• Tidak ada hasil yang ditemukan

Implementasi Model Pembelajaran Knisley berbasis Strategi Pembelajaran Self

B. KAJIAN TEORI

3. Implementasi Model Pembelajaran Knisley berbasis Strategi Pembelajaran Self

Perpangkatan dan Bentuk Akar

Model pembelajaran Knisley berbasis SRL dalam penelitian ini adalah model pembelajaran yang terdiri dari empat tahap. Tahap pembelajaran tersebut adalah alegori, integrasi, analisis, dan sintesis (Hanijah dkk., 2018). Model Knisley dalam pembelajaran matematika melatih kemampuan setiap siswa pada semua tahap.

10 Siswa mampu membangun sendiri pengetahuan dan menggunakannya dalam menyelesaikan permasalahan matematika. Strategi SRL menunjang siswa untuk mengetahui, mengukur, dan meningkatkan kemampuan dirinya dalam pembelajaran matematika (Dinsmore dkk., 2008).

Pada tahap alegori, siswa diharapkan mampu menyatakan langkah awal untuk menyelesaikan masalah (Sari & Nurfauziah, 2019). Siswa mampu meregulasikan dirinya untuk bisa merumuskan keterkaitan pengetahuan yang dimiliki sebelumnya dengan permasalahan materi yang baru. Tahap kedua adalah integrasi, guru memberikan dorongan kepada siswa agar bisa mencari hubungan antara pengetahuan lama yang dimiliki dengan pengetahuan baru (Mindarti & Sunismi, 2015). Selanjutnya pada tahap analisis siswa diharapkan untuk bisa mengumpulkan segala informasi mengenai konsep pengetahuan yang baru dan yang telah dimiliki sebelumnya agar bisa menemukan hubungannya secara tepat (Rizki dkk., 2018).

Pada tahap terakhir yaitu sintesis, siswa akan bisa mengetahui hubungan antara konsep pengetahuan lama dan pengetahuan baru sehingga bisa dengan mudah menggunakannya untuk penyelesaian masalah (Aditya dkk., 2012).

Tabel 2. Tahap-Tahapan Model Pembelajaran Knisley berbasis Strategi Pembelajaran Self Regulation Learning (SRL)

Tahap Kegiatan Guru Kegiatan Siswa Cakupan SRL Alegori Memberi penjelasan

mengenai konsep keperluan dalam belajar (perencanaan)

Integrasi Memberi bimbingan dan juga sekaligus menggapai tujuan belajar yang ia tetapkan (motivasi diri)

 Siswa fokus dalam mempelajari materi baru yang ia temui dan menjauhkan pikiran dari hal-hal lain (kontrol atensi)

11 strategi belajar yang sesuai untuk menggapai tujuan belajarnya

 Siswa mencari tahu apakah dalam proses belajarnya ada kemajuan dan sesuai tujuan atau disiplin dan struktur kreatifnya mengalami kendala dan kesulitan dalam belajarnya (mencari bantuan)

 Siswa bisa meregulasi dirinya sendiri tentang proses belajarnya selama ini sudah sesuai dengan tujuan awal yang ditetapkan atau

tidak, serta

memperbaiki apa saja yang dirasa kurang tepat (evaluasi diri) 4. Pemahaman Matematis

Pemahaman matematika adalah suatu hal yang penting dalam belajar matematika (Durán, 2016). Karena dalam belajar matematika tidak hanya mengoperasikan symbol saja, akan tetapi juga harus merepresentasikan suatu kata yang beragam kedalam bentuk matematika (Yulianti & Kusnandi, 2011). Oleh sebab itu, belajar matematika harus disertai dengan pemahaman. Herbert dan Carpenter (dalam Sariningsih, 2014) mengemukakan sejumlah manfaat dari belajar matematika menggunakan pemahaman, antara lain: (a) Bersifat generative yaitu pengetahuan yang diperoleh dari proses belajar denagn pemahaman sewaktu-waktu bisa digunakan sebagai stimulasi, (b) Menyesuaikan kemampuan berpikir dengan materi pelajaran dalam kegiatan belajar akan lebih bermakna, (c) Belajar dengan pemahaman akan mengurangi jumlah informasi yang dipelajari dengan cara menghafal, selain itu ingatan juga semakin kuat, (d) Akan mempermudah menghubungkan pengetahuan lama dengan pengetahuan yang baru saja dipelajari (e) Seseorang yang belajar dengan pemahaman bisa mengetahui pengetahuan-pengetahuan yang saling berhubungan secara sistematis

12 Siswa yang belajar matematika dengan menggunakan pemahaman, mereka akan mudah memiliki kemampuan pemahaman matematis (Isa, 2012). Pemahaman matematis adalah pengetahuan siswa terhadap konsep, prinsip, prosedur dan kemampuan siswa menggunakan strategi penyelesaian terhadap suatu masalah matematika yang disajikan (Nursaadah & Amelia, 2018). Menurut Jones (dalam Yulianti & Kusnandi, 2011) kemampuan pemahaman matematis merupakan salah satu kategori dalam belajar matematika selain pemecahan masalah, komunikasi, dan koneksi matematis. Alasan mengapa pemahaman matematis masuk dalam kategori adalah sebagai berikut : (a) Mentranslasikan berbagai jenis representasi adalah kemampuan dasar yang harus ada pada diri siswa untuk mengembangkan suatu konsep serta berpikir secara matematis, (b) Konsep matematika yang diajarkan oleh guru melalui berbagai representasi akan memberi pengaruh kepada siswa dalam belajar matematika, (d) Untuk mengembangkan representasinya, siswa memerlukan latihan yang dikerjakan sesuai dengan kemampuan pemahamannya

Kemampuan pemahaman matematis juga memuat berbagai aspek, antara lain menginterpretasi, memberikan contoh, mengklasifikasi, merangkum, mengira, membandingkan, dan memaparkan (Sariningsih, 2014). Alfred (dalam Sariningsih, 2014) menjelaskan bahwa untuk memahami matematika dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu dengan: (a) Menjelaskan dengan bahasa yang lebih sederhana tentang konsep-konsep dan fakta yang dipelajari dalam matematika, (b) Mengaitkan antara konsep dan fakta secara logis, (c) Mengaitkan suatu konsep yang baru dengan konsep lama yang telah dipelajari sebelumnya, (d) Mencari keterkaitan anatara prinsip-prinsip matematika yang dipelajari dengan kehidupan sehari-hari.

Berikut indikator dalam pemahaman matematis sesuai Nursaadah (2018).

Tabel 3. Indikator Pemahaman Matematis Kemampuan

Pemahaman Matematis

Indikator Pemahaman

Instrumental

1. Menyatakan ulang sebuah konsep

2. Mengklasifikasi objek-objek menurut sifat-sifat tertentu

Pemahaman Relasional

1. Menyajikan konsep dalam berbagai bentuk representasi matematis

2. Mengaplikasikan konsep atau algoritma pemecahan masalah

Sumber : (Nursaadah & Amelia, 2018)

13 5. Penalaran Logis

Penalaran adalah sutu proses berpikir untuk membuat pernyataan baru atau kesimpulan yang benar dan didasarkan pada pernyataan sebelumnya yang sudah dibuktikan kebenarannya sebelumnya (Rosita, 2014b). Sedangkan menurut Lanani (2015) penalaran adalah suatu proses berpikir dengan cara menarik kesimpulan yang bersifat umum dari kasus-kasus bersifat khusus, begitu pula sebaliknya menarik kesimpulan secara khusus dari kasus bersifat umum. Penalaran diklasifikasikan menjadi tiga jenis oleh Baroody (dalam Rosita, 2014) yaitu intuitif, deduktif, dan induktif. Berikut penjelasannya: (a) Penalaran intuitif adalah suatu penalaran yang bersifat intuisi, sehingga perlu adanya kesiapan pengetahuan.

Proses penalaran intuitif memerlukan pemahaman yang benar-benar mendalam akan suatu pengetahuan. Karena penalaran ini terjadi secara langsung sesuai apa yang dipahami sebelumnya. (b) Penalaran deduktif adalah proses penarikan kesimpulan berdasarkan aturan nilai kebenaran yang sudah jelas, yaitu sesuatu bersifat benar atau salah serta tidak keduanya. Contohnya adalah menarik kesimpulan yang logis berdasarkan aturan inferensi, memeriksa validitas argumen, membuktikan, serta menyusun argumen yang valid. (c) Penalaran induktif adalah proses penarikan kesimpulan berdasarkan contoh-contoh khusus serta pola yang diamati secara umum. Sehingga kebenaran pada penalaran ini bisa benar atau salah bergantung argumen-argumen yang paling sesuai.

Penalaran logis termasuk kedalam penalaran deduktif, yaitu penarikan kesimpulan berdasarkan aturan yang disepakati (Sumarni & Sumarmo, 2016).

Nilai kebenaran dalam penalaran deduktif bersifat mutlak benar atau salah dan tidak keduanya bersama-sama. Kaitannya dengan definisi penalaran, Matlin (dalam Lanani, 2015) mengartikan bahwa penalaran logis adalah proses mentransformasikan informasi yang diberikan untuk mencapai suatu kesimpulan.

Matlin juga mengemukakan bahwa ada dua tipe penalaran logis matematis, yaitu penalaran kondisional dan penalaran silogisme. Penalaran kondisional berhubungan dengan pernyataan antisenden “jika” dan konsekuen “maka”.

Penalaran kondisional menyatakan apabila ada antisenden akan mengakibatkan

14 konsekuen. Sedangkan penalaran silogisme adalah penarikan suatu konklusi dari dua premis.

Penalaran logis berperan penting dalam proses pemecahan masalah yang dilakukan siswa (Alimuddin & Trisnowali, 2018). Kemampuan menghubungkan permasalahan yang telah diketahui dengan permasalahan baru akan memepermudah dalam penyelesaian suatu permasalahan. Sehingga siswa akan lebih meningkat kinerjanya dalam penyelesaian masalah (Rosita, 2014).

Indikator kemampuan penalaran logis mutlak diperlukan untuk mengukur apakah seseorang telah memenuhi sifat atau ciri individu yang melakukan penalaran logis atau tidak (Rosita, 2014b). Berikut adalah beberapa kriteria penalaran logis (Sumarni & Sumarmo, 2016): (a) Menarik kesimpulan berdasarkan aturan inferensi, yaitu menarik suatu kesimpulan berdasarkan dengan suatu aturan tertentu dengan mengumpulkan data-data yang memiliki nilai kebenaran hanya benar atau hanya salah. (b) Membuat perkiraan, prediksi dan interpretasi, yaitu menganalisis dan menyelesaikan suatu tugas disertai dengan konsep, aturan, dan rumus yang berlaku. (c) Menyusun analisis dan sintesa beberapa kasus, yaitu menyusun hasil analisis tugas yang telah dilakukan hingga diperoleh suatu kesimpulan umum. Indikator penalaran logis yang digunakan merujuk pada teori Hartono (2013)

Tabel 4. Indikator Penalaran Logis Kemampuan

Penalaran Logis Indikator

Mengumpulkan fakta

1. Menuliskan informasi yang diperoleh dari permasalahan dengan lengkap

2. Menganalisis informasi yang diperoleh menggunakan kalimat sendiri dan menentukan apa yang ditanyakan

Membangun dan menetapkan asumsi

1. Membuat asumsi kesimpulan berdasarkan informasi yang dituliskan

2. Menjelaskan langkah-langkah penyelesaian masalah dengan lengkap

Menilai atau menguji asumsi

1. Menyelesaikan permasalahan sesuai dengan yang direncanakan

Menetapkan generalisasi

1. Mampu membuat suatu pernyataan sebagai kesimpulan dari penjelasan menguji asumsi Membangun

argumentasi yang mendukung

1. Memiliki cara lain untuk menyelesaikan permasalahan dengan hasil yang sama

15 Memeriksa atau

menguji kebenaran argumen

1. Melakukan penyelesaian permasalahan menggunakan cara lain yang dimiliki hingga menghasilkan solusi yang sama

Menetapan Kesimpulan

1. Mampu menarik kesimpulan secara menyeluruh dari setiap langkah-langkah yang telah dilakukan

Sumber : (Hartono & Subaer, 2013) C. METODOLOGI PENELITIAN

1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Jenis penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif deskriptif. Data yang dihasilkan adalah data kuantitatif dari hasil tes yang dilaksanakan pada tiap akhir siklus PTK dan dideskripsikan untuk mengetahui apakah setiap siklus yang dilakukan menghasilkan nilai yang signifikan terhadap pemahaman dan penalaran logis siswa menggunakan model Knisley berbasis SRL. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah Perpangkatan dan Bentuk Akar.

Desain PTK yang digunakan mengacu pada model Kemmis & Taggart (Ani Widayati, 2014), dimana rancangan tiap siklus terdiri dari empat tahap yaitu:

(a) perencanaan, (b)tindakan, (c) pengamatan, (d) refleksi. Keempat tahap PTK tersebut berupa siklus atau putaran, apabila sesudah melaksanakan tahap keempat akan kembali ke tahap pertama dan seterusnya sesuai jumah siklus yang dibutuhkan. Dalam penelitian ini peneliti hanya akan menggunakan dua siklus.

Hal tersebut dikarenakan karena adanya keterbatasan ruang dan waktu.

Berikut skema rancangan siklus PTK menurut Kemmis & Taggart (Ani Widayati, 2014)

Gambar 1 Siklus penelitian tindakan kelas

16 2. Tempat dan Waktu Pelaksanaan Penelitian

Tempat pelaksanaan penelitian ini di SMP PGRI 1 Kota Batu dan dilaksanakan secara daring dikarenakan adanya keterbatasan ruang akibat pandemi Covid-19.

Waktu pelaksanaannya diadakan pada semester ganjil tahun ajaran 2021-2022.

3. Subjek Penelitian

Subjek penelitian ini adalah seluruh siswa kelas IX-A SMP PGRI 1 Kota Batu.

Dengan jumlah 32 siswa yang terdiri dari putra sebanyak 16 siswa dan putri sebanyak 16 siswa. Penelitian ini akan dilaksanakan pada mata pelajaran matematika materi perpangkatan dan bentuk akar.

4. Prosedur Penelitian

Model penelitian yang digunakan adalah model PTK yang dikembangkan oleh Kemmis dan Mc Tagart yang dikutip Ani Widayati (2014) yang terdiri dari empat tahap pada tiap siklusnya. Pada penelitian ini peneliti akan memberikan tes pada diakhir setiap siklus. Peneliti pada tahap refleksi pada siklus I dan II akan memberikan soal tes untuk mengetahui kemampuan siswa terhadap perlakuan yang diberikan. Selanjutnya membandingkan serta menganalisis hasil tes dari setiap akhir siklus (akhir siklus I dan siklus II) yang diberikan kepada siswa serta mencari tahu apakah ada peningkatan yang signifikan antara pembelajaran pada siklus I dan Siklus II sesuai tujuan penelitian.

Berikut penjelasan tentang kegiatan yang akan dilakukan dalam penelitian sesuai desain PTK:

a. Tahap Perencanaan

Langkah-langkah yang dilakukan pada tahap perencanaan, antara lain:

1) Melakukan perizinan kepada pihak SMP PGRI 1 Batu yaitu kepada kepala sekolah dan guru mata pelajaran matematika untuk melakukan penelitian di sekolah tersebut

2) Menentukan kelas yang dipilih untuk penelitian sekaligus waktu pelaksanaan

3) Membuat Lembar observasi 4) Membuat RPP

5) Mempersiapkan materi ajar 6) Membuat soal tes

17 Pada penelitian ini, indikator tentang pemahaman matematis yang digunakan mengadopsi milik Nursaadah (Nursaadah & Amelia, 2018).

Selain berdasarkan indikator pemahaman matematis, soal posttest yang diberikan pada tiap akhir siklus juga disesuaikan dengan kriteria penalaran logis menurut Hartono (2013).

7) Mempersiapkan media yang dibutuhkan untuk penelitian daring b. Tahap Pelaksanaan

Pada tahap ini penelitian dilakukan secara daring dikarenakan adanya keterbatasan akibat pandemi Covid-19 yang membuat sekolah masih belum melaksanakan kegiatan tatap muka karena adanya himbauan protokol kesehatan. Kegiatan ini dilakukan dengan mengikuti Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang dibuat sekaligus penerapan model pembelajaran Knisley berbasis SRL.

Pelaksanaan PTK Siklus I dilakukan pada pertemuan 1 dan 2 sesuai dengan RPP yang dibuat. Selanjutnya, pelaksanaan siklus II dilakasanakan pada pertemuan 3 dan 4. Pelaksanaan siklus II ini diharapkan sebagai penyempurna pada siklus sebelumnya dan juga sebagai pembanding hasil tes pada tahap I.

c. Tahap Pengamatan

Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah mengamati aktivitas siswa dalam pembelajaran menggunakan model pembelajaran Knisley berbasis SRL.

d. Tahap Refleksi

1) Mengkaji hasil pelaksanaan pembelajaran siklus pertama

2) Mengevaluasi proses dan hasil siklus pertama untuk selanjutnya dilaksanakan siklus kedua

3) Menganalisis data yang diperoleh berupa hasil posttest dalam tiap akhir siklus

4) Mendeskripsikan hasil analisis data yang diperoleh dan menarik kesimpulan dari rumusan masalah serta hasil pelaksanaan

5) Menyusun laporan penelitian

18 5. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes. Tes dalam penelitian ini berupa soal uraian berjumlah 4 soal. Tes diberikan dalam penelitian ini terbagi menjadi dua, yakni tes pada akhir siklus I dan akhir siklus II (yaitu pada tahap refleksi PTK). Tes yang diberikan pada setiap siklus masing-masing berjumlah 2 soal uraian. Bentuk tesnya disesuaikan dengan indikator pemahaman matematis dan juga penalaran logis.

6. Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini antara lain adalah sebagai berikut:

a. Lembar Tes

Tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah postes di tiap akhir siklus. Tes yang digunakan berbentuk uraian untuk melihat proses pengerjaan siswa agar dapat diketahui kemampuan pemahaman matematis dan penalaran logisnya setelah diterapkannya model pembelajaran knisley berbasis strategi SRL. Sebelum soal tes disusun, kisi-kisi soal, pedoman penskoran, dan kriteria tingkat pemahaman matematis dibuat terlebih dahulu tertera pada lampiran. Selain itu juga diberikan kriteria pedoman penskoran pada soal tes yang dibuat sebagai berikut.

Tabel 5. Pedoman Penskoran Tes Kemampuan Pemahaman Matematis

Aspek yang Diukur Keterangan Skor

Menyatakan ulang sebuah konsep

Dapat menyatakan ulang permasalahan yang diketahui menggunakan bahasa sendiri dengan benar dan tepat

3

Dapat menyatakan ulang permasalahan yang diketahui menggunakan bahasa sendiri tetapi kurang tepat

2

Dapat menyatakan ulang permasalahan yang diketahui menggunakan bahasa sendiri tetapi salah

1

Tidak dapat menyatakan ulang permasalahan dengan bahasa sendiri

0 Mengklasifikasi

objek-objek menurut sifat-sifat tertentu

Dapat mengklasifikasi sifat-sifat akar dan pangkat yang tersaji dalam permasalahan dengan benar dan tepat

3

Dapat mengklasifikasi sifat-sifat akar dan pangkat yang tersaji dalam permasalahan tetapi kurang tepat

2

Ada jawaban tetapi tidak sesuai dengan sifat-sifat akar dan pangkat yang tersaji dalam permasalahan

1

Tidak ada jawaban untuk menjawab soal 0

19 Menyajikan konsep atau

algoritma pemecahan masalah

Dapat menuliskan yang diketahui dan yang ditanyakan dengan benar dan tepat

3 Dapat menuliskan yang diketahui dan

yang ditanyakan tetapi kurang tepat

2 Dapat menuliskan yang diketahui dan

yang ditanyakan dari soal tetapi salah

1 Tidak ada jawaban untuk menjawab soal 0 Mengaplikasikan konsep

atau algoritma pemecahan masalah

Menggunakan algoritma dalam pemecahan masalah dengan benar dan tepat

3

Menggunakan algoritma dalam pemecahan masalah tetapi masih salah

2 Ada jawaban tetapi tidak sesuai dengan

algoritma pemecahan masalah

1 Tidak menggunakan algoritma dalam

pemecahan masalah

0 Sumber: (adaptasi penelitian Nursaadah & Amelia, 2018)

Tabel diatas merupakan tabel yang berisi pedoman penskoran pemahaman matematis yang diadaptasi dari penelitian Nursaadah & Amelia (2018). Selanjutnya hasil skor yang diperoleh dideskripsikan sesuai kategori kemampuan pemahaman matematis seperti tabel dibawah:

Tabel 6. Kategori Kemampuan Pemahaman Matematis Kategori Pencapaian Kemampuan Pemahaman Matematis

Tinggi x > 70%

Sedang 55%< x ≤ 70%

Rendah x ≤ 55%

Sumber: (adopsi penelitian Nursaadah & Amelia, 2018)

Selain pedoman penskoran pemahaman matematis, juga dibuat pedoman penskoran kemampuan penalaran logis seperti tabel dibawah ini.

Tabel 7. Pedoman Penskoran Tes Kemampuan Penalaran Logis

Aspek yang Diukur Keterangan Skor

Mengumpulkan fakta Dapat menuliskan yang diketahui dan yang ditanyakan dengan benar dan tepat

3 Dapat menuliskan yang diketahui dan

yang ditanyakan tetapi kurang tepat

2 Dapat menuliskan yang diketahui dan

yang ditanyakan dari soal tetapi salah

1 Tidak ada jawaban untuk menjawab soal 0 Membangun dan menetapkan

asumsi

Dapat menjelaskan langkah-langkah penyelesaian masalah dengan benar dan tepat

3

Dapat menjelaskan langkah-langkah penyelesaian masalah tetapi kurang tepat

2 Ada jawaban tetapi tidak menjelaskan

langkah-langkah penyelesaian masalah

1

20 Tidak ada jawaban untuk menjawab soal 0 Menilai atau menguji asumsi Dapat menyelesaikan permasalahan

sesuai langkah-langkah yang ditetapkan dengan benar dan tepat

3

Dapat menyelesaikan permasalahan sesuai langkah-langkah yang ditetapkan namun kurang tepat

2

Ada jawaban tetapi langkah-langkah yang ditetapkan

1 Tidak ada jawaban untuk menjawab soal 0 Menetapkan generalisasi Dapat membuat penyataan atau

kesimpulan dari penyelesaian masalah dengan benar dan tepat

3

Dapat membuat penyataan atau kesimpulan dari penyelesaian masalah tetapi kurang tepat

2

Ada jawaban tetapi tidak sesuai dengan penyelesaian masalah

1 Tidak membuat kesimpulan dalam

pemecahan masalah

0 Membangun argumentasi yang

mendukung

Dapat menentukan langkah-langkah/cara lain untuk menyelesaikan permasalahan dengan cara yang benar dan tepat

3

Dapat menentukan langkah-langkah/cara lain untuk menyelesaikan permasalahan dengan cara yang kurang tepat

2

Dapat menentukan langkah-langkah/cara lain untuk menyelesaikan permasalahan dengan cara yang salah

1

Tidak menentukan langkah-langkah/cara lain untuk menyelesaikan permasalahan

0 Memeriksa atau menguji

kebenaran argumen

Dapat menyelesaikan permasalahan dengan langkah-langkah/cara lain yang telah ditentukan dengan benar dan tepat

3

Dapat menyelesaikan permasalahan dengan algoritma lain yang telah ditentukan tetapi kurang tepat

2

Ada jawaban tetapi tidak menggunakan algoritma lain yang telah ditentukan

1 Tidak ada jawaban untuk menjawab soal 0 Menetapkan kesimpulan Mampu menarik kesimpulan secara

menyeluruh dari setiap langkah-langkah yang telah dilakukan dengan tepat dan lengkap

3

Mampu menarik kesimpulan secara menyeluruh dari setiap langkah-langkah yang telah dilakukan tetapi tidak lengkap

2

Membuat kesimpulan tetapi salah 1

Tidak membuat kesimpulan 0

Sumber: (Adaptasi penelitian Bancong & Subaer, 2013)

21 Tabel 8. Kategori Kemampuan Penalaran Logis

Kategori Pencapaian Kemampuan Pemahaman Matematis

Tinggi x > 75%

Sedang 60%< x ≤ 75%

Rendah x ≤ 60%

b. Lembar Observasi

Observasi dilakukan untuk mengetahui apakah proses pembelajaran sesuai dengan yang direncanakan atau tidak. Selain itu juga untuk mengamati respon siswa ketika model pembelajaran Knisley berbasis SRL dilaksanakan. Lembar observasi dibuat oleh peneliti dan tertera pada lampiran.

c. RPP

RPP atau Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dibuat sebagai acuan jalannya proses pembelajaran dikelas agar sistematis. RPP dibuat dengan menggunakan model pembelajaran Knisley berbasis strategi SRL dengan mengambil materi Statistika.

7. Teknik Analisis Data a. Reduksi Data

Pada tahap ini peneliti menganalisis data melalui hasil tes yang diberikan kepada siswa. Peneliti menganalisis hasil jawaban siswa dari hasil tes materi perpangkatan dan bentuk akar sesuai dengan indikator-indikator pemahaman matematis dan penalaran logis siswa. Selanjutnya adalah dengan memberikan skor dari jawaban setiap siswa dan mengklasifikasi skor tersebut sesuai kriteria tingkat pemahaman matematis dan penalaran logis.

b. Penyajian Data

Pada tahap ini peneliti menyajikan asil analisis yang telah dilakukan dalam bentuk teks naratif dan tabel hasil analisis. Peneliti menampilkan hasil jawaban dari tes yang diberikan pada siswa dan mendeskripsikan sesuai indikator pemahaman matematis dan penalaran logis. Dalam penyajian data dipilih 3 siswa dengan kriteria tingkat pemahaman matematis dan penalaran logis tinggi sejumlah 1 siswa, sedang sejumlah 1 siswa, dan rendah sejumlah 1 siswa.

c. Simpulan

Pada tahap simpulan peneliti mengambil kesimpulan dari data yang diperoleh hasil reduksi dan juga penyajian data. Kesimpulan diambil dari data hasil tes siswa.

Hasil tes pemahaman matematis dan penalaran logis masing-masing akan

22 dikategorikan menjadi tiga, yaitu tinggi, sedang, rendah. Kategori disesuaikan dengan pedoman pada tabel 6 untuk pemahaman matematis dan tabel 8 untuk penalaran logis

8. Kriteria Keberhasilan Penelitian

Penelitian tindakan kelas yang dilakukan dapat dikatakan berhasil apabila terjadi peningkatan prosentase kemampuan pemahaman matematis dan penalaran logis siswa kelas IX-A pada siklus yang dilakukan. Penetapan kriteria tersebut sesuai pedoman penskoran indikator-indikator pemahaman matematis dan penalaran logis siswa.

D. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SMP PGRI 1 Batu pada siswa kelas IX-A sebanyak 32 siswa. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman matematis dan penalaran logis siswa melalui penerapan model pembelajaran Knisley berbasis strategi Self Regulation Learning (SRL). Data dari penelitian ini diperoleh dengan melakukan tes di akhir siklus I dan siklus II pada PTK yang dilaksanakan.

1. Deskripsi Hasil Siklus I a. Tahap Perencanaan

Langkah-langkah yang dilakukan pada tahap perencanaan, antara lain:

1) Melakukan perizinan kepada pihak SMP PGRI 1 Batu yaitu kepada kepala sekolah dan guru mata pelajaran matematika untuk melakukan penelitian di sekolah tersebut

2) Menentukan kelas yang dipilih untuk penelitian sekaligus waktu pelaksanaan.

Kelas yang dipilih adalah kelas IX-A yang semula para siswanya berasal dari kelas VIII-A. Namun akibat adanya kendala waktu saat akan dilakukan penelitian di kelas VIII sehingga pelaksanaan penelitian dilakukan ketika subjek/siswa berada di kelas IX.

3) Membuat Lembar observasi 4) Membuat RPP

5) Mempersiapkan materi ajar yaitu perpangkatan dan bentuk akar sesuai materi awal semester ganjil kelas 9

23 6) Membuat soal tes

Pada penelitian ini, indikator tentang pemahaman matematis yang digunakan mengadopsi milik Asnawati (2015). Selain berdasarkan indikator pemahaman matematis, soal posttest yang diberikan pada tiap akhir siklus juga disesuaikan dengan kriteria penalaran logis menurut Hartono (2013).

7) Mempersiapkan media yang dibutuhkan untuk penelitian daring seperti laptop, hp, grup wa

b. Tahap Pelaksanaan

Pada tahap ini penelitian dilakukan secara daring dikarenakan adanya keterbatasan akibat pandemi Covid-19 yang membuat sekolah masih belum

Pada tahap ini penelitian dilakukan secara daring dikarenakan adanya keterbatasan akibat pandemi Covid-19 yang membuat sekolah masih belum

Dokumen terkait