HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Kompetensi Dasar
1. Implementasi Pembelajaran IPS terpadu di kelas 2 SMP Negeri 1 Tanjung
Pengajaran IPS merupakan kecakapan untuk hidup dan belajar sepanjang hayat yang dilakukan dan harus dicapai oleh peserta didik melalui pengalaman belajar. Pembelajaran yang mendorong siswa agar dapat mencari, menangkap, mengelola serta memanfaatkan informasi perlu dicari dan ditangkap karena di dalamnya begitu banyak tawaran peluang untuk peningkatan kualitas hidup manusia. Informasi juga perlu dikelola karena informasi yang diterima biasanya belum terstruktur sehingga perlu ditata agar mudah dipahami dan dimanfaatkan. Setelah melakukan pengamatan, wawancara pada bulan Oktober 2010 peneliti telah memperoleh data-data dan temuan-temuan yang berkaitan dengan implementasi pembelajaran IPS terpadu di SMP Negeri 1 Tanjung. Deskripsi pembelajaran IPS terpadu meliputi beberapa dimensi yaitu, (a) strategi pelaksanaan pembelajaran IPS terpadu, (b) pendekatan dalam pembelajaran IPS terpadu, (c) tujuan pembelajaran (d) metode, (e) sumber alat dan media, (f) peran guru dan siswa.
commit to user
a. Strategi Pelaksanaan Pembelajaran IPS terpadu
1. Perencanaan
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan dengan guru di kelas 2 SMP Negeri 1 Tanjung dalam hal ini guru melakukan indentifikasi terhadap standar kompetensi dan kompetensi dasar pada mata pelajaran IPS yang dapat dipadukan, maka komptensi dasar tersebut dijabarkan kedalam indikator pencapaian hasil belajar yang nantinya digunakan untuk menyusun silabus. Hasil seluruh proses yang telah ditetapkan sebelumnya dijadikan sebagai dasar dalam penyusunan silabus, (CL. No: 02).
Penguasaan materi pembelajaran harus bersifat menyeluruh agar pembelajaran yang diberikan oleh guru kepada siswa dapat diterima oleh siswa secara mendalam. Agar pemilihan topik, pengembangan gagasan dan pemilihan kegiatan tidak keluar dari standar kompetensi, guru dapat menggunakan pertanyaan fokus untuk mengarahkan dan memandu siswa dalam pemilihan kegiatan dan memilih materi yang sesuai denga tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan. Topik bisa dimulai dari lingkungan sekitar kemudian bergerak menuju lingkungan yang lebih luas. Untuk menyusun perencanaan pembelajaran terpadu perlu dilakukan langkah-langkah berikut ini:
a) Pemetaan Kompetensi Dasar
Langkah pertama dalam pengembangan model pembelajaran terpadu adalah melakukan pemetaan pada semua standar kompetensi dan kompetensi dasar
commit to user
bidang kajian IPS per kelas yang dapat dipadukan. Kegiatan pemetaan ini dilakukan untuk memperoleh gambaran secara menyeluruh dan utuh. Kegiatan yang dapat dilakukan pada pemetaan ini antara lain dengan: (1) mengidentifikasi standar kompetensi dan kompetensi dasar pada mata pelajaran IPS yang dapat dipadukan dalam satu tingkat kelas yang sama; dan (2) menentukan tema/topik pengikat antar-standar kompetensi dan kompetensi dasar.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemetaan kompetensi dasar dalam pengembangan model pembelajaran terpadu IPS adalah sebagai berikut.
a. Mengidentifikasikan beberapa kompetensi dasar dalam berbagai Standar Kompetensi yang memiliki potensi untuk dipadukan.
