing in developing countries: the case of Turkey. Journal of Macromarketing 7 (fall), 26–40.
Lagerkvist, et al. (2015). Consumers' evaluation of volition, control, anticipated regret, and perceived food health risk. Evidence from a field experiment in a traditional vegetable market in Kenya. Food Control 47, pp. 359-368.
Lupitosari, D. (2011). Dampak Jumlah Pasar dan Jumlah Pedagang Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Kota Surakarta Sebelum Dan Sesudah Kebijakan Revitalisasi Pasar Tradisional. Skripsi.
Surakarta - F.Ekonomi.
Moeliono, Anton. M. (2007). Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta:
Balai Pustaka.
Moradi, H., & Zarei, A. (2011). The Impact of Brand Equity on Purchase Intention and Brand Preference: The Moderating Effects of Country-of-origin Image. Australian Journal of Basic and Applied Sciences, 5(3): 539-545.
Pappu, R., P.G. Quester, R.W. Cooksey, (2005). Consumer-based brand equity: improving the measurement-empirical evidence. Journal of Product & Brand Management, 14(3): 143-154.
Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 20 Tahun 2012 tentang Pengelolaan dan Pemberdayaan Pasar Tradisional
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 15 Tahun 2013 tentang Fasilitas Khusus Menyusui dan Memerah ASI
Puska Dagri, BP2KP, Kemendag 79
Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 30 Tahun 2006 tentang Pedoman Teknis Fasilitas dan Aksesibilitas pada Bangunan Gedung
Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Republik Indonesia No. 29 Tahun 2006 tentang Pedoman Persyaratan Teknis Bangunan Gedung;
serta
Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia No. 27 Tahun 2015 tentang Rencana Strategis Kementerian Perdagangan Tahun 2015-2019.
Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia No. 48 Tahun 2013 tentang Pedoman Pembangunan dan Pengelolaan Sarana Distribusi Perdagangan
Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia No. 53 Tahun 2008 tentang Pedoman Penataan dan Pembinaan Pasar Rakyat, Pusat Perbelanjaan dan took Modern
Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia No. 70 Tahun 2013 tentang Pedoman Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern
Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 112 Tahun 2007 tentang Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern
Schipmann, C., & Matin Qaim. (2011). Supply Chain Differentiation, Contract Agriculture, and Farmers’ Marketing Preference: The Case of Sweet Pepper in Thailand. Globalfood Discussion Papers.
Slater, C. and Henley, D. (1969). Market processes in La Paz, Bolivia, Latin American Studies Center. Michigan State University, East Lansing.
Suryadarma, et al. (2009). Dampak Supermarket terhadap Pasar dan Pedagang Ritel Tradisional di Daerah Perkotaan di Indonesia.
SMERU.
Undang-undang Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan
Zeugner-Roth, K.P., A. Diamantopoulos, & A. Montesinos. (2008). Home country image, country brand equity and consumers’ product preferences: An empirical study. Management International Review, 5: 576-602.