b. Beberapa kompetensi dasar yang tidak berpotensi dipadukan, jangan dipaksakan untuk dipadukan dalam pembelajaran. Kompetensi dasar yang tidak diintegrasikan dibelajarkan/disajikan secara tersendiri. c. Kompetensi dasar dipetakan tidak harus berasal dari semua standar
kompetensi yang ada pada mata pelajaran IPS pada kelas yang sama, melainkan memungkinkan hanya dua atau tiga Kompetensi Dasar saja. d. Kompetensi dasar yang sudah dipetakan dalam satu topik/tema masih
bisa dipetakan dengan topik atau tema lainnya
Setelah pemetaan kompetensi dasar selesai, langkah selanjutnya dilakukan penentuan topik atau tema dan materi pokok. Topik atau tema dan materi pokok
commit to user
harus relevan dengan kompetensi dasar yang telah dipetakan, dengan demikian, dalam satu mata pelajaran IPS pada satu tingkatan kelas terdapat beberapa topik yang akan dibahas.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penentuan topik/tema pada pembelajaran IPS terpadu antara lain meliputi hal-hal, yaitu: (a)Topik, dalam pembelajaran IPS terpadu, merupakan perekat antar kompetensi dasar yang terdapat dalam satu rumpun mata pelajaran IPS, (b) Topik yang ditentukan selain relevan dengan kompetensi dasar yang terdapat dalam satu tingkatan kelas atau semester, juga sebaiknya relevan dengan pengalaman pribadi peserta didik, dalam arti sesuai dengan keadaan lingkungan setempat, (c) dalam menentukan topik, isu sentral yang sedang berkembang saat ini, dapat menjadi prioritas yang dipilih dengan tidak mengabaikan keterkaitan antar kompetensi dasar yang telah dipetakan, (d) materi pokok yang ditentukan merupakan materi yang mencerminkan keterpaduan antar Kompetensi Dasar Penjabaran kompetensi dasar ke dalam indikator sesuai topik atau tema.
Setelah melakukan langkah pemetaan kompetensi dasar, penentuan topik dan materi pokok sebagai pengikat keterpaduan dan langkah selanjutnya adalah mengembangkan indikator. Indikator dikembangkan berdasarkan kompetensi dasar dengan memperhatikan materi pokok yang nantinya digunakan untuk penyusunan silabus.
Penilaian hasil belajar di SMP Negeri 1 Tanjung berpedoman pada KTSP, maka penilaian dalam pembelajaran IPS terpadu terdiri dari ulangan mid semester dan semeseter. Soal mid semester biasanya di buat oleh guru sendiri berbeda
commit to user
dengan soal semester, dalam melaksanakan pembelajaran selain mid dan ujian semester guru di kelas 2 SMP Negeri 1 Tanjung sering memberikan soal-soal latihan dalam bentuk tugas individu, tugas kelompok, berupa pilihan ganda dan uraian. Hal ini dimaksudkan agar siswa belajar secara tutas dengan memahami jenis-jenis soal yang ada sebagai bekal menghadapi ulangan harian, ulangan umum, sehingga mencapai hasil yang memuaskan.
Menurut Trianto (2010; 128-129) model penilaian disesuaikan dengan penilaian berbasis kelas pada Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar. Objek penilaian mencakup penilaian terhadap proses dan hasil belajar peserta didik.
1) Teknik Penilaian
Teknik penilaian mencakup cara yang digunakan dalam melaksanakan penilaian tersebut. Teknik-teknik yang dapat diterapkan untuk jenis tagihan meliputi: (1) kuis dan (2) tes harian. Untuk jenis tagihan non tes, teknik-teknik penilaian yang dapat diterapkan antara lain : (1) observasi, (2) angket, (3) wawancara, (4) tugas, dan (6) portofolio.
2) Bentuk Instrumen
Bentuk instrument merupakan alat yang digunakan dalam melakukan penilaian, pengukuran dan evaluasi terhadap pencapaian kompetensi peserta didik. Bentuk-bentuk instrument yang dikelompokkan menurut jenis tagihan dan teknik penilaian adalah: (a) Tes, meliputi : tes isian, benar salah, menjodohkan, pilihan ganda, dan unjuk kerja, (b) Non-tes, meliputi: panduan observasi, kuesioner, panduan wawancara, dan rubric.
commit to user 3) Instrumen
Instrumen adalah alat yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat ketercapaian kompetensi.
Penilaian dalam pembelajaran terdiri atas tes dan Non-tes. Sistem penilaian dengan menggunakan tes merupakan sistem penilaian konvensional. Sistem ini kurang dapat menggambarkan kemampuan peserta didik secara menyeluruh, sebab hasil belajar digambarkan dalam bentuk angka yang gambaran maknanya sangat abstrak.
2. Model Pelaksanaan Pembelajaran
Dalam observasi dengan guru MD (CL. No:02) di kelas 2 SMP Negeri 1 Tanjung pelaksanaan pembelajaran meliputi:
a. Kegiatan Pendahuluan (Awal)
Kegiatan pendahuluan (introduction) pada dasarnya merupakan kegiatan awal yang harus ditempuh guru dan peserta didik pada setiap kali pelaksanaan pembelajaran terpadu. Fungsinya terutama untuk menciptakan suasana awal pembelajaran yang efektif yang memungkinkan peserta didik dapat mengikuti proses pembelajaran dengan baik. Efisiensi waktu dalam kegiatan pendahuluan pembelajaran terpadu ini perlu diperhatikan, karena waktu yang tersedia untuk kegiatan tersebut relatif singkat, berkisar antara 5-10 menit. Dengan waktu yang relatif singkat tersebut diharapkan guru dapat menciptakan kondisi awal pembelajaran dengan baik, sehingga dalam kegiatan inti pembelajaran terpadu peserta didik sudah siap untuk mengikuti pelajaran dengan seksama.
commit to user
Kegiatan utama yang dilaksanakan dalam pendahuluan pembelajaran ini di antaranya untuk menciptakan kondisi-kondisi awal pembelajaran yang kondusif, melaksanakan kegiatan apersepsi (apperception), dan penilaian awal
(pre-test). Penciptaan kondisi awal pembelajaran dilakukan dengan cara:
mengecek atau memeriksa kehadiran peserta didik (presence, attendance), menumbuhkan kesiapan belajar peserta didik (readiness), menciptakan suasana belajar yang demokratis, membangkitkan motivasi belajar peserta didik, dan membangkitkan perhatian peserta didik. Melaksanakan apersepsi
(apperception) dilakukan dengan cara: mengajukan pertanyaan tentang bahan
pelajaran yang sudah dipelajari sebelumnya dan memberikan komentar terhadap jawaban peserta didik, dilanjutkan dengan mengulas materi pelajaran yang akan dibahas. Melaksanakan penilaian awal dapat dilakukan dengan cara lisan pada beberapa peserta didik yang dianggap mewakili seluruh peserta didik, bisa juga penilaian awal ini dalam prosesnya dipadukan dengan kegiatan apersepsi.
b. Kegiatan Inti Pembelajaran
Kegiatan inti merupakan kegiatan dalam rangka pelaksanaan pembelajaran terpadu yang menekankan pada proses pembentukan pengalaman belajar peserta didik (learning experiences). Pengalaman belajar tersebut bisa dalam bentuk kegiatan tatap muka dan nontatap muka. Pengalaman belajar tatap muka dimaksudkan sebagai kegiatan pembelajaran yang dilakukan dengan mengembangkan bentuk-bentuk interaksi langsung antara guru dengan peserta didik, sedangkan pengalaman belajar nontatap
commit to user
muka dimaksudkan sebagai kegiatan belajar yang dilakukan peserta didik dalam berinteraksi dengan sumber belajar lain yang bukan kegiatan interaksi guru-peserta didik.
Kegiatan inti dalam pembelajaran terpadu bersifat situasional, dalam arti perlu disesuaikan dengan situasi dan kondisi tempat proses pembelajaran itu berlangsung. Terdapat beberapa kegiatan yang dapat dilakukan dalam kegiatan inti pembelajaran terpadu. Kegiatan paling awal yang perlu dilakukan guru adalah memberitahukan tujuan atau Kompetensi Dasar yang harus dicapai oleh peserta didik beserta garis-garis besar materi atau bahan pembelajaran yang akan dipelajari. Hal ini perlu dilakukan agar peserta didik mengetahui sejak awal kemampuan-kemampuan apa saja yang akan diperolehnya setelah proses pembelajaran berakhir. Cara yang cukup praktis untuk memberitahukan tujuan atau kompetensi tersebut kepada peserta didik bisa dilakukan dengan cara tertulis atau lisan, atau kedua-duanya. Guru menuliskan tujuan tersebut di papan tulis dilanjutkan dengan penjelasan secara lisan mengenai pentingnya tujuan dan kompetensi tersebut dikuasai peserta didik.
Kegiatan lainnya di awal kegiatan inti pembelajaran terpadu yaitu menjelaskan alternatif kegiatan belajar yang akan dialami peserta didik. Dalam tahapan ini guru perlu menyampaikan kepada peserta didik tentang kegiatan belajar yang harus ditempuh peserta didik dalam mempelajari tema atau topikn pembelajaran terpadu. Kegiatan belajar yang ditempuh peserta didik dalam pembelajaran terpadu lebih diutamakan pada terjadinya proses
commit to user
belajar yang berkadar aktivitas tinggi. Pembelajaran berorientasi pada aktivitas peserta didik, sedangkan guru lebih banyak bertindak sebagai fasilitator yang memberikan kemudahan-kemudahan kepada peserta didik untuk belajar. Peserta didik diarahkan untuk mencari dan menemukan sendiri apa yang dipelajarinya.
Dalam membahas dan menyajikan materi pembelajaran terpadu harus diarahkan pada suatu proses perubahan tingkah laku peserta didik. Penyajian bahan pembelajaran harus dilakukan secara terpadu melalui penghubungan konsep dari mata pelajaran satu dengan konsep mata pelajaran lainnya. Dalam hal ini, guru harus berupaya menyajikan bahan pelajaran dengan strategi mengajar yang bervariasi, yang mendorong peserta didik pada upaya penemuan pengetahuan baru.
c. Kegiatan Akhir (Penutup) dan Tindak Lanjut
Kegiatan akhir dalam pembelajaran terpadu tidak hanya diartikan sebagai kegiatan untuk menutup pelajaran, tetapi juga sebagai kegiatan penilaian hasil belajar peserta didik dan kegiatan tindak lanjut. Kegiatan tindak lanjut harus ditempuh berdasarkan pada proses dan hasil belajar peserta didik. Waktu yang tersedia untuk kegiatan ini relatif singkat, oleh karena itu guru perlu mengatur dan memanfaatkan waktu seefisien mungkin. Secara umum kegiatan akhir dan tindak lanjut dalam pembelajaran terpadu diantaranya: menyimpulkan pelajaran dan kegiatan refleksi; melaksanakan penilaian akhir (post test); melaksanakan tindak lanjut pembelajaran melalui kegiatan pemberian tugas atau latihan yang harus dikerjakan di rumah,
commit to user
menjelaskan kembali bahan pelajaran yang dianggap sulit oleh peserta didik, membaca materi pelajaran tertentu, dan memberikan motivasi atau bimbingan belajar; dan mengemukakan topik yang akan dibahas pada waktu yang akan datang, dan menutup kegiatan pembelajaran.
3. Penilaian
Objek dalam penilaian pembelajaran terpadu mencakup penilaian terhadap proses dan hasil belajar peserta didik. Penilaian proses belajar adalah upaya pemberian nilai terhadap kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru dan peserta didik, sedangkan penilaian hasil belajar adalah proses pemberian nilai terhadap hasil-hasil belajar yang dicapai dengan menggunakan kriteria tertentu. Hasil belajar tersebut pada hakikatnya merupakan pencapaian kompetensi-kompetensi yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang diwujudkan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Kompetensi tersebut dapat dikenali melalui sejumlah hasil belajar dan indikatornya yang dapat diukur dan diamati. Penilaian proses dan hasil belajar itu saling berkaitan satu dengan lainnya, hasil belajar merupakan akibat dari suatu proses belajar. Penilaian dalam pembelajaran IPS terpadu dalam satu topik atau tema mencakup beberapa Kompetensi Dasar. Namun ada Kompetensi Dasar atau indikator yang tidak bisa dipadukan, sehingga harus dibelajarkan dan dinilai secara terpisah. Penilaian yang dikembangkan mencakup teknik, bentuk dan instrumen yang digunakan terdapat pada lampiran.
commit to user b. Pendekatan dalam pembelajaran IPS terpadu
Dalam melakukan kegiatan kegiatan belajar mengajar mata pelajaran IPS di SMP Negeri 1 Tanjung, guru memegang peran sangat penting sehingga pemahaman dan penguasaan terhadap materi yang akan disampaikan kepada siswa sangat penting untuk dipahami. Penguasaan materi pembelajaran harus bersifat menyeluruh agar pembelajaan yang diberikan oleh guru kepada siswa dapat diterima oleh siswa secara mendalam. Pendekatan yang sering digunakan oleh guru dalam menyampaikan pembelajaran IPS terpadu di SMP Negeri 1 Tanjung adalah pendekatan factual, dengan metode ceramah, tanya jawab, penugasan dan discovery/ inquiry.
Berdasarkan wawancara dengan guru AM :
“ saya memilih pendekatan factual agar siswa memiliki gambaran dari peristiwa misalnya peristiwa yang dihubungkan dengan pelajaran IPS, dan metode yang saya gunakan dalam pembelajaran IPS terpadu adalah ceramah bervariasi, ceramah yang divariasian dengan metode tanya jawab, metode diskusi dan metode penugasan,” (CL.No: 03)
Dalam pembelajaran IPS tidak hanya menyampaikan ilmu pengetahuan tentang peristiwa-peristiwa yang dialami dalam kehidupan sehari-hari melainkan melatih siswa berfikir kritis terhadap permasalahan sosial yang ada baik kejadian masa lalu maupun masa sekarang. Oleh karena itu dalam setiap pembelajaran diharapkan menggunakan berbagai pendekatan dan juga media yang dapat mengaktifkan dan membangkitkan motivasi siswa
commit to user c. Tujuan Pembelajaran
Tujuan pembelajaran IPS terpadu di kelas 2 SMP Negeri 1 Tanjung adalah agar siswa peka dan peduli terhadap masalah sosial yang terjadi di masyarakat sehingga mereka mampu dan kritis dalam melihat permasalahan. Untuk mencapai tujuan tersebut, guru berusaha mewujudkan tujuan dengan membentuk tim dan guru menyusun materi dalam bentuk kolaborasi antar mata pelajaran yang mempunyai kesamaan tema, (CL.No: 03). Hal ini sesuai dengan pendapat Awan Mutakin (2006: 4) adapun tujuan dari pembelajaran IPS terpadu dapat dirinci sebagai berikut:
1. Memiliki kesadaran dan kepedulian terhadap masyarakat atau lingkungannya, melali pemahaman terhadap nilai-nilai sejarah dan kebudayaan masyarakat
2. Mengetahui dan memahami konsep dasar dan mampu menggunakan metode yang diadaptasi dari ilmu-ilmu sosial yang kemudian dapat digunakan untuk memecahkan masalah-masalah sosial.
3. Mampu menggunakan model-model dan proses belajar serta membuat keputusan untuk menyelesaikan isu dan masalah yang berkembang di masyarakat.
4. Menaruh perhatian terhadap isu-isu dan masalah sosial, serta mampu membuat analisis yang kritis, selanjutnya mampu mengambil tindakan yang tepat.
commit to user
5. Mampu mengembangkan berbagai potensi sehingga mampu membangun diri sendiri agar survive yang kemudian bertanggungjawab membangun masyarakat.
6. Memotivasi seseorang untuk bertindak berdasarkan moral.
7. Fasilitator di dalam lingkungan yang terbuka dan tidak bersifat menghakimi.
Disamping itu, juga bertujuan bagaimana sikap siswa terhadap pelajaran berupa: penerimaan, jawaban atau sambutan, penghargaan, pengorganisasian, karakteristik nilai, dan menceritakan.
d. Metode
Dalam melaksanakan pembelajaran guru diberikan kebebasan memilih metode yang diinginkan, dengan harapan siswa bisa lebih optimal dalam menerima pelajaran. Berdasarkan hasil wawancara dengan MH:
” saya membebaskan guru memilih metode sesuai selera guru masing-masing asalkan apa yang diharapakan dalam pembelajaran IPS bisa tercapai dengan baik dan sesuai dengn harapan, ” (CL.No: 01)
Metode yang digunakan oleh guru di SMP Negeri 1 Tanjung bervariasi yaitu: metode tanya jawab, diskusi dan pemberian tugas. Dari semua metode yang ada, metode ceramah yang paling mendominasi dalam penyampain materi. Metode ini merupakan metode yang paling mudah dan adanya anggapan dari guru dengan penggunaan metode ini materi lebih banyak di sajikan. Sebagian besar guru IPS di SMP Negeri 1 Tanjung beranggapan bahwa pembelajaran IPS bersifat informasi sehingga metode ceramah ini sesuai dengan tujuan. Metode
commit to user
ceramah sebagaimana yang disampaikan oleh Mulyani Sumantri dan Johan Permana (1999:117) sebagai berikut:
a. Menciptakan landasan pemikiran siswa melalui ceramah yaitu bahan tulisan siswa sehingga siswa dapat belajar melului bahan tertulis hasil ceramah guru.
b. Menyajikan garis-garis besar isi pelajaran dan permsalahan penting terdapat dalam isi pelajaran.
c. Merangsang siswa untuk belajar mandiri dan menumbuhkan rasa ingin tahu melalui pemerkayaan belajar.
d. Memperkenalkan hal yang baru dan memberikan penjelasan secara gamblang dan menyinggung penjelasan teori dan prakteknya.
e. Sebagai langah awal untuk metode yang lain dalam upaya menjelaskan prosedur yang harus ditempuh siswa, misalnya sebelum diberikan penjelasan tentang peran-peran dan sebagainya.
Selain menggunakan metode ceramah guru juga menggunakan metode diskusi. Dalam metode diskusi terkadang materi yang disampaikan tidak selesai, sehingga diskusi tidak sampai pada tahap penyimpulan.
e. Media
Dalam memilih media masing-masing guru memiliki pertimbangan yang berbeda-beda. Hasil wawancara dengan guru AM:
” saya memilih media di dalam pembelajaran juga disesuaikan dengan kondisi sekolah tempat saya mengajar, seorang guru harus pandai-pandai memilih media yang cocok dan sesuai dengan karakteristik mata pelajaran
commit to user
IPS. Belum tentu media yang modern akan membuat siswa lebih memahami materi pembelajaran IPS,” (CL. No: 03)
Kehadiran media pembelajaran amat diperlukan untuk membantu mengatasi atau menyelesaikan permasalahan yang menghambatnya. Selain tersedianya media di dalam proses belajar mengajar untuk mempertahankan perhatian dan minat siswa di dalam menyerap materi pelajaran, sehingga pemahaman siswa terhadap suatu materi pelajaran akan meningkatkan dan terlaksana proses pembelajaran yang optimal, efektif dan efisien sesuai diharapkan.
Sejalan dengan media Suparno dkk (1987: 131-134) mengemukakan bahwa jenis media pembelajaran yang dapat digunakaan dalam kegiatan pendidikan dapat digolongkan sebagai berikut:
1. Media Visual
Media visual meliputi media visual yang tidak diproyeksikan seperti: papan tulis, gambar dinding, flip chart, model dan sebagainya, overhead proyektor, proyektor film.
2. Media Audio
commit to user f. Peran guru dan siswa
Telah dikemukakan sebelumnya, kegiatan belajar mengajar di kelas 2 SMP Negeri 1 Tanjung menerapkan sistem pembelajaran IPS Terpadu dengan mengkolaborasikan antar mata pelajaran yang mempunyai kesamaan tema, sehingga guru mempunyai peran dan tugas; (1) menyampaikan tugas, (2) memotivasi siswa, (3) memberi fasilitas belajar siswa untuk mencapai tujuan, (4) mengevaluasi hasil belajar siswa. Komunikasi dua arah merupakan alat efektif dalam pembelajaran sehingga peran guru sebagai fasilitator pembelajaran menjadi sinambung dengan keaktifan siswa, (CL.No: 03).
2. Kendala - kendala yang dihadapi oleh guru IPS dalam pembelajaran IPS
terpadu di kelas 2 SMP Negeri 1 Tanjung kabupaten Lombok Utara Pembelajaran IPS terpadu seorang guru harus menguasai materi pada seluruh mata pelajaran IPS. Hambatan yang selanjutnya adalah penggunaan media dalam pembelajaran. Hal ini berkaitan dengan penggunaan media sebagai penyalur pesan oleh guru kepada peserta didik. Padatnya kurikulum sehingga kurang fokus dalam pemahaman anak per Kompetensi Dasar, (CL. No: 01). Pembelajaran terpadu membutuhkan kerja keras guru dalam merancang pembelajaran agar efektif. Sebagai bentuk inovasi pembelajaran terpadu merupakaan pembelajaran kompleks. Dibutuhkan waktu yang lama, kreativitas guru dan kerjasama siswa. Hal ini membuat guru tidak leluasa melaksanakan pembelajaran terpadu yang diinginkan karena materi yang harus diajarkan kepada siswa semakin banyak, (CL.No: 01). Kendala dalam pembelajaran IPS adalah: (a)
commit to user
kesulitan mendapatkan media pembelajaran yang diinginkan, media memegang peranan penting dalam suatu pembelajaran. Hal ini berkaitan dengan penggunaan media sebagai alat penyalur pesan dari guru kepada siswa (b) diperlukan biaya besar (c) kurangnya waktu untuk menjelaskan materi (d) guru harus menguasai bidang lain misalnya seorang guru sejarah harus menguasai geografi, ekonomi, sosiologi, begitu pula sebaliknya.
Wawancara dengan guru Wawancara dengan guru IPS MD:
“ sebenarnya saya ingin memberikan gambaran yang nyata kepada siswa tentang pembelajaran IPS misalnya tentang kejadian atau peristiwa yang terjadi. Karena letak sekolah yang begitu jauh membutuhkan biaya yang besar untuk menjangkau daerah tersebut sehingga tidak mungkin membawa siswa untuk keluar dari lokasi sekolah.” (CL.No: 02)
Siswa terkadang kurang suka pada mata pelajaran tertentu dan cenderung membosankan, sementara dalam pembelajaran terpadu menekankan pada perpaduan pada bidang studi. Guru diharapkan menemukan trik-trik agar siswa tidak terbebani dan mudah menerima pelajaran. Berdasarkan wawancara dengan salah seorang siswa RZL:
”terkadang pembelajaran terasa membosankan, karena guru sebagian besar ceramah, memberikan kesempatan bertanya kemudian memberikan tugas. selain itu penjelasan terlalu cepat,” (CL. No: 04)
Knapp & Schell (dalam Depdiknas, 2005) mengidentifikasi beberapa masalah dalam pembelajaran, antara lain bahwa peserta didik kesulitan dalam menerapkan pengetahuannya untuk memecahkan masalah kompleks dan dalam setting yang berbeda, seperti masalah pada bidang lain atau masalah di luar sekolah. Begitu juga dalam pembelajaran IPS terpadu, siswa kurang mampu
commit to user
menghubungkan konsep-konsep dasar dengan kehidupan sehari-harinya